Dia Bimaku

Dia Bimaku
Sensitif


__ADS_3

Maudy sudah berdiri disini sekarang. Berdiri di resto miliknya, dengan nama "Resto ku" dan hal yang paling di sibukkan padanya, menghubungi semua para penyuplai bahan makanan yang sudah ia jumpai waktu itu.


Tepat di halaman resto juga sudah di beri pamplet besar yang bertuliskan "cari karyawan" soal kriteria juga sudah di jelaskan, begitu juga dengan umur.


"Yang ini letakkan disana." Sesekali menghapus keringat yang membasahi keningnya. Untung ada Tisha yang meminta bantuan temannya. Karena peresmian akan dilakukan besok malam. Tak lupa mengundang kerabat dekat, agar bisa mereview makanan nantinya.


"Sayang." Bima datang dengan senyum, mendekat ke arah istrinya. Mengecup kening lalu mengelus pipi. "Jangan kecapean ya." Maudy mengangguk dan Bima menuntunnya untuk duduk dan beristirahat.


"Apa mau aku suruh orang untuk bantu kamu disini?"


"Nggak usah Bim. Tadi sudah ada 4 orang yang melamar untuk bekerja disini. Aku maunya segitu aja dulu, tunggu bagaimana perkembangan resto nantinya. Aku udah suruh ayah cabut papan pengumuman kok." Bima mengelus lagi kepala istrinya.


"Kamu semangat sekali sepertinya." Cium lagi, ah ibu sampai berhenti melangkah karena melihat menantunya tengah bermanja, jadi malu sendiri. Ayah mana ya? Malah mencari suami, apa ingin di cium juga?


"Ibu?" Terlambat, baru saja berbalik badan. Segan sekali rasanya menganggu.


"Iya, ibu tadi cuma mau nanya kamu mau makan apa. Eh taunya ada Bima. Ya udah ibu mau kesana." Menunjuk dapur resto yang sudah tersedia bahan makanan sekarang. Bima tersenyum dan membuang pandangannya, padahal dia tau kalau mertuanya pasti melihat tadi.


Tidak masalah kan? Kami sudah menikah!


"Iya sayang." Melihat Maudy membuka mulut, belum sempat berbicara. "Ibu pasti ngerti."


"Bim, aku pengen makan kol tumis. Kayaknya enak gitu, apalagi pakai cabe rawit." Menelan ludah membayangkan makan dengan nasi hangat, lalu terhidang ikan asin. Hah aku tak sabar! Menelan ludah lagi. "Bima sayang tunggu disini ya, aku mau bilang ibu minta di masakin."


"Lima menit sayang. Lebih dari itu di hukum!" Bima!! Teriak dalam hati. Tersenyum, mengangguk lalu pergi.


Hari melelahkan ini akan membuahkan hasil, mereka yakin akan itu. Ibu terlihat melamun di dapur sambil tersenyum sendiri, Maudy jelas melihatnya. Berjalan mendekat, bahkan suara langkah kakinya yang berdenting di atas keramik belum ibunya sadari. Sampai Maudy datang dan menepuk bahu ibunya.


"Eh!" Kaget. "Kamu Dy."


"Ibu ngapain sih? Melamun sambil senyum-senyum sendiri."


"Iya, lagi senang aja."


Senang? Karena melihatku di cium Bima? Ah ya ampun ibu, andai ibu tau bahkan setiap detiknya dia selalu begitu.


"Kamu ngapain kesini? Nanti Bima panik di tinggal sendiri." Sambil tertawa kecil menggoda anaknya, padahal memang benar begitu kenyataannya.


"Aku pengen makan kol tumis pakai cabe rawit bu. Tapi ibu yang masak."


"Kayak orang ngidam aja kepengen." Mengambil kol dari dalam lemari es.


"Baru juga selesai datang bulan bu."


Aku senang mendengar ibu bilang begitu, tapi kenapa aku melow sih setiap mendengar orang lain bilang kalau aku hamil. Aku juga ingin, tapi kan memang belum di kasih.


"Kamu nggak ada mual Dy?" Mulai mengiris kecil sayur kol.


"Mual?" Kemudian menggeleng.


"Iya, siapa tau kamu sebenarnya udah hamil, cuma kamu nggak tau."


"Bu, kan aku sudah bilang, aku baru selesai datang bulan!" Sedikit berbicara dengan nada kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan ibunya di dapur. Entah kenapa, Maudy tersinggung jika membahas hal ini.


