
Sebulan telah berlalu, resepsi pernikahan juga sudah di laksanakan. Semenjak menikah Kiki juga masih tetap aktif bekerja. Berada di dalam satu ruangan dengan Revan. Menyesuaikan diri dengan status mereka, profesional dalam bekerja. Ada satu hal yang sangat di benci Kiki, lebih tepatnya membuatnya bosan. Harus sendirian di dalam ruangan jika Revan dan Bima harus melakukan meeting dengan klien di luar kantor. Dan tidak lagi kembali ke kantor, langsung pulang kerumah. Itu malah membuat Kiki tak bersemangat.
Seperti siang ini, Revan pamit dan memberi pesan kalau nanti pulang akan tetap di jemput. Kiki hanya bisa mengangguk pasrah.
"Hem mas?" Revan menoleh ketika membereskan meja kerjanya.
"Kenapa sayang?"
"Aku udah telat datang bulan satu Minggu." Ragu-ragu, walau sebenarnya takut kecewa. Dan bisa jadi hormon tidak stabil karena kelelahan bekerja. Tapi entah kenapa Kiki yakin sekali bahwa dia hamil. Meski tubuhnya masih terbilang normal, tak gampang lelah. Juga tak merasakan aneh-aneh, seperti memiliki keinginan makan sesuatu. Tidak, semuanya normal.
"Sepulang dari kantor kita periksa ke dokter ya?" Kiki mengangguk antusias. "Ya sudah, aku pergi dulu. Jangan terlalu lelah."
Patuh dengan peraturan, jangan berbuat macam-macam di dalam ruangan meskipun hanya berdua karena ada CCTV. Mengingat ancaman dari Bima membuat Revan tak berani untuk melakukan kontak fisik, meski hanya berpegangan tangan saat bekerja, apa lagi mengecup kening Kiki jika akan pergi meninggalkan kantor.
Jam istirahat berlangsung, seluruh karyawan kantor sudah menempati kursi yang tersedia di pantry. Kiki mencari-cari teman makan siangnya, siapa lagi jika bukan Amel dan Lusi. Mereka melambai tangan, ternyata duduknya tidak di tempat biasanya, dan berpindah ke sudut.
Kiki langsung berjalan ke arah sana, dengan membawa piring berisi makanan di tangannya. Dan satu tangan ia gunakan untuk membawa minum segar.
"Mbak, kenapa duduk disini?" Lusi hanya menunjuk menggunakan bibirnya saja. Kiki menoleh.
"Ada anak baru Ki, pengganti Rina. Ganteng juga sih, sepertinya baru lulus kuliah atau sekolah gitu. Cuma anaknya diam aja."
"Sejak kapan masuknya mbak?" Kiki bertanya dan sudah duduk siap menyantap makanannya.
"Baru tadi ini sih. Oh iya, kabar Rina sekarang gimana ya?" Ah itu, Kiki malas sekali sebenarnya untuk membahas, dan memilih diam sambil memulai makannya.
Lusi dan Amel yang sudah cukup lama mengenal Kiki, sedikit tau tentang karakter Kiki. Jika diam berarti memang tidak suka jika membahas masalah itu.
Dan, sampai makanan di piring tandas. Kiki langsung pamit untuk kembali ke ruangannya. Dengan alasan mengantuk, mumpung juga Revan sedang tidak ada. Jadi tidak akan yang menebar gosip nantinya.
Kiki membaringkan tubuhnya di sofa ruangan, membuka Hells yang harus satu harian melekat di kakinya. Jika ada kesempatan seperti ini adalah sebuah keberuntungan dan ketenangan untuknya. Masih tersisa 30 menit lagi, Kiki langsung memejamkan matanya.
Tok.. Tok.. Suara pintu ruangan di ketuk. Ya ampun, siapa yang harus menganggu di jam istirahat begini. Gerutunya. Dahinya berkerut, heran kenapa ketukan berasal dari pintu penghubung? Bukan dari pintu utama masuk ruangan. Kiki memakai lagi Hells nya dan membuka pintu.
