
"Sayang jangan, aku baru selesai mandi." Suara yang terdengar di pagi hari membuat Bima jenuh. Belum lagi suara-suara aneh yang terdengar olehnya setiap malam semenjak mas nya menikah.
Apa begitu ya? Kalau sudah menikah harus melakukannya setiap jam?
Bima berjalan keluar kamar, menuruni anak tangga. Mengedarkan pandangannya melihat situasi di pagi ini. Karena hari weekend pasti papanya berada di rumah. Dan juga Bima sudah menebak, kalau pengantin baru juga tidak akan keluar kamar pagi ini.
Kapan sih berangkatnya?
"Ma?" Panggilnya ketika melihat sosok yang di carinya sudah terlihat. Bima berlari seperti anak kecil yang ingin memeluk mamanya.
"Bima jangan kebiasaan. Lari-lari, nanti kamu jatuh." Bima malah menggandeng lengan mamanya sambil tersenyum.
Ini, Bima hanya bisa bermanja kepada Maudy dan mamanya. Jadi jika tidak ada Maudy mamanya lah yang akan jadi tempat bermanjanya. Begitu juga sebaliknya.
"Kenapa?" Melihat wajah anaknya.
"Ma? Apa kalau pengantin baru memang selalu ada di dalam kamar ya ma?" Mamanya langsung tersenyum.
"Kenapa kamu tanyakan hal itu?"
Iya ya? Kenapa aku nanya hal ini sama mama?
"Nggak ma. Hem ma, mas Rio udah bilang belum kalau nanti saat mereka pergi bulan madu aku ikut?"
"Iya udah. Tapi kamu juga harus ijin langsung sama papa."
Ini yang di takutkan Bima, padahal menurutnya kan sama saja, mau masnya kek, mamanya kek, iparnya kek yang bilang ke papa. Yang terpenting kan papanya kasih ijin atau tidak. Pasti dia tetap akan mendengarnya.
"Emang mama belum bilang ke papa?" Berharap untuk tidak usah ijin lagi.
"Udah. Tapi kamu harus ijin juga lah Bim." Bima mendengus. Andai aja papanya seperti ayahnya Maudy, ah jadi beribu andai sekarang yang Bima pikiran.
"Ma?" Panggil suaminya.
"Kamu ngapain Bim? Kamu udah besar nggak perlu selalu bergelayut sama mama kamu." Langsung ikut bergabung dengan anak dan istrinya. Ini hal yang jarang terjadi, biasanya juga hanya ketika makan mereka bisa duduk berkumpul. karena Bima selalu menghindar ketika ada papanya, ah Bima seperti punya dendam pribadi pada orang tuanya sendiri.
"Biar lah pa. Namanya juga Bima anak paling kecil." Mamanya selalu membela.
Tau, emangnya kenapa sih? Cemburu gitu kalau aku sama mama dekatan? Ih.
Padahal dia sendiri juga kalau Maudy bersama saudaranya juga cemburu. Bima Bima, tanpa sadar sebenarnya sifatnya seperti papanya.
"Bim, dari pada kamu disini ganggu mama kamu. Kamu ikut papa sekarang ke ruang kerja papa." Perkataan yang sulit untuk di tolak.
Ma, bilang ma kalau mama nggak merasa terganggu karena ada aku. Please ma bilang.
Bima belum bergerak dan masih melirik mamanya, tapi mamanya malah mengangguk. Dan itu artinya Bima harus mengikuti kemauan papanya.
Bima beranjak pergi mengikuti langkah papanya, masuk keruangan kerja yang menurutnya ruangan rahasia. Kenapa tidak, iya lah buktinya aja papanya masih menyimpan photo kenangan bersama mantan pacarnya di ruangan ini. Kalau aja Bima licik bisa saja mengadukan kepada mamanya dan mengancam papanya, dengan begitu ia bisa sedikit bebas kan? Tapi bukan Bima namanya kalau berani melakukan hal itu, mustahil.
"Nih, kamu baca buku ini. Dari pada kamu ganggu mama kamu terus, nggak ada kegiatan." Bima menatap buku itu satu persatu. Tidak, tidak sama sekali ia mengerti isinya. Judulnya saja sudah asing, tidak seperti novel yang sering ia baca.
Padahal mama juga nggak merasa terganggu. Bilang aja kalau cemburu anak dekat dengan mamanya.
Menggerutu dalam hati tetapi tetap mengambil salah satu buku dan membukanya.
"Itu buku tentang belajar berbisnis. Buku itu berguna buat kamu yang belum mengerti apa-apa. Ingat Bim, satu tahun ini sudah cukup untuk kamu memulai semuanya. Silahkan pilih perusahaan mana yang ingin kamu pimpin nantinya."
Bagus lah kalau papa yang jelaskan. Jadi aku nggak perlu repot buat nanya.
Pura-pura membuka halaman berikutnya, padahal saat ini tidak ada sama sekali yang nyangkut di otaknya Bima. Membaca juga hanya sebaris dua baris. Yang penting bisa bebas dari harimau buas.
"Kamu bawa aja ke kamar. Kamu nggak akan selesai baca itu disini, walaupun sampai besok subuh." Padahal papanya tidak menatapnya saat ini. Masih sibuk mencari buku lain yang menurutnya penting untuk di berikan kepada Bima lagi.
"Iya pa." Menutup buku dan membawanya.
"Loh kamu mau kemana?" Setelah melihat Bima sudah beranjak akan keluar.
Tadi kan papa yang bilang suru baca di kamar. Kenapa sekarang tanya sih? Ih semoga kalau aku tua nanti tidak jadi orang tua yang menjengkelkan.
"Sini dulu. Papa belum selesai bicara." Kembali duduk.
Padahal tadi sibuk deh ngurusi buku.
"Iya pa." Manut saja seperti sapi yang di tusuk hidungnya.
"Gimana, kamu berminat di perusahaan yang mana?"
__ADS_1
"Belum aku pikirkan pa." Papanya mengerutkan dahi mendengar ucapan Bima.
Apa? Aku nggak salah kan?
"Kamu harus belajar tegas Bima. Tidak mungkin selamanya kamu akan bersikap seperti ini. Pemalu, ah itu bukan laki-laki namanya." Bima menunduk. Ucapan papanya sungguh menusuknya.
"Iya pa." Itu lagi jawabannya.
"Ya sudah kalau mau keluar. Susah memang bicara sama kamu ini." