Dia Bimaku

Dia Bimaku
Orang baik


__ADS_3

Pagi hari Maudy terbangun dengan bingung saat akan mengambil anaknya dari dalam box. Melihat dirinya yang sama sekali tak terbalut pakaian. Lalu menatap ke arah Bima yang masih tidur pulas, dengan posisinya yang telungkup. Melihat pakaiannya yang tercecer di bawah Maudy langsung mengambilnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Sekaligus membersihkan dirinya.


Mengingat kejadian tadi malam, yang memang Maudy tidak ada di sentuh Bima setelah mendengar anaknya menangis.


Jadi aku ketiduran semalam?


Maudy langsung mengguyur tubuhnya di bawah shower. Sudah lama sekali tak melakukan hal ini, dan mandi selalu menggunakan air hangat. Agar jahitan yang terdapat di bagian intimnya tidak terasa nyeri. Hari ini sudah bebas, batinnya. Maudy menggosok seluruh tubuhnya dengan sabun, berpikir ini sudah saatnya merawat kembali dirinya.


Tapi, Maudy sempat tertawa sendiri mengingat kejadian semalam. Bahkan juga yakin akan sering terjadi seperti ini, karena sudah ada dua baby sekarang.


Bima marah nggak ya kira-kira.


Batinnya menebak. Selesai dengan membersihkan diri, Maudy langsung mengambil handuk kimono dan berjalan keluar kamar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


Ketika melihat Bima yang sudah menggendong anaknya, Maudy langsung berjalan mendekat.


"Pakai saja dulu bajumu." Mengingatkan dengan nada yang dingin. Maudy berbalik dan menutup mulutnya menahan tawa. Sudah bisa di duga reaksi Bima pagi ini.


"Sudah, kamu mandi gih. Kamu nggak ke kantor kan hari ini?" Diam tak menjawab dan hanya memberikan baby Endah.


"Papa mu marah sayang." Tertawa kecil sambil memainkan pipi anaknya.


Bi Marni sudah mengetuk pintu untuk masuk ke dalam, mengantarkan sarapan pagi untuk mereka. Lalu meletakkan makanan di atas meja dan kembali keluar. Maudy juga sibuk sebelum menemani Bima sarapan. Memandikan kedua anaknya secara bergantian di dalam ember yang sudah di sediakan air hangat.


"Duh, sabar ya sayang ya." Maudy mempercepat tugasnya, dan sekarang masih memakai kan baju untuk Endah. Sementara Gio sudah menangis sangat kencang. Beberapa kali menoleh ke arah pintu kamar mandi, Bima tak kunjung keluar. Padahal saat ini Maudy sangat butuh bantuan suaminya untuk sekedar menenangkan Gio.


"Bim?" Berteriak.


Tidak ada jawaban. Maudy mengalah dan melakukan semuanya sendiri. Meletakkan Endah di atas tempat tidur. Lalu menggendong Gio dan langsung memandikannya.


Tugasnya selesai, dan bersamaan itu Bima juga keluar dari dalam kamar mandi. Kedua anaknya sengaja Maudy letakkan di atas tempat tidurnya. Lalu beralih membutakan susu.


"Baju aku mana?" Bertanya saat Maudy tengah memberi susu kepada dua anaknya sekaligus.


"Iya aku lupa Bim, aku juga baru selesai mandikan Gio dan Endah." Jawabnya.


Bima dia tak menjawab, lalu sengaja membanting pintu lemari dengan kerasnya. Maudy yang kaget dan tersentak.


"Bim, apa-apaan sih Bim! Nggak bisa pelan apa nutupnya?" Menoleh ke arah Bima yang hanya diam.


"Kamu marah hanya karena aku nggak siapin baju kamu? Ya ampun Bim, aku ngurus anak kita itu nggak hanya satu Bim, tapi dua sekaligus. Kamu ngerti lah Bim. Sekarang udah nggak ada mama Lisa disini. Semua harus aku yang kerjain, kalau aku lupa atau nggak sempat harusnya kamu bisa maklum." Maudy langsung meneteskan air matanya. Perasaan jengkel sungguh membuatnya pilu. Maudy kembali menggendong Endah yang sudah mulai menguap dan memindahkannya ke box baby.