"Suprise!!" Teriaknya dengan lantang sambil membawa brownis berukuran cukup besar tak lupa juga dengan lilin yang memiliki angka usianya. Mata Kiki langsung memanas, menatap sahabatnya ini yang sampai rela datang ke kantor. Hanya untuk memberinya kejutan. Kebiasaan Kiki sedari dulu, melupakan hari ulang tahunnya. Dan malah mengingat hari ulang tahun orang lain. Sudah pernah juga kan Kiki berdebat dengan mamanya soal itu dulu.
"Dy? Ah ya ampun. Makasih ya?" Memeluk. "Kamu sendiri?" Maudy mengangguk.
"Tadi aku mau ajak Endah dan Gio. Tapi mereka udah keburu di ambil Oma dan Opanya."
"Tapi bagaimana bisa? Apa Bima tau?" Bingung dengan semua ini. Maudy hanya tersenyum dan menariknya masuk keruangan Bima. Duduk di sofa, dan Maudy mengunci pintu ruangan. Agar tak ada yang masuk. Ah enak sekali ya jika memiliki suami pemilik perusahaan.
"Bima tau kok. Pasti kamu nggak ingat ya ini hari ulang tahun kamu?" Kiki menggeleng dan tergelak. Bingung dengan dirinya sendiri. "Apa Revan juga belum mengucapkan selamat ulang tahun?" Kiki menggeleng, tapi dia juga tidak kecewa akan hal itu, karena tidak menunggu dimana hari kelahirannya juga Revan selalu memiliki kejutan untuknya.
"Ini hadiah dari aku, ibu dan mama Lisa." Matanya kembali memanas, ah kenapa melow. Kenapa orang-orang terdekat selalu membuatnya menjatuhkan air mata bahagia. Ya Tuhan, semoga mereka sehat selalu, doanya dalam hati.
"Ibu? Mama Lisa?" Maudy mengangguk. "Kenapa bisa? Pasti ulah kamu ya?" Maudy tersenyum.
"Nggak, ini memang kemauan mereka sendiri. Ibu kan juga ingat hari ulang tahun kamu." Menyodorkan tissue pada Kiki.
"Jangan cengeng!"
"Aku terharu tau, mana mama belum ngucapin aku lagi. Apa dia lupa?" Suaranya parau karena air mata terus menetes.
"Nggaklah, mungkin mama kamu belum sempat aja." Mencoba menghibur Kiki dengan kata-kata mungkin.
"Eh, ini kamu nggak mau bagikan sama teman kantor kamu?" Menunjuk cake brownies yang ada di atas meja. Kiki melihat ke arah jam dinding. Ini juga masih jam istirahat, yakin kalau Amel dan Lusi pasti juga sudah kembali ke ruangan meskipun jam istirahat masih tersisa.
"Aku mau kasih ke teman aku sebentar ya, kamu tunggu disini." Maudy mengangguk. Dan mulai memotong cek menjadi potongan kecil.
__ADS_1
Banyak pasang mata yang menatap heran melihat Kiki membawa cake di tangannya. Meski mereka menyapa tapi Kiki tau sebagian dari mereka pasti memiliki rasa penasaran. Ah sudah, kau tak peduli.
"Mbak?" Kiki langsung masuk keruangan dan menuju meja Lusi. "Ini aku kasih cake, buat cemilan." Tersenyum senang.
"Kamu ulang tahun?" Kiki mengangguk. "Jadi tadi cepat-cepat balik keruanganmu hanya karena mau potong bolu?" Lusi menggoda.
"Nggaklah. Ini tadi istri pak Bima yang datang dan bawa buat aku."
"Istrinya pak Bima?" Kiki mengangguk lagi.
Dan, terjadilah rengekan dari Lusi dan juga Amel yang meminta untuk bertemu langsung dengan Maudy. Yang mereka dengar katanya Maudy orang yang baik, dan tidak sombong. Melihat jam istirahat masih tersisa 10 menit, Kiki mengijinkan mereka untuk ikut dengannya. Bertemu dengan Maudy, dan entah apa yang mau mereka lakukan. Sekedar menyapa, memeluk atau apa. Ah bisa saja mereka memuji secara langsung.
