
Kekhawatiran jelas muncul di hati setiap orang tua yang melihat anaknya kabur dari rumah. Terutama saat ini ibu, bahkan ia tidak masak karena semuanya benar-benar terasa tidak berselera. Ayah juga mengajukan cuti lagi, menunggu sampai anaknya benar-benar sudah di temukan barulah ia kembali bekerja.
"Apa nggak sebaiknya kita lapor polisi saja yah?" Berjalan mondar-mandir di ruangan televisi. Chanel yang bersuara di layar bahkan tak di tonton. Jadi untuk apa televisi menyala.
"Kata Bima jangan bu, ribet urusannya. Tinggal menunggu kabar saja dari mereka kan?" Wajah ibu sangat cemas.
"Tapi yah, kasian Maudy dan Bima. Baru saja mereka pulang, dan seharusnya juga belum pulang kan?" Duduk mungkin sudah lelah mondar-mandir, menghempaskan tubuhnya di sofa. "Kalau Tisha di bawa kabur laki-laki gimana yah?"
Saling pandang, degup jantung yang memacu emosi semakin meninggi. Susah memang memiliki anak perempuan, begitu batinnya.
"Sudah bu, tenang dulu!" Tak ingin berpikir terlalu jauh, menguras emosi dan energinya. Duduk diam, saling berpikir, meskipun sudah mencoba menepis semua pikiran negatif, tetap saja tak mau keluar dari isi kepalanya. Ayah bangkit dari duduknya, menuju ke arah dapur. Meninggalkan ibu yang masih termenung.
Siang ini, Maudy juga belum memberi kabar. Entah sedang apa mereka, untuk menghubungi rasanya ibu juga enggan, takut kalau menganggu mereka. Melibatkan Bima dan Maudy saja rasanya sudah cukup.
"Bu, minum dulu." Ternyata ayah hanya pergi ke dapur untuk mengambil air putih, menenangkan segala kecemasan mereka. "Jangan sampai di antara kita ada yang sakit karena memikirkan hal ini." Peringatan ayah penuh penekanan.
Tisha memang berbeda dengan Maudy!
Keadaan hening lagi, sampai waktu menunjukan pukul 12 siang. Ibu merebahkan dirinya di sofa, sementara ayah duduk dengan menatap layar televisi. Fokus melihat sinetron. Entah menikmati atau tidak, istrinya pun tak peduli.
"Bu, ada yang datang?" Ayah bangkit dan berjalan menuju pintu, melirik istrinya tak menjawab dan sudah memejamkan mata, mungkin dia lelah berpikir sehingga tertidur.
Sampai di depan pintu, ayah Subi di kagetkan dengan kedatangan besannya. "Loh mbak, kesini nggak bilang?"
"Mana mbak Irma?" Wajahnya terlihat cemas, apa dia sudah tau? Batin ayah Subi.
"Ada di dalam, mari masuk?" Mempersilahkan dengan memberi ruang untuknya masuk. Derap langkah kaki belum menyadarkan ibu Irma yang masih memejamkan mata. Kepalanya terasa pusing memikirkan anaknya.
"Mbak?" Menyapa lembut dan mendekat.
Matanya terbuka, mengerjab dan memahami siapa yang datang.
"Eh." Langsung terduduk. "Mbak, mbak sama siapa?" Menelik ke arah sekitar, tidak ada siapapun lagi kecuali suami dan besan perempuannya.
"Aku sendiri mbak, di antar supir kesini." Ikut duduk di samping ibu Irma. "Aku sudah dengar, karena tadi malam Bima menelepon dan menyuruh aku datang kesini." Bima, memang menantuku yang baik hati, batinnya.
"Iya mbak." Air mata tak dapat terbendung. Lisa langsung memeluknya, memberi ketenangan. Sabar, begitu yang selalu ia ucap di sela-sela pelukan mereka.
"Biar Bima yang mencari." Lagi dan masih menangis. Ayah Subi beranjak dan berjalan masuk kamar, membiarkan dua wanita ini saling mengaduh.
"Apa penyebabnya?" Ibu Irma melepas pelukannya. Menghapus sisa air matanya yang jatuh, sesekali masih terisak. Dan, semua kejadian ia ceritakan.
