
Lama suasana hening, dan sepertinya Maudy sudah memutuskan untuk pulang sekarang. Dari pada hatinya semakin panas dan ujungnya terbakar. Bahkan Bima juga tidak ada masuk untuk sekedar menegurnya. Dada sudah terasa sesak, mungkin satu tinjuan bisa jadi pelampiasan agar hatinya lega. Tapi siapa yang mau di tinju? Tidak mungkin Bima kan, bisa marah lah orang tuanya.
"Ma, aku pulang ya? Mas, kak Siska?"
"Nggak nunggu Bima Dy?"
Nunggu? Nunggu Bima? Ngapain?
"Nanti bisa pamit kalau keluar ma?" Mama Lisa mengangguk. Maudy bangkit dari duduknya, sebelum keluar ia sempatkan melongok sekali lagi baby Dafa. Mengajaknya berbicara, padahal Dafa juga tidak akan tau dan mengerti.
Maudy membuka pintu ruangan, ternyata sudah ada papanya Bima disana, tengah berbincang dengan Luna. Bima menatapnya tanpa berkedip, tapi Maudy langsung membuang pandangannya. Mau pamit dengan papanya juga malas, bahkan dia juga nggak menoleh walau ada suara pintu terbuka.
Maudy langsung pergi begitu saja, membawa emosinya keluar rumah sakit. Tidak ingin menoleh sedikit pun. Mempercepat langkahnya, semakin cepat sampai di mobil semakin baik pikirnya.
Ha! Bahkan papanya bisa berbincang dengan Luna memberikan senyuman, dan apa? Jadi nggak mau masuk ke ruangan karena ada aku gitu? Ya ampun.
Berbagai praduga masuk kedalam pikirannya, sehingga setir kemudi menjadi pelampiasannya, berkali-kali memukulnya. Maudy menyalakan mesin mobilnya, terlihat Bima berdiri di depan rumah sakit, seperti mencari seseorang. Tidak peduli, Maudy langsung tancap gas meninggalkan rumah sakit.
Tujuannya bukan kerumah, tapi ke cafe Agam. Tak lupa menghubungi Kiki terlebih dahulu, ternyata dia juga disana. Yah, waktunya mengeluh kepada sahabatnya itu.
20 menit sudah sampai, wah berarti beneran tancap gas dong Maudy.
Maudy sudah memasuki cafe, dan melihat sekeliling mencari keberadaan Kiki ataupun Agam. Sampai terlihat seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Sosok yang ia cari.
"Kamu sendiri?" Maudy mengangguk dan langsung duduk.
"Dy, kamu nyanyi dong aku rindu suara kamu." Baru juga satu menit duduk dan belum sempat minum, Kiki sudah berulah.
"Nanti aja, nggak mood."
"Kenapa? Bima lagi?" Diam, mengangguk juga tidak. Apa sih susahnya bilang cemburu Maudy!!
"Kamu mau minum apa?" Tawarnya, Maudy malah melamun. Enaknya jadi Kiki, udah langsung di terima keluarga Agam dengan baik. Hem, berbeda sama aku.
"Hei, kok ngelamun?" Tersadar.
"Iya, aku mau minum yang bisa buat pikiran tenang. Ambilkan aku bir?" Kiki langsung berdiri, ke belakang mengambil apa yang Maudy mau.
"Nih." Menyerahkan sebotol bir bintang. Maudy tidak keberatan, sekali-kali coba, kan nggak buat mabuk, palingan juga sedikit oleng.
"Agam mana?" Setelah meneguk satu gelas bir bintang, matanya menyipit karena sebelumnya memang tak pernah mengkonsumsi minuman ini, tapi saat ini dia rasa tepat untuk di minum.
"Dia lagi pulang kerumah sebentar, ada urusan." Maudy mengangguk, lagi meneguk minumannya.
"Jangan terlalu banyak Dy! Nanti kamu nggak bisa bawa mobil." Sudah mengingatkan, tapi kenapa Kiki malah mau memberi minuman semacam ini?
