Dia Bimaku

Dia Bimaku
Mencoba berdamai dengan papa


__ADS_3

Tak terasa berbulan-bulan sudah berlalu dengan cepat. Hari perpisahan akan semakin dekat. Segala persiapan sudah di lakukan, bukan untuk perpisahan tapi untuk melakukan ujian kelulusan. Dan perjumpaan mereka selain di sekolah, adalah waktu itu, dimana mereka duduk berdua di taman. karena Bima sudah kehabisan alasan untuk pergi keluar, dan saat ini keluarga mereka juga tengah di sibukkan oleh persiapan pernikahan anak pertamanya, yaitu Rio.


Bima kembali sering mengurung di kamar, papanya benar-benar tidak memberi ijin, meski Bima sudah mengatas namakan untuk belajar. Dan pagi ini Bima kembali seperti biasa, menuju kembali ke sekolah, belajar dengan fokus, dan pulang harus tepat waktu. Jika saja saat ini bekerja, pasti akan mudah menggunakan alasan lembur.


Pelajaran di mulai dengan tenang, semua siswa mulai belajar dengan serius, karena menghitung Minggu semua akan di laksanakan. Bima juga tidak mengganggu Maudy selama pelajaran berlangsung, kapok akan hukuman yang di berikan bu Narsih.


"Kamu kuliah dimana nanti Bim?" Saat ini sedang jam istirahat. Mereka duduk di tempat biasa, di bawah pohon rindang dengan masing-masing dari mereka mengayunkan kaki yang tidak menyentuh tanah.


"Baru juga tadi pagi di bahas sama papa aku." Terdengar Bima menghela nafas berat. Maudy masih diam menyimak, karena dia tau Bima akan bercerita dengan sendirinya tanpa harus ditanya.


"Papa kamu lagi yang mutusin?"


Bima mengangguk.


"Satu tahun aku kuliah, aku sudah harus belajar cara memimpin perusahaan. Aku akan di angkat jadi sekertaris mas Rio." Maudy hanya mampu mengelus pundak kekasihnya ini, kalau orang lain mungkin akan senang mendapat jabatan tinggi dan jadi pewaris keluarga nantinya. Tapi lain dengan Bima, kendala sifat yang cenderung pemalu ini pasti akan jadi beban berat untuknya. Berhadapan dengan klien, meeting, semua harus ia lakukan nanti ketika sudah menginjakkan kakinya di perusahaan papanya.


"Kamu beruntung kok Bim?" Terdengar suara Maudy yang bimbang.


Kiki dan Bima menatapnya.


"Iya, kamu beruntung. Kamu masih bisa kuliah, masih bisa dekat sama orang tua kamu, semua fasilitas juga sudah kamu dapatkan tanpa harus kamu mengeluarkan keringat. Meskipun papa kamu ngekang kamu, tapi aku yakin semua itu demi masa depan yang baik buat kamu." Ini pembicaraan yang serius.


"Sementara aku, dalam waktu dekat ini akan segera berpisah dari orang-orang yang aku sayang, ayah, ibu, Tisha, Kiki, dan kamu Bim? Hanya untuk menata masa depan aku, aku rela kok jauh dari kalian semua. Termasuk kamu Bim, kamu harus bersyukur atas apa yang kamu punya saat ini. Jangan posisikan diri kamu, hanya karena sifat papa kamu, tapi ambil kesimpulannya, kamu punya yang nggak orang lain punya, kamu bisa yang nggak orang lain bisa, buktikan itu di hadapan papa kamu."


Bima terdiam, ia mencerna kalimat Maudy dengan sebaik mungkin.


Aku bakal berterima kasih pada papa setelah ini.


"Ah, nggak rela pisah sama kamu." Kiki memeluk sahabatnya dengan hangat.


