
Matahari mulai mengintip dari celah gorden, penghuni kamar hanya menggeliat dan menguap. Dan menutup wajahnya dengan selimut, agar sinar tak menganggu tidurnya.
Sepertinya hari ini akan bermalas-malasan. Tapi lagi-lagi dering ponselnya berbunyi sangat keras, bukan panggilan masuk tetapi hanya sahabat paginya yang setia membangunkannya setiap hari. Sementara manusianya hanya melirik dan menggeser layar sebagai tanda kalau ia juga belum mau bangun.
Hingga pukul 8 pagi. Dengkurannya masih jelas terdengar, yang setia mendengar hanya kasur dan bantal yang sudah berbentuk pulau. Entah air dari mana, yang tau hanya Maudy dan seisi kamar yang tak memiliki nyawa.
"Kak mo?" Suara ketukan yang sangat keras terdengar berulang-ulang di pintu kamarnya. "Kak? Bukan kah kakak harus ke kampus sekarang ya?" Masih tetap berusaha memanggil. Agar penghuni kamar dapat mendengar.
Ha? Astaga ya ampun, aku lupa!!
Langsung menyibakkan selimut dan berlari ke arah pintu setelah mendengar kalimat akhir yang di ucapkan Bian.
"Bian?" Membuka pintu dengan rambut yang berantakan. Mata belum sepenuhnya terbuka, karena ada cairan yang mengganjal dan sudah mengering di sudut matanya. Ih jorok mah Maudy ini.
"Kakak baru bangun?" Bian bahkan sudah rapi mau berangkat ke sekolah.
"Bian, kakak lupa ya ampun. Kamu duluan aja deh ya?" Ah terlihat Bian kecewa. Bian langsung berbalik dan pergi harus menggunakan taxi. Untungnya jam masuk di sekolahnya masih lama. Huh kalau tidak bisa terlambat total hari ini.
"Kak." Kembali mengetuk.
"Ya Bian apa?" Berteriak sambil menyiapkan buku yang harus ia bawa sebelum pergi ke kampus. Entah ada urusan apa pun hanya dia yang tau. Karena hari ini sebenarnya kampus masih libur.
"Aku tunggu kakak aja ya?" Dengan malas Maudy kembali membuka pintu.
"Bian. Kakak yang nggak sempat nganter kamu. Jamnya udah mepet adikku sayang yang tampan." Bicara selembut mungkin.
"Bian, kenapa belum berangkat?" Maminya sudah berdiri di sampingnya. Menatap Bian lalu menatap Maudy yang masih belum bersiap-siap.
"Loh?" Bingung. Maudy tersenyum menampakkan barisan giginya dan langsung berlari ke kamar mandi tanpa menghiraukan tantenya lagi.
"Kamu kenapa masih disini?" Bertanya kepada Bian.
"Mau nebeng sama kak mo mi."
"Naik taxi. Nanti kamu terlambat. Sekarang Bian, kakak kamu belum siap." Ah memang takdir hari ini nih, batin Bian.
***
Maudy sudah duduk di hadapan kaca riasnya masih sibuk mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Rambut yang sekarang hanya sebahu. Jadi tidak lagi bisa di kuncir tinggi-tinggi. Ah pantas saja Rio atau pun Bima tidak bisa mengenali dengan sekali tatap. Kalau Kiki, dia jelas tau karena hampir setiap malam juga selalu video call. Jadi jika ada perubahan dari Maudy dia dulu yang lebih tau.
Maudy langsung menyambar tas dan pergi. Saat akan membuka handle pintu ada saja yang menganggu waktunya yang sudah mepet.
"Apa Ki?"
"Dy, nanti kamu ke hotel aku ya? Aku banyak beli makanan ini."
"Iya-iya nanti, setelah aku pulang dari kampus. Aku cuma mau antar tugas ke dosen."
"Ada-ada aja sih, libur kuliah juga masak harus nganter tugas."
"Udah ah, aku udah telat. Kamu tunggu aja disana." Langsung mematikan sambungan telepon dan berjalan dengan cepat. Bahkan untuk sarapan juga nggak kepikiran lagi.
