
Udara yang berbeda dari negara kelahirannya, dingin itu suasana malam ini. Bima menggunakan syal di lehernya, begitu juga dengan Revan. Mereka berjalan memasuki sebuah gedung yang akan menjadi pertemuan mereka dengan rekan bisnisnya, bisa di bilang mereka juga mengadakan pesta kecil disini.
Inilah hal yang selalu di hindari Bima, ada alasan kenapa dia selalu menolak untuk datang kesini meskipun mengatas namakan pekerjaan.
"Silahkan tuan." Para penjaga menyambut dengan menunduk hormat. Revan berjalan di samping Bima, penampilannya juga tak kalah menarik dengan Bima.
Matanya mencari dimana meja khusus untuknya. Dan lambaian tangan seorang wanita muda berhasil mengalihkan perhatiannya. Bukan Bima, lebih tepatnya Revan.
"Pak itu bukan yang disana?" Menunjuk ke arah arah meja yang memang tinggal dua kursi lagi yang masih kosong.
"Ayo?" Revan mengangguk.
Mata Revan masih menatap ke arah semua orang yang saat ini menjadi rekan bisnis Bima. Semuanya sudah terlihat tua, dan hanya Bima juga seorang wanita yang melambaikan tangan tadi.
"Selamat malam pak Bima, silahkan duduk." Bima tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana pak? Kita akan melaksanakan pesta malam ini, apa bapak mau alkohol?" Bima langsung menolak.
"Ini siapa pak? Sekretaris bapak?" Wanita itu bertanya dan menunjuk ke arah Revan.
"Bukan, dia staf yang memiliki kinerja bagus. Dan saya berniat mengajaknya agar wawasannya semakin luas." Mereka semua manggut-manggut.
Revan masih tercengang kala wanita itu terus saja mengajak bicara Bima dengan suara manjanya, menempel seperti tidak tau malunya. Terlihat jelas jika Bima merasa risih.
"Sebaiknya langsung kita lakukan pembahasan soal perusahaan kita pak." Bima langsung ke intinya, agar Celine, berhenti untuk bertanya dengannya. Ya, wanita muda itu bernama Celine. Sebelum Bima menikah juga dia selalu menganggu, mungkin memang begitu tipikal wanita di luar negeri ini.
Celine, adalah pewaris tunggal perusahaan orang tuanya, sejak masih papanya yang memimpin mereka sudah melakukan kerja sama. Hal yang sangat tak bisa di hindari oleh Bima.
"Semuanya baik pak, perkembangan baik, hanya ada satu kendala."
"Apa itu pak?"
"Bahan baku selaku terlambat masuk, sehingga semua karyawan harus libur jika bahan tidak ada. Itu bisa memengaruhi keuntungan kita nantinya pak." Bima mengerutkan keningnya.
"Tapi saya selalu mengirimkan bahan baku tepat waktu." Benar, memang begitu kan. Setahu Bima semua sudah di pastikan memang tidak ada masalah.
"Revan, apa kamu pernah mendengar tentang ini di kantor?" Berbisik, dan Revan menggeleng.
"Begini saja pak, besok kita langsung menuju ke pabrik." Lagi-lagi Celine memberi usul.
"Saya setuju itu pak Bima." Dan yang lain tampaknya mendukung.
Aku harus menanyakan papa tentang hal ini, apa papa juga pernah mengalaminya dulu.
Minuman alkohol sudah tersedia di atas meja, dan juga ada lilin di setiap sudut meja, membuat kesan cantik dan mewah.
"Silahkan pak." Dengan nada manja Celine mengatakannya.
Bima menolak dengan bahasa tangannya.
"Maaf, saya tidak minum itu."
"Oh baik, saya akan pesankan minuman lain yang cocok untuk udara malam ini." Bima mengangguk lalu menoleh ke arah Revan.
"Katakan jika kamu juga risih berada disini." Bima mengatakan itu tanpa berbisik kali ini, karena rekan lain juga tidak akan tau bahasa mereka.
"Sama seperti bapak." Revan tersenyum.
"Saya salut dengan pak Bima, walau masih muda tapi sudah bisa memimpin perusahaan, menggantikan orang tua anda, dan ternyata kemajuan juga terlihat." Bima mengangguk dan mengucapkan terima kasih.
Loh, tadi bukannya bilang kalau ada kendala bahan baku, bukan kah itu juga sama dengan namanya penurunan.
Batin Revan.
Celine sengaja membuka kardigan yang tadi ia pakai, mengibaskan rambut pirangnya seolah-olah mencari perhatian, tapi tak sedikitpun Bima meliriknya, malah Revan yang membulatakn matanya, ini hal yang pertama kali ia lihat secara langsung. Sampai menelan salivanya, bukan karena naf su, tapi lebih terlihat kaget dan heran, melihat reaksi para lelaki disini biasa saja, termasuk Bima.
__ADS_1
Gila ini gila!
