
"Ini semua juga gara-gara ayah kan? Yakkan?" Menggerutu nggak jelas setelah berada di mobil dalam perjalanan pulang.
"Kok ayah si bu?"
"Tadi kan ayah yang mulai. Jadinya ya ibu ngikut." Maudy hanya diam fokus menyetir, dan Tisha dia tidur setelah perutnya merasa kenyang. Tak peduli dengan uang sekolah yang baru saja terpakai untuk makan bersama keluarga. Tidur dengan pulasnya, dengan kepala berada di pangkuan ibunya, kaki di tekuk karena keadaan masih berada di mobil kan?
Hingga sampai di halaman rumah, mereka turun. Ibu langsung berlari duluan menuju rumah, tak membangunkan Tisha, tapi langsung menggeser kepalanya.
Benar, pintu rumah tidak tertutup. Ah makin panik saja ibu Irma, takut kalau barang-barangnya ada yang hilang.
"Gimana bu? Ada yang hilang?" Ayah Subi juga ikut menyusul masuk ke dalam. Dan Maudy memasukkan mobil ke garasi. Penuh sekarang ya? Untuk juga masih muat, batinnya.
"Tisha, bangun sudah sampai? Segitu enaknya ya tidur di mobil baru?"
"Hem?" Menguap, menggeliat. Matanya sudah terbuka tapi mulut masih terkunci. Ibarat kata melamun, mengembalikan kesadaran dulu.
"Turun!" Hanya melirik lalu melamun lagi. Maudy turun dan meninggalkan Tisha.
Maudy melihat ke arah samping rumahnya, dimana bahan bangunan tadi di letakkan. Tapi dia tidak merasa kaget atau heran, karena berfikir memang ayahnya yang membeli.
Berjalan gontai masuk ke dalam kamar. Merebahkan tubuhnya, ah lelah tapi asik. Sekarang tidak ada lagi kegiatan kan? Ya memang begitu, lebih baik tidur.
"Dy?" Baru saja ingin memejamkan mata, ah sudah ada tamu lagi.
"Ya bu?" Matanya tak terbuka.
"Ada Kiki di depan, sama pacarnya."
Agam sudah pulang?
"Sebentar." Dan akhirnya bangun lagi, Good bye tempat tidur.
Matanya di edarkan ke sekeliling ruangan, hanya ada gorden berwarna biru muda dengan corak bunga, bergoyang karena terkena kipas angin.
Katanya ada Kiki, mana? Ibu bohong ini.
Lagi, berjalan ke depan. Menajamkan telinganya sayup-sayup mendengar percakapan. Berarti mereka ada di teras rumah, batinnya.
"Ki?" Melihat penampilan Kiki yang sudah rapi, tapi kenapa dia datang kesini? Mengalihkan lagi pandangannya ke Agam. Dia juga?
"Kalian mau kemana?" Ikut duduk.
"Dy, aku sama Agam mau pergi ke villa barunya? Aku di kasih pergi kalau aku juga ajak kamu. Soalnya mama aku takut kalau aku macem-macem disana. Kamu mau kan? Lagian Bima juga nggak ada?" Ah ini ide yang tidak bagus menurut Maudy.
"Tadi kami sudah bilang ke ibumu Dy, katanya sih terserah kamu." Mulutnya sudah berkedut ingin menjawab 'iya mau' tapi otaknya masih berpikir bagaimana caranya bilang ke Bima?
"Sekarang?"
"Iya Dy sekarang. Ini ada acara peresmian disana, karena baru buka. Cuma orang tua aku serahkan semua sama aku." Agam menjelaskan. "Soal pemandangan dan keindahan alam wih jangan di tanya." Otak sudah berputar, pikirannya menari-nari mendengar apa yang di katakan Agam. Siapa yang tidak tergiur? Jangan kan sebulan sekali, seminggu sekali juga mau kalau temanya piknik.
"Anggap aja tambahan bulan madu kamu yang terganggu, cuma sendiri nggak sama Bima hehe." Iya mengangguk.
"Beneran? Mau kan?" Mengangguk lagi.
