
Setelah kejadian beberapa hari lalu, Kiki dan Revan tidak saling sapa seperti biasanya. Soal kerjaan masih sering bertanya, tapi seperti hal lain atau sekedar bertanya makan dimana, kamu naik apa, pulang sama siapa, tidak lagi. Revan hanya diam mengerjakan tugasnya meski di dalam ruangan yang sama. Begitu juga dengan Kiki, meski baginya tidak ada masalah tapi rasa canggung tetap ada di dirinya.
Bagaimana tidak, Kiki yang berkata sendiri, benci dan tidak sudi untuk menemui Agam. Tapi nyatanya, dia ketangkap basah tengah makan dan duduk berdua di sebuah cafe. Padahal letak cafe sudah jauh dari rumah dan kantornya, berharap tidak ada orang yang mengenalinya.
Seperti hari ini, Kiki menyiapkan berkas rapat yang akan di pimpin oleh Revan. Karena Bima akan terlambat masuk hari ini. Dan, Kiki sendiri yang akan mendampingi Revan nanti, dia yang akan melakukan presentasi di hadapan klien yang memang sudah melakukan kerja sama dengan perusahaan Bima.
Serasa hati ingin menolak, bukan tidak mampu. Tapi keadaan canggung ini yang membuatnya malah seakan susah bergerak, susah memberikannya ruang untuk bernafas. Karena jika berbicara Revan hanya menjawab sekenanya saja.
Apa Revan memang pacaran sama mbak Rina ya?
Sebuah pikiran yang membentuk opsi tersendiri, meyakinkan Kiki bahwa Revan saat ini terkesan menjauh karena sesosok wanita yang selalu menegurnya untuk menjauhi Revan. Dan Kiki sudah meyakini hal itu sekarang. Karena bagi Kiki mana mungkin Revan mendiamkannya hanya karena bertemu dirinya sewaktu dengan Agam beberapa hari lalu.
Kan nggak mungkin gara-gara itu? Memangnya dia siapa? Kan mustahil jika dia cemburu.
Lagi-lagi, Kiki melirik. Walau sebenarnya tugas sudah selesai, berkas rapat juga sudah Kiki periksa ulang. Hanya menunggu perintah untuk berangkat saja, beranjak dari duduknya dan keluar ruangan. Mencari topik pembicaraan tidak mudah baginya, karena seorang Revan jika sudah menatap layar laptop dan matanya fokus kesana, sering tidak mendengar jika di panggil apa lagi jika di ajak bicara.
"Kamu kenapa? Kenapa lihatin aku terus?" Kiki panik, berpura-pura menjatuhkan pena dan menunduk untuk mengambilnya. Lalu, detik berikutnya diam. Biarkan saja, anggap tidak mendengar.
Revan menoleh ke arahnya, yang kini berpura-pura sibuk melihat berkas dan melihat lagi ke arah layar laptopnya. Lalu garuk-garuk kepala, tak sadarkah Kiki saat ini jika Revan belum mengalihkan pandangan dari dirinya.
"Eh." Menoleh. "Kenapa?" Kiki bertanya lagi. Revan hanya geleng-geleng lalu kembali fokus ke pekerjannya.
"Apa kamu sudah selesai dengan tugasmu?"
"Sudah dari setengah jam yang lalu." Kiki jujur dengan membuka mulutnya tanpa mempunyai rem. Revan mendengar dengan jelas, lalu tersenyum dan geleng-geleng lagi.
Kenapa! Apa aku salah? Kan memang begitu kenyataannya.
"Lalu, kenapa diam saja? Aku padahal nunggu dari tadi." Kiki langsung menoleh dan menatap Revan.
"Rapat satu jam lagi loh, perjalanan kita menuju tempatnya lagi, syukur kalau tidak macet." Revan bangkit dan membereskan mejanya. Kiki reflek mengikuti pergerakannya dan menumpuk berkas yang akan menjadi bahan presentasinya nanti.
"Memangnya mau rapat dimana? Bukannya masih di dalam kantor ini?" Bingung, dan menunggu Revan menjawab.