"Ini memang salah kami, yang selalu membandingkan Tisha dengan Maudy." Kejadian di masa lalu berkelebat di kepalanya, dan sampai akhir dimana Tisha meminta motor dengan merengek, rasanya memang tak adil. Sementara Maudy tanpa meminta ayahnya langsung membelikan sebuah sepeda motor dengan uang tabungannya, itu juga karena Maudy selalu mendapat juara kelas, bahkan juara umum bisa ia pertahankan. Dan sekarang, Maudy bisa bertekad membangun sebuah usaha yang tidak kecil. Orang tua semakin membanggakan dirinya, dan tidak melihat sama sekali ke arah Tisha. Hati anak mana yang tak merasa iri.
"Ini pelajaran mbak, jangan membandingkan. Karena Bima sendiri juga pernah merasakan itu." Ya, anakku mbak! Begitu yang ia juga pikirkan. Keadaannya sama, Bima juga dulu begitu, kabur dari rumah karena menginginkan kebebasan. Bermain dan bergaul layaknya anak remaja lain.
"Tisha, dia memang selalu begitu jika diberi nasehat, pasti tetap akan menjawab. Kami sayang dia mbak, rasa sayang kami bagi dengan adil. Hanya saja kami sendiri tidak tau, kalau akhirnya dia merasa tidak di perhatikan."
Matanya sudah terasa perih, terlalu lama menangis. Yang dikira Tisha hanya pergi ke rumah temannya, ini malah sampai di luar kota. Bagaimana pergaulan anaknya di luar ibunya juga tidak tau. Karena tidak jarang membawa temannya datang kerumah, bahkan terbilang tidak pernah.
Maudy, jelas ibunya mengerti. Temannya hanya Kiki, dan selalu datang. Bahkan sampai bisa menyatukan dua keluarga yang sebelumnya tak saling mengenal. Tisha hanya sering ijin keluar kerumah temannya, jangankan di mana letak rumahnya, namanya juga ibunya tidak tau.
"Apa mbak sudah makan?" Dia menggeleng. Memang belum, bahkan aku tak masak mbak, begitu batinnya menjawab.
"Kita keluar ya, makan di luar. Anggap aja, supaya pikiran mbak lebih tenang dengan melihat keramaian." Setuju saja, biar ayah yang menjaga rumah.
Dan ternyata ayah Subi benar-benar tidak keberatan, bahkan ia malah senang mendengarnya, berharap istrinya bisa tersenyum walau tak lama. "Jangan sampai kita yang sakit." Itu akan selalu ibu Irma ingat.
Mobil melaju ke salah satu rumah makan, bergaya ala tradisional yang memiliki nama adat disana. Ibu Irma menatap lekat tempat ini, dia ingat sebelumnya juga pernah kesini, makan bersama keluarganya. Saat itu Tisha masih duduk di kelas enam SD. Dan juga, ayahnya bilang memiliki sedikit rezeki, sehingga bisa mengajak keluarganya makan di luar.
__ADS_1
Tak tau bagaimana senyumnya tiba-tiba mengembang, besan di sampingnya melirik dan ikut tersenyum. "Ayo mbak." Mereka berjalan beriringan, memilih tempat duduk yang masih kosong, ternyata keadaan disini ramai.
Hingga ada dua tempat yang kosong, dan mereka memilih yang paling pojok. Memesan makanan lalu duduk menunggu.
"Apa mbak mau mendengar kabar? Biar aku telepon Bima." Kali ini ibu Irma mengangguk, wajah pucatnya jelas terlihat. Aura kecantikan yang di turunkan untuk Maudy seperti menghilang.
"Hallo?" Ternyata Bima secepat itu menjawab panggilan. Mata ibu Irma menatap fokus ke arah besannya, meski tak mendengar Bima mengatakan apa, yang terpenting baginya bisa tau perkembangan mencari anaknya.
"Ya sudah, kalian hati-hati." Begitu saja lalu menutup telepon.
"Gimana mbak?" Hanya menggeleng, tangan ia ulurkan untuk mengelus agar besannya ini tak terlalu kecewa.
"Bima hanya bilang, tunggu sebentar lagi." Mengangguk dan menatap ke arah pelayan yang datang membawa nampan berisi makanan yang masih mengepulkan asap tipis.
"Silahkan." Ucapnya ramah, menatap ke arah ibu Irma dan mama Lisa. Pelayan juga berpikir kalau ibu Irma sedang sakit, dan menunduk lalu pergi.
