
Maudy masih memeluk guling, dengan kedua bola matanya menatap ke arah Bima.
"Kenapa? Sini? Aku mau peluk kamu?" Maudy menggeser tubuhnya, perlahan dan masuk dalam dekapan Bima.
"Kamu sudah ngantuk berat ya?" Maudy mendongak lalu mengangguk.
Bima malah tersenyum. Perlahan, mengecup puncak kepala istrinya I love you Bima berbisik di telinga Maudy. Hal itu membuatnya merinding sekujur tubuh, bahkan ada gelenyar aneh yang seolah berontak di tubuhnya.
Dengan lembut, Bima membelai seluruh bagian leher Maudy. Memegang dagunya, memaksa Maudy balik menatapnya. Dan bibir mereka sudah menyatu dalam pangutan yang semuanya hanya mereka yang bisa merasakannya.
Apa ini? Apakah aku harus memegangnya?
Bima menahan satu tangannya agar pangutan tak terlepas begitu saja, sedikit lagi Bima menyentuh kedua aset berharga milik Maudy, tapi detik berikutnya ia urungkan. Entah kenapa, malah dia sendiri merasa takut.
Ini apa yang mengeras?
"Sudah ayo tidur." Bima melepaskan ciumannya dan memeluk tubuh istrinya layaknya sebuah guling.
Lah, kenapa nggak lanjut? Eh aku mengharap apa sih.
"Besok kamu masih cuti kan Bim?"
"Iya sayang."
Yes, bisa bangun siang.
"Bangun pagi, buatkan sarapan untuk suami." Memeluk lagi.
Ah ya ampun.
Tidak, ini bukan menjadi malam pertama untuk pengantin baru. Bima masih bisa menahannya, entah kenapa bertelanjang dada di hadapan Maudy rasanya tidak masalah. Tapi untuk membuka yang lain, Bima masih merasa malu, aneh.
***
Pagi pertama, bangun dengan suara alarm yang sudah Bima stell. Maudy mengerjab dan meraba untuk kembali mematikan alarm.
"Bangun sana." Maudy langsung membuka matanya. Dengan malas, melepaskan pelukannya dan beringsut menuruni kasur. Padahal, baru saja rasanya tidur tapi sudah harus bangun, kesalnya.
Membuka pintu kamar dan berjalan ke arah dapur dengan mata yang masih sedikit terpejam, beberapa kali Maudy menguap.
"Apa ibu belum bangun?" Gumamnya, melihat dapur masih sepi dan tidak ada suara orang lain, hanya dia sepertinya yang bangun sepagi ini.
Maudy membuka isi kulkas, belum tau mau masak apa untuk sarapan Bima.
Maudy mengambil sosis yang sudah di beli ibunya, selanjutnya mengambil bumbu dapur. Mengiris tipis bawang dan cabai, lanjut dengan sosis yang di potong dadu.
Apa lagi ya?
Berpikir dan melihat bahan yang sudah ia siapkan.
"Dy, kamu sudah bangun? Emangnya nggak lelah?" Maudy menoleh mendengar suara ibunya.
"Iya Bima minta di siapkan sarapan bu."
"Harusnya nggak nunggu minta lah Dy, memang itu udah kewajiban kamu." Terdiam dan berpikir.
"Itu kamu masak apa?"
"Nasi goreng bu." Ibunya mendekat.
"Ya sudah, kamu masak sendiri aja buat Bima. Nanti ibu juga mau masak soup. Soalnya bude kamu minta di buatkan kemarin." Maudy mengangguk dan melanjutkan menggongseng nasi yang sudah ia masukan ke kuali. Sementara ibunya mulai meracik bumbu soup.
"Sudah selesai?"
"Sudah bu."
"Ya sudah, kamu mandi dulu. Setelah itu bawakan sarapan buat Bima."
"Iya." Maudy menyisihkan nasi goreng khusus untuk Bima di piring, lalu masuk ke dalam kamar mandi.
