Dia Bimaku

Dia Bimaku
Selamat tinggal negara persinggahan


__ADS_3

Bima masih setia mengunci pintu kamarnya, biarkan aku puasa tidak makan dan minum pikirnya. Walau matahari sudah naik, menampakkan teriknya dan seperti bisa membuat orang-orang tersenyum di hari ini, meringis karena silaunya. Tapi tidak dengan Bima.


Bima memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, meski baru saja di angkat jadi CEO tapi sudah lah, tak peduli. Semua itu di lakukan papanya hanya karena dia sendiri merasa Bima setuju atas pertunangan ini. Selebihnya, hanya ambisi untuk menaikan investasi dalam bisnisnya. Walau Bima sudah menjadi CEO, tapi dia sendiri yakin kalau akan tetap di atur oleh papanya. Ibarat burung yang memang harusnya terbang bebas tapi tetap saja di ikat agar tak terbang terlalu jauh.


"Dy, kamu kapan pulang?" Lebih memilih menghubungi orang yang menjadi sumber permasalahan disini, bukan, lebih tepatnya orang yang Bima bela mati-matian.


"Kenapa Bim? Udah rindu ya?" Bima tersenyum, ya sinar Maudy mengalahkan matahari, ia mampu membuat Bima tersenyum.


"Nggak lama lagi kok Bim. Kamu nggak perlu tau ya, biar nanti jadi kejutan sama kamu Bim?" Lagi-lagi, Bima tersenyum. Walau Maudy tak bisa melihatnya, tak bisa melihat langsung, tapi semoga langit-langit kamar ini mau menanggapi senyum Bima.


"Ya udah. Kamu pasti ngantuk sekarang kan? Disana jam berapa sekarang?"


"Jam 11 Bim. Iya nih, tadi baru kelar di resto setengah jam yang lalu." Terdengar suara Maudy menguap di seberang telepon.


"Ya udah, kamu tidur ya? Mimpi indah, eh mimpi Bima maksudnya. Sayang, dengar ya, apapun yang terjadi aku akan tetap menggenggam tangan kamu?"


"Makasih Bim." Bima kembali memutus sambungan telepon.


Ia melirik jam dinding yang bertengger di dinding kamarnya. Ah sudah jam 11 siang, kenapa tidak ada yang mengetuk batinnya. Bahkan mamanya juga tidak ada. Kemana semuanya? Mau keluar tapi gengsi. Ah gimana dong, perutnya mulai protes minta di isi. Sepertinya cacing sudah main drum di dalam perut.


Mondar-mandir nggak jelas, hingga menemukan ide barulah Bima tersenyum. Gaya-gayaan mau puasa, belum juga setengah hari sudah kelimpungan.


"Hallo mang Sugi."


"Ya den Bima, ada apa?"


"Mamang lagi jaga kan di luar?" Melihat dari atas balkon kamarnya, nampak mang Sugi yang sedang berbicara lewat telepon untuk menjawab panggilannya.


"Iya den, kenapa ya?"


"Coba mamang lihat ke atas di balkon kamar aku mang." Mang Sugi menurut saja. Sambil meringis karena sinar matahari ia menatap ke atas. Bima memberi kode, satu jari telunjuknya ia letakkan di bibir. Yang artinya mang Sugi tidak boleh bicara dengan siapapun.


"Mang, apa papa sudah keluar rumah? Mama, dan mas Rio?" Lama mang Sugi menjawab.


"Memangnya den Bima nggak tau?"


"Nggak mang. Mamang kan pasti sudah dengar kalau aku betengkar sama papa, lagi." Lirih mengucapkan di akhir kalimat.


"Itu den, Hem orang tuanya Mbak Siska sakit, katanya lagi kritis di rumah sakit. Jadi semua pada pergi kesana, kayaknya sih nggak ada yang ngantor den."


"Ma, makasih ya mang?" Bima langsung masuk kamar, ia berniat untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Ini kabar duka baginya, pantas saja tidak ada yang memanggil ataupun sekedar mengetuk pintu.


***


"Bi, ada makanan nggak? Aku lapar." Bima langsung turun setelah selesai membersihkan diri.


"Ada den, bibi masak kok. Biar bibi siapkan ya den."


