Dia Bimaku

Dia Bimaku
Kepulangan Bima


__ADS_3

"Apa ada keluhan lain lagi?" Dokter bertanya, sementara perawat bertugas memeriksa suhu tubuh, denyut nadi, detak jantung dan tensi Bima. Jika semua sudah di pastikan normal, berarti Bima bisa dinyatakan sembuh dan tinggal menunggu lengan kirinya bisa berfungsi kembali tanpa harus di sanggah.


Maudy berharap jika hari ini juga Bima bisa pulang kerumah, sebagai seorang istri dia juga ingin merawat suaminya tanpa lagi campur tangan pihak rumah sakit, bisa leluasa berbaring di samping Bima, memeluknya kembali. Sudah seminggu lebih tak pernah merasakannya. Tidur terpisah walau satu ruangan, ah rasanya sungguh menyiksa.


"Semua normal dok? Jadi gimana?" Dokter mengangguk lalu mengajak perawatan segera keluar ruangan tanpa memberi penjelasan.


"Bim? Apa dokter bilang sesuatu?" Bima menggeleng.


"Bim, jujur aku bosan disini, kamu tau kan aku paling nggak suka rumah sakit. Lagian juga kasian ibu sama ayah, mereka pasti lelah kelolah resto hanya berdua."


"Sayang, jadi maksudnya kamu juga bosen ngerawat aku? Ya sudah, nanti kalau sudah pulang biar aku hubungi papa minta dicarikan perawat untuk merawatku dirumah."


"Bukan gitu Bim, aku malah senang bisa ada disamping kamu terus, tapi kan setidaknya kalau dirumah aku bisa sesekali melihat resto, terus kalau perlu apapun bisa minta bantuan bibi dirumah." Bima diam.


"Sayang, kamu harus tambah karyawan lagi. Aku nggak ijinkan kamu buat masak lagi di resto, kamu hanya boleh melihat bagaimana cara kerja mereka. Ingat sayang, kandungan kamu semakin membesar." Bima memejamkan matanya, frustasi sendiri dengan keadaan ini. Iya memang saat ini dia bisa tertawa, padahal rasa bosan sudah meliputi dirinya.


Maudy juga merebahkan tubuhnya di sofa, mengelus perutnya dan menatap langit-langit ruangan yang setiap harinya belakangan ini dia lihat.


Khayalan indah masuk ke pikirannya. Berlibur di pantai, berlari kecil dengan dua anaknya, lalu berlarian di bibir pantai. Dengan di suguhkan matahari yang akan tenggelam berwana jingga.


"Sayang?" Bima sedikit meninggikan intonasinya.


"Kenapa sih Bim?" Menoleh, lalu detik berikutnya dia kikuk. "Dokter?" Dokter tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Maaf dok, saya nggak denger." Duduk, dan menunggu dokter berbicara.


"Begini, Bima sudah di perbolehkan pulang. Tapi setiap seminggu sekali dia harus cek up, untuk melihat perkembangan lengan kirinya yang patah." Maudy mengangguk senang. "Jadi, kalian mau pulang di antar ambulance rumah sakit atau meminta keluarga menjemput?"


"Dok, biar keluarga saja yang menjemput." Dokter mengangguk.


"Baiklah, kalau begitu sekarang infus langsung dibuka."


***


Sesampainya di halaman rumah, mata Maudy terbelalak dan menoleh ke arah Bima. Mobil sudah berhenti, tapi kenapa ini ramai sekali? Dan kenapa pada bawa kamera.


"Pak? Kenapa mereka bisa tau kalau aku pulang hari ini?" Bima bertanya dan mengurungkan niatnya untuk turun, begitu juga dengan Maudy. Lalu tak lama mobil papanya juga sampai.


"Kita tunggu papa duluan yang turun ya sayang."


Bukan hanya satu dua wartawan saja yang menunggu di halaman rumahnya, tetapi sudah ada sekitar sepuluh bahkan lebih, ada yang duduk menunggu sambil mengibas tangan ke arah wajah, mungkin karena cuaca panas hari ini. Ada juga yang berdiri memandang mobil mereka siap untuk menyergap beberapa pertanyaan.


