Dia Bimaku

Dia Bimaku
Permintaan Bima


__ADS_3

Mata Maudy sudah nampak berkaca-kaca saat ini. Ini adalah kejutan terindah selama hidupnya, karena orang-orang yang ia sayang semuanya berkumpul, tidak terbayangkan olehnya jika di tahun depan ia akan merayakan ulang tahunnya sendiri. Mungkin ini juga akan di namakan dengan kenangan.


"Dy, selamat ulang tahun ya nak?" Pelukan tante Lisa yang sangat tulus di rasakan Maudy saat ini. Ibunya tersenyum, melihat putrinya banyak di sayangi orang lain.


Semua bergilir, mengucapkan selamat dan mendoakan kebaikan untuk hidup Maudy. Hanya satu orang yang ia tunggu, siapa lagi jika bukan Bima.


"Nih suapan pertama dari ibu." Bolu sudah di potong, dan Maudy siap membuka mulut, setelah pelukan ternyata suapan juga bergilir.


Bisa meletus ini perutku.


"Dy ini kado dari tante, semoga kamu suka ya?" Sebuah kotak kecil di berikan kepada Maudy. Pemberian dari mamanya Bima.


"Ibu sama ayah nggak usah kasih kado ya, soalnya kadonya susah nggak bisa di bungkus?" Ucap ayahnya.


"Emang apa yah?" Maudy penasaran.


"Tuh kadonya lagi di dapur."


Apa? Bima? Maksud ayah kado dari ayah sama ibu Bima gitu? ih.


"Ini kado dari tante, om sama Kiki ya Dy." Kiki tersenyum ke arahnya. Kali ini tidak di bungkus istimewa, tapi sudah kelihatan. Dari tas yang di berikan, sebuah merk terkenal terpampang tertulis di depan. Sudah di pastikan kalau itu mahal harganya.


"Urusan kita belum selesai." Berbisik di telinga Kiki. Kiki langsung menelan salivanya.


"Kita makan dulu ya? Setelah itu kita photo bersama. Biar bisa di lihat Maudy nanti kalau rindu sama kita." Usul ibunya.


Ibu, kenapa harus bahas itu sih padahal sekarang momen terindah.


"Dy, kamu panggil Bima gih di belakang. Pasti dia nunggu kamu." Pinta ibunya lagi. Tanpa bisa menolak Maudy berjalan ke belakang.


Awas aja! Siap-siap kamu Bim. Bakal aku uleg pakai gilingan cabai ibu.


Semua sudah duduk di meja makan hanya tinggal menunggu Maudy kembali bersama Bima.


"Semua udah nunggu kamu di depan, pada mau makan." Bicara dengan cueknya.


Mata Bima langsung berbinar melihat kekasihnya datang.


"Sayang." Ucapnya, lalu berdiri dari kursi kayu yang biasa Maudy duduk jika menemani ibunya masak.


"Ini buat kamu." Menyerahkan gitar yang berada di dalam tas.


"Makasih." Menerima lalu pergi.


"Sayang tunggu." Menarik tangan Maudy.


"Maaf, maaf aku udah kerjain kamu sampai segininya." Berbicara dengan suara manjanya.


"Semua udah berakhir, dan soal itu aku anggap serius." Berjalan dan melepaskan tangannya dari Bima.


Gantian aku kerjain kamu Bim!


Bima mematung, bahkan kakinya melemas saat ini. Menyesal juga percuma, semua sudah terjadi.


Ah bodoh, kenapa aku buat kayak gini sih.


"Mana Bima Dy?" Tanya ibunya setelah melihat Maudy kembali tidak bersama Bima.


Wah pasti habis perang nih di dapur.


Kiki menunduk menahan tawanya.


"Sebentar lagi nyusul bu. Tadi lagi ke kamar mandi dia." Duduk di sebelah ibu dan ayahnya.


Bohong tante, Maudy pasti bohong. Palingan Bima lagi nangis di belakang.


"Bim, kenapa lama? Ayo kita makan?" Mamanya langsung menyambutnya.


Semua makan dengan sesekali membahas masalah mereka. Berbicara dengan tawa, walau saat ini sedang makan tapi keadaan tidak hening seperti etika makan di rumah Bima.


Bima sesekali mencuri pandang, tapi Maudy tidak menghiraukannya. Berpura-pura tidak tau saja.


