
Pandangan mereka saling bertemu. Kiki dan Revan, ya mereka terheran-heran. Maudy malah tersenyum dan bergelayut manja di lengan Bima. Memamerkan kemesraan mereka di hadapan pengantin baru. Bagaimana bisa mereka sedang memiliki bayi kecil bisa jalan-jalan sejauh ini! Protes Kiki dalam hati.
Tidak ada yang saling bicara, Maudy yang terus tersenyum dan Bima dengan wajah datarnya, gaya cool dengan tangan satu dia selipkan kedalam saku celana. Memandang deburan ombak, senyum tipis kemudian muncul hanya beberapa detik. Perasaan Kiki menjadi tidak enak sekarang, sepertinya Bima akan balas dendam dengan bulan madunya dulu yang dihadiri oleh Kiki, ah itu juga dia yang minta kan!
"Jangan berpikir buruk tentangku." Tidak, Kiki langsung menutup mulutnya rapat, kenapa sahabatnya ini seperti cenayang sekarang?
"Ini papa aku yang minta?"
Mustahil.
Kiki bahkan menggeleng pelan tidak percaya, mana mungkin?
"Papa ku bilang, kami harus bulan madu juga, karena Maudy kan juga mau punya anak lagi."
"Hei, nggak seperti itu konsepnya! Kenapa malah jual nama aku dan papa sih Bim?" Nah kan, Kiki langsung menunjuk Bima dengan jari telunjuknya. Sudah ketahuan, ini hanya akal-akalan Bima saja yang memang ingin menganggu mereka berbulan madu.
"Ki, aku punya berita duka, eh duka atau bahagia ya?" Bingung sendiri dengan perkataannya. Kiki langsung beringsut mendekat ke arah Maudy.
"Ha, mau ngapain? Itu ada suami kamu?" Tau saja kalau istrinya akan dihujani beribu pertanyaan. Menghalangi dengan satu tangan, memang apa enaknya sih di gelayuti? Bukannya malah pegal.
Kiki mundur lagi, dan bergelayut manja di lengan Revan.
"Peringatan pertama, jika di dalam kantor di larang melakukan itu." Revan mengangguk dan berkata siap pak. "Yang kedua, jangan sayang sayangan." Lah, mereka saling pandang.
"Karena saya bisa iri Revan." Maudy sudah tidak heran, iya Kiki juga memakluminya. "Jangan berbuat aneh-aneh selagi di dalam ruangan hanya berdua, karena ada CCTV di dalam sana."
"Bim stop!" Kiki langsung mengisyaratkan dengan tangan untuk Bima tak melanjutkan peraturan anehnya.
"Aku tau batasan. Jadi jangan di ajari. Sekarang yang aku tanya, kalian datang kesini mau apa?"
"Hehe." Bima tertawa kecil dan menoleh ke arah Maudy. Mereka saling pandang dan tersenyum, memainkan kedua alisnya.
Apa semenjak dengan Bima Maudy juga jadi aneh?
"Ini pulauku, ini milikku, terserah dong Ki aku mau ngapain disini? Kalau aku juga mau pindah kesini bawa Endah dan Gio juga tak masalah kan?"
Ha? Saling pandang dengan Revan.
"Jangan menjual nama Maudy lagi Bim." Bima hanya angkat bahu.
"Dy, sekarang kamu bilang. Berita duka apa yang harus aku dengar?" Sudah tak peduli soal pulau ini yang sudah di beli Bima, terserah saja pikir Kiki.
"Nanti aja kita bicaranya berdua." Revan mengerutkan keningnya, kenapa harus berdua?
Bima mengajak Revan untuk masuk ke dalam villa penginapan di pulau ini, ada hal penting yang harus mereka bahas. Sebenarnya hal itu juga mendukung Bima untuk datang kesini, karena harus membahas berdua dengan Revan. Meskipun Bima adalah pimpinan sekaligus pemilik perusahaan, tapi tidak ingin mengambil langkah sendirian, lebih baik di bicarakan dengan Revan. Agar nantinya tidak akan ada kesalahan jika harus menanggung semuanya sendiri.
