Dia Bimaku

Dia Bimaku
Hari pertama di kantor 2


__ADS_3

Kiki memijat keningnya sendiri dengan jarinya, menekan di bagian yang terasa sakit. Sudah dua jam lamanya dia berada di ruangan ini sendiri, setelah memberi kopi Revan pamit lagi untuk keluar, katanya ada rapat mendadak.


"Ternyata nggak mudah ya kerja, aku kira di dalam kantor bisa santai, berfoto." Gerutunya, tidak akan yang mendengar jika dia berbicara.


Meluruskan kakinya, merentangkan tangannya, Kiki mulai menguap.


"Ya ampun, kenapa aku nggak minum kopi yang udah di siapkan Revan. Pantas saja ngantuk." Kiki mengambil gelas yang sudah berisi kopi, berada tepat di samping laptop. Menyeruput dengan perlahan, padahal juga sudah tidak panas.


Melihat ke arah layar lagi, hanya tinggal satu email yang belum dia periksa. Melihat ke arah jam dinding, sudah menunjukkan pukul 11 siang. Sebentar lagi juga waktunya istirahat kantor.


Hal yang di bingungkan Kiki sekarang, makan dimana? Sama siapa? Sendiri? Belum ada teman juga.


Ah dia frustasi, mengambil ponsel dan memesan makanan melalui gofood. Itu lebih baik, makan di dalam ruangan saja. Begitu yang dia pikirkan.


Lanjut lagi, berharap ini akan selesai sebelum jam makan siang.


"Permisi." Suara pintu di ketuk.


"Iya, masuk aja." Kiki tetap memfokuskan pandangannya ke arah layar laptop.


"Mbak ini ada berkas yang sudah di copy, nanti tolong mbak periksa terus minta tanda tangan ke pak Bima ya? Jangan lupa di antar keruangan bagian keuangan." Kiki menoleh, ini suara wanita, siapa tau dia bisa jadi temannya. Batinnya.


"Eh?" Kiki menunjuk dengan jarinya, terpejam sebentar. Mengingat, sepertinya pernah melihat wanita yang ada di hadapannya sekarang.


"Kenapa ya mbak?"


"Mbak kan yang waktu itu di rumah sakit ya? Yang jenguk Bima. Eh maksud aku pak Bima, iya kan?"


Dia mengangguk.


"Oh iya, aku Rina." Mengulurkan tangannya.


"Kiki." Menyambut uluran tangan. "Mbak ini yang pacarnya Revan ya?" Kiki menggoda. Memang begitu kan dia, tidak memilih dalam mengenal orang lain.


"Hehe, iya mbak."


"Panggil Kiki aja mbak, aku lebih muda."


Kenapa semua orang begitu sih, apa wajahku setua itu?


"Kenapa mbak?"


"Eh nggak." Rina menggeleng.


"Jadi nanti aku antar keruangan mbak Rina ya? Lalu ini di serahkan ke siapa?" Kiki lebih memilih topik yang memang harus di bahas saat ini.


"Hem ke aku juga bisa kok." Kiki mengangguk. Lalu kembali ke posisi awalnya, Kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Hem Ki, aku boleh nanya nggak?"


Lah dia belum pergi juga?


"Iya mbak, silahkan." Tidak menoleh, berpura-pura sibuk.


"Hem, kamu satu ruangan sama Revan ya?" Kiki mengangguk. "Aku bisa minta tolong nggak?" Kali ini Kiki menoleh.


"Iya apa itu mbak?" Rina melihat ke arah pintu, lalu kembali melihat Kiki.


"Kalau nanti Revan udah balik ke ruangan, tolong bilang ke dia ya, di tunggu Rina buat makan siang bareng."


"Oh ada lagi?"


"Nggak ada sih, itu aja." Rina nyengir menampakkan deretan giginya yang tak beraturan.


"Oh iya, nanti aku sampaikan kalau dia udah balik." Kiki tersenyum.


"Eh iya, kamu nanti makan dimana?"


Duh, kenapa dia nggak pergi juga? Bisa nggak kelar ini kerjaan aku.


"Aku makan di ruangan aja mbak, udah pesan makanan kok. Kenapa?"


"Nggak, tadinya mau ngajak makan bareng. Sekalian mau tanya tentang Revan dia di ruangan gimana?"


Ya ampun, ini orang. Segitu cintanya sama pacarnya.


"Kan nanti mbak Rina makan sama Revan, bisa langsung tanya aja ke dia." Sudah mulai kesal.


"Baiklah, kalau gitu aku permisi."


"Iya." Dengan nada setengah malas menjawab.