"Eh bi, antar aja ke kamar ya?" Ah kirain setelah mandi Bima akan nyusul ke rumah sakit. Ternyata ini hanya kesempatannya untuk turun ke bawah.


Bima kembali berdiri di dekat balkon kamar. Mengintai mang Sugi yang tengah duduk di samping gerbang rumahnya. Mau apa lagi anak ini?


"Mang?" Ah ternyata mengubungi mang Sugi lagi lewat telepon.


"Iya den? Ada apa?" Sepertinya mang Sugi tau dan langsung melihat ke arah kamar Bima.


"Mang, aku bisa minta tolong nggak?" Mang Sugi kembali menunduk.


"Iya den, apa itu?"


"Rumah mamang kan nggak jauh tuh dari rumah Maudy, nah nanti seandainya mamang tau kalau Maudy udah kembali ke rumah, tolong kabarin ya mang?" Mang Bima belum menjawabnya. Ia kembali mendongak dan Bima tersenyum.


"Tapi den, bukan kah?"


"Sudah mang. Itu hanya papa saja yang memaksa, soal hubungan ku masih tetap dengan Maudy." Mang Sugi tidak bisa menolaknya. Hanya bisa menjalankan saja tugas dari tuan mudanya. Walau ini juga di luar pekerjannya, menjadi mata-mata. Bukan kah bisa di sebut dengan begitu.


***


"Tanya sama ibu mu soal tanah yang sudah om beli tidak jauh dari rumah kalian. Letaknya cukup strategis untuk membuka usaha, baik toko ataupun resto." Maudy mendengarkan apa saja yang harus ia lakukan setelah pulang nanti.

__ADS_1


Semua pakaian sudah ia susun rapi di dalam kopernya. Tinggal menunggu jadwal keberangkatan. Ada rasa nyaman berada disini, ia juga sadar kalau dulu berat untuk menginjakkan kakinya di negara ini, tapi setelah beberapa tahun melewatinya rasanya enggan untuk kembali. Tapi, di tanah air sudah ada hati yang menunggunya, bukan soal cinta saja, keluarga juga sudah merasa rindu.


I'm coming Indonesia.


"Om juga bakal transfer uang buat kamu modal usaha. Anggap saja ini bentuk gajih kamu selama bantu om disini." Nah, kalau masalah ini Maudy sangat keberatan. Bukan ini yang dia mau, setelah belajar disini sudah cukup baginya. Maudy ingin bekerja dulu dan mengumpulkan uang untuk modal usaha.


"Tidak bisa mo, kamu harus bekerja selama 10 tahunan baru bisa buka resto, modal itu harus besar. Belum lagi biaya pembangunan. Sudah terima, om mau keluarga kita itu sukses. Jadi tidak lagi merasa di kucilkan oleh orang lain. Termasuk dengan orang tuanya Bima." Maudy terdiam. Iya ini memang benar, apa yang di katakan omnya benar.


"Soal ibumu, perlahan dia pasti menerima bantuan dari om kok."


"Kalau semuanya lancar, aku pasti bakal cicil hutangnya sama om." Itu sudah Maudy niatkan dari sekarang.


"Hutang yang mana?" Tanya omnya.


"Itu om, soal tanah? Biaya kuliah? Lalu ini, modalnya? Bukan kah om bilang tadi, kalau bekerja saja butuh waktu 10 tahunan untuk mengumpulkan uangnya."


Baik tante dan omnya sama-sama tersenyum.


"Kamu menang anak pintar." Tantenya geleng-geleng sambil mengusap lembut kepala Maudy.


"Apa sebelumnya om ada bilang, kalau ini dianggap hutang?"


"Tapi om."


"Sudah, ibumu nanti pasti tau, suruh dia baca ulang mengenai surat tanah itu ya?" Maudy masih bingung, maksudnya bagaimana? Ah tapi nanti bakal di bicarakan sama ibu kalau sudah sampai dengan selamat, pikirnya.


"Sekarang kamu istirahat, sudah malam. Besok kami akan mengantarkan ke bandara, resto juga akan tutup." Ya ampun, seistimewa kah aku disini? Batinnya.


Maudy melangkah menaiki anak tangga. Tapi jarak yang belum jauh dari tante dan omnya duduk, ia masih bisa mendengar obrolan mereka.


"Sebenarnya mami nggak rela pi. Ada Maudy disini mami jadi seperti mempunyai anak perempuan." Maudy semakin memperlambat langkahnya.