"Revan, kamu disini dulu ya. Saya mau ke kamar mandi." Bima bangkit dari duduknya.
"Mau kemana pak?" Celine bertanya.
"Saya mau ke kamar mandi sebentar." Mereka semua mengangguk. Kini tinggal Revan yang menjadi kacung kampret, tidak sama sekali di ajak bicara oleh mereka, sekarang dia tau serendah apa posisinya jika di bandingkan para pengusaha sukses baik dalam negeri ataupun diluar negeri.
Selang beberapa menit Bima kembali, dan langsung pamit untuk mengakhiri pertemuan malam ini. Dan besok, saatnya meninjau langsung ke pabrik bersama mereka semua, yang berjumlah 6 orang termasuk dirinya.
"Hati-hati pak." Mereka mengucapkan dengan bergantian, lalu setelahnya Bima pergi, sepertinya mereka mulai pesta alkohol.
***
"Kamu tau kan, ini alasan saya kenapa tidak ingin pergi keluar negeri, meski dengan alasan untuk membahas masalah kerja, tapi tetap saja. Kamu bisa lihat sendiri kan, mereka bahkan tidak banyak membahas masalah kerja." Revan menyimpulkan segala sesuatu yang ia tau dan lihat beberapa jam lalu.
"Yang wanita tadi siapa pak?" Revan malah menanyakan hal yang membuatnya risih.
"Dia pemilik salah satu pabrik yang bergerak di pertambangan juga, tapi kami melakukan kerja sama karena kita menjual bahan baku padanya, dan yang lain adalah penanam saham terbesar di setiap perusahaan, baik perusahaan saya yang berada disini ataupun di Indonesia." Revan manggut-manggut.
"Kenapa? Kamu naksir dia?" Revan langsung menoleh.
"Tidak pak, cuma heran, sepertinya dia yang naksir bapak."
Tebakan kamu benar.
"Saya tidak tertarik, meskipun dia tak memakai sehelai benangpun."
Apa pak Bima nggak waras?
Membayangkan body yang di miliki Celine, tinggi, putih, bola mata yang berwana biru, dan rambut pirang sebahu. Ah sudah bisa di katakan sempurna, hanya saja kelakuannya yang jauh dari kata sempurna.
"Dia sudah berkali-kali menganggu saya, bahkan sebelum saya menikah." Revan diam mendengarkan. "Tapi saya sama sekali tidak tertarik bagaimana pun bentuknya, tetap hanya ada satu wanita yang saya cintai, istri saya." Revan langsung menggeleng kagum mendengarnya. Melihat layar belakang istri atasannya, yang beredar di kalangan masyarakat ataupun karyawan kantor. Bukan terlahir dari keluarga kaya, tetapi mampu menaklukkan Bima, dan berhasil menguasai hatinya.
"Kenapa? Kamu meragukan saya?" Bima melihat ke arah Revan.
"Kamu sering mendapat bonus, kamu apakan uang itu?" Bima masih bertanya sambil berjalan menuju kamar hotel.
"Sebagian saya tabung untuk membangun rumah pak, sebagian lagi saya buat untuk pengobatan orang gua saya." Bima mengentikan langkahnya.
"Orang tua kamu sakit?" Revan mengangguk.
"Iya pak, beliau mengidap kanker."
"Istirahat lah, besok pagi kita akan pergi." Revan mengangguk lalu masuk ke kamar tepat di sebelah kamar Bima. Dan kamar mereka juga mempunyai pintu penghubung di tengahnya. Itu Bima yang meminta, agar mudah untuk memanggil Revan ketika akan membahas masalah apapun.
***
"Sayang? Kamu lagi apa?" Bima menelpon istrinya sebelum memejamkan mata.
"Ini lagi duduk di tepi kolam renang Bim, resto nggak terlalu ramai soalnya."
"Kamu sudah makan?"
"Sudah Bim. Kamu lelah ya? Tidur aja Bim, aku tau kamu pasti lelah habis menghadapi rekan bisnis kamu."
Bima malah tertawa kecil, padahal tidak ada yang lucu sama sekali.
"Bim, disana nggak ada yang ganggu kamu kan? Maksudnya nggak ada yang menggoda kamu kan?"
"Nggak ada sayang?" Lebih baik berbohong demi kebaikan. "Ya udah, kamu jaga kesehatan ya, jaga calon anak kita, aku istirahat dulu ya sayang."
"Iya papa." Bima kembali tersenyum sebelum benar-benar memejamkan matanya.
Papa, seperti apa anakku nanti ya, apa rasanya jika sudah mendengar anakku memanggil papa.
__ADS_1
***
Suasana kota di pagi hari, banyaknya orang-orang dengan berbagai macam wajah berolahraga di pagi ini, mengajaknya anaknya sambil tertawa lepas. Siapapun yang melihat pasti akan menghangat hatinya.
"Kita berangkat sekarang pak?" Bima mengangguk. Dan kali ini tidak menggunakan taxi, karena salah satu dari rekan bisnisnya sengaja mengirimkan supir untuk menjemputnya.
