
Seminggu telah berlalu setelah kejadian ponsel Bima di sita. Kini tiba waktu Bima menagih janji papanya. Bima berjalan menuju ruang kerja papanya, dimana saat ini papanya berada.
Dengan perlahan Bima membuka pintu, dan sedikit mengintip papanya sedang apa. Jika masih serius dengan pekerjaan maka Bima akan mundur dulu, ternyata papanya hanya membaca buku, tapi entahlah buku apa, pikir Bima.
"Pa." Panggilnya lembut.
Papanya menoleh, pasti ia juga tau maksud Bima datang kesini.
"Apa? Ponsel kamu?" Kan, benar saja.
"Iya pa." Menunduk.
"Apa kamu tidak bisa hidup tanpa ponsel?" Bima masih diam. "Tidak bisa hidup tanpa ponsel, atau tanpa Maudy?" Bima langsung mendongakkan wajahnya. Benar saja, papanya buka pesannya kan. Nyesel juga Bima enggak kunci ponsel dengan sandi. Kalau sudah begini, pasti hukuman akan bertambah.
"Bima, dengar papa. Kamu masih terlalu anak-anak untuk mengenal cinta. Papa enggak mau, pelajaran kamu terganggu karena ini. Jadi, jauhi perempuan yang bernama Maudy." Jelas kan, jelas terdengar di telinga Bima.
Kakinya untuk bertumpu saja sudah sangat lemah.
"Aku hanya berteman pa. Aku enggak punya lagi teman selain dia. Siapa sih pa? Siapa yang mau berteman sama aku? Bahkan aku juga enggak pernah boleh keluar sama papa. Aku udah besar pa, bukan anak kecil lagi yang semuanya harus papa atur dan papa batasi, aku rasa semua udah berlebihan." Bentak Bima dengan suara bergetar, sungguh ini pertama kalinya Bima melawan papanya.
"Bima! Bahkan kamu sudah berani menentang papa hanya karena orang luar yang kamu sebut dengan teman?"
"Terserah papa!" Bima berbalik dan pergi meninggalkan ruang kerja papanya.
Adi Nugroho. Orang yang terlalu sombong dalam berbisnis, tidak ingin aturannya di bantah, tapi ia sendiri tidak ingin di atur. Penekanan yang ia berikan kepada anaknya malah semakin membuat ia jauh dari kata seorang papa. Tidak ada kata papa yang hangat untuknya, papa killer aja sih cocoknya.
Tanpa sepengetahuan Bima, papanya menelpon Maudy. Di luar batas tindakan orang tua bukan?
"Hallo. Ini dengan Maudy?"
Maudy tau ini suara papanya Bima. Dengan ragu ia menjawab.
"Iya om. Kenapa ya om?"
Padahal di seberang telepon jantung Maudy hampir saja keluar karena detak nya begitu cepat.
"Kamu, tolong jauhi Bima. Jangan dekati dia lagi meski dengan alasan teman sekalipun. Jangan pernah! Saya selaku papanya, meminta ini dengan baik-baik sama kamu. Setelah mengenal kamu, Bima bahkan berani menentang perkataan saya. Saya enggak suka itu. Kalau kamu baik, tidak mungkin kamu mempengaruhi Bima. Jadi tolong, pikirkan kata-kata saya tadi dengan baik. Saya tutup."
Maudy menjatuhkan ponsel yang ia genggam, yang masih menempel di telinganya. Perkataan om Adi Nugroho sangat jelas merendahkan nya. Maudy tau itu, ia terduduk lemas di lantai. Rasanya ini seperti mimpi, cinta pertamanya, orang pertama yang selalu manggil sayang pada Maudy di setiap harinya. Walau pun masih terbilang mereka ABG. Tapi bukan kah itu adalah kisah paling indah jika di Kenang, apa pun ceritanya, pasti semua orang akan selalu mengenang saat pertama kali mengenal cinta, walaupun ujungnya akan kandas.
Baik lah, jika cinta pertamaku memang hanya bisa di kenang, akan aku lakukan, semua juga demi Bima. Lagian, siapa sih aku? Aku bukan siapa-siapa. Enggak lucu lah, jadi biarkan Bima kembali menjadi anak baik yang selalu nurut apa kata papanya. Maaf ya Bim, maaf. Sungguh ini kemauan papa kamu, bukan kemauan aku. Aku jadi enggak sabar rasanya, pengen cepat tamat sekolah, terus pergi dari negeri ini, dan mempunyai gelar sarjana.
_-
"Bangun nak, udah siang. Nanti kamu telat ke sekolahnya."
Mengetuk pintu kamar Maudy.
"Bu, Maudy enggak enak badan, Maudy enggak pergi ke sekolah ya Bu."
Masih tetap berbaring di kasurnya.
