
Ramainya penduduk daerah komplek perumahan mewah yang melakukan aktivitas paginya. Ada senyum matahari yang mulai muncul. Barisan rumah mewah nan bersih juga salah satu pengaruh untuk memperindah mata memandang.
Pagi ini, sebelum berangkat kuliah Bima berlari keliling komplek. Membentuk sedikit ototnya, berlari sambil menunduk. Senyumnya di berikan apabila berpapasan hanya dengan ibu-ibu saja. Tidak peduli dengan penghuni lain yang mau secantik apapun, saat ini ia belum sama sekali tertarik untuk melihat.
Sudah satu jam lamanya. Mamanya berdiri di dekat gerbang besar rumahnya, tersenyum melihat anaknya yang sudah bolak-balik berlari mengeluarkan keringat. Sengaja mengalungkan handuk kecil untuk menghapus keringatnya bila sudah mengenai matanya.
"Bima, sudah nak. Nanti jam kamu mepet." Bima berjalan dan mengatur nafasnya kembali. Mamanya langsung menyodorkan air mineral setelah Bima mendekat.
"Makasih ma." Berlalu pergi dan memberikan handuk kecilnya kepada salah satu ART.
Bima mulai membersihkan diri, hari ini ia akan berangkat menggunakan mobil miliknya. Mobil keluaran terbaru yang di belikan papanya seminggu yang lalu. Dan seterusnya ia akan berangkat sendiri tanpa pengawasan lagi.
"Bim, setelah selesai kuliah kamu langsung ke kantor papa ya." Pergi bersama Rio setelah mengatakan hal itu.
Kali ini tidak ada penolakan Bima mengangguk patuh. Mamanya melirik sekilas lalu Bima pergi begitu saja.
Bima, apa kamu sebenarnya keberatan nak?
Hanya mampu menghela nafas setelah sejauh ini melihat perubahan Bima yang amat patuh. Perjanjian juga berubah, bukan menunggu satu tahun lagi. Tapi di mulai dari hari ini, papanya akan mengenalkan Bima terlebih dahulu tentang perusahaan miliknya.
***
Jam kuliah telah selesai. Kini saatnya Bima berangkat ke kantor papanya, lebih tepatnya perusahaan papanya yang akan ia teruskan nantinya.
30 menit perjalanan, Bima sudah sampai di gerbang. Ia membunyikan klakson. Tetapi securitty mengetuk kaca mobilnya untuk melihat siapa yang akan masuk ke perusahaan. Karena disini tidak bisa sembarang orang.
"Maaf mas ada keperluan apa mau datang kesini?" Jelas ia tidak mengenali siapa Bima. Walau dari raut wajah sudah mirip, tapi bukan berarti mereka langsung mengenali.
"Saya mau berjumpa dengan papa saya. Udah buat janji."
Papa?
Securitty tampak mengerutkan keningnya, bingung mendengar ucapan Bima.
"Bapak Adi Nugroho pak." Ucapnya lagi. Securitty mengangguk dan meminta maaf telah menghalanginya masuk.
Untuk pertama kalinya Bima datang kesini. Melihat semua sisi gedung yang menjulang tinggi. Bahkan di lantai berapa ruangan papanya juga ia tidak tau.
"Hallo pa? Aku udah sampai, ruangan papa dimana?"
Tampak Bima mendengar baik-baik ucapan papanya.
"Lantai 6, setelah keluar dari lift belok kanan. Nanti terlihat ada penjaga papa di depan pintu."
Bima langsung berjalan gontai. Semua manik mata tampak tidak berkedip menatapnya. Wajar karena saat ini adalah istirahat jam makan siang untuk para karyawan kantor. Bima, berjalan terus sambil menggenggam kunci mobil dan ponselnya. Ransel kecil juga ia bawa.
"Maaf mas, disini tidak ada lowongan." Ucap salah satu karyawan papanya. Bima hanya tersenyum lalu mengangguk.
Cih, malah tersenyum di beri tau!
Sewot sendiri karena Bima tidak menanggapinya.
Saat sudah memegang handle pintu kaca akan bersiap masuk ke dalam suara teriakan securitty langsung memekik telinganya.
"Mas, mas. Mau ngapain? Jangan sembarang masuk!" Bentaknya. Sepertinya kesal melihat Bima masuk sembarangan.
Ah ya ampun, apa setiap detik disini aku harus menyebut nama papa! Agar gampang masuk. Lagian apa papa tidak memberi tau karyawannya.
