Dia Bimaku

Dia Bimaku
Bima mulai panik


__ADS_3

Perdebatan masih belum berakhir ketika om Wisnu sudah lebih dulu melangkah keluar pintu. Bahkan Maudy sampai lupa untuk memberi tau kalau di samping rumah ada pintu penghubung yang bisa langsung masuk ke resto tanpa repot berputar dari depan rumahnya.


"Sayang, aku mau ikut tapi aku malu sama keadaan aku yang kayak gini."


"Kenapa Bim? Jadi aku juga harus bilang malu kalau perut aku besar gitu?" Maudy sudah berkacak pinggang.


"Bukan begitu sayang, rasanya gimana ya."


"Nggak perlu kamu rasain, memang sakit kan tangannya. Udah ayo?" Maudy menarik Bima dan berjalan melalui pintu penghubung.


"Sayang, ada karyawan kamu aku malulah. Biasa juga aku selalu cool, ini masak begini. Malah kayak gendong bayi lagi." Maudy melengos dan tak peduli, terus saja menarik tangan Bima dan memimpin jalan.


Hingga sampai di dapur, tidak ada ibu disana. Yang ada hanya karyawan yang tengah meracik bumbu, mungkin ibu sedang istirahat, pikirnya.


"Eh mbak." Mereka tersenyum ramah, awalnya kaget tetapi sekarang padangan mereka teralih kepada Bima, dengan wajah yang kusut dan memakai pakaian santai, benar apa yang di katakan Bima, penampilannya tidak cool seperti biasanya yang selalu memakai jas kantor jika bertemu dengan karyawan istrinya di resto.


"Ibu dimana ya?" Maudy celingak-celinguk dan genggaman tangan tak ia lepas, takut kalau Bima kabur.


"Oh itu mbak, mereka lagi duduk di dekat kolam renang. Ada tante mbak ya datang ya, gitu tadi kata ibu sih."


"Oh ya sudah, makasih ya. Kalian semangat ya kerjanya, maaf mbak udah nggak bisa lagi buat selalu ada di resto, kalian semangat biar dapat bonus mingguan." Wah, mereka langsung mengangguk semangat, untuk karyawan seperti mereka jika mendengar bonus apalagi berupa uang, senangnya tiada tara. Bekerja dengan gajih yang lumayan tinggi disini saja sudah membuat mereka mampu membeli keperluan sehari-hari.


"Ayo Bim? Kenapa sih, cemberut mulu!"


"Pengen di dalam kamar sambil meluk aja susah, lagian kenapa sih ini tangan pakai sakit segala." Menggerutu pelan.


"Kamu ngomong apa Bim? Ya sudah kamu balik aja sana kerumah, aku sendiri juga nggak apa-apa kok." Maudy melepas tangannya dan berjalan lebih dulu.


Ada beberapa pembeli yang menyapanya, tersenyum bahkan memuji Maudy semakin cantik saja walau dalam keadaan hamil. Mereka jelas yang sering mengisi perut disini sudah mengenal Maudy, karena dia termasuk orang yang ingin mengenal dengan pelanggannya, jadi tak aneh jika selalu bertegur sapa.


"Mbak, udah lama nggak kelihatan di resto." Maudy tersenyum.


"Iya, soalnya kemarin sakit."


"Oh, iya lah mbak mungkin kecapean. Namanya juga bumil." Maudy tersenyum lagi lalu mengangguk dan pergi.


Hei, dia sakit karena mikirin aku lah bukan karena kecapekan.


Dan, mata Maudy menangkap sosok wanita cantik yang dia kagumi dulu, dengan perutnya yang membesar sama sepertinya, eh tapi tunggu Maudy menatap perutnya sendiri lalu membandingkan kepada tantenya. Dan dia mengingat kalau kehamilan tantenya sudah memasuki bulan akhir, yang artinya tak lama lagi akan melahirkan.


Kenapa malah lebih besar perutku ya di banding tante, padahal usia kandunganku juga baru 6 bulan.


"Tante." Maudy memekik girang. Lalu menoleh ke arah belakang sebelum berjalan ke arah dimana keluarganya berkumpul.


Ah ternyata dia ikut, katanya mau pulang!