***


Revan kembali keruangan, kali ini dia diam. Duduk di mejanya dan kembali mengerjakan apa yang sudah menjadi tugasnya. Sesekali Kiki melirik, pantas saja kinerjanya bisa di akui, ternyata kalau sudah bekerja dia sangat fokus. Diam-diam Kiki mencuri pandang.


Tampan memang, nggak salah mbak Rina cinta sama dia.


"Hem, Revan?" Kiki mencoba memanggilnya.


"Ya, kenapa? Ada yang nggak kamu tau?" Tetap fokus.


"Nggak, tadi pacar kamu kesini?"


"Pacar?" Sedikit kaget dan menoleh ke arah Kiki. Meja mereka yang berjarak hanya sekitar satu meter saja. Berada tepat di samping meja Kiki.


"Iya, pacar kamu mbak Rina. Dia tadi nitip pesan pas nganter berkas keuangan kantor. Dia bilang nanti makan siang bareng, dia nunggu kamu." Revan diam. Memijat keningnya dengan pelan.


Tidak ada jawaban, Kiki juga bodo amat. Lagian kan yang terpenting sudah di sampaikan. Pikirnya.


"Hallo?" Kiki menerima telepon.


"Iya saya. Oh titip ke satpam aja ya mas. Saya masih diruangan."


"Baik, terima kasih mas." Meletakkan ponselnya.


"Revan." Ragu-ragu untuk bertanya.


"Kenapa?"


"Apa aku boleh keluar sebentar? Mau ambil makanan aku, soalnya tadi pesan di gofood."


"Oh. Nggak perlu, telepon aja satpam biar mereka yang antar kesini." Jawabnya santai.


"Memangnya boleh?" Revan tertawa kecil.


"Boleh lah, kamu kan sekretaris pak Bima. Jabatan kamu itu juga tinggi disini. Kalau staf biasa baru tidak boleh." Tersenyum samar.


Jadi jabatan aku tinggi?


"Gimana cara telepon mereka?" Revan menunjuk ke arah telepon yang berada di atas meja Kiki.


"Kamu tekan nomor yang sudah ada di kertas kecil itu." Kiki melihatnya. "Semua nomor dengan bagian masing-masing sudah ada disana." Kiki mengangguk.


Eh iya benar, kenapa aku nggak lihat dari tadi. Ah maklum aku juga baru satu hari bekerja, bahkan belum genap satu hari.


"Telepon aja." Kiki mengangguk lagi.


"Memangnya kamu mau makan disini?"


"Iya, nggak apa-apa kan?"


"Iya nggak apa-apa sih. Kamu juga baru disini, jadi wajar kalau kamu juga belum ada teman." Nah dia tau apa yang di pikirkan Kiki.

__ADS_1


***


Jam istirahat berlangsung, makanan yang di pesan Kiki juga sudah di antar. Kiki membereskan mejanya yang menumpuk banyak kertas. Lalu beralih ke sofa yang ada di ruangannya.


"Ki?" Bima masuk ke ruangan saat Kiki hendak bangkit dari duduknya. Bermaksud akan pindah ke sofa.


"Kenapa Bim?" Bima menenteng kotak bekal berwarna biru. Lalu menyerahkannya ke Kiki.


"Apa ini?" Kiki bingung, begitu juga dengan Revan.


"Itu, sahabat kamu tadi yang antar makanan. Katanya di buat khusus buat kamu, supaya semangat kerjanya." Kiki tertawa.


"Beneran? Maudy yang buat?" Bima mengangguk.


"Aku jadi iri." Reflek Kiki memukul bahu Bima, Revan menatapnya dengan tajam.


"Kamu suaminya kali Bim, kenapa mesti iri sih?" Berjalan menuju sofa.


"Eh, tapi aku udah pesan makanan Bim?" Mengangkat kantung plastik yang ada di tangannya.


"Kamu makan aja semuanya." Kiki menatap makanannya. Bingung, lalu menoleh ke arah Bima lagi.


"Makan atau aku bilang ke istriku kalau kamu nolak pemberian darinya." Heh, Kiki menghela nafas.


"Sudah, aku mau makan juga. Soalnya istriku membawakan bekal yang jauh lebih spesial untukku." Pamer, Kiki hanya bisa tertawa. Memang begitu kan dia, namanya juga istrinya pasti selalu di banggakan.


"Kalau kamu nggak keberatan biar aku yang makan pesanan kamu tadi." Kiki mendongak.


"Iya nih, dari pada nggak ke makan." Kiki menyerahkan ke Revan. Revan menerima dan malah duduk di samping Kiki.


