Dia Bimaku

Dia Bimaku
Papa setuju??


__ADS_3

Pagi hari Maudy terbangun, dengan hati yang masih kacau dan sakit. Tapi, mata tidak sembab seperti biasanya ketika bertengkar dengan Bima, karena tadi malam dia benar-benar tertidur. Pukul 9 pagi Maudy sudah bersiap untuk melihat proyek pembangunan resto miliknya. Tak terasa sudah hampir satu bulan.


Maudy lebih memilih menaiki motor miliknya, menolak tawaran ayahnya yang meminjamkan mobil.


"Lebih cepat sampai." Alasan yang masuk akal jelas di terima ayahnya dengan baik.


Maudy langsung pergi, tanpa terlebih dulu pamit. Karena ibunya pun sedang pergi belanja, lagian ibu juga sudah tau, pikirnya.


20 menit perjalanan Maudy sudah sampai, matanya memandang kagum sebuah bangunan yang mulai terlihat rekonstruksinya. Memarkirkan motor dan siap mencari orang yang tadi malam mengantarnya pulang.


"Maaf pak, apa Ilham sudah datang kesini?" Bertanya kepada salah satu pekerja kuli bangunan.


"Sudah mbak, dia lagi pergi sebentar beli makanan." Maudy mengangguk dan lebih memilih menunggu di area yang tidak terkena sinar matahari, di bawah pohon satu-satunya disana.


Maudy melihat ponselnya, menggenggam. Untuk kembali mengaktifkan rasanya malas, pasti Bima secepat mungkin menelponnya. Tapi kalau tidak segera mengaktifkan takut kalau ada keperluan penting nantinya.


Beberapa menit menimang, Maudy kembali meraih ponsel yang ia letakkan di samping dimana ia duduk. Perlahan memencet tombol samping, terlihat masih proses dalam menyala.


5 menit, tapi benar-benar tidak ada notif dari Bima. Pesan ataupun panggilan.


Jadi gini, ya udah.


30 menit lamanya menunggu Ilham, dan akhirnya terlihat mobil berwarna merah memasuki kawasan pembangunan, jelas itu dia, pikir Maudy.


Ilham turun dengan menenteng dua kantung plastik, menutup kembali pintu mobilnya, tampaknya ia juga belum menyadari kalau Maudy sudah disana. Ilham meletakkan dua kantung plastik di atas tumpukan bata, lalu kembali lagi dengan membawa tiga kantung plastik sekaligus.


Maudy menatap heran, kenapa membawa makanan banyak sekali.


"Ilham." Maudy melambaikan tangannya, dan Ilham langsung menoleh.


"Kamu udah datang?" Sambil berjalan mendekat.


"Udah dari setengah jam yang lalu." Ilham ikut duduk di sampingnya.


"Kamu bawa apa? Kenapa banyak sekali, katanya pekerja tadi kamu beli makanan?"


"Iya. Sengaja mau traktir mereka."


"Wih, dalam rangka apa nih?" Tertawa kecil.


"Aku ulang tahun hari ini, kamu lupa ya? Tadi malam kan aku sudah bilang." Maudy mencoba mengingat apa saja yang di katakan Ilham tadi malam. Tapi tak satupun yang tercatat oleh otaknya, karena tadi malam yang ia pikirkan hanya Bima.


"Ah iya, aku lupa. Maaf ya." Terpaksa berbohong. "Semoga panjang umur, murah rezeki ya?" Ilham tersenyum dan menatap ke arah Maudy.


"Makasih ya? Nanti pas jam makan siang, kalau kamu belum pulang aku traktir makan, mau kan?"


"Makan siang bersama?" Sekali lagi memastikan.


"Iya, kenapa? Kalau kamu keberatan, aku nggak maksa kok." Sepertinya terlihat jelas raut wajah yang kecewa.


"Nggak, ya udah aku mau kok. Mau makan dimana?" Ilham menunjuk salah satu kedai makanan di seberang jalan.


"Disitu aja ya, nggak mewah sih. Tapi makannya enak." Maudy tersenyum, dia paling suka melihat orang kaya yang tak segan makan di warung pinggir jalan, tentu dia juga setuju.


"Oh oke. Ya udah sekarang kita bahas masalah proyek ya? Jadi gimana, apa bisa selesai tepat waktu?"


"Bahkan bisa lebih cepat." Ucap Ilham yakin.


"Serius?" Melihat sekeliling bangunan yang memang sudah berdiri batu semua.


