
Maudy menggeliat, matanya perlahan terbuka. Seluruh pakaian juga terlihat masih berserak di lantai, tangan melingkar di pinggangnya, sehingga kalau bergerak pasti si pemilik tangan akan ikut terbangun.
Ia melihat ke arah jendela yang tirainya sedikit terbuka, ada rintik hujan yang turun di pagi ini. Pantas saja terasa sangat dingin meskipun tubuh polosnya sudah tertutup dengan selimut.
"Bima, bangun." Mengubah posisinya, menurunkan tangan yang melingkar.
"Kita tidur aja lagi sayang, masih ngantuk." Dusel nggak jelas, gerakin kepala ke arah wajah Maudy.
"Bim, geli." Tertawa. Maudy langsung turun dan berlari ke kamar mandi, menutup tirai secepat mungkin. Rasanya benar-benar semua tubuhnya terasa remuk setelah mengulangi pergulatan berkali-kali.
Bima menyusul ketika mendengar ada suara gemercik air, melihat ke arah depan. Ada kaki yang terlihat di balik tirai. Dengan langkah gontai ia juga ikut turun.
"Aaahhh." Maudy menjerit dengan wajah yang masih penuh sabun, ketika menoleh sudah ada Bima di sana dengan senyum nakalnya.
"Bim, aku mohon kita mandi saja ya?"
"Memang mau mandi, memangnya kamu berpikir apa sayang?" Mengguyur tubuhnya sendiri. Maudy bernafas lega dan berpikir mungkin Bima juga sudah lelah.
"Aku udah selesai Bim." Tidak begitu saja kan Bima melepasnya. Tangan Maudy langsung di tarik, tatapan matanya sudah membayangkan hal yang akan terjadi di detik berikutnya.
"Bim."
"Tolong gosokkan badan aku yang di bagian belakang." Huh, Maudy mengambil handuk terlebih dahulu. Menutupi tubuhnya dan menuruti kemauan Bima.
"Kenapa di pakai sayang?" Diam saja lebih baik, batinnya. Pura-pura tidak dengar.
Hingga selesai Maudy langsung melangkah, memakai pakaian sebelum Bima keluar dari kamar mandi. Sesekali melirik, takut Bima memulai pagi dengan tingkah anehnya.
"Bima, telepon kamu berdering." Enggan menjawab. Tertera disana nama sekretaris. Maudy melirik lagi, sepertinya Bima tidak mendengar. Lagian pikiran aneh mulai muncul, kenapa menelepon disaat mereka sedang bulan madu?
"Hallo?"
"Maaf bu, apa pak Bima nya ada?"
"Lagi mandi, kenapa ya? Apa ada pesan, nanti saya sampaikan?" Bima melihat Maudy yang tengah memegang ponselnya. Dia langsung berjalan mendekat dengan membawa handuk kecil yang masih menempel di kepalanya.
"Siapa sayang?" Diam.
"Nanti saja bu, menunggu bapak selesai mandi." Tut.. Langsung di matikan. Maudy kembali melihat layar ponselnya.
"Sekretaris kamu telepon, ada apa? Aku tanya katanya nunggu kamu aja. Bukannya karyawan kamu tau kalau kamu sedang pergi bulan madu?" Diam, masih fokus menatap layar ponselnya.
"Bima?"
"Iya sayang sebentar ya." Berjalan menjauh dan keluar pintu kamar penginapan. Maudy hanya mengangkat bahunya, lalu duduk di depan kaca rias.
***
Bima kembali dengan membawa wajah lesunya. Ada apa? Maudy ingin bertanya, tapi nanti setelah Bima selesai memakai pakaiannya. Bahkan menelpon saja masih menggunakan handuk, untuk semua pelayan disini seluruhnya laki-laki. Kalau ada wanita, walau hanya satu pasti Maudy akan melarangnya.
"Kenapa sayang?" Bertanya dengan lembut.
"Ada satu klien yang datang dari luar negeri, dia maunya jumpa langsung denganku sayang tanpa perwakilan. Dan malam ini dia terakhir disini."
"Apa penting?"
"Iya sayang."
"Kalau begitu kita pulang aja Bim. Ini demi perusahaan kamu." Bima duduk, bingung bagaimana mengambil keputusan.
"Tapi kita masih bulan madu sayang." Berdiri lagi, jalan mondar-mandir, memegang dagunya.
