Dia Bimaku

Dia Bimaku
Menjadi remaja sesungguhnya


__ADS_3

Keluarga bapak Adi tengah makan dengan hikmat di meja makan. Hanya ada suara dentingan sendok. Memang itu yang akan terjadi setiap keluarga mereka sedang mengisi perutnya.


"Pa." Panggilnya pelan.


"Bima!" Papanya langsung menegur dengan suara dingin. Ia paling tidak suka ada yang berbicara sewaktu makan.


Ya ampun bagaimana aku bisa lupa.


Kembali hening, mamanya hanya melirik Bima. Ia juga heran kenapa Bima bisa lupa peraturan yang satu itu, padahal sudah bertahun-tahun. Pasti ada yang mau Bima bicarakan seirus, batin mamanya.


Papanya mulai mengelap mulut dengan tissue tanda kalau ia juga sudah selesai makan. Dengan cepat Bima meneguk segelas air putih, sebelum papanya beranjak ia akan berbicara.


"Pa, jam 8 malam nanti ada acara di sekolah, semua siswa harus datang pa. Aku boleh pergi kan pa bawa mobil." Entah keberanian dari mana Bima berani meminta ijin langsung, karena biasanya hanya mengandalkan mamanya.


"Acara apa?" Dengan suara dinginnya.


"Pentas seni pa. Kalau tidak hadir nilainya bisa minus. Boleh kan pa?" Dengan mode lembut. Mamanya tidak ingin mencela, karena Bima berani bicara sendiri itu sudah termasuk hal yang mustahil, tetapi malam ini memang terjadi.


"Kamu mau bawa mobil?"


Menatap anaknya. Berbeda, kali ini ia menatap Bima lembut.


"Ah, di antar supir juga nggak apa kok pa."


"Supir udah pulang semua Bima. Ya udah kamu bawa mobil, tapi langsung pulang ketika acara selesai. Tidak boleh lewat jam 11 malam." Bangkit dari duduknya dan menuju ruang kerjanya.


Mimpi apa Bima semalam kok bisa segitu mudahnya di kasih ijin sama papa. Batin Rio.


Ya ampun, papa kasih ijin aku. Bima mengambil buah dan memakannya sambil terus tersenyum.


Ini keuntungan Bima, hanya satu. Harus mengatas namakan sekolah, pelajaran. Karena papanya tidak pernah repot-repot menelepon pihak sekolah untuk menanyakan benar atau tidaknya ada acara di sekolah. Karena bagi papanya pekerjaan saat ini lebih penting.


"Cie yang di kasih keluar malam, apa benar ada pentas seni malam-malam di sekolah? Yang ada pentas buat biduan tuh." Sambil terus menaiki tangga.


"Mas, udah diem. Sekali-sekali bohong nggak apa kan mas?"


"Kasih tau papa ah!" Berpura-pura akan kembali turun.


"Bilang, aku palingan di usir lagi, terus nanti mama sakit lagi, terus nanti mas sendiri yang repot, terus ujung-ujungnya nyalahin lagi. Terus-"


"Udah diem!" Kembali melangkah menuju kamarnya. Bima tergelak melihat wajah Rio yang berubah kesal.


"Mas, udah tampan belum?" Masuk tanpa permisi dan memamerkan gayanya yang sudah totalitas. Memakai celana Jeans panjang, kemeja kotak-kotak, dan rambut sudah tertata rapi.


"Udah. Kamu mau jalan ya sama Maudy?" Bertanya dan mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Enggak jalan kok, cuma mau main ke rumah nya aja. Kenapa mas?"


Rio malah tertawa.


"Kenapa sih mas?" Masih penasaran karena Rio masih tergelak dan menutup wajahnya dengan bantal.


"Nggak apa, ya udah sana pergi sebelum mas berubah pikiran terus ngasih tau ke papa."


Bima berjalan keluar dan menutup pintu dengan kencang. Mungkin ia sewot karena tidak di komentari tapi malah di tertawakan.


Bima, Bima. Nampak sekali kalau tidak pernah datang ke rumah pacarnya. Style nya itu loh haha.


Masih saja Rio tergelak.


Ya wajar juga sih, ini pertama kalinya Bima datang, kalau anak remaja bilang sih ngapel. Jadi tidak bisa menyesuaikan style nya. Karena baginya berjumpa dengan kekasih harus tetap terlihat tampan.


***


"Dy ada yang ngetuk pintu rumah tuh kayaknya, coba liat sana. Siapa tau tetangga kamu gitu datang nganter makanan." Berharap, iya karena tanpa cemilan pasti bakal anyep.


Saat ini Maudy hanya menggunakan hot pant dan kaus saja. Ia bahkan lupa tak memakai pakaian yang pantas lebih dulu, langsung saja keluar dan membuka pintu.


"Sebentar, siapa ya?" Seseorang di luar diam tidak menjawab.


Ceklek. Suara pintu terbuka.


"Bima?" Menutup mulutnya sendiri.


