Dia Bimaku

Dia Bimaku
Nikah???


__ADS_3

Lama Maudy terdiam. Duduk di lantai, dan Bima dia sudah kembali lagi ke posisinya tadi. Memunggungi Maudy. Bingung, kalau pun pulang sekarang, apa sudah ada taxi sepagi ini untuk mengantarnya ke cafe Agam?


"Bim aku mau pulang Bima!!!" Berteriak pasrah.


"Sakit kan kalau cemburu? Itu yang aku rasain." Diam, Maudy menunggu Bima melanjutkan kata-katanya.


"Padahal apa yang kamu lihat itu belum tentu sama dengan apa sudah kamu pikirkan. Bahkan aku tak ada berbicara sepatah kata pun padanya, itu saja sudah buat kamu mabuk-mabukkan nggak jelas!"


"Iya aku cemburu." Berkata dengan lirih. "Tapi aku marah Bim, kenapa leher aku merah semua!!!" Bima langsung berbalik dan menatap Maudy.


"Merah?" Bima malah bingung. Kemudian langsung berjalan mendekat ke arah Maudy, ia berjongkok, mendongakkan wajah Maudy dengan satu tangannya. Iya Benar, tapi Bima menggeleng.


"Aku nggak ngapa-ngapain kamu, sumpah. Ini gatal kayaknya?"


"Gatal?" Mengulangi perkataan Bima.


"Maaf ya." Lagi, meminta maaf lagi. "Aku udah nampar kamu." Bima malah tersenyum.


"Kalau tamparan ini." Menepuk pipinya sendiri. "Ini karena kemarahan kamu, karena kamu cemburu. Aku malah senang, itu tandanya rasa kita sama." Drama di pagi hari di mulai. Keadaan yang semula panas, secepat itu mendingin, apa karena pengaruh AC, atau memang cuaca? Ah entahlah mereka yang tau.


"Sini." Bima membantunya berdiri, duduk di tepi ranjang kamar hotel.


"Kamu tau kan, aku paling nggak bisa lihat kamu dekat sama lelaki lain sayang, aku yang sekarang gampang emosi, susah buat ngendaliin diri, aku udah lelah satu harian di kantor, jadi kalau aku tersinggung sedikit saja, emosiku langsung memuncak. Aku harap kamu bisa ngerti itu. Jadi, aku mau mulai sekarang, kemana pun kamu mau pergi, ada urusan apa, kamu harus tetap kasih tau aku. Walau aku sedang sibuk tak bisa membalas, setidaknya aku tau kalau kamu sedang ada dimana. Coba kamu pikir, kayak kejadian tadi malam. Kamu bilang ke mama kalau kamu pulang kan?" Maudy mengangguk. "Taunya apa, aku lihat dirumah kamu, mobil ayah nggak ada, aku langsung putar balik, aku tau pasti kamu nemuin Kiki. Dan benar, kalau aja aku nggak nyusul kamu kesana, gimana? Gimana kalau ayah sama ibu tau? Sumpah, aku benci lihat kamu semalam. Jangan ulangi lagi, jangan hanya gara-gara hal sepele kamu seperti itu?"


"Iya aku nggak ulangi lagi." Bima langsung memeluknya. "Tapi ini beneran bukan ulah kamu kan?"


"Bukan, tapi nggak tau kalau aku nggak sadar." Maudy langsung memukulinya.


"Nggak sayang, aku rasa itu memang gatal, iya aku nggak ada ngapa-ngapain sumpah."


Maudy berdiri, berkaca untuk kembali melihat lehernya yang memerah.


"Gini aja, kalau mau buktikan. Sini coba aku buat, terus kita bedain, sama atau nggak?" Maudy diam sebentar berpikir, belum mengerti maksud ucapan Bima.


"Eh nggak!!" Langsung menolak setelah tau maksudnya. Bima tertawa, kemudian ia bangkit dan kembali mengenakan pakaiannya.


"Kita pulang ya, aku antar kamu dulu ambil mobil ayah, terus langsung pulang. Aku juga harus ke kantor." Maudy mengangguk setuju.


***


"Kunci mobil ayah sama kamu kan?" Bima langsung mengambilnya dan menyerahkan kepada Maudy.