"Tante, Tante sehat kan?" Maudy memeluknya dengan segudang rasa rindu yang sudah lama tak berjumpa.


"Sehat, kamu juga sehat kan? Gimana, kandungan kamu juga sehat kan?" Maudy mengangguk.


"Jadi rindu sama tante kamu aja? Sama ibu dan ayah nggak?" Maudy tertawa kecil.


"Aneh ibu ah, kalau sama ibu juga setiap hari jumpa, beda kan bu kalau sama tante, satu tahun sekali juga belum tentu berjumpa." Maudy dengan manjanya menempel terus dengan tantenya.


Nah kan, aku di cuekin.


"Bim, sini kenapa berdiri disitu?" Ibu mertua yang baik, Maudy melirik ke arah Bima dan menjulurkan lidahnya, kalah Bim kamu kalah, begitu hatinya bersorak.


Aku harus mengucapkan ribuan terima kasih sama om dan tante karena mereka aku bebas dari kurungan Bima hari ini, ya ampun semoga Bima cepat pulih dan bisa ngantor. Gila, bisa gila aku kalau dia terus dirumah.


"Iya bu." Bima ikut duduk di samping ayah mertuanya, yang berhadapan dengan Maudy saat ini.


Mereka duduk di pondok resto samping kolam renang, tak salahkan Maudy meminta design seperti ini dulu, memang khusus untuk para pelanggan yang datang bersama keluarga.


"Loh, kok kalian malah sampai duluan?" Bingung, menoleh ke belakang.


"Haha." Maudy tertawa. "Tadi om jalan duluan sih, aku mau kasih tau kalau ada pintu penghubung di samping rumah tapi om malah jalan terus." Omnya juga duduk dengan Maudy dan dia di apit di tengah-tengah mereka.


Wajah Bima semakin di tekuk saja, melihat istrinya tidak duduk di sampingnya.


"Tante, kata om tante bakal seterusnya disini ya?" Ibunya ikut tersenyum.


"Cepat sekali om kamu ngasih tau ya?" Mereka tertawa kecil.


"Apa om sama Tante mau balik ke kampung?" Mereka serentak menggeleng.


"Baru juga mau di bahas Dy." Ibunya menjawab.


"Ibu maksudnya suruh om kamu bangun rumah di samping rumah kita, terserah deh mau dia di depan juga nggak apa-apa, lagian halaman kita masih luas. Dan juga ini sebagai ganti atas tanah om kamu ini, yang di bangun resto kamu." Maudy mengangguk setuju.


"Ayah gimana?" Maudy malah bertanya ke ayahnya, iya dia juga kan kepala keluarga, tanah juga milik ayah.


"Ayah jelas setuju lah Dy, jadi kalau ayah udah nggak ada kan om kamu bisa jaga ibu dan Tisha."

__ADS_1


"Ayah ngomong apa sih, kok malah lain arah ngomongnya!" Maudy sepertinya kesal mendengar alasan ayahnya.


"Tau nih ayah!" Ah ayah Subi sudah di serang dua wanita sepertinya.


"Sudah-sudah, om sebenarnya juga mau. Ini tinggal tante kamu?" Dia malah tersenyum.


"Ya aku maulah pi." Hei, semua nampaknya setuju. Pasti pembangunan akan segera dilaksanakan.


"Jadi sementara ini om sama tante tinggal dimana?" Mereka terdiam dan saling pandang. "Apa nggak dirumah ibu dulu sambil menunggu pembangunan selesai?"


"Om kamu sudah sewa apartemen sayang?" Tantenya menjawab sambil mengelus kepala Maudy yang menyandar di bahunya.


"Iya Dy, mana mungkin juga om nyusahin ibu kamu." Heh, ibu langsung membuang nafas kasar.


"Kamu berlebihan Wisnu, ini juga belum ada apa-apanya sama kamu yang terus bantu keluarga kakak."


"Kak mo?" Semua serentak menoleh. Bian berlari kecil ketika melihat seorang wanita yang duduk di samping maminya.


Heh, dasar bocah!


Bima sudah menatap tanpa berkedip, dia tau pasti Bian akan memeluk istrinya.


"Kak? Aku dengar kakak sakit ya, terus kak Bima juga jadi korban kecelakaan pesawat?" Bian tak peduli sangking rindunya sampai mengusir ayahnya dan duduk di samping Maudy.


