
Hari berlalu begitu cepat, dengan dua keluarga akan segera menyatu dan memiliki ikatan persaudaraan. Ya, keluarga Bima sudah datang dan menentukan tanggal dan bulan pernikahan. Pernikahan akan segera di selenggarakan satu bulan setelah pembangunan resto milik Maudy selesai. Dan saat ini, mereka juga di sibukkan untuk segera pergi ke pernikahan temannya.
"Kita kemana dulu?" Bingung setelah sudah duduk di dalam mobil.
"Ke pernikahan Aldy aja dulu ya?" Awalnya Maudy kaget mendapat undangan tidak melalui secarik kertas, melainkan Aldy langsung mengabarinya melalui telepon. Itu akan membuatnya sedikit segan jika sampai tidak datang.
"Ya udah, kita jangan lama disana ya?" Maudy mengangguk. Padahal Aldy juga sudah menikah hari ini, tapi tetap saja Bima masih merasa takut calon istrinya di rebut.
"Besok kita akan pergi." Ya, besok adalah hari weekend kesempatan Bima mengajaknya pergi.
"Kemana Bim?"
"Kita cari gaun pengantin."
"Secepat itu?" Bima mengangguk.
"Kita pergi sama mama, nanti juga ibu kita ajak." Membayangkan tubuhnya di balut dress pengantin mewah saja sudah membuatnya tersenyum sendiri.
"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri? Senang karena mau ke pesta atau-"
"Seneng mau di ajak liat gaun pengantin!" Sedikit meninggikan suaranya, Bima tersenyum dan kembali diam.
***
Padangan mengarah ke sekeliling luar gedung, banyaknya ucapan selamat dari rekan keluarga dan juga rekan dari kedua mempelai, berupa papan bunga di sepanjang jalan menuju masuknya pintu gedung. Tapi satu yang tak Maudy mengerti.
Luna?
"Bim, kok pengantin wanitanya Luna? Apa jangan-jangan Luna itu ya?" Memutar bola matanya malas.
Eh tapi nggak mungkin! Mereka kan nggak saling kenal, lagian kan Aldy juga tinggal di luar negeri, belum lama balik kesini.
"Udah ayo?" Bima memegang erat tangan Maudy dan mulai memasuki gedung dimana acara resepsi pernikahan di adakan.
Maudy membandingkan penampilannya hari ini kepada wanita yang lain. Untung baju-baju dari tantenya juga bagus dan harganya fantastis, jadi tidak kalah saing lah dengan tamu yang lain, batinnya.
"Sayang?" Mengentikan langkahnya, membuat Bima langsung menoleh.
"Kenapa sayang?"
"Aku cantik nggak hari ini?" Perkataan yang setelah menjalani hubungan, baru kali ini di dengar Bima. Jauh sebelumnya, Maudy tak pernah mengatakan atau terlalu menghakimi penampilannya sendiri.
"Mau pakai apapun kamu kamu tetap cantik sayang." Mendekat ke arah Maudy. "Apa lagi kalau tahi lalat di dada kamu kelihatan, makin tambah cantik." Spontan Maudy memukul lengannya setelah Bima membisikkan kata-kata itu.
Mereka sudah di dalam gedung, melihat ke salah satu sisi yang menjadi rasa penasarannya saat ini, nama itu, kenapa bisa sama, itu yang terus di pikirkan. Tapi sayangnya, pengantin tidak ada di tempat, mungkin sedang berganti model pakaian.
"Kita duduk disitu aja ya, lebih dekat dengan pengantin." Maudy memberi saran.
Setelah duduk, Maudy menawarkan Bima untuk makan. Tapi dia menolak, dengan alasan tak ingin berlama-lama disini. Baik, Maudy menurutinya. 30menit menunggu kedua pasangan yang mempunyai penyelenggaraan pesta. Akhirnya keluar lah, seorang lelaki yang sangat ia kenali, dengan menggandeng lengan istrinya, yang berbalut Selayar panjang dengan dada yang terbuka, berwarna kuning keemasan. Matanya terbelalak.
"Itu, itu bukannya?" Menggantung kalimatnya.
"Luna?" Mereka saling pandang. Bingung, kenapa bisa?
"Apa kamu tidak lihat nama yang tertera di undangan Bim?" Masih menatap sepasang pengantin yang sudah duduk di singgahsana mereka.