Maudy sudah menjalankan mobilnya, terlihat sudah pukul setengah 7 pagi. Masih sempat jika ayahnya pergi bekerja membawa mobil. Bima tetap mengantarnya, dengan mengikuti mobil Maudy dari belakang. Sampai di seberang jalan, Bima tidak ikut berbelok. Mengingat waktu dia juga harus pergi ke kantor. Hanya bisa melambaikan tangan dan langsung tancap gas.


"Kamu beneran tidur di rumah sakit kan?" Ibunya sudah menyambut di depan pintu.


"Iya bu. Bima udah bilang kan?" Ibunya mengangguk.


"Itu leher kamu kenapa?" Maudy mengentikan langkahnya. Berbalik dan mendekat ke arah ibunya.


"Coba ibu lihat, aku juga nggak tau bu, bangun udah kayak gini." Menunjukan merah di lehernya.

__ADS_1


"Dy, kamu kok bau Alkohol." Setelah mendekat dan tercium bau nafas Maudy. Deg, jantungnya sudah berpacu lebih kencang.


"Ha? Mana mungkin bu, ada-ada aja." Tenang, jangan panik. Begitu batinnya berbicara.


"Ya udah sana mandi, nanti pakai salep aja. Ambil di kotak p3k."


"Iya bu." Maudy langsung membersihkan diri. Dah hari ini, Maudy tidak akan keluar rumah. Ingin tetap stay dirumah. Membantu ibu, sudah lama tak ikut berberes rumah semenjak pulang dari luar negeri. Bukan karena malas. Tapi karena memang waktunya yang tidak sempat.


***


Senja sore ini, menemani Maudy yang tengah duduk santai di teras rumah. Memetik senar gitar dengan jari yang sudah lihai. Mengalun dengan merdu di iringi suara khasnya yang membuat setiap orang mendengar menjadi terhanyut. Ponsel selalu di bawa walaupun tetap di rumah, selalu ingat pesan Bima. Dan sore ini, Maudy sudah bertanya tentang kabarnya sudah pulang atau belum. Tapi belum ada jawaban dari Bima.


Maudy masih tetap disini, tidak ada kegiatan membuatnya harus meluangkan waktunya dengan melakukan kegiatan tak membosankan, ya ini salah satunya bernyanyi sesuka hati.


"Mbak, ajari main gitar." Belum menjawab masih tetap bernyanyi.


"Mbak!!" Meninggikan suaranya.


"Sini." Akhirnya, Tisha tersenyum dan langsung duduk di samping saudaranya ini.


"Ini, begini." Menunjukan setiap jarinya, senar mana yang harus di tekan. Belum ada lima menit, tampak Tisha sudah mendengus bosan.


"Sakit mbak, nggak mau ah." Langsung berdiri dan meninggalkan Maudy yang masih terpelongo melihat ulah adiknya.


"Tadi maksa sekarang malah pergi."


Tin.. Tin..


"Bima." Bima tersenyum, ia turun dari mobilnya, dengan menenteng sebuah kantung plastik.


Apa itu??


Maudy berdiri menyambutnya. Mempersilahkan Bima untuk masuk.


"Bu, ada Bima." Harus, ibu harus tau kalau Bima datang. Jangan karena nggak tau ada Bima malah terjadi lagi kejadian waktu itu. Ah rasanya Maudy trauma.


"Bima, dari mana?" Ibu langsung berjalan keluar dari arah dapur. Mengelap tangannya pada bajunya sendiri. Dasar ya ibu-ibu. Begitu tau menantunya datang langsung deh gegas ke depan.


"Baru pulang bu, Ini aku tadi beli makanan." Memberikan kantung plastik yang bertuliskan nama salah satu supermarket di daerah mereka.


"Ya ampun, repot-repot. Bim, nanti kamu makan ya? Ibu sebentar lagi selesai masak." Bima mengangguk, dan ibu Irma mempercepat langkahnya menuju dapur, takut kalau masakannya gosong.


"Bu, ayah pulang." Maudy dan Bima serempak menoleh.


"Ayah." Bima tersenyum. Dan ayah membalasnya.


"Dari tadi Bim?" Meletakkan tasnya di tempat biasa.


"Nggak yah, baru juga sampe." Ayah tampaknya sangat lelah, ia langsung masuk ke kamar. Mungkin langsung membersihkan diri.


"Sayang, itu jaket yang dulu aku belikan kan?" Berbisik di telinga Maudy.