"Sebentar, aku bilang dulu ke ibu sama ayah, terus aku coba telepon Bima." Langsung masuk ke dalam. Mengetuk pintu kamar lalu pamit dengan kedua orangtuanya.
"Ya sudah lah yah, lagian juga Kiki minta bantuan. Yang penting kamu harus ijin sama Bima."
Maudy langsung berkemas, membawa pakaian ganti. Tidak mungkin kan kalau ke villa tidak menginap? Walau satu malam setidaknya ada persiapan. Tak lupa menelpon Bima, ah nihil tidak aktif. Mengirim pesan saja. Berjalan lagi ke depan, bertanya kepada Agam di mana villa miliknya dan juga namanya, harus detail kan membuat laporan ke suami.
Kembali lagi ke kamar, mengambil pakaian lalu berlari ke kamar mandi. Selamat menunggu Kiki.
Hingga satu jam berlalu, Maudy keluar dengan membawa tas gendong.
"Sudah?" Wajah sepertinya sudah memiliki kerak karena menunggu Maudy terlalu lama. Silahkan protes lagian kenapa nggak telepon aja tadi, batinnya.
"Jam berapa sekarang?" Agam bertanya, padahal jelas-jelas dia juga memakai jam di tangannya.
"Sayang, itu." Menunjuk, ah iya dia langsung melihat. Jam 3.
"Sampainya kira-kira jam berapa Gam?" Sambil berjalan ke arah mobil.
__ADS_1
"4 jam perjalanan, ya kira-kira jam 7 gitulah kalau nggak macet."
Sudah bersiap melajukan mobilnya.
"Aku tidur ya? Tadi mau tidur kalian datang jadi ganggu." Ah enaknya rebahan di kursi mobil, luas. Kiki duduk di samping kemudi bersama Agam. Ya iyalah, tidak mungkin dia mau duduk di belakang, emangnya Agam supir.
Entah sampai dimana, sejauh apa, kapan sampai, Maudy tidak tau. Dia masih tertidur, masuk ke alam mimpi. Palingan hanya sesekali nampak tubuhnya yang bergoyang ketika melewati jalanan yang berlubang. Sungguh, dia benar-benar pulas tidurnya, tak merasa terganggu sedikit pun dengan suasana di dalam mobil. Musik, dan belum lagi jika Kiki tertawa lepas ketika berbicara dengan Agam.
Sayup-sayup dia mendengar panggilan. Tapi mata masih malas terbuka, sepertinya sengaja di pasang lem ya?
"Dy, bangun sudah sampai." Masih berusaha menggoyangkan tubuh Maudy.
"Eh? Sudah sampai?" Matanya mengerjab berkali-kali, duduk dan melihat ke sekeliling. Sudah tidak ada Agam di dalam mobil, hanya Kiki yang ada, yang setia dan sabar membangunkannya sampai berulang-ulang.
"Sudah ayo turun? Agam sedang menjumpai penjaga villa agar menyiapkan kamar untuk kita." Gelap, hari sudah benar-benar gelap sekarang. Sehingga melihat sekeliling pun hanya terlihat lampu-lampu kecil yang menghiasi setiap sudut di pinggir jalan.
"Kita satu kamar kan Ki?"
"Iya lah Dy, kamu kira aku sama Agam gitu?" Dia Tertawa, mungkin saja kan? Batinnya.
"Kalian di kamar sebelah kiri ya? Aku yang kanan." Menunjuk dua buah kamar yang hanya terpisah oleh lorong untuk menuju ke belakang villa. Agam lebih memilih kamar di bawah, yang di depannya tersedia kolam renang. Jadi tak perlu repot menaiki tangga lagi.
"Bagus banget." Takjub menatap ke area villa, ada kolam renang tepat di depan kamar yang akan ia tiduri, dan di samping jendela juga ada taman kecil dengan di hiasi lampu taman.
"Ini juga belum kelihatan, besok pagi kamu lihat sendiri."
"Ini siapa yang merancang, bagus banget."
"Ilham Dy, kamu pasti kenal."
Ilham?