Lalu selanjutnya Gio, Maudy mengayunkan dalam pelukannya. Lalu sesekali mengusap air mata yang jatuh. Apapun tidak berselera saat ini. Bahkan untuk menyentuh sarapan juga rasanya tidak mau.


"Sayang, maaf ya?" Bima yang baru menyadari kalau istrinya menangis.


"Sayang?" Maudy membuang muka dan melihat kalau Gio sudah tidur langsung meletakkan kembali ke box.


"Maafkan aku sayang." Maudy hanya mengangguk.


"Aku juga minta maaf." Ucap Maudy. "Maaf aku udah ketiduran semalam." Bima langsung menarik Maudy dalam pelukannya.


"Sayang, dengar. Hari ini, aku harus datang ke kantor karena ada urusan yang sangat penting mengenai berita semalam." Bima melonggarkan pelukannya. Maudy menatapnya dan menunggu Bima melanjutkan perkataannya. "Jadi, kamu nanti pergi di antar supir. Aku bakal datang kesana setelah urusan aku selesai. Nggak apa-apa kan?" Maudy mengangguk.


"Endah dan Gio kita titip kerumah ibu atau mama, terserah kamu. Biar kita antar kesana sekarang."


"Hem Bim. Gini aja, Endah sama Gio kita titip di rumah mama. Terus nanti kamu langsung antar aku ke salon ya? Terus nanti biar aku telepon supir buat jemput dan langsung minta antar kerumah Kiki. Boleh kan?"


"Boleh sayang. Aku akan antar kamu ke salon terbagus di kota ini." Maudy kembali memeluk Bima. Toh kalau hanya ke salon juga nggak akan berkurang harta dan uang yang ada di ATM. Lagian keuntungan Maudy sendiri yang resto yang dia miliki saja masih utuh semenjak resto itu di buka. Hanya memberi ke ibunya itu juga selalu di tolak, karena alasan uang pensiun milik ayahnya juga masih cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Dan tabungan ayahnya juga ada untuk biaya kuliah Tisha nantinya.


Sungguh, kehidupan rukun berumahtangga selalu mendapatkan ketenangan batin.


***


Sampai di rumah mama Lisa, Maudy turun terlebih dahulu lalu membawa membuka pintu belakang mobil yang sudah di sediakan troli khusus bayi. Dengan ukuran yang muat untuk dua orang. Ini juga mama Lisa yang membeli, katanya ini khusus untuk kedua cucunya.


"Eh Maudy? Cucu mama datang." Mama Lisa langsung menyambut mereka.


"Ma, aku tutup Endah sama Gio ya? Aku mau pergi ke rumah Kiki ma. Nggak mungkin bawa mereka." Mama Lisa langsung mengangguk. Maudy dan Bima juga tak mungkin langsung pergi, mereka masuk dulu ke dalam rumah.


"Gimana Dy? Kamu merasa repot nggak?" Maudy mengangguk.


"Iya ma. Malah tadi pagi sempat ribut sama Bima." Mama Lisa langsung menoleh ke arah anaknya.


"Gara-gara aku nggak sempat ma nyiapin baju. Biasa juga kan selalu ada mama, jadi aku nggak terlalu repot."


"Jangan begitu Bima lain kali." Bima hanya bisa mengangguk, karena menyadari bahwa memang dia salah.


"Pa, papa." Mama berteriak. "Pa, ada cucu papa datang." Yang berlari mendekat bukan papa Adi, melainkan Rafa dan Dafa, di belakang mereka juga menyusul Siska yang kuwalahan mengejar dua anaknya.


"Dy, baru sampai?"


"Iya kak."


"Duh gemes." Menoel pipi Endah. "Kalian mau kemana?"


"Mau ke kerumah Kiki kak, dia menikah hari ini." Siska mengerutkan keningnya.


"Kiki? Kenapa Kakak nggak di undang?" Lalu ikut duduk di sofa ruang tamu. Mama Lisa sudah sibuk dengan cucunya, begitu juga dengan Dafa dan Rafa.


"Nikah aja kok kak, resepsi nanti. Pasti kakak di undang." Siska manggut-manggut.


"Ya sudah sana pergi, kalau bisa Endah nginep disini." Ucapnya.