Masalah yang terjadi disini, salah satunya soal kerja sama yang dilakukan oleh perusahaan milik Niko. Semua tak seusai ekspetasi, Niko bahkan belum memberi kabar hingga saat ini. Anak perusahaan hanya bisa menunggu, karena mereka juga tak berani mengambil keputusan.
Bima sudah ketar-ketir, karena sebelumnya melakukan kerja sama dengan perusahaan lain belum pernah mengalami kebangkrutan. Tapi kali ini, saham yang mereka tanam cukup besar. Resiko memang tidak terjadi kepada perusahaan Bima, tapi kepada perusahaan milik Niko.
"Saya bisa saja membelinya Revan, tapi saya tidak bisa jika harus memimpin dua perusahaan sekaligus." Ucapnya.
"Tapi saya sarankan juga jangan pak. Perusahaan ini bergerak di bidang yang sama, hanya berbeda dalam pengelolaan. Bukankah itu sama saja? Hanya saja ibarat bapak mempunyai dua gedung sekaligus." Nah kan, tidak salah jika membahas soal ini dengan Revan. Dia memang pintar dan cekatan dalam berpikir.
"Apa penyebabnya dia pergi keluar negeri? Apa karena Kiki menolaknya?" Revan terdiam. Ini sudah lari dari jalur pembicaraan sepertinya.
"Saya tidak tau pak. Yang pasti dia pergi karena menemui mantan kekasihnya." Berharap, jangan bahas lagi lah pak! Itu maunya Revan.
"Ya sudah, kalau memang menurut kamu begitu dan jawaban yang kamu berikan, saya merasa puas akan hal itu." Revan mengangguk.
Bima meraih satu cangkir kopi yang sudah di sediakan oleh penjaga villa. Menyeruputnya, heh rasa ketenangan mulai terasa.
"Pak?" Bima menoleh, meletakkan kembali cangkir berisi kopi ke atas meja. "Apa saya boleh bertanya?" Bima mengangguk, silahkan begitu artinya tanpa harus menjawab.
"Apa ini salah satu alasan bapak sehingga datang kesini?" Bima tertawa kecil.
"Apa kalian merasa terganggu?"
Kenapa harus di jawab dengan sebuah pertanyaan juga? Ya ampun, untunglah Revan orangnya tidak tempramen, kalau saja iya mungkin akan sering bertengkar dan akhirnya mengundurkan diri.
__ADS_1
"Tidak pak, bukan itu. Bukannya mbak Maudy juga harus mengurus kedua baby bapak?"
"Mereka sudah kami titipkan kepada neneknya." Revan mengangguk paham. "Saya juga kesini karena ingin melihat pulau yang sudah saya beli."
"Jadi itu serius pak?" Revan langsung menampakkan wajah kagetnya. Benar-benar serius ternyata.
"Iya. Tapi bukan saya yang mengurusnya, makannya tidak melibatkan kamu. Semua yang urus papa saya, dan ini juga dia yang minta untuk saya sekali-sekali meninjau tempatnya. Makannya saya sudah menjadwalkan kalian berbulan madu disini, lihat saja tidak ada pengunjung lain kan?" Revan mengangguk. "Karena semua sudah saya atur."
Sungguh luar biasa, uang menaklukan segalanya.
Hari mulai gelap, saatnya mereka juga harus kembali ke kamar, tapi belum juga terlihat kedua wanita yang katanya membicarakan hal penting. Bahkan sepenting apa juga Revan tidak tau, sampai-sampai dia sendiri seperti tak boleh mendengar. Bima sudah mengatakan, jangan ganggu mereka. Kedua wanita itu maksudnya, dia saja bisa memaklumi. Kiki, Bima juga menyayanginya sebagai teman. Tak tanggung-tanggung hadiah yang di berikan Bima, tunggu saja selepas berbulan madu, akan ada kejutan lagi yang diberikan Bima.
Maudy dan Kiki masih duduk di bangku kayu pinggiran laut, menikmati temaram sore yang memperlihatkan suasana langit berwarna merah. Silau matahari juga sudah tidak terlihat, berganti awan putih yang seperti melambai dan ingin menghilang. Maudy sengaja mengajak Kiki untuk duduk disini, mengulang cerita lama sewaktu dirinya belum mengandung dan menjadi ibu seperti sekarang. Kesibukan yang mulai bertambah setiap harinya, mengurus anak dan mengurus resto.
