
Ibu Irma sebenarnya keberatan dengan apa yang di katakan Kiki, sengaja mengajak Maudy untuk pergi liburan. Sementara usia kandungan sudah tua, Maudy juga sudah susah kan untuk melakukan aktivitas. Seperti sudah mempunyai keterbatasan. Tapi mendengar Maudy yang terus mengatakan bahwa dia dan anaknya kuat, hanya memerlukan refreshing, baiklah ibu mengalah. Dan juga disana ada Ratih, mamanya Kiki jadi ibu juga bisa menitipkan anaknya.
Dan hari ini, adalah hari weekend. Maudy sudah bersiap-siap, hanya saja hari ini Maudy juga akan pergi kerumah Bima, lebih tepatnya rumah mereka berdua. Untuk mengambil baju-bajunya. Sampai hari ini Maudy juga belum mengubah keputusannya, dan karena sifat dan karakter Bima yang sedikit pengecut, dia juga tidak berani datang. Dengan penegasan istri dan ayah mertuanya. Setiap pulang dari kantor, Bima selalu menunggu di seberang jalan raya. Menunggu istrinya keluar rumah, agar bisa melihat keadaannya hanya dari jarak jauh.
"Hallo bi? Bima lagi nggak dirumahkan?" Maudy menelepon salah satu ART dirumahnya, siapa lagi kalau bukan bi Mirna.
"Nyonya? Ini nyonya? Ya ampun, saya rindu sekali. Kenapa nyonya nggak pernah pulang? Dan tuan Bima juga."
Juga?
"Hehe, iya aku masih mau dirumah ibu bi. Jadi Bima nggak pernah pulang bi? Memangnya dia kemana?"
Baik ibu ataupun Kiki yang saat ini sudah datang menjemput, mendekatkan kepala mereka untuk mendengarkan percakapan Maudy dengan ART di rumahnya.
"Katanya sih ya, bibi dengar tuan besar selalu nginep di hotel. Mungkin karena nggak ada nyonya, jadi tuan besar nggak betah."
"Gitu ya bi? Ini aku mau pulang bi, tapi cuma mau ambil pakaian aja, soalnya aku juga mau pergi liburan. Hem, bibi bisa tolong siapkan koper kan?"
"Kok harus pake koper segala nyonya? Memangnya nyonya bakal lama lagi tinggal di rumah ibu?"
"Nggak kok bi, udah pokoknya bibi siapkan aja ya. Tapi beneran sekarang ini Bima nggak ada di rumah kan bi?"
"Tidak ada nyonya, hanya kemarin sore pulang ngambil baju."
"Ya sudah, ini aku mau kesana, aku matikan dulu ya bi." Maudy langsung tersenyum menoleh ke arah Kiki dan ibunya.
"Gimana?" Ibunya yang lebih dulu bertanya.
"Aman, Bima nggak ada. Ayo Ki, keburu kasian Revan nunggu di luar." Maudy berdiri dan menarik tangan Kiki.
"Dy?" Wajah ibu memelas.
"Kamu beneran mau ambil baju-baju kamu? Kamu beneran nggak mau balik kesana lagi?"
"Bu, untuk saat ini tidak. Sudah ibu jangan pikirkan hal itu lagi, aku pergi dulu bu."
"Tante, aku pamit ya?" Kiki menyalim tangan ibu Irma.
Mereka melangkah pergi keluar rumah, dengan di antar ibu Irma. Ayah Subi sudah pergi pagi-pagi sekali, katanya mau mancing bersama teman-temannya, biarlah mungkin ayah juga butuh refreshing, apa lagi sekarang sudah pensiun, tidak lagi mempunyai kegiatan. Dengan begini, ayah Subi juga bisa melepas rindu dengan teman-temannya.
Keberangkatan mereka juga sekitar dua jam lagi, tapi Maudy sengaja mempercepat. Karena dia juga akan mengemas pakaiannya, lalu menitipkan ke rumah Kiki. Dan nanti, setelah pulang dari liburan Maudy langsung akan membawanya ke rumah ibunya. Meski Kiki awalnya sudah menolak untuk melakukan itu, dan memberi nasehat baik kepada Maudy untuk yang kesekian kalinya, Maudy tetap saja masih kekeuh dengan keputusannya saat ini.
"Kamu nggak rindu Bima Dy?"
Kiki dan Maudy duduk di belakang, sementara Revan yang menyetir.