"Oh no!" Bima menjawab.

__ADS_1


"Haha." Siksa tertawa. "Ya kan biar kalian juga bisa honeymoon lagi." Bima dan Maudy saling pandang, lalu mereka tertawa bersamaan.


Setelah papa Adi keluar, Bima dan Maudy langsung pamit.


"Jangan lupa kamu beri kabar papa Bim." Bima mengangguk. Mama Lisa acuh karena sudah sibuk menggendong cucunya. Jadi tak berpikir apapun ataupun bertanya, walaupun ada beberapa hal yang di bahas anak dan suaminya.


***


Sauna, bath up berukuran besar dan ruangan khusus SPA sudah tersedia disana. Maudy yang biasa hanya pergi ke salon pinggir jalan kota, kini bisa masuk ke salon yang sangat-sangat jauh lebih mewah. Seluruh pekerja memakai seragam kompak. Mereka menunduk menyambut Maudy yang akan masuk ke dalam.


"Sayang, mulai sekarang jangan ragu untuk memakai uang yang aku beri. Setelah ini, aku akan membawa mu ke klinik kecantikan. Yang bisa menghilangkan beberapa bekas jerawat di wajah, dan juga Stretch Mark di perutmu."


"Makasih Bim." Maudy tersenyum senang.


"Aku pergi ya, sampai berjumpa dirumah Kiki nanti." Saat berbalik, Bima kembali menarik tangan istrinya. "Sayang, dengar. Jika aku tidak sempat untuk datang berarti masalah belum selesai. Jadi kamu pulang nanti dengan supir ya." Maudy mengangguk. Jika Bima sudah berkata begini, dia juga akan bisa mengerti dan tidak akan mengharap Bima datang. Atau sampai salah paham dengan menuduh Bima sengaja melupakan.


Pukul 09 pagi. Masih tersisa beberapa jam lagi sebelum acara pernikahan Kiki di mulai. Maudy yang sudah duduk di kursi, dia akan menata rambutnya kembali. Tidak memotongnya kali ini, tapi di bentuk dengan membuat gulungan di bawah rambut. Lalu Maudy juga meminta untuk di warnai seusia jenis kulitnya.


Proses untuk rambut tidak terlalu lama. Tapi Maudy juga meminta untuk melakukan SPA. Merasakan pijatan lembut, tubuhnya juga butuh itu kan.


"Pasti pacarnya akan pangling." Ucap karyawan salon yang menangani Maudy saat ini.


"Hehe." Maudy hanya tertawa dan tak ingin memperjelas statusnya.


Maudy langsung berganti pakaian di salon. Dan meminta ijin untuk menggunakan kamar mandi. Tentu mereka juga memberi ijin. Setelah merasa puas, Maudy berdiri di depan cermin besar yang cukup untuk seluruh tubuhnya. Berputar, melihat penampilannya. Lalu segera berjalan keluar. Total untuk bayaran sangat fantastis, tapi itu tidak akan membuat uang yang ada di ATM ludes. Belum juga habis pasti Bima akan kembali mentransfer.


"Terima kasih mbak. Semoga puas datang kembali." Maudy menjawab dengan anggukan dan tersenyum, matanya liar mencari di mana mobilnya. Karena bukan hanya satu atau dua mobil yang terparkir disini.


Setelah menemukan, Maudy langsung saja berjalan kesana. Dan mengetuk kaca mobilnya, ternyata supir juga sampai tertidur.


"Maaf pak, lama ya nunggunya?" Supir langsung bergegas keluar dan membukakan pintu.


"Tidak nyonya, maaf saya ketiduran."


"Iya nggak apa-apa." Tersenyum lagi. "Pak antar kerumah Kiki ya, ke niaga satu."


Perjalanan memakan waktu 30 menit. Dan ketika sudah sampai Maudy meminta supir untuk pulang saja.


"Kalau Bima nggak bisa jemput nanti aku hubungi ya pak."


"Iya nyonya." Maudy melangkah masuk. Suasana sudah ramai, ada beberapa mobil yang terparkir di depan halaman rumah Kiki. Saat melangkah masuk, semua mata langsung tertuju padanya. Salah satunya adalah Tante Ratih.