Suara ketukan di kaca membuat Bima menoleh.


"Papa?" Membuka kaca mobilnya.


"Pa? Kemana semua keamanan rumah, kenapa mereka bisa masuk?"


"Turunlah, papa yang mengundang mereka." Heh Bima menghela nafas, untuk apa lagi, pikirnya.


"Sayang, sudah ayo kita turun?" Maudy diam dan membuka pintu mobilnya.


"Pa? Kenapa? Bukankah ini tidak penting?" Salah satu di antara mereka sudah mendekat, Bima berdiri di belakang papanya setelah turun dari mobil, menjadikan papanya tameng saat ini.


"Seperti yang kalian lihat, kalian pasti akan menanyakan kondisinya saat ini kan?" Para wartawan mengangguk. Maudy tak peduli, dia langsung saja masuk ke dalam rumah dan memberi perintah kepada ART untuk membawa barang-barang masuk ke dalam.


"Bagaimana pak? Apa pak Bima bisa bicara sedikit?"


"Saya sudah lebih baik sekarang, hanya menunggu luka bekas operasi di kepala saya mengering dan lengan saya yang patah ini bisa berfungsi kembali."


"Ini alasan saya dan anak saya tidak lagi mau melakukan kerja sama dengan mereka yang berada jauh, salah satunya ya ini, keberangkatan yang jauh bisa membahayakan nyawa kami sendiri. Jadi, jangan lagi menyebarkan berita miring, setelah kalian juga mendengar itu langsung dari kami." Wartawan tetap menyalakan kamera ke arah mereka, mengambil beberapa photo agar menjadi bukti bahwa mereka bisa secara langsung mewawancarai keluarga bapak Adi.


Tapi disini Bima heran, kenapa bisa papa tau soal kerjasama yang akan dia putuskan secara sepihak?


"Saya kira kalian sudah cukup mendengar berita ini, jadi maaf tolong kalian beri jalan, anak saya akan istirahat." Tak lagi ada yang protes, meski hanya lima menit tapi mereka bisa mendapat informasi penting, walau panas membakar kulit karena berjam-jam lamanya menunggu kepulangan Bima. Yang terpenting, seluruh media akan menghargai kerja mereka hari ini, terutama saluran televisi dimana tempat mereka bernaung dan mencari berita terkini, baik dalam kasus ringan dan hingga persoalan yang menimpa pengusaha sukses di dalam negeri.


"Pak, terima kasih sudah memberi waktu kepada kami." Bapak Adi mengangguk lalu menuntun Bima untuk segera masuk ke dalam.


"Mama nggak ikut pa?"

__ADS_1


"Mama lagi bantu kak ipar kamu, soalnya Dafa sakit." Mereka sudah duduk di sofa sekarang, Maudy kembali ikut duduk setelah melihat di halaman sudah sepi.


"Pa, kenapa papa bisa tau soal ini?"


"Kenapa kamu nggak pernah jujur? Kamu selalu mencoba mengatasinya sendiri kan? Padahal kalau kamu bilang ke papa tentang kelakuannya papa bisa saja langsung memutuskan kerja samanya dari dulu!" Maudy masih belum mengerti kemana arah pembicaraan ini, kerja sama? Lalu papa? Wartawan? Bima nggak jujur? Apa sih maksudnya.


"Iya, kenapa papa bisa tau?"


"Dua hari lalu papa mendatangi Revan, dia menceritakan semua kenapa kamu memutuskan untuk pulang secara mendadak. Dan papa bisa saja menuntut karena perlakuan tidak senonoh." Membuang nafas kasar. "Menggoda rekan bisnisnya secara terang-terangan, bukan kah itu sudah kelewat batas?" Maudy menajamkan telinganya, menjadi pendengar yang baik.


"Apakah dia selalu seperti itu jika bertemu kamu?"


"Iya pa, bahkan dari sebelum aku menikah. Itu salah satu alasanku kenapa selalu menolak jika di undang datang kesana, walaupun mengatasnamakan pekerjaan, mereka bilang ada kendala, tapi nyatanya setelah melakukan peninjauan semuanya masih berjalan dengan lancar."