***
Maudy segera berlari ke dalam kamar, dengan memakai lilitan handuk. Lupa tadi tidak membawa pakaian ke kamar mandi. Di lihatnya Bima masih tidur dengan pulasnya. Maudy langsung membuka lilitan handuk, dan memakai pakaian. Sesekali melirik ke arah Bima, takut tau-tau dia bangun.
Setelah selesai, Maudy duduk di hadapan kaca riasnya. Memakai lipstik tipis. Menyisir rambutnya yang basah, mengibaskan sisir yang sudah basah dengan air.
"Hmm." Terdengar Bima menggeliat. Maudy menahan tawa, ternyata kibasannya malah sampai mengenai wajah Bima.
Lucu. Batinnya, kemudian berjalan mendekat ke arah Bima. Maudy duduk di tepi ranjang, di liriknya sudah jam 7 pagi. Sudah seharusnya Bima bangun.
"Bim?" Menepuk pelan pipi Bima. "Kamu nggak bangun? Aku udah selesai buat sarapannya." Lagi, melakukan berulang-ulang.
"Sayang." Mengerjab. "Kamu kok disini?" Bingung, dan langsung duduk.
Menoleh ke seluruh isi kamar, tunggu Bima semakin bingung. Ini bukan kamarnya.
"Sayang, kok kamu disini? Maksudnya ini kita di kamar kamu kan?" Maudy mengangguk.
"Lalu?" Menatap tubuhnya sendiri yang masih bertelanjang dada. "Sayang, kalau ibu tau gimana?"
Panik, wajahnya berubah panik, mencari dimana letak bajunya.
"Dy." Tok. tok. "Ayo kita sarapan bareng." Memanggil dari pintu kamar.
"Ibu?"
"Bim, cukup! Kita sudah menikah Bim!" Membentak, mungkin yang di luar juga dengar.
"Sayang, jadi tadi malam aku nggak mimpi?" Maudy melipat kedua tangannya di dada.
"Nggak!!"
"Cepetan kamu mandi, terus kita sarapan bareng ibu, atau nggak kamu mau makan di kamar?"
"Nggak sayang, sebentar ya aku mandi dulu?" Melangkah akan keluar pintu.
__ADS_1
"Bima!" Lagi, menoleh.
"Kamu mau keluar tanpa pakaian, seperti itu?" Maudy sampai menggeleng, ya ampun begini lah resiko kalau tidak ada kamar mandi di dalam.
"Oh iya, handuknya mana?" Maudy langsung mengambil handuk baru untuk Bima. Dan menyiapkan baju untuknya, menunggu di atas kasur sambil memainkan ponselnya.
Bima berjalan keluar dengan handuk yang ia lilitkan di pinggang. Menunduk dan mempercepat langkahnya.
"Mau mandi Bima?" Aduh, Bima masih menunduk.
"Iya." Jawab saja, tak tau siapa yang bertanya, bude ataukah ibu mertuanya, soalnya suara mereka sama.
Setengah jam kemudian.
"Sudah selesai?" Mengangguk.
"Sayang, handuk kecil." Rambutnya masih basah dan menetes begitu saja ke wajah, ke lantai, ke tubuh. Maudy berdiri dan menyiapkan apa yang di minta Bima.
"Sayang, kamu ada Hair dryer?"
"Ada, tapi sepertinya rusak deh Bim." Maudy berusaha mengalihkan pandangannya, tidak menatap Bima yang masih terus bertelanjang dada. Kaum hawa pada dirinya berontak. Mengakui kalau sebenarnya ia sendiri terpesona oleh Bima.
Bisa ngences aku kalau begini terus.
"Bim?"
"Hem." Menyisir rambutnya.
"Kalau selesai mandi tuh sekalian pakai bajunya di kamar mandi. Kamu kan tau, disini ada ayah, ibu, Tisha. Kalau kamu begitu, jadinya kan." Bingung meneruskan kalimatnya.