"Saya sudah ada janji dengan bapak Adi Nugroho pak." Bima menghela nafas berat. Baru 5 menit saja sudah mengatakan hal yang sama. Memperjelas kepada mereka semua.
"Silahkan mas." Langsung membuka pintu. Raut mukanya langsung berubah ketika melihat wajah Bima dengan seksama. Mungkin dia pintar sehingga bisa mengenali siapa Bima.
"Mas tunggu." Ucap seorang wanita berpostur tubuh bak model yang memanggil Bima. Ia berdiri dari tempatnya karena melihat Bima akan memasuki salah satu liff.
"Mas mau kemana? Mau bertemu siapa? Dan ada keperluan apa datang kesini?" Bertanya tanpa memberi jeda nafasnya sendiri. Rasanya geram melihat Bima yang sembarangan.
"Saya mau bertemu bapak Adi mbak." Menunduk. Muak sudah tiga kali ternyata.
"Iya tapi harusnya mas lapor dulu ke resepsionis. Silahkan tunggu saya akan menelpon beliau." Ternyata yang menegur adalah bagian resepsionis kantor papanya. Bima duduk sesuai perintah menunggu kelanjutannya drama hari ini bagaimana.
Setelah satu menit.
"Mas maafkan saya ya, maaf. Silahkan langsung keruangan papa anda." Menunduk sopan lalu kembali ke tempatnya. Tersenyum pun tidak Bima saat ini.
***
"Pa." Langsung masuk ketika bodyguard yang menjaga membukakan pintu ruangan.
"Duduk." Ternyata masnya juga berada di ruangan saat ini.
__ADS_1
"Seusai janji papa. Hari ini kamu akan belajar mengenai perusahaan dari mas kamu. Kamu akan jadi sekretarisnya." Tanpa basa-basi langsung memberi perintah.
"Ayo?" Baru juga duduk hanya bisa terhitung dengan detik. Rio sudah mengajak pergi ke ruangannya.
Papanya tampak tersenyum setelah melihat kepergian anaknya.
Tidak akan ku biarkan Bima bersama anak itu!
Lalu duduk kembali setelah melihat anaknya keluar dari pintu ruangannya.
"Mas apa harus di mulai hari ini juga?" Setelah mensejajarkan langkahnya dengan Rio. Mereka akan memasuki lift, karena ruangan Rio ada di lantai bawah.
"Iya, kenapa? Kamu keberatan? Kenapa tadi nggak protes!" Sinis melirik Bima.
Mas juga heran, kamu manut saja sekarang.
"Masuk Bim." Sampai di depan pintu ruangannya.
Bima langsung duduk setelah lelah berjalan menelusuri gedung, ah lebay padahal juga naik lift.
"Siapa yang suruh kamu duduk? Sini!" Ucapnya dan membuka salah satu buku tebal.
Dengan menggerutu Bima juga mengikuti perintah masnya.
"Kamu asisten mas sekarang. Jadi kamu jangan bantah." Tau aja kalau Bima mulai bosan.
Bima berdiri di samping mas nya yang duduk dan memberi tau pekerjaan apa saja akan Bima pelajari nanti. Mulai dari mengecek email yang masuk. Dan dokumen penting lainnya. Jadi setelah Bima periksa, Rio hanya tinggal menanda tangani.
Tok tok.. Suara pintu terdengar.
"Maaf pak. Ada dokumen yang harus di tanda tangani." Salah satu karyawan kantor masuk. Cantik untuk usia wanita yang sudah 30an. Bima menunduk ketika wanita berjalan mendekat, pandangannya tak teralihkan dari Bima.
"Ini pak." Menyerahkan dokumen ke tangan Rio tetapi matanya tetap lekat menatap Bima. Siapa dia? Batinnya.
"Makasih. Silahkan keluar." Ucap Rio.
"Ini siapa pak? Ada karyawan baru ya pak?" Tidak segan bertanya dari pada penasaran.
"Adik saya!" Jawabnya singkat dan itu sudah mampu mengunci mulutnya, agar tidak lagi bertanya.
Anaknya pak Adi tampan semua ya!
"Nah, ini dia Bim. Baru juga di bilang, nih kamu periksa, baca dengan seksama. Kalau ada yang tidak kamu mengerti langsung tanya sama mas." Menyerahkan dokumen kepada Bima. Tidak tipis dan tidak tebal, tapi jika di baca juga pasti akan membosankan.
Lebih baik baca novel.
"Lalu mas ngapain sekarang?" Tanya Bima setelah duduk dan memangku dokumen tersebut.