"Loh, kamu mau makan disini?" Revan mengangguk, membuka bungkusan.


"Tapi bukannya kamu udah di tungguin sama mbak Rina?"


"Setiap hari memang dia selalu menunggu." Menjawab dengan santai.


"Lalu?"


"Tapi aku nggak pernah datangi dia." Revan tertawa, tanpa merasa berdosa dia mengatakan hal itu. Kiki masih diam dan belum membuka kotak bekal yang di bawakan Maudy.


"Kenapa? Kamu masih mikirin kak Rina?"


Kakak?


"Dia itu bukan pacarku, hanya aja karena dulu satu ruangan kami dekat. Dekat juga selayaknya teman, cuma dia selalu datang kerumah jadi kenal sama mamaku. Tapi menurut gosip yang beredar sih, aku dengar kalau kak Rina suka sama aku. Aku hanya menganggapnya sebagai kakak aja, nggak lebih."


"Oh." Kiki manggut-manggut.


"Telepon kamu bunyi tuh." Kiki langsung berjalan menuju mejanya, bahkan sangking lelahnya ponsel juga ia lupa.


Kembali duduk dan mengangkat panggilan.


"Hai."


Maudy melambaikan tangan, eh ternyata dia melakukan video call.


"Hai bumil, makasih ya bekalnya. Aku jadi lebih semangat." Maudy tersenyum.


"Kamu makan di dalam ruangan?"


"Iya." Kiki mengangguk.


"Eh itu siapa? Kok kayak ada orang di samping kamu Ki?"


Kiki menoleh ke arah samping, Revan tengah mengunyah makanan dengan santainya.


"Itu Revan Dy."


Kiki mengarahkan kameranya ke arah Revan.


"Revan?"


Revan tersenyum.


"Cie, kalian satu ruangan ya? Aku titip Kiki ya, jagain dia disana."


Ih Maudy ngomong apasih.


"Siap mbak." Dengan gayanya memberi hormat.


Kiki langsung mengalihkan lagi kamera ponsel ke arahnya.


"Aku makan dulu ya Dy? Kamu telepon Bima aja sana, nanti dia ngiri lagi." Maudy tertawa.


"Iya-iya. Semangat ya, haha."


"Iya." Kiki langsung mematikan sambungan telepon. Dan langsung membuka kotak bekal, siap untuk makan. Melirik ke arah Revan yang sudah menghabiskan setengah dari makanannya.


"Enak ya, kerja di perhatikan sama istri bos."


"Kamu iri? Kamu juga di perhatikan sama mama kamu." Revan tersenyum.


"Impas dong sama-sama ada yang merhatiin." Mereka sama-sama tertawa.


"Kamu bawa mobil?" Revan bertanya.


"Nggak, tadi di antar papa aku. Soalnya dia juga baru pulang dari luar kota, jadi ya mau dekat sama anaknya, hehe."


"Di luar kota kerja?" Kiki menggeleng, menelan makanannya yang ada di dalam mulut.


"Nggak, papa aku ada usaha disana. Jadi ya, setiap bulan pasti kesana untuk meninjau usahanya."


"Jadi papa kamu juga pengusaha?" Kiki mengangguk.


"Kenapa kamu malah bekerja di perusahaan orang lain?" Heran, melipat bekas makanannya. Duh Revan bahkan sudah selesai makan.


"Usaha papa itu pabrik kayu, ya nggak cocok aja kalau aku disana. Aku nggak mau. Sebenarnya kan aku juga nggak mau kerja, tapi ini Bima yang kasih tawaran." Sepertinya ini sudah masuk tahap pengenalan di antara mereka.


"Oh gitu." Revan melirik ke arah Kiki, sekilas lalu membuang pandangannya lagi.


"Mama kamu sakit ya? Soalnya waktu itu aku lihat dia duduk di kursi roda." Revan secepat itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi sendu. "Maaf ya, aku salah bertanya."


"Nggak kok, memang mama aku sakit. Susah buat sembuh, dan memang nggak bisa sembuh. Cuma aku selalu beri dia semangat."


"kalau boleh tau sakit apa?" Kiki menutup bekal dan berdiri untuk mengambil air minum. Mengambil dua gelas sekaligus, satunya dia berikan kepada Revan.


"Makasih." Kiki kembali duduk.


"Mama aku sakit kanker otak. Sudah stadium akhir, berdampak dengan organ tubuh lainnya. Mama aku mengalami lumpuh permanen." Kiki menggeleng pelan.


Ya ampun, kasian sekali.


"Tapi mama kamu cantik ya? Meski sakit juga dia selalu senyum."


