
Semua padangan berubah, perlakuan para guru juga. Bahkan semua mata memandang sejak Bima kembali datang ke sekolah pagi ini. Mungkin dengan hitungan jam kemarin semua gosip sudah menyebar siapa Bima dan berasal dari keluarga mana. Saat ini Bima hanya mampu berjalan sambil menunduk.
"Bim? Baru datang?" Sapa salah satu murid yang setara dengannya, hanya berbeda kelas. Dia adalah Tia, murid yang terkenal dengan kecantikannya.
Bima mengangguk. Iya, ia hanya menjawab dengan anggukan.
"Pulang sekolah kita nongkrong yuk, mau Bim?" Bima hanya menjawab dengan senyuman. Yang di takutkan terjadi, setelah identitas nya di ketahui semua orang pasti akan banyak orang-orang yang mendekat karena harta, harta orang tuanya.
Dari kejauhan Bima bisa melihat kalau Maudy duduk sendiri di bangku taman, tempat biasa dimana mereka duduk sebelum bel pelajaran berlangsung. Dengan memandang Bima yang sedang berjalan dengan Tia. Lebih tepatnya Tia yang terus mengikuti langkah Bima.
"Duluan ya." Masih menunduk.
"Sombong banget sih, mentang-mentang anak orang kaya." Gerutunya setelah Bima pergi.
Maudy tau, kini ia sadar kalau pacarnya ini istimewa. Tentu ada sedikit rasa minder pada dirinya saat ini.
Bima ikut duduk di samping Maudy setelah mempercepat langkahnya menjauhi siswi yang mengganggunya tadi. Tidak ada sapaan seperti biasanya, Maudy masih diam. Diam dengan melipat kedua tangannya. Masih memandang arah depan, bahkan tidak melirik Bima.
"Dy? Kenapa?"
Duduk dengan memiringkan tubuhnya, berusaha mengalihkan pandangan Maudy.
"Kamu istimewa ya Bim." Ya, saat ini hanya itu yang mampu Maudy ucapkan. Dan melirik Bima lalu membuang pandangannya lagi.
"Itu adalah salah satu alasan kenapa aku tidak mau orang-orang tau kalau aku adalah anak dari papaku. Terutama anak-anak sekolah ini." Suara dingin mulai terdengar.
Maudy diam dan tidak menjawab lagi.
"Sayang, kamu cemburu ya?" Secepat itu nada bicara nya berubah. Senyum langsung mengembang di wajah Bima.
Maudy berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kelas, tanpa menjawab perkataan Bima.
Bima mengikuti Maudy dan terus mengembangkan senyumnya.
Dalam perjalanan ke kelasnya saja yang hanya berjarak beberapa meter dari tempatnya duduk tadi, sudah banyak yang memanggilnya dan mengeluarkan senyum terindah mereka.
"Hai Bim."
"Bima, baru datang."
"Bima senyumnya manis sekali."
Tapi tidak ada satu pun yang di jawab olehnya, bahkan dilirik juga tidak. Hanya karena telinganya masih berfungsi dengan baik makannya Bima bisa mendengarnya dengan jelas. Ia acuh dan masuk ke kelas. Itu semua ia lakukan, hanya karena satu, malu!
"Sayang iya kan? Kamu cemburu kan?" Menggoda lagi. Ternyata ia mengejar Maudy hanya karena ingin mendapat jawabannya.
Rese tau nggak Bim. Iya aku cemburu! Baru kali ini aku cemburu sama kamu! Puas!!
"Seharusnya tadi aku mau aja di ajak nongkrong ya, pasti seru." Berbicara sendiri dan memainkan ponselnya, sengaja lah agar Maudy makin kepanasan.
Brak!!
Suara hantaman meja sangat keras. Sehingga siswa yang sudah berada di dalam kaget dan melihat siapa yang menghantamnya.
"Kamu bisa diam nggak Bim!!" Membentak dengan wajahnya yang memerah.
Wah ternyata kalau cemburu Maudy lebih galak.
Apa sih susahnya sayang tinggal bilang kalau kamu cemburu.
"Dy." Berbicara dengan lembut dan melihat seisi kelas yang kini menatap mereka. Ada yang berbisik dan ada yang fokus melihat mereka.
"Kenapa sampai pukul meja, tangan kamu nanti sakit."
"Hmm." Hanya itu.
"Dy?" Menarik tangan Maudy agar duduk kembali.
