
Luna
Aku datang kerumah sakit memang berniat untuk menjenguk kak Siska, kakak ipar dari Bima. Tidak ada niatan lain, dan soal perasaanku, maaf, aku tidak cinta pada Bima. Ternyata aku hanya terobsesi saja, tapi untuk mengenalnya lebih jauh saja tidak bisa. Bima seperti memberi tembok pembatas yang sangat tinggi, sehingga untuk aku lewati sangat tidak mungkin.
Iya, semalam waktu aku baru saja sampai aku masuk ke ruangan, setelahnya Bima keluar. Mungkin karena melihat kehadiranku. Aku juga pamit untuk duduk diluar ruangan, aku hanya berniat meminta maaf. Dengan maksud menjadi teman, tapi Bima tidak menjawab permintaan maaf ku. Mengeluarkan suara juga tidak, dia hanya menjawab dengan anggukan. Baru saja aku duduk, aku melihat Maudy, ya dia wanita yang sangat di sayang dan di puja Bima. Dari sorot matanya aku bisa melihat, kalau dia tidak suka dengan kehadiran ku. Aku yakin, pasti dia juga bakal salah paham. Tapi terserahlah, yang terpenting aku tidak mengganggunya. Aku berniat untuk pergi ketika kekasihnya sudah masuk keruangan. Tapi sayang, om Adi datang dan terus mengajakku bicara. Padahal waktu sudah mepet, aku harus segera ke bandara. Menyambut teman baru, eh tapi aku sepertinya menganggap lebih dari itu.
Sampai dia, pacar Bima pulang aku masih disini. Rasanya makin tak enak saja, bahkan dia juga pergi begitu saja tanpa pamit dengan Bima ataupun om Adi. Mungkin marah sudah membuncah saat itu. Ku lihat Bima bangkit dari duduknya, melangkah menjauhi ruangan. Mungkin dia mau mengejar pacarnya, ah bodo amat lah.
Aku langsung pamit begitu melihat Bima sudah menghilang di balik koridor rumah sakit. Ku lihat lagi jam di tanganku. Setengah jam dari sekarang, aku harus sampai ke bandara.
Aldy, Im coming. Haha, ya sedekat itu kami sekarang. Aku belajar banyak darinya. Mulai dari menghargai perasaan orang lain, dan belajar untuk tidak merebut yang bukan hak ku. Terdengar sangat merendahkan aku sih, tapi memang itu benar.
Tepat waktu aku sampai disana, aku melihat jenis pesawat yang di naiki Aldy. Sepertinya sudah sampai beberapa menit lalu. Aku terus mengedarkan pandanganku di sekeliling bandara. Aku tak terlalu hafal wajahnya, karena malam itu aku tidak begitu merespon sehingga harus menatapnya.
"Hei, Luna ya?" Aku langsung berbalik, melihat siapa yang menepuk bahuku. Ternyata dia, tampan sekali.
"Iya, Aldy kan?" Dia tersenyum dan mengangguk. Kecanggungan terus terjadi, setelah aku jalan berdua dengannya. Aku mengantar dia pulang kerumahnya, yang katanya dia tinggal dengan pamannya. Tapi sial, lagi-lagi ban ku pecah. Malah nggak bawa ban serep.
Aku mau menghubungi papa atau siapa saja yang ada di rumah sekarang, tapi malah ponsel aku low. Ngeselin kan? Malah ini sudah malam lagi. Taxi juga sudah satu dua yang lewat, itu pun kalau di berhentikan mereka menolak, dengan alasan sudah akan pulang, dan apa ketika ada, mereka juga bawa penumpang. Sial, aku duduk di pinggir trotoar jalan. Memandangi ban mobilku sendiri, mau saja aku marah padanya.
"Kita kesana aja?" Aku melihat arah jari telunjuknya, aku langsung menggeleng. Gila! Dia menunjukkan hotel. Mau apa??
"Nggak ah." Aku jelas langsung menolak. Tapi, aku juga mengantuk, ku lihat ini sudah pukul 11 malam. Aku langsung meminjam ponsel milik Aldy, tapi lagi-lagi, memang keberuntungan tidak berpihak padaku.