"Iya tapi semua menyangkut masa depan perusahaan Bim." Lagi, bingung belum bisa memutuskan.
"Sebentar." Bima berjalan keluar lagi, mungkin ingin menelepon dan tidak mau Maudy mendengar.
Maudy duduk di sofa menghadap ke arah luar, tirai ia sibakan dan menatap pemandangan yang seluruhnya hijau. Hanya awan yang tampak gelap di hari ini.
Dari lubuk hatinya, sebenarnya juga ada rasa tidak rela untuk pulang. Belum sempat menikmati indahnya bermain di pinggir lautan dengan pasir putih yang menyambutnya datang kemarin.
"Sayang." Suara derap langkah datang mendekat.
"Gimana?" Langsung bertanya tentang keputusan Bima.
"Kamu masih mau disini kan?" Jelas Maudy langsung mengangguk.
"Aku pulang, nanti sekertaris aku datang kesini buat temani kamu malam ini. Nggak lama kok, sekitar 3 jam lagi dia sampai." Secepat itu??
"Naik jet papa." Diam, permintaan Bima ini sungguh mustahil.
"Aku ikut pulang aja Bim. Aku nggak mau disini, nggak ada kamu. Lagian next time juga bisa kita pergi lagi."
"Sayang, mereka sudah jalan kesini."
"Mereka?" Berapa banyak, pikirnya.
"Nggak sampai besok, selesai pertemuan aku langsung kembali kesini." Maudy memijat keningnya, ternyata hujan hari ini memang benar datang hanya untuk menyambut kesedihannya.
"Sayang, aku janji aku bakal kembali. Sebentar aja sayang, aku juga nggak mau bulan madu ini berakhir." Maudy diam, menoleh ke arah Bima dan lagi menoleh ke arah luar.
"Tunggu ya sayang." Bima berjalan keluar pintu lagi. Maudy hanya diam, protes juga Bima tetap akan memaksa.
__ADS_1
***
Beberapa jam kemudian, bahkan sarapan pagi yang di antar pelayan belum sempat di sentuh.
"Sayang, kamu tetap di dalam aja ya?" Maudy mengangguk. Suara jet terdengar jelas, bahkan mereka menyebrang tidak lagi dengan kapal, terserah orang kaya, pikirnya.
Maudy menatap Bima yang sudah naik ke dalam burung terbang milik papa mertuanya itu. Hanya tinggal menunggu sekretaris Bima datang kesini. Menatap jet semakin pergi menjauh dan masih menyisahkan suara yang samar terdengar.
Hingga beberapa menit kemudian, suara kamar penginapan terdengar di ketuk.
"Masuk, nggak di kunci." Teriak Maudy dan masih tetap duduk di sofa, tak beranjak dari beberapa jam lalu. Lapar juga tidak, benar-benar kehilangan selera.
Segininya ya kalau punya suami yang memiliki kepentingan.
"Permisi bu?" Suara wanita terdengar lembut, Maudy sudah tau kalau dia sekertaris Bima.
"Iya, silahkan letak barang kamu di lemari." Masih tak mengalihkan pandangannya.
"Kamu beneran nggak nyambut aku datang ya Dy?" Kali ini tak menunggu waktu Maudy langsung berdiri dan menoleh.
"Kiki???" Kaget, mendekat dan mencubit lengannya sendiri, berharap ini bukan mimpi.
Flashback
"Ki, kamu dimana sekarang?" Bima menelponnya.
"Di rumah Bim, kenapa?"
"Kamu bisa datang kerumah aku nggak? Sekarang? Nanti mama aku bakal jelasin sesuatu sama kamu."
"Sekarang ya Bim? Ada apa sih?"
"Sudah buruan, sekarang ya?" Mematikan sambungan telepon. Dan menit berikutnya terlihat Kiki yang mengirim pesan.
"Dasar! Tinggal bilang aja kali Bim dari tadi, aku nggak ada bawa pakaian ganti!! Gimana sih ih!"
Bima kembali membalasnya dan berkata Nanti akan ada orang yang mengirimkan pakaian, semua aku atur. Huh, segila itu ya bila orang kaya memiliki keinginan.
Flashback end
"Jadi, gitu?" Maudy manggut-manggut. Dan sekarang mereka sudah berdiri di pinggir lautan, dengan bermain pasir putih menggunakan kaki. Melihat pemandangan indah, matahari sudah terlihat mengintip di balik awan. Hujan sudah reda, dan apa? Jika Maudy bisa tersenyum lagi mungkin matahari akan keluar dari persembunyiannya.