"Makannya anaknya juga tampan." Kiki spontan menoleh. "Benarkan?"


"Ah iya."


"Iya? Haha." Revan malah tertawa.


"Kamu beneran nggak pacaran sama mbak Rina?" Revan menggeleng.


"Kenapa?" Dia malah balik bertanya.

__ADS_1


"Nggak cuma tanya."


"Kirain mau daftar." Dengan entengnya Revan berbicara.


Dan Kiki, dia langsung terdiam. Tak tau juga harus berkata apa lagi, ternyata Revan orangnya cukup pede. Mengingat hal itu juga seperti Agam. Selalu menyuarakan isi hatinya pada wanita, rayuan gombalnya.


Aih kenapa aku jadi teringat Agam sekarang sih.


Melihat lagi ke arah jam dinding, istirahat masih tersisa 20 menit. Bingung mau di apakan, padahal tadi niatnya Kiki akan merebahkan tubuhnya di sofa ruangan, tapi melihat ada Revan di sampingnya dan berada di dalam ruangan ini. Tidak mungkin kan melakukan hal itu, bisa jadi gosip satu kantor nantinya.


"Kamu ngantuk?" Kiki menoleh. "Kalau mau tidur juga nggak apa. Aku juga mau keluar, mau keruangan pak Bima."


"Bukannya jam istirahat masih tersisa 20 menit? Apa kamu mau langsung melanjutkan kerjaan?" Revan hanya menggeleng lalu berjalan keluar melalui pintu penghubung.


Kiki langsung merebahkan tubuhnya di sofa, membuka heelsnya lalu memejamkan mata.


Ah enaknya.


Lelah sekali, padahal hanya bekerja duduk dan memeriksa berkas. Tapi, karena memang biasanya juga dia dirumah tidak pernah melakukan pekerjaan apapun, hanya merebahkan tubuh di tempat tidur sambil memainkan ponselnya. Kini semuanya beda, sebenarnya ada rasa ingin menyerah saja, dan mengatakan kalau dia tidak sanggup. Lagi-lagi dengan alasan, tak ingin membuat orang terdekatnya kecewa.


***


"Bim, itu kenapa ruangan kamu di hias begitu?"


"Iya sayang, ini kerjaan karyawan aku tadi pagi. Mereka nyambut aku masuk kantor dengan cara ini."


"Permisi pak?" Revan masuk.


"Sebentar sayang." Meletakkan ponselnya.


"Saya boleh meminta ijin istirahat di ruangan bapak?" Dengan polosnya dia berkata begitu.


"Ada Kiki pak, dia tengah tidur tidak mungkin kan kami-"


"Baiklah silahkan." Bima langsung menjawab. Revan langsung berjalan menuju sofa yang ada di ruangan Bima. Menyandarkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. Berpura-pura tidak mendengar percakapan antara dua orang yang selalu di mabuk cinta.


Kenapa pak Bima sepertinya romantis sekali dengan istrinya? Aku jadi ingin.


"Sudah sayang, kamu tidur gih, ini sudah siang. Apa perlu aku temani?"


"Nggak lah Bim."


Merebahkan tubuhnya di atas kasur agar Bima percaya kalau dia juga akan tidur.


"Kalau kamu mau, aku pulang sekarang biar Revan yang mengerjakan tugasku." Hati Revan langsung berdenyut, sepertinya akan lembur hari ini jika sampai terjadi Bima pulang lebih awal.


"Iya sih nggak apa, biar Kiki sama Revan bisa lembur berdua."


"Sayang, sudah ku bilang, jangan paksa hubungan mereka." Mengelus layar ponselnya yang menampakkan wajah istrinya, seperti sudah tidak sabar ingin segera pulang sekarang juga.


"Hehe iya Bim. Ya udah aku tidur ya?"


"Jangan di matikan, aku tetap mau lihat kamu tidur." Nah kan, Revan sampai berhalusinasi membayangkan seperti apa nantinya dia bersama pasangan hidupnya.


"I love you."


"Love you more sayang." Bima meletakkan ponselnya dengan posisi berdiri di samping laptop, agar tetap bisa melihat istrinya tidur tanpa lelah memegang ponselnya.


"Revan, gimana apa sudah selesai Kiki memeriksa berkas keuangan kantor?"


"Sepertinya belum pak."


"Nanti kamu kasih tau dia, kalau bisa utamakan itu dulu ya, dan harus buat diagram rinciannya. Dan saya mau hari ini bisa selesai, soalnya besok pagi kita langsung mengadakan rapat." Revan mengangguk.


"Baik pak."