Aku juga pengen hamil, pengen! Kenapa sih, aku juga baru hitungan bulan menikah!


"Sayang?" Melihat Maudy kembali duduk di sampingnya, dengan wajah yang di tekuk.


"Kenapa? Apa ibu nggak mau masakin?" Maudy menggeleng, dan apa? Tumpah sudah air matanya.


"Bim, kamu nggak apa-apa kan kalau saat ini aku belum hamil?" Bima membuang nafas kasar.


"Sayang, aku nggak bahas itu kan?"


"Iya tapi ibu!" Lagi, melanjutkan tangisnya. Bak anak kecil yang mengaduh ketika berkelahi dengan temannya. Ya, begitu Maudy saat ini.


"Sudah. Sini?" Merangkul dan menepuk bahunya, mengecup kening lalu bibir dengan singkat.


"Ya udah." Melihat jam di tangannya. "Sayang, aku harus balik ke kantor. Kamu nggak apa-apa kan?" Belum menjawab. "Jam 4 sore aku udah pulang sayang. Nanti kamu kabarin ya, udah pulang kerumah atau belum? Atau mau sekalian aku jemput disini?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Aku mau ikut kamu Bim." Wajahnya memelas, mata memerah setelah menangis. Ah siapa yang bisa menolak jika wajah imut istrinya sengaja di tunjukan.


"Lalu pekerjaan disini gimana? Sudah selesai?" Melihat ke sekeliling, semua memang sudah tampak rapi, kursi dan meja juga sudah tersusun.


"Aku nanti ada meeting sayang."


"Disini sudah ada ibu."


"Bukannya tadi kamu minta dimasakkan ibu ya?" Mencium lagi.


"Iya tapi sekarang sudah hilang seleranya Bim."


Secepat itu?


"Bim?" Menggoyangkan lengan suaminya, merengek seperti anak kecil.


"Ya sudah ayo? Kita pamit sama ibu, terus minta masakannya dibungkus aja ya. Nanti makan di kantor." Baik, begitu dia jawab dan mengangguk.


***

__ADS_1


"Kenapa? Dy?" Mendekat ke anaknya. "Kamu marah sama ibu?" Diam.


"Nggak bu. Memang aku yang ngajak Maudy."


"Ya sudah tunggu sebentar." Ibunya mulai mengambil kotak bekal yang tersedia. Memasukan sayur kol beserta ikan asin kedalaman plastik.


"Segini cukup?" Maudy hanya mengangguk.


"Kalian hati-hati ya."


"Iya bu." Menggandeng lengan Maudy dan satu tangan menenteng kotak bekal makan siang untuk istrinya. Bisa kebayang ya pemandangan seperti apa ketika dilihat orang tua.


Pemandangan resto yang masih tampak sepi, karena memang belum di buka. Maudy menatap dengan senyum dari dalam mobil, akan seperti apa nantinya ketika ramai. Apakah dia akan sibuk? Bahkan tak sempat membagi waktu untuk Bima.


"Tembok itu?" Menunjuk tembok tinggi di sebelah resto miliknya.


"Kenapa sayang?" Menoleh dan melajukan mobilnya dengan pelan. Benar-benar tidak nampak apapun dari luar, semuanya di tutup. Mungkin orang-orang berpikir juga itu hanya lahan kosong.


"Kamu pura-pura nggak tau ya? Aku tau kali Bim." Bima diam sebentar, mencoba menaksir apa yang di maksud istrinya. "Rumah kita kan?" Suara rem mobil langsung berdecit. "Mama yang bilang." Huh, Bima masih menatapnya.


"Iya sayang."


"Apa udah selesai?" Bima mengangguk.


Bukan kejutan lagi namanya!


"Jadi? Kenapa masih di tutup semua?"


"Sayang kamu sudah tau sekarang, lalu untuk apalagi bertanya? Harusnya itu jadi kejutan untukmu nantinya. Karena rencana ku, setelah selesai resepsi, aku mau langsung bawa kamu pulang kesana."


"Tapi sekarang bukan kejutan, karena aku udah tau. Haha." Maudy tertawa lepas, menoleh ke arah pagar menjulang tinggi yang bergerak semakin menjauh karena Bima sudah melajukan mobilnya lagi.


"Aku harap kamu betah sayang." Cup, tiba-tiba saja Bima mendapat serangan.