"Nggak lah, kita rapat di luar kantor. Melakukan pertemuan, kalau disini sih biasanya hanya rapat pribadi membahas perusahaan sendiri. Jarang memang aku melihat pak Bima rapat di dalam kantor." Revan selesai dan siap melangkah keluar.
"Sudah kan ayo?" Kiki mengangguk dan mengikuti langkahnya.
Tidak lagi ada pembicaraan di antara mereka, bahkan sampai di depan lift menunggu pintu terbuka juga mereka diam. Kiki berdiri dengan memeluk setumpuk berkas, Revan yang memang tidak membawa apa-apa bisa memasukkan satu tangannya ke dalam saku celana, dan satu tangan ia gunakan untuk bermain ponsel, tapi lebih tepatnya sedang membalas pesan. Terlihat dia tersenyum lalu mengetik pesan. Kiki hanya bisa meliriknya tanpa bisa melihat isi pesannya.
Setelah melihat pintu lift terbuka Revan masih fokus memainkan ponselnya, Kiki yang memang tak sabar langsung saja masuk duluan ke dalam. Sampai pintu lift akan menutup kembali, Revan yang baru sadar dan mendongakkan wajah langsung bergegas masuk.
"Eh, aduh aw." Kiki dengan paksa menarik tubuh Revan yang terjepit hingga mereka berdua terpental masuk ke dalam sisi lift. Wajah yang saling berhadapan dan tangan Revan yang memeluk tubuh Kiki. Aroma tubuh Revan jelas tercium oleh Kiki, begitu juga sebaliknya. Ada detak jantung yang bisa sama-sama mereka rasakan.
"Eh!" Langsung berdiri tegak dan membenarkan rambutnya. Jelas canggung.
"Makasih ya, kalau nggak kamu tarik juga aku nggak tau gimana tadi." Kiki yang menganggukkan kepalanya. Lalu menggeser berdirinya agak sedikit menjauh dari Revan.
Bodoh, kenapa jantungku terasa mau copot sekarang.
Sementara Revan berdiri dengan tenangnya, Kiki melihat dari pantulan lift yang memperlihatkan Revan tersenyum samar.
Dia senyum? Kenapa?
"Kamu mau berdiri disitu aja Ki? Nanti kita telat loh?"
"Eh!" Dan sekarang Kiki yang tampaknya tak sadar jika pintu lift sudah terbuka, mereka sudah sampai di lantai dasar.
"Kita di antar supir." Ucap Revan lagi setelah melangkah keluar lift.
Kiki mengikuti langkah Revan dari belakang, sungguh hatinya masih berdebar saat ini. Karena biasanya Kiki hanya dengan Agam bisa sedekat seperti tadi.
"Masuklah." Revan membuka pintu dan mempersilahkan Kiki naik. "Biar aku duduk di depan sama supir."
"Kenapa?" Eh, Kiki hampir reflek menutup mulutnya sendiri.
"Kenapa?" Mengerutkan keningnya mengulangi perkataan Kiki.
"Nggak, maksud aku kenapa kok nggak duduk di belakang juga."
Ya ampun, aku ngomong apa sih.
Kiki langsung naik saja, duduk dan memasang belt. Detik kemudian Revan kembali membuka pintu, meminta Kiki bergeser ke sebelah kanan.
"Loh kenapa?" Bingung, katanya mau duduk di depan, batinnya lagi.
"Nggak apa-apa, kasian kalau kamu duduk sendirian."
Ha itu juga karena tadi mulutku keceplosan!
Kiki membuka lagi belt yang sudah terpasang. Lalu bergeser dan duduk tepat di belakang supir.
"Eh mau ngapain." Melihat Revan mendekat dan menarik tali stell belt.
"Ganti rugi karena tadi kamu udah pakai dan aku suruh buka lagi." Dan anehnya Kiki diam tak menolak, membiarkan Revan memasang untuknya. Lagi-lagi harus mencium aroma tubuh Revan, yang menurutnya adalah candu saat ini.
Wangi sekali rambutnya, pakai sampho apa sih.
"Sudah. Jalan pak."
"Iya mas."
"Tau kan pak tujuannya kemana?" Supir mengangguk.
"Kamu tau nggak, kenapa Bima masuknya agak siang?"