"Sudah ayo?" Kiki menarik lengannya untuk segera masuk ke dalam kamar villa. Nah disini bedanya tidak lagi ada dinding kaca, semua batu. Dan ada ukiran di setiap sudut dinding. Bagus, begitu lagi hatinya berbicara. Jujur saja, padahal Maudy sendiri masih ingin banyak bertanya, kenapa bisa Ilham? Bukankah masih banyak arsitek lain di kota ini? Atau negara ini misalnya? Apa karena harga murah? Ah tak mungkin, aku yakin semua arsitek meminta bayaran yang sama jika mengerjakan sesuatu. Batinnya terus bertanya sambil duduk di atas kasur empuk.
"Dia juga datang kesini." Ternyata Kiki berniat melanjutkan cerita, dan ikut duduk di samping Maudy.
"Siapa?"
"Dia, Ilham. Dia juga di undang Agam di acara nanti malam. Peresmian membuka villa." Maudy terdiam, mengatur nafas. Kenapa panik? Bukankah dia juga bisa menghindar.
***
Suasana malam yang kini sudah ramai, ada beberapa keluarga Agam juga yang datang. Seperti kakaknya, atau yang lain. Hanya kedua orang tuanya yang tidak bisa datang. Ada keperluan lain yang tidak bisa di tinggal, gitu katanya.
Maudy berdiri di samping Kiki, yang juga berdampingan dengan Agam saat ini. Entah sejak kapan ada pemasangan pita di depan villa, Maudy juga tidak melihatnya tadi.
"Dengan ini, aku meresmikan villa rose di buka." Tepuk tangan ramai menyambut ketika Agam menggunting pita yang memanjang. Maudy dan Kiki juga ikut memberikan selamat, lalu di susul oleh para kerabat lain.
"Dy, kamu juga ikut?" Melihat ke sisi kanan dan kiri, seperti mencari sesuatu.
"Iya." Tersenyum dan menjawab sekenanya saja.
Sebuah speaker berukuran besar sudah mulai di colok, mengalunkan sebuah musik yang pas untuk malam ini.
"Suami kamu?" Terdengar nada getir di sana. Ingin sekali Maudy hanya diam tidak menjawab, tapi lagi-lagi Kiki menyenggol lengannya, tidak baik bersikap sombong. Begitu pasti nanti yang dia katakan.
"Oh dia lagi keluar negeri." Eh Ilham malah tersenyum menjawabnya.
Mau apa dia? Dikira karena nggak ada Bima dia bisa bebas dekati aku? Eh cinta membuatnya bisa bertingkah lebih gila.
"Ki, kesana aja, ayo?" Menarik sebelum Kiki menjawab setuju atau tidak. Memilih tempat yang jauh dari keramaian. Duduk di sebuah ayunan besi yang berada tepat di atas kolam renang. Maudy dengan sengaja membasahi kakinya, mengayun pelan. Tatapan kosong, memang benar ya kalau di keramaian tetap akan terasa sepi jika tidak orang yang di cintai.
"Aku rindu Bima ki." Menunduk, menatap air kolam yang berwarna kebiruan.
"Belum juga satu Minggu Dy." Mengalihkan pandangannya, menatap ke sekeliling. Berharap Agam tau ada dia disini.
"Agam masih sibuk nggak ya?" Bergumam pelan.
"Kenapa Ki? Kamu mau kesana? Sama Agam?" Dia menoleh lalu mengangguk.
"Ya udah nggak apa, aku disini aja dulu ya? Aku mau telepon Bima." Maudy juga langsung mengeluarkan alat komunikasi yang menjadi satu-satunya penghubung antara jarak dengan suaminya. Perbedaan waktu membuatnya bersemangat saat ini, untuk kembali menghubungi Bima. Karena jika ini malam hari, maka Bima disana sedang menikmati cuaca di siang hari. Dengan senyum Maudy kembali menghubungi nomor telepon berbeda negara.
__ADS_1
Panggilan pertama.
Panggilan kedua.
Dan sampai seterusnya, hanya bisa menghela nafas menggenggam ponselnya lalu bermain air lagi dengan kakinya. Mungkin sibuk, pikirnya dan pasrah. Melihat Bima hanya membaca pesan yang ia kirim tadi siang, berarti Bima sudah tau kalau Maudy juga sedang tidak di rumah sekarang.