"Bima kamu beneran datang?" Bima tersenyum. Maudy langsung menarik lengan Bima untuk segera masuk dan di persilahkan duduk di sofa.


"Kamu senang ya aku datang?" Terlihat memang wajah Maudy sangat gembira menyambut Bima datang.


Maudy mengangguk.

__ADS_1


"Sangking senangnya kamu juga cuma pakai hot pant." Menatap wajah Maudy tanpa berkedip. Maudy pun langsung melihat ke bawah.


"Ya ampun, aku lupa Bim. Sebentar aku ganti dulu."


Terlambat, Bima menariknya dan tidak memperbolehkan Maudy pergi.


"Bima!"


"Sayang! Kalau tadi orang lain yang datang gimana? Berarti kamu kalau ada tamu yang datang, selalu begini ya?" Menunjuk paha mulus milik Maudy.


"Nggak lah sayang ku, ini tadi tuh karena buru-buru. Kan kamu ketuk pintunya berulang-ulang."


"Tapi aku senang kok lihatnya." Tersenyum dengan manjanya.


"Bima mesum!" Menjauh dari Bima.


Lama sudah mereka duduk berbincang dan tertawa cekikikan. Dan Bima melarang Maudy untuk mengganti celananya, ia juga berjanji tidak akan berlebihan. Tapi, mereka melupakan makhluk yang ada di dalam kamar. Kiki keluar dari kamar dan berjalan mencari Maudy. Sudah hampir setengah jam tidak kembali lagi ke kamar.


Apa jangan-jangan Maudy di culik? Dan yang datang tadi memang penculik?


Terus berjalan dan menutup pintu tanpa suara.


"Ya ampun!!! Kalian ya!" Melihat Bima dan Maudy di sofa, dengan Bima yang tidur di pangkuan Maudy.


"Ah ganggu." Jawab Bima santai.


"Kamu kenapa bisa disini Bim? Nanti papa kamu nyariin." Ikut duduk di sofa.


Tapi Bima langsung menutup matanya rapat-rapat. Lah kenapa? Iya ternyata Kiki juga menggunakan hot pant dan kaus ketat.


"Ki, kamu kok pakai begitu sih keluar kamar?" Protesnya dan masih menutup matanya dengan dua tangan.


"Lah emangnya kenapa, itu Maudy juga pakai. Kamu biasa aja, kenapa giliran aku kamu tutup mata?" Masih duduk dengan santainya.


"Kalau Maudy ya aku liat nggak apa. Tapi kalau liat kamu aku nggak mau. Karena mataku hanya boleh menatap Maudy."


"Ih rese! Udah ah aku ke kamar aja. Kalian pacaran aja disini, jangan yang aneh-aneh ya!" Mengingat kan mereka dan kembali masuk ke kamar.


"Sayang, apa Kiki beneran udah pergi?" Mengintip di balik sela jari tangannya.


"Kamu kok tertawa sih sayang?" Maudy tergelak, ia tidak tahan lagi.


"Jadi maksud kamu, aku harus lihat perempuan lain dengan keadaan seperti itu, nggak masalah gitu?" Suaranya berubah dingin.


"Ya nggak boleh lah!"


"Nah tu kamu tau, jadi kenapa aku harus lihat Kiki? Aku cukup lihat kamu aja, jadi dosanya nggak banyak." Memejamkan matanya, terasa nyaman tidur di pangkuan Maudy.


Maudy menanyakan, bagaimana Bima keluar, bagaimana caranya meminta ijin, dan apa papanya nggak marah. Bima menceritakan dengan santainya dan sesekali tertawa. Karena sebenarnya waktu meminta ijin jantungnya sudah berdegup tidak karuan.


"Sayang cium." Setelah cukup lama terdiam, Bima mulai meminta yang aneh-aneh.


"Nggak ah." Sambil memainkan ponsel milik Bima.


"Sayang." Menunjuk keningnya. Dengan malas Maudy mengecupnya.


"Wih enak." Tergelak setelah mendapatkan kecupan.


"Sayang, lagi." Menunjuk pipi kanannya.


Dan Maudy masih menurut.


"Ini." Menunjuk pipi kirinya.


Maudy masih diam belum melaksanakan perintah kekasihnya ini.


"Sayang ah." Kembali dengan suara manjanya. Dan Maudy menurutinya.


"Sayang." Dan lagi.


"Apa lagi Bima!" Mengalihkan pandangan dari ponsel dan menatap Bima dengan kesal. Karena game yang ia mainkan tidak tamat sebab Bima selalu mengganggunya.


"Sayang." Mengulang panggilannya.


"Sayang!" Lagi, dan Maudy menghela nafas.


"Iya sayang, apa?" Bima tersenyum dan menunjuk bibirnya sendiri yang memang terlihat merah dan seksi.


"Bim! Cukup sekali ya?" Maudy membungkuk mendekatkan wajahnya, dan cup. Mengecup bibir merah Bima dengan singkat, tapi Bima tak membiarkan Maudy melepasnya. Dengan geram Maudy menggigitnya.