"Kamu sakit?" Masih berdiri di pintu kamar anaknya. "Buka dulu ini pintunya, biar ibu liat kondisi kamu."
Dengan langkah berat Maudy turun, dan berjalan membuka pintu.
"Kamu sakit? Apa yang kamu rasakan? Kita berobat ya?" Nada khawatir jelas terdengar dari ibunya. Mata Maudy tampak sembab, sangat jelas terlihat malah. Tubuhnya sangat lemas, mungkin karena semalaman ia menangis.
"Enggak bu, kecapean aja mungkin, semalam ikut olahraga di sekolah." Alasan yang ia berikan di terima ibunya dengan baik.
"Ya udah, sebentar biar ibu suru adikmu beli koyok ya, nanti kamu tempel di bagian yang pegal."
Berjalan pergi meninggalkan Maudy.
"Tisha, sini bentar nak." Teriak ibu memanggil adiknya, iya adiknya bernama Latisha abiyan. Nama belakang yang di ambil dari nama ayahnya, Subiyanto. Kalau Maudy malah berkaitan dengan ibunya Irmala sari, yang berarti Maudy Ambar Sari.
Namanya bagus-bagus, seperti anaknya dan juga didikan orang tuanya.
"Tisha, tolong belikan mbak mu obat koyok, dan obat sakit kepala ya, sekarang."
"Nanti Tisha telat bu." Nah, kalau anak disuruh pasti begitu, ada aja alasannya.
"Sebentar aja di warung. Kasian mbak mu." Mengambil uang dari tangan ibunya, dan pergi keluar rumah untuk membeli obat yang telah di ucapkan ibunya.
Tisha saat ini berumur 14 tahun. Yang berarti saat ini, ia masih berstatus pelajar SMP.
Beberapa menit, Tisha kembali dengan membawa obat. Kemudian menyerahkan kepada ibunya, dan langsung bergegas pamit untuk pergi ke sekolahnya. Thisa juga penurut, tapi tidak sepatuh Maudy, mereka juga akur layaknya saudara. Sehingga rumah mereka akan selalu terasa hangat.
__ADS_1
"Maudy, ini obatnya." Membuka pintu dan mendapati Maudy yang tidur di bawah gulungan selimut.
"Letak di meja aja bu, nanti Maudy pakai." Berbicara tanpa bangun dari posisinya.
"Ya udah, jangan lupa di minum juga obat sakit kepalanya ya."
"Bu, kalau nanti ada yang cari Maudy, bilang aja kalau Maudy enggak ada ya."
Ibunya berhenti melangkah.
"Memangnya kenapa?" Tanya ibunya heran.
"Enggak apa bu. Udah pokonya bilang aja kalau Maudy enggak ada, soalnya ada tugas kelompok takutnya mereka datang kesini, Maudy lagi pengen Istirahat bu." Alasan lagi, dan tentu berbohong lagi. Antisipasi lebih dulu Maudy lakukan, karena takutnya Bima nekat datang, tentu tidak sendiri pastinya bersama Kiki.
"Ya udah iya iya."
Setelah ibunya pergi, baru lah Maudy duduk di atas tempat tidurnya. Maudy membuka gallery photo miliknya, dimana banyak photo dirinya bersama Bima. Ia memeluk ponselnya dan kembali menangis. Sakit ya rasanya, semua orang pasti pernah mengalami hal yang sama, yakni patah hati pada cinta pertamanya, tapi kali ini bukan cintanya yang mematahkan, tetapi orang tua dari orang yang ia cintai.
Bim, Bima. Sesegukan ia menangis.
Aku yang salah, karena waktu itu terus menghubungi Bima, aku yang salah. Dan, jika saja waktu itu aku tidak menerima cintanya, pasti tidak akan serumit ini. Lebih baik berteman, tapi sekarang, bahkan untuk berteman sekali pun papanya sudah melarang. Segitu rendahnya ya kalau orang tak punya. 2 tahun lebih loh Bim, udah enggak mudah buat aku, jujur ini berat Bim.
Maudy kembali membuka ponselnya dan menghapus nama Bima di dari kontak, ia juga memblokir nomor Bima. Satu yang tak ia lakukan, menghapus wajah Bima dari gallery nya.
Maudy bangkit dari kasurnya, dan akan membersihkan dirinya juga menjernihkan pikirannya. Hari ini ayahnya tidak bekerja, entah lah cuti atau apa juga Maudy tidak tau.
"Ayah mau kemana?" Melihat ayahnya memakai jaket dan topi juga membawa tas.
"Mau mancing, kenapa?" Masih terus memeriksa isi tasnya, mungkin takut kalau umpannya tertinggal.
"Dimana yah?" Mendekat ke ayahnya.
"Biasa, di kolam renang. Ya di kolam pancing lah."