"Aku tau, kamu pasti bertengkar lagi kan sama Bima?" Kali ini mengangguk, fokusnya sudah berkurang.
"Kenapa sih? Ada masalah apa lagi? Tapi sekarang udah naik ke jenjang yang lebih meyakinkan hubungan kalian."
"Dia bertemu wanita itu." Menyipit kan matanya lagi, sudah habis satu botol dia minum sendiri. Ini cafe, jelas Agam menyediakan berbagai macam minuman, baik bir, vodka juga ada. Jadi tak heran kan?
"Maksud kamu Luna?" Mendengus mendengar namanya. "Jadi ceritanya kamu cemburu?" Maudy mengangguk lagi, ternyata minum ini bisa membuat jujur dalam perasaan.
"Ambil lagi dong Ki?" Kiki menggeleng.
"Nggak, nanti gimana kalau kamu mabuk? Kalau ibu atau ayah kamu tau gimana?"
"Nggak, udah ambil aja. Nanti juga aku bayar." Masih ngotot dengan kemauannya.
"Dy, bukan soal itu tapi-"
__ADS_1
"Sekali ini aja Ki, biar pikiran aku tenang." Memegang kepala dengan kedua tangannya. Pusing, itu yang Maudy rasa saat ini.
Kiki menghela nafas kasar lalu bangkit dari duduknya, kali ini ia kembali membawa satu botol bir lagi dan tak lupa air jeruk nipis. Tau, kalau ini bisa menetralkan orang yang mabuk karena minuman. Kadar alkohol di bir ini memang tidak tinggi, tapi jika seorang seperti Maudy yang belum pernah mengkonsumsi, bisa jadi satu botol saja sudah membuatnya teler.
Maudy langsung menuangkan kembali kedalam gelas, meneguknya hingga habis.
"Apa Bima nggak kasih alasan kenapa dia ketemu Luna?" Lagi-lagi mendengus.
"Jangan sebut namanya!!" Kiki tertawa. Lucu, iya saat ini melihat sahabatnya.
"Iya-iya. Maaf, oke aku ulang ya. Jadi apa Bima nggak kasih alasan sama sekali, kenapa dia tuh ketemu wanita itu?" Maudy menggeleng.
Maudy memegang kepalanya lagi, kali ini benar-benar terasa pusing. Menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam. Menyadari kesalahannya. Kiki juga tidak menyalahkan ini sepenuhnya pada Maudy. Karena ini juga masih wajar kan.
"Satu lagi, Ilham bilang kalau rumahnya dekat kamu, kamu kenal?" Suaranya mulai tidak jelas.
"Nih kamu minum air jeruk ini." Menyodorkan ke arah Maudy. "Iya aku kenal dia. Memang baik sih anaknya, nggak punya pacar juga. Tapi kamu harus jaga jarak lah, jangan mau di ajak pergi. Kamu tau kan kalau Bima itu gimana?" Maudy kembali menuangkan ke gelas miliknya, ini terakhir, dua botol sudah kosong.
Maudy memejamkan matanya, menyadarkan tubuhnya pada kursi cafe milik Agam.
"Sayang, aku lama ya?" Agam sudah kembali.
"Loh, Maudy juga disini? Eh ini siapa yang minum?" Pandangannya fokus menatap dua botol bir yang sudah kosong.
"Kamu?" Menunjuk Kiki, tapi Kiki langsung menggeleng.
"Maudy?" Kiki mengangguk.
"Kenapa di kasih!" Terdengar suara Agam yang membentak Kiki. Maudy perlahan membuka matanya secara paksa.
"Aku yang minta gam. Jangan salahin Kiki." Masih sadar dia ternyata. Di keramaian cafe juga masih bisa mendengar Agam berbicara.
"Dia betengkar sama Bima sayang." Alasan yang Kiki berikan mampu membuat Agam menoleh ke arahnya.