***
Maudy menatap gedung tinggi yang saling berhadapan ini. Ia membuang nafasnya kasar, yang awalnya kampus menyambutnya dengan senyuman di atas genteng, kini malah berubah jadi menyeramkan. Ketika melihat sosok yang paling di benci muncul secara tiba-tiba di depan pintu mobilnya yang baru saja terparkir. Maudy sengaja membuka dengan mendorong pintu mobilnya. Berpura-pura tidak melihat kalau ada orang.
Syukurin.
Maudy menutup dan menahan tawanya. Ia berjalan gontai seperti tidak melakukan kesalahan. Padahal manusianya sudah mengaduh kesakitan.
"Dy, tunggu Dy." Menarik paksa lengan Maudy.
"Apa sih! Lepas nggak!" Maudy sudah membulatkan matanya. Menatap tajam tangan yang menyentuhnya. Jika saja tatapan matanya ada pisau, mungkin yang di tatap sudah robek-robek kulitnya.
"Dy, kita sebentar lagi juga bakal selesai kuliah. Kamu juga bakal pulang ke Indonesia dan aku disini, jadi bisa di pastikan kita nggak akan ketemu lagi. Aku cuma mau minta maaf. Maaf Dy."
"Wira dengar ya, dengar baik-baik ini di telinga kamu." Wira, ya dia orangnya yang selalu saja berharap di beri maaf oleh wanita cantik di hadapannya.
"Pertama lepaskan tangan aku!" Wira menuruti, dan melepasnya secara perlahan.
"Dan yang kedua, aku sudah maafkan kamu. Jadi jangan ganggu aku lagi. Untuk berteman sama kamu juga aku tidak akan mau. Anggap aku nggak pernah kenal kamu, nggak pernah ada yang terjadi. Bye!!" Wira mematung di tempatnya. Untuk bicara saja sudah tidak mampu. Sepertinya kata-kata yang di keluarkan Maudy sangat telak untuknya. Ah, Wira lalu berbalik ke mobilnya.
"Permisi pak." Maudy mengetuk ruang dosen sebelum masuk.
"Silahkan." Maudy langsung masuk dan tak lupa memberikan senyum termanisnya.
"Maudy, saya kira kamu nggak datang buat ngumpul tugas, soalnya kamu orang terakhir." Ucapnya lalu melihat jam yang melingkar di tangan yang sudah menampakan garis keriput.
"Ah iya pak maaf. Tadi saya kesiangan."
Sial an jadi aku orang terkahir yang ngumpul tugas.
Dengan cepat Maudy mengeluarkan tugas dari tas ransel miliknya. Dan meletakkan ke atas meja, sesekali menatap wajah dosennya yang terkadang bisa senyum dan kemudian kembali lagi dalam mode diamnya.
"Apa setelah selesai kuliah dan mendapat gelar kamu akan kembali ke negaramu?" Bertanya tetapi tak mengalihkan pandangan dari tugas-tugas mahasiswa.
__ADS_1
"Hem iya pak."
Duh udah belum sih. Aku mau pergi kali pak.
"Sayang sekali."
Ha? Memangnya kenapa? Bapak mau jodohkan aku gitu sama anak bapak yang super ganteng itu.
"Kenapa nggak menetap disini?" Masih mengulur waktu, sementara Maudy sudah tak tenang. Pasalnya disini, di ruangan ini mereka hanya berdua, sangat tidak pantas berlama-lama. Mending dengan anaknya, senior yang sudah lulus dari kampus ini, lah ini sama bapaknya, batin Maudy.
"Orang tua saya disana pak, dan disini saya memang cuma mau kuliah aja." Melihat kembali ponselnya, benar Kiki sudah banyak mengirimi pesan.
Ah mana aku lapar lagi.
"Kalau saja kamu menetap disini, saya berniat menjodohkan kamu dengan anak saya. Kamu cantik, pintar lagi."
Ha? Apa? Jadi benar. Duh maaf pak saya nggak tertarik dengan bule.
"Hehe." Tersenyum dulu. "Pak, sudah selesaikan? Saya mau pamit, soalnya masih ada urusan." Ah iya, alasan yang tepat.
"Oh silahkan." Langsung menarik nafas lega.
***
Di hotel. Maudy sudah memencet bel kamar nomor 109. Kali ini tidak salah kamar, ia sudah hafal. Sesekali Maudy melirik resah ke kamar sebelah. Takut kalau pemiliknya keluar. Dikira datang kesini ingin berjumpa lagi.