"Rindu sih iya. Tapi biarlah, ini hukuman Ki buat dia. Supaya nggak kebiasaan menyembunyikan sesuatu dari aku." Kiki tidak menjawab lagi dan hanya mengangguk.
Warna kuning keemasan yang terpancar di langit, menjadikan kesan indah bagi siapa saja yang menikmatinya di hari ini. Baik mereka yang sedang patah hati, atau juga mereka yang memulai hari dengan senyuman. Maudy membuka sedikit jendela mobil, tersenyum menatap ciptaan Tuhan yang satu ini.
Munafik lah kalau aku nggak rindu kamu Bim.
Kiki melirik dan melihat memang kalau Maudy sedang tersenyum tipis, begitu juga depan Revan. Dia melihat dari kaca spion mobil. Melihat istri dari pemilik perusahaan tempat dimana dia sendiri bekerja.
Mereka pasangan yang unik menurutku.
"Kita nginep kan?" Maudy bertanya, tapi tak mengalihkan pandangannya dari arah luar, yang saat ini sudah tak lagi menatap awan yang cerah, tapi hanya melihat beberapa pengendara yang melewati mobil mereka.
"Iya, kenapa Dy?"
"Nggak apa-apa. Nanti aku satu kamar sama mama kamu kan?" Maudy bertanya lagi.
"Lalu aku?" Menunjuk dirinya sendiri.
"Kamu sama Revan, haha."
"Jangan atuh mbak, kalau saya sih ya memang mau." Kiki langsung memukul bahu Revan. "Becanda Ki, becanda aku."
"Eh kita sampai." Revan langsung membelokkan mobilnya.
"Ki, kamu ikut aku turun ya? Bantu aku ngepak pakainya, biar cepat." Kiki mengangguk. "Kamu disini aja ya Van, kira-kira keadaan nggak aman kami akan berteriak."
"Kayak mau maling aja." Mereka sama-sama tertawa. Maudy langsung membuka pintu mobilnya, begitu juga dengan Kiki. Mobil hanya terparkir di depan gerbang, tidak masuk ke halaman rumah. Itu juga sudah menjadi persetujuan mereka sebelum berangkat. Sungguh, semuanya sudah di atur Maudy dengan rapi sepertinya.
"Eh nyonya." Salah satu securitty kaget dengan kedatangan Maudy. Dia bahkan melihat ke mobil yang tadi Maudy naiki.
"Pak, apa kabar?"
"Baik nyonya." Tidak lagi berani bertanya, hanya bisa menatap Maudy yang sudah memasuki halaman rumahnya. Dengan bergandeng tangan bersama Kiki, dengan perut buncitnya Maudy berjalan seperti mempunyai pesona tersendiri, ibu hamil yang cantik.
Maudy langsung saja masuk ke dalam rumah, melihat pintu memang sudah terbuka, sepertinya bi Marni sudah benar-benar menyambut kedatangannya.
"Eh nyonya." Bi Marni tersenyum, tapi tak bisa menutupi wajah paniknya. Lalu menatap lagi ke arah tangga dimana jalan yang akan mengantarkan Maudy naik ke kamarnya.
"Kenapa bi?"
"Anu nyonya." Bingung. Maudy dan Kiki saling pandang. "Tadi tuan besar pulang, nggak lama pas nyonya telepon saya. Saya udah coba telepon balik, tapi-"
"Siapa bi?" Maudy langsung membulatkan matanya, menoleh ke arah Kiki lagi dan meremas jari tangan yang masih saling menggenggam.
Bima terus berjalan, menuruni anak tangga. Dengan membawa tas yang sepertinya juga berisi pakaian. Begitu Bima menoleh, dia melihat sosok yang sangat dia rindukan. Semangat hidupnya telah kembali, begitu yang dia pikirkan saat ini.
Maudy? Dia pulang? Aku harus berterima kasih dengan Kiki.
Mempercepat langkahnya menuruni anak tangga. Tidak menginjak lagi satu anak tangga, tetapi dua sekaligus.
__ADS_1
"Sayang, kamu pulang?" Maudy tersenyum kecut, sekilas menatapnya lalu membuang pandangannya lagi.
"Bi? Mana koper yang aku minta tadi?" Tak menghiraukan Bima lagi.