Hei, kenapa dekat-dekat istriku?


"Iya, itu dia orangnya?" Menunjuk ke arah Bima yang wajahnya tak mengeluarkan ekspresi apapun, bahkan senyum juga tidak.


Bian menoleh sekilas, seperti tak peduli dan malah terus bertanya tentang keadaan Maudy.


"Kamu makin tampan ya Bian, udah punya pacar belum?"


"Belum lah kak."


"Iya bagus jangan pacaran dulu. Oh iya, tadi papi kamu bilang, katanya kamu disana nakal ya, sering bolos." Bian langsung menoleh ke arah papinya.


"Pasti papi nggak bilang kan alasannya apa?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Dasar papi?"


"Emang apa?" Maudy bertanya lagi, sungguh Bima sudah ingin melompat dari duduknya dan menggantikan posisi Bian saat ini.


"Aku tuh di ancam gitu kak sama teman aku, kalau nggak ikut aku bakal di keroyok."


"Tante, ini pesanannya." Tisha menyerahkan sebuah kantung plastik berwarna putih, di dalamnya berisi rujak yang tantenya mau.


"Wah, makasih Tisha." Maudy melihatnya, melihat tantenya mengeluarkan rujak dan menuangkan ke dalam piring.


Maudy menelan salivanya, kelihatannya benar-benar enak.


"Sayang, apa kamu mau?" Maudy terkesiap.


Apa? Bahkan Bima memperhatikan setiap gerak-gerik istrinya.


"Kamu mau Dy? Ya udah ini." Maudy menggeleng.


Ayah, ibu dan om Wisnu berbincang sendiri membahas masalah pembangunan rumah nantinya. Sementara Maudy masih diam memandang tantenya melahap rujak dengan berbagai buah dan disiram bumbu pedas.


"Kamu belinya dimana Tisha?" Maudy bertanya.


"Di Simpang limun mbak, kan ramai disana yang jual. Tapi yang enak ya ini sih menurutku, soalnya aku sering beli disana."


"Kak, kakak mau? Biar aku belikan ya?" Eh Bian menawarkan.


"Kenapa beli lagi? Ini juga tante nggak habis Dy. Sini mau tante siapin?" Maudy menggeleng lagi.


"Tante makan aja, biar Bian belikan aku lagi." Bima semakin frustasi sepertinya.


"Sayang, kenapa merepotkan orang lain? Biar aku yang belikan."


"Nggak usah kak, biar aku aja. Kakak kan lagi sakit, gimana mau pergi?"


Oh jadi bocah ini sudah pandai sekarang ya.


"Iya Bim, udahlah kamu duduk disini aja. Lagian tadi kamu di ajak kesini juga malu kan dengan tangan kamu di sanggah begitu?"


Sayang, sumpah kamu nyebelin!


"Iya Bim, biar Bian sama Tisha aja yang beli." Bima hanya mengangguk, memang dasar ibu dan anak satu server, batinnya masih terus menggerutu.


***


Bian kembali dengan Tisha, membawa kantung plastik dan masih berisi sama dengan yang sebelumnya ia bawa untuk maminya. Dan Tisha membawa dua piring sekaligus.

__ADS_1


"Loh, kok belinya sampai dua? Siapa yang mau makan?" Maudy bingung.


"Iya kak, yang satu kakak, yang satu lagi kak Bima. Nih kak?" Bian menyodorkan satu bungkus rujak ke arah Bima. Mau tak mau Bima juga harus menerima dengan mengucapkan terima kasih.


Mereka hanya tinggal berlima, ibu sudah kembali lagi ke dapur karena karyawan tidak tau memasak pesanan pelanggan. Ayah dan om Wisnu lebih memilih berkeliling resto sambil berbincang layaknya pembahasan orang tua.


"Kamu mau Tisha? Punya tante masih banyak."


"Mau tante, sini sayang kalau di buang." Dia menarik piring mendekat ke arahnya.


"Dy, tante mau ke kamar mandi dulu ya." Maudy mengangguk, Bian yang menuangkan rujak ke piring, menyodorkan ke arah Maudy, dan Bima dia melakukan semuanya sendiri, padahal dengan satu tangan yang berfungsi saat ini sebenarnya sulit.


