
Mama Lisa, dia selaku mama mertua juga sibuk di hari ini, menyiapkan beberapa cake, membuatnya dengan tangan sendiri. Di bantu juga oleh Siska, soal makanan memang di catering. Tapi cemilan, dia mau membuatnya sendiri. Ah seperti orang yang ngidam saja. Walau sudah berkali-kali di larang oleh suami, tapi tetap kekeuh maunya buat cake sendiri.
"Siap jam berapa ma? Tuh udah di bilang nggak usah buat ngeyel sih." Mengambil satu cake yang sudah matang dan berjalan gontai dengan wajah tak berdosa.
"Pa, kalau mau makan yang disana pa." Mama Lisa menunjuk ke arah meja lain.
"Kan sama ma."
"Beda lah pa, ini untuk tamu nantinya, kalau yang itu yang gagal." Fokus lagi dengan cake buatannya. Hingga adonan terakhir, heh mama Lisa menghela nafas lega.
"Bi, oh bi. Tolong nanti ini di panggang ya, waktunya udah di atur. Saya mau siap-siap dulu, mau mandi."
"Udah ma?" Siska datang kembali setelah memberi ASI anaknya.
"Sudah, ayo kita siap-siap aja. Biar nanti bibi yang siapkan. Jangan sampai telat datang." Mama Lisa segera masuk ke kamarnya.
Hari ini, adalah hari dimana tepat usia kandungan Maudy tujuh bulan. Sudah biasa jika di adakan syukuran dirumah. Seperti menjadi tradisi turun-temurun di keluarga mereka. Dan, untuk tuan rumah sendiri nantinya tidak perlu lagi menyiapkan makanan apapun, semua sudah di atur oleh mama Lisa. Maudy tinggal duduk dan menunggu semuanya datang. Sungguh mama Lisa adalah mertua idaman.
Satu jam kemudian.
"Ma, papa pakai baju yang ini?" Menunjukkan baju yang sudah tersedia di atas tempat tidur.
"Iya pa. Kenapa?"
"Kayak nggak cocok kalau papa yang pakai. Terlalu muda ma. Yang lain aja ya?" Protes dengan alasan yang tepat. Mama Lisa menghela nafas.
"Itu Rio yang beli pa, semua juga sama. Nanti mereka juga pakai baju yang sama, termasuk ayahnya Maudy juga pa."
"Papa yakin kalau ayahnya Maudy juga akan protes." Melihat lagi baju yang di angkat, memandangnya dari sudut manapun. Memang terlihat ini pakaian anak muda.
"Jadi papa mau pakai apa?" Mama Lisa sudah selesai dengan urusan berdandan. "Mau pakai batik yang biasa papa pakai?" Malah diam. "Sudah pakai ini aja pa, kan nggak masalah sekali-sekali terlihat memakai pakaian yang santai. Malah terlihat awet muda pa." Mau tidak mau juga menuruti kemauan istrinya.
Kaus berwarna biru muda dengan panjang setengah lengan, pantas saja papa Adi mengatakan kalau ini tidak cocok dia yang memakainya.
"Sudah ma." Mama Lisa mendekat, melihatnya lalu tersenyum.
"Papa beneran seperti anak muda." Papa Adi bercermin untuk melihat penampilannya hari ini.
"Ma, harusnya memakai batik kan malah lebih rapi. Kita juga bakal kedatangan tamu ma." Ternyata dia juga masih protes.
"Iya pa, mama tau. Tapi ini kemauan Rio juga pa, dia bilang sekali-kali kan nggak masalah. Meski juga akan ada tamu yang datang. Malah mereka nantinya melihat keluarga kita lebih nyaman."
"Ya udah kita berangkat sekarang ma." Mama Lisa keluar kamar dengan suaminya. Ternyata Rio juga sudah selesai dan menunggu di ruang tamu.
"Siska, apa bibi sudah selesai menata cake nya?"
"Sudah ma. Itu juga sudah di bawa ke depan." Mama Lisa mengangguk.
"Kita berangkat satu mobil aja, biar Rio yang nyetir. Supir biar bawa makanan pakai mobil lain." Nah kali ini semuanya mama Lisa yang mengatur, suaminya bahkan tidak di beri kesempatan untuk ikut andil.
"Ma, perlengkapan bayinya gimana?" Sebelum melangkah keluar pintu Siska bertanya.
