Dia Bimaku

Dia Bimaku
Jangan memaksakan keadaan


__ADS_3

Gerimis di pagi hari datang, dan Maudy berdiri di sisi jendela kamar. Memandang ke arah halaman rumahnya yang tampak basah, daun yang terus bergoyang karena terkena percikan air hujan. Jendela juga sudah tampak mengembun. Dia memeluk tubuhnya sendiri, membayangkan pasti di luar dingin.


Cuaca pagi yang harusnya bersinar, ini juga gelap. Awan mendung menutup keseluruhan indahnya pagi hari.


Maudy menoleh lagi ke arah tempat tidur, yang belum ada pergerakan sama sekali pada Bima. Padahal Maudy sendiri sudah membangunkannya berulangkali. Tapi sepertinya Bima masih ingin terlelap di cuaca pagi ini yang memang enak sekali untuk tidur di bawah gulungan selimut.


Tok. Tok.


"Nyonya ini sarapan paginya." Maudy segera berjalan menuju pintu.


"Iya bi. Letakkan di meja aja ya, Bima belum bangun soalnya bi."


"Iya nyonya."


"Makasih ya bi." Maudy kembali menutup pintu kamarnya.


Ini Bima tidur kok enak banget ya?


"Bim, bangun udah jam berapa sekarang Bim. Kita sarapan?" Menggoyangkan tubuh Bima.


"Bim?" Tidak juga ada tanda-tanda untuk bangun. Dengan iseng, Maudy menjepit hidung Bima dengan tangannya, Bima mulai menggeliat karena kesulitan bernafas.


"Pfftt.." Maudy menutup mulut dengan satu tangannya, menahan tawa yang hampir pecah.


"Hah." Bima membuka mata, nafasnya naik turun dan melihat Maudy yang sudah terpingkal di sisi ranjang.


"Sayang!" Bima membentak. Maudy langsung terdiam.


"Kalau aku mati gimana?"


"Hanya itu cara supaya kamu bangun Bim, dan terbukti sekarang kan." Bima mengatur posisinya agar bisa duduk.


"Iya tapi kalau aku mati gimana?"


"Nggak akan!" Maudy berjalan menuju meja dan mengambil sarapan untuk Bima.


"Sarapan dulu ya biar aku suapin?" Bima diam dan menatap istrinya dengan tajam.


"Aku nggak mau makan?" Hah? Maudy membulatkan matanya.


"Bim?"


"Aku ke kamar mandi dulu, cuci muka." Maudy hanya menatapnya dan menunggu Bima keluar dari kamar mandi.


"Sudah?" Bima mengangguk dan kembali duduk, tapi tidak di tempat tidur melainkan di sofa.


"Di luar hujan ya?" Maudy mengangguk dan berjalan ke arahnya. "Sayang sekali tak bisa menikmati cuaca indah ini."


"Cuaca indah? Nggak salah?" Bima hanya tersenyum.


"Aku sebenernya sudah rindu sekali dengan anakku, ingin sekali aku menjenguknya sekarang, cuaca juga mendukung. Tapi apalah daya tanganku belum bisa menopang jika aku mengungkung mu." Maudy semakin tak tau apa maksudnya.


"Bim, makan dulu ya?" Bima mengangguk.


"Sayang, apa kamu nggak rindu aku?" Maudy diam belum menjawab dan kembali menyuapkan nasi goreng buatan ART.


"Bim, kita sekarang kan berjumpa, bagaimana bisa bilang rindu?" Bima menunjuk ke arah gelas, Maudy mengambil dan menyodorkannya.


"Maaf ya Bim, aku nggak masak buat kamu. Ini juga bibi yang buatkan nasi gorengnya."


"Pantas saja rasanya berbeda." Setelah meneguk air dalam gelas.


"Beda? Beda gimana Bim? Nggak enak ya Bim?"


"Bukan nggak enak, cuma aku bilang rasanya berbeda. Kalau kamu yang masak kan pasti setiap suapan aku merasakan cinta!"


"Apa sih!" Maudy tertawa kecil dan tak sengaja memukul lengan Bima.


"Sayang sakit." Mengaduh.


"Eh, maaf Bim aku nggak sengaja, maaf ya? Mana yang sakit?" Bima menarik sedikit sudut bibirnya, ini, ini, dia menunjukkan bagian mana yang sakit dan yang terakhir.


