Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kamar baru


__ADS_3

"Ma, Maudy mana?" Bima pulang kerumah sekitar jam 7, dan sudah terlebih dahulu memberi tau kalau ibu mertuanya kalau malam ini mereka akan pulang. Itu juga permintaan istrinya, meski tak terucap dari bibir tapi Bima sendiri tau kalau Maudy sudah ingin sekali pulang kerumahnya, menikmati suasana kamar baru yang bentuknya sekarang seperti apa.


"Dia ada di kamar Bim. Mama mau keluar sebentar sama papa, mau jenguk rekan papa dirumah sakit."


"Ma, aku juga mau pulang malam ini, soalnya renovasi sudah selesai dari kemarin?" Tatapan mata seperti tak rela jelas terpancar dari wajah mama Lisa. "Nanti bakal nginep disini lagi ma." Mamanya mengangguk lalu tersenyum.


"Ya sudah kalian hati-hati. Maudy juga tau kalau mama pergi." Berjalan ke arah depan, dimana suaminya sudah menunggu di mobil.


Semenjak Bima sudah benar-benar jadi pimpinan seutuhnya, papanya sekarang hanya sesekali datang dan memantau saja, mengajari Bima jika ada kesalahan. Dan sekarang, bahkan papanya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama mamanya.


Bima sudah berjalan menaiki anak tangga, menatap pintu kamar yang terkunci.


"Kamu baru pulang Bim?" Sapa kakak ipar yang tengah menggendong Dafa.


"Iya kak." Mendekat dan menoel pipi keponakannya, mencium pipi chubby nya, usel-usel pakai hidung. Persis saat dia terlihat gemas dengan Maudy.


"Heh, udah! Kamu belum mandi Bim!" Rio langsung menegur ketika keluar dari pintu melihat Bima terus mengunyel anaknya.


"Bentar lagi sih mas."


"Maudy belum ada tanda-tanda kehamilan Bim?" Siska menyerahkan Dafa ke Rio.


Tapi Bima mengambilnya lagi, bermaksud akan membawanya ke kamar.


"Hati-hati Bim gendongnya." Rio mengingatkan.


"Belum kak, tadi dia bilang sih kalau pagi baru dapat tamu bulanan." Berbalik, rasanya kalau sudah bertemu keponakannya tidak ingin di ajak bicara serius.


Ah jadi nggak sabar gendong anakku sendiri!


"Makannya Bim, lebih giat lagi. Kalau bisa 3 kali sehari!"


"Hus!" Siska memukul lengan suaminya.


Eh udah kayak minum obat aja, aku sih mau kalau Maudy sanggup.


"Sayang?" Membuka pintu, terlihat Maudy tengah meringkuk memeluk guling, dan membelakangi pintu. Bima menurunkan Dafa ke kasur, ia juga ikut duduk di sampingnya. Bima berpikir pasti Maudy tidur sekarang.


"Onty bobok sayang, huh jadi nggak bisa main kita ya?"


Maudy langsung berbalik. Matanya berkaca-kaca, nyaris meneteskannya air mata.


"Kamu kenapa? Sakit?" Melihat wajah Maudy yang tak sedikitpun memancarkan kebahagiaan, wajahnya pucat.


Maudy hanya menjawab dengan menggeleng. Lalu detik kedua tumpahlah air mata yang sejak tadi ia bendung dan tahan.


"Loh, sayang kenapa? Udah jangan nangis, aku udah maafin kamu. Iya sungguh sayang." Bingung, dan memilih membawa Dafa keluar kamar, mengembalikan kepada ibunya. Lalu kembali lagi ke kamarnya dengan jalan tergesa-gesa.


"Maafkan aku Bim, aku tau kamu sudah berharap aku hamil, tapi aku malah belum bisa kasih kamu anak." Huh, ya ampun.


"Sayang, jadi karena hal itu kamu menangis? Menangis sepanjang hari?"


Maudy mengangguk.


"Aku kira kamu menangis karena nggak aku kasih ijin keluar." Tidak, Maudy menggeleng.


"Sudah, baru juga sebulan sayang, wajarlah." Tangisnya malah semakin kencang. Rasanya pilu, dengan datangnya tamu bulanan.


Maudy merutuki kebodohannya, karena merasa dirinya sekarang cengeng.


"Sudah, sini." Bima merentangkan tangannya, Maudy pun menyambut masuk kedalam pelukan Bima.

__ADS_1


"Kamu bau sekali Bim." Bima tergelak lalu melepas pelukannya.


"Aku mandi dulu, setelah itu kita bersiap untuk pulang kerumah ibu, kamu mau kan?" Jelas dia langsung mengangguk. "Lalu nanti kita makan malam diluar berdua." Iya dia mengangguk lagi, bahkan lebih bersemangat dan menghentikan air mata yang jatuh.