"Kenapa? Aku seksi ya sayang?" Tersenyum jahil dan berjalan mendekat.
"Bim, kita udah di tunggu ibu loh." Tersenyum lagi.
"Iya-iya, ayo?" Menarik lengan Maudy, berjalan beriringan keluar kamar.
Ibunya menatap dengan tersenyum, begitu juga dengan ayahnya. Mereka tersenyum sambil menunduk, mungkin karena melihat sepasang pengantin baru yang rambutnya sama-sama basah. Ah padahal ayah nggak tau sih.
"Bu, yah, bude." Sapa Bima lalu duduk. Maudy langsung mengambil piring yang sudah berisi nasi goreng. Memberikannya untuk Bima.
"Tisha mana bu?" Sambil mengambil lauk ke piringnya.
"Tisha udah berangkat lah Dy, ini juga sudah jam berapa." Sindir ibunya, lalu Bima melirik ke arah jarum jam dan tertunduk.
Pasti mereka mengira kami lembur semalaman. Padahal menyentuh saja aku belum berani. Apalagi membobol gawang.
"Bima, ayah mau bilang makasih sama kamu ya. Soal motor Tisha kenapa kamu repot-repot begini."
"Nggak kok yah. Itu memang kemauan aku sendiri, lagian kan kasian juga Tisha."
"Iya, ayah beralasan kalau tidak boleh bawa motor sampai semua kelengkapan surat sudah keluar. Padahal ayah hanya menunggu bisa berterima kasih sama kamu baru boleh dia pakai." Bima tersenyum mendengar kejujuran ayah mertuanya.
Setelah selesai makan.
Maudy langsung membereskan piring, membawanya ke dapur.
"Iya. Bude mana bisa lama-lama disini Dy, wong mbak mu ya lagi hamil besar."
"Bude di antar siapa?" Bertanya lagi ketika sudah meletakkan piring.
"Di antar sama orang tua kamu." Maudy mengangguk lalu kembali berjalan ke depan. Tampaknya mereka memang berangkat sekarang, terbukti ayah dan ibu selesai makan langsung bersiap. Terlihat Bima juga sudah tidak ada disana. Berarti sudah masuk kamar lagi, pikirnya.
"Bim, kamu ngapain? Ayah sama ibu mau pergi tuh antar bude?" Kembali menutup pintu.
Bima langsung meletakkan ponselnya begitu mendengar suara Maudy.
"Sayang, nanti siang atau sore kita ke rumah papa ya? Soalnya mau ambil beeberpa berkas, besok aku udah harus masuk sayang. Sekalian ambil baju aku juga." Maudy ikut duduk di sampingnya sebelum menjawab.
"Bim, maaf ya?" Bima langsung menoleh. Mengelus lembut pipi istrinya.
"Kenapa?"
"Keadaan rumah aku begini, nggak semewah dirumah kamu? Bahkan nggak ada TV di dalam kamar. Atau nggak kamu pengen pulang ke rumah papa? Tapi kamu nggak mau bilang sama aku?"
Bima menggeleng.
"Nggak, aku tau sayang. Kalau disana kamu malah segan sama papa. Aku mau kita disini dulu, supaya kamu berlatih menjadi istri yang baik." .
"Berlatih? Aku juga tau kali Bim." Bima memeluknya. Maudy bingung, kenapa?
"Aku sayang kamu." Ucapnya dan menggoyangkan pelukannya ke kanan dan ke kiri.
***
Pukul 10 pagi, setelah kepergian ibu dan ayahnya. Mereka duduk di depan TV, menonton sebuah film drama Indonesia. Maudy menyandarkan tubuhnya di bahu Bima. Mata mereka juga fokus dengan layar TV.
Tiba-tiba.
"Sayang, aku ke kamar sebentar ya?" Maudy hanya menjawab dengan anggukan, tanpa ingin bertanya mau ngapain?
Bima berjalan memasuki kamar. Mengambil ponselnya dan langsung masuk ke internet yang gunanya bisa menanyakan hal apapun (Mbah Google).