"Eh, iya nyonya, ada." Bi Marni semakin tidak merasa nyaman dengan keadaan seperti ini, walau sebenarnya dia tau. Kedua majikannya ini sedang dilanda masalah, tapi tetap berpura-pura tidak tau dan percaya saja ketika Maudy mengatakan kalau masih ingin berada di rumah ibunya. Dan tidak mau menimbulkan gosip di dalam rumah majikannya.
"Ini nyonya." Bi Marni langsung menyerahkannya. Maudy tersenyum dan mengambilnya, tak di hiraukan wajah Bima yang saat ini sudah mulai mendung.
"Ayo Ki?" Maudy menarik lagi lengan Kiki. Mereka berjalan menaiki anak tangga. Bima hanya mampu menatapnya. Menunggu Maudy turun dan duduk di sofa. Bi Marni langsung berjalan kembali ke dapur. Tak mau di sergah pertanyaan dengan tuannya.
Setelah selesai dengan urusan pakaian, Maudy kembali turun dengan Kiki. Koper jelas Kiki yang membawanya, dan Maudy berjalan lebih dulu di depan Kiki.
"Dy, kamu nggak kasian lihat Bima?"
"Sstt?" Maudy berbalik dan menempelkan satu telunjuk di bibirnya.
"Sayang?" Memelas. Menarik tangan Maudy.
"Apa sih, lepas nggak!" Sekuat tenaga mengibaskan tangannya yang di sentuh Bima saat ini.
"Sayang, aku mohon. Sudahi ini semua."
"Memang akan aku sudahi. Kan kamu yang masih berharap."
"Bukan, bukan maksud aku bukan hubungannya sayang, tapi masalah kita. Aku juga sudah minta maaf kan?" Maudy diam. Kiki hanya bisa menunduk, bagaimana mau ikut berkomentar? Keduanya juga sahabatnya. Jika membela Maudy, Bima akan merasa di kucilkan saat ini, tapi jika membela Bima Maudy juga akan merasa begitu.
Duh, aku yang pusing.
"Ayo Ki? Kasian mama kamu udah nunggu." Maudy berjalan lebih dulu.
"Ki? Kalian Maudy kemana?" Berbicara pelan.
"Kamu kan udah tau Bim, kenapa pake nanya?"
"Ki, kenapa kamu nggak bilang kalau Maudy mau ambil baju?" Kiki diam. Berjalan mengikuti langkah Maudy keluar rumah, begitu juga dengan Bima, dia tetap mengekor.
Tiba-tiba saja langkah Maudy terhenti, menoleh ke belakang tepat menatap ke wajah Kiki.
"Kenapa?" Kiki menarik koper dan berdiri tepat di samping Maudy.
Maudy mengunakan bahasa mata yang menyuruh Kiki untuk melihat ke halaman rumahnya. Ada mobil yang baru saja berhenti, masuk ke halaman rumahnya. Dan Maudy sangat mengenali itu mobil siapa.
Hingga benar-benar pemilik mobil turun, menampakkan sosok yang sangat dia kenali. Kiki dan Maudy saling pandang, tak bergerak dari tempatnya mereka berdiri. Bima yang saat ini berdiri tepat di belakang istrinya juga memiliki kecemasan yang sama, bahkan lebih takut di bandingkan Maudy sekarang. Berkali-kali Bima menggaruk tengkuknya, berpikir dengan mencari alasan apa ketika namanya bertanya nanti.
"Dy?"
"Mama? Mama sendiri?" Tersenyum dengan wajah yang bingung.
"Iya Dy." Menoleh ke belakang. "Pak, turunkan barang-barangnya, dan letakkan di dalam." Memberi perintah kepada supir yang mengantarnya datang kesini.
"Koper kamu?" Kiki menggeleng lemah dan menoleh ke arah Maudy. Mulutnya seperti terkunci saat ini, aku mau ngomong apa sekarang? Batinnya. Berharap Maudy bisa menjelaskan tanpa harus membuat masalah besar.
"Jadi?" Menatap ke arah Maudy. Bima mengerti ini situasi yang genting, dia langsung menyalip dan berdiri di hadapan mamanya.
"Mama? Papa kenapa nggak ikut?" Bima juga sudah menenteng tasnya.
"Kalian pada mau kemana sih?" Bingung, mana belum ada menyuruhnya untuk masuk ke dalam.
"Mau liburan ma?" Bima menjawab dengan entengnya.
"Liburan? Bawa koper? Mau liburan kemana? Istri kamu kan sedang hamil tua Bim." Menggeleng pelan.