"Dua hari lagi sudah bisa pasang genteng, sebagian nanti bisa menyelesaikan flaster pada bangunan. Nah, lalu..." Ilham menjelaskan sementara Maudy menatap wajahnya dengan serius, tanpa sengaja Ilham juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu, saling tatap dan di iringi hembusan angin yang sesekali datang.


Cantik sekali.


"Terus?" Ilham langsung membuyarkan pikirannya.


"Em iya, terus sekitar dua Minggu lagi juga udah selesai." Maudy tersenyum lagi, tak salah memang memilihnya sebagai arsitek, mengatur tata bangunan. Tapi ini juga berkat pekerja dan yang mengawasi mereka dalam bekerja.


"Aku boleh lihat kesana nggak?" Maudy menunjuk ke arah bangunan.


"Boleh, ayo aku temani." Mengulurkan tangannya, tapi Maudy menatap tangan yang terulur, Ilham menariknya kembali.


"Ayo." Merasa malu karena Maudy tak menyambut uluran tangannya.


Maudy berkeliling, dan menyapa siapa saja para pekerja yang ia temui. Kasian, batinnya berkata. Semua rata-rata dari mereka yang bekerja, berjemur di teriknya panas matahari, semuanya sudah tidak muda, mungkin sebaya dengan ayahnya.


Lelah berkeliling, Maudy mengajak Ilham kembali duduk. Berbicara ngalor-ngidul, lari dari pembahasan tentang proyek. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Ilham langsung mengajaknya, menyebrang jalan dengan bergandeng tangan. Maudy sebenarnya risih, ingin menolaknya tapi Ilham menggenggam begitu erat, walau bagaimanapun dia juga masih tunangan Bima, Walau saat ini sedang di landa pertengkaran.


"Kamu pesan apa?"

__ADS_1


"Sama aja kayak kamu, kan kamu yang tau menu terfavorit disini." Ilham mengangguk dan berdiri. Berjalan ke arah lemari kaca besar yang menyediakan lauk makanan seperti makanan rumahan.


Kembali membawa nampan yang berisi nasi beserta lauk pauk.


"Kelihatannya enak." Maudy sampai menelan ludah. Tanpa menunggu Ilham menawarkannya makan, Maudy sudah mencuci tangan dan langsung melahapnya. Enak, itu yang dia rasa.


Ah bakal jadi siangan berat nih.


Maudy harus mencuci tangannya kembali, padahal belum juga selesai makan. Karena harus mengangkat telepon, yang sudah berdering entah berapa kali.


"Sebentar ya ham?" Beranjak dari duduknya, berjalan sedikit menjauh.


Ilham masih tetap menikmati makanannya.


"Apa? Serius?" Terperangah.


"Iya Ki, tunggu disana. Aku kesana sekarang."


Maudy kembali ke meja dimana mereka makan, wajahnya panik.


"Kenapa Dy?" Ilham mendongak melihat Maudy yang sepertinya sedang mendapat panggilan penting.


"Ham, aku pergi duluan nggak apa kan? Aku ada urusan penting? Maaf ya?" Tanpa menunggu jawaban, Maudy langsung menyambar tas selempang miliknya, cepat-cepat menyebarang jalan raya dan mengambil motornya. Siap untuk melaju ke sebuah tempat yang sudah di jelaskan oleh Kiki.


***


"Ki, dimana?" Sudah memarkirkan motornya. Ia melihat ke sekeliling, dan jelas memang ada mobil Bima dan papanya disana. Dan apa? Ada mobil milik wanita itu, Maudy masih bisa mengenalinya.


Mau apa mereka ke tempat ini?


Terlihat disana papan reklame besar yang menjadi tanda pengenal sebuah gedung ini, tempat shooting video pernikahan dan prewedding.


Deg. Pandangannya terasa kabur, benarkah Bima melakukan ini? Dan menerima perjodohan dari papanya?


"Kamu udah sampai? Kenapa nggak masuk?" Maudy terperanjat kaget, melihat Kiki yang sudah berdiri di hadapannya. Benar-benar Pandangannya kabur ya?


"Eh iya, apa mereka di dalam?" Kiki mengangguk.


"Tadi, aku nggak sengaja dengar mereka membicarakan tentang pernikahan, sebentar lagi gitu sih." Makin sakit saja mendengarnya.


"Kamu sendiri ngapain disini Ki?" Mencoba mengalihkan topik.