Revan menoleh.
"Ada urusan sama istrinya katanya, pak Bima datang ke kantor nanti sekitar jam 10. Sementara rapat di mulai jam 10. Takut nggak terkejar jadi pak Bima meminta kita yang mewakili."
"Urusan keluarga? Memangnya ada apa?" Jelas Kiki sendiri penasaran, status yang bukan hanya sebatas sekretaris tapi juga sahabat Bima, jelas Kiki juga ingin tau.
"Mau jemput istrinya katanya sih yang lagi nginep dirumah ibu mertuanya." Kiki mengangguk lagi.
"Kamu tau kan wanita yang semalam datang ke kantor nyari pak Bima?" Kiki diam sebentar dan berpikir.
"Wanita yang kayak bule." Lagi Revan sepertinya memberi kisi-kisi agar Kiki dapat mengingat.
"Oh itu, kenapa?"
__ADS_1
"Gara-gara pak Bima meladeninya, jadi lupa akan jadwal periksa kandungan mbak Maudy. Nah terjadilah kesalahan pahaman." Jelas Revan.
"Jadi mereka bertengkar?" Kali ini sedikit memutar tubuhnya dan menatap Revan. Revan mengangguk.
"Memangnya wanita semalam itu siapa? Apa dia juga bekerja sama dengan perusahaan Bima?" Lama Revan menjawab.
"Dia Celine." Kiki tak mengenalnya. "Sudah di putuskan kerja sama antara mereka, tapi sepertinya dia masih tak terima dan melakukan penerbangan kesini untuk bertemu pak Bima." Kiki diam lagi, siapa Celine? Banyak sekali pertanyaan yang akan ia ajukan.
"Kenapa Maudy nggak cerita ke aku ya?" Gumamnya pelan, tapi karena jarak duduk tidak jauh Revan masih bisa mendengarnya.
"Mungkin istri pak Bima nggak mau cerita karena kecewa sama kamu." Deg. Kiki menoleh lagi, sebenarnya dari mana Revan bisa tau.
"Pak Bima yang cerita ke aku." Kiki langsung terdiam. Untuk bertanya lebih lanjut mengenai siapa Celine dan bagaimana Maudy sekarang langsung ia urungkan. Kiki tau maksud perkataan Revan barusan.
Kecewa sama kamu.
Langsung terngiang di kepalanya. Sampai mobil berhenti di sebuah gedung mewah, berpusat di tengah kota. Kiki turun dari mobil tapi dengan pikiran yang entah kemana.
Kecewa sama kamu.
Ya ampun, hanya hal itu terus yang berpusat di otaknya saat ini.
"Ki? Kok kamu berdiri aja? Ayo masuk, kita udah di tunggu." Revan langsung menarik tangan Kiki.
Mata Kiki sekarang liar, melihat gedung mewah yang banyak orang hilir mudik keluar dan masuk, beberapa menit memahami barulah dia sadar kalau ini adalah restoran bintang lima, yang termewah di kotanya. Jelas Kiki tau karena sudah pernah datang kesini bersama papa dan mamanya.
Revan terus melangkah menuju ruangan VVIP. Ruangan yang tertutup dan hanya orang berkelas yang bisa masuk kesana. Memang benar, semua yang ada disini juga sudah berkelas, tapi jika ingin melakukan rapat penting ya hanya bisa di ruangan VVIP. Selain ruangan yang seluruhnya tertutup juga kedap suara.
"Selamat pagi pak." Revan menunduk dan perjabat tangan dengan ketiga kepala perusahaan disana, Kiki juga ikut dan memperkenalkan diri. Hanya dia satu-satunya perempuan disini. Pertanyaan Kiki sekarang, kenapa hanya perusahaan Bima yang ada sekretarisnya?
"Kita mulai saja ya pak?"
"Oh iya silahkan." Salah satu dari rekan bisnisnya mempersilahkan.
"Ki, kamu berdiri dan jelaskan." Kiki mengangguk dan merapikan lagi pakaiannya, tersenyum lalu membuka berkas.
