Dia Bimaku

Dia Bimaku
Suasana baru


__ADS_3

"Bim." Maudy tertunduk malu, salah tingkah juga ia rasakan.


"Maaf." Ucap Bima lirih. Bima memandang wajah Maudy, dan rasa itu kembali ingin ia lakukan lagi.


Perlahan Bima mendekatkan wajahnya, dan berhasil untuk yang kedua kalinya. Kali ini lebih dalam, tidak ada penolakan dari Maudy. Kalau di pikir lucu juga, karena ini pertama kalinya buat mereka.


Sampai Maudy menjauhkan diri, dan mendorong Bima.


"Cukup Bim! Kita enggak boleh kelewat batas." Berdiri dan beranjak dari duduknya.


"Sayang, maaf aku. Maaf." Tertunduk lagi.


"Kita pulang sekarang." Ya, saat ini sudah pukul 10 malam. Berarti Bima sudah meninggalkan rumah mang Sugi satu jam yang lalu, begitu juga dengan Maudy. Pasti ibunya sudah mencari saat ini.


"Aku di rumah mang Sugi." Berkata sebelum mereka berpisah di tengah jalan.


"Maksudnya?" Berbalik dan menatap wajah Bima.


"Aku di usir papa, jadi aku sementara tinggal di rumah mang Sugi, scurity rumah aku. Kemarin waktu kamu datang dia lagi masuk malam, jadi kamu enggak jumpa. Kamu kenal kan?"


Maudy berjalan mendekat lagi. Mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah.


"Kamu serius? Kenapa? Jangan bilang karena aku Bim, aku enggak mau dengar itu."


"Tapi itu kenyataannya sayang."


"Bima!!" Masih tidak percaya dengan hal yang di lakukan Bima.


"Dy, aku mohon. Untuk saat ini aku butuh kamu. Semua ini aku lakukan hanya karena aku tidak mau jauh dari kamu Dy. Aku enggak peduli jika suatu saat akan terbentang jarak di antara kita, berbeda negara, aku tidak peduli. Aku akan tetap menunggu. Aku yakin, kamu jodohku Dy."


"Bima!!" Matanya berkaca-kaca.


"Dy, aku tau. Aku tau, kalau setelah lulus kamu akan kuliah sambil kerja kan di luar negeri ikut sama om kamu? Aku tau Dy. Ibu yang bilang ke aku waktu itu!"


Maudy tercekat, ia berpikir jadi itu penyebab Bima diam setelah berbicara dengan ibunya waktu itu.


"Maaf Bim."


"Aku enggak masalah, karena itu juga demi masa depan kamu, bantu keluarga kamu. Tapi, aku mohon semua kita hadapi sama-sama. Walau sekarang kita masih anak sekolahan, masih labil, tapi aku niat serius sama kamu."


"Makasih Bim. Aku duluan." Berjalan pergi meninggalkan Bima, dengan air mata yang jatuh bersama langkahnya saat ini.


Maudy merasa Bima adalah lelaki yang baik, hal yang ia takutkan terjadi, yaitu keraguan untuk melanjutkan kuliah di luar negeri.


"Buka blokir nomor aku." Teriak Bima sebelum Maudy melangkah ke halaman rumahnya.


Dengan sedikit kelegaan di hatinya Bima kembali ke rumah mang Sugi. Tampak mang Sugi yang sudah menunggu di teras rumah bersama istrinya, wajahnya juga nampak khawatir. Ternyata benar yang dikatakan istrinya kalau mang Sugi sebentar lagi pulang.


"Mang." Panggilnya setelah sampai di depan rumah.


"Den, dari mana aja? Ya ampun, mamang khawatir den."


Wajah yang panik berubah lembut ketika melihat kehadiran Bima.


"Maaf mang, bi. Tadi aku kerumah teman aku sebentar. Ngasih tau kalau aku ada disini. Tinggal di rumah mamang."


"Ya udah. Enggak apa, ayo masuk bicara di dalam, udah malam soalnya."


Kembali menutup pintu rumahnya dengan rapat.


"Kata bi Minah, Maudy itu teman kamu?"


Bima mengangguk.


"Aku di usir papa karena bela dia mang."


"Maksudnya den?" Mang Sugi nampak kaget, begitu juga dengan bi Minah. Bima berpikir mungkin dengan bertukar pikiran dengan orang lain, yang lebih tua akan bisa membantu menyelesaikan masalahnya.