"Sudah mi. Nanti kita akan sering ke tanah air, papi juga bakal pantau usaha yang dia jalankan." Walau dia sendiri juga nggak rela, tapi harus memberi ketenangan untuk hati seorang istri.


Ya ampun, aku jadi bingung sendiri. Makasih ya om.


Kembali melanjutkan langkahnya dan benar-benar sudah masuk ke dalam kamar.


Saat ini sudah larut, Maudy kembali membuka galery ponselnya. Mengusap lembut photonya yang bersama Bima. Dimana tempat sebelum perpisahan di sekolahnya. Apakah masih bisa kembali kesini Bim? Pikirannya melayang, sehingga senyum di malam sepi ini mengantarnya tertidur.


***


"Dy, Maudy. Apa sudah selesai kamu?" Suara ketukan pintu terdengar.


"Iya tante, sebentar." Teriaknya. Maudy berjalan membuka pintu. Ia tau, tantenya pasti akan tetap berdiri menunggunya. Dan, setelah di buka, bisa di tebak. Melihat wajah tantenya yang sendu.


"Tante kenapa?" Tanyanya lembut.


"Tante pasti bakal rindu kamu nak?" Memeluk Maudy. Dan tes, air matanya terjatuh. Baginya, mau keponakan dari suami ataupun keponakan sendiri, ia tetap adil, sama, semuanya di sayang. Hanya saja, Memang hanya Maudy keponakan perempuannya.


"Tante, kok nangis?" Memegang kedua pipi tantenya.


"Ah iya." Langsung menghapusnya dan tersenyum.


"Sini, biar Tante yang make up wajah kamu." Maudy tersenyum, bisa saja tante ini.


Setelah berkutat beberapa menit, memoles kembali wajah Maudy. Dan menatapnya, Maudy juga tersenyum, selalu puas dengan hasil tangan tantenya.


"Mulai sekarang, kamu harus selalu tampil seperti ini ya? Baik disini ataupun di tanah air. Kamu harus selalu tampil cantik, jangan memakai pakaian lelaki lagi." Apa bisa? Pikirnya.


"Tante sudah belanja banyak baju untuk kamu bawa pulang. Nanti juga ada yang buat Tisha." Meletakkan kembali jenis make up yang ia poles ke wajah Maudy.


"Iya Tante, makasih ya tante?" Tantenya membalas dengan anggukan lalu tersenyum.


"Itu koper isinya apa?" Maudy melihat ke arah koper miliknya.


"Baju tante." Memang benar, itu isinya.


"Pasti baju-baju kamu yang modelnya seperti lelaki ya?" Maudy mengangguk, dan itu memang benar.

__ADS_1


"Jangan, jangan di bawa. Kamu cukup bawa koper yang tante siapkan?"


Apa? Maudy seperti belum rela. Ah, serepot ini kah untuk tampil elegan? Batinnya menggerutu.


"Jangan menolak. Itu udah nggak kamu butuhkan lagi. Apa kamu nggak takut kalah saing sama wanita itu?" Tau, Maudy tau kalau yang di maksud tantenya itu siapa.


"Nah, kamu harus buktikan. Kalau kamu itu lebih cantik dari dia. Tebar saja pesona kamu, itu sudah menjadi tabiat seorang wanita. Wajar jika ingin selalu tampil cantik, mulai biasakan dari sekarang ya?" Maudy mengangguk.


Eh aku ini kenapa sih, begitu tante menyebut wanita itu aku langsung setuju saja.


"Maaf nyonya, tuan besar sudah menunggu di bawah." Salah satu ART sudah mengingatkan. Maudy benar-benar meninggalkan koper miliknya. Dan hanya membawa beberapa barang yang masih muat untuk di masukkan ke tas selempang miliknya.


"Bi, tolong ambilkan koper di ruang tengah, langsung bawa ke mobil ya?" Memberi perintah dan langsung berjalan bersama Maudy untuk menuju mobilnya.


"Kak mo?" Bian berteriak. Bahkan sudah berlari seperti anak kecil, merentangkan tangannya untuk memeluk Maudy. "Kak, hiks jangan pulang kenapa?" Maminya langsung memukul lengannya.