***
Satu jam lamanya melakukan pertemuan, dan sekarang selesai. Kiki bernafas lega sekarang, meski sempat ragu tapi akhirnya dia bisa melakukan presentasi dengan baik dan mudah dipahami oleh rekan bisnis Bima. Mereka juga memuji Kiki cantik, siap menjodohkan dengan anaknya kalau memang Kiki masih single. Tapi ada satu yang mengganjal di hati Kiki sekarang, kenapa Revan menjawab "jangan pak, ini jatah saya."
Kenapa Revan mengatakan hal ini di depan kolega bisnis? Apa maksudnya jatah saya? Ah lagi-lagi isi kepala Kiki harus penuh pikiran dan pertanyaan. Masalah Maudy juga masih terngiang, lalu apa sekarang.
"Ki, kita makan dulu? Udah waktunya jam makan siang juga."
"Kita makan disini?" Bertanya untuk memastikan. Revan tertawa kecil.
"Iya kita makan disini, tapi nggak di ruangan ini. Memangnya aku mau ngelamar kamu apa disini." Dengan santainya Revan berucap begitu, meski Kiki senang saat ini, Revan kembali berbicara seperti biasanya dengannya. Tapi setiap ucapan Revan selalu mengarah ke perasaan, itu menurut Kiki.
Kolega bisnis sudah lebih dulu pergi, dan mereka yang masih membereskan berkas harus belakangan keluar. Sampai Revan memutuskan untuk mengajak Kiki makan barulah keluar.
"Jangan tegang Ki, aku hanya bercanda."
Heh kenapa aku kecewa mendengarnya? Gila!
"Kita duduk disana aja ya? Enak makan sambil lihat suasana kota dari atas." Menunjuk ke arah sudut gedung. Kiki mengangguk setuju saja.
"Enaknya tuh makan sambil lihat pemandangan yang asri, hijau, begitu baru enak." Sepertinya Kiki lebih berbicara tentang keinginannya saat ini bukan sekedar memberi contoh.
"Kemana? Tapi katanya mau duduk disini aja?"
"Weekend ini kita pergi mau nggak? Seperti yang kamu bilang tadi, cari pemandangan yang asri dan hijau, seperti puncak kan?"
"Se-"
"Sebentar pak Bima telepon?"
"Ya Hallo pak?" Di sela-sela Revan menelpon seorang pelayan datang membawa buku menu. Kiki mulai membuka dan menunjuk makanan apa yang akan di pesan, lalu Revan hanya menunjuk dengan tangan pesanan yang dia mau sambil terus berbicara dengan Bima lewat telepon.
"Iya, ini juga lagi makan pak sama Kiki."
"Ini aja mbak?" Kiki mengangguk.
"Baik, makanan di antar sekitar 15 menit lagi." Kiki mengangguk lagi.
"Oh gitu ya pak, baik." Revan sudah selesai berbicara dengan Bima. Dan sepertinya melupakan topik awal pembicaraan dengan Kiki tadi.
"Gimana hubungan kamu?" Nah kan, sekarang sudah beda topik.
Kenapa harus tanya itu, bukannya tadi bahas soal weekend.
"Ya berakhir." Jawabnya lirih. Seperti ada ribuan kesedihan di sorot mata Kiki.
"Kenapa?" Kiki meluruskan Pandangannya menatap Revan. "Kenapa berkahir? Bukannya sudah bertemu diam-diam?"
Ini tanya atau nyindir sih!
"Ya kamu kan tau, kamu juga udah dengar kan cerita aku waktu itu? Jadi mana mungkin bisa lagi di teruskan. Apa lagi sampai orang tua aku tau."
"Baguslah."
"Bagus?"
"Iya bagus kalau kamu sadar. Kan masih banyak yang lain."
"Nggak ada yang mau."
"Ada, ada yang mau sama kamu. Tapi kamu nggak sadar." Revan mengucapakan dengan penuh semangat dan ambisi.
"Siapa?" Kiki juga sengaja memancing sepertinya.
"Aku juga mau sama kamu." Revan tertawa. "Becanda." Kiki diam dan mengangguk, tak mengeluarkan ekspresi apapun, tersenyum atau tertawa seperti Revan juga tidak.