"Ya mas akan periksa juga laporan melalui email, ya sekalian telepon istri kesayangan mas lah!" Memamerkan ponsel miliknya yang sudah ia tempelkan di telinganya.
"Hallo, iya sayang. Kamu udah makan?" Rio tertawa kecil. Sepertinya ada ucapan istrinya yang membuatnya geli.
"Iya-iya. Ah nggak kok, sekarang aku udah punya asisten sayang jadi bisa santai sedikit." Rio tertawa lagi.
Liat aja nanti kalau aku udah nikah sama Maudy aku juga akan setiap saat telepon dia! Maudy? Ah fokus Bim!
"Kenapa Bim?" Setelah selesai bicara melihat Bima yang menatapnya dengan tajam.
"Mas mau manfaatin aku ya?" Pertanyaan yang penuh menyelidik.
"Maksud kamu gimana?"
"Ya itu, aku yang periksa dokumen, sementara mas malah enak-enakan." Lalu mendengus.
"Heh Bima, sebelum kamu merasakan ini semua mas udah lebih dulu rasain. Bahkan di rumah pun tak sempat untuk bersantai. Memang iya kelihatannya mas santai, padahal semua tanggung jawab ada di mas. Papa sudah menyerahkan sama mas. Jadi beribu karyawan menggantungkan hidupnya sama mas. Salah sedikit saja, perusahaan bisa bangkrut, dan itu akan berdampak pada karyawan yang menghidupi keluarganya." Rio kembali menatap Bima dengan tajam.
"Jadi, sebaiknya kamu belajar sekarang. Apa itu tanggung jawab."
"Hem." Sial, batin masnya. Di jelasin panjang lebar malah jawabnya sesuka hati!!
Dan semenjak hari ini, Bima mampu sedikit melupakan pikiran yang mengganjal di hatinya. Bahkan ia selalu pulang ketika hari sudah malam. Papanya memberi kebebasan untuk Bima keluar kemana pun yang ia mau. Tapi tidak untuk sekarang, rasa lelah yang menderanya, lelah berpikir dan belajar membuatnya selalu ingin mencium bau bantal dan tertidur.
***
"Sayang." Suara lembut membangunkan suaminya.
Siska menggoyangkan tubuh Rio dengan lembut. Tetapi dengan sentuhannya Rio sudah mampu membuka matanya. Melihat pandangan terindah ketika bangun tidur, dalam bentuk apapun. Meski istrinya belum mandi sekalipun, baginya sudah mampu membuatnya semangat kembali.
"Selamat ulang tahun." Memeluk dan menyerahkan sebuah kotak kecil.
__ADS_1
"Apa ini?" Lalu menguap.
"Jam tangan ya?" Mencoba menebak isi dari kotak.
"Buka aja sayang." Siska mengulum senyum. Sepertinya ini adalah kado istimewa selama hidupnya.
"Ha?" Rio menatapnya dan menggelengkan kepalanya sendiri. "Aku mimpi nggak?" Siska tersenyum dan menggeleng. "Sayang." Langsung memeluk istrinya dengan erat. Air mata bahagia menetes di pagi hari.
Rio segera membersihkan diri, bersiap untuk kembali berangkat kerja. Tak lupa juga harus sarapan dengan keluarganya.
"Pagi ma." Senyum mengembang. "Mama lupa ya ini hari apa?" Memainkan alisnya. Siska hanya tersenyum lalu ikut duduk di samping suaminya.
"Hari Rabu." Jawab Bima santai.
"Makan dulu." Mamanya mengerti maksudnya.
Keheningan terjadi, hanya ada suara dentingan sendok yang saling beradu.
"Selamat ulang tahun ya nak." Memeluk anaknya setelah selesai sarapan.
"Makasih ma. Selamat ya ma? Mama bakal jadi Oma sekarang." Langsung menoleh ke arah Siska. Begitu juga dengan suaminya. Meskipun hanya diam tapi dia bisa mendengar.
Syukur langsung mereka ucapkan. Ada senyum di pagi hari terpancar bukan hanya dari sepasang suami istri yang di berikan rezeki atas kehamilan istrinya. Tetapi itu juga terjadi dengan bapak Adi Nugroho. Terbukti pagi ini ia membagikan rezeki berupa uang kepada setiap ART, bodyguard, dan juga securitty di rumahnya.