"Tapi kenapa ada wanita lain yang malah di ajak mereka?" Kiki juga menerawang apa yang ia lihat, terlihat sorot mata Maudy menyiratkan kesedihan.


"Aku nggak usah masuk, lagian mau ngapain juga. Hem kamu masih lama ya disini?"


"Nggak, udah selesai. Kenapa?"


"Kamu bawa mobil?" Kiki menggelengkan kepalanya.


"Nggak, aku tadi juga ikut mobil kakakku."


"Kita pergi ya? Naik motor aku?" Kiki langsung tersenyum, sudah rindu juga kebut-kebutan naik motor, batinnya.


"Eh sebentar, nanti kalau kakak kamu nyari gimana?" Sebelum tancap gas Maudy bertanya.


"Tenang, tadi aku udah bilang kalau mau ketemu kamu. Pasti kalau aku ilang dia juga tau yang nyulik aku kamu." Maudy tertawa mendengarnya.


"Ya udah kita berangkat sekarang ya?" Sudah mencolok gas motornya.


"Let's go...." Kiki sudah duduk dengan berpegangan Maudy.


Tertawa sepanjang jalan tanpa pembahasan, bernyanyi dengan sesuka hati. Entah kemana tujuannya juga mereka sama-sama tidak tau. Jalan saja dulu, kalau ada tempat yang enak baru belok. Begitu yang sama-sama mereka pikirkan.


***


"Ki, menurut kamu jatuh cinta itu apa?"


Ternyata disini mereka duduk sekarang, di pinggir jalan dekat danau, dan membeli ice cream yang di jual disana. Duduk di sebuah bangku terbuat dari kayu, mengayunkan kakinya yang menggantung dan sesekali menikmati ice cream yang mereka beli.


"Jatuh cinta itu hem asik, bisa buat semangat, ngalihkan dunia kita. Tapi ya gitu, pasti ada sedihnya juga, kayak aku sekarang?" Sambil melihat ramainya orang yang lewat.


"Jadi kamu lagi bertengkar sama Agam?" Kiki menoleh lalu mengangguk. "Ahh.. Kita sama. Sini peluk?" Dan adegan peluk memeluk pun terjadi.


"Kamu kenapa sama Agam?" Maudy yang mulai bertanya. "Nanti aku gantian cerita deh."


"Agam pergi keluar negeri, nggak ada bilang sama aku. Nggak ada kasih kabar, aku datang buka toko sendiri. Terus aku datang ke cafe, ternyata ada orang tuanya disana. Aku telepon ponselnya nggak aktif, jadi aku tanya Agam sakit atau gimana kok nggak ikut buka toko." Sudah ada air mata yang siap jatuh dari mata Kiki. "Terus orang tuanya bilang, Agam keluar negeri selama satu bulan. Ada urusan disana, mereka mau buka cabang bisnis, sama kayak kamu Dy. Dia juga punya om disana."


"Kamu yang sabar. Mungkin dia sengaja nggak ngabarin karena takut kamu nggak kasih atau apa. Lagian juga cuma sebulan kan Ki." Kiki mengangguk.

__ADS_1


"Makannya aku lebih milih ikut sama kesibukan saudara tiri ku." Menghela nafas. "Aku udah cerita, kamu sekarang cerita. Kenapa sama Bima? Dan apa maksudnya dia datang ke tempat tadi tapi nggak sama kamu, jangan bilang kalian gagal nikah, terus-"


"Itu dia Ki, aku nggak tau siapa wanita itu."


"Kamu nggak nanya?"


"Aku liat dia keluar kamar sama wanita itu, kemarin waktu aku dirumahnya."


"Apa??"


Tin.. Tin.. Suara klakson mobil membuat mereka tersentak.


"Bima?" Lirih dan langsung menatap Maudy.


"Kamu disini? Ayo pulang, ibu!!" Membuka jendela mobilnya.


"Ibu kenapa??" Berdiri dan panik.


"Ibu masuk rumah sakit." Dengan cepat Maudy menghampiri motornya, membuang Ice cream di tangannya.


"Ki, ayo?" Kiki langsung naik ke atas motor. Bima hanya bisa mengikuti mereka dari belakang.


***


"Bu, kenapa bisa begini?" Sampai di rumah sakit Maudy langsung masuk keruangan yang sudah di sebutkan pihak rumah sakit. Semua juga berkumpul, termasuk mama Lisa. Dan menyesalnya Maudy tak sempat melihat ponsel.