Sesuai janji pelayan, makanan datang 15 menit kemudian. Pantas saja bisa di katakan restoran bintang lima, selain mewah juga makanan datang tepat waktu.
"Makan Ki." Kiki mengangguk lagi. Walau makanan yang terhidang seperti menggugah selera, tapi Kiki sudah kehilangan itu sejak Revan bertanya mengenai hubungannya dengan Agam.
Di sela-sela makan Revan masih mengajaknya berbicara tapi Kiki menjawab sekenanya saja. Hingga notif pesan di ponselnya berbunyi, Kiki sibuk dengan ponselnya. Revan tak lagi mengajaknya berbicara.
"Ki, kita ketemu nanti malam bisa nggak?"
__ADS_1
Kiki diam, memandang layar yang masih menunjukkan pesan dari Agam yang sudah ia baca. Kiki meletakkan ponselnya di atas meja, lalu melanjutkan makannya. Meski suapan yang di paksa masuk ke dalam mulut, tapi tetap berusaha agar bisa tertelan.
Wajah yang menunjukkan raut bingung jelas terlihat, Revan memajangkan lehernya untuk melihat ini pesan yang di baca oleh Kiki.
"Kamu mau?"
"Mau apa?" Perasaan juga nggak ada minta dan ngomong sesuatu, batinnya.
"Mau di ajak ketemuan?" Kiki langsung mengambil ponselnya, mematikan layar.
"Kamu baca?"
"Nggak sengaja ke baca lebih tepatnya." Membela diri, padahal memang begitu kenyataannya. Kiki diam tak menjawab.
"Aku juga nggak tau." Sekarang mengacak makanan di atas piring dengan garpu.
"Gimana kalau aku ikut? Aku kan juga kenal Agam." Ide macam apa ini! Kiki berteriak.
"Kalau kamu di apa-apakan sama Agam gimana? Soalnya kan dia berambisi sekali buat balik sama kamu."
"Nggak lah, nggak mungkin Agam berbuat nekat seperti itu."
"Kamu tau dari mana?" Kiki terdiam.
"Kamu juga tau dari mana kalau Agam mau berbuat macam-macam?"
"Aku sudah kenal Agam lebih lama dari pada kamu." Diam lagi.
Benar juga, tapi kalau aku ajak Revan bagaimana mau ngomong sama Agam?
"Gimana?" Revan selesai makan dan mengelap mulutnya dengan tissue.
Kiki masih diam, mengambil minuman dan meneguknya, meski sudah tersedia sedotan tapi entahlah, mungkin rasa bingung membuatnya jadi bodoh sekarang.
"Nanti aku pikirkan." Revan mengangguk.
***
Malam ini, Kiki yang setuju untuk bertemu Agam. Tidak memberi kabar apapun ke Revan, dan meminta ijin kepada mamanya dengan alasan mau kerumah Maudy. Beruntung jika mamanya tidak menelpon Maudy nantinya.
"Jangan pulang terlalu malam ya Ki, besok kamu kan kerja lagi."
"Iya ma, aku berangkat ya."
Rasa curiga jelas ada, pasalnya Kiki tak pernah ijin keluar malam untuk bertemu Maudy semenjak Maudy menikah. Apa lagi, Kiki keluar dengan rapinya seperti ingin bertemu seseorang.
Mendengar suara mesin mobil pergi menjauh dari rumah mamanya langsung bergegas mengambil ponselnya di dalam kamar.
"Hallo Dy?"
"Apa kamu ada nyuruh Kiki datang kerumah kamu?"
"Nggak ada tante. Kenapa?"
"Oh gitu, nggak apa-apa."
"Lagian aku juga nggak dirumah tante. Aku dirumah ibu."
"Ya sudah. Kamu sehatkan?"
"Sehat kok tante."
"Titip salam sama ibu kamu ya. Ya udah Tante tutup teleponnya."
Dan tekad mamanya Kiki saat ini adalah, mencari nomor Revan lalu menghubunginya, karena yang dia tau sebagai orang tua, Kiki hanya dekat dengan Revan sekarang ini.