"Ini juga sayang." Maudy hampir saja menyentuhnya.


"Bima!!" Bima tertawa. "Makan dulu Bim?"


"Habis makan berarti kamu mau?" Maudy diam berpura-pura tidak mendengar. "Aku kenyang sayang." Maudy meletakkan piring ke atas meja.


"Kenyang karena sudah habis." Menggerutu pelan tapi Bima masih bisa mendengar.


"Apa?" Ketika melihat Bima yang tengah menatapnya tanpa berkedip dengan senyum nakal yang sering ia lihat sebelum meminta haknya.


"Bim, kamu masih sakit. Jangan yang aneh-aneh."


"Sayang, ayolah. Bekerja sedikit untukku. Sudah hampir dua Minggu sayang." Wajahnya memelas, tangannya sudah mengelus bagian sensitif miliknya sendiri.


"Tadi kamu bilang habis makan." Ha? Maudy menoleh.


"Aku nggak ada bilang begitu ya Bim?" Memang benar kan, Bima sendiri yang mengatakan hal itu tadi.

__ADS_1


Maudy kembali melanjutkan sarapan paginya, menguyah dan mengunyah sambil sesekali melirik ke arah Bima yang masih saja terus menatapnya tanpa berkedip.


Maunya apa sih ini anak?


Menelan, dan kembali memasukan nasi goreng ke dalam mulutnya. Bima mulai mendekat, mencium pipi Maudy yang menggelembung karena sedang mengunyah, berulang kali Bima melakukannya.


Aahh aku ingin berteriak sekarang!


Hingga sampai suapan terakhir, Maudy mengambil gelas yang berisi air untuknya, meneguk ah rasanya nikmat sekali.


"Kita mandi bareng ya?" Maudy hampir tersedak mendengarnya. "Kenapa? Hanya mandi." Maudy menggeleng pelan.


"Iya aku tau, aku sakit sayang aku belum bisa melakukan hal itu. Hanya mandi, aku bilang hanya mandi."


Hanya mandi, hanya mandi.


Kata-kata itu terus terngiang di telinga Maudy. Dan akhirnya dia juga setuju. Toh Bima juga sedang sakit sekarang, tak mungkin berbuat aneh-aneh, itu yang dia tebak.


Maudy mulai membuka seluruh pakaiannya, dan menampakkan tubuh polosnya dengan perut besarnya.


"Sayang, aku nggak bisa buka baju aku sendiri." Oh oke, Maudy tau itu dan segera membantunya.


"Kita berendam di bath up ya?" Iya, lagi-lagi Maudy mengangguk setuju. Sejauh ini memang hanya mandi, sesuai ucapan Bima tadi, hanya mandi.


"Sayang kesini? Aku mau bicara dengan anakku?" Maudy beringsut mendekat, dengan senyum karena senang Bima mengatakan hal itu.


"Anak papa, apa kalian tidak rindu papa? Bolehkan kalau papa mengunjungi kalian?" Maudy mendengar Bima mengatakan itu langsung beringsut menjauh.


"Hei, aku masih bicara dengan mereka sayang."


"Iya tapi aku merinding kamu bilang gitu Bim." Bima menggeleng lalu meminta Maudy untuk kembali mendekat.


Baiklah, hanya mandi, hanya mandi.


Begitu dia mengingatnya lagi.


"Sayang lihat dia gerak? Dia dengar aku bicara sayang." Seperti menemukan hal baru dalam hidupnya, Bima begitu tampak senang dan tersenyum, lalu kembali mengajak anak yang masih di dalam perut berbicara.


"Sudah ya Bim, nanti masuk angin. Nanti lagi bicaranya sama mereka." Bima tetap menggeleng. Maudy menghela nafas.


Sebenarnya yang mana anak dan yang mana papanya sih? Kenapa membujuk yang satu ini malah lebih susah!


"Apa boleh sayang?" Anak di dalam kandungan itu menendang lagi. "Baiklah akan papa lakukan."


"Kamu ngomong apa tadi, kok aku nggak dengar Bim?" Bima tersenyum, mendekatkan wajahnya dan cup, mendapat bibir, nagih, melakukannya lagi.