"Dy, cantik sekali." Maudy tertawa kecil.


"Kamu ke kamar Kiki aja sana. Dia belum selesai riasan." Maudy berjalan menunggu tangga.


"Tante, apa pihak laki-laki belum sampai?" Tante Ratih menggeleng.


"Tadi di telepon katanya sudah sampai di kota. Mungkin sebentar lagi sampai." Maudy kembali berjalan, lalu sampai di depan pintu kamar Kiki. Menarik nafas, tanpa mengetuk Maudy langsung masuk.


"Gimana deg-degan nggak?" Kiki mengangguk dan tersenyum.


"Kamu nggak salah pilihkan?" Kiki menggeleng pelan.


"Apa Revan sudah sampai Dy?" Kiki kembali duduk. Maudy duduk di tepi ranjang yang sudah di hias dengan bunga, sprei juga di ganti menjadi warna putih.


"Belum. Katanya mama kamu dalam perjalanan." Kiki diam.


Kiki memang memutuskan untuk menikah dengan Revan tepat dimana malam itu Revan datang. Dan ternyata pilihannya tidak salah, karena papanya mengatakan kalau seminggu yang lalu Niko kabur dari rumahnya dan melakukan penerbangan keluar negeri. Itu semua juga dilakukan Niko karena ingin menemui mantan kekasihnya. Walau terkadang Kiki juga harus bertatap muka di dalam kantor dengan Niko. Tapi semenjak Niko kabur keluar negeri, Kiki benar-benar tidak tau lagi bagaimana kabarnya.


Dan sekarang, tepat di hari ini. Kiki akan menjadi pasangan suami istri dengan Revan. Teman satu kantornya dan satu ruangan. Revan bahkan rela untuk pulang kampung, dua hari sebelum pernikahan mereka. Memberi kabar kepada keluarga yang ada disana, dan kembali dengan membawa mereka juga. Tak lupa, Kiki meminta Revan untuk membawa adiknya hadir disini.


"Sudah selesai mbak." Ucap MUA yang memperhatikan lagi penampilan Kiki.


"Mau keluar atau menunggu disini?"


"Disini aja, lagian juga calon suami belum datang." Eh malah Maudy yang menjawab.


Kiki mengajak Maudy duduk di sofa kamarnya, sudah banyak hal yang harus ia ceritakan sekarang. Kedua MUA meminta ijin untuk duduk di balkon kamarnya, Kiki jelas tidak keberatan. Karena mereka memang harus tetap disini sampai acara selesai.


"Kamu habis melahirkan malah makin cantik." Pujinya.


"Pasti ke salon ya?" Maudy mengangguk dan tertawa kecil.


"Memangnya sejak kapan punya hobi begitu?" Menggoda lagi.


"Hei, suamiku anak sultan!" Mereka tertawa. "Aku tidak mau Bima kecewa melihat penampilan ku yang sehabis melahirkan. Ini sudah aku rencanakan jauh sebelum aku melahirkan." Jawabnya lagi.


"Iya-iya. Aku juga maunya begitu nanti."


"Ki, apa Revan menyuruh mu untuk berhenti bekerja setelah menikah?" Kiki menggeleng dan tersenyum.


"Justru dia malah memintaku untuk terus bekerja. Dengan alasan katanya malah bisa lihat aku setiap detik, bisa mengawasi aku setiap waktu. Dan kalau pun nantinya aku hamil justru Revan malah semangat untuk terus berada di sampingku." Ya ampun, Maudy sampai geleng kepala.


"Dy, makasih ya bilang sama Bima."


"Untuk apa? Apa dia juga memberi kalian hadiah berupa tiket untuk honeymoon?" Kiki mengangguk antusias.


"Bukan hanya itu Dy. Bima juga menaikan gajih Revan dua kali lipat." Maudy membulatkan matanya. "Tapi dengan kerjaan yang berlipat-lipat juga."


"Maksud-"


"Ki, keluarganya Revan sudah datang. Ayo turun." Kiki langsung menggenggam erat tangan Maudy sebelum turun, mata terpejam sebentar dan berdoa dalam hati semoga akan lancar tanpa hambatan.


"Ayo?" Maudy mengelus punggung tangan Kiki lalu menuntunnya untuk turun ke bawah.