"Ada-ada aja kamu, kakakmu juga ingin bertemu orang tuanya. Bukan hanya mau bertemu kamu disini, yang selalu menyusahkan dan mengekor kemana kakaknya mau pergi." Bian langsung mendengus dan melepaskan pelukannya. Maudy tertawa melihat raut wajah Bian, ah sungguh dia seperti Bima yang dulu ketika meminta sesuatu tidak di kabulkan. Bima lagi, Bima lagi.


"Kalau papi sama mami kamu kesana, kamu ikut ya? Tapi jangan lupa pakai masker, takutnya cewek-cewek disana pada tertarik sama kamu."


"Sudah-sudah ayo berangkat." Omnya menengahi setelah selesai menelpon seseorang ia kembali dan langsung siap duduk untuk mengemudi.


"Kak kita photo ya?" Baru saja mobil melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Boleh?" Ah Maudy juga antusias. Sementara sepasang suami istri hanya mampu tersenyum dan menggelengkan kepalanya, melihat kelakuan anak muda jaman sekarang, tak tau tempat. Di dalam mobil pun masih bisa saja berphoto.


"Lagi kak." Merubah gaya, dari menunjukan kedua jarinya, mendekatkan wajah dan lalu tertawa. Hingga benar-benar sudah ada kode memori penuh dari ponsel mahalnya barulah mereka mengentikan aksi jepret menjepret.


Maudy beralih memandang jalanan kota, disini tidak pernah terjadi kemacetan. Ah rasanya harus kembali ke tanah air yang hari-harinya harus mencium asap kenalpot dengan mengendarai motornya.


Apa kabar trail kesayanganku.


Setelah satu jam menempuh perjalanan ke bandara. Maudy turun dan omnya membawakan koper miliknya.


"Kamu langsung masuk kesana ya, 20 menit lagi pesawat akan segera take off." Deg. Kenapa rasanya semakin deg-degan.


"Om, tante, Bian." Menatap wajah mereka satu persatu. Wajah yang sudah ia lihat setiap hari selama beberapa tahun belakangan ini.


"Terima kasih buat semuanya ya om, tante. Semoga usaha om semakin sukses." Omnya langsung mengaminkan doanya, di ikuti oleh tantenya.


"Sudah, pulang lah. Om senang bisa menepati janji om." Menepuk lembut punggung Maudy.


"Kak mo, hati-hati ya?" Teriak Bian seraya melambaikan tangannya. Selamat tinggal negara yang banyak kenangan, negara yang memberikan jarak untuk hubungan cinta, negara tempat menimba ilmu.


Saat sudah berdiri di antrian akan melakukan pemeriksaan. Ponselnya berdering, karena ia masih tetap mengaktifkan ponsel.


Aldy calling...


"Ya Al? Ada apa?"


"Kamu udah berangkat?" Ada suara nafas yang terengah-engah. Seperti habis berlari kiloan meter.


"Iya ini udah mau masuk. Kenapa Al?"


"Bisa tunggu sebentar nggak? Aku udah di bandara kok." Maudy melihat jam di tangannya, masih tersisa waktu 15 menit sebelum pesawat take off.


"Iya cepetan." Maudy memilih keluar dari antrian dan kembali menarik kopernya. Melihat sekeliling ada atau tidaknya tanda-tanda dari Aldy.


"Dy?" Melambaikan tangannya tinggi-tinggi.


"Ada apa Al?" Bingung, iya itu raut muka Maudy sekarang.


"Nih." Tanpa basa-basi langsung memberikan bingkisan, entah apa isinya Maudy juga tidak tau.


"Kamu buka kalau udah sampai di tanah air ya? Senang bisa kenal kamu Dy?" Ah suaranya tampak bergetar. Apa Aldy akan menangis?


"Apa ini? Ya ampun repot-repot segala." Maudy menatap lekat wajah Aldy. "Aku juga senang bisa kenal kamu, makasih ya Al." Mengingat waktu yang semakin mepet Maudy langsung pamit dan Aldy juga tau itu.


Aku suka kamu Dy, suka. Walau kamu milik orang lain, setidaknya hari-hari ku dulu di kampus bisa cerah karena selalu melihat kamu.

__ADS_1


Aldy memandang Maudy hingga benar-benar tak terlihat lagi, tertutup dengan ramainya para wisatawan yang akan pulang atau pun kembali ke negaranya.


--__


__ADS_2