"Aku nggak habis pikir Dy. Kenapa bisa Agam menjadi seperti itu." Setelah mendengar kabar bahwa Agam di penjara karena mengkonsumsi barang haram berupa narkoba. Kiki juga sempat syok, ternyata kedekatannya dulu tak bisa tau semua tentang Agam, meskipun sudah mengenal dekat dengan keluarganya. Tetap saja banyak rahasia yang tidak dia tau. Kalau begini, tak ada sedikitpun rasa penyesalannya berpisah dengan Agam. Lelaki yang tidak tau aturan.
"Kamu tau, kejadian malam itu. Aku yakin juga Agam sudah memakai barang haram itu terlebih dahulu, makannya dia bisa bertindak nekat. Tak bisa berpikir dengan otak yang jernih." Kiki mengangguk setuju, pasti itu jawabnya.
Kiki sangat berterima kasih kepada Tuhan, bertemu dengan Revan sepertinya adalah hal terindah. Meskipun belum memiliki banyak kenangan terindah. Tanpa berpacaran mereka menikah. Hah, itu justru mengurangi dosa.
"Aku juga belum tau kabar kak Niko sekarang." Ucapnya sambil melamun menatap arah laut yang tak memiliki ujung. "Aku rasanya ingin menangis sekarang Dy." Menyadarkan kepalanya di bahu Maudy.
"Kenapa harus menangis? Dia tidak pantas kamu tangisi!"
"Bukan, bukan kak Niko ataupun Agam. Tapi Revan, aku menangis bahagia Dy. Hari ini, Tuhan sepertinya benar-benar menunjukan semuanya padaku. Kesalahan orang-orang yang dulu denganku." Maudy mengangguk, dia tau maksudnya.
"Ha.." Kiki kejang, dia benar menangis. Tapi Maudy rasa ini tak wajar, menangisnya malah meraung-raung seperti di tinggal pergi.
"Kenapa sih! Kenapa harus bertemu Agam lebih dulu!" Dia menunjangkan kakinya ke udara yang hanya menghasilkan angin lalu.
"Huhu aku merasa bersalah, karena masih menyimpan photo kenangan ku bersama Agam." Maudy langsung membulatkan matanya.
"Maksud kamu?" Kiki duduk kembali ke posisi semula, menghapus air matanya yang jatuh.
Dan kembali menceritakan semuanya, bagaimana Revan bisa menemukannya. Dan berpura-pura tidak melihatnya, padahal Kiki tau itu. Tapi Revan lebih memilih diam dan tidak membahas soal itu. Kebodohannya yang sempat meragukan seorang Revan.
"Apa sampai sekarang kamu masih meragukan Revan?" Kiki langsung menggeleng, air matanya jatuh lagi.
"Kalau begitu temui Revan sekarang dan minta maaflah dengannya. Jangan cuma menangis karena menyesal."
"Kenapa Kiki menangis?" Mereka sama-sama menoleh.
"Bim? Revan mana?" Maudy berdiri.
"Sudah sana, suami kamu dari tadi nunggu kamu. Sepertinya memang tidak bisa jauh dari kamu." Ucapnya dengan santai dan menarik Maudy untuk mendekat dengannya.
"Dasar cengeng!" Ketika Kiki melewatinya dan akan berjalan masuk.
"Diam kamu Bim!" Masih sempat-sempatnya menjawab.
"Bim?" Bima tertawa kecil.
"Bim, coba telepon mama aku rindu Endah dan Gio." Ucapnya di sela-sela perjalanan masuk ke dalam kamar.
***
"Revan?" Melihat kamar yang masih kosong.
"Mas Revan?" Mengulanginya lagi dengan di bumbui panggilan cinta.
Kiki melirik ke arah tirai kamar mandi, ada percikan air disana. Yakin, kalau saat ini Revan sedang mandi dan memilih untuk menyiapkan pakaian untuknya. Lalu duduk menunggu di pinggiran tempat tidur.
"Kamu sudah balik?" Kiki mengangguk, Revan berjalan mendekat dan ikut duduk di sampingnya hanya menggunakan lilitan handuk.