Tidak menjawab dan duduk kembali. Sampai pelajaran berlangsung, dan berlalu. Maudy masih diam. Kiki tidak masuk hari ini, mungkin sakit atau apa. Sehingga tidak ada teman yang bisa di ajak bicara olehnya selain Bima yang saat ini masih ia diamkan.
Tak terasa bel kembali berbunyi, tanda seluruh siswa harus mengakhiri pelajaran hari ini dan kembali pulang kerumah.
"Dy, tunggu." Menarik tangan Maudy ketika hendak meninggalkan kelas.
"Iya, kenapa lagi?" Dengan malas ia berbicara.
"Maaf, maaf aku tau kamu marah ya sama aku? Jangan diam begini, aku nggak bisa Dy."
"Iya, ya udah. Tuh udah ada yang nunggu kamu di depan." Menunjuk ke arah depan kelas, Tia sudah melambaikan tangannya dan siap menunggu Bima.
"Sayang tunggu." Menarik tangan lagi.
"Selamat kan aku lah, aku mohon. Aku nggak mau sama mereka. Apa kamu mau aku di culik sama mereka?"
__ADS_1
Berjalan tanpa menghiraukan lagi ocehan Bima. Bima seperti anak kecil yang membutuhkan perlindungan dari ibunya, ia berjalan di belakang Maudy. Menjadikan Maudy sebagai tamengnya.
"Bim ayo?" Tanpa menghiraukan Maudy yang menatapnya dengan tajam.
Ada hati yang terbakar tapi tidak berasap. Ada jemari tangan yang sudah tergenggam erat siap meninju siapa saja saat ini. Berdiri dengan memegang tasnya, melihat manusia yang tak tahu malu dengan berani mengajak pacarnya pergi di hadapannya.
Jadi gini ya kalau rasanya cemburu?
Dua setengah tahun, baru kali ini Maudy merasakan hal yang tidak pernah ia rasakan. Ada rasa takut kehilangan Bima, dan ada rasa takut Bima akan memilih wanita lain.
"Apa tadi Bima mau waktu kamu ajak? Apa tidak ada lelaki lain lagi disini yang jadi stok untuk kamu ajak keluar?" Perkataan pedas yang di ucap oleh Maudy.
"Idih, kenapa ini orang? Emangnya kamu siapa? Pacarnya? Haha, baru pacar kan? Memangnya kamu orang tua nya? Kok kamu yang sewot." Tertawa bersama teman-temannya yang lain.
Hampir saja, genggaman yang sudah siap meninju itu melayang, untungnya Bima mencegah.
"Maaf, tapi aku memang nggak boleh kemanapun setelah pulang sekolah. Dan itu sudah aturan dari orang tuaku." Penolakan yang langsung telak terdengar oleh Tia.
"Ayo sayang." Menarik tangan Maudy dan meninggalkan ketiga wanita yang mencoba untuk menggoda Bima.
Itu ya rasanya kalau di bela sama pacar? Kenapa kamu nggak tegas kayak gini sih Bim?
Hilang sudah rasa cemburu yang dirasakan Maudy, kini ia malah merasa senang karena Bima sempat membelanya dan menolak orang lain demi dirinya.
"Aku duluan ya, kamu bawa motor kan? Itu supir udah jemput." Menunjuk ke arah mobil yang menunggu di depan gerbang sekolah.
"Bim, tunggu. Maaf, aku memang cemburu."
Detak jantung Bima tak beraturan, rasanya senang kali mendengar Maudy mengatakan itu. Biasanya hanya dirinya yang selalu merasa kecemburuan setiap hari.
Kok malah senyum sih? Iya kan, Bima senyum? Aku kan lagi seirus nggak bercanda.
"Makasih ya?" Senyum terbaik ia keluarkan.
"Untuk apa?"
"Untuk kecemburuan kamu hari ini." Melambaikan tangan dan memasuki mobil.
Jadi dia senang kalau aku cemburu, ya ampun Bima. Kamu aneh ya.
***
"Ma." Tanpa mengganti seragam sekolahnya, bahkan tas juga masih menempel di punggungnya. Bima langsung masuk ke dalam kamar mamanya, melihat keadaan yang berangsur membaik semenjak kepulangannya. Tidak ada lagi tabung oksigen, tidak ada lagi alat lainnya. Dan hari ini, mamanya sudah bisa di lepas selang infusnya. Dokter hebat juga sudah tidak ada, hanya tinggal suster yang membatu masa pemulihan.
"Mama udah makan?" Mencium punggung tangan mamanya.