Tidak pernah terbayangkan oleh Kiki, bakal berpisah dengan sahabatnya ini. Sebenarnya, papa Kiki sudah menawarkan ini sebelumnya, membiayai kuliah Maudy. Tapi orang tuanya menolak, dengan alasan takut terhutang Budi. Lebih baik dengan keluarganya saja. Begitu juga Bima, sebenarnya ia sangat ingin memiliki kenangan terindah sebelum Maudy pergi nantinya, tapi saat ini hanya doa yang ia panjatkan, berharap yang maha kuasa mengabulkannya.


"Kalau kamu Ki? Bakal kuliah dimana?" Tanya Bima.


"Aku pengen ikut Maudy."


"Ada-ada aja kamu, jangan lah." Maudy langsung menolaknya.


Bagi Kiki saat ini Maudy adalah teman satu-satunya. Kalau yang lain, selalu memandang harta, memanfaatkan. Itu semua juga sudah ia temui sewaktu SMP dulu.


"Kan pengennya. Tapi nggak di kasih sama mama aku, Hem. Aku kuliah di universitas X. Doain ya, semoga aku bisa masuk kesana."


"Kok sama dengan pilihan papa aku?"


"Eh iya Bim? Bagus kok Bim. Fasilitas lengkap, namanya juga universitas elit. Mau aja lah Bim. Semoga kita bisa bertemu kembali di jenjang yang berbeda Bim, tetap berteman."


Maudy tidak ikut bersuara, mereka masih membahas hal yang memang tidak akan pernah ia rasakan di tanah air tercinta ini. Ada sedikit rasa iri di hatinya, tentu karena manusia tidak bisa luput dari itu semua.


Andai aku jadi kalian, aku tidak akan mengeluh. Aku akan menggapai semuanya dengan mudah.


Waktu yang singkat untuk istirahat anak-anak sekolah. Dan mereka harus kembali memulai perjalanan setelah terdengar bel masuk. Waktu pelajaran di jam terakhir tengah berlangsung. Maudy lebih banyak diam sekarang, begitu juga Bima. Bukan karena mereka berantem seperti kemarin-kemarin. Tapi memang sudah merasakan waktu yang berjalan cepat ini, akan segera memisahkan mereka. Ada rasa takut, pasti.


"Dengar semuanya, hari Sabtu kita akan mengadakan praktek, dengan tema mengenal alam. Jadi, kita akan melakukan perjalanan studi tour di salah satu tempat wisata yang masih berbau alam, salah satunya pegunungan. Dan ini." Menunjukan selembar kertas A4 "Kalian mendapat jatah satu, segera beri tau orang tua kalian, silahkan di tanda tangani jika mereka memberi ijin. Besok kembali di kumpul ya? Disana kita akan belajar sesuai perintah saya, tugas apa nantinya yang akan kalian buat. Jadi, jika ada orang tua yang tidak setuju, itu sudah resiko jika nilai kalian nol."

__ADS_1


Semua siswa berteriak, bukan protes. Tapi malah senang akan pergi wisata, meskipun mengatas namakan belajar, tetap saja intinya juga liburan.


***


"Pa, papa?" Memanggil papanya yang sedang berada di kamar. Karena Bima sempat mencari di ruang kerja, tapi beliau tidak ada disana, jadi bisa di pastikan papanya sedang berada di kamar.


"Ada apa Bim?" Ternyata mamanya yang membuka pintu.


"Papa mana ma?" Mencoba sedikit mengintip dari celah pintu.


"Papa masih mandi, kenapa?" Melihat Bima yang membawa selembar kertas.


"Nanti aja deh ma." Berbalik dan siap pergi.


"Kenapa ma?" Suara papanya terdengar. Bima langsung menghentikan langkahnya. Dan melihat, ternyata papanya memang baru saja selesai mandi. Terbukti dengan hanya melilitkan handuk di pinggangnya, dan mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil di tangan.


Ih papa nggak malu apa ya sama mama? Cuma pakai handuk aja lagi.


"Ini pa?" Menyerahkan kertas yang ia pegang.


Cukup lama papanya membaca tanpa menggunakan baju terlebih dahulu, dan Bima juga setia menunggunya.