"Iya, bisa di masukkan ke bagasi mobil kan? Cukup lah."
"Pak, nanti tolong perlengkapan bayi yang ada di ruang tamu di bawa, semuanya ya pak. Kalau tidak muat suruh saja mang Sugi membawanya dengan mobil lain."
"Iya baik Nya."
***
Sesampainya di halaman rumah milik anaknya, tampak ibu Irma sudah berdiri menyambut, dengan memakai pakaian yang sama juga dengannya. Tersenyum dan mendekat ke arah mobil.
"Kami nggak terlambat kan mbak?" Turun dari mobilnya.
"Nggak kok mbak." Mengalihkan pandangannya ke arah besan lelakinya lalu tersenyum.
"Ayo mbak, kita langsung masuk aja." Mereka berjalan beriringan, memasuki rumah anaknya yang memang sudah di sulap sedemikian rupa. Guna menyambut tamu yang sengaja di undang hari ini. Makan gratis dan ikut mendoakan Maudy tentunya.
"Mama?" Maudy berjalan mendekat. Menyalin tangan dengan sopan.
"Papa?" Dia juga melakukan hal yang sama.
"Hallo Dafa, uh onty kangen sayang?" Maudy sudah mengulurkan tangannya, siap untuk menggendong Dafa.
"Eh Dy, nggak. Jangan, kamu nggak boleh angkat beban terlalu berat sayang." Segitu posesif mertuanya, sama dengan anaknya sepertinya.
"Usia kandungan kamu sekarang sudah memasuki kehamilan tua, jadi untuk menggendong anak pun sudah tidak boleh nak." Maudy menatap ke arah ibunya. Dan ibu Irma mengangguk lalu tersenyum.
Suasana mulai ramai, kerabat terdekat sudah banyak yang berdatangan. Baik itu dari pihak Bima ataupun Maudy. Maudy sangat berharap hari ini omnya bisa datang, tapi mau gimana dia juga sedang menunggu istrinya yang baru selesai melahirkan.
Rumahnya yang besar masih cukup menampung ratusan tamu yang hadir. Dan di setiap sudut sudah berhias dekor yang di siapkan oleh ART dirumahnya, ternyata mereka juga mempunyai bakat itu meskipun berasal dari kampung. Tidak lagi repot menyewa WO.
Dan juga ada dua orang yang ikut mengurus disini, yakni Revan dan Kiki. Mereka sejak pagi sudah berada disini, entah apa yang di tugaskan Bima untuk Revan, tetapi Kiki dia sempat membantu ART untuk menghias meja untuk meletakkan makanan.
"Ki? Kamu lihat Revan nggak?" Kiki menggeleng. Sejauh ini hubungan mereka juga baik, Kiki juga menceritakan kisah cintanya yang kandas, dan Revan selalu memberi dia masukkan dan motivasi untuk kembali semangat menjalani kehidupannya.
"Mungin di belakang Bim. Soalnya tadi aku lihat dia berjalan kesana setelah menerima telepon." Terangnya. Kini Kiki sudah bisa duduk santai dengan mendampingi sahabatnya. Duduk di antara kursi yang sudah mereka siapkan.
***
Semua kerabat sudah hadir, termasuk juga staf penting di kantor Bima. Bima dan Maudy sudah duduk di kursi khusus untuk mereka. Semua menunduk ketika doa di mulai, doa untuk kelancaran kelahiran Maudy nantinya. Keadaan semakin hikmat dan mereka serentak mengucapakan amin. Seorang ahli Agama yang memimpin doa.
Hingga doa berkahir, Maudy mendongak. Lalu menoleh lagi ke arah Bima. Dia tersenyum dan Bima membalasnya. Lalu mengusap lembut pipi istrinya.
"Nggak kebayang kalau aku ada di posisi Maudy sekarang, seperti apa ya rasanya." Entah menunjukkan kata itu untuk siapa, yang pasti Revan yang tengah duduk di sampingnya saat ini bisa mendengar dengan jelas.
__ADS_1
"Tapi kamu juga bakal ngerasain hal itu." Kiki menoleh dan tersenyum.
"Semoga aja Tuhan kasih jodoh aku yang baik." Tapi matanya menatap ke arah Revan.
"Amin."