Dan akhirnya, kata-kata yang mengatakan hanya mandi bukan hanya sekedar mandi, semua berakhir dengan kesesakan yang di tahan Bima selama ini, tapi tidak banyak gaya hanya satu macam yang terpenting bisa mencapai puncak dengan keduanya saling puas.


"Sudah kan? Kita keluar ya?" Bima mengangguk. Maudy berjalan lebih dulu keluar dan mencari pakaian untuk Bima, meletakkan di atas tempat tidur.


"Bim, kamu bisa kan pakai sendiri?"


"Mana bisa sayang hanya dengan satu tangan!" Bima keluar dan menutup pintu kamar mandi.


"Bukan kah semalam kamu bisa?" Bima tetap menggeleng.


"Nggak, aku nggak bisa pakai sendiri."


"Tapi semalam aku tanya kamu kan, kamu sudah mandi atau belum, kamu bilang sudah? Itukan berarti kamu bisa melakukannya sendiri Bim?" Maudy lebih dulu memakai pakaiannya di balik pintu lemari.


"Sayang, kan kamu hanya bertanya aku sudah mandi atau belum, tapi kan nggak tanya aku bisa atau tidak makai pakaian sendiri? Lagian kamu juga nggak nanya kapan aku mandinya?" Maudy sudah selesai dan berjalan ke arah Bima.


"Memangnya kapan kamu mandi?"


"Ya sebelum kita pulang dari rumah sakit." Tanpa rasa bersalah Bima mengatakan itu dengan santainya.


"Bima ya ampun, jadi beneran tadi malam kamu tidur nggak mandi?" Bima menggeleng lagi.


"Udah sini cepetan pakai bajunya."


"Pantas aja tidurnya kayak kebo, orang nggak mandi." Menggerutu pelan.


"Sayang berdosa loh kalau nggak ikhlas ngelayani suami." Maudy mendongak, Bima memainkan alisnya.


"Bim, setelah ini aku ke resto sebentar ya? Aku mau lihat-lihat aja."


"No!"


"Bim?"


"No!"


***


Dengan di kurungnya Maudy satu harian di dalam kamar, dia hanya bisa pasrah karena Bima selalu mengatakan dosa kalau melawan suami. Baiklah, mengalah saat ini, menemani suaminya yang sakit, mood yang suka berubah-ubah seenaknya.


Dan seperti sekarang ini, Maudy hanya bisa menatap Bima yang menelepon rekan bisnisnya. Menanyakan apa mempunyai saudara ataupun orang yang di kenal sebagai chef. Mulai hari ini dan seterusnya, Bima tidak lagi ingin Maudy ataupun ibu mertuanya yang memasak. Biarkan saja mereka membayar chef dengan mahal, asalkan tidak mengeluarkan keringat lagi di dapur resto.


"Dapat sayang." Dengan senyum Bima memarkan photo seorang chef yang di kirim oleh rekannya.

__ADS_1


"Apa dia pengangguran Bim?" Bima menggelengkan kepalanya.


"Tidak, dia bekerja juga di sebuah hotel, dan tugasnya hanya memasak."


"Lalu, bagaimana bisa dia kerja di resto kalau dia saja sudah bekerja di tempat lain. Jangan aneh-aneh deh Bim."


"Sayang, tenanglah, aku hanya memberi penawaran terbaik untuknya nanti, jika dia berminat pasti akan mau."


"Besok dia akan datang ke resto, kamu bisa melihat langsung." Maudy mengangguk lagi.


"Bim, kita keluar ya? Aku benar-benar bosan Bim di kamar." Mulai mengeluh.


"Sayang, apa bedanya di kamar atau di ruang tamu, atau di dapur sekalipun? Yang kamu lihat juga hanya aku kan? Atau jangan-jangan kamu bosan sama aku ya? Bukan bosan karena di dalam kamar?" Maudy menutup kedua telinganya dengan tangan.


"Oke kalau gitu aku minta antar supir aja ya, aku mau ke kantor."


"Eh jangan-jangan, iya-iya aku di kamar temani kamu."


Sumpah Bim, kamu nyebelin banget.


"Nyonya, tuan, ada tamu." Suara dari balik pintu.


"Iya bi, sebentar?" Maudy beringsut turun. "Bim, aku lihat dulu ya?" Bima mengangguk.


"Siapa bi?" Maudy hanya membuka sedikit dan berbicara hanya mengeluarkan kepalanya saja.