"Mang, aku mau jujur. Sebenarnya aku sama Maudy pacaran, maklum mang, aku kan juga udah dewasa." Tersenyum, dan kali ini Bima bisa tersenyum. "Tapi, papa melarang karena kemarin papa periksa handphone aku. Bahkan untuk berteman sekalipun papa juga larang. Mamang kan tau, aku enggak punya teman seperti anak yang lain, aku selalu di kurung di rumah. Apa salah mang kalau kali ini aku berontak?"


"Ya memang enggak salah den. Sebentar lagi den Bima kan bakal lulus sekolah. Kalau bisa ya, walaupun den Bima udah punya pacar, tapi harus tetap fokus belajar."


Mang Sugi jelas membela Bima dalam hal ini, karena ia sendiri tau bagaimana majikannya itu memperlakukan Bima ketika di rumah.


"Mang, apa boleh untuk sementara waktu aku di rumah mamang dulu?" Suami istri itu saling pandang.


"Maaf mang. Aku tau resikonya. Tapi kalau ada apa-apa sama pekerjaan mamang, aku siap tanggungjawab kok mang."


"Tapi, mamang harus memberi tau nyonya den. Supaya beliau tidak khawatir."


Bima mengangguk.


"Tapi mang, jangan sampai papa tau. Aku mohon mang."


"Iya, kasian nyonya den. Katanya saat ini beliau sedang opname di rumah."


"Pasti gara-gara aku ya mang?"


Raut wajah bersalah juga khawatir terlihat jelas di wajah Bima.

__ADS_1


"Mungkin karena khawatir sama den Bima." Tidak ingin melihat anak majikannya ini makin panik dan merasa bersalah, lebih baik tidak menjelaskan situasi di rumahnya saat ini.


"Mang, kalau di rumah mamang jangan panggil den Bima mang, panggil aja Bima. Anggap aja aku anak mamang saat ini, boleh kan mang?" Bi Minah nampak tersenyum.


"Tapi den."


"Bi Minah aja bisa, masak mamang enggak bisa sih?" Mang Sugi langsung menatap istrinya, mungkin menurutnya itu sangat lancang.


"Iya den, Bima bakal mamang coba."


"Harus mang, oh iya mang. Aku mau tanya."


"Silahkan."


"Mamang udah lama kan tinggal disini?" Mang Sugi mengangguk. "Pasti mamang tau kan gimana Maudy dan juga keluarganya?"


"Keluarga Maudy itu memang terkenal baik, tidak pernah bermasalah dengan tetangga. Tapi ya itu, Maudy kan anaknya sedikit tomboi, jadi kamu bisa lihat sendiri. Titi yang di buat dirumahnya itu hasil kerja Maudy dan ayahnya, apa yang bisa ia kerjakan walaupun itu kerjaan laki-laki sekalipun dia mau. Menurut pandangan mamang ya dia anak baik."


Bima manggut-manggut.


"Makasih ya mang."


"Sama-sama. Ya udah, kamu tidur udah malam. Besok masuk sekolah kan? Tapi mamang enggak bisa antar, naik angkutan umum mau?"


"Iya mang enggak masalah kok."


Aku akan belajar menjadi anak sederhana seperti anak yang lain, batin Bima.


"Dek, antar Bima ke kamar. Udah kamu bereskan kamar yang kosong?"


"Udah bang. Ayo Bima bibi antar." Bima ngikut di belakang.


Setelah masuk, Bima memandang seisi kamar, luasnya jika di bandingkan dengan kamarnya di rumah, mungkin hanya seluas kamar mandi miliknya. Bukan maksud Bima menghina, tapi menang itu kenyataannya. Bima merasa sangat tidak keberatan disini, tinggal disini, tidur di tempat ini yang tidak seempuk kasurnya, tidak masalah.


Ada bala bantuan untuknya saat ini ia merasa sangat bersyukur.


Ma, maafkan Bima. Karena Bima mama sakit, karena Bima mama harus merasakan kekhawatiran. Maafin Bima ya ma. Bima akan pulang setelah papa merubah semua aturan yang dia buat.


Bima memejamkan matanya, bahkan ia lupa dan tidak menghubungi Maudy. Padahal, sejak tadi ia sudah berencana akan menghubungi Maudy. Tapi karena pikirannya yang lelah, ia merasa tidur lebih baik untuk saat ini.


_ _


Pagi hari Bima terbangun, karena mencium aroma masakan dari arah dapur. Bima langsung menuju kamar mandi, karena saat ini sudah pukul 05:30. Bersiap berangkat ke sekolah dengan menaiki angkutan umum. Hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya. Biasa juga hanya menggunakan taxi.