__ADS_1


"Dy, kamu datang sendiri?" Baru menyadari setelah menuruni anak tangga.


"Iya, Bima ada urusan penting, kalau sempat nanti juga dia akan datang."


"Endah dan Gio gimana?" Menghilangkan rasa nervous dengan terus mengajak Maudy berbicara sebelum benar-benar harus duduk dan saksikan seluruh keluarga.


"Mereka aku titipkan sama mama Lisa." Kiki diam dan saat ini, memang seluruh keluarga menatap ke arahnya. Sampai mendengar arahan untuk Kiki duduk tepat di samping Revan. Kiki hanya bisa menundukkan wajahnya saat ini. Debar jantung yang terus menendang seperti ingin menembus kulit.


Saat janji sakral mulai terucap, dan jabat tangan adalah jaminan untuk Revan mempersunting Kiki. Ketika sorak ramai berucap sah, disitulah status Kiki berubah.


Revan mengecup kening Kiki, lalu berbisik. "Kamu cantik sekali ISTRIKU." Kiki yang senang dan bahagia saat ini, langsung meneteskan air mata lalu menatap ke arah mamanya. Mamanya mengangguk dan menghapus air matanya juga yang saat ini tumpah. Lepas sudah tanggungjawab seorang ibu.


"Apa?" Maudy kaget setelah menerima telepon dari Bima, lalu berjalan menjauh dari mereka yang masih duduk.


"Bim, nggak mungkin lah. Revan baru aja nikah Bima, baru juga beberapa menit."


"Kasih ponselnya kepada Revan sayang, biar aku yang bicara."


Maudy kembali duduk, mendekat ke arah Revan dan Kiki. Doa juga sudah selesai, dan Maudy dengan ragu memberi ponselnya kepada Revan. Revan langsung menerima, yang dia kira Bima akan mengucapkan selamat atas pernikahannya.


"Iya pak?" Kiki menoleh ke arah Maudy, tatapan matanya penuh tanya tapi Maudy hanya mengangkat bahu.


"Baik pak. Saya kesana sekarang."


***


Diruangan yang tertutup ini Bima berdiri, dan membiarkan seorang wanita berlutut di bawah kakinya. Bima kembali duduk dan tak berbicara apapun lagi, setelah mendengar pengakuannya yang mengatakan kalau memang dia lah yang menyebarkan berita itu.


"Berapa kamu di bayar oleh mereka?" Pertanyaan yang memang sudah Bima siapkan.


"50juta pak." Dengan nada yang bergetar menahan tangis. Rina, dia adalah pelakunya. Entah apa yang membuatnya seperti ini, hanya dengan di iming-iming uang yang bagi Bima tak seberapa nominalnya.


"Jangan kira, karena saya tak pernah marah jika kalian melakukan kesalahan kamu bisa bertindak sejauh ini. SAYA PALING TIDAK SUKA APA YANG ADA SAMA SAYA ITU DI USIK!! APALAGI ITU KELUARGA SAYA, ANAK SAYA!!" Bima berteriak sekencang mungkin, suara memenuhi ruangan. Belum lagi beberapa karyawan yang saat ini menempelkan daun telinga mereka di daun pintu untuk mendengar apa yang terjadi di dalam.


Revan datang dan mengetuk pintu, karyawan yang semula berada di sana langsing bubar ketika melihat Revan datang. Dan mereka langsung berbisik, ingin sekali bertanya tapi takut. Revan masuk, sebenarnya Bima yang emosi saat ini saja sudah ingin tertawa melihat penampilan Revan yang Masih mengunakan jas lengkap penikahannya. Tapi mengingat situasi ini, tawanya akan di simpan dulu.


"Revan, kamu tau diakan?" Revan menatap ke arah Rina yang terduduk di lantai. "Dia pelakunya, dan menggunakan inisial R, supaya saya berpikir kalau itu kamu." Revan terdiam berdiri di tempatnya.


"Saya juga yakin dia sengaja menjebak kamu, bukannya dia juga iri melihat mu akan menikah hari ini." Revan sampai geleng-geleng kepala.


"Maafkan saya pak. Maafkan saya." Kata-kata itu terus terulang dari mulut Rina.


