
Lampu malam menjadi penerang di setiap sudut jalan kota. Di sambut dengan pohon yang bergoyang terkena angin malam, cuaca tidak terlalu buruk.
Gembok toko kosmetik dan pernak-pernik wanita sudah di genggam, menatap ruko tingkat di hadapannya. Hembusan terdengar, sekali lagi menatap gedung ini mulai dari atas. Berbalik dan siap meninggalkan semua kenangan yang setiap harinya terukir disana.
Aku bersumpah akan melupakan semuanya.
"Aku permisi ya om, tante." Soal hasil penjualan seluruhnya di serahkan oleh Kiki, orang tua Agam tidak meminta. Baginya sudah cukup anaknya membuat malu. Seminggu setelah Kiki mengetahui semuanya, tapi setiap malam itu pula dia selalu menangis. Ini baru hitungan hari, orang tuanya juga maklum. Setiap pagi melihat mata sembab anaknya.
Murung, itu Kiki yang sekarang.
"Ki?" Mama Agam menarik lengannya, memeluknya dan kembali meminta maaf.
"Jangan benci Tante ya? Kamu main kerumah Tante terus ya Ki? Maafkan Tante yang nggak bisa didik Agam menjadi anak yang baik." Kemudian dia terisak. Kiki hanya diam tak membalas pelukannya.
"Bagaimana mungkin aku bisa datang kesana Tante. Bahkan aku sudah nggak mau lihat wajahnya." Pandangannya kosong.
"Nggak. Agam nggak ada disini, dia nggak di perbolehkan masuk rumah tante. Soal pernikahannya juga kami tidak mau tau." Papanya Agam juga mengangguk saat Kiki menoleh ke arahnya.
Iya saat ini, tapi tahun berikutnya juga pasti di terima. Apalagi Agam anak laki satu-satunya.
"Aku nggak bisa janji ya tante. Soal itu, aku harus tanya mama aku dulu. Tapi kalau tante kangen, kapan aja tante mau jumpa aku mau, kita ketemu di luar." Mama Agam melepaskan pelukannya, mengelus kedua bahu Kiki dan beralih ke wajah, dia tersenyum meski sisa air mata tetap ada yang jatuh. Kiki juga berusaha tersenyum tegar membalasnya.
"Kamu anak baik, tante yakin dan akan doakan kamu dapat jodoh yang jauh lebih baik."
"Amin, makasih tante."
Kiki berjalan masuk ke mobilnya, melihat sekali lagi gedung ruko yang tutup. Air mata menetes, bayangan kembali muncul di pikirannya.
"Sayang, kamu mau makan apa? Biar aku beli di luar kalau kamu nggak mau makanan yang ada di cafe."
"Sayang, kenapa kamu kasih Maudy alkohol!!!"
"Sayang, aku pulang! Kita jalan-jalan ya, kau rindu."
"Ki, maafin aku ya. Aku terlalu breng sek buatmu! Maaf."
"Arrggh.." Kiki langsung memukul stir kemudi berkali-kali, melampiaskan kekacauan saat ini. Mengingat semuanya manis, dan hanya dengan satu kata itu semuanya jadi hancur.
Rasa muak dan menyesal melingkupi kepalanya saat ini. Baik itu pertama kali berjumpa dan memulai hubungan. Agam, dia lebih memilih wanita lain, mungkin ini karena Agam selalu meminta haknya sebelum menikah. Kiki selalu menolak, dengan alasan takut hamil, dan sekarang semua terjadi kepada orang lain, bukan dirinya.
"Kalau pun aku mau, bukan kah aku membuat malu keluarga ku nantinya."
Mobil terus melaju tanpa arah, walaupun kemudi masih terkendali dengan fokus menyetir, tetapi Kiki sendiri benar-benar tidak tau harus kemana. Sampai terlihat ada asap di pinggir jalan. Kiki mengentikan mobilnya, melihat seseorang tengah membakar sampah. Kiki turun, mengambil sebuah kotak yang berukuran cukup besar.
"Mbak, mbak. Apa itu?"
"Sampah mas. Saya boleh kan numpang buang disini, sekalian di bakar."
"Oh, boleh. Saya lihat dulu ya mbak, takutnya mayat lagi isinya." Kiki tertawa kecil.
"Nggak mungkinlah mas, walaupun saat ini saya ingin membunuh orang." Hah? Lelaki yang usianya sekitar 30-an itu langsung tercengang, menatap Kiki dari atas sampai bawah.
"Saya becanda mas, ya udah jangan lupa ya mas di bakar aja kalau sudah tau isinya bukan mayat, saya permisi." Kiki berbalik, lalu baru beberapa langkah ia kembali menoleh.
"Mas ini upah mas yang mau bakarkan sampah." Mengeluarkan uang seratus ribuan dua lembar. Lelaki itu kembali di buat tercengang. "Ambil mas." Kiki menggoyangkan tangan yang sudah terulur.