"Jalan pak." Ucap Bima ketika sudah di pastikan mereka duduk di dalam mobil.
Jalanan tampak lengang, dengan suasana kota yang memperlihatkan gedung-gedung besar dan menjulang tinggi. Kota bersih bebas sampah, ah rasanya mata juga sehat melihatnya.
Hingga 30 menit perjalanan, mereka sampai di sebuah pabrik. Sepi, karena semua pekerja sudah berada di dalam. Bima turun dan mengatakan kepada securitty kalau sudah ada janji, di ikuti oleh Revan mereka berjalan masuk kedalam.
"Selamat pagi pak Bima." Celine sudah berdiri di hadapannya. "Apa supir yang saya perintahkan menjemput bapak tepat waktu?"
"Oh jadi ini supir kamu yang mengirimkan, kalau begitu terima kasih." Celine tersenyum.
"Ayo pak, yang lain juga sudah datang. Mereka ada disana." Menarik tangan Bima.
"Maaf, saya bisa jalan tanpa harus di gandeng." Raut wajah Celine langsung berubah. Revan tampak menahan tawa sambil terus mengikuti langkah kedua orang yang ada di depannya.
Pak Bima benar-benar bisa menjaga hati untuk istrinya, aku jadi ingin sepertinya, menjadi lelaki setia untuk wanita spesial di kehidupan ku. Ah salahnya belum ada!
"Ini pak, ini bagian yang pertama di olah." Menunjuk sebuah ruangan yang terdengar suara mesin di dalamnya. "Apa bapak mau melihatnya?" Bima menggeleng dan terus saja berjalan.
Hingga sampai di ruang pertemuan, baik itu manager pabrik dan staf lain yang memiliki pengaruh besar disini.
"Bagaimana, apa kendala dari pabrik? Apakah benar ada kendala bahan baku yang kami kirim?" Bima langsung bertanya ke intinya.
"Tidak pak, sejauh ini baik, hanya terlambat satu hari saja. Itu juga baru terjadi sekali ini." Bima langsung menatap tajam ke arah Celine. Tapi dia malah membalas dengan senyuman, seolah tidak mempunyai rasa bersalah.
"Bukan kah kamu mengatakan kalau ini ada kendala?" Celine mengangguk.
"Memang pak, ini baru terjadi satu kali, tapi saya takut kalau bisa terjadi seterusnya."
"Bagaimana pendapat kalian?" Bima bertanya kepada rekan bisnisnya yang lain.
"Saya tidak masalah, asalkan semua masih bisa di atasi." Yang lain juga begitu, tapi kelihatannya Celine masih bisa bersikap tenang.
Hingga setengah jam membahas keluhan masing-masing, Bima langsung memutuskan keluar. Baginya ini hanya masalah kecil, kenapa juga dia harus sampai datang kesini.
Dengan perasaan kesal Bima terus berjalan keluar area pabrik, wajahnya berubah dingin. Merasa di bodohi oleh sesama rekan bisnisnya.
"Pak Bima tunggu." Celine mempercepat langkahnya. "Pak, apa anda langsung mau pulang?" Bima hanya menoleh dan mengangguk.
"Bima?" Memeluk Bima dari belakang, Bima langsung melepaskan tangan Celine yang melingkar di pinggangnya, Revan membuang pandangannya ke arah lain. Ini memalukan, bahkan berada di pinggir jalan. Pikirnya.
Tapi anehnya semua orang malah terlihat santai melihat adegan ini. Apa memang begini sikap orang luar negeri? Batinnya.
"Tolong jaga sikap anda!!" Bima membentak dan wajahnya memerah. "Saya bisa saja mengentikan kerja sama kita, masih banyak yang mau bekerja sama dengan perusahaan saya!" Celine terdiam.
"Bim, kenapa sih kamu nggak mau sama aku?" Bima diam.
"Tolong jaga sikap anda saya bilang!" Kesal, emosi, semua sudah campur jadi satu. Merasa di permainkan, mengatasnamakan urusan kerjaan hingga rela meninggalkan istrinya yang tengah hamil. Dan ternyata hanya akal-akalannya saja, dengan bodohnya rekan bisnis yang lain juga mau.
"Ayo Revan." Bima mengentikan taxi dan meninggalkan Celine yang masih berdiri mematung.
"Kita pulang sekarang ke Indonesia." Revan hanya mengangguk meskipun hatinya masih bertanya-tanya.
"Pak, apa bapak serius akan menghentikan kerja sama ini? Bukan kah ini sudah berlangsung sejak papa anda yang memimpin perusahaan?"
Bima hanya menjawab dengan anggukan.
"Bila perlu tidak usah ada lagi kerja sama dengan mereka." Revan langsung terdiam.
Dan Bima, benar-benar memesan tiket untuk pulang hari ini juga. Ini semua akan ia ceritakan kepada papanya, meminta keputusan yang tepat untuk hal ini.
__ADS_1
--__