"Maudy ikut yah, ikut. Tunggu Maudy ambil topi dulu." Berlari seperti anak kecil, padahal belum juga ayahnya menjawab. Maudy menggunakan kaus tangan panjang, dan celana jeans. Ia juga mengenakan topi, rambut ia ikat asal.
Ia kembali berjalan dan tak lupa mengambil tas samping miliknya yang tergantung di belakang pintu. Tentu bukan tas wanita pada umunya, ini lebih ke laki-laki.
Ibunya yang melihat Maudy berjalan ke arah dapur langsung memanggil.
"Lah, kamu mau kemana? Katanya sakit, pengen istirahat."
"Katanya mau istirahat, gimana sih?" Ibunya protes sendiri.
"Enggak jadi bu, batal." Tertawa dan menyusul ayahnya yang sudah berada di halaman depan, siap pergi memakai motor trail yang biasa selalu di bawa Maudy. Mobil juga mereka masih punya, walaupun tidak semewah milik Kiki dan Bima. Tetapi, lebih memacu adrenalin jika menaiki motor yang satu ini.
"Dah ibu." Melambaikan tangan dan tertawa seperti mengejek ibunya yang di tinggal di rumah sendiri.
"Huh dasar." Ibu Irma menggerutu dan kembali masuk ke dalam rumah.
Ayahnya berhenti di sebuah warung kecil di pinggir jalan, dimana tempat masuknya area pemancingan.
"Turun, beli minuman dan jajan buat kamu. Nanti kamu rewel disana kalau enggak ada makanan."
"Siap bos." Ayahnya hanya tertawa melihat anaknya. Nah, kalau Bima dengan ayahnya akan selalu murung, tapi Maudy, yang tadinya murung dan sedih jadi lupa akan masalah percintaannya, hanya karena seorang ayah.
"Sudah?" Melihat anaknya kembali dengan dua kantung plastik berisi air mineral dan beberapa makanan ringan, bukan hanya beberapa sih, memang banyak, buktinya sampai dua kantung plastik.
"Yah kembaliannya 25rb. Jadi aku masukan ke kotak amal yang berada di saku celana." Lagaknya kotak amal, padahal masuk ke dalam kantung celananya.
"Ngerih ah, uang seratus ribu sisa 25ribu, malah di tilep lagi." Keluh ayahnya.
"Sedekah lah yah, sama anak."
Maudy melihat pemandangan sekeliling, dimana menuju masuk ke kolam pancing. Pantas saja ayahnya memilih naik motor, ternyata tempatnya juga masuk-masuk ke dalam, jalan juga enggak mulus. Mereka melewati jalan yang di samping sepanjang perjalanan di tanami pohon sawit.
Saat telah sampai, Maudy tercengang, sungguh bagus. Ini seperti danau, yang luas, padahal hanya buatan, disini lah tempatnya memancing, tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan weekend.
"Yah, bagus tempatnya." Mengagumi setiap pandangan matanya. "Sejuk juga."
"Makannya ayah pilih kesini, jauh asal tempatnya indah kan enggak masalah. Nah yang terpenting ikannya banyak, hehe."
"Kalau dapat mau di apakan ikannya yah?"
"Kita bakar aja disini." Maudy kaget.
"Jadi enggak di bawa pulang, entar kalau ibu nanya gimana?" Masih saja ia meminta jawaban dari ayahnya.
__ADS_1
"Ya nanti ibu kita belikan ikan di pasar, lagian kan ibu enggak tau ikan apa yang di dapat. Soalnya kalau ikannya di bakar disini, wah rasanya lebih mantap, dagingnya masih manis." Ucap sang ayah sambil mengeluarkan alat perangnya dengan ikan.
Maudy berpikir dan menyimpulkan sesuatu.
"Oh jadi selama ini kalau ayah mancing, berarti ikan yang di bawa pulang itu ayah beli di pasar ya?" Menunjuk ayahnya seperti baru saja menangkap maling.
"Hehe." Hanya tertawa dan melempar kail pancing bersama umpan ke tengah danau.
"Ih ayah, bakal aku bilang sama ibu!!"
"Bilang aja, paling ibu ngomel. Tapi kan yang penting ayah pulang tetap bawa ikan." Masih tak menyadari kesalahannya. "Nanti ayah bilang aja kalau kamu yang merengek minta di bakar ikannya, ibu pasti lebih percaya sama ayah lah." Dengan bangga menepuk dadanya.
"Iya udah terserah ayah. Aku keliling kesana ya yah." Bersiap untuk menjelajah danau.
"Jangan jauh-jauh, kalau enggak balik ayah tinggal."
"Tinggal aja, pasti ayah di suru balik lagi sama ibu." Tertawa dan pergi berjalan menyusuri pinggiran danau buatan yang menjadi tempat memancing.