"Itu siapa sih, katanya suruh saja Maudy turun. Saya pernah melihatnya nyonya, tapi saya lupa itu siapa."


"Ya sudah tunggu sebentar ya bi. Tolong bibi buatkan saja minuman ya?"


Maudy kembali berjalan ke ranjang tempat tidur, dia mendekat ke arah Bima dan mengatakan apa yang baru saja di katakan oleh ART dirumahnya.


Bima kali ini memberi ijin istrinya untuk keluar kamar. Dan dia sendiri tidak ikut turun ke bawah, Bima lebih memilih menghidupkan televisi dan menonton berita terkini.


Dengan perlahan Maudy menuruni anak tangga, matanya mengedar keseluruh ruangan, hanya terlihat rambut yang sudah duduk di sofa. Siapa? Batinnya bertanya.


Suara langkah kaki yang berdenting di atas lantai membuat tamu menoleh dan berdiri dari duduknya.


"Om?" Mata Maudy berbinar, tersenyum senang. "Om?" Dia berjalan tergesa-gesa.


"Pelan-pelan mo jalannya." Maudy langsung memeluk omnya.


"Om sendiri?"


"Nggak, om sama Tante Niah dan Bian, mereka langsung minta turun di resto kamu, karena sudah ada ibumu disana." Maudy mengangguk dan ikut duduk di sofa.


"Om kecewa sama kalian." Maudy kaget. "Kenapa nggak ada yang ngasih kabar ke om tentang kecelakaan yang di alami Bima, dan kamu juga mengalami kontraksi." Maudy diam. "Om mengetahui karena melihat berita yang tersebar di internet."


"Om, maaf untuk itu aku udah nggak kepikiran lagi kesana."


"Iya om tau Dy, tapi om juga marah sama ibu kamu, bisa-bisanya dia nggak kasih kabar. Selalu dengan alasan keberadaan om yang jauh." Sungguh, Maudy saat ini merasa bersalah. Mengingat omnya yang menyayanginya, jelas dia merasa khawatir dengan kabar ini.


"Apa om kesini karena mendengar kabar itu?"


"Sebenarnya iya itu juga salah satu alasannya. Dan juga, om sekarang akan kembali menetap disini?" Hah? Maudy lebih kaget lagi.


"Lalu resto om bagaimana?"


"Om mempercayai rekan om yang kelolah, dan setiap satu bulan sekali om akan pergi kesana. Ini semua permintaan tante kamu, dia sudah memasuki bulan akhir kandungannya. Dia mau melahirkan disini. Lingkungan disana semakin tidak baik untuk Bian Dy, dia jarang masuk sekolah karena pengaruh teman-temannya. Jadi tante mau sebelum terlambat, dia minta om untuk kembali tinggal di tanah air."


"Apa Bian tidak keberatan om?" Om Wisnu menggeleng.


"Dia bahkan senang."


"Sayang, siapa yang datang?" Bima berjalan pelan menuruni anak tangga.


"Bim sini, ada om Wisnu." Maudy melambaikan tangannya. Padahal dia sendiri tau, mungkin sudah terlalu lama menunggu di dalam kamar, dan berpikiran Maudy kabur makannya dia juga turun.


"Om?" Setelah sampai di hadapan om Wisnu Bima menegurnya.


"Bima, apa kamu baik sekarang?"


Bima duduk di samping Maudy, ya ampun bahkan hanya di dalam rumah juga tidak mau jauh.


"Baik om, Minggu depan aku cek up lagi kerumah sakit. Untuk membuka perban di lengan kiri. Kalau sudah bisa kembali normal aku masuk kantor."


"Jangan di paksakan Bim." Bima mengangguk.


"Kalian tidak ada kegiatan kan dirumah? Kita ke resto kamu aja Dy, kita kumpul disana." Maudy menoleh ke arah Bima dan langsung mengangguk setuju.


"Aku menang Bim." Dia berbisik pelan sambil tersenyum mengejek.


"Lihat saja nanti malam."


"Kenapa Bim nanti malam?" Ah ternyata om Wisnu mendengarnya.


"Eh nggak om." Tersenyum kikuk, Maudy tampak menahan tawa.


"Tahan lah sebentar Bim, jangan memaksakan, kamu juga belum pulih."

__ADS_1


Apa? Om Wisnu tau maksud perkataan ku batusan??


--__


__ADS_2