"Oh ini, ini baju-baju aku yang udah nggak muat ma. Mau aku bagikan nanti sama tetangga di rumah ibu." Maudy juga memberi alasan yang tepat. Mama Lisa masih diam.
"Oh gitu. Kalian liburan bareng Kiki?" Maudy langsung mengangguk dan tersenyum.
"Mau berangkat sekarang?" Maudy mengangguk lagi.
"Nggak apa-apa kan ma? Soalnya mamanya Kiki juga udah nunggu."
"Sama mama kamu juga Ki?"
"Iya tante."
"Oh syukurlah, jadi mama nggak terlalu khawatir. Soalnya kan kehamilan kamu itu sudah memasuki bulan tua Dy. Nggak bisa pergi jauh lagi."
"Tapi ini keinginan anaknya sepertinya ma." Mama Lisa mengangguk.
"Uh, cucu Oma jangan buat susah mama kamu ya?" Maudy tersenyum, mama Lisa mengelus perutnya dengan lembut.
"Ya sudah, kalian pergilah. Hati-hati ya? Mama bawa baju bayi lagi, mau mama susun sendiri." Seperti ada Kebahagiaan yang terpancar di wajah mama Lisa. Lalu bagaimana reaksinya jika beliau sampai tau kalau saat ini rumah tangga anaknya sedang di ujung tanduk.
"Aku bantu mama aja." Bima bersuara.
"Loh nggak usah, ya sudah kamu pergi aja Bim. Kalau kamu bantu mama lalu Maudy naik apa?"
"Eh iya." Menatap ke arah Maudy yang meliriknya dengan tajam.
"Ya sudah, ma aku pamit ya?" Maudy memeluk sebentar, lalu di ikuti Bima dan terakhir Kiki.
"Tante, kami pergi dulu ya?" Mama Lisa mengangguk dan tersenyum.
Kemudian dia masuk ke dalam. Untungnya tidak menunggu mereka sampai masuk ke dalam mobil.
"Kamu jangan coba-coba ikut!" Berbicara pelan dengan kalimat penuh penekanan.
__ADS_1
Maudy mengikuti langkah Kiki keluar gerbang, masuk ke dalam mobil Revan.
"Dy kamu yakin mama mertua kamu nggak lihat? Takutnya dia bakal tanya kenapa kamu nggak satu mobil dengan Bima?"
"Sudah lah Ki, nanti juga bisa cari alasan."
"Dy, Bima telepon?" Kiki menoleh ke arah belakang mobilnya, Kiki sendiri yakin pasti saat ini Bima mengikuti mobil mereka.
"Angkat aja, dia mau apa?" Kiki mengangguk, langsung menggeser layar ponselnya.
"Hallo Bim?"
"Ki, kasih sebentar sama Maudy, aku mau bicara Ki."
Kiki tampak ragu dan melirik ke arah Maudy. "Cepetan Ki, ini penting."
Kiki tak menjawab dan berbicara, hanya menyodorkan ponselnya ke arah Maudy.
"Apa?" Tak mengeluarkan suara hanya membuka mulut. Kiki menggeleng, dan terus menyodorkan ke arah Maudy.
"Ya?" Dia mengalah dan lebih memilih untuk berbicara.
"Aku masih suami sah kamu. Jadi aku berhak nggak kasih ijin kamu pergi tanpa aku! Kamu juga tengah hamil tua."
"Apasih maksudnya?" Langsung mengembalikan ponselnya kepada Kiki.
"Giliran begini aja ngakuin istri, ngakuin anak. Kemana kemarin-kemarin? Aku juga pergi periksa sendiri tuh nggak sama dia!" Menggerutu dan wajahnya berubah cuek.
"Bima bilang apa?" Kiki langsung mematikan sambungan teleponnya.
"Tau, sok ngatur. Katanya aku nggak boleh pergi kalau nggak sama dia. Dia nggak akan kasih ijin. Udah ah, gini nih yang buat aku malah nggak bersemangat."
"Udah dong ah. Senyum dulu senyum?" Kiki mencoba menghibur.
Memang benar apa yang di katakan Bima sih.
***
Revan turun dari mobil, menurunkan koper Maudy dan membawanya ke dalam rumah Kiki. Lalu kembali dengan beberapa barang bawaan lagi, itu semua ulah mamanya Kiki. Yang sengaja membawa stok makanan, cemilan. Dan beberapa sayuran yang akan dia masak nantinya selama menginap.