"Kalau sudah begini gimana? Dia nggak mungkin pulang sendiri kan?" Kiki terdiam. "Kalau kita antar, pasti orang tuanya akan bertanya, masalah malah makin rumit."
Bima, ya aku harus telepon Bima!
"Sebentar, aku kesana dulu." Kiki berjalan keluar cafe, tapi nihil. Ponselnya memang tidak aktif. Dan Kiki mengirimi banyak pesan, kalau aktif pasti bakal di baca, pikirnya.
Baru saja hendak melangkah masuk ke dalam, Kiki lebih di kejutkan dengan masuknya mobil Bima ke area cafe.
Nggak salah lagi, itu mobil Bima.
Kiki gegas menghampiri mobil Bima. Sebelum yang punya turun Kiki sudah mengetuk kaca mobil berkali-kali.
"Kenapa Ki? Maudy disini kan?" Kiki mengangguk.
"Ayo, dia di dalam. Aku udah hubungin nomor kamu berkali-kali, tapi nggak aktif, ponsel kamu lowbet atau gimana?" Panik, tapi masih bisa menutupinya. Kalau Bima tau pasti ini kedua kalinya dia yang di salahkan, setelah Agam memarahinya tadi.
"Emangnya ada apa?" Berjalan melangkah masuk ke cafe. Bima terus mengikuti kemana langkah Kiki berjalan, hingga sampai di sebuah meja. Wajah Agam sudah panik.
"Dia udah nggak sadar." Ucapnya lemah.
"Apa? Maudy kenapa?" Panik, urat lehernya sampai terlihat karena berbicara sangat keras. Untung musik tengah mengalun, jadi tak ada pengunjung lain yang menaruh curiga. Terlebih tempat mereka sekarang jauh dari pengunjung lain.
"Ini apa?" Mengangkat dua botol bir di hadapan wajah Kiki dan Agam. Bima menatap mereka secara bergantian, meminta penjelasan.
"Dia mabuk?" Bertanya lagi, Kiki mengangguk. Agam cuma diam dan duduk, dia juga tidak tau menahu awalnya.
"****!!" Umpatnya.
__ADS_1
"Ki, bantu aku bawa dia ke mobil." Kiki langsung memapah Maudy. Terdengar dia bergumam dan meracau nggak jelas.
Dia pingsan, atau apasih?
Sampai di mobil Bima.
"Bim, kamu mau antar dia kemana? Pulang? Jangan Bim, nanti kalau ibu atau ayahnya tau gimana!!" Kiki panik, dia juga sumber dari ini, memancing Maudy untuk meminum.
"Aku tau harus bawa dia kemana? Aku titip mobil Maudy, besok biar di ambil." Kiki mengangguk, dan berdiri sampai mobil Bima sudah memasuki jalan raya.
"Hallo, bu. Ini Bima, Maudy nginep malam ini, dia temani mama jaga kakak ipar di rumah sakit. Nggak apa kan bu? Soalnya mama sendiri, mas Rio pulang ke rumah malam ini." Ah ternyata Bima menghubungi calon mertuanya, tapi kemana Bima bawa Maudy saat ini?
"Iya bu, ya udah aku tutup ya." Bima langsung melempar ponselnya ke arah depan mobil. Persetan, rusak beli lagi.
Mobil sudah sampai di sebuah hotel. Hotel lagi?? Bima langsung turun dan meninggalkan Maudy dulu di dalam mobil. Memesan kamar hotel, dan mengangkat Maudy secara perlahan, memapahnya hingga ke dalam kamar hotel.
Bima dengan sabar membuka pansus yang masih menempel di kakinya. Menyibakkan rambut yang menutupi wajah Maudy. Menatapnya dan sepertinya Maudy saat ini benar-benar pulas. Tidur atau pingsan? Entahlah tunggu saja sampai dia sadar kembali.