"Ki? Mama sama papa nggak bisa lama-lama, soalnya papa harus berangkat siang ini." Mamanya menepuk pundaknya, karena duduk tepat di belakang Kiki dan juga Revan.
"Mama mau pulang sekarang?" Kiki memutar posisi duduknya.
"Iya, nggak apa-apa kan? Mama juga usah bilang sama ibunya Maudy." Hem, Kiki menghela nafas. Seperti tak rela di tinggal pulang.
"Kamu bawa mobil kan?" Kiki menggelengkan kepalanya.
"Tadi pagi mobil aku masukkan bengkel ma. Tapi papa yang suruh." Mamanya menoleh ke arah papanya.
"Iya ma."
"Ya sudah, nanti kamu pulang di jemput supir aja ya? Kamu telepon mama aja nanti." Kiki mengangguk.
"Mama duluan ya?" Kiki mencium pipi mamanya. Dan papanya juga ikut mendekat mengelus puncak kepala anaknya.
"Papa hati-hati ya?"
"Iya sayang."
"Mama sama papa duluan ya Ki." Kiki mengangguk. "Revan, titip Kiki ya?" Revan mengangguk dan tersenyum.
Lah kenapa titip aku? Memangnya kenapa sih, kenapa harus Revan.
Selama bekerja, Kiki sudah tiga kali di antar pulang kerumah oleh Revan, dan tentunya juga pernah mampir dan sempat berkenalan dengan mamanya Kiki. Mamanya juga sempat mengatakan setuju kalau Kiki pacaran dengan Revan. Jelas Kiki langsung menolak dan hanya mengatakan bahwa itu temannya.
"Ma? Revan itu siapa? Kenapa mama harus bilang titip Kiki sama dia?" Sudah berada di dalam mobilnya.
"Dia itu asisten pribadinya Bima pa. Kalau mama lihat anaknya baik. Dia juga anak tertua, kata Kiki sih mamanya Revan itu sakit pa."
"Dulu juga Agam mama bilang baik, taunya apa ma. Malah nyakitin hati Kiki." Mamanya terdiam.
Hati orang tua juga akan ikut sakit melihat putrinya di sakiti. Papanya bahkan sampai kembali mengingat dimana pertemuan malam itu yang membahas soal pertunangan anaknya, dan beberapa hari kemudian malah membawa kabar duka yang siapapun tak ingin mendengar ataupun merasakannya.
"Semenjak Kiki bekerja dia lebih sering senyum pa, nggak semurung biasanya." Mamanya berujar lagi.
"Iya ma. Tapi jangan paksakan Kiki untuk memulai hubungan lagi dengan siapapun. Biarkan dia memilih sendiri."
"Iya pa. Mama juga berpikir begitu."
***
"Kak Sun? Ya ampun, tambah cantik." Maudy memuji ketika Sundari mengucapkan selamat atas syukuran hari ini. Dan juga mendoakan Maudy agar kelahirannya di lancarkan.
"Kakak juga sudah hamil ya?" Sundari mengangguk, tersenyum dan menoleh ke samping dimana Ilham berdiri.
Tapi karena kehamilan Sundari baru berusia beberapa Minggu, jelas perutnya masih rata.
"Kami mau pulang Dy. Ini, ada kado buat calon baby kamu." Menyerahkan papar bag.
"Repot-repot, ya ampun. Kalian udah makan kan?"
"Udah kok Dy."
"Kami pamit ya Dy, Bim." Ilham membuka suara. Begitu juga dengan Sundari, dia pamit kepada mantan bosnya.
Kalau saja waktu itu aku tak menjodohkan Sundari, pasti dia masih bekerja karena statusnya belum menikah.
Acara selesai di sore hari, semua sudah sepi. Hanya tinggal keluarga inti, yakni keluarga Maudy dan Bima. Dan para ART mulai sibuk membersihkan ruangan, Revan juga ikut membantu mengangkat kursi keluar rumah. Kiki, dia duduk di samping Maudy. Lelah, dia sudah lelah. Satu harian tenaganya juga tersalurkan disini.
"Dy, aku jadi ingat pertama kali kita masuk sekolah ke SMA." Maudy menoleh.
"Di bagian mana?" Maudy bertanya, karena semua menurutnya adalah kenangan indah.