"Makasih ya mbak." Wajahnya berbinar, seperti menemukan harta Karun saja.
Melihat mobil yang di naiki sudah menjauh, ia langsung menjelajah isi kotak. Ada baju, boneka, kalung, semua yang di berikan Agam untuknya.
"Dasar gila, ini kenapa mau di bakar. Malah aku di kasih uang lagi. Ah aku bawa pulang ajalah, untuk istriku, lalu aku ajak dia makan bakso, hehe." Berlari kecil menuju rumahnya yang hanya sekitar 20 meter dari tempat pembakaran sampah.
"Dek, aku dapat hadiah dari orang patah hati dek.." Berteriak girang sebelum memasuki rumah.
***
Duduk di antara keramaian, menikmati satu cangkir teh hangat. Melihat ke sekeliling, banyaknya sepasang kekasih, baik yang belum menikah dan sudah ada yang berumah tangga.
Menyeruput teh hangat yang masih mengeluarkan asap tipis, tidak mungkin kelihatan tua kalau hanya karena minum teh kan? Ini juga salah satu ketenangan untuk orang yang jiwanya tengah terguncang.
"Mbak, apa mau pesan makanan?" Kiki menggelengkan kepalanya.
"Nanti saja."
"Oh baik mbak. Sebentar ya mbak, mbak Maudy masih sibuk di dapur." Kiki mengangguk.
Kemana lagi kalau bukan datang kesini ujung-ujungnya. Tujuan terakhir, tempat mengaduh selain mamanya. Melihat jam di tangannya, sudah pukul 10 malam. Tapi resto milik Maudy masih terlihat ramai, bahkan masih banyak yang keluar masuk untuk membeli, sekedar take away atau duduk di kursi lain bersama pasangan mereka.
"Ki, maaf ya lama. Soalnya kasian ibuku kalau sendiri." Ikut duduk, menarik kursi lalu menatap wajah Kiki dengan seksama.
"Ki? Aku harap kamu nggak lakuin hal nekat." Kiki diam.
"Apa aku sanggup Dy?" Maudy segera menggeser duduknya menjadi lebih dekat. Di usap wajah Kiki dengan lembut.
__ADS_1
"Kamu temanku, sahabatku, kamu kuat aku tau itu." Ucapnya dengan nada lembut dan ketenangan.
"Aku coba hubungi kamu, aku cari kamu malam itu, tapi kamu nggak ada, aku khawatir. Tapi setelah mendapat kabar dari tante Ratih kalau kamu sudah pulang aku sedikit lega. Maafkan aku ya Ki, aku benar-benar sibuk untuk urusan resto dan Bima, aku belum bisa datang untuk lihat keadaan kamu."
"Lebay, aku nggak sakit. Aku memang butuh waktu buat sendiri." Kiki mengibaskan tangannya. "Maaf soal nomorku yang nggak bisa di hubungi, aku sudah menggantinya Dy, aku nggak mau aja setiap hari ada pesan masuk yang mengucapkan kata maaf. Kalau aku terima maafnya, aku semua akan kembali? Nggak kan?"
Maudy mengangguk setuju. Benar apa yang di katakan Kiki.
"Bima mana Dy?"
"Eh Bima lagi packing baju, baru juga balik dari sini."
"Packing? Dia mau kemana?"
"Pergi Ki, keluar negeri, ada urusan kerja."
"Ah aku trauma mendengarnya."
"Aku percaya Bima Ki." Kiki mengangguk.
"Kamu beruntung dapat Bima Dy."
Kiki mulai menceritakan semua tentang Bima sewaktu kuliah, mengalihkan pikirannya yang saat ini di penuhi oleh nama Agam. Bagiamana Bima menolak untuk dekat dengan siapapun, meski saat itu Maudy dan Bima sudah tidak lagi saling memberi kabar.
"Dan kamu tau nggak Dy, dosen muda disana juga naksir sama Bima, eh pas Bima merasa risih, dia nggak mau masuk kelas."
"Masak sih? Kenapa kamu nggak cerita."
"Untuk apa? Toh nyatanya dia juga jodoh kamu, kecuali Bima mau dengan mereka, barulah aku larang kamu untuk balik sama Bima."
"Oh pantas saja aku tersedak, ternyata kalian yang menceritakan aku ya!" Hah? Maudy dan Kiki serentak menoleh.
Sejak kapan dia berdiri disana?
"Bima?" Ah Kiki mulai melihat kembali kemesraan yang membuatnya iri.
"Sayang, kamu nanti nggak usah antar aku ya, kamu istirahat aja dirumah. Pikirkan calon kedua anak kita." Mengelus perut Maudy dengan lembut.