***


"Kok disini sih Bim?" Mengeluh dengan melihat suasana yang menurutnya nggak asik.


"Ini makanannya enak sayang, aku nggak sengaja nguping pembicaraan karyawan kantor yang bilang makanan disini enak." Eh malah wajah Maudy berubah menjadi kecut.


"Berarti kalau resto aku buka kamu juga mau bandingkan makanan aku dengan tempat lain, termasuk ini?" Menunjuk ke arah tempat yang mewah, yang berdiri kokoh tepat di hadapannya.


Bima meraup wajahnya dengan kasar, mengatur nafas lagi.


"Sayang." Lembut. "Nggak. Udah ayo kita masuk." Bima langsung menarik tangannya, tak peduli dengan Maudy yang masih menghentakkan kakinya.


***


"Makan yang banyak, habisin. Biar gemuk, hehe." Bima tersenyum, Maudy masih acuh dan rasanya ingin menyentuh makanan juga tidak mau.


"Sayang, kenapa dilihatin aja? Makan?" Mendorong piring untuk lebih dekat dengan Maudy.


"Tadi aku udah makan Bim dirumah mama."


"Makan lagi sayang." Sepertinya Bima yang kelaparan, lihat makanannya udah habis separuh.


"Bim, beneran aku nggak laper. Aku kenyang Bim." Heh pasrah dan menarik piring ke arahnya sendiri, menyantap dua porsi sekaligus. Tidak apa-apa, demi istri, batinnya.


Maudy langsung meminta pulang, padahal baru saja Bima menyelesaikan makannya. Dikasih duduk sebentar juga tidak.


"Kalau gitu aku pulang naik taxi aja Bim." Tidak, mana mungkin di perbolehkan Bima. Dengan menuruti kemauan istrinya Bima berdiri, menggandeng lengannya untuk kembali ke mobil.


"Bim, kamu sayang nggak sama aku?" Saat sudah berada di dalam mobil Maudy bertanya. Tapi tak sedikit pun ia menoleh saat berbicara.


"Sayang, kamu ini kenapa nanya gitu?" Bingung, geleng kepala lalu melajukan mobil. Tak habis pikir dengan pertanyaan yang dia dengar. "Sayang, aku sayang kamu. Kamu tau kenapa aku belikan kamu mobil? Supaya kamu nggak capek kesana-kemari naik motor. Dan kalau mau pergi aku nggak bisa antar kamu, jadi kamu bisa naik mobil itu. Kamu tau, dan soal renovasi rumah. Aku mau kamu nyaman dengan kamarnya." Eh sekalinya di jawab Maudy malah diam.


"Jadi, kalau aku nggak bisa kasih kamu anak? Apa kamu bakal ninggalin aku, terus cari wanita lain?" Bima mendengus mendengarnya. Kenapa bisa berpikir jauh begitu batinnya.


"Tuh kan, kamu nggak jawab! Berarti iya kan Bim! Hiks.." Lah dia nangis, terpaksa Bima menepikan mobilnya.


"Sayang, ya ampun. Nggak! Nggak akan!" Memeluk Maudy, mengelus puncak kepalanya. "Sudah ya, jangan pernah berpikir yang tidak-tidak." Diam, dia kembali menghapus sisa air matanya.


Kenapa jadi cengeng sih sayang.


Sesekali menoleh, terlihat Maudy sudah tenang Bima kembali melajukan mobilnya.


Hingga beberapa menit, mereka tiba di rumah. Tampak lampu kamarnya yang paling terang. Dan di bawah jendela kamar juga ada taman kecil, semua itu adalah permintaan Bima. Walau sebentar lagi mereka akan pindah, tapi Bima tidak masalah. Yang terpenting saat ini istrinya senang.


Maudy dengan senyum melangkah lebih dulu masuk ke dalam rumah, dan meninggalkan Bima yang masih mengatur posisi mobilnya.


Maudy membuka pintu kamarnya, yang kini juga sudah di ganti dengan yang baru. Matanya menyusur setiap sudut kamar. Di sana juga terpampang photo nikah mereka, dijadikan hiasan di dinding kamar. Dinding berwarna merah biru, sudah berubah dari warna sebelumnya. Maudy melangkah lagi, menuju kamar mandi. Dia terus tersenyum karena keinginannya bisa terkabul.


Ada bath up dan di samping kanan ada tirai khusu untuk menutup ketika ingin berlama-lama di dalam kamar mandi. Matanya kembali terbelalak, melihat sebuah kaca besar yang menghiasi kamar mandi, dan ada tempat khusus meletakkan sabun. Tapi ini berbeda dengan yang lain. Ah rasanya ingin mandi lagi, batinnya.


"Sayang." Suara Bima sudah memenuhi isi kamar, melihat pintu kamar mandi terbuka berarti istrinya sedang berada disana.