Sundari, dia adalah sekretaris Bima. Yang masih berstatus belum menikah, umur mereka berjarak tiga tahun lebih muda dari Sundari, sehingga demi menghargai dan keadaan kali ini di luar kantor, Maudy dan Kiki memanggilnya dengan kakak.
"Dy, apa kamu sudah makan?" Maudy menggelengkan kepalanya.
"Bu, biar saya pesankan sama pelayan, ibu mau makan apa?"
"Tapi bu." Menunduk, rasanya masih segan.
"Ayo coba belajar. Jika bisa aku mau makan?" Dia mendongak, lalu tersenyum.
"Iya Dy." Maudy juga tersenyum.
"Baik lah, aku mau makan steak aja kak."
"Aku juga." Kiki juga menyuarakan kemauannya, meskipun tidak di tanya.
Sundari mengangguk dan pergi ke arah dapur dimana semua pelayan berkumpul.
Maudy dan Kiki duduk di pinggir pantai yang sudah di sediakan kursi kayu yang di pernis. Di sebelah mereka duduk juga terdapat pohon Cemara setinggi dua meter. Ombak yang sesekali datang membuat suasana semakin nyaman, belum lagi angin yang menerpa wajah.
Sundari kembali dan ikut duduk bersama mereka.
"Sebentar ya bu, eh Dy lagi di masak." Maudy mengangguk.
"Hallo?" Maudy langsung menoleh ke arah Sundari yang menerima telepon.
"Iya ini sedang bersama saya pak." Maudy tau sekarang, matanya menatap tajam ke arah Sundari sambil menggelengkan kepalanya.
"Duduk di luar pak, lagi menunggu makanan datang." Maudy langsung menutup wajahnya. Sundari tak mengerti apa maksud Maudy yang menggelengkan kepalanya.
"Jangan bilang seharusnya." Berbicara dengan sangat pelan.
"Oh iya pak." Menjauhkan telepon dari telinganya.
"Ponsel ibu kemana?"
"Di kamar." Jawabnya datar.
"Di kamar pak?" Mungkin Bima yang bertanya.
"Ini bu, pak Bima mau bicara." Menyerahkan ponsel ke Maudy.
"Iya sayang ku?"
"Sayang, aku bilang jangan keluar kamar kan? Apa nggak bisa tahan sebentar, tunggu aku kembali." Maudy terdiam.
"Sayang?"
"Iya-iya, habis makan juga langsung masuk ke kamar."
__ADS_1
"Silahkan nona." Pelayan datang dan membawakan pesanan mereka.
"Sayang jangan melihat ke arah pelayan!" Maudy menghela nafas dan menunduk, sudah kewajibannya kan menurut kepada suaminya. Baiklah, dia benar-benar menunduk sampai pelayan itu pergi.
"Sudah ya Bim, aku mau makan?"
"Iya, jangan lupa setelah itu kembali ke kamar."
Mengembalikan ponsel milik Sundari.
Mereka makan dalam keheningan. Hanya ada suara dentingan garpu, terlihat Maudy sangat lahap memakannya. Kiki meliriknya, tapi Maudy tetap fokus memotong setiap daging dan memasukan ke dalam mulutnya.
"Sepertinya ada yang menyiapkan energi yang banyak." Sindirnya dan tertawa. "Atau pun kelelahan karena semalam begadang." Maudy tetap tidak menanggapi. Hingga suapan terakhir, ya dia orang pertama yang menghabiskan makanan.
"Hah kenyang." Ucapnya dan mengelus perutnya.
"Kak, aku mau tanya?" Menatap ke arah Sundari yang belum selesai dengan urusan makan.
"Dy, kamu nggak lihat kak Sun masih makan?" Kiki protes lalu mengelap mulutnya dengan tissue.
Sundari langsung buru-buru menghabiskan steak dengan sekali suap, mulutnya penuh terlihat dia susah mengunyah.
"Maaf kak, pelan-pelan makannya." Sundari mengangguk dan pelan-pelan mengunyah lalu menelannya. Ah untung dia tidak tersedak karena ulah istri bosnya.
"Iya mau tanya apa Dy?" Setelah berhasil menelan daging steak yang berukuran besar tadi.
"Sebelum kakak berangkat kesini, Bima ada pesan apa?" Matanya memandang ke arah lain. Maudy tau dia enggan untuk membuka mulut.