"Dua? Maksudnya? Anak kalian kembar?" Maudy mengangguk dan tersenyum.
"Ya ampun, pasti lucu deh Dy kalau kayak kamu."
"Jadi kalau kayak aku?" Kiki mendengus.
"Hallo?" Bima langsung mengangkat telepon ketika mendengar ponselnya berdering.
"Siapa Bim?"
"Revan sayang, dia yang akan temani aku nanti selama pergi." Maudy mengangguk saja, toh dia juga tidak tau siapa Devan.
"Ayo lanjutkan cerita yang tadi, tadi tampaknya Kiki semangat sekali menceritakan aku." Dia ikut duduk di samping istrinya.
"Bim, jangan gitu. Harusnya kamu hibur Kiki sekarang."
"Heh, cari yang lain lagi Ki. Itu alasan aku kenapa nggak suka Agam, karena aku sendiri tau Agam itu gimana. Tapi melihat kamu sepertinya bahagia sama dia, ya nggak mungkin kan aku larang, memangnya aku siapa?"
"Bim, memangnya kamu pernah tau Agam sama wanita lain?" Maudy bertanya.
"Sering sayang." Menjawab dengan santai dan mengusap lembut puncak kepala istrinya. Sepertinya masih ingin bermanja sebelum pergi, hanya saja waktunya tidak tepat.
Kiki menggebrak meja ketik mendengar jawaban Bima.
"Kenapa kamu nggak bilang Bim? Kenapa kamu nggak kasih tau aku atau seenggaknya bilang ke Maudy, supaya dia bisa kasih tau aku Bim! Tega kamu, bulan depan loh Bim padahal seharusnya kamu tunangan."
"Nyatanya nggak jadi kan? Batal kan? Itu berarti Tuhan masih sayang kamu, supaya nggak jodoh sama laki-laki breng sek. Kenapa aku nggak bilang sama kamu? Karena kamu kan tau Ki, aku bukan tipe lelaki yang mau mencampuri urusan orang lain, dan hubungan orang lain." Kiki terdiam, air matanya kembali menetes.
"Dimana Bim? Kalau begitu ceritakan sama aku sekarang, aku ingin tau." Bima malah melihat jam di tangannya, mungkin akan panjang dan memakan waktu sehingga harus memperhitungkan setiap menitnya.
"Pak?" Bima menoleh.
"Sayang?"
"Bim, cerita dulu ke Kiki." Memegang lengan Bima, dia tau saat ini Kiki masih penasaran. Hembusan nafas terdengar.
"Revan, kamu bisa duduk dulu. Kenalkan ini teman istri saya yang saat ini mempunyai riwayat sakit hati." Revan duduk, tapi wajahnya tampak bingung dengan apa yang di katakan Bima.
"Sudah jangan di pikirkan, nanti bisa nular ke kamu. Ki, dia salah satu karyawan aku yang mempunyai pemikiran tinggi, tampan lagi." Revan tersenyum dan memperkenalkan dirinya.
"Cerita Bim." Eh sepertinya malah istrinya yang sangat penasaran.
"Jadi, malam itu, dan malam-malam lainnya. Setiap aku pulang melalui jalur lain, yang terdapat diskotik disana aku pernah melihatnya keluar dengan wanita lain." Kiki menggeleng tidak percaya.
"Kamu ngarang ya Bim? Dia kalau malam kan selalu ada di cafenya."
__ADS_1
"Sayang lihat kan, itu alasan kenapa aku nggak mau cerita. Baiklah, ayo Revan kita berangkat."
"Bim, tunggu. Iya-iya aku bakal dengerin, tapi cerita dengan sedetail mungkin."
"Bim?" Ah kalau sudah istrinya yang meminta mana mungkin dia menolaknya.
Flashback.
Bima mencari Maudy di setiap sudut jalanan kota, sejak dia pergi meninggalkan rumahnya karena ulah papanya. Dengan bingung, Bima memasuki setiap area kota, persimpangan. Dan tidak sengaja melihat Agam yang berdiri di samping mobil seperti menunggu seseorang, terlihat dia sedang menelepon.
Pikiran Bima saat itu hanya, mungkin menunggu Kiki. Jangankan bertanya, untuk menyapa saja Bima urungkan.
Tapi karena Bima melajukan mobilnya dengan lambat, Bima sempat melihat siapa wanita yang mendatangi Agam. Jelas bukan Kiki, karena wanita yang dia lihat sebelum masuk ke mobil bersama Agam rambutnya hanya sebahu, sementara Kiki berambut panjang. Karena rasa penasaran yang kembali membuncah, Bima mengikuti mobil yang di gunakan Agam. Eh, sampai di persimpangan Bima melihat Agam berbelok, disana juga sudah terpampang jelas nama hotel.
"Dasar breng sek!" Kemudian Bima segera melajukan mobilnya dan berniat mendatangi Maudy dirumah.