"Habiskan makannya mbak." Hanya mampu mengangguk dan tidak berjanji akan menghabiskan. Bagaimana bisa sekarang makan dengan lahap, sementara pikirannya kembali menerawang, apakah anakku sudah makan di luar sana? Apakah dia baik?
Makanan masih tersisa di piringnya, benar-benar sudah tak sanggup lagi untuk memaksanya masuk ke dalam. Dan akhirnya, ibu Irma mengajak pulang
***
"Apa ini tempatnya?" Bima menoleh ke Kiki lagi, menyuruhnya melihat dan memastikan dengan jelas. Di sebuah gang sempit yang belum pasti dirumah mana Tisha bersembunyi sekarang.
"Sepertinya benar Bim, titiknya disini." Lagi, mereka sama-sama menatap ke arah gang sempit. Bima lebih dulu turun dan disusul oleh Kiki dan Maudy. Tidak mungkin mobil bisa masuk kedalam kan, lebih baik memarkirkan disini saja.
"Kita masuk aja." Memberi instruksi lagi.
Berjalan di gang sempit dengan tanah yang sedikit basah terkena hujan. Rapatnya perumahan disini membuat mereka semakin kesulitan mencari Tisha. Dimana? Rumah yang mana? Tidak mungkin juga mengetuk pintu satu-persatu. Ingin rasanya Maudy berteriak memanggil adiknya, agar semua penghuni pada keluar.
"Itu kos-kosan ya?" Kiki menunjuk belokkan di sebelah kiri, sekitar 20 meter dari tempat dimana mereka berdiri saat ini. Ingin bertanya juga bingung, semua orang pada istirahat di dalam rumah. Tak ada satupun yang keluar, kecuali anak-anak yang tengah bermain, itu juga tidak banyak.
"Dy, benar apa kata Bima!" Ah sekarang mereka sudah berlatih profesi menjadi detektif sepertinya. Pasrah dan akhirnya mengikuti langkah Bima.
Tampak seorang ibu-ibu yang berdiri di dekat gerbang menuju pintu masuk kos-kosan. Mengipas wajahnya dengan kipas kecil, mungkin panas ya?
"Permisi bu." Sopan Maudy menegurnya. Matanya melirik, benar mungkin ini yang punya kos-kosan, dari raut wajahnya saja sudah terlihat kalau dia galak!
"Iya, ada apa?" Masih tetap Mengipas wajahnya.
"Apa dua hari lalu ada anak perempuan yang ngekos disini?" Dia diam tampak mengingat. "Ibu yang punya kos ini kan?" Lupa bertanya duh, asal nebak aja sih tadi, batinnya.
"Iya saya yang punya. Sepertinya ada, tapi lelaki dan membawa temannya." Deg.
"Apa temannya wanita?" Lagi, dia mengingat. Lalu detik kemudian mengangguk.
"Apa ibu tau siapa namanya?"
"Kalian ada keperluan apa sebenarnya?" Sepertinya dia nampak suka ditanyai.
"Kami mencari adik kami bu, dia kabur dari rumah. Sudah dua hari, dan melacak melalui ponsel. Titiknya mengatakan kalau dia disini. Bisa kami meminta tolong ibu untuk panggilkan anaknya? Barangkali memang dia orangnya." Baik, begitu katanya dan berjalan pergi tanpa lebih dulu bertanya panjang lebar. Semoga saja dia baik, gumam Kiki.
"Tunggu, sabar ya?" Kiki mengelus lengan Maudy yang wajahnya sudah tampak khawatir. Apalagi mendengar bersama lelaki.
"Ini juga kos-kosan apasih! Masak iya di biarkan aja laki-laki dan perempuan yang masih bocah masuk satu kamar!"
"Aku setuju sama kamu Ki." Bima sudah melipat kedua tangannya di dada, ketika melihat seorang lelaki yang mungkin masih berumur 18 tahunan. Matanya menatap tajam, kalau benar dia yang membawa Tisha, Bima sudah berniat akan menghajarnya sekarang juga. Menjadi brutal seperti beberapa tahun lalu.
Tak masalah jika harus mengeluarkan uang buat biaya perobatan nanti.
__ADS_1
"Ini orangnya." Ibu kos juga berdiri menunggu.