Indahnya di cintai kamu Bim!


"Jadi nanti gimana?"


"Apanya sayang?"


"Ya apa pagar itu tetap seperti itu tingginya?" Bima tersenyum lalu menggeleng.


"Tidak sayang ku. Ah sudahlah, kamu juga pasti tau kan? Iyakan?" Maudy tertawa.


"Iya aku tau, nanti tembok yang di sebelah resto akan di bongkar kan? Lalu jadi satu halaman sama rumah kita? Supaya aku nggak lelah dan jauh kalau mau ke resto."


Sepanjang perjalanan berbicara, membahas masa depan. Tapi Bima tak berani menyinggung soal anak. Takut kalau istrinya ini merasa terkucilkan lagi, merajuk lagi, ah ribet. Hingga sampai di halaman kantor. Semua mata masih menatap, terutama dengan securitty yang membuka gerbang lalu menunduk sopan. Melihat Maudy yang duduk di samping Bima. Meski mereka juga tau kalau seroang CEO sudah menikah, tapi tetap saja pandangan tetap menilik. Terutama dengan securitty, mereka saling berbisik.


"Kenapa matanya sembab? Dan kenapa ikut ke kantor. Ah sepertinya mereka habis bertengkar nih."


"Sudah lah, wajar namanya juga baru berumah tangga. Kamu kira mau enak di ranjang aja!" Memukul topi temannya di bagian depan.


"Apa pak Bima mainnya terlalu kasar ya? Jadi istrinya sampai nangis."


"Bicara mu ngawur."


"Eh tapi cantik banget memang ya istri pak Bima, serasa ada cahaya gitu yang terpancar dari wajahnya, Natural."


"Semoga pak Bima dengar supaya kamu di hukum." Langsung bungkam dan hanya mampu menatap punggung Bima dan Maudy yang kini sudah memasuki area dalam kantor.


Karyawan pada menunduk hormat, menyapa lalu tersenyum. Maudy terus membalas satu persatu sapaan mereka. Hingga rasanya juga ingin ikut menunduk agar tak membalas setiap karyawan yang sengaja tersenyum mencari perhatian. Sementara Bima berjalan gontai dengan lengan yang menggandeng, melirik ke kanan dan kiri juga tidak, lurus saja. Memang begitu dia setiap hari. Kelihatannya cuek, kejam. Tapi sebenarnya Bima tak pernah marah jika di kantor, ketika ada yang membuat kesalahan palingan hanya menegur untuk memperbaiki. Seperti laporan kerja misalnya.


Dan kali ini mereka sudah berada di dalam lift, bersamaan dengan salah satu karyawan yang membawa setumpuk kertas. Mungkin habis dari foto copy pikirnya.


"Pak." Menunduk hormat, Maudy sekilas melihatnya lalu ingin tertawa. Wajahnya terlihat sangat pucat.


Dia kan orangnya? Tertawa dalam hati.


"Kenapa sayang?" Melihat Maudy seperti berdiri dengan tidak tenang.


"Nggak apa kok. Kemarin itu ada karyawan kamu loh yang minta nomor ponsel aku, waktu aku pertama kali datang kesini." Sengaja menyindir, dan terlihat jelas tubuh lelaki yang berdiri di depannya ini bergetar.


"Kamu tau orangnya? Kamu ingat wajahnya?" Suaranya terdengar dingin.


"Nggak udah lupa, aku nggak lihat wajahnya karena kamu kan larang aku buat lihat laki-laki lain." Ya ampun, Bima langsung meleleh dan cup, satu kecupan mendarat di kening bersamaan dengan senyum. Persetan, karyawannya tak melihat.


"Nanti aku bakal buka CCTV kantor sayang, aku mau lihat siapa orangnya." Sambil berjalan keluar lift.


Sumpah, istri pak Bima jahat banget sama aku tuhan.


Sampai melihat Bima dan Maudy masuk keruangan barulah ia juga melangkah. Jika ada pengeras suara pasti akan terdengar suara degup jantungnya.


***


"Aaa buka mulutnya."


"Lagi?" Maudy mengangguk.


Tok. tok. Suara ketukan pintu.

__ADS_1


"Masuk." Menoleh ke arah pintu, lalu kembali menyuapi istrinya.


"Pak, eh!" Berhenti melangkah. "Maaf pak, saya ganggu ya?" Ingin berbalik.