"Ki? Kok banyak banget, apa mau nginep satu Minggu?"
Revan sudah kembali ke dalam mobil, dan juga di susul oleh mamanya Kiki. Awal mula semaunya masih baik, dan sampai mamanya Kiki menyadari sesuatu yang aneh. Beliau menoleh ke belakang, dimana Kiki dan Maudy duduk sekarang. Dahinya mengkerut, lalu menatap ke arah Kiki.
"Kenapa ma?" Kiki bertanya.
"Revan, jangan jalan dulu." Mamanya membuka pintu mobil dan turun.
"Ki, pindah kamu. Mama yang duduk sama Maudy. Masak iya malah mana yang duduk di depan. Harusnya kamu lah yang temani Revan." Kiki membuka beltnya dan turun, benar memang apa yang di katakan mamanya.
"Cie, Revan kamu udah dapat lampu hijau tuh." Maudy kembali dengan mood awalnya, bisa tertawa kecil sekarang.
"Hehe." Revan hanya tertawa kecil menanggapi perkataan Maudy.
"Sudah?" Revan menoleh ke arah Kiki.
"Kenapa Kiki aja yang di tanya? Harusnya kan aku sama tante juga, ya nggak tante?" Maudy memainkan alisnya.
"Iya Dy." Ah ini orang tuanya juga ikut-ikutan.
"Udah ah. Ayo Van, jalan."
Liburan Im coming. Maudy tersenyum lagi menatap ke arah jendela luar. Lalu di dalam perjalanan, Maudy tetap berbincang hangat dengan mamanya Kiki. Maudy juga menceritakan tentang rumah tangganya saat ini. Sebagai orang tua, dan sudah banyak mempunyai pengalaman Tante Ratih memberinya nasehat. Mana yang terbaik untuknya dan Bima. Maudy juga tidak protes saat tante Ratih mengatakan kalau jangan sampai berpisah.
Maudy tak sama sekali memejamkan matanya, terus saja melihat suasana yang sudah mulai adem dengan daerah pegunungan. Tikungan curam juga sudah beberapa kali mereka lewati. Perjalanan yang memakan waktu sekitar 4-5 jam. Hingga tiba di sebuah penginapan seperti villa, mereka turun. Hanya ada satu yang tertinggal, bukan barang. Tapi Kiki yang masih tertidur di dalam mobil, hampir saja mereka melupakannya.
Revan kembali lagi ke mobil, mengambil barang dan sekaligus membangunkan Kiki. Tante Ratih dan Maudy menjumpai pemilik penginapan, meminta dua kamar untuk mereka menginap malam ini.
"Ki? Ki? Bangun, kita udah sampai." Revan menepuk pelan wajah Kiki. Berdiri di samping mobil dan membuka pintu.
"Ki?" Revan mendekat, menepuk lagi dan memanggilnya.
"Ha?" Kiki kaget, langsung terbangun tapi naasnya, Kiki langsung mengubah posisi duduknya menjadi tegak karena kaget, dan apa? Bibir mereka bersentuhan. Revan langsung bungkam begitu juga dengan Kiki.
"Maaf, aku-" Revan mengangguk dan langsung mundur, beralih ke bagasi mobil untuk segera mengangkat barang bawaan mereka.
Duh, kenapa jantungku berdegup kencang banget.
Kiki yang merasa malu langsung mengusap bibirnya sendiri, menoleh ke arah belakang, melihat Revan yang sedang menurunkan barang. Pandangan mereka bertemu, tapi Kiki langsung membuang padangannya.
Kiki turun setelah membuka stell beltnya. Lalu menawarkan Revan untuk membantunya membawa barang-barang mereka. Dengan gugup Kiki berbicara, malu sangat tidak ketulungan. Kiki berpikir, pasti Revan menganggapnya saat ini adalah wanita yang gampangan.
Duh?
Revan memegang lagi dadanya, setelah Kiki berjalan lebih dulu. Revan tersenyum, iya dia tersenyum. Lalu mengubah ekspresi wajahnya kembali semula setelah melihat Kiki yang menoleh ke belakang.
Tuhan, apa inikah cinta??
--__
Maaf ya telat up, hehe
semalam ada kemalangan, saudara ada yang meninggal. Tapi di usahakan bisa up hari ini hehe
Selamat beraktifitas ya buat kalian
__ADS_1