__ADS_1


"Iya, hehe. Tiap hari juga di pakai ayah." Mata Bima berbinar mendengarnya.


Enak ya Bim, kamu senyum ayah senyum, kamu negur ayah juga balik negur. Beda sama aku, datang kerumah kamu juga nggak di harapan kan sama papa kamu.


"Kamu nggak mau mandi sekalian disini?" Bima tampak berpikir.


"Pake baju ayah nanti." Maudy menahan tawa.


"Nggak, aku bawa baju kok di mobil."


"Ya udah, kamu mandi, jangan segan nggak apa Bim. Biar aku yang ambil baju ganti kamu di mobil." Sepertinya Bima setuju, ia langsung bangkit dari duduknya. Dan berjalan ke arah dapur. Tampak ibu yang sudah selesai masak, beliau tengah memindahkan masakannya ke dalam mangkuk.


"Bim, mau ngapain?" Setelah melihat kehadiran Bima.


"Mau mandi bu, aku numpang kamar mandi ya bu." Ibu Irma tersenyum.


"Iya nggak apa lah Bim, tapi maklum ya, kamar mandi ya begitu keadaannya, beda sama dirumah kamu." Bima malah terlihat tidak enak karena ibu Irma bicara begitu.


"Nggak apa bu." Langsung masuk ke dalam. Ya, hanya ada dua kamar mandi di rumah ini, di kamar ibunya dan di dapur. Namun, tekad Maudy sudah ada. Kalau nanti sudah mempunyai uang lebih, akan membangun kamarnya menjadi lebih luas, sehingga bisa membuat kamar mandi di dalam kamarnya.


***


Semua sudah berkumpul di meja makan, Bima juga sudah rapi dan wangi memakai pakaian santainya. Tak melulu menggunakan jas kantor yang menambah kesan wibawa padanya. Maudy mengambilkan nasi untuk Bima, beserta sayurnya.


"Itu namanya sayur asam Bim." Ibunya tau, karena Bima menatapnya dengan bingung, kenapa ada kacang tanah, terong, dan apalagi ini campurannya.


Bima tersenyum lalu mengangguk. Tak di sangka, awalnya dia bingung dengan rasa pedas dan bercampur asam. Tapi suapan demi suapan malah masuk dengan gampangnya, bahkan perutnya terasa mencerna dengan baik, tak ada penolakan. Piring tandas tak bersisa. Maudy meliriknya dan mengulum senyum.


"Bu." Bima sudah membuka suara, setelah melihat semuanya juga sudah selesai makan.


"Iya Bim, kenapa?" Sebentar Bima melirik Maudy.


"Aku mau pernikahan di percepat, setidaknya dua bulan lagi." Uhuk, Maudy yang sedang minum langsung tersedak.


***


"Bim, aku mau kita nikah kalau papa kamu udah terima aku sebagai menantunya." Berlanjut membahas di teras rumah. Karena jawaban ibu dan ayahnya sama, semua tergantung Maudy. Dan mereka membiarkan Bima membahas ini hanya dengan Maudy.


"Papa udah setuju." Apa? Setuju? Tidak terima dengan jawaban Bima. Atas semua yang sudah Maudy tau, bagaimana papanya waktu berjumpa dengannya. Maudy langsung menggelengkan kepalanya.


"Aku mau semua impian aku tercapai dulu Bim, usaha aku, bangun rumah buat ibu sama ayah, dan-"


"Semua masih bisa di lakukan setelah menikah sayang, aku nggak akan larang kamu jalankan usaha kamu."


"Tapi Bim?"


"Percaya lah, aku juga akan bantu kuliah Tisha nanti, sampai selesai."


Kenapa? Kenapa anak ayah semuanya kuliah harus di biayakan orang lain? Apa ini rezeki ayah?


"Apa yang kamu takutkan? Ya udah, aku kasih waktu kamu satu Minggu buat jawab ya. Aku pulang, kamu jangan tidur sampai larut. Kalau kamu siap, aku langsung bilang ke papa sama mama." Bima, dia yang dulu selalu takut dengan papanya, bahkan hanya untuk meminta ijin keluar rumah. Tapi malam ini, Maudy yang kalah. Bima bahkan sudah berani meminta ijin untuk menikahinya. Hal yang akan di lakukan satu kali seumur hidupnya.

__ADS_1


--__


__ADS_2