Bagaimana cara memuaskan istri?
Klik. Bima langsung menekan dan terlihat di layar ponsel masih berputar belum memberikan jawaban.
Ini dia.
Sebuah artikel tentang bagaimana cara memuaskan istri.
- Beri uang yang banyak.
- Selalu di beri kasih sayang
- Selalu ganas di ranjang
__ADS_1
Dahi Bima langsung mengerut.
"Dasar bodoh, iya aku tau. Yang aku tanya gimana caranya dan gayanya." Lagi, Bima mengetik ulang.
Ini dia.
Menunjukan beberapa photo yang keluar di layar ponsel. Bima langsung menyimpan beberapa photo itu. Lalu kembali lagi, sepertinya ingin menanyakan hal lain.
Bagaimana cara membuat istri selalu mau di ajak bersetubuh.
"Bim, kamu ngapain?" Maudy sudah berdiri di depan pintu kamar dan menutupnya kembali. Bima langsung menekan layar ponsel untuk kembali. Tersenyum kikuk, dan meletakkan ponselnya.
"Kamu banyak kerjaan ya meskipun sedang cuti?" Ide bagus, batinnya. Bima mengangguk.
"Iya sayang, cuma periksa beberapa rincian perusahaan kok yang di kirim ke email." Mengatur nafasnya. "Sini?" Menepuk ruang kosong di sebelahnya.
Maudy tersenyum dan mendekat. Mau apa dia ya? Jantung mulai berdetak, Maudy tau sepertinya Bima ingin meminta haknya.
"Kamu mau kan?" Maudy ingin menjawab tapi malu, mengangguk juga malu. Ah kenapa rasanya begini, teriaknya dalam hati.
"Sayang?" Mengulang lagi.
"Iya Bim." Menoleh ke arah Bima. Bima tersenyum dan langsung menariknya dalam pelukan. Pergumulan pun di mulai, Bima menjelajah setiap inci bagian yang belum pernah ia sentuh. Perlahan tangannya liar, Maudy sudah tak memakai sehelai kain pun di tubuhnya. Bima menatap penuh naf**. Maudy membuang pandangannya, masih risih menatap Bima.
Lagi, Bima memulai pergulatan sampai akhirnya dia sendiri memberanikan diri membuka seluruh pakaiannya.
"Sayang, kamu jangan lihat ya aku malu!" Menutup bagian sensitifnya dengan kedua tangan.
"Memang benar ya Bim, ******** kamu besar!"
"Apa? Sayang, jangan bilang kamu udah pernah lihat sewaktu aku tidur?" Ah ya ampun Maudy sampai menepuk keningnya sendiri, bagaimana cara menjelaskannya kepada Bima maksud perkataannya barusan.
"Kalau gitu, minggir. Aku mau pakai selimut, enak aja kamu lihat aku bisa, aku nggak bisa lihat kamu."
"Sayang, bukan begitu." Menahan kedua tangan Maudy dan akhirnya Bima lupa bahwa junior yang ia tutupi sudah terlihat jelas
Memang besar ya!
Maudy membuang pandangannya, ah wanita macam apa aku ini, pikirnya.
"Sayang, siap?" Maudy mengangguk, jika menggeleng maka ia akan berdosa.
"Tahan ya?" Bima sudah mengukung tubuhnya, dengan posisi di atas Maudy, dengan perlahan Bima memasukan sesuatu yang menurut Maudy besar tadi.
Satu kali coba, gagal.
Kedua, Maudy sudah meringis menahan sakitnya.
Ah sesusah inikah! Bima mulai bosan.
Dan yang ketiga, blus masuk ke dalam dan berhasil membobol gawang. Bima bergerak teratur, Maudy langsung mengeluarkan suara erangan yang membuat Bima sendiri menjadi lebih ingin bergerak liar.
"Aw, sakit Bim."
Bima melihat ke area penyatuan mereka.