"Waktu Bima negur kamu berpura-pura tanya dimana ada toilet." Maudy langsung tertawa. Dia menoleh ke arah Kiki dan tertawa lagi.
"Kamu masih ingat? Aku saja sudah lupa Ki."
"Ingat lah Dy, lucu tau nggak. Kadang kalau di pikir juga masih nggak nyangka aja, kalian beneran jodoh." Maudy menghentikan tawanya.
"Iya Ki. Aku juga gitu sebenarnya. Tapi ini memang yang dinamakan takdir. Kayak kamu, buktinya kamu bisa pisah sama Agam walaupun sudah di tentukan hari pertunangan kalian. Semua itu takdir." Kiki menunduk.
"Hei, kalau kamu benar-benar udah lupa sama Agam, kamu pasti nggak akan keberatan kalau mendengar namanya kan."
"Iya cuma kan."
"Kenapa? Kamu masih sayang?" Kiki menggeleng.
"Dia tuh baik Dy sama aku. Cuma memang perubahannya terlihat terkahir sebelum kejadian itu. Agam maksa aku buat lakukan hal itu, jelas aku takut hamil Dy. Agam terus maksa, aku juga heran, dari pertama pacaran dia nggak pernah bahas soal itu, hal yang sangat menjijikan menurutku." Kiki menghela nafas. "Tapi, setelah kejadian itu aku tau. Agam sebenarnya sengaja mau ngehamilin aku supaya dia nggak pisah sama aku. Dan mempunyai alasan untuk menolak di mintai tanggungjawab dari pihak perempuan lain."
"Mau bagaimana pun cara dia salah. Dan untungnya kamu nggak mau."
"Ki, kamu mau pulang atau tidak?" Kiki dan Maudy menoleh.
"Iya, aku belum telepon mama aku." Langsung mengeluarkan ponselnya.
"Eh nggak usah Ki, kamu pulang bareng aku aja. Lagian juga kita satu arah." Maudy menyenggol lengan Kiki dan tersenyum.
"Apa sih Dy." Tau kalau Maudy menggodanya.
__ADS_1
"Gimana?" Revan masih setia berdiri di samping Kiki.
"Iya deh, tapi nggak apa-apa kan?"
"Nggak."
"Kamu mau pulang sekarang emangnya?" Revan melihat jam di tangannya.
"Sebentar lagi sih, aku juga masih ada urusan sama pak Bima."
"Ya sudah, nanti kalau mau pulang kamu panggil aja aku ya." Revan mengangguk dan berjalan ke arah ruangan kerja Bima.
***
"Mbak, ini apa?" Melihat begitu banyak perlengkapan bayi.
"Ini semua kelengkapan bayi untuk anaknya Maudy nanti. Dia belum tau tuh kalau aku udah beli mbak." Kedua orang tua ini lebih memilih berbincang di dalam kamar tamu. Dan membawa seluruh perlengkapan bayi ke dalam sana. Maudy memang belum mengetahui hal ini, karena dia juga sibuk sedari tadi. Bahkan memang mama Lisa tidak memberi taunya.
"Ya ampun, aku jadi nggak kebagian ya mbak. Mau balikan apa lagi kalau semuanya sudah lengkap." Menatap satu persatu barang, mulai dari box bayi, lalu popok yang berbagai macam warna, baju bayi, semua sudah lengkap. Maudy tidak perlu lagi membeli apapun.
"Mbak, kalau mbak nggak perlu membelikan apapun. Karena yang Maudy butuhkan nanti hanya ada mbak yang membantunya ketika dia melahirkan." Ibu Irma tersenyum.
"Semoga kita sekeluarga sehat selalu ya mbak." Mereka berpelukan, kayaknya seorang ibu yang saling memberi semangat.
***
"Kita mampir bentar ke apotek di depan ya? Aku mau ambil obat mama aku. Soalnya tadi sudah di beri kabar kalau obatnya sudah ada." Kiki mengangguk.
"Iya, nanti aku tunggu di dalam mobil aja ya?"
"Iya nggak masalah."
Dan mobil berhenti tepat di depan apotek, Revan turun dan langsung masuk ke dalam. Kiki melihatnya dari dalam mobil, dan ada seseorang yang dia lihat dengan bola matanya, sepertinya tidak asing, batinnya.
Karena tidak puas, Kiki membuka sedikit kaca mobil.