"Udah sampai?" Kiki melongok dari pintu.
"Buka lah, gimana mau masuk." Maudy menggerutu.
"Mana makanannya?" Maudy sudah melihat ke sekeliling kamar, tidak menemukan satu pun jenis makanan yang bisa mengisi perutnya.
"Hehe belum aku beli. Soalnya nunggu kamu, tanya dulu kamu seleranya apa." Tau, Kiki tau kalau Maudy sudah menatapnya dengan tajam.
"Oke, kamu di dalam aja. Aku keluar sebentar ya? Tunggu." Langsung menyambar dompet dan berjalan keluar.
Sementara Maudy sudah langsung rebahan di ranjang hotel. Memeluk guling dan menghadap ke arah luar. Menatap awan yang putih dan biru, walau teriknya hari ini. Tapi tak bisa mengalihkan pandangan mata jika menatap langit.
Setelah 10 menit kepergian Kiki. Maudy mendengar suara berjalan mendekat ke arahnya.
"Kamu sudah balik Ki? Cepetan banget." Masih fokus memainkan game di ponselnya tanpa merubah posisinya.
Kiki diam belum menjawab. Dan kasur tampak goyang, tanda kalau Kiki juga ikut rebahan.
"Ki?" Panggilnya ulang. Maudy langsung merubah posisinya menghadap ke arah belakang.
Detik berikutnya.
"Ahh." Teriaknya sampai jatuh terjungkal.
Betapa kagetnya dia melihat ini. Aku, aku nggak salah kamar kan?
Sementara sosok yang mengagetkan masih menatapnya tanpa berkedip. Maudy dengan kesal menyambar ponsel miliknya yang ikut terjatuh. Dan segera melangkah keluar.
Bima, ya ternyata itu Bima.
Baru beberapa langkah Maudy menjauh, Bima secepat mungkin lompat dari tempat tidur dan menghalangi langkah Maudy dengan memasang tubuhnya. Maudy menghindar ke arah kiri, dan Bima juga mengikutinya. Dengan tangan yang ia masukan ke celana.
Sebenarnya dia mau apa sih!
Maudy langsung menghindar ke arah kanan, tapi Bima juga menggeser tubuhnya.
"Minggir nggak!" Bentaknya.
"Mau kemana?" Suara yang dari tadi ingin Maudy dengar. Suara yang sudah berubah menurutnya.
"Minggir!" Membentak lebih keras. Maudy mendorong tubuhnya sekuat tenaga, tapi bahkan Bima tidak bergerak. Tidak seperti dulu, ketika Maudy mendorongnya Bima bahkan sampai jatuh.
Maudy tetap berusaha, mendorongnya lagi. Tapi Bima langsung memegang kedua tangannya, dan menarik kedalam pelukannya. Dengan erat, seperti tidak memberi celah sedikitpun untuk Maudy bergerak.
"Bima!!" Air matanya menetes.
Aku rindu Bim, rindu!!! Dasar sial an.
Maudy beralih dan langsung memukul dada kekar Bima, memukul berulangkali merasa harus melampiaskan kekecewaan selama beberapa tahun ini.
"Kenapa Bim?" Suaranya melemah bersama pukulannya.
Bima memeluknya lagi, mengecup puncak kepala Maudy. Dia belum siap untuk menjawab. Baginya saat ini, biarkan hati yang bertindak.
"Kenapa." Sambil terisak di pelukan Bima. Jas yang di gunakan Bima sudah basah karena ulah Maudy. Tidak peduli, persetan dengan jas. Begitu pikiran mereka.
Mereka berpelukan sampai beberapa menit. Dengan posisi yang belum berubah. Berkali-kali Bima mengecup puncak kepala orang yang sangat ia rindukan.
"Eh." Kiki kaget setelah membuka pintu melihat sepasang kekasih yang kembali saling memeluk.
__ADS_1
"Maaf, dramanya belum kelar ya?" Langsung berbalik ingin keluar.
"Ki, tunggu!" Teriak Maudy.
Ah iya, aku tau. Pasti aku akan di sidang setelah ini, baiklah.
Kiki kembali berjalan dan meringis. Meletakkan makanan yang sudah ia beli, lebih tepatnya makanan yang sudah di pesan Bima setengah jam yang lalu. Dan Kiki hanya menunggu di depan.