Itu hal yang pertama kali Bima jumpai, dan semenjak itu Bima sering bertemu, terkahir kali saat Kiki mengatakan kalau Agam sedang berada di luar negeri untuk mengurus bisnisnya.
Bima juga bertemu dengannya saat menjumpai klien di bandara, dia jelas tau kalau Agam sudah pulang. Tetapi Kiki malah mengatakan kalau Agam belum pulang.
Bima sendiri tidak pernah bermaksud untuk menyampaikan hal ini kepada Kiki, karena baginya biar Kiki sendiri yang tau.
Dan ternyata benar, Agam tidak berani pulang kerumah dan bersembunyi dengan mengatakan kalau masih berada di luar negeri, karena saat itu dia sudah tau kalau kekasih gelapnya hamil.
Flashback end.
Kiki kembali terisak. Revan menatapnya dengan rasa iba, begitu juga dengan Maudy.
"Ki, kamu yang sabar ya. Sekarang kamu tau kan siapa Agam?" Kiki mengangguk dan menghapus air matanya yang jatuh.
"Sayang, sepertinya aku harus berangkat sekarang." Melihat lagi jam di tangannya. Seperti tidak mempunyai rasa bersalah telah mengatakan semuanya kepada Kiki. Karena baginya hanya ada Maudy di hidupnya, selagi kekasihnya sekaligus istrinya tidak pernah berbohong akan adanya lelaki lain, dia masih tenang. Dan terakhir kali Ilham, sekarang juga sudah lega berhasil menyingkirkan Ilham dari daftar pengganggu istrinya.
"Revan, tolong kamu temani dulu Kiki disini ya, saya mau kesana sebentar, pamit sama mertua saya." Revan mengangguk. "Ayo sayang." Menggandeng lengan istrinya.
"Sebentar ya Ki." Kiki mengangguk, lalu Maudy tersenyum ke arah Revan, tapi Bima memusing kepala istrinya, dia tau kalau Maudy tersenyum.
Tidak ada yang boleh melihat senyum manis istriku.
Hening, baik Kiki dan Revan mereka sama-sama diam. Tidak ada pembahasan, hingga Revan yang merasa penasaran mencoba bertanya.
"Maaf ya mbak."
"Panggil Kiki aja." Revan mengangguk.
"Aku juga tadi dengar apa yang di katakan pak Bima, apa yang di ceritakan itu kekasih kamu ya?" Kiki mengangguk, memang benar kan. Tapi sepertinya Kiki merasa risih harus di tanya dengan orang yang baru di kenalnya.
"Yang sabar ya, semoga dapat yang lebih baik."
"Amin, makasih doanya."
Padahal cantik, tapi malah di sia-siakan kekasihnya, kasian.
"Kalian cocok ya kalau di lihat-lihat." Suara Maudy langsung membuyarkan lamunan kedua orang yang baru saja saling mengenal, dengan raut wajah tanpa bersalah Maudy malah tersenyum sambil bergelayut manja di lengan Bima, menampakkan perutnya yang membesar. Tersenyum lagi ketika Kiki menatapnya dengan tajam.
"Iya kan Bim?" Bima diam.
"Revan, apa kamu sudah menikah? Atau sudah mempunyai pacar?" Revan hanya tersenyum.
"Revan, kita berangkat sekarang."
"Bim, masih kangen." Ah Bima hampir goyah, tapi Bima tau istrinya hanya mengulur waktu untuk sekedar menganggu Revan dan Kiki.
"Sayang?" Peringatan pertama dan sudah menatap istrinya dengan tajam.
"Hehe baiklah, kamu hati-hati ya, Revan titip suami aku ya?" Seformal itu dia bicara dengan bawahan suaminya.
"Sayang? Jangan bicara dengan orang asing." Hah? Revan langsung menunduk.
Saya bukan orang asing pak, kenapa nggak sekalian aja bilang kalau saya makhluk asing.
"Duluan ya Ki?" Revan tersenyum dan Kiki membalasnya.
"Cie.." Maudy mulai menggoda lagi, ketika sudah melihat Bima berjalan menjauh dengan diikuti Revan.
"Itu sekretaris Bima ya Dy? Apa kak Sun sudah berhenti?"
"Aku juga nggak tau. Kak Sun masih kerja kok. Tapi tampan ya Ki?"
"Awas tiba-tiba Bima dengar!"
"Eh tapi benar kan? Menurut kamu gimana?"
"Au ah, udah aku lapar Dy mau makan."
__ADS_1
"Tuh kan, tadi katanya nggak selera makan, sekarang beda, pasti karena ketemu Revan nih." Maudy masih tertawa saat berjalan meninggalkan Kiki yang menutup kedua telinganya saat Maudy terus mengejeknya.
--__