Benar itu dia. Katanya tinggal di luar negeri. Dasar, keluarga sama anaknya sama saja, pembohong.
Meski mengucapakan benci, tapi Kiki terus saja melihatnya. Dan detik berikutnya Kiki di buat tercengang, Revan dan Agam saling bicara.
Mereka kenal??
Beberapa menit kemudian, Revan kembali masuk ke mobil dengan membawa obat yang katanya untuk mamanya. Kiki diam, walaupun sedari tadi dia sudah berniat akan bertanya.
"Ki? Kenapa? Aku lama ya?"
"Eh nggak." Kiki menoleh sekilas dan tersenyum kecut.
"Kamu kenal dia?" Setelah mobil melaju Kiki bertanya.
"Siapa?" Revan bertanya balik dan menoleh ke arah Kiki.
"Tadi yang laki-laki yang bicara sama kamu di apotek."
"Oh dia, iya kenal." Deg. Kiki diam tidak bertanya lagi. Hingga sampai di depan gerbang rumahnya, Kiki hanya diam dan pamit untuk turun.
"Tunggu." Revan menarik tangan Kiki sebelum turun dari mobil. "Kenapa kamu jadi diam semenjak kita mampir ke apotek?"
"Nggak. Nggak ada apa-apa kok, aku cuma lelah aja." Revan menggeleng pelan.
"Katakan lah Ki, kenapa kamu tanya aku kenal atau tidak dengan laki-laki yang aku ajak bicara tadi? Pasti ada hubungannya sama kamu kan? Dan kamu juga pasti mengenalnya." Revan masih terus berusaha meminta Kiki untuk membuka mulut. Dengan mengunci mobilnya agar Kiki tidak keluar.
"Iya."
"Katakanlah, siapa dia? Kenapa kamu jadi murung begini. Aku siap mendengarnya." Kiki menghela nafas, membuangnya dengan kasar. Menoleh ke arah kaca mobil yang hanya menampakkan pagar tinggi rumahnya.
"Dia orang itu, laki-laki yang udah buat aku kehilangan semangat hidup." Revan langsung memegang kedua bahu Kiki, memaksa Kiki menatap matanya.
"Kamu serius?" Kiki mengangguk.
"Aku kenal dia udah lama, dia adik kelas aku. Aku juga sering ikut kumpul sebelum masuk ke perusahaan pak Bima. Tapi aku tau kalau dia memang breng sek." Revan menjeda sebentar kalimatnya. "Siapapun wanita yang pacaran dengannya, pasti akan dia ajak tidur." Kalimatnya melemah di akhir. Kiki tau maksudnya sekarang, pasti Revan mengira kalau dia juga pernah melakukan itu dengan Agam.
"Ki?"
"Aku nggak pernah melakukan hal menjijikan itu! Jangan pernah menuduhku Revan. Aku berani bersumpah!" Kiki mengucap dengan penuh keyakinan.
"Aku hanya heran, orang tuanya bilang kalau Agam akan tinggal di luar negeri. Dan tidak akan pernah lagi di terima jika Agam pulang kerumah. Tapi nyatanya, dia sekarang disini." Revan terdiam.
"Kamu mau tau nggak? Tadi aku sama dia ngomongin apa?" Kiki menoleh lagi. Menunggu Revan menjelaskan, dengan berat hati dia mengangguk.
"Dia bilang kalau dia sudah berpisah dengan istrinya, dan dia tadi ke apotek untuk membeli obat mamanya. Aku tau kalau dia sudah menikah, makannya tadi aku tanya mana istrimu. Barulah dia mengatakan hal itu." Kiki menunduk.
Kenapa aku bisa nggak tau.
"Kenapa Ki? Apa kamu ada niatan untuk balik sama Agam?"
"Itu mustahil, keluarga aku juga nggak akan nerima dia."
"Tapi yang terpenting kamu masih mau kan?" Kiki diam.
"Revan, aku turun sekarang ya? Hari hampir gelap, aku takut mama aku khawatir karena belum memberi kabar." Lebih memilih kabur dari situasi yang tidak nyaman. Revan mengangguk lalu membuka pintu yang dia kunci dari dalam.
"Makasih ya Van. Kamu hati-hati." Revan hanya mengangguk dan langsung melajukan mobilnya dengan kecang.
--_
__ADS_1