Selama sekolah tidak membawa mobil dan di antar jemput oleh supir, biasanya Bima memesan ojek online. Itu pun bukan motor, ya setidaknya mobil.


"Udah bangun kamu Bim?" Sapa bi Minah yang masih sibuk di dapur.


Berjalan memasuki kamar mandi. Tidak Bima hiraukan lagi keadaan rumah mang Sugi yang jelas berbeda jauh dengan rumahnya. Yang terpenting masih ada tempat ia bernaung saat ini.


Bima keluar kamar mandi sudah berpakaian rapi layaknya siswa sekolahan.


"Sarapan dulu, kalau mau bawa bekal bibi siapkan."


"Enggak usah bi. Nanti makan di kantin aja." Menolak secara halus agar tidak terlalu merepotkan.


"Mang Sugi mana bi?"


"Ya kalau mang Sugi belum bangun lah Bim."


Tak lama keluar anak perempuan, ya itu adalah anak mang Sugi yang bernama Ica. Ia memandang Bima dengan heran, siapa pikirnya. Karena tadi malam Ica sudah tidur, jadi tidak tau kalau ada orang lain datang ke rumahnya. Ia mendekat ke arah ibunya, dan berbisik.


"Bu, itu siapa?" Menunjuk ke arah Bima yang masih sarapan dengan nasi goreng dan telur ceplok.


"Itu anaknya majikan ayah, tempat ayah bekerja. Namanya Bima, kamu panggil kak Bima ya. Harus sopan, karena kak Bima tinggal disini."


"Beneran bu?" Mata Ica nampak berbinar, jelas ia senang. Karena saat ini ia hanya anak tunggal dan tidak ada temannya di rumah.


"Kak Bima." Sapanya dan tersenyum ramah. Saat ini penampilan Ica masih berantakan, rambut yang di kepang dua juga sudah tak terlihat lagi. Wajar, namanya juga anak kecil bangun tidur.


"Iya." Melihat ke arah bi Minah. Bi Minah tau, mungkin bukan akan menanyakan siapa namanya.


"Dia Ica Bim, anak bibi. Tadi malam kamu datang dia sudah tidur, jadi dia enggak tau, begitu juga dengan kamu."


"Oh iya Ica." Tidak malu tuh Bima, mungkin karena yang dihadapi anak kecil.


"Ica enggak sekolah?" Bertanya dan meletakkan piring yang ia pegang.


"Sekolah kok kak. Ini Ica mau mandi."


"Ayo nak, jangan ganggu kak Bima lagi sarapan."


Bima tersenyum dan kembali melanjutkan makannya.


Pukul 06:30 Bima pamit untuk berangkat ke sekolah. Ia berjalan ke depan, dan berdiri di pinggir jalan. Untuk menunggu angkutan umum yang lewat.


Banyak pasang mata yang memandangnya saat ini, terutama dari tetangga rumah mang Sugi. Jelas lah, kenapa bisa ada lelaki tampan yang keluar dari rumah mang Sugi, apa mungkin keponakannya? Tapi kelihatannya anak orang kaya, mana mungkin keponakannya mang Sugi, lagian keluarganya tidak ada yang begini. Pikir mereka yang melihat Bima.


Bima tau kalau saat ini ia jadi pusat perhatian ibu-ibu yang belanja sayur di pinggir pasar. Ia hanya bisa menunduk.

__ADS_1


"Kamu ngapain disitu?" Suara wanita yang menegurnya.


"Nunggu angkutan umum." Masih tetap menunduk dan tidak melihat siapa yang menegur.


"Ayo berangkat sama aku aja." Kembali mencolok gas motor yang ia naiki.


Sontak Bima langsung melihat.


"Maudy." Ucapnya girang dengan senyum yang mengembang.


Maudy berangkat menggunakan motor miliknya, tetapi bukan motor matic pada umumnya yang biasa digunakan oleh perempuan lain. Motor trail yang di belikan ayahnya ketika ia mendapatkan juara umum. Bima juga tidak heran, karena memang biasanya Maudy selalu menggunakan motor itu jika ke sekolah.


"Ayo Bim cepetan naik, nanti terlambat." Bima langsung naik ke atas motor, dari pada dilihatin terus sama ibu-ibu dan anak lain mending langsung kabur aja, pikirnya.


"Pegangan Bim, kita ngebut ya." Suara Maudy yang samar-samar terdengar di atas motor.


"Asik ya sayang naik motor." Ucapnya girang, dan menikmati angin pagi yang menerpa rambut Maudy hingga menutupi pandangan Bima.