"Pakai dulu baju kamu mas." Revan diam dan hanya menatapnya.
"Kenapa tadi lama sekali? Memangnya apa yang di bicarakan sama mbak Maudy?" Lebih memilih untuk mendengar jawaban dari harus memakai pakaian.
Kiki yang harusnya meminta maaf harus tertunda, dan memilih untuk menjelaskan rasa penasaran dan ingin tau Revan. Tak ada salahnya memang jika Kiki juga menceritakan hal ini. Tapi malah takut Revan berpikir jika Kiki merasakan kesedihan.
__ADS_1
"Jadi kamu nangis karena itu?" Nah kan, Kiki sudah bisa menebak. Matanya selalu tak bisa di ajak kompromi. Sedikit saja air mata yang keluar bisa menimbulkan bengkak di sekitar kelopak mata.
Kiki menggeleng, lalu dia memeluk Revan dengan erat.
"Maafkan aku. Aku tau kamu juga sakit hati tentang photo yang kamu lihat kan? Aku tau itu, maafkan aku. Tapi aku sedih bukan karena itu. Tapi karena Tuhan mempertemukan kita." Revan membalas pelukannya. Mengusap punggung Kiki dengan lembutnya.
"Sudah, itu hanya masa lalu." Nadanya terdengar sangat lembut. Jangan sedih, begitu lagu Revan berujar. Trauma karena jika Kiki sudah menangis sangat susah untuk memintanya diam.
"Mandi sekarang. Terus nanti malam kita mau bakar-bakar."
"Benarkah?" Revan mengangguk dan tersenyum.
"Pak Bima yang mengajak."
"Heh, kirain punya ide sendiri. Ternyata ada dalangnya." Bergumam pelan sambil berjalan ke arah kamar mandi.
Saat mereka sudah sama-sama berdiri di depan penginapan, tapi belum melihat kedua pasangan aneh itu muncul. Kiki hanya bisa mengomel, dan berpikir pasti Bima tengah berulah sekarang makannya terlambat keluar.
Suasana laut yang pada malam hari tak terlihat, hanya bisa memandang kerlip lampu di sebrang pulau. Tempat dimana kapal dan perahu berhenti, ibarat dermaga hanya saja tidak terlalu besar.
Api unggun sudah di siapkan, begitu juga tempat pembakaran. Revan sudah akan memulainya, tapi salah satu pelayan mengatakan bahwa mereka yang akan mengerjakan dan tamu hanya duduk menikmati hasil. Ya ampun, Revan langsung kembali berdiri di samping Kiki. Suara hewan malam mulai terdengar, dan nyamuk nakal juga sudah mulai menggigit di bagian mana saja yang mereka suka.
Menepuk sana, menepuk sini. Menggerutu pelan entah siapa yang akan di salahkan. Lebih baik begini tidur saja di dalam kamar! Batinnya.
"Kalian udah dari tadi disini?" Kiki melirik tajam dimana pasangan yang ada di hadapannya ini malah tersenyum dan bermesraan. Merasa tidak punya salah sedikitpun. Dan apa, kenapa malah lehernya di tutup dengan syal? Oh iya ini cuaca sangat dingin, batin Kiki.
"Kalian ngapain aja sih di dalam? Aku sama Revan udah habis jadi santapan nyamuk." Gerutunya, lain dengan Revan dia memang selalu diam, memangnya siapa dia berani protes. Yang ada malah Bima membuat peraturan baru seenaknya.
"Ya sudah, kenapa marah? Seharusnya kamu kan menikmati waktu berdua, berarti kamu memang tidak senang ya berdua dengan suamimu?" Bima geleng-geleng. "Hei Revan, bagaimana bisa istrimu tidak nyaman ada di sampingmu?" Kiki menoleh ke arah Revan.
Sialan sejak kapan Bima pandai mencari alasan atas kesalahannya sendiri, ah ya ampun tapi apa yang di katakan Bima memang benar.
"Nggak lah, maksud aku tuh kan karena kamu yang buat rencana, kenapa malah kamu yang lama sekali datangnya Bim!"
Bima hanya angkat bahu dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Para pelayan sibuk memanggang ikan yang di pancing oleh nelayan. Itu juga kemauan Bima, ikan yang di panggang harus fresh. Jangan yang di beli dari pasar.