"Dy? Ada yang mau bertemu kamu?" Maudy mendongak semula memainkan ponselnya.
"Siapa?"
"Ada deh." Menoleh ke arah pintu. "Mbak masuk." Panggilnya. Kedua ibu muda itu masuk, dengan tak tau malu langsung duduk di sebelah Maudy. Dan menyodorkan ponsel kepada Kiki, meminta Kiki untuk mengambil photo mereka dengan Maudy. Dengan antusiasnya berkata akan aku upload ke sosial media. Mau pamer bisa photo dengan istri pak Bima, biar di kira akrab.
Maudy juga tidak menolak dan hanya bisa pasrah. Tersenyum dan menjawab apa yang mereka tanyakan.
"Ibu Maudy, cantik sekali." Pujian yang sudah berulang kali keluar dan mulut Lusi ataupun Amel.
Kiki menjauh sebentar, ponselnya berdering. Dan membiarkan kedua ibu muda itu masih melakukan sesi tanya jawab. Ah andai tiba-tiba Bima masuk dan melihat ini, pasti dia bisa marah dan tidak suka istrinya di peluk begitu dengan orang lain. Meskipun itu sesama wanita.
"Kenapa Ki?" Melihat ada air mata yang siap tumpah, menggenang di pelupuk matanya.
"Eh ibu Maudy makasih ya, makasih banyak. Hem Ki, selamat ulang tahun ya, panjang umur sehat selalu, mudah rezeki..." Dan panjang lagi doa yang di berikan Lusi dan Amel untuk Kiki sebelum pergi meninggalkan ruangan. Kiki tersenyum dan mengangguk, lalu memperingatkan lagi kalau jam istirahat sudah berakhir. Keduanya langsung lari keluar, dan sampai di depan pintu memeluk ponselnya lalu tertawa girang. Akhirnya bisa menyapa langsung istri pak Bima, itu yang mereka sorakan dan akan mereka pamerkan nanti. Padahal, Maudy juga sosok yang tak terlalu istimewa, lahir dari keluarga sederhana. Tapi memang kecantikannya yang natural bisa membuat siapa saja terhipnotis termasuk kaum wanita juga.
Kiki terduduk lemas di samping Maudy. Kesedihan yang dia dengar melalui telepon seperti tak mempunyai alasan. Untuk apa lagi peduli? Tapi hatinya kenapa sakit, bukan karena soal perasaan yang tertinggal. Tapi lebih ke prihatin.
"Mau aku ambilkan minum?" Kiki menggeleng, dan menarik tangan Maudy yang ingin beranjak.
"Katakan Ki, sebenarnya ada apa?" Maudy mengubah posisi duduknya menghadap ke arah Kiki. Hei, Kiki juga tak peduli kalau seharunya dia sudah melanjutkan aktivitas bekerjanya.
"Tadi, aku dapat kabar dari bi Asih. Kalau orang tua Agam menelpon kerumah. Agam meninggal Dy." Deg. Maudy juga terdiam, ini benar-benar berita duka. Sedalam itulah Tuhan menghukumnya? Atas kesalahan yang selalu melecehkan wanita? Maudy menggeleng pelan, ini memang sebuah kenyataan. Tapi kenapa Kiki harus mendengar kabar ini. Kemarin, dan sekarang. Sama-sama kabar duka.
"Kamu sedih?" Kiki mengangguk.
"Setidaknya dia juga pernah hadir disini Dy." Menunjuk ke bagian dadanya. "Dia memang breng sek. Tapi juga dia pernah mengisi hari-hari ku dulu. Aku benci, aku ingin dia tak muncul di hadapanku untuk selamanya. Tapi bukan berarti aku menginginkan kematian untuknya." Maksud memeluk Kiki. Tau, bagaimana perasaan Kiki sekarang.
"Apa kamu berniat untuk melayat?" Kiki diam. "Aku akan ijin ke Bima, supaya temani kamu datang kesana. Kamu juga harus menunjukan sifat berbelasungkawa. Setidaknya, kamu bisa sedikit memberi kekuatan untuk kedua orang tuanya. Dengan cara memaafkannya secara ikhlas." Kiki mengangguk setuju.