Lain hal dengan Bima. Di dalam kantor ia selalu tersenyum. "Kenapa Bim? Kamu gila dari tadi senyum-senyum sendiri!" Melirik adiknya lalu fokus menatap layar komputer lagi.
"Nggak. Bayangin bakal punya ponakan, pasti seru mas." Malah dia duluan yang sudah membayangkan hal ini.
"Itu kan anakku!"
"Tapi dia calon ponakan ku!" Merasa tidak terima karena di larang membayangkan gemas memiliki keponakan.
"Fokus Bim!" Bentaknya.
Istriku yang hamil kenapa Bima yang kegirangan.
"Ya sayang? Kenapa?" Melirik ke arah Bima. "Apa nggak bisa minta yang lain?" Nampak mengeluh. "Baik lah, nanti aku atur jadwalnya ya?" Suara di seberang telepon tampak tenang.
"Kenapa mas?" Bertanya setelah melihat masnya selesai menelepon, tentu ia tau kalau itu adalah kakak ipar. Hanya saja melihat wajah masnya yang berubah bingung setelah menerima telepon.
"Bim, Hem. Minggu depan mas bakal ngajuin cuti." Sedikit melupakan pekerjaannya.
"Memangnya ada apa mas? Apa di perbolehkan papa?"
"Nanti mas bakal ijin. Iya kakak iparmu ngidam, dia pengen jalan-jalan keluar negeri." Ucapnya dan kembali duduk di kursinya.
"Oh. Kemana emangnya?" Bima juga menjawab sambil terus memeriksa laporan yang menumpuk.
"Negara X." Lalu kembali menghidupkan laptopnya. Siap kembali untuk bekerja setelah menyampaikan sesuatu ke Bima.
Hening, Bima tidak lagi menjawab. Harus fokus! Itu yang ia pikirkan setelah mendengar negara yang ia sangat kenali.
Bola mata Bima tampak bergerak ke atas dan ke bawah, mungkin sangking fokusnya memeriksa laporan dari dua cabang kantor sekaligus. Ingin protes bilang nggak adil, tapi memang inilah pekerjaannya.
"Kamu nggak pulang Bim?" Berdiri dan melihat Bima.
"Jam berapa mas?" Masih tidak mengalihkan pandangannya.
"Jam 5." Menutup dan membawa laptopnya.
"Duluan mas, bentar lagi ini kelar." Rio malah mengulum senyum. Akhirnya Bima sadar apa itu tanggung jawab, batinnya.
"Ya udah, mas duluan." Baru Lima menit setelah kepergian Rio. Bima langsung membanting semua laporan yang ada di tangannya. Kenapa? Begitu mungkin pertanyaan lantai yang tidak bersalah. Menjadi pelampiasannya saat ini.
"Kenapa! Kenapa aku sangat merindukanmu! Kenapa! Padahal aku yakin kalau 4 tahun ini hanya sebentar, aku udah yakinkan hatiku aku kuat, setelah ini aku akan menyusulmu. Dan melamar mu, aku sudah nggak kuat sekarang! Aku capek berpura-pura terus!" Bima menangis meraung-raung setelah di pastikan para karyawan kantor telah kembali ke rumah.
"Hiks.. hiks.." Menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah merasa lelah dalam menangis. Bima kembali bangkit, membereskan laporan yang berserakan setelah dia membuangnya tadi. Melihat jam dinding sudah pukul 7 malam. Selama itu kah aku menangis? Tanyanya pada diri sendiri, bahkan tidak berharap lantai dan dinding kokoh untuk menjawab.
***
Bima sampai di rumah jam 8 malam. Setengah jam ia habiskan berada di taman. Ia langsung masuk ke rumah dan berjalan ke atas ingin secepat mungkin masuk ke kamar. Dan memeluk guling kesayangannya. Guling yang sering di ajak curhat olehnya, dan di basahi dengan air matanya yang terkadang jatuh kala mengingat indahnya masa sekolah.
"Ma, suru bibi antar makanan ke kamar ya, aku mau makan di kamar." Setelah berbicara Bima langsung pergi. Tidak ingin di ganggu dan di tanya, kenapa? Ada apa? Tidak. Baginya sendiri dan memikirkan hal yang tidak mungkin lebih baik saat ini. Meskipun mamanya datang sekalipun Bima tidak ingin bicara.
"Rio, kenapa Bima? Matanya sembab, apa kamu memberi pekerjaan terlalu banyak?" Rio langsung mendongakkan wajahnya. Dan dia hanya bisa menggeleng.
Kamu terlalu munafik Bim!
__ADS_1
--__