Malam semakin larut, kedua pasangan masih setia duduk di bawah lampu temaram yang menghiasi setiap sudut dimana tempat mereka duduk. Bara api juga masih mengepulkan asap walau saat ini sudah selesai memanggang, dan pelayan juga sudah tidak ada di tempat. Hanya mereka yang menikmati makanan ini, sambil di hiasi tawa riang. Berlomba dengan suara binatang malam.
Kiki tampak menguap, tapi menutup dengan tangannya. Sungguh tak rela untuk tidur sekarang meski waktu sudah menunjukkan pukul 23:00. Baginya ini hari bahagia, bisa berkumpul dengan suami dan kedua sahabatnya.
Kedua pasangan ini memutuskan untuk masuk setelah Bima memberi perintah untuk istirahat. Dia juga harus bangun besok pagi-pagi sekali, karena juga akan pulang.
Di dalam kamar mewah yang menjadi tempat bermalam Bima dan Maudy, jauh lebih mewah dari kamar penginapan milik Kiki. Kenapa? Setelah memutuskan untuk membelinya, Bima meminta satu kamar yang hanya khusus untuknya jika berkunjung kesini. Dan juga, sudah berniat akan membawa anaknya juga nanti, menunggu Endah dan Gio sudah bisa berjalan. Masih lama ternyata.
"Sayang, aku mau lagi." Merengek dan sudah menempelkan tangan di bagian favoritnya. Maudy yang sudah mulai memejamkan mata karena mengantuk berpura-pura tidak mendengar.
Bukan Bima namanya kalau tak berusaha.
"Sayang, besok kita akan pulang. Kamu juga pasti sibuk kalau sudah mengurus kedua baby kita." Lagi, Maudy sampai harus berpura-pura lagi mengeluarkan dengkuran halus. Hanya ada satu cara, memegang bagian tubuh Maudy yang merasa tidak bisa di sentuh karena geli. Benar, Maudy langsung menjerit dan tertawa.
Tidak ada alasan, tidak lagi. Maudy pasrah dengan maunya Bima. "Bim, kita sudah melakukannya tadi kan?" Bima menggeleng dan tak peduli. Beralasan lagi kalau sudah pulang kerumah tidak bisa leluasa, karena setiap ingin melakukan pasti salah satu anaknya ada yang menangis. Bahkan mereka seperti tak rela jika harus mempunyai adik lagi.
"Bim, udah ya." Langsung menyerah malam ini, bahkan pengantin baru saja bisa kalau di buat oleh mereka.
"Kamu capek?" Ah kenapa di tanya lagi. Maudy mengangguk dengan wajahnya yang sudah sayu. Bima mengusap pelan puncak kepala Maudy. Lalu mengecup kening sebelum bergulung di bawah selimut dan memejamkan matanya.
Di kamar lain.
"Sudah?" Kiki mengangguk. Wajahnya pucat dan mengeluarkan keringat dingin. Tiba-tiba saja dia terserang diare tengah malam. Revan yang merasa khawatir harus keluar, mencari pelayan dan meminta obat, untungnya mereka selalu menyediakan itu.
"Bisa tolong buatkan teh hangat?" Tanya Revan dengan sopan.
"Bisa mas, tunggu sebentar." Revan mengangguk dan duduk di kursi dekat dapur villa. Rasa kantuknya hilang seketika melihat Kiki yang merasakan perutnya sangat mules.
Beberapa menit setelah meninggalkan kamar, Revan kembali dengan membawa obat diare dan teh hangat. Tapi melihat Kiki yang berbaring dengan posisi tidur menyamping, Revan meletakkan dulu tehnya.
"Sayang?" Panggilnya pelan. "Sayang?" Menggoyangkan tubuh Kiki. Tidak ada jawaban, Kiki benar-benar tertidur pulas sepertinya.
"Ini obatnya di minum dulu?" Hem, hanya menjawab dengan gumaman. Revan menghela nafas lalu juga ikut tidur dengan posisi memeluk tubuh Kiki.
__ADS_1
"Istirahat lah, aku tak akan mengganggumu malam ini, tapi aku tidak janji besok pagi." Bisiknya pelan.
---__