***
"Hallo? Kamu dimana? Aku udah sampai, tapi kok sepi ya Gam?" Kiki melihat ke sekeliling, memang sepi. Taman yang seperti tidak pernah di kunjungi oleh siapapun di malam hari, berbeda dengan taman kota yang kalau malam malah menjadi tempat persinggahan anak muda.
"Hei." Agam datang, dan ini yang kedua kalinya Agam bertemu dengannya, selalu memakai jaket Hoodie dengan penutup kepala dan juga masker. Seperti tidak ingin identitasnya di ketahui, sementara Kiki sudah memberi penampilan terbaiknya malam ini. Dia kira akan makan di suatu tempat atau apa, ternyata hanya di taman yang sepi, dan hanya ada suara jangkrik di malam hari.
"Gam? Maaf ya, ini nggak salah tempatnya? Kita cari tempat lain ajalah, yang lebih nyaman buat ngobrol." Kiki masih berdiri di tempatnya.
"Nggak apa-apa, yang penting kan masih kelihatan dari jalan raya. Aku mau kita ngobrol dengan tenang." Jawabnya meyakinkan.
"Kalau begitu disini aja, kamu mau ngomong apa?"
"Yakin, kamu mau terus berdiri disini?" Kiki diam.
"Ayo?" Agam menuntun Kiki, ini yang selalu membuatnya luluh dan rindu, sikap Agam yang kalau bersamanya.
"Kita duduk disini ya?" Lagi, dia berbicara sangat lembut. Melihat ke sekeliling barulah Agam juga ikut duduk.
Begitu juga dengan Kiki, berharap ada orang lain disini sekarang. Dan sepertinya jalan raya sudah sangat jauh dari tempat mereka duduk.
Kenapa aku merasa nggak nyaman ya?
"Kamu makin cantik?" Agam tersenyum dan mengelus pipi Kiki dengan jari-jarinya. Semakin mendekat, tapi Kiki menahan tubuh Agam.
"Tolong, jangan seperti ini. Kalau kamu mau ngomong sesuatu, silahkan dari sekarang."
"Ki, harusnya kamu tanya kenapa aku bisa pisah? Dan seharusnya kamu nanya hal itu di waktu kita jumpa waktu itu." Kiki diam. "Aku merasa bodoh jauh darimu Ki, aku juga bertemu wanita itu secara tidak sengaja, karena waktu di luar negeri aku masuk ke club, lalu aku mabuk dan terjadilah cinta satu malam."
"Tolong Gam jangan di lanjutkan, itu hanya membuat aku semakin sakit."
"Maka dari itu kembalilah denganku."
"Kembali dengan mu yang sudah berbeda status? Kamu tau kan apa yang akan di katakan keluarga ku nantinya?" Kiki menggeleng dan mengembuskan nafasnya secara kasar. Walau jawabannya masih menolak dengan suara hatinya.
"Maka dari itu, aku sudah punya cara supaya kita bisa menikah." Kiki mengerutkan keningnya, tak tau arah pembicaraan Agam kemana, jelas-jelas untuk memulai lagi hubungan saja sudah di tolak, apa lagi sampai menikah.
Agam semakin mendekat, Kiki terus menggeser duduknya, hingga mentok di ujung kursi yang terbuat dari besi. Kiki langsung bangkit dan berniat akan pergi, melihat Agam yang sepertinya sudah mulai nekat. Tapi Agam langsung menarik tangannya, hingga Kiki jatuh terduduk di pangkuan Agam.
Agam memeluk Kiki dengan sangat erat. Dan, dengan rakusnya melahap bibir merah Kiki malam ini.
"Eum.." Kiki terus menggeleng, untuk berteriak minta tolong rasanya juga tidak bisa. Kiki terus meronta dalam pelukannya, menggoyangkan kakinya yang saat ini dengan keadaan menggantung. Hingga Agam sudah mulia menyentuh bagian sensitif miliknya, Kiki menjatuhkan air matanya, menangis tanpa suara.
"Eum!" Lagi, Adam menutup mulutnya dengan satu tangan, semakin Kiki menggoyangkan tubuhnya untuk berontak, malah membuatnya semakin lemas.
__ADS_1
Agam kamu memang laki-laki breng sek, benar kata Revan!
--__