
Luna
Dua bulan lalu, aku sempat berdebat dengan ayah. Tentang pertunangan, perjodohan yang akan ayah lakukan untukku. Apalagi aku tau jelas siapa lelaki yang akan di jodohkan dengan ku. Bima, yang aku tau dia sombong, cuek dingin. Tapi mengingat ayah, dia yang selalu bilang demi masa depanku. Dan perkataan ayah yang selalu membuatku lemah, yakni "Mama kamu pasti kecewa kalau kamu nggak nurut sama orang tua." Aku selalu kalah dalam hal itu.
Dan akhirnya aku setuju dengan perjodohan itu. Yang lebih mengejutkan, om Adi dan papa bahkan mempercepat pertunangan kami. Di malam itulah aku dan Bima memulai semuanya. Tapi sepertinya hanya aku yang menganggap pertunangan ini. Tidak dengan Bima, bahkan dia sudah menegaskan kalau sebenarnya sudah ada wanita yang singgah di hatinya sejak beberapa tahun lalu. Iya, wanita yang sama yang di sebut dia sewaktu acara pernikahan mas Rio.
Aku sebenernya takut menjalani hubungan ini, karena apa? Aku tau, kalau Bima tidak mungkin membuka hatinya untukku, walaupun sedikit. Tapi malam itu aku menangis, mengingat mamaku yang sudah tiada sejak beberapa tahun silam setelah melahirkan adikku. Aku coba menyandarkan tubuhku di bahu Bima. Dia diam tak menolak, dari situ aku tau. Bahwa Bima sebenarnya baik dan aku yakin, perlahan dia juga mau buka hati denganku.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Bima makin sering bersama. Makan diluar, yang di sebut dinner. Meskipun Bima enggan mengajakku bicara, tapi aku tetap sabar. Hingga kami harus pergi keluar negeri berdua. Itu untuk pertama kalinya aku jauh dari papa, dan pergi bersama yang aku anggap sebagai calon suami.
Awalnya hatiku sangat gembira, bahkan bisa mengalahkan pelangi, karena begitu banyaknya warna di hatiku.Tapi lagi-lagi, malam yang harusnya menjadi malam pertama untuk aku makan bersama Bima di luar negeri, Bima malah pergi meninggalkan ku dan memilih untuk dengan pacarnya. Jujur, aku sangat sakit waktu itu. Aku mulai buka hati, aku sayang sama Bima.
Sampai akhirnya aku memilih menyelidiki seperti apa pacarnya Bima. Aku membuat akun fake, lalu diam-diam aku melihat-lihat koleksi photo di akun miliknya, Maudy ya itu namanya. Cantik, tapi aku merasa berbeda dengan wanita yang tadi pergi bersama Bima. Apa jangan-jangan mereka orang yang berbeda. Aku melihat lagi, sepertinya Maudy ini anak yang cukup banyak di kenal orang-orang. Terlihat dari setiap dia memposting apapun, pasti banyak yang komentar. Ah aku sendiri saja jadi merasa iri.
Aku semakin emosi ketika Bima masih tak menganggap aku ada di sampingnya. Dan aku bertekad untuk bilang ke papa, kalau Bima disini berjumpa dengan kekasihnya. Aku tau, hubungan mereka sangat tidak di restui oleh om Adi. Hingga pertengkaran terjadi. Aku mendatangi Bima ke kamarnya, tapi lagi-lagi dia selalu menusuk hatiku dengan kata-katanya. Aku masih coba sabar, karena aku nggak mau buat papa kecewa.
Dan tiba di hari ini, aku mendengar kabar tadi malam kalau Bima nggak pulang ke rumah. Aku coba hubungi dari malam, tapi tidak ada jawaban. Mustahil juga kalau Bima mau angkat telepon aku. Aku tak tidur semalaman, jujur aku khawatir dengannya. Meskipun cincin sudah ia berikan padaku, tapi perjodohan akan tetap berjalan. Sampai aku mendengar ada notif di ponselku. Aku langsung membukanya, dan ternyata benar itu Bima. Aku langsung saja bersiap untuk menjemputnya kesana, menyampaikan kekhawatiran keluarganya, dan tentang perusahaan. Bukan kah dia baru saja di angkat jadi CEO?
Papaku sudah bertanya padaku, mau kemana pagi-pagi? Tapi aku menjawab mau bertemu Bima. Dan papa, dia tidak protes atau menjawab lagi. Baginya dengan menyebut nama Bima sudah menyampaikan maksud dan tujuanku.
__ADS_1
Aku melihat nama hotel yang di kirim Bima melalui pesan. Aku masih bingung, karena Bima tidak menyebutkan nomor kamarnya. Aku sudah tanya ke pihak hotel, tapi mereka tidak memberi ku ijin, karena itu privasi. Baik lah, aku mengalah. Aku langsung mengeluarkan ponsel, bermaksud untuk menghubungi Bima. Tapi, baru saja tersambung, aku terpatung. Aku bahkan tak ingin berkedip, agar aku tak salah lihat.