Darah? Bima langsung melepasnya. Menarik juniornya keluar.
"Sayang, apa kamu sedang menstruasi?" Panik dan langsung mengambil tissue. Sementara Maudy, masih menahan sakit setelah Bima berhasil melakukannya.
"Sayang, ini darah."
"Sakit Bim." Lagi, dia mengaduh.
"Sakit? Sayang apa karena milikku terlalu besar sampai berdarah?" Maudy menggelengkan kepalanya sambil meringis. Untuk bergerak juga sakit.
"Lalu, kita ke dokter aja ya sekarang?" Mengambil kembali pakaiannya, memakainya dan membantu Maudy untuk duduk.
"Ayo, aku bantu kamu, kita ke dokter." Masih ngotot.
Gimana ya ampun cara bilangnya ke Bima!
"Bim, nggak! Kita nggak perlu ke dokter."
"Kenapa? Aku takut kamu kenapa-napa sayang." Mengelus puncak kepala Maudy. Tidak lagi n**su. Yang ada di pikiran Bima hanya rasa khawatir.
"Bim, ini tuh memang begini kalau pertama kali melakukan. Bima, kita kan udah belajar dulu kan?" Bima mengingat masa sekolahnya kembali.
"Tapi sayang, kan cuma di jelaskan kalau susah masuknya, bukan sampai keluar darah begini." Mengusap wajahnya dengan kasar. "Maaf ya sayang, ini semua gara-gara aku." Mengelus pipi Maudy dengan lembut.
Maudy ingin tertawa, tapi ini Bima sedang serius. Ya ampun, gimana sih. Harusnya sudah enak-enak malah begini, batinnya kesal.
"Ayo aku bantu kamu ke kamar mandi, setelah itu kita ke dokter." Maudy pasrah, biarlah nanti juga Bima yang malu.
***
"Jadi gimana dok, keadaan istri saya? Em, apa ada luka di bagian itu." Sebenarnya Bima sendiri malu, Maudy sudah menunduk tak berani menatap ke arah dokter yang wajahnya juga seperti menahan tawa.
"Apakah benar anda anak bapak Adi?" Bima jelas mengangguk. Tapi dia kecewa, bukan itu yang terpenting sekarang, yang dia mau penjelasan dokter.
"Selamat ya pak."Dahi Bima mengkerut, dia semakin bingung sekarang.
"Dokter, makasih sebelumnya karena anda sudah mengucap selamat untuk pernikahan saya. Tapi saya mau penjelasan mengenai keadaan istri saya sekarang."
Bima, ya ampun. Aku harus gimana Bima? Rasanya aku mau sembunyikan wajahku ke perut bumi.
"Iya, maksud saya itu selamat karena ternyata istri anda itu masih perawan." Menghela nafas dan kembali ke mode serius. "Begini, jadi seorang wanita yang memang masih tersegel atau suci, ketika melakukan penyatuan dia akan mengeluarkan darah. Itu sudah biasa dan tidak ada yang perlu di khawatirkan, soal rasa sakit yang di rasa istri anda itu sudah biasa. Semua wanita di dunia ini tetap akan merasakannya, untuk pertama kali melakukannya. Jadi, saya hanya memberikan obat pereda nyeri saja." Dokter lelaki yang umurnya juga sebaya dengan papanya itu berdiri dan menepuk bahu Bima. Maudy mendongak setelah dokter berbalik badan, tampak bahunya bergoyang tanda dokter juga tertawa.
"Kita pulang sayang?" Berbisik. Sepertinya Bima juga merasakan malu sekarang.
Sampai di dalam mobil, dan sudah mengambil obat yang di berikan dokter.
"Sayang, minum itu terus kita lanjutkan lagi di rumah." Maudy langsung menoleh, Bima tersenyum dan memainkan alisnya.
Dasar! Giliran aku udah nggak berselera baru!
__ADS_1
--__
Jangan ketawa ya! Memang gitu, karena Bima benar-benar buta soal **** wkwkkw