"Sayang?" Maudy menoleh dan tersenyum.


"Bima, makasih ya?" Memeluk Bima dengan eratnya.


"Kamu suka?" Mengangguk dalam pelukan.

__ADS_1


"Nanti di rumah kita bakal lebih mewah dan luas." Maudy mengendurkan pelukannya.


Yang begini saja sudah sangat mewah, bahkan lebih dari kamar aku dirumahnya om. Jadi bagaimana lagi nanti dirumah kami? Apa bakal ada taman di dalam kamar mandi, ah rasanya tidak mungkin.


"Kamu masih mau disini?" Maudy mengangguk lagi. "Ya sudah, kalau begitu temani aku mandi ya?" Langsung mengunci pintu.


"Eh nggak aku keluar!" Bima menggeleng.


"Terlambat!" Ah dia langsung mendekat, mengecup setiap inti wajah Maudy, hingga pindah ke leher, dan yang di rindukan Bima adalah bermain dengan kedua aset berharga milik Maudy.


"Bim aku masih-" Menggantung kalimatnya karena mulutnya sudah di sambut dengan bibir.


"Eum.." Maudy menggoyangkan kepalanya ke kanan dan kiri. "Bim." Berhasil lepas, mengambil nafas. Dia juga sudah merasakan gairah panas.


"Aku masih datang bulan Bim." Bima langsung mengusap wajahnya dengan kasar, ah bagiamana bisa melupakan hal itu. Merasa frustasi, langsung berbalik dan membuka pakaiannya. Bima sudah tak terbalut sehelai benang pun, dan Maudy masih tetap menatapnya. Hingga Bima mengguyur tubuhnya di bawah air.


"Kamu marah Bim." Dia hanya menggeleng, semoga air bisa menyegarkan pikirannya.


Maudy berbalik, ia juga ingin keluar. Untuk apa hanya melihat Bima mandi, yang ada hanya menelan ludah tanpa bisa merasakan indahnya surga malam ini. Huh, melihat Bima begitu juga jantungnya berdegup.


"Sayang, tolong ambilkan handuk." Berteriak ketika Maudy baru saja menutup pintu.


Dan ceklek, Maudy kembali lagi dan menyerahkan handuk kepada Bima.


"Makasih sayang."


***


"Bim, gimana acara resepsi kita?" Mereka sudah sama-sama berada di tempat tidur. Bima telentang sementara Maudy memeluknya dengan posisi miring.


"Sudah di atur mama sayang, kenapa?" Lama Maudy menjawabnya.


"Nggak apa, Hem apa aku boleh mengundang teman-teman aku Bim?" Bima tertawa kecil.


"Boleh sayang." Ah Bima, cium lagi disini dan disana. "Apa maksud kamu juga dia?" Maudy tau maksudnya.


"Dia juga teman kan Bim?" Bima diam. "Dia juga bantu akukan." Menghela nafas.


"Terserah kamu sayang. Asal saat dia datang mengucapkan terima kasih, kamu nggak perlu bersentuhan." Baik Maudy menurut. "Jangan tersenyum ke arahnya." Mulai. "Dan jangan menatapnya." Lah kalau begitu ngapain dia di undang! Ingin sekali protes rasanya.


"Sudah, mau tanya apalagi? Kalau nggak ada kita tidur ya? Besok aku kerja lagi sayang. Hem aku mau besok kamu ke kantor ya? Bawakan bekal seperti waktu itu."


Gamau! Nanti kalau abis di bawakan bekal malah kamu pergi lagi keluar negri.


"Bim, sebentar aku mau buang air kecil." Maudy langsung turun, dan berlari kecil ke kamar mandi. Enaknya sekarang sudah bisa mandi dan buang air tak perlu keluar kamar lagi.


Loh, kok nggak keluar lagi? Perasaan tadi siang masih. Kenapa datang bulan ku nggak lancar?


Ah sudahlah, Maudy menepis pikiran buruk yang berputar di kepalanya. Takutnya malah akan membuat Bima khawatir dan membawanya kerumah sakit. Paling nggak suka dengan hal itu. Jadi teringat dulu, sewaktu sakit juga memohon pada omnya untuk di rawat di rumah saja.


"Sudah sayang?" Maudy mengangguk lalu kembali dengan posisinya tadi.


Jangan bilang deh, lebih baik besok aku searching di internet prihal ini.


Dan, Bima sudah pulas dengan suara dengkuran halus. Sementara Maudy mengambil kesempatan untuk membuka internet sekarang, tak sabar jika harus menunggu besok lagi.


Heh, akhirnya. Ternyata pengaruh besar karena kecapekan dan banyak pikiran. Ini pasti gara-gara kejadian semalam.


Helaan nafas lega langsung terdengar. Maudy segera menyusul Bima ke alam mimpi.


--__

__ADS_1


__ADS_2