Keduanya saling meminta ijin terlebih dahulu kepada suami masing-masing. Menunggu jawaban mereka, dan Kiki juga meminta ijin untuk pulang lebih awal. Bayangan muncul di kepala Kiki. Tentang Agam yang mengatakan bahwa dia tak bisa hidup tanpanya, sebelum melakukan tindak kejatahan di malam itu, Kiki jelas mengingat apa yang di katakan Agam. Sekarang, bukan rasa sayang, tapi lebih ke prihatin.
Mereka pergi berdua. Ijin sudah di dapat, bahkan Revan juga tidak keberatan. Hanya Bima yang awalnya melarang dan mengatakan itu memang hukuman untuknya. Tapi Maudy bersikeras untuk tetap menemani Kiki. Yang akhirnya mengalah, dan mengatakan hati-hati dijalan.
"Hallo? Ma, aku tutup Endah dan Gio. Aku pulang agak telat ya ma, soalnya lagi ada urusan."
"Iya Dy nggak apa-apa. Kamu hati-hati."
Maudy kembali menutup telepon. Lalu Kiki juga memberi kabar ke orang tuanya. Mau bagaimana pun mereka juga pernah mengenal sosok Agam.
Saat sampai di rumah duka, ternyata sudah sepi pelayat. Orang tua Agam memberi kabar sewaktu jenazah sudah di bawa ke pusara untuk di makamkan. Kiki masuk dengan segala perasaan bersalah, yang mengutuk Agam akan mendapatkan karmanya. Iya, dia sadar memang pernah mengatakan hal itu sewaktu Revan memintanya untuk melaporkan tindak kejahatannya ke pihak berwajib.
"Tante, yang sabar ya?" Kiki memeluknya. Mereka duduk di bawah, dengan beralaskan karpet karena seluruh perabotan tampak bergeser untuk memberi ruang para pelayat yang datang.
"Sebelum Agam pergi, dia sempat mengatakan sesuatu." Diam sebentar, menghapus air matanya yang kembali tumpah setiap ada yang mengucapkan belasungkawa. "Agam bilang, dia minta maaf sama kamu. Tapi Tante nggak punya nomor ponsel kamu Ki. Jadi Tante hanya menjawab iya akan di sampaikan. Dan Agam juga bilang, Agam bilang semua yang telah dia lakukan terhadapmu." Ah kalau begini, baik Kiki dan Maudy juga tidak bisa menahan air matanya. Seperti reflek karena melihat seorang ibu menangis atas kepergian anaknya.
Kiki menunduk, dia tak tau harus menjawab apa.
__ADS_1
"Kenapa nggak kamu laporkan saja waktu itu kepada pihak berwajib ataupun ke Tante?" Kiki terdiam, dia hanya bisa menatap wajah seorang ibu ini. Apa yang aku jawab? Apa juga harus mengatakan kalau Agam akan menerima karma? Setelah semua yang terjadi? Kematiannya Agam? Kiki menggelengkan kepalanya.
"Tante, aku sudah memaafkan Agam." Mantap dengan ucapannya. Maudy mengelus lagi lengan Kiki.
"Kamu orang baik. Semoga kamu selalu bahagia dengan pasanganmu sekarang." Kiki mengangguk saja. "Tante minta maaf yang sebesar-besarnya atas kesalahannya Agam."
"Iya Tante."
Terkadang, ucapan yang spontan keluar ketika hati merasa tersakiti malah menjadi doa yang akan cepat dikabulkan oleh Tuhan. Kiki mengelus perutnya yang masih rata, dia yakin kalau sudah ada benih di dalamnya. Entah dorongan apa yang membuatnya sangat yakin. Perasaan seorang ibukah? Ah tidak, bahkan dia juga belum mempunyai anak sebelumnya.