"Kak, sini aku suapin? Khusus untuk ibu hamil?" Maudy tertawa kecil.


"Makasih Bian?" Jawabnya dan membuka mulut.


"Uhuk.." Bima tersedak, lalu Maudy meminta Tisha untuk mengambil air mineral.


"Bim, pelan-pelan makannya."


"Hem." Dan terus masih menyisahkan batuknya.


"Nih kak." Tisha kembali dan memberikan air mineral berupa kemasan kepada Bima.


"Makasih Tisha, nanti kakak kasih kamu uang jajan karena sudah menyelamatkan nyawa kakak." Tisha tertawa dan kembali menikmati rujak yang masih tersisa.


"Lebay kak Bima."


"Serius, nanti kakak kasih." Tisha mengangguk saja. Karena memang pasti itu benar.


"Sudah Bian, kakak kenyang kamu aja yang makan." Bima langsung membulatkan matanya. Menatap sendok yang bekas istrinya, lalu menatap ke arah Bian yang memang tidak menolaknya.


Apa-apaan ini! Bukan kah itu berciuman tidak secara langsung.


"Enak ya?" Mengunyah dan mengunyah, tanpa memperdulikan Bima yang wajahnya sudah memerah.


"Kalau kurang ini punya kakak masih banyak, nih? Kakak juga sudah kenyang." Menyodorkan rujaknya ke Bian.


"Nggak usah kak, kakak habiskan saja." Dengan tenangnya dia menjawab.


"Bim, kamu belum bilang ke ibu kan? Tentang resto ini nantinya." Bima hanya menggeleng.


"Kita bilang sekarang aja lah Bim, lagian juga mumpung ada om Wisnu, dia juga beri pendapat." Hanya mengangguk.


Ini kenapa sih Bima!


"Yes, aku habis duluan!" Girangnya, padahal juga tidak ada lomba makan.


"Aku juga sebentar lagi habis Wek."


Dasar bocah!


"Kita ke dapur ya Bim jumpain ibu?" Bima hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya, seperti tak punya rasa bersalah dan meninggalkan Maudy yang berjalan di belakangnya.


"Bim, tunggu." Bima terus berjalan.


Sampai di depan pintu dapur, hanya ada dua karyawan disana, menatap Bima lalu menunduk.


"Bu?" Panggilnya, ibu menoleh dan mematikan kompor.


"Kenapa Bim?" Bima melirik ke arah karyawan resto.


"Kalian kalau ada teman yang mau bekerja bisa di bawa ya, langsung aja buat lamaran kerjanya." Mereka langsung mengangguk.


"Perempuan atau laki-laki mas, eh pak?" Ah sepertinya mereka salah tingkah di tegur oleh Bima.


"Tiga laki-laki dan tiga perempuan." Mereka mengangguk lagi. "Kalian boleh keluar dulu dari dapur." Ya ampun, jadi ceritanya ngusir, batin salah satu karyawan resto.


Maudy berdiri di belakang Bima, dan membiarkan Bima saja yang mengatakan kepada ibunya.


"Mau cari karyawan lagi Bim?" Bima mengangguk.


"Juga sekalian sama chef-nya bu, udah ada kok orangnya, tinggal besok mereka datang kesini." Ibu belum paham maksudnya.


"Jadi ibu nggak harus capek di dapur, begitu juga dengan Maudy." Ibu mengangguk saja, memang sebenarnya lelah, tapi mau bagaimana ini juga resto milik anaknya.


"Bu, maaf aku nggak bermaksud apa-apa. Tapi, melihat ibu disini sampai malam aku nggak tega bu, sudah waktunya ibu bersantai menikmati masa tua ibu. Soal biaya apapun aku yang tanggung." Mata ibu langsung berkaca-kaca, memiliki menantu seperti Bima adalah suatu anugerah terindah dari Tuhan.


"Makasih ya Bim?" Bima tersenyum dan mengangguk.


"Ibu hanya bantu Maudy nanti ketika dia melahirkan." Kalau itu jelas tidak menunggu anaknya meminta tolong, sudah seperti kewajiban untuknya, apalagi ini cucu pertama yang sangat di nantikan kehadirannya di dunia.


--__

__ADS_1


__ADS_2