__ADS_1


"Aw." Teriak Bima. Ia mengaduh kesakitan dan mengelus bibirnya sendiri.


"Sakit sayang. Jahat!" Bangkit dari pangkuan Maudy dan duduk.


"Sayang."


"Hem." Maudy masih cuek.


"Kamu jahat tau nggak."


"Jangan kelewatan batas Bim. Kita masih sekolah." Duduk dan melipat kakinya, mungkin pegal sudah satu jam di buat sebagai bantal oleh Bima.


"Berarti kalau udah kuliah boleh dong sayang." Tersenyum dengan jahilnya.


"Oh jadi kamu mau? Ya udah sekarang aja." Maudy berpura-pura akan membuka pakaiannya di hadapan Bima.


"Eh sayang jangan, aduh." Menutup matanya.


"Sayang, tutup nggak!" Masih memejamkan matanya.


Maudy tertawa cekikikan.


"Kenapa, tadi katanya mau?" Menggoda Bima dengan suara manja. Padahal sangat tidak cocok untuk seorang Maudy.


"Nggak aku bercanda sayang, aku malu lah ah."


"Lagian kenapa sih Bim. Jangan bahas itu lah!"


"Iya maaf. Aku bercanda, mana mungkin aku berani lakuin hal itu. Caranya gimana juga aku nggak tau sayang."


Menatap mata Bima tanpa berkedip.


"Sumpah sayang aku nggak tau, cara berciuman yang benar juga aku tidak tau, sumpah." Mengacungkan jari nya membentuk huruf V.


"Iya-iya. Bim udah jam 10, kamu nggak pulang?" Menunjuk ke arah jam dinding.


"Sayang, kamu ngusir ya?"


"Kalau papa kamu nyari gimana?"


Sebut saja nama papanya, pasti dia takut.


"Iya aku pulang." Wajahnya nampak lesu. Iya jelas, harus Kembali pulang. Rasanya Bima sangat ingin sedikit lebih lama bersama Maudy. Walau setiap hari berjumpa itu tidak akan puas baginya.


"Nanti aku pelajari deh gimana caranya pacaran yang baik dan benar." Berbisik di telinga Maudy.


"Apa sih Bim." Tergelak melihat tingkah Bima.


"Bim, aku mau ngomong serius." Bima diam, berarti dia siap mendengarkan.


"Aku cinta kamu." Tergelak melihat reaksi Bima. "Nggak bukan itu."


"Stop. Tunggu, bukan itu? Berarti kamu bercanda? Kamu nggak cinta sama aku ya?" Nah kan, salah paham lagi.


Dengerin dulu toh Bim kalau orang bicara.


"Bukan, maksudnya tuh bukan mau ngomong itu tadi." Sandiwara di depan pintu belum juga berakhir.


"Aku pengen kamu tuh, jangan terlalu pemalu. Santai aja, kalau ada orang lain ya biasa aja gitu. Belajar dari sekarang Bim. Kamu juga kan memimpin perusahaan papa kamu nantinya, apa kamu bisa? Jangan berani bicara hanya di depan aku Kiki, dan keluarga kamu."


"Itu udah sifat aku, berat sayang buat aku ubah. Rasanya tuh gimana ya, malu aja atau malas gitu ngomong sama orang lain."


"******** kamu terlalu besar Bim!"


"Kok kamu tau sayang? Apa kamu pernah lihat?" Melipat tangannya dan menaikan alisnya.


"Ha, bukan itu maksud aku ih rese Bima! Udah ah sana pulang!" Mendorong tubuh Bima menjauh dari pintu.


"Iya aku pulang. Nanti kamu langsung tidur ya. Eh jangan-jangan, hubungi aku dulu bilang Bima i love you, baru kamu tidur ya." Maudy hanya geleng-geleng dan menutup pintu rumahnya. Kalau tidak entah apa lagi yang akan di katakan Bima.


Malam ini, menjadi malam pertama untuknya merasakan layaknya seorang pasangan anak remaja. Walaupun harus berbohong terlebih dahulu. Tapi Bima bahagia, ia sangat bahagia malam ini. Melihat kekasihnya bisa tertawa, sebal dengan tingkahnya.


Sementara Maudy masuk ke dalam kamar dengan perasaan yang sama dengan Bima. Ia akan menceritakan ini kepada Kiki, iya udah sudah ia niatkan.


Tapi tidak jadi, tidak. Kiki sudah tidur dengan menguasai seluruh kasur miliknya. Dengan secara paksa Maudy menggeser tubuh Kiki yang sudah masuk ke alam mimpi.


Maudy mulai terlelap dan ia juga lupa untuk menghubungi Bima dan mengatakan i love you. Pasti besok akan ada sandiwara lagi yang di buat oleh Bima. Dengan mengatakan, kok nggak hubungi aku sih? Kok nggak bilang i love you sih, sayang? Bodoh amat ah Bim, Maudy udah mimpi sampai pulau Bali.


--__

__ADS_1


__ADS_2