"Aku nggak liat sayang, aku cuma di beri kabar om Lukman waktu ada meeting kemarin." Sama, Bima juga sedang melihat pemandangan yang menurutnya masih aneh.
"Kenapa bisa?" Maudy menggeleng.
"Ya bisa lah, kenapa kamu cemburu?"
"Apasih Bim, nanti kamu yang cemburu??" Saling tuduh tapi mata mereka sama-sama menatap lekat ke arah depan. Aldy melambaikan tangannya ketika melihat Maudy, dan Maudy tersenyum kikuk.
"Jangan di balas lambaiannya." Berbisik.
"Hmm." Menurut dan membuang pandangannya, padahal sudah seribu pertanyaan di kepalanya, ingin rasanya Maudy berlari sekarang dan langsung menanyakan hal itu dengan Aldy. Tapi jangankan bertanya, membalas dengan senyuman dan lambaian tangan saja Bima sudah melarangnya.
"Kamu makan ya? Kan ini sudah ada di pesta mantan kamu Bim?"
"Nggak ***** kamu bilang mantan."
"Pesta wanita itu."
"Siapa?" Menoleh ke arah Maudy. "Luna?"
"Ambil sendiri makanannya kamu udah sebut namanya barusan." Bima tersenyum.
Kok senyum sih??
__ADS_1
"Cemburu?"
"Nggak!"
"Iya!"
"Nggak!"
"Ya udah, aku ambil makan sendiri. Calon istri kok gitu." Bima bangkit dari duduknya. Tapi saat akan melangkah Maudy menariknya, sehingga Bima kembali terduduk.
Tanpa berkata-kata, Maudy langsung berdiri dan berjalan ke arah meja prasmanan yang sudah menyediakan berbagai macam hidangan.
"Nih, habisin." Bima membulatkan matanya. Menatap Maudy lagi, dan kembali fokus dengan piring yang penuh, nasi setumpuk dan daging, sayur, semua Maudy buat untuk porsi makan tiga orang. Bima menelan salivanya, membayangkan seperti apa perutnya nanti kalau harus menghabiskan makanan sebanyak ini. Ingin protes pasti Maudy juga protes. Ingin marah di kira tidak tau terima kasih. Bingung, dan memilih memakan dan mengunyah. Sesekali matanya mendelik menelan dua sendok sekaligus yang ada di mulutnya.
Rasain! Maudy membuang pandangannya dan tersenyum miring.
"Sayang, kamu nggak makan? Aku suapin ya? Aku tau, kamu ambil banyak supaya aku bisa suapin kamu kan?" Maudy menggelengkan kepalanya.
"Sini, biar mereka iri liat kita sayang?" Menaik turunkan alisnya.
"Ngg-" Satu suapan langsung masuk kedalam mulutnya. Mengunyah dan mengunyah sambil mata menatap tajam ke arah Bima.
"Lagi?" Menggeleng dengan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Kamu bawa kado kan?"
"Ba-" Lagi, berhasil. Dua suapan, lumayan ngurangin nasi di piring, batin Bima.
"Bim, aku nggak mau makan!" Protes setelah berhasil menelan makanannya.
"Kenapa?" Tidak mau membuka mulut.
"Sayang, cium?" Memancing lagi.
"Apa-" Nah, kalah telak. Bima tersenyum. Dan, akhirnya satu piring dengan penuh makanan seperti gunung sudah tandas.
Bima sendawa setelah meneguk air minum yang di berikan Maudy. Wegah, itu yang dia rasa, perutnya benar-benar sudah terasa buncit. Menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Sayang, apa kita pulang bakal salaman sama mereka." Sesekali masih terdengar Bima sendawa.
"Iya lah Bim, itu harus. Kita kasih selamat, terus juga photo. Biasanya begitu." Bima langsung menggeleng.
"Nggak, kita kesana, salaman dan langsung turun. Nggak perlu kasih selamat, mereka hari ini juga udah banyak yang kasih selamat. Kasian, mereka juga capek sayang jawabnya." Terdengar Maudy mendengus. Kenapa susah sekali menjelaskan hal semacam ini dengan Bima?? Batinnya.
Suara MC sudah mulai terdengar, musik mulai mengalun. Satu penyanyi sudah mengeluarkan suara emasnya. Tapi, sesaat itu selesai, Maudy jelas mendengar kalau namanya di sebut. Mempersilahkannya untuk naik ke atas panggung yang berada tepat di sebelah singgahsana pengantin.
"Bim? Kamu dengar kan?" Bima mengangguk.