Angin malam di daerah pegunungan mulai terasa. Tampak pohon-pohon besar di sekeliling pegunungan bergoyang seirama. Melambai seakan mengajak menari bersama. Maudy mengangkat kakinya kembali. Meletakkan pada pijakan lalu bersandar dan ayunan bergoyang secara pelan.
Matanya mengarah pada sosok yang kali ini akan mendekat ke arahnya. Lagi-lagi, nafas harus di hembuskan dengan kasar.
"Kenapa disini?" Ikut duduk walau tidak mendapat jawaban. "Nggak ikut kumpul, nyanyi gitu? Aku dengar katanya suara kamu bagus? Dari tadi juga Kiki selalu menyebut namamu untuk bernyanyi disana." Diam dan hanya tersenyum.
Baiklah, lebih baik aku bernyanyi dari pada harus berdua dengannya disini.
"Lah mau kemana?" Melihat Maudy sudah beranjak dari duduknya.
"Ya mau nyanyi." Pergi melangkah, mendesak ke arah keramaian mencari dimana Kiki.
"Dy?" Menepuk bahu Maudy. "Kamu nyari aku kan?"
"Iya."
"Kamu nyanyi dong Dy, suara kamu bagus. Dari pada keluarga Agam." Berbisik pelan, kalau di dengar mungkin bisa tak mendapat persetujuan.
"Boleh." Maudy mengangguk kalau berjalan ke arah depan. Mengambil Mikrofon, Kiki mengatur laptop dan menanyakan Maudy ingin menyanyi apa.
"Aku mau lagu Fiersa Besari - Celengan rindu." Yey, kembali mendengarkan suara merdu milik maudy. Pasti angin juga ikut tersenyum sekarang.
*Aku kesal dengan jarak..
Yang slalu memisahkan kita..
Hingga aku hanya bisa..
Berbincang dengan mu di WhatsApp..
~
Dan tunggulah aku disana..
Melepaskan celengan rinduku..
Berboncengan denganmu mengelilingi kota..
Menikmati Surya perlahan menghilang..
Hingga kejamnya waktu menarik paksa ku dari pelukmu..
Lalu kita kembali menabung rasa rindu
Saling mengirim doa sampai nanti sayang ku*..
Benar kan, bukan hanya angin. Tapi semua yang mendengar terasa hikmat disini, ikut bernyanyi dalam senyum. Ah Maudy bisa mengubah suasana malam menjadi terang ya.
Kiki langsung sibuk dengan siaran langsung di akun sosmed nya. Memperlihatkan ke arah Maudy yang berdiri bernyanyi juga sesekali tersenyum.
Hingga malam semakin larut semua juga sudah masuk ke dalam villa, merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Suasana di luar jelas terasa sepi sekali kali ini.
"Apa dia juga menginap?" Mereka sama-sama tengah menatap langit-langit kamar villa. Memanjangkan kaki dan melipat kedua tangannya di dada.
"Dia siapa? Banyak tau, mereka semua menginap disini? Hanya beberapa yang pulang."
"Ilham."
"Oh. Iya dia menginap juga disini. Besok juga kita adakan acara bakar-bakar Dy. Nah, baru sorenya kita pulang." Iya Kiki saat ini tersenyum, karena dia sendiri merasa senang. Berbeda dengan Maudy. Entah kenapa kali ini dia takut, takut jika Bima tau kalau juga ada Ilham disini. Meski suara Maudy enggan di keluarkan untuk menjawab ketika di ajak bicara olehnya, tapi lain dengan yang di pikirkan Bima nantinya.
"Kamu mikirin apa sih Dy? Kalau mau masih mikir, aku tidur duluan ya? Ngantuk, kamu enak tadi tidur sepanjang perjalanan." Menguap, menutup mulutnya dengan tangan.
Beberapa menit kemudian juga Maudy ikut memejamkan mata, percuma menunggu Bima tidak ada kabar. Sesak di dada mulai terasa ketika suami mulai sibuk dengan pekerjaannya.
Nggak mungkin kan aku suruh Bima beralih profesi.
__ADS_1
Heh, guling saja guling sini, mengantuk memang tapi pikirannya sungguh tidak tenang.
--__