"Lalu apa rencana kamu kedepannya?" Bima tampak menimang, dan melirik ke arah Maudy.


"Ini keputusan kamu jangan libatkan istrimu." Maudy menunduk.


Kenapa? Apa suaraku tak berlaku disini?


"Pa, aku mau ke resto dulu ya, papa bicaralah dulu dengan Bima." Papa Adi mengangguk. Bima meliriknya, kenapa malah tidak ijin denganku? Tapi Maudy pergi begitu saja, berjalan ke arah samping rumahnya yang menjadi pintu penghubung untuk bisa langsung masuk ke restonya.


Siang hari ini resto tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa pembeli yang makan siang, dan juga ada yang melakukan take away.


"Ibu?" Maudy menyapa girang.


"Maudy, kamu kenapa kesini nak? Bima gimana?"


"Bima sudah pulang kerumah Bu."


"Iya ibu tau, tapi kan harusnya kamu jaga Bima aja, kenapa malah kesini?" Maudy mendengus.


"Ibu nggak suka ya jumpa anaknya?"


"Bukan begitu sayang, ibu hanya merasa khawatir dengan Bima." Iya-iya begitu Maudy menjawab dan masuk ke ruangan pribadinya di resto, merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang sudah seminggu lebih tidak ia singgahi.


***


Langit berwarna kemerahan sudah tampak di ujung mata memandang, keadaan resto yang masih sepi bisa membuat ibu dan ayahnya bersantai menikmati suasana hangat, begitu juga para karyawan resto. Mereka berkumpul dan berbincang sambil bercanda, dengan di hiasi tawa mereka yang sesekali terdengar. Memang begitu cara mereka memanfaatkan situasi. Mengambil kesempatan jika tak banyak pengunjung.


"Maaf bu, apa nyonya muda ada disini?" Ibu dan ayah saling pandang. "Soalnya tuan muda mencarinya, terkahir pamit katanya mau ke resto, tapi hari sudah hampir gelap nyonya belum kembali ke rumah." Ibu diam mendengarkan, begitu juga dengan ayah.


"Iya memang tadi dia kesini, terus masuk ruangan pribadinya. Saya kira Maudy sudah kembali ke rumah karena nggak muncul lagi." Ibu semakin panik, apa mungkin anaknya berada di dalam sana sampai berjam-jam.


"Bu, coba ibu lihat sana." Ayah juga sepertinya mulai khawatir.


"Sebentar ya." ART yang di utus mengikuti langkah ibu Irma. Hingga tepat sampai di ruangan yang biasa di sebut Maudy ruangan pribadinya, ibu Irma mengetuk.


"Dy, apa kamu di dalam?" Berulang kali mengetuk.


"Kayaknya nggak ada deh bi."


"Duh kemana ya bu, kasian tuan soalnya."


Cklek...


Suara pintu terbuka, mereka sama-sama menoleh.


"Dy? Kamu dari tadi di dalam? Ngapain? Kenapa ibu panggil kamu nggak nyahut?" Maudy malah menguap, merentangkan kedua tangannya, sepertinya yang tidur sangat nyenyak sampai melupakan suaminya yang sakit.


"Tidur bu."


"Ya ampun, Bima cari kamu Dy. Kasian dia kamu tinggal sendiri di rumah." Kemudian Maudy menoleh ke arah ART yang saat ini bersama ibunya.


"Bibi ngapain disini?" Eh dia malah seperti orang yang tidak punya salah.


"Anu nyonya, tuan muda cari nyonya, katanya sudah sore kok nggak balik kerumah."


"Sore?"

__ADS_1


Maudy mengintip ke arah dalam dan melihat jam dinding. "Ya ampun, ini jam 6? Beneran nggak salah?" Bergegas pergi. "Kenapa ibu nggak bangunkan aku bu?" Sekarang ibu yang di salahkan.


"Dy, ibu juga nggak tau kalau kamu tidur disini, kirain ibu kamu pulang."


"Ya sudah, aku titip resto ya bu?" Berjalan tergesa-gesa menuju pintu penghubung.


Gila, aku tidur bisa selama ini?


"Eh." Kaget ternyata Bima sudah berdiri disana dengan menatap tajam ke arahnya. "Bima kenapa disini?" Diam.