"Ayo mana mbak Maudy? Silahkan naik dan bawa pasangannya, ini permintaan pengantin loh mbak."
Apa???? Kenapa ada-ada saja sih!!
Maudy langsung menatap ke arah Aldy yang tengah duduk santai karena belum ada tamu yang naik dan mengucapkan selamat. Matanya mendelik dan menatap tajam. Aldy malah menjawab dengan senyuman dan mengangguk. Maudy langsung berdiri, dan menarik lengan Bima. Bima yang semula masih ingin menetralkan rasa wegah yang ada diperutnya, kaget. Semua mata sudah tertuju ke arah mereka. Maudy bukannya malu hanya untuk bernyanyi di depan panggung dan di tonton banyak orang, no problem baginya sudah biasa. Tapi memang dia malas untuk menyumbang suara emasnya di pernikahan yang dia bilang adalah mantan Bima.
"Sayang aku." Bima sudah melirik ke sekeliling. Semua para tamu undangan tampak tersenyum. Padahal saat ini, detak jantungnya sudah tak beraturan. Cukup saja meeting dan memimpin rapat, tak perlu harus naik ke atas panggung dan di lihat banyak orang seperti ini, gerutunya dalam hati.
"Nah, ini dia sepasang kekasih yang tampan dan cantik, ayo mbak silahkan." Maudy melangkah naik, Bima sudah berbalik tapi Maudy menyentak lengan yang masih ia genggam. Mau tak mau, dengan menunduk Bima juga naik dan berdiri di samping Maudy.
"Sayang, aku nggak bisa nyanyi, sumpah." Berbisik.
"Aku yang nyanyi, kamu temani aku aja." Huh Bima membuang nafas kasar.
Mimpi apa aku semalam, harus berada di panggung begini. Di lihat banyak orang lagi, dan itu apa?? Eh malah om Lukman melambaikan tangan lagi. Apa sih.
Musik sudah mengalun, entah lagu apa yang di pilih Maudy Bima juga tidak tau. Yang penting, cepat selesai dan turun.
Dan kau hadir merubah segalanya...
Menjadi lebih indah.. Kau bawa cintaku setinggi angkasa membuat ku merasa sempurna..
Dan membuatku utuh.. Tuk menjalani hidup berdua denganmu selama-lamanya.. Kau lah yang terakhir untukku...
Suara tepuk tangan riuh, berupa pujian juga para tamu undangan berikan dari tempat di mana mereka duduk. Mendengar suara Maudy yang memang bagus, bahkan Aldy sampai bertepuk tangan. Lain hal dengan Bima, dia bahkan tak berani menatap ke arah depan. Hanya bisa memandang wajah Maudy dan menggenggam tangannya erat.
Setelahnya Bima langsung mengajak untuk langsung pulang, tapi Maudy menariknya lagi ketika Bima akan turun. "Kasih selamat dulu sama mereka!" Berbisik di telinga Bima. Menurut dan beralih ke panggung sebelah. Aldy dan Luna sudah berdiri siap menyambut mereka. Senyum merekah keluar dari bibir Aldy.
"Selamat ya Al." Beralih ke Luna. "Selamat." Cepat melepas tangan. Dan, belum Luna sempat menjawab, Maudy langsung melangkah turun dan menarik Bima. Kenapa jadi Maudy yang posesif sekarang??
Sepasang suami istri yang sudah memasuki gedung.
__ADS_1
"Pa itu Bima kan? Ya ampun, iya pa." Tak hentinya merasa kagum melihat anaknya berani naik dan bernyanyi ke atas panggung.
"Iya ma." Belum mengeluarkan ekspresi apapun.
"Tapi itu beneran Bima ya ma?" Eh malah balik bertanya.
"Iya pa, suara Maudy bagus ya pa." Diam, tidak menjawab dan memilih untuk berjalan mendekat ke arah Lukman. Memberi selamat, walau sedikit kecewa karena Luna tidak jadi menantunya.
***
"Sayang, sumpah ya akutuhh." Setelah di dalam mobil untuk pulang kerumah.
"Apa?" Tertawa. "Kamu nggak pipis di celana kan Bim?" Tertawa lagi, sepertinya puas.
"Sayang, udah ya, jangan lagi. Nggak lucu!"
"Loh, Bim kita kok belok? Inikan bukan jalan kerumah aku Bim!"
Diam, gantian membuat Maudy panik.