Kiki pamit pulang, setelah mengatakan kalau dia benar-benar sudah memaafkan Agam. Dan juga mengingat waktu yang berjalan, sebelum gelap sudah harus sampai kerumah. Begitu banyak kejutan di hari ini, mulai dari bahagia dan juga duka. Duka yang memang sebelumnya dia inginkan, tapi setelah terjadi kenapa malah rasa bersalah yang menyelubungi pikirannya.
"Dy, kamu nggak apa-apa kan kalau antar aku pulang?" Maudy menggeleng.
"Lebih baik kamu telepon Revan sekarang. Supaya dia juga nggak cari kamu?" Kiki mengangguk dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
"Nggak aktif Dy." Lemas dan hanya menggenggam ponselnya saja.
Apa Revan marah ya?
Pikiran itu langsung masuk ke dalam pikirannya. Ah kesedihan kembali datang, sekarang malah sangat takut kalau Revan akan marah walupun memang tidak pernah Revan lakukan selama menikah dengan Kiki.
Langit tampak menghitam, matahari juga tenggelam. Bukan karena waktu, tapi kalah oleh mendung yang menangkup langit. Menunjukan kuasa Tuhan kalau langit saja bisa berubah secepat itu. Kiki menatap ke arah awan gelap yang seperti bergerak cepat. Angin yang datang ke menerpa wajahnya masuk melalui celah jendela mobil yang sengaja di buka sedikit. Matanya sayu, membengkak karena menangis. Bagaimana tanggapan Revan nantinya.
Kiki langsung mencari foundation yang selalu dia bawa dalam tas. Langsung mengoleskannya ke wajahnya. Menutupi agar tak terlihat.
"Kamu ngapain?" Baru menyadari kegelisahan Kiki. Kenapa harus menata ulang wajahnya dengan make up? Bingung.
"Ki?"
"Hem." Masih sibuk menutupi wajah sedihnya dengan make up, sebisanya yang terpenting Revan tak merasa cemburu dan berpikir kalau Kiki masih menyimpan rasa. Sehingga rela menangisi kepergian Agam.
"Memangnya kamu mau pergi lagi?" Kiki menggeleng, dia belum selesai. Sedikit lagi hasilnya akan maksimal, itu menurut pandangannya melalui cermin.
"Sudah?" Memperlihatkan wajahnya ke arah Maudy. Maudy masih menilik, sudah? Yang dia tau artinya make up sudah rapi atau belum. Tidak tau kalau Kiki menanyakan perihal mata bengkaknya masih terlihat atau tidak.
"Beneran?" Sekali lagi memaksa Maudy melihat ke arahnya.
"Iya sudah. Memangnya kenapa sih harus pakai make up lagi?" Heran, heh melihat temannya yang satu ini. Maudy saja tak pernah serepot itu.
"Aku takut, Revan berpikir kalau aku masih memiliki rasa dengan Agam. Kamu kan tau sendiri, aku nggak mau menyakiti hatinya." Maudy tertawa kecil. Bisa-bisanya memikirkan hal itu, batinnya.
Mobil sudah sampai di halaman rumah, mobil Revan sudah masuk di dalam garasi. Kiki turun, begitu juga dengan Maudy. Dia ikut turun, sekedar untuk mampir dan memastikan Kiki tidak bersedih lagi, itu alasan yang dia katakan sebelum turun.
"Nggaklah Dy. Kamu kira aku nggak bisa mikir perasaan Revan apa. Nanti dia kira malah aku jadikan dia hanya pelampiasannya." Maudy hanya tersenyum dan mengangguk.
"Kamu beneran mau mampir? Anak kamu gimana?"
"Iya kenapa sih, takut sekali kalau aku minta makanan. Sudah aku bilang dia masih sama Omanya." Kiki berjalan masuk ke pintu.
"Selamat ulang tahun.." Suara serentak dari orang-orang di dalam. Kiki mematung di tempat, Maudy tersenyum dan berjalan melewatinya, mendekat ke arah Bima yang berdiri sambil memainkan alisnya.
Kejutan???
Ini beneran surprise? Mama? Papa? Revan? Bima? Dan Maudy.
Kiki menatap ke arah Maudy, berpikir kalau sebenarnya juga Maudy sudah tau???
--__
__ADS_1