"Kamu kenapa belum ganti baju Bim? Mama udah makan kok."
"Iya mau langsung lihat mama. Ya udah Bima ke kamar dulu ya ma, ganti baju."
***
Seminggu berlalu, dan besok adalah hari pertunangan saudaranya, yaitu Rio. Rio di jodohkan dengan salah satu anak rekan bisnis papanya, karena Rio dan pihak besan juga tidak ada yang merasa keberatan. Maka, pertunangan akan segera di langsungkan.
Ini juga adalah salah satu hal yang di benci Bima. Harus mengikuti kemauan papanya, dan hal ini juga di takutkan oleh Bima. Karena takut suatu saat akan terjadi juga padanya dan ia tidak berani menolak. Apa lagi pergi dari rumah seperti waktu itu, tentu mamanya akan kembali drop.
"Pa, boleh nggak mama undang teman Bima yang waktu itu?" Berbicara ketika sudah selesai makan.
"Ma." Bima tidak mengharapkan itu, karena hanya akan menjadi masalah. Toh ini hanya pertunangan, bukan pernikahan, pikirnya.
"Ma, aku enggak mau ada keributan lagi." Bima berbicara tanpa memandang papanya.
"Kamu bicara apa Bim? Papa kan belum jawab. Ya udah ma, kalau mama mau undang mereka datang nggak masalah." Berdiri meninggalkan meja makan.
Kenapa bisa berubah secepat itu?
Pikiran yang sama, yang terpikir oleh ketiga makhluk yang masih duduk di meja makan.
"Ma, mama serius mau mengundang Maudy sama Kiki?"
"Iya, nanti kamu telepon mereka ya, biar mama yang ngomong."
Saat ini kondisi mamanya sudah sehat. Dan dia tidak melarang perjodohan ini karena anaknya sendiri tidak keberatan. Baginya, selagi anaknya masih mau ia akan mendukung, tapi jika itu karena paksaan ia akan siap membela walaupun harus bertengkar dengan suaminya.
"Makasih ya ma." Mendekat dan memeluk mamanya.
"Seneng banget sih Bim kalau Maudy mau datang."
Sindir Rio yang melihat senyum di wajah adiknya.
"Udah diem aja yang sebentar lagi punya calon."
Ke esokan harinya, rumah sudah di sulap seperti gedung yang memiliki dekorasi mewah. Bahkan juga lebih mewah dari gedung di acara pernikahan. Mungkin memang begitu kalau orang kaya ya, semuanya harus mewah dan elegan.
__ADS_1
Para tamu mulai berdatangan, tentu semua dari kalangan atas. Yang memang sederajat dengan keluarganya. Dua orang wanita muncul dari pintu, melihat ke kanan dan kiri seperti mencari sesuatu. Bima hanya tertawa melihat tingkah mereka dari kejauhan. Sebenarnya ia sangat ingin menyapanya sekarang, tapi ini belum waktunya. Nanti, ketika semua sudah sibuk melihat acara tukar cincin baru lah Bima bisa mendekati Maudy.
"Dimana om Adi ya Ki? Aku takut tau." Masih terus mencari melalui ekor matanya.
"Udah kita santai aja, kalau di usir ya kita pergi."
"Hus, kalau niatnya mau ngusir kenapa dia ngundang kita kesini!" Kesal dengan jawaban yang Kiki berikan.
Suara MC mulai terdengar, tanda kalau acara pertukaran cincin segera di mulai. Maudy dan Kiki duduk di sebelah meja hidangan. Yang menyediakan makanan mewah. Tidak seperti acara pertunangan orang biasa lainnya, yang paling ada juga rendang daging, itu juga udah mewah sekali.
"Ki, boleh ngambil itu nggak?"
Menunjuk puding yang berbetuk bunga.
"Kelihatannya enak Ki." Maudy menelan salivanya, seperti tak sabar ingin mencicipinya.
"Coba ambil aja." Memberi saran. "Eh tunggu Dy, setau aku sih kalau ikut papa aku gitu ke acara elite gini, sebelum MC nya bilang silahkan mencicipi hidangan yang ada, semua tamu belum ada yang makan. Nanti aja deh, kamu liat tuh. Mereka semua juga belum ada yang mengambil makanan kan? Tunggu aja lah, tahan dulu selera kamu, nanti kalau udah boleh, kamu minta plastik aja sama Bima. Biar kamu bisa bawa pulang."
Tertawa dengan ucapannya sendiri, dan langsung mendapat cubitan kecil dari Maudy.