"Aku masih pakai kartu luar negeri. Kan kamu tau aku baru aja turun dari pesawat." Gila!! Aku sendiri pengen teriak. Kesel tau nggak, kalau marah di rumah atau emosi, aku biasa melampiaskan pada barang. Tapi disini, tak mungkin kan wanita lemah seperti ku bisa membanting mobil. Bahkan wanita kuat sekalipun aku yakin tidak akan bisa.
"Ya udah deh, kita nginep aja. Nanti aku pinjam charger kamu ya? Biar bisa ngabarin papa." Aldy mengangguk.
Untung ini hotel hanya di seberang jalan. Aku meninggalkan mobilku begitu saja, dan berjalan dengan bergandeng tangan dengan Aldy. Aku duduk menunggu Aldy memesan sebuah kamar.
"Ayo?" Tampaknya sudah selesai sekarang. Aku menghembuskan nafas lega, akhirnya bisa istirahat malam ini walau tidak di rumah.
"Kamar kamu yang mana?" Ketika Aldy mulai membuka pintu kamar dengan kunci yang ia bawa.
"Kita satu kamar." Apa? Dia bahkan santai dalam menjawab.
"Tenang, aku tidur di sofa kamu di atas." Aku langsung menggelengkan kepalaku.
"Nggak, kalau kamu nggak ada uang buat bayar, biar aku yang bayar, pesan kamar satu lagi." Nggak terbayangkan sama aku, meski aku dulu sudah pernah ngamar, tapikan itu ramai-ramai, tidak seperti ini dua orang dan berlawanan jenis.
Tapi Aldy sepertinya tidak menghiraukan aku, dia langsung masuk saja. Dan aku, masih berdiri di luar dengan sejuta keraguan masuk ke dalam. Aku menyandarkan tubuhku di daun pintu, masih berpikir masuk atau tidak. Tapi tunggu, pandangan ku lagi-lagi menatap mereka yang aku kenal.
"Bima??" Ucapku lirih, dia memapah Maudy yang sepertinya tak sadarkan diri. Ada apa? Kenapa? Apa dia melakukan percobaan bunuh diri gara-gara melihatku di rumah sakit tadi?? Gila! Aku cepat berbalik badan dan membuka pintu, langsung masuk. Sebelum Bima melihat ku dan berpikir aku memata-matai mereka. Terserah, mau mereka satu kamar juga aku nggak peduli.
"Katanya nggak mau masuk." Dia sepertinya mengejekku.
"Kamu tidur di sofa itu ya?" Aldy mengangguk. Ha lega, aku kira dia mau berniat macam-macam sama aku.
Aku rasanya sudah sangat mengantuk, tapi aku maunya Aldy yang tidur duluan. Biar aku bisa tidur dengan tenang.
"Aldy, charger kamu mana?" Hampir saja aku lupa buat ngecas ponsel. Bisa nggak tidur satu malam papa kalau tau anaknya tidak pulang.
__ADS_1
Aku menunggu lagi sampai 15 menit. Ponselku benar-benar menyala dan aku langsung menghubungi papa.
"Biar papa jemput aja ya?"
"Yah, pa udah terlanjur sewa hotel. Lagian juga cuma satu malam." Ku lihat Aldy keluar pintu kamar, mungkin dia lapar mau cari makanan.
"Ya sudah, besok pagi papa bakal suruh montir buat ganti ban mobilnya, nanti share lock aja lokasinya ya." Ku hembuskan nafas lega, akhirnya papa mengerti. Bisa saja aku pulang, malah nggak harus tidur satu kamar seperti ini dengan Aldy, tapi mengingat waktu. Ini sudah larut, kasian papa aku kan? Malah besok dia harus ngantor lagi. Nggak lah, aku juga kira-kira kalau mau minta jemput.
Rasa kantukku terasa hilang begitu saja, mungkin karena terlalu lama di tahan ya? Sampai Aldy kembali aku juga masih terjaga.
"Loh, kamu belum tidur?" Aku masih fokus dengan dua kantung plastik yang ia tenteng di tangannya.
"Itu kamu bawa apa?" Aku berharap makanan, aku juga lapar. Kalau melek malam ya gitu, perut malah terasa pedih dan mengisap.