Selesai makan, sesuai kesepakatan mereka photo bersama. Kiki yang menjadi kang photo. Haha, kasian sekali. Sebenarnya sangat ingin Bima mengatakan kalau ia mau meminta photo berdua dengan Maudy, tetapi rasa malunya membuatnya tidak mampu mengucapkan semua itu. Lagian Maudy juga terlihat cuek, seperti tidak menganggapnya ada disini.


Hari mulai gelap, mereka segera pamit untuk pulang ke rumahnya masing-masing.


"Mbak, aku pulang ya?" Pamit kepada tuan rumahnya.


"Iya, makasih banyak loh mbak. Ya ampun, sampai repot-repot dari siang bantu masak." Mengucapkan dengan tulus kepada calon besannya.


"Dy, Tante pulang ya? Kamu sehat-sehat." Memeluk Maudy dengan kehangatan.


"Tante, makasih ya?" Selama mereka bersama disini, Bima dan Maudy sama sekali tidak ada berbicara. Bima hanya mampu menunduk. Ia juga bingung harus ngomong apa, pasalnya semua berkumpul disini.


"Ma, boleh nggak aku nanti pulang nya? Biar Kiki nanti yang antar aku ma?" Berbisik di telinga mamanya.

__ADS_1


"Ki, kita nanti aja pulangnya mau nggak? Tolong lah Ki, bantu aku. Aku harus bicara sama Maudy."


Langsung mengirim pesan ke Kiki.


Kiki membacanya dengan cekikikan.


"Kenapa Ki?" Tanya mamanya.


"Nggak ma, ada kecoa lucu banget." Menahan tawanya.


Sial*n aku di bilang kecoa lagi!


"Mana ada kecoa yang lucu Ki?" Ucap ayahnya Maudy.


***


Rumah kembali sepi. Semua sudah pulang, sesuai rencana karena Kiki memang mengerti posisi Bima saat ini, ia mengalah tidak ikut pulang bersama orang tuanya. Dengan alasan akan meminta maaf karena sudah mengerjai Maudy hari ini.


Mereka duduk di luar teras, ibu dan ayahnya sudah masuk ke kamar. Mungkin lelah satu harian menyiapkan semua kejutan untuknya. Sementara Tisha meminta ijin keluar ke rumah temannya yang berada tidak jauh dari rumah mereka.


Belum ada yang memulai pembicaraan, semua masih fokus dengan ponselnya masing-masing. Kiki sudah menendang kaki Bima, memberi kode untuk segera mengatakan apa yang ingin ia katakan. Dan Bima menarik nafas, siap untuk berbicara dengan Maudy.


"Dy?" Ucapnya lembut dan menggapai tangan Maudy.


"Hem." Tidak mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Sayang, maaf. Aku hanya bercanda?" Maudy masih diam.


"Aku tunggu kamu di mobil ya Bim." Kiki bangkit dari duduknya. Sengaja memberi waktu untuk mereka berbicara berdua.


"Kamu tau nggak Bim. Bagi aku itu semuanya serius." Berbicara tanpa menatap Bima.


Aku akan berlutut sekarang!


"Kamu ngapain?" Melihat Bima sudah siap untuk berlutut.


"Maaf, maafin aku Dy. Semua aku lakuin supaya jadi kejutan, maaf. Aku menyesal, mana mungkin aku bisa mutusin kamu. Maaf." Dan Bima benar-benar berlutut.


"Bim, berdiri nggak? Kalo ada yang tau gimana?" Panik sendiri melihat Bima nekat seperti ini.


"Iya-iya aku maafin kamu, udah berdiri sekarang." Menarik paksa lengan Bima.


"Beneran?" Wajahnya berbinar, secepat itu bisa berubah ekspresi.


"Hem." Melipat kedua tangannya di dada.


Saat ini mereka sudah berdiri dengan saling berhadapan.


"Sini." Bima menarik tangan Maudy dan menggenggamnya.


"Maaf ya, hehe. Aku kasih kamu gitar, kamu simpan ya? Suatu saat kalau kamu balik dari luar negeri, kalau suara gitarnya masih bagus, itu tandanya cinta aku ke kamu juga masih tetap sama. Tidak akan berubah walau bertahun lamanya kita berpisah. Maaf ya, sekali lagi maaf." Ingin memeluk Maudy tapi ia urungkan, karena ini di luar, takut ada yang melihatnya.