"Kak Sun?" Maudy menyapa lebih dulu.


"Dia lebih tua dari aku Bim." Ketika Bima menatapnya. Baiklah, begitu Bima menyetujui. Terserah, yang penting kamu nyaman dan senang.


"Ada apa Sun?"


"Kakak Bim! Panggil dia kakak, dia lebih tua dari kita." Sundari sudah menunduk.


Ya ampun, dia atasan aku Dy!


"Begini pak, jadwal meeting di majukan, jadi setengah jam lagi."


"Siapa yang mengatur?"


"Tadi Hem pak Adi datang kesini sewaktu bapak keluar kantor. Beliau yang bilang dan saya disuruh menyampaikan kepada bapak. Katanya beliau akan hadir nanti." Bima membuang nafas kasar. Meletakkan kotak bekal di pangkuan Maudy.


"Sayang, kamu makan sendiri ya?" Maudy mengangguk saja.


Dia tersenyum melihat Bima yang serius ketika menjalani pekerjaan, menatap layar laptop dan melihat sesuatu disana ketika Sundari menyebutkan dokumen penting.


"Kak Sun udah makan?" Sundari tersenyum lalu mengangguk.


"Ini masih ada sisa sayur kol kak, kakak mau?"


Sayur kol? Seorang istri CEO makan sayur kol???


"Sayang." Menoleh ke arah Maudy. "Sundari masih bekerja jangan ganggu dia." Mengingatkan kalau yang dilakukan istrinya itu sangat menggangu fokusnya Sundari.


"Cuma nanya kali Bim!" Menggerutu pelan lalu menyuapkan kembali nasi kedalam mulut. Hingga nasi tandas dari kotak bekal, Maudy bersendawa. Lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Kini hanya bisa melihat Bima dan Sundari yang tengah serius membahas masalah meeting.


Ah bosan, tau gini nggak usah ikut?


Memejamkan mata sebentar, berharap ketika membuka Bima sudah selesai dan duduk lagi di sampingnya.


"Sayang." Beberapa menit kemudian. "Sayang?" Menepuk pelan pipi Maudy.


"Hem?" Menggeliat. Aw, rintihnya pelan. Tulang lehernya terasa sakit karena tidur dengan posisi tidak normal.


"Kamu tidur?" Jelas-jelas tau tidur, malah nanya!


"Kita pulang?" Hah? Kaget, jam berapa sekarang.


"Kamu tidur lama sekali sayang, bahkan sampai aku selesai meeting." Apa? Lebih kaget, sepertinya tidak mungkin, batinnya.


"Tuh." Menunjuk Sundari yang duduk di sofa lain.


"Sundari yang temani kamu dari tadi, bahkan dia juga nggak bisa ikut meeting dan di wakilkan oleh yang lain."


"Kakak Bim! Panggil dia kakak, nggak sopan."


Ya ampun, Maudy dia atasan aku!!


Jawaban yang sama.


"Iya-iya."


"Papa jadi kesini?" Bima mengangguk. "Tapi dia nggak masuk ruangan kamu kan?"


"Masuk lah sayang." Merapikan rambut Maudy. "Sun kamu boleh keluar. Terima kasih sebelumnya sudah menemani istriku tidur."


"Bim kakak!" Mengingatkan lagi.


Terserah kamu lah Maudy. Yang penting aku masih mau kerja!


"Iya pak, sama-sama. Permisi ibu Maudy." Maudy hampir tertawa mendengar panggilan itu.


"Bim, kamu serius papa masuk kesini?"


"Iya sayang." Berdiri dan membereskan beberapa beekas penting yang harus di bawa pulang.


"Bim, jadi papa lihat aku tidur?" Bima mengangguk santai, sambil menghitung kertas A4.


"Bima!!" Berteriak lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku malu Bim. Terus papa ngomong apa?"


"Papa marah!" Langsung membuka wajahnya.


"Marah karena aku disini?" Panik, bahkan berlari ke arah Bima.


"Sayang, papa marah sama aku karena membiarkan kamu tidur disana. Itu kan posisinya nggak bagus." Maudy menggeleng. Apa mungkin?


"Kamu nggak percaya?" Menggeleng pelan.


"Ya sudah, kamu tanya aja sama kak Sun!" Ah iya kak Sun, ya ampun Maudy benar-benar berniat menanyakan hal ini nanti.


--__

__ADS_1


__ADS_2