"Kalau nggak ikut, nilai di anggap nol pa." Papanya masih tetap fokus membaca, belum menjawab perkataan Bima. Dengan teliti melihat prosedur apa saja yang akan mereka lakukan selama disana.


"Ma, tolong ambilkan pulpen papa di laci."


Ha? Maksudnya papa kasih ijin?


"Papa bisa menelepon pihak sekolah kok, tanya saja benar atau tidaknya studi tour ini." Masih diam belum menjawab dan langsung menanda tangani selebaran miliknya.


"Jaga diri kamu dengan baik selama disana. Ingat, kamu harus fokus dengan tugasnya bukan liburannya." Menegaskan di setiap perkataannya.


"Makasih pa." Langsung berjalan membawa selebaran dan senyum di wajahnya. Jarang sekali Bima mengatakan hal itu, singkat tapi tidak pernah ia lakukan. Selama ini hanya menuding papanya sebagai orang tua killer.


Waktu makan malam tiba, semua telah berkumpul. Seperti biasa, Bima adalah orang terakhir yang duduk di meja makan. Dan seperti biasa juga, sebelum kedua anaknya hadir, papanya tidak akan memulai makan. Papa Adi, papa yang selalu menjadi ketakutan untuk anaknya. Padahal sebenarnya, ia sangat menyayangi anaknya, terutama pada Bima. Hanya saja caranya berbeda. Itu yang membuat Bima selalu salah dalam mengartikan sifat papanya. Yang ia tau, papanya tidak adil, udah itu saja. Bukan dalam hal materi, tapi tentang kasih sayang.


Apa sudah saatnya sekarang aku terima semua ini, tentang cerita papa yang selalu memberi aturan ketat untukku? Apa sudah saatnya aku juga membalas kasih sayang papa? Aku sadar selama ini aku tidak pernah membuka hatiku untuk dekat dengan papa. Sekarang, iya sekarang waktunya aku memulai semuanya dari awal, aku sudah dewasa sekarang.


"Pa?" Memanggil dengan lembut ketika papanya akan beranjak setelah selesai makan.


"Pa, aku mau kuliah di universitas yang papa pilih." Papanya langsung kembali duduk.


"Maaf pa, sebelumnya aku sempat menolak." Melanjutkan ucapannya sebelum papanya menjawab.


"Kenapa?" Malah bertanya.


"Iya, aku sadar. Aku tidak bersyukur atas semua yang udah papa kasih sama aku, fasilitas, keuangan aku, semua. Maaf pa, kalau aku selama ini selalu mengeluh karena papa memberi aturan ketat untukku."


"Apa mama?" Melihat ke arah istrinya. Bima tau apa maksud pertanyaan papanya dan Bima langsung menggeleng.


"Bukan pa. Tapi Maudy, teman aku yang papa suruh untuk menjauh, dia yang memberi tau kalau sebenarnya papa melakukan itu semua karena papa sayang sama aku, iya kan?" Rio langsung tersedak mendengar Bima berani menyebut nama Maudy di hadapan papanya.


"Sudah papa duga." Tersenyum, tapi entah dalam arti apa. "Yang papa mau saat ini, kamu fokus dengan belajar mu, mengenal bagaimana cara pimpin perusahaan dengan baik, bijak, dan bertanggung jawab." Bima mengangguk.

__ADS_1


Kenapa papa tidak membahas tentang Maudy?


"Ikut ke ruang kerja papa, sekarang." Berdiri, dengan reflek Bima juga ikut berdiri.


Papa mau apa? Apa papa mau mengusir aku lagi karena aku berani menyebut nama Maudy?


Sudah entah pikiran apa saja yang ia pikirkan saat berjalan ke arah ruang kerja papanya.


"Kamu lihat ini?" Menunjukan photo wisuda papanya.


"Kamu lihat wanita yang berdiri tepat di sebelah papa." Bima langsung mengarahkan pandangannya sesuai yang sudah di sebut oleh papanya.