"Sayang mau kemana?" Bertanya selembut mungkin.
"Kerumah aku!" Mempercepat laju mobilnya sampai Maudy tersentak.
"Pelan-pelan Bim." Mengingatkan.
"Bima, iya maaf." Perlahan menurunkan kecepatan mobilnya.
"Bim, nanti kalau kita nikah juga gitu Bim. Kita bakal di lihat banyak orang. Satu harian malah, bukan hanya lima menit atau satu jam. Kamu harus terbiasa Bim, masak sih pimpinan perusahaan baru naik ke atas panggung aja malu."
"Sayang beda, kalau di kantor kan diruangan. Ini, beda sayang."
Sampai mobil sudah memasuki halaman rumah mereka masih saja beradu argument. Yang satu bilang harus terbiasa, yang satu bilang nggak bisa. Hah, mobil jadi terasa pengap walaupun AC sudah menyala dengan kencang.
"Kita ke kamar aku aja?" Tanpa basa-basi, Bima langsung menarik tangan Maudy.
"Bim, mau ngapain?" Menoleh ke kanan dan kiri. Walau statusnya juga sudah tunangan dan bentar lagi akan menikah, Maudy tetap tau batasan. Merasa tidak enak dengan tuan rumah.
"Aku nggak mau apa-apain kamu sayang. Aku mau kasih sesuatu."
Sampai di depan pintu kamar, Bima membukanya lalu masuk. Maudy masih tetap berdiri di depan pintu.
"Ayo masuk." Berbalik dan menariknya.
"Duduk." Maudy masih menurut. Kedua kalinya masuk ke kamar Bima. Maudy duduk di tepi ranjang, dan melihat hal apa yang akan Bima tunjukkan, sesuatu katanya, sesuatu seperti apa? Pikiran sudah melayang jauh.
"Nih." Menyerahkan kotak kecil yang dihiasi pita berwarna merah. "Buka?" Katanya lagi. Maudy membukanya dengan perlahan, sesekali menatap wajah Bima.
"Kalung?" Maudy mengangguk.
"Kamu suka?" Maudy masih menatap lekat kedua manik mata Bima. "Sini aku yang pakai kan." Mengambil kalung dari tangan Maudy, dan dengan telaten memasangkan kalung yang tampak sederhana, tapi Maudy tau ini pasti mahal.
"Kamu tau, ini hasil pertama aku setelah menjabat jadi pimpinan. Walau itu perusahaan papa yang mendirikan, tapi ini asli hasil kerja aku. Sayang, jangan mempermasalahkan soal harga, karena bagiku kamu tidak bisa di gantikan oleh uang. Pakai ini, jangan pernah di lepas ya?" Maudy mengangguk lagi, bahkan untuk sekedar berucap terima kasih lidahnya terasa keluh. Ada bahagia yang dia rasa di detik ini, merasa sangat di cintai, di hargai. Bukan dengan uang, tapi dengan pembuktian Bima selama menjalin hubungan.
"Kamu tau nggak, aku sampai sekarang masih merasa ini mimpi, begitu banyak hal yang kita lewati. Aku pikir, aku akan seperti orang lain, yang akan sering berganti pasangan ketika putus. Tapi kamu, kamu adalah cinta pertama ku. Dan aku harap, kamu juga gitu." Maudy langsung memeluknya.
"Bim, makasih ya?" Tulus, hatinya tersentuh. Dan kali ini Maudy benar-benar yakin untuk merubah status mereka jadi seorang suami istri.
"Makasih aja nggak cukup!"
"Kamu mau cium?" Bima langsung tersenyum dan mengangguk.
"Jangan sekarang ya, tunggu sampai sah jadi pasangan suami istri."
"Cuma cium sayang." Mulai mengeluarkan suara manjanya.
"Iya, itu udah seiring. Coba tahan sebentar lagi ya?" Huh Bima membuang nafas dan berdiri.
"Ayo?"
Bima marah ya?
"Kemana?"
"Kita jalan-jalan. Kita pulang kerumah kamu, terus naik motor kamu ya, kita jalan-jalan?" Maudy langsung menyambut uluran tangan Bima.
"Aku pengen kayak pasangan lain, sepertinya enak di malam hari begini jalan-jalan naik motor." Sambil terus berjalan menuruni anak tangga Bima tersenyum.
"Aku pengen sedikit mengulang cerita di masa lalu."
__ADS_1
Aku juga Bim!!
--__