"Saya permisi ya nyonya." Menunduk lalu pamit pergi duluan.


Wah pasti perang nih.


Batinnya sambil berjalan sesekali menoleh ke arah belakang, melihat kedua majikan yang berdiri mematung.


"Bim, aku ketiduran tadi maaf ya? Ayo kita kembali kerumah." Maudy menuntun Bima, tak satu katapun keluar dari mulut Bima. Hingga sudah berada di dalam kamar.


"Bim, aku mandi dulu ya. Kamu sudah mandi kan?" Bima mengangguk.


Baik lah aku akan menjelaskan selesai mandi.


***


"Bima? Kamu ngapain disitu?" Mencari keberadaan Bima yang ternyata tengah berdiri di balkon kamar.


"Bim, kamu masih marah ya? Maaf ya Bim, soalnya tadi aku emosi karena papa bilang begitu."


"Aku tau, tapi setidaknya tunggu lah sebentar. Kamu malah pergi gitu aja, yang terakhir kamu malah tidak mendapat informasi apapun." Maudy terdiam. Mencerna kalimat yang di ucapkan Bima. Bima melangkah masuk ke kamar dan mengambil sebuah kertas yang berada di atas meja.


"Ini yang kamu mau kan?" Maudy menatap Bima tapi tangannya terulur untuk mengambil sebuah kertas yang di sodorkan.


"Bim ini serius?" Bima mengangguk. "Kamu sendiri yang menggambar?" Bima mengangguk lagi.


"Dua bulan lagi akan di mulai pembangunan." Dia berjalan ke sisi ranjang. "Benar yang di katakan papa, aku terlalu banyak menyimpan rahasia sendiri."


"Maksudnya?" Maudy ikut duduk di sampingnya.


"Sayang, aku mohon ketika aku menjelaskan jangan kamu potong dulu ataupun kamu marah ketika aku bicara jujur." Maudy mengangguk dan diam.


Perlahan, Bima menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, Maudy menunduk.


"Aku pernah bilang sama kamu kan? Aku paling tidak suka di sentuh wanita lain selain kamu." Matanya berkaca-kaca. "Jadi aku sudah memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan mereka. Aku hanya mencari klien dalam negeri, aku juga ingin fokus dengan keluarga ku nantinya. Kita sama-sama membangun, kamu dengan resto, aku dengan perusahaan. Lalu soal pembangunan sekolah yang kamu mau, papa juga menyetujui hal itu." Maudy memeluknya.


"Aw, sayang jangan terlalu erat, sakit." Maudy perlahan melepasnya.


"Bim, seperti apa wanita itu?" Bima diam. "Aku mau lihat secantik apa dia, dan kenapa kamu nggak tergoda?"


"Pertanyaan macam apa ini sayang?"


"Aku hanya ingin tau Bim."


"Rasa ingin tau mu itu nanti berujung penyesalan." Maudy mengerutkan keningnya. "Kamu buka aja di internet, cari 'pengusaha berlian di negara X' nanti akan muncul beberapa photo beserta nama, lalu cari atas nama Celine." Maudy langsung mencari ponselnya, dan benar-benar melakukan hal yang di katakan Bima.


"Ini ya?" Maudy menunjukan sebuah photo yang sudah tertera di layar.


"Iya benar." Maudy langsung mendengus.


"Dasar wanita murahan, beraninya menganggu Bima ku!"


Bima hanya bisa menggelengkan kepalanya, sudah menebak jika tak memaki lewat photo pasti akan melempar beberapa pertanyaan lagi. Itu semua memang selalu Maudy lakukan kalau ada yang mengatakan Bima di ganggu seorang wanita.


"Kamu beneran nggak tertarik kan Bim? Kalau iya, aku bersedia untuk mewarnai rambut seperti dia."


"Sayang, cukup. Semua kerjasama sudah di batalkan. Ini juga karena bantuan papa. Jadi, aku tidak akan dituntut karena hal itu, tenanglah." Maudy mengangguk.


Bim, aku nggak salah pilih kamu jadi suamiku. Meski kamu terkadang aneh.


--__

__ADS_1


__ADS_2