Maaf, kamu pasti seperti ini karena melihat ku tadi kan? Sakit kan rasanya? Begitu yang aku rasakan, tapi kenapa sampai seperti ini? Dulu waktu mendengar aku bertunangan dengan Luna kamu masih tegar kan?
Mengelus puncak kepala Maudy dengan lembut.
Bima membuka pakaian miliknya, ia bertelanjang dada dan hanya menggunakan boxer. Berdiri di depan kaca jendela kamar hotel, menatap ke arah lampu-lampu kota yang tampak terlihat kecil dari atas sini.
"Aku akan menikahi mu secepat mungkin!" Tekad Bima di waktu larut ini. Sepertinya memang sudah saatnya, tapi apa Maudy mau? Bukan kah dia juga bilang kalau harus sukses dulu dalam membangun usahanya?
***
Pukul 5 pagi. Maudy menggeliat, menguap dengan sesukanya, memeluk guling. Tapi sepertinya ia tersadar, kenapa guling mempunyai bentuk seperti ini? Matanya mengerjab berulang kali, melihat dan merasakan hembusan nafas orang tengah tertidur dengan posisi Maudy lah yang memeluknya.
Belum, Maudy masih menganggap ini mimpi. Terpejam lagi, tapi dia mengingat semalam dimana!
"Bima?" Lirih, dan langsung duduk. Memegang kepalanya yang masih menyisakan pusing di dalamnya.
"Kenapa aku bisa disini?" Berbicara sendiri, frustasi mengacak rambutnya. Melihat semua pakaian masih menempel sempurna di tubuhnya. Berarti aman, Bima tidak berbuat macam-macam.
Tapi kenapa aku bisa disini??
Ingin membangunkan tapi ragu. Maudy langsung masuk ke dalam kamar mandi, mencuci wajahnya. Dan langsung berkaca di dalam kamar mandi hotel.
Ia hampir menjerit, melihat sekeliling lehernya ada beberapa tanda kismark! Maudy mengambil handuk hotel, mengelap wajahnya dengan kasar. Tapi mau keluar kamar mandi masih ia urungkan.
Gimana ini? Kalau terlihat ibu bagaimana? Bahkan rambutku sekarang tidak sepanjang dulu!!
Lama Maudy di dalam kamar mandi. Setelah memutuskan keluar, ternyata Bima sudah bangun dan berdiri menatap ke keluar jendela hotel, dengan posisi yang saat ini memunggunginya. Maudy langsung berjalan, mendekat. Dan ketika Bima menoleh ke arahnya, PLAK!! Satu tamparan mendarat di pipi kiri Bima.
"Lagi." Ucapnya. Maudy menambah dengan menampar pipi kanan Bima. Lengkap kan? Itu Bima yang minta kan.
"Lagi, sampai kamu puas!" Maudy sudah mengepalkan tangannya.
"Breng sek. Kamu ambil kesempatan dalam kesempitan iya? Ha? Kenapa kamu nggak ajak wanita itu ngamar? Lampiaskan naf su kamu sama dia!!!" Emosi yang tak terkendali di pagi hari. Bima masih tetap diam.
"Aku benci kalian!!" Teriak frustasi dan melangkah, menyambar tas selempang miliknya langsung berjalan ke arah pintu. Maudy memegang handle pintu, sepertinya ini di kunci. Pandangannya mengarah ke sekeliling kamar hotel, menyisir setiap meja dan sudut, dimana letak kuncinya!
"Ambil di kantung celana aku!" Maudy langsung bergegas, memeriksa setiap kantung celana milik Bima. Dan, Maudy sudah menemukannya. Secepat mungkin berjalan ke arah pintu, Bima hanya diam menatap, tidak mencegah atau apa.
"Pulang lah, hati-hati di jalan, semoga alasan yang kamu berikan sama ibu sama dengan alasanku semalam." Deg.
"Mobil ayah ada di cafe Agam." Deg. Melemas, perlahan tubuhnya terduduk di lantai.
--__
__ADS_1