Ponsel Maudy tiba-tiba berdering, menganggu suasana saat ini.


"Sebentar." Ucapnya lalu mengangkat panggilan yang masuk.


"Ya Hallo?"


"Oh iya. Iya aku udah di rumah kok." Duduk kembali ke posisi semula. Dan Bima diam menatapnya.


"Enggak, nanti aja ya teleponnya. Aku di panggil ibuku." Telepon sudah terputus. Bima langsung mendekat.


"Siapa?" Bertanya dengan pandangan menelisik.


"Agam." Menjawab dengan santai.


Agam? Apa lelaki yang waktu itu di taman?


"Kenapa? Kenapa dia bisa nelepon kamu? Bukan kah nomornya sudah di blokir? Lalu, sekarang kenapa bisa?" Suaranya berubah dingin.


"Iya tadi jumpa waktu nonton bioskop-"


"Jadi kamu nonton sama dia?" Langsung memotong perkataan Maudy.


Kenapa wajah Bima memerah sekarang? Apa dia bakal ngamuk seperti waktu itu.


"Nggak, kita juga nggak sengaja jumpa kok. Lagian kan ini salah kamu Bim, kamu mutusin aku. Mana aku tau kalau ini hanya kejutan." Tidak mau di salahkan. Bima hanya diam, ia duduk dengan meremas tangannya sendiri. Wajahnya sudah berbuah dingin, tidak seperti beberapa menit lalu.


"Bim? Kamu marah?" Bertanya setelah melihat Bima diam.


"Bim?" Panggilnya ulang.


"Aku pulang." Hanya itu yang di katakan Bima.


"Bim! Jangan egois, ini semua kamu yang mulai." Bima menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tapi semua aku lakukan demi kamu, kejutan buat kamu. Tapi tidak dengan mu, sepertinya memang kamu niat balas dendam. Aku disini satu harian buat nyiapkan kejutan kamu, kamu malah enak-enakan jalan sama laki-laki lain. Aku sakit Dy." Bima meneteskan air matanya.


Dengan lembut Maudy menariknya agar kembali duduk.


"Bim, bisa nggak mulai sekarang nilai sesuatu itu dengan pintar. Jangan apa-apa langsung marah, kamu bilang semalam kalau kamu udah dewasa kan? Aku tau kamu cemburu saat ini, tapi ini semua udah konsekuensi dari tindakan kamu. Semua perbuatan itu memiliki resiko Bim. Kamu benar, apa yang di katakan kamu waktu di taman memang benar. Jika tidak ada kamu di samping aku, aku tidak memiliki alasan untuk menolaknya jika meminta nomor telepon ku." Wajah Bima sedikit berubah.


"Yang terpenting aku kan nggak Wellcome, aku nggak buka hati buat orang lain Bim. Percaya lah saat ini masih kamu, walau semalam aku sempat kecewa. Yang penting aku tau, kalau semua itu kamu lakukan karena ngerjain aku. Iya aku akuin aku juga nggak bisa tanpa kamu. Walau itu hanya sehari, biar lah kita nantinya terpisah jarak dan waktu, asal status hubungan kita masih sama." Akhirnya Maudy yang kuat melemah dan mengakui isi hatinya saat ini.


"Kamu serius?" Bima tidak berkedip menatap Maudy.


"Iya, udah sana pulang. Kiki udah garing nunggu kamu di mobil."


"Ah sayang. Cium gitu kek." Mulai lagi.


"Setelah dewasa pikiran kamu tambah mesum ya Bim?" Bima tersenyum.


"Aku udah pelajari itu semua sayang, bahkan aku udah lihat videonya." Spontan Maudy memukul lengan Bima.


Benar apa yang di katakan Kiki, hanya hitungan menit, detik atau jam. Jika mereka bertengkar akan kembali akur.


"Aku mau praktekan itu sama kamu." Masih membahasnya.


"Kamu mau kapan?" Maudy menantangnya balik.


"Tepat di malam sebelum kamu pergi." Berbisik di telinga Maudy.


"Aku merinding Bim." Menunjukan bulu kuduknya yang berdiri.


"Dy, aku serius." Memaksa Maudy menatap matanya. "Aku serius. Aku mau buat kamu jadi milik aku selamanya. Aku mau lakukan itu, biar kamu tetap sama aku sampai kamu kembali nanti."