"Iya ini, aku beli makanan. Sini, kita makan dulu." Aku langsung beringsut turun dari ranjang. Duduk di sofa dan Aldy mengeluarkan makanannya.
"Ini apa?" Aku menunjuk kantung plastik yang satu lagi.
"Minuman." Aku penasaran, yang aku pikir minuman berupa jeruk atau apa lah.
"Loh, kok Alkohol?" Aku langsung menatap Aldy, kenapa dia beli ini? Dua botol lagi. Apa dia juga minum? Aku nggak heran sih, aku juga pernah meminumnya.
"Iya. Cuaca dingin, jadi kalau minum itu kan tubuh terasa hangat, tanpa mencari penghangatan." Apa sih maksudnya, aku langsung makan saja. Ya kalau dia mau minum terserah.
Selesai makan aku langsung ingin rebahan, tapi Aldy melarang. Katanya nggak baik buat kesehatan kalau selesai makan langsung tidur. Iya padahal aku juga tau itu. Aku menemaninya minum, dia menyodorkan aku menggeleng. Akhirnya, karena aku juga ingin, aku langsung meminta.
Satu gelas, dua gelas dan tiga gelas. Kami masih sama-sama sadar, masih saling berbincang. Dan tuangan terakhir, rasanya pusing sudah mendera, begitu juga dengan Aldy. Hingga kami saling berpelukan di sofa, entah apa maksudnya. Aku juga tidak tau, cuma aku merasa nyaman.
"Lun, aku cinta kamu. Aku suka kamu sejak awal kita berjumpa, dan cinta itu tumbuh semenjak kamu selalu temani hari-hari ku, walau hanya sekedar lewat pesan." Aku terdiam, aku masih berada di pelukannya.
"Kamu mau jadi pacar aku Lun?" Aku tersenyum, lalu mengangguk. Iya, aku juga cinta dia. Aldy langsung menarik aku ke pelukannya. Mengecup puncak kepalaku berulang-ulang. Dan sampai pindah ke leher, dan terus menjelajah ke yang lainnya. Aku tak tau, aku juga merasa menikmati. Hingga suara yang sangat menjijikan keluar begitu saja dari mulutku. Ada rasa aneh yang mulai mengalir sekarang. Naf su, ya itu dia. Terus, Aldy membawa ku ke atas ranjang. Tanpa melepas kegiatannya.
Aku pasrah, aku juga menikmati. Mungkin karena pengaruh alkohol yang aku minum.
***
Hingga ada sinar masuk di celah gorden jendela hotel, membangunkan aku. Aku menggeliat, tulangku terasa sakit semua, termasuk di bagian inti ku. Aku menyibak selimut, bermaksud untuk bangun. Tapi seketika itu aku menjerit, aku dimana? Pakaian aku mana? Perlahan aku menoleh ke sebelah, Aldy!!
Jadi aku tidur bersamanya, aku baru sadar ini bukan kamarku. Ya, aku menginap di hotel semalam. Aku kembali mengingat lagi kejadian apa yang aku alami semalam.
"Aku, aku udah pacaran sama Aldy?" Iya aku senang mengingat itu. Tapi ini???
"Al, bangun!" Aku mengguncang tubuhnya. "Al!!" Tak menyerah, hingga Aldy menggeliat, dan akhirnya membuka mata. Dia menatapku, tapi dia tersenyum, kenapa???
"Sayang, udah bangun." Ha? Dia santai sekarang, setelah apa yang terjadi semalam. Aku menarik selimut lagi untuk menutupi tubuh polosku.
Papa?? Aku teringat dia, gimana kalau dia tau anaknya seperti ini.
"Al? Kalau aku hamil gimana?" Aku langsung saja ke intinya, iya itu yang sangat aku takutkan.
"Ya kita nikah." Segampang itu dia berkata.
__ADS_1
Aku bingung sekarang, aku ingin turun dan masuk ke kamar mandi. Tapi, gimana caranya? Bahkan Aldy juga tak terbalut sehelai benang pun. Kalau selimut ini aku pakai, lalu aku melihatnya kan?
"Al, aku mau ke kamar mandi." Sepertinya dia tau kegelisahan ku, dia meraba ke bawah. Menyambar bajunya.