"Apa kamu bisa menghapus seluruh berita itu? Dan membayar ganti ruginya kepada mereka? Seluruh media yang menyebarkan berita? Kamu bodoh, kenapa kamu mau di bayar hanya 50 juta! Seharusnya kamu minta miliyaran."


"Pak, apa sudah pasti dia pelakunya?" Bima mengangguk, lalu Rina menoleh ke arah Revan. Tatapan mata Revan kepada Rina saat ini menunjukkan rasa kebencian yang mendalam.


"Hallo pa?" Bima langsung memberi kabar ke papanya.


"Sudah pa."


"Baik papa akan meminta pihak media yang menyebarkan menghapus beritanya."


Bima kembali meletakkan ponselnya ke atas meja.


"Revan, kamu jaga dia. Saya mau ke kamar mandi sebentar." Revan mengangguk.


"Revan, tolong aku. Bantu aku Revan, aku nggak mau begini."


"Kak, ini sudah menjadi resiko kakak!" Ucap Revan penuh penekanan.


Rina menggeleng dan menangis.


"Waktu itu kakak mencoba memfitnah Kiki kan? Tapi tidak berhasil, kakak sengaja buat diagram yang salah, aku tau itu kerjaan Kakak. Tapi aku tetap diam. Dan sekarang, kakak malah berbuat lebih dari itu."


"Aku cinta kamu Revan. Aku cinta kamu!!" Ucapnya seperti menggila. Revan yang mendengarnya saja malah merasa jijik.


"Ternyata memang cinta sudah membuatmu gila ya kak. Bagiamana bisa kau melakukan hal itu." Lagi-lagi Revan masih tak habis pikir. Padahal kinerja Rina juga di akui cukup bagus dalam perusahaan ini.


"Revan, polisi sudah ada di depan kantor." Ucap Bima yang baru saja keluar dari kamar mandi.


Rina langsung menjerit, menangis dan memohon. Tapi Bima tidak peduli begitu juga dengan Revan. Mereka sama-sama merasa di rugikan, dan untuk Bima bukan hanya rugi masalah harga diri, tapi juga tentang uang. Bima harus membayar dengan jumlah yang tidak sedikit, untuk menghapus berita Bima harus menghabiskan dua miliyar sekaligus.


Pintu ruangan sudah di ketuk, Bima tau siapa yang datang sekarang. Papanya masuk dan disusul oleh tiga pihak berwajib yang langsung memegang kedua tangan Rina. Dia masih histeris meskipun sudah di bawa keluar ruangan.


"Revan, ingat pesan saya. Berbuat baiklah kepada orang yang baik. Karena baji Ngan sekalipun bisa melakukan itu." Revan mengangguk.


Tatapan para karyawan kantor saat ini sudah tertuju pada Rina. Mereka berpikir jika Rina sudah melakukan penggelapan uang, karena melihat dari status Rina di kantor ini. Ada juga yang berpikir jika Rina mencoba merayu pak Bima.


"Pak?" Revan memanggil Bima yang saat ini sedang termenung.


"Saya akan bebaskan di kembali nanti." Revan langsung terdiam. "Bagiamana pun dia seorang wanita, sama dengan mama saya." Deg. Detik itu juga Revan langsung mengingat mamanya yang telah tiada, dan memuji Bima dalam hati bahwa Bima benar-benar orang baik. Dia yang di rugikan, dia yang memenjarakan dan dia juga nantinya yang akan membebaskan dengan alasan hanya memberinya pelajaran sedikit.


"Lalu bagaimana pak?"


"Dia saya pecat! Tapi saya tetap akan mengeluarkan pesangon untuknya."


Benar-benar orang baik.


Revan menggeleng pelan.


"Ini hadiah dari saya." Bima menyerahkan tiket pesawat dan penginapan yang seluruhnya sudah di tanggung oleh Bima. Revan masih terdiam. "Ambilah, dan ayo kita kembali ke rumah. Apa kamu masih mau lebih lama meninggalkan istrimu?" Dengan nada menggoda.


Bima melangkah keluar ruangan lebih dulu, dan Revan masih sempat untuk bersujud di lantai, mengucapkan syukur berkali-kali karena di dekatkan dengan orang baik.


--__

__ADS_1


__ADS_2