"Gila kamu Bim. Kalau aku hamil gimana?" Berbicara dengan mengeratkan giginya. Lalu melihat ke kanan dan ke kiri takut kalau tiba-tiba orang tuanya datang.


"Nggak, aku janji. Aku udah pelajari itu supaya kamu nggak hamil nanti? Kamu mau kan? Aku terpaksa lakuin ini, supaya kamu tetap sama aku Dy." Masih dengan kemauannya.


"Kamu belajar dimana sih Bim? Apa yang yakinkan kamu kalau setelah melakukan itu aku bakal tetap sama kamu?"


"Aku baca di novel sayang, semua wanita yang udah di renggut kesuciannya pasti bakal kembali sama lelakinya. Aku udah baca beberapa dan semuanya juga sama." Berbicara dengan sangat percaya diri.


"Bima! Itu kan hanya ada di novel, cerita yang nggak nyata? Kamu apaan sih. Kenapa kamu jadi begini sih. Enggak aku nggak mau, semuanya bakal aku aku serahkan sama suami aku nantinya!"


"Berarti kamu nggak yakin kalau jodoh kamu itu aku?"


"Bukan begitu Bim, tapi semua sudah ada yang ngatur. Gimana kalau setelah aku balik ternyata kamu udah di jodohin sama papa kamu? Gimana? Gimana nasib aku nanti?" Berbicara dan menggoyangkan lengan Bima.


"Aku anggap omongan kamu ini hanya bercanda Bim." Melipat kembali tangannya di dada. Dan membuang pandangannya dari Bima.


"Aku serius titik. Pokoknya aku serius." Masih tetap kekeuh dengan kemauannya.


Aku tau Bim kamu sayang sama aku, kamu cinta sama aku, tapi bukan berarti seperti ini Bim. Kamu seperti sangat terobsesi sama aku. Aku takut, ih nggak kebayang kalau lakuin ini sebelum kita menikah.


"Dy?" Panggilnya lagi. Masih berusaha membujuk Maudy.


"Kalau kamu mau, lakukan nanti malam!" Langsung menantang Bima.


"Ha? Gimana caranya?" Bima kaget.


"Kenapa? Bukankah kamu yang mau, sekarang saat aku mau, kenapa malah kamu tanya gimana caranya? Bukan kah kamu bilang kamu udah belajar?" Bima menunduk seperti memikirkan sesuatu.


"Udah lah Bim. Jangan bahas ini lagi ku mohon." Wajah Maudy berubah jutek.


"Bim? Coba kamu pikir berapa lama aku nunggu kamu di mobil?" Kiki datang dan langsung menggerutu.


"Apa belum kelar juga? Ya ampun!" Menarik paksa lengan Bima agar segera pulang.


Selamat, Kiki memang Dewi penyelamat ku hari ini.


"Sebentar Ki, ih ganggu aja. Masih ada yang harus aku bahas sama Maudy." Mengibaskan tangannya dari Kiki.


"Jangan pegang-pegang aku Ki, bahaya." Ucapnya dan membulatkan mata, Kiki hanya mendengus lalu membersihkan tangannya sehabis menyentuh Bima.


"Aku rasa udah selesai Bim. Udah kamu pulang sekarang. Kasian Kiki dia capek." Bima bimbang, pasalnya memang benar dan lagian, nggak mungkin bahas masalah itu lagi sementara ada Kiki disini.


"Loh, kalian belum pulang?" Ibunya keluar melihat mereka. Mungkin terganggu karena ada suara ribut-ribut di luar.


"Ini mau pulang kok bu." Terpaksa Bima mengatakan itu.


"Pamit ya bu." Menyalim tangan dengan sopan. Terbiasa mengikuti Maudy.


"Tante, kami balik ya?"


"Iya, kalian hati-hati ya?" Melambaikan tangan setelah mereka berjalan.


Sementara Maudy memainkan alisnya dengan menatap Bima, Dan Bima hanya mendengus merasa permintaannya kali ini ditolak.


Dengan rasa malas Bima masuk ke mobil Kiki, siap untuk pulang ke rumah. Dan berdoa papanya belum sampai di rumah, jika memang sudah sampai, Bima berharap penyelamatnya sudah siap membantu, yaitu mamanya sendiri.

__ADS_1


--__


__ADS_2