"Ada apa ya kak?" Sudah terdengar nada getar dari bibirnya.
"Kamu kenal Tisha nggak?" Dia menggeleng.
"Kamu mau berbohong atau jujur?" Bima maju satu langkah.
Derap langkah kaki seseorang terdengar mendekat, semua mata langsung menoleh ke arah sana. Yang masih tampak terlihat jelas, sesosok perempuan yang mereka cari ada disana. Mata Maudy terbelalak, begitu juga dengan Bima.
"Mbak?" Lirih dan berbalik, siap untuk kabur.
"Tisha!" Maudy menjerit memanggil namanya. Berlari mengejar adiknya.
"Tisha!" Dan berhasil mencekal lengannya.
"Mbak, lepas mbak." Dia langsung menangis.
Maudy langsung menariknya, mendekat ke arah anak dan ibu kos yang masih berdiri disana. Pandangan mata dari seluruh penghuni kos sudah seperti ingin Bertanya ada apa?
"Kamu kenal dengan dia?" Tisha mengangguk. Bima maju satu langkah lagi mendekat ke arah temannya.
"Dia siapa kamu?" Lama Tisha menjawabnya, mendongak melihat seluruh tubuh temannya sudah bergetar.
"Dia teman aku mbak." Bima menggelengkan kepalanya tidak percaya!
"Apa maksud kamu kabur dari rumah? Apa karena dia?" Wajahnya sudah memerah, Maudy bingung sekarang, mana yang harus ia pegangin.
"Bim, tahan emosi kamu?" Kiki mengingatkan lagi.
"Dia nggak salah mbak, kak. Aku yang minta ikut dia?" Membela dengan air mata yang masih mengucur deras.
Bruk.. Satu tinju berhasil mendarat di bibir. Bruk.. Lagi, Bima sudah kehilangan kendali.
"Baji**n!!" Maudy sudah berteriak-teriak agar Bima mengentikan pukulannya, semua warga sudah berkumpul. Ibu kos langsung menarik lengan anak yang katanya teman Tisha.
"Sudah cukup? Jangan buat keributan disini."
"Panggil orang tua kamu!" Ucap Bima berapi-api dengan menarik kerah bajunya, menghempaskan sampai tubuhnya terhuyung. Darah sudah mengalir deras, tak berani membalas ataupun sekedar berucap.
"Bim, udah cukup. Yang terpenting Tisha udah ketemu."
"Iya Tisha udah ketemu, tapi apa kamu yakin selama dua hari ini Tisha tidak di apa-apakan sama dia?" Maudy terdiam, tenggorokannya tercekat. Kenapa sih! Harusnya aku masih bulan madu, tapi malah sekarang aku di keadaan seperti ini, batinnya menangis.
"Dan ibu, ibu bisa saja saya laporkan karena membiarkan anak di bawah umur tinggal satu kamar!" Tak bisa berkata lagi, ibu kos pun juga ikut ketar-ketir sekarang. Wajah mereka sama-sama pias.
"Bawa Tisha ke mobil." Pintanya. Kiki bahkan tak percaya Bima bisa melakukan itu, dan tentang kejadian beberapa tahun lalu, itu hanya mendengar cerita tanpa melihat langsung. Dan hari ini, Kiki bahkan bisa melihat bagaimana kemarahan Bima, tidak dia masih menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan Bima.
Mengerihkan sekali kamu Bim, kalau Maudy selingkuh apa bakal di hajar ya?
Ah lagi menggeleng, berpikir sudah terlalu jauh.
Tisha masih menangis sesegukan, mereka kembali berjalan melalui gang sempit yang semula sepi kini sudah ramai, dengan tatapan mereka yang menghujat dan rasa penasaran.
"Kamu tau, jika ibu sampai sakit karena memikirkan kamu. Sampai kapanpun, mbak nggak akan maafkan kamu." Tisha sudah duduk di dalam mobil, ia duduk di samping Kiki. Dan batin Kiki berkata jujur, kalau dia juga tidak suka melihat Tisha sekarang. Benci, ilfil, iya semua itu sudah masuk kedalam benak Kiki. Apalagi kalau sampai terbukti dia sudah melakukan hal mesum bersama anak di bawah umur.
Ya ampun, Amit-amit.
--__
__ADS_1