"Ambil aja kalau mau, di makan sekarang juga nggak apa-apa kok, nggak akan ada yang larang." Suara lembut terdengar, mereka langsung menoleh karena memang merasa kenal dengan suaranya.
"Tante?" Pekik Maudy girang dan langsung memeluk Tante Lisa.
"Tante udah sehat?" Melepas pelukannya dan memandang wajah mama dari kekasihnya itu. Sangat terlihat cantik, dengan make up yang masih terbilang natural.
"Sudah. Kalian sudah dari tadi?"
"Sudah Tante, Tante cantik sekali hari ini, hehe." Puji Maudy dengan tulus.
Ah mulai gombal nih Maudy sama Tante Lisa.
"Masak sih, kalian juga cantik kok?" Berbalik memuji, tapi arah tatapannya hanya memandang ke arah Maudy.
"Bima mana Tante?" Kiki bertanya, mewakili Maudy yang memang saat ini juga mencari keberadaan kekasihnya.
"Di sana, apa Bima belum menyapa kalian?" Sontak menjawab dengan menggeleng.
"Tapi tadi dia yang kasih tau Tante kalau kalian udah datang, makannya Tante nyari, taunya kalian disini."
Apa! Jadi Bima beneran tau kita datang? Tapi dia enggak nyamperin? Kebiasaan deh, iya pasti karena malu banyak orang.
"Ya udah, makan aja kalau kalian mau makan. Tante tinggal kesana dulu ya." Berjalan meninggalkan dua manusia yang sama-sama emosi mendengar Tante Lisa bicara, kalau Bima sebenarnya tau mereka sudah datang.
*Awas aja kamu ya Bim.
Dasar Bima ih, pacarnya datang enggak di sambut*.
Acara yang di tunggu-tunggu pun segera di mulai. Semua tamu sudah berdiri untuk melihat. Tapi Maudy dan Kiki tampak berjinjit, karena posisi mereka saat ini di paling belakang.
Tiba-tiba suara tepuk tangan meriah terdengar.
"Udah mulai ya Ki?"
"Udah selesai kali Dy, itu." Tunjuk nya kepada tamu yang kembali duduk dan terlihat dua insan berdiri memamerkan cincin di jari manisnya.
Kedua keluarga akan melakukan sesi photo. Keluarga Rio, mama, papa dan Bima tampak mendekat untuk berphoto. Dan di susul dari keluarga wanita, tapi hanya kedua orang tuanya saja, mungkin ia anak satu-satunya.
"Gila Bima ganteng banget Dy." Menyenggol lengan Maudy untuk segera melihat ke depan.
Padahal saat ini, Maudy tidak berkedip melihat kekasihnya memakai jas rapi seperti yang di gunakan mas Rio dan juga papanya.
Ya ampun, Bima kamu ganteng banget, sumpah. Nggak bayangin kalau nanti kamu jadi pimpinan.
"Dy." Menoleh ke arah Maudy yang sedari tadi diam. "Ya ampun, aku kira kamu nggak liat, ternyata udah mau jatuh aja itu air liur nya."
Maudy hanya menjawab dengan senyuman tanpa mengalihkan pandangannya. Setelah selesai, kedua keluarga kembali turun. Maudy dan Kiki juga sudah merasa bosan, mau makan juga yang lain belum ada yang makan.
"Laper tau nggak Ki." Berbisik di telinga Kiki.
"Sama."
Tak terasa acara selesai, Maudy juga nggak rewel karena perutnya telah terisi, dan Bima juga sudah duduk di sampingnya saat ini. Mungkin ia berani karena papanya sibuk berbicara dengan semua tamunya.
Epilog.
"Bu, ini cocok nggak?" Mencoba baju yang ada di lemari, semuanya sudah ia coba.
"Menurut ibu sih udah." Mengeluh lagi.
"Bu, bukan masalah cocok atau nggak nya, maksudnya tuh aku terlihat cantik Tidak, gitu loh Bu." Duduk dengan kesal di atas kasurnya. Sudah lelah memilih baju, satu lemari juga ia keluarkan, tapi memang tidak ada pakaian yang bergaya seperti wanita.
Tidak ada pilihan lain, Maudy menelpon Kiki agar di bawakan baju yang cocok untuknya. Kalau Kiki tidak usah di tanya, pasti banyak lah baju cantik dan juga mewah.
__ADS_1
Bersiap akan datang ke acara pertunangan mas Rio.
--__