"Laporkan keadaan kamu setiap satu jam sekali, apa saja yang kamu lakukan dan sedang apa kamu ketika aku mengirimkan laporan." Menundukkan kepalanya.
"Ya ampun, segitunya ya Bima." Haha, Kiki tertawa lepas, menertawakan Maudy yang masih terdiam mendengar penjelasan Sundari yang berstatus sekertaris Bima di kantornya.
"Lalu, ada lagi?"
"Hem, sebenarnya kamu juga nggak boleh keluar kamar." Huh menghela nafas.
"Lagi?"
"Jika aku berbohong, maka gajih ku akan di potong." Kiki tertawa lagi. Tak peduli sekarang perutnya terasa keram.
"Jadi kalau bisa kita sekarang balik aja ya ke kamar? Nggak apa-apa kan Dy?" Merasa sangat tak enak dengan istri bosnya. Satu sisi kalau dia tak menjalankan gajinya akan di potong. Duh, serba salah memang.
Ah kalau tau gini lebih baik aku di kantor aja, kirain liburan bakal menyenangkan.
Maudy yang merasa tau posisi Sundari sekarang menjadi tak enak, padahal dia sendiri sangat ingin menikmati suasana di luar, menghirup udara segar. Bukan melulu ada di dalam kamar. Ya meski dari atas juga masih bisa melihat ke arah luar, tapi udara beda. Di dalam hanya dingin karena AC, tapi di luar dingin tercipta karena alam.
***
Malam hari, Maudy tidak dapat terpejam. Di liriknya sudah jam 1 malam. Sementara Sundari dan Kiki sudah tidur dengan pulasnya. Tidur juga tak beraturan, Kiki berada di sampingnya yang Memunggunginya. Dan Sundari tidur tengkurap di bawah kaki mereka. Sesekali Maudy menajamkan telinganya, siapa tau jet datang dengan membawa suaminya.
Ternyata kalau tidak ada Bima aku sekarang tidak bisa tidur.
Ia sengaja menghidupkan musik dengan memakai earphone milik Kiki. Hingga musik belum sempat ia matikan matanya terpejam dengan sendirinya.
Pukul 04 pagi, Maudy kembali terbangun. Ia ingin buang air kecil, matanya mengerjab. Karena lampu kamar sudah mati, padahal sebelum ia tidur tadi malam masih menyala.
Perlahan Maudy beringsut turun, meraba dan menghidupkan lampu kembali. Dan masuk ke kamar mandi lalu menutup tirai.
Maudy melangkah keluar dan menatap ke arah jendela, menampakkan suasana yang masih gelap dan sepi. Hanya ada suara hewan liar diluar sana. Cepat-cepat ia kembali melangkah ke tempat tidur. Tapi pandangannya kali ini berbeda, bahkan Maudy berkali-kali mengucek matanya agar pandangan kembali normal.
Ini aku mimpi ya?
Kembali berjalan, naik ke atas tempat dan langsung tidur kembali. Tidak lagi memikirkan hal yang barusan ia lihat.
**
"Sayang, sudah bangun?" Menyambut istrinya yang sudah membuka matanya.
Perlahan Maudy mengembalikan kesadarannya, melihat sudah ada Bima yang duduk di sampingnya, dengan memakai stelan jas lengkap.
"Bim, kamu kok disini??"
Apa mimpi ku belum berakhir.
Bima menggeleng dan tersenyum.
"Kamu pasti mengira ini mimpi?" Lagi, Bima menggeleng.
Cup, satu kecupan mendarat di bibirnya. Morning kiss sayang, begitu yang selalu di ucapkan Bima.
"Kamu kapan sampai?" Ikut duduk, meneliti setiap wajah Bima, menyentuhnya dan terakhir mencubit tangannya sendiri. Sakit, benar ini tidak mimpi.
"Jadi yang aku lihat tadi?" Bima mengangguk.
"Gimana bisa? Lalu mereka kemana?" Melihat ke sekeliling kamar, tak ada lagi Sundari dan Kiki di dalam.
Ah Maudy jadi bingung sekarang, kenapa bisa begini? Apakah tidurnya sudah seperti orang mati?
"Ternyata kalau aku nggak ada kamu tetap bisa tidur nyenyak ya?" Mengusel hidung Maudy dengan wajahnya. Eh gemes sendiri jadinya.
--_
__ADS_1