Bima menyingkirkan rambut Maudy dan menahan dengan satu tangannya.


Jarak rumah Maudy dengan sekolah tidak terlalu jauh, hanya sekitar 1kg meter. Jadi 10-15 menit bisa sampai. Apa lagi menggunakan motor pasti bisa lebih cepat.


Sampai di parkiran motor, sudah ada yang menatap tidak suka, siapa lagi kalau bukan Andi. Sosok pengagum Maudy. Tapi Maudy cuek aja.


"Wah, keren ada yang datang samaan nih kayaknya." Suara yang tak asing terdengar di telinga Bima dan Maudy.


"Kalian kok bisa barengan? Apa mobil Bima mogok ya, terus Maudy yang menyelamatkan supaya Bima enggak terlambat? Kayak di sinetron gitu, biar nampak so sweet." Bima dan Maudy kompak tidak menjawab dan terus berjalan menuju bangku di taman sekolah.


"Ih nyebelin nih sepasang kekasih!" Tak ada pilihan lain selain mengikuti Maudy dan Bima.


"Kalian kok bisa barengan Dy?" Setelah duduk Kiki masih terus bertanya.


"Iya, tadi Bima nunggu angkutan umum jadi aku tawarin aja buat nebeng."


"Angkutan umum, kok bisa?" Masih terus bertanya karena penasaran.


"Iya, Bima sekarang tinggal di rumah tetangga aku, lebih tepatnya penjaga rumahnya."


"Kok bisa!" Pertanyaan yang sama ia ulang.


Huuh.. Maudy membuang nafasnya kasar. Rasanya malas pagi-pagi menguras energi untuk menjelaskan.


"Eh, apa udah berubah pikiran sekarang? Enggak jauhin Bima lagi?" Berbisik di telinga Maudy agar Bima tidak mendengar.


"Aku dengar kamu bilang apa Ki." Telat, Bima mendengar rupanya, meskipun menunduk dan memainkan ponselnya ternyata telinganya masih berfungsi dengan baik.


"Hehe." Kiki hanya nyengir.


Dengan malas, Bima menceritakan semua kepada sahabatnya itu, karena itu juga terjadi setelah Kiki memberi tau kalau ternyata papanya yang menelepon Maudy.


"Maaf ya Bim. Gara-gara aku kamu jadi berantem sama papamu." Merasa bersalah, jelas lah Kiki merasa sangat bersalah. Ibarat dia tuh seperti kompor gitu.


"Tapi kalau kamu enggak jujur juga malah aku semakin terpojok Ki. Aku justru makasih sama kamu karena udah ngasih tau, dan enggak diem aja tanpa ngasih tau ke aku."


"Kamu nyindir aku ya Bim?" Melihat ke arah Bima. Ternyata Maudy peka ya, memang sebenarnya Bima juga menyindir.


"Hehe, enggak sayang. Tapi kalau merasa juga enggak apa."


"Au ah. Aku mau ke kelas." Tanpa bicara lagi, Maudy berdiri dan pergi meninggalkan Bima dan Kiki.


Sayang, kamu marah ya?


Tentu hanya dalam hati, mana mungkin seorang Bima berani teriak begitu di hadapan siswa lain. Apa lagi saat ini ramai.


"Kejar sana Bim." Kiki memberi saran.


Bima juga berjalan mencoba mengejar Maudy, ya meski sudah tertinggal.


"Sayang, kamu marah?" Setelah sampai di kelas dan duduk di bangku mereka. Ya, Maudy kembali duduk di bangkunya yang bersama Bima.


"Enggak. Males aja bahas ini pagi-pagi. Aku pengen fokus belajar."


"Sayang, jangan cuekin aku lah." Memohon dengan wajah memelas.


Maudy menatapnya dengan serius.


Dan menunjuk ke depan.


Bima langsung terdiam dan duduk dengan rapi layaknya seorang siswa.


Ternyata guru killer yang sering di bicarakan murid sudah ada di depan. Duduk dan melihat semua siswa dan siswi seisi kelas. Padahal juga belum bel masuk, tapi ia sudah stay di dalam. Memang sungguh menakutkan.


"Sayang, kasih aku contekan ya kalau aku tidak bisa jawab." Menulis di atas kertas dan menunjukkan ke Maudy dengan cara menggesernya.


Maudy mengambil pulpen dan membalas hanya dengan tanda centang satu.


Lalu Bima menggambarkan emoticon cium.


Maudy yang awalnya sempat sebal langsung menyunggingkan seulas senyum.

__ADS_1


Bima, Bima, aneh. Batinnya.


-__


__ADS_2