"Ya udah turun." Aku menggulung selimut ke tubuhku, dan Aldy dia menutup bagian sensitif miliknya dengan baju. Aku tak meliriknya sama sekali, aku dengan cepat berjalan dan masuk ke kamar mandi.
Aku mengguyur tubuhku dengan air, aku duduk dan memeluk lutut ku, di bawah guyuran air aku menangis. Siapa, aku mau marah sama siapa? Bahkan aku tidak menolak tadi malam! Aku hanya bisa merutuki kebodohan ku.
Terdengar suara pintu kamar mandi di ketuk, sudah pasti itu Aldy kan?
"Kenapa lama? Kamu nggak apa-apa kan?" Iya, ternyata aku sudah lama sekali berada di kamar mandi.
"Iya sebentar." Aku gegas meraih handuk yang tersedia, dan keluar. Aldy gantian masuk ke dalam. Aku hanya bisa menunduk. Sebelum Aldy keluar, aku meraih pakaian ku, aku harus menggunakan pakaian semalam lagi.
***
"Maaf ya, kita pulang sekarang." Aku masih diam sebelum pintu kamar terbuka. Aku teringat ada Bima juga disini, bahkan kamar kami hanya berbeda beberapa pintu saja.
"Hei, jangan takut. Aku nggak akan ninggalin kamu?" Aku tak bisa percaya begitu saja.
"Apa jaminannya? Bukan kah kamu juga hanya sebentar disini? Lalu kamu pergi lagi kan?"
"Nggak, aku akan tetap disini. Aku mengurus usaha papa yang di olah paman. Aku punya beberapa tambak disini." Aku sedikit lega mendengarnya.
"Aku juga siap tanggungjawab kalau kamu hamil?" Aku menatapnya, menatap kedua manik matanya. Dan aku melihat, sepertinya dia memang berkata jujur. Aku mengangguk, lalu aku menyuruhnya keluar terlebih dahulu.
Aku tidak ingin ada yang melihat ku keluar kamar hotel bersama laki-laki. Terlebih kalau itu yang mengenal papa ku. Bisa kacau semuanya.
Aku dan Aldy, sepakat merahasiakan hal ini. Tidak ada yang boleh tau, termasuk orang tua. Dan Aldy berpesan jangan cerita sekalipun itu sahabat dekat. Padahal, memang aku pun tak punya.
Hingga sudah lima belas menit berlalu setelah Aldy pergi. Aku berjalan keluar, menundukkan wajahku. Sampai di depan halaman hotel, aku melihat di seberang jalan sudah ada montir yang mengganti ban mobilku.
Ku lihat sekeliling, sepertinya Aldy sudah tidak ada. Mungkin sudah pergi mengunakan taxi. Aku langsung menyebarang jalan.
"Mas, sudah selesai?" Montir tampak kaget dengan kehadiran ku.
"Eh mbak, iya ini udah selesai."
"Makasih ya mas." Aku langsung masuk ke mobil, siap untuk pulang. Terlihat Aldy melambaikan tangannya, aku langsung mengerem mobil, ternyata dia ada di sebuah halte tak jauh dari kawasan hotel.
"Ayo, bareng aku." Aldy mengangguk dan tersenyum, dia langsung berjalan mendekat ke arah mobilku.
"Nggak apa kamu antar aku?" Masih berbicara lewat jendela mobil.
"Nggak, sekalian aku mau tau tempat tinggal kamu." Iya ini kesempatan ku, jadi kalau dia menghilang tiba-tiba, aku bisa mendatanginya disana.
Aldy sudah menyebut alamatnya, dan aku segera menuju kesana. Ternyata tidak jauh dari daerah komplek rumah ku, hanya sekitar 15 menit bisa sampai.
"Jangan takut ya, aku juga baru melakukan ini sama kamu, aku janji nggak akan ninggalin kamu. Maaf buat kelakuan ku ini." Sebelum turun Aldy mengecup singkat kening dan bibirku, aku tersenyum. Rasanya aku sangat di cintai. Aldy melambaikan tangannya ketika sudah berada di gerbang rumahnya, aku juga langsung tancap gas menuju komplek rumahku.
Aku berharap, kehidupan ku tidak berubah setelah melakukan khilaf terdalam.
__ADS_1
Luna end.
--__