"Ibu cuma terpeleset aja, ibu nggak apa. Cuma ibu telepon kamu nggak di angkat, jadi ibu telepon mertua kamu. Langsung di bawa kesini. Kamu kan tau Dy, calon mertua kamu itu gimana." Maudy menghela nafas lega karena Ibunya berkata tidak apa-apa.


"Gimana keadaan tante?" Kiki ikut masuk setelah tertinggal Maudy di parkiran rumah sakit, dan sempat menghakimi Bima. Tapi sekarang Kiki tau, alasan dan kenyatannya.


"Ibu nggak apa Ki." Menoleh melihat pintu ruangan terbuka. "Ma, makasih ya ma udah bawa ibu kesini. Tadi aku nggak ada lihat ponsel, karena tas aku gantung di motor." Mama Lisa tampak tersenyum.


"Iya, ya udah yang terpenting ibu kamu nggak apa." Mendekat ke arah Maudy dan mengelus lengannya.


"Apa ayah tau?" Sekarang ia beralih menatap ibunya.


"Ibu udah kabari ayah, nanti dia nyusul kesini sama Tisha. Tapi ibu nggak mau nginep di rumah sakit Dy, ibu beneran nggak apa-apa." Maudy menatap mama Lisa.


"Tapi bu."


"Biar dokter yang memutuskan ya mbak. Mbak bisa bilang nggak apa-apa, tapi kalau ada luka dalam gimana? Tunggu hasil ronsen nya ya?" Ibu Irma tidak bisa lagi menjawab, benar batinnya. Takutnya ada luka dalam, karena benturan keras di kepalanya tadi.


Beberapa menit kemudian, dokter masuk dan memberikan hasil dari pemeriksaan.


"Ibu Irma tidak apa-apa, hanya mengalami benturan keras yang membuat kepalanya terasa berat. Tidak ada yang membahayakan, jadi nggak perlu rawat inap. Tunggu resep yang di berikan nanti bisa ditebus ya bu." Semua yang hadir tampak menghela nafas lega.


1 jam kemudian ibunya di perbolehkan pulang, dan mengenai biaya rumah sakit di tanggung oleh mama Lisa, meskipun Maudy menolak dan akan membayar sendiri dengan uangnya, tetap saja tak di hiraukan.


Ibunya pulang bersama Bima, menaiki mobil. Tak lupa mengabari ayahnya untuk tidak datang kerumah sakit, karena ibunya sudah di perbolehkan pulang.


"Ki, kamu bawa mobil aku ya? Biar aku naik motor sama Maudy?" Kiki masih ragu, takut kalau Maudy yang menolak.


"Udah Ki, nggak apa. Sana? Nanti kalau mama aku tanya, bilang aku pulang sama Maudy naik motor." Kiki mengambil kunci yang sudah di berikan Bima. Dan melangkah masuk ke mobil.


Sementara Maudy yang baru saja sampai di parkiran di bingung kan karena ada Bima yang sudah berdiri di samping motornya.


Kok dia disini, jadi ibu gimana pulangnya? Kiki mana lagi.


Clingak-clinguk melihat ke sekeliling halaman rumah sakit, tidak ada Kiki. Yang ada mobil Bima melaju keluar meninggalkan halaman rumah sakit. Maudy tau sekarang, ini pasti Bima yang minta.


"Minggir!"


"Aku pulang sama kamu!" Tak peduli dan mendorong tubuh Bima, menarik motornya.


"Dengerin dulu penjelasan aku Dy?" Tidak peduli.


"Sayang?"


"Mau jelasin apalagi? Udah jelas kali Bim, kamu juga udah ke gedung tempat dimana prewedding. Udah lah Bim, nanti sampai di rumah aku bakal bilang langsung ke ibu dan mama kamu, kalau pernikahan kita batal, dan cincin ini akan ku kembalikan." Sudah menyala kan mesin motornya.


"Sayang jangan, ku mohon jangan!" Menahan motor agar tidak melaju.


"Dia itu, wanita itu, dia sepupu aku yang di luar kota. Dia datang kesini karena papa yang minta, papa yang mau dia bantu buat persiapan pernikahan kita, agar mama tidak lelah menyiapkan sendiri, karena kakak ipar lagi pasca pemulihan setelah lahiran. Dia Mona, sepupu aku. Dan yang datang malam itu, dia pemilik gedung yang tadi aku datangi. Seharusnya aku yang marah, kenapa kamu bisa pulang sama laki-laki itu!!"


Deg..


Papanya yang suruh???


--__

__ADS_1


__ADS_2