"Siapa ya pemilik lahan sawit ini, ada saja idenya buat danau di dalam area perkebunan, pasti milik pribadi, tak mungkin milik negara." Berbicara sendiri, tanpa menunggu jawaban dari makhluk lainnya.
Saat Maudy melihat ada tempat seperti rumah, tapi juga bukan, cantik semua terbuat dari anyaman bambu, dan di warnai dengan cat seperti pernis. Jadi tampak mewah, Maudy berjalan mendekat ke tempat itu. Ternyata ada orang di dalamnya. Maudy sedikit mengintip, dan betapa terkejutnya Maudy, ia langsung melangkah mundur, dan bersiap untuk kembali bersama ayahnya.
Itu beneran kan? Benar papanya Bima kan? Pak Adi? Ngapain dia disini, apa jangan-jangan ini lahan dan danau memang punya dia? Enggak heran juga sih, lagian usahanya juga sudah banyak, kalau hanya lahan dan danau mah kecil juga untuk ia miliki. Ah, udahlah enggak mau pikiran kehidupan mereka lagi.
Berjalan dan menendang beberapa kerikil kecil yang sepanjang jalan ia lalui. jauh juga ternyata perjalananya ketempat tadi, pikirnya.
"Aww." Seseorang terkena batu kerikil yang di tendang oleh Maudy.
Ternyata hanya pemancing biasa, saat orang tersebut menoleh.
"Maaf bang, maaf enggak sengaja." Menangkupkan kedua tangannya, seperti menyembah saja.
Orang itu lantas berdiri, dan Maudy lebih terkejut lagi melihat pemandangan yang satu ini.
"Mas Rio." Bergumam pelan.
"Eh, Maudy kan? Ngapain kamu kesini? Emangnya enggak sekolah, atau jangan-jangan, hayo kamu cabut kesini ya sama Bima."
"Ha? Enggak lah, iya lagi ikut ayah mancing hari ini kebetulan ayah cuti, jadi aku juga ikut libur sekolah mas. Mau ikut ayah mancing, katanya tempatnya bagus." Tersenyum dengan paksaan.
Bima lagi, Bima lagi, kenapa semua harus berangkutan sama Bima sih. Berarti emang tadi aku enggak salah liat kalau itu memang om Adi.
"Kok melamun Dy?" Tegur Rio.
"Eh iya mas. Mas sendiri ngapain disini, emang enggak ke kantor?" Basa-basi dulu lah sebelum kabur, pikirnya.
"Oh, ini lahan dan danau ini mau di jual, jadi papa yang mau beli. Nah karena tempatnya juga terlalu pelosok ke dalam, papa minta di temani kesini, jadi dari pada bosan, lebih baik mas mancing, hehe."
Nah kan benar dugaan aku. Emang ya seorang Maudy tuh pintar.
"Oh iya ya mas." Mengangguk saja lah, iya saja lah jawabnya, batin Maudy.
"Rio, ayo papa udah selesai."
Deg..
Suara itu lagi, suara yang menyuruhku menjauhi Bima, rasanya hanya mendengar suaranya saja aku trauma, ah!!!
"Iya pa sebentar, ini masih ada ma-"
"Mas, aku duluan ya." Secepat kilat ia memotong perkataan Rio, Maudy tau Rio pasti akan menyebut namanya.
Maudy berjalan dengan cepat dan menunduk, tidak ada niatan sedikit pun untuknya berbalik dan menyapa papa dari Bima, tidak, tidak lagi setelah perkataan menyakitkan yang telah di lontarkan papanya Bima pada anak seusianya.
"Yah, udah dapat ikannya?" Duduk di samping ayahnya, dengan nafas yang tak beraturan dan tangannya juga masih bergetar.
"Tu." Menunjuk jaring yang telah berisi beberapa ekor ikan.
"Wah asik, ayo yah kita bakar." Ucapnya kegirangan seperti anak kecil di beri satu bungkus permen.
"Jangan berisik, ada kamu disini ikannya enggak mau makan umpannya, udah sana jalan-jalan lagi."
"Ayah!?" Memanyunkan bibirnya.
"Hehe, iya ayah becanda. Udah kita bakar di rumah aja sama ibu dan Tisha. Target ayah 3 ekor ikan lagi, setelah itu kita pulang."
"Takut ya aku adukan sama ibu makannya ikannya mau di bawa pulang." Maudy terus menggoda ayahnya, sehingga sudah beberapa kali kail pancingnya batal strike. Dan akhirnya 3 ekor yang di targetkan tak dapat, pulang dengan membawa 4 ekor ikan saja, terpaksa mampir ke pasar buat tambahan agar jadi bakar-bakar di rumahnya nanti malam.
__ADS_1
_-