"Itu adalah pacar pertama papa. Sejak kecil sudah mengenalnya, 7 tahun lamanya kami menjalin hubungan. Dan terakhir dia pergi keluar negeri dengan alasan membantu bisnis papanya disana, sedangkan papa disini juga meneruskan bisnis kakekmu, dengan gigih papa membangun semuanya. Dan sampai saat ini dia tidak kembali lagi ke tanah air." Wajahnya berubah sendu.


Apa maksud papa bicara begini?


"Kamu tau, kamu seperti papa dulu. Mencoba dekat dengan wanita, meyakinkan kalau dia jodoh kita. Tapi, semuanya itu hanya mimpi."


Jadi maksud papa aku dan Maudy juga akan berpisah? Dan apa? Maudy juga akan pergi keluar negeri.


"Maksud papa?" Memberanikan diri bertanya.


"Bima, papa tau kamu suka sama gadis itu kan? Papa tau dia anak baik, dan berhasil mengubah pola pikir kamu. Tapi Bim, papa sarankan. Jangan dulu mengenal cinta sebelum kamu sukses. Kamu belum berjumpa dengan wanita yang jauh lebih baik di luar sana. Yang notabenenya setara dengan keluarga kita."


Kenapa papa jadi rendahin Maudy sekarang?


"Pa, aku mohon. Aku bisa terima semua peraturan dari papa. Tapi ke depannya jangan atur masalah jodoh untukku pa? Maaf pa, untuk itu aku keberatan."


Bima berubah menjadi dewasa sekarang ya, ia lebih berani mengungkapkan semuanya di hadapan papanya.


Setelah membicarakan hal itu Bima langsung kembali ke kamarnya. Berbaring dan seperti biasanya, menatap langit-langit kamar dengan berbicara pada hatinya sendiri, tanpa harus menunggu jawaban dari orang lain.


Aku pikir, papa akan sedikit luluh sewaktu aku menerima semua yang papa lakukan. Dengan menyebut nama Maudy, sebagai orang yang berhasil dalam keegoisan ku. Aku salah, papa tetap akan memandang semua dengan harta. Maaf pa, aku belum bisa memeluk mu saat ini. Mungkin besok, lusa atau suatu hari, ketika papa mengangguk setuju untuk hubunganku.


"Bim, Bima?" Suara ketukan pintu terdengar. Bima langsung bangkit dan berjalan untuk membuka pintu kamarnya.


"Mama, kenapa?" Melihat mamanya yang sudah berdiri tepat di hadapannya.


"Mama boleh masuk?" Suara lembut yang selalu terdengar di telinga Bima.


"Iya ma." Mereka duduk di pinggir kasur milik Bima.


"Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menyebut nama Maudy?" Ternyata mamanya juga penasaran.


"Hem. Memang tadi Maudy yang mengatakan ma, dia yang menyadarkan Bima untuk selalu bersyukur. Kenapa ya ma? Kenapa papa selalu memandang seseorang melalui harta?" Bima memandang kearah lain dengan wajah yang berubah sendu. Padahal sedari tadi ia sudah mencoba untuk membuka hati dan memantapkan untuk menerima semua yang papanya lakukan.


"Bima dengar mama nak?" Memegang kedua pipi anaknya, sepeti akan berbicara kepada anak kecil.


"Untuk saat ini, mama mohon sama kamu, kamu turuti saja semua kemauan papa kamu. Soal hubungan kamu dengan Maudy, kamu jalani saja. Jika suatu saat nanti papa kamu menjodohkan kamu seperti mas mu, dan itu membuat mu keberatan, mama janji, mama bakal bela kamu gimana pun caranya. Masa depan kamu masih panjang Bim, ingat saat ini Maudy hanya penyemangat untuk kamu."


"Makasih ma." Memeluk mamanya dengan penuh kasih sayang.


Aku lebih lega sekarang, tidur pun mungkin akan nyenyak.

__ADS_1


--__


__ADS_2