Dia Bima, dan apa? Dia keluar kamar hotel bersama Maudy. Jadi itu Maudy? Dia memang cantik, tak salah jika aku tidak mengenalinya lewat photo. Karena itu adalah photo beberapa tahun lalu, dan sekarang. Maudy memang benar-benar cantik, aku akui itu. Tapi semua pikiran itu menelisik ku. Bima tidur bersama Maudy? Jelas aku langsung emosi.
Kami terlibat aduh mulut. Ku kira saat air mataku jatuh, Bima sedikit saja berbelas kasih padaku, seperti malam itu. Ternyata tidak, bahkan Bima melewati ku begitu saja.
Aku pulang dengan menangis sepanjang jalan. Tidak, bahkan aku masih menangis sampai masuk ke dalam rumah. Baru kali ini, aku merasa sangat hina di mata lelaki. Papa sudah kebingungan melihat ku yang masih menangis.
"Katakan apa yang di lakukan Bima?" Aku menggeleng kan kepalaku.
"Luna, papa mohon." Aku nggak akan bilang, kalau Bima sudah tidur dengan Maudy.
"Pa, aku nggak mau lanjutkan pertunangan ini, dan tidak ada lagi perjodohan. Aku mohon pa, aku tidak mau. Biar aku cari lelaki yang tepat untukku sendiri." Aku langsung melepas cincin dari jadi manisku dan ku letakkan tepat di genggaman papa ku.
Malam ini, aku tidur dengan terlelap. Mungkin karena satu harian aku habiskan menangis di dalam kamar. Bahkan makan malam dan siang yang di antar ke kamar tidak aku sentuh. Sumpah, rasanya kenyang setiap mengingat perkataan Bima. Ini salahku, seharusnya aku seperti Bima, menolak dari awal. Aku berharap pagi datang sedikit lambat, biar aku nyaman terus dalam tidurku.
Pagi aku terbangun, ada begitu banyak notif di ponselku. Ternyata notifikasi dari akun sosial media ku. Aku langsung membuka saja, dengan sesekali memijat mata sembab ku, rasanya perih karena terlalu banyak nangis. Dasar ya aku memang cengeng.
"Hai, Luna ya? Ini aku Aldy. Aku nggak sengaja liat photo kamu di sosmed, aku lihat lagi eh ternyata benar kamu, apa kabar?"
__ADS_1
Aku tersenyum bacanya, serius entah kenapa aku ngerasa punya teman dekat. Wajar, aku belum pernah merasakan itu, ya aku akui, mungkin karena sifatku yang dalam berteman selalu pilih-pilih. Jadi gini, tidak punya teman.
"Aku baik, kamu gimana?"
Dan, secepat itu dia membalas lagi.
"Bagus dong. Oh ya, Minggu ini aku pulang ke Indonesia, kita ketemu ya?"
Aku tersenyum lagi, aku kenapa juga nggak tau. Aku mau, aku setuju. Dan sampai siang hari obrolan kami berlanjut, hingga Aldy memutuskan untuk meminta nomor ponselku. Aku tidak keberatan.
Dan akhirnya, aku menceritakan semua yang terjadi saat ini. Hubungan segitiga dengan Bima, aku cerita. Entah kenapa, aku merasa nyaman dan lega setelah menceritakan itu pada Aldy.
"Kamu tau, mereka itu sudah banyak melewati masa-masa sulit berdua, lebih baik berhenti, dari pada mereka menganggap mu duri dalam hubungan mereka. Meski kalian sudah mendapat lampu ijo dari orang tua, tapi kamu harus tau, kalau perasaan tidak bisa di paksakan. Kamu belum tau aja, kalau aslinya tuh Maudy orang baik."
Asli, aku baca ini jadi sadar diri. Duri dalam hubungan? Ya sudah berapa kali aku mendengar hal itu. Aku harus berjumpa langsung dengan Maudy. Meminta maaf, dan menurunkan sedikit gengsi yang ada pada diriku.
Dan akhirnya, aku sudah memutuskan. Untuk langsung menolak melanjutkan perjodohan ini di hadapan om Adi. Aku juga berdoa, semoga hubungan mereka segera dapat restu.
Aku hanya menunggu papa pulang, dan langsung mengajaknya datang ke rumah Bima. Tunggu kabar baik ini ya Bim.
__ADS_1
--__
Maaf ya, aku nggak bisa up panjang di episode. Aku sakit, sumpah ini aku paksakan buat nulis supaya readers nggak kecewa, doakan buat kesembuhan ku ya🙏🙏🙏