"Saya penasaran soalnya, bagaimana kondisi keuangan perusahaan setelah memutuskan kerja sama dengan mereka." Revan tau yang di maksud mereka itu siapa.


"Saya juga belum tau pak, soalnya kita juga sama pak, tidak berada di kantor selama satu bulan."


Perbincangan terus berlanjut hingga waktu jam istirahat selesai, Revan kembali masuk ke ruangannya dan akan segera memberi tau Kiki mengenai apa yang sudah di perintahkan oleh Bima.


Revan melihat, Kiki masih tertidur disana. Berjalan mendekat, bingung bagaimana harus membangunkannya.


"Ki, waktunya mulai bekerja." Tidak ada respon.


"Ki, waktu istirahat sudah habis." Duh, Revan semakin bingung. Bahkan untuk sekedar menyentuh bahu Kiki juga dia masih takut.


"Ki?" Dan akhirnya, dia memberanikan diri menepuk pundak Kiki.


"Ki?" Kedua kalinya.


"Eum." Kiki menggeliat seenaknya, tak peduli dengan pakaiannya yang terkesan menggoda.


"Aduh." Revan mengalihkan pandangannya.


"Ki, waktu istirahat sudah berakhir." Kiki membuka matanya, melihat Revan yang berdiri di sampingnya. Matanya langsung membulat.


"Eh, kamu ngapain disini?" Bingung, dia duduk. Melihat sekeliling.


"JAM ISTIRAHAT SUDAH BERAKHIR! WAKTUNYA BEKERJA KEMBALI!" Revan langsung pergi ke mejanya. Duduk dan membuka laptop.


"Ya ampun, aku lupa. Aku sedang bekerja." Memeluk keningnya sendiri, merapikan pakaiannya dan menunduk melangkah ke arah mejanya.


"Cuci dulu muka kamu supaya nggak ngantuk." Tanpa menoleh sedikitpun dia berbicara. Kiki berjalan masuk ke arah kamar mandi. Membasuh wajahnya dengan air, tapi dengan ekstra hati-hati, takut kalau make up-nya luntur.


Kiki kembali duduk, memeriksa email yang tadi hampir selesai.


"Ki, tadi pak Bima meminta kamu untuk memeriksa berkas keuangan yang di berikan kak Rina. Harus selesai hari ini juga, soalnya besok pagi akan rapat. Jangan lupa rincian keuangannya kamu buat ya." Kiki langsung membulatkan matanya, melihat berkas setumpuk di hadapannya.


Harus siap hari ini juga? Mama ya ampun,


"Sepertinya kita akan lembur." Ucapnya lagi.


"Kita? Bukannya ini tugas aku. Berarti kalau belum selesai aku yang harus lembur." Mulai membuka setumpuk berkas yang sudah ia pegang.


"Iya, memangnya kamu bisa membuat rinciannya? Kamu tau caranya? Bagaimana memisahkan pengeluaran dan pemasukan, dan juga keuntungannya. Itu semua harus benar jangan sampai ada yang salah, walau hanya satu nominal pun." Kiki menekan salivanya.


"Tenang, nanti aku bantu supaya cepat selesai, sekarang periksa lah dulu." Kiki mengangguk.


"Kamu telepon aja papa kamu, bilang nggak usah jemput, nanti aku yang antar kamu."


Kiki menoleh.


"Beneran?" Bertanya lagi.


"Iya, kasian papa kamu, dia juga butuh waktu berdua kan sama mama kamu?" Kiki tertawa kecil. Bagaimana bisa Revan memikirkan hal itu, yang bahkan sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya.


***


Suasana kantor yang sudah sepi, hanya ada Kiki dan Revan yang berjalan keluar lift ketika sampai di loby kantor. Dan beberapa OB yang juga lembur membersihkan lantai gedung.


"Tunggu disini, aku ambil mobil." Kiki mengangguk, berdiri dengan memeluk tas selempang miliknya, wajahnya teramat lusuh. Kusam juga jangan di tanya, hari benar-benar sudah gelap. Wajah yang awalnya terlihat rapi dan cantik, kini bahkan Kiki merasa wajahnya sudah tidak berbentuk.


"Kalau kamu sering lembur dan fokus mengerjakan tugas di kantor, itu malah bagus." Setelah berada di dalam mobil Revan berbicara.


"Kenapa gitu?" Heran.


"Iya karena kamu udah nggak ada waktu lagi buat ingat sama mantan pacar kamu itu." Deg. Benar, hari ini bahkan hanya 5 menit mengingat Agam.


Kalau begitu lebih baik aku lembur setiap hari.


--__

__ADS_1


__ADS_2