***
"Katanya kamu lapar? Nggak sarapan?" Kali ini Maudy yang hanya diam.
Bima, kamu makin tampan. Sumpah, kamu berubah, nggak seperti Bima yang dulu.
"Iya." Mulai memasukan spaghetti ke mulutnya. Maudy makin resah, Bima terus menatapnya tanpa berkedip, seperti tak ingin kehilangan satu detik pun tentang Maudy.
"Sini." Mengambil piring di atas meja. Menggulung dengan telaten lalu siap menyuapkan ke Maudy.
Sepertinya lebih baik aku makan di dalam kamar mandi ya? Kiki yang sedari tadi melirik kedua manusia ini.
"Nggak, aku makan sendiri." Maudy kembali mengambil piringnya.
"Sini." Hanya mengucap itu lalu menatap tajam, seperti tak suka permintaannya di bantah.
Ah, Maudy gusar.
Nggak, aku salah. Ternyata Bima belum berubah!
Baru dua kali suapan, Bima sudah terganggu dengan dering ponselnya.
"Hallo?" Masih menggunakan satu tangan untuk memegang piringnya.
"Sekarang? Iya aku kesana mas. Tunggu."
Ah mas Rio yang telepon. Bima mau pergi ya? Kenapa aku nggak rela sekarang!
Bima memasukan ponselnya ke dalam kantung celana. Pandangannya tetap saja tak teralihkan dari Maudy.
"Kenapa?" Melihat Bima seperti ingin mengatakan sesuatu. Bima memegang tangan Maudy lalu meletakkan piring di tangannya.
"Makan, di habisin ya? Aku ada urusan." Tersenyum. "Nanti malam aku akan datang menemui mu!" Berbisik di telinga Maudy. Detik berikutnya, cup. Satu kecupan menyambar bibir Maudy yang masih belepotan dengan saus. Kiki sampai tak berkedip. Udah terlanjur lihat, pikirnya.
"Bima!!" Maudy malu, pasalnya ada Kiki disini.
Bima berjalan tanpa menoleh, tapi sudut bibirnya berkedut. Ada senyum yang ia sembunyikan, entah apa maksudnya. Yang pastinya, meeting dengan klien hari ini akan berjalan lancar karena suasana hatinya.
"Ceritakan sama aku! Sekarang!" Langsung menghakimi Kiki ketika Bima sudah menghilang di balik pintu.
***
Epilog.
Kiki berjalan keluar kamar sekitar pukul 8 malam. Dan disaat itu, pandangan mereka bertemu. Kiki langsung mengenali, berarti benar Bima ada disini. Batinnya.
"Bima?" Panggilnya, yang melihat Bima menenteng sebuah kantung plastik, mungkin berisi makanan.
"Kiki? Kamu kok disini?" Sepertinya Bima yang lebih kaget melihat Kiki.
"Iya? Kamu yang ada di kamar sebelah aku ya?" Langsung ke intinya. Bima mengangguk.
"Apa tadi itu Maudy datang dengan pacarnya, untuk menemui kamu ya?" Bima menyelidik.
"Pacar?" Kiki bingung. "Pacar yang mana? Iya memang Maudy datang, tapi bersama adiknya Bian. Pacar yang mana?"
Bian? Ah syukur lah. Berarti dugaan ku nggak salah.
"Ki, bisa bantu aku nggak?" Bima mulai menyuarakan isi hatinya.
"Tapi Bim."
"Aku tanggung jawab Ki." Kiki menunduk memikirkan permintaan Bima.
"Ya udah oke lah." Tos di tunjukan Bima sebagai kesepakatan.
"Setelah ini, kamu mau makan dimana aku yang bayar?" Memberikan sebagai rasa terima kasih.
"Janji?" Menodong kelingkingnya.
"Tapi kalau berhasil." Menyambut dengan senang.
Setelah perjanjian yang di lakukan hanya 10 menit itu, Kiki langsung berjalan pergi. Begitu juga dengan Bima, ia masuk ke kamar hotelnya dengan senyuman yang tak lepas dari wajahnya.
Aku tidak akan tidur, aku tak sabar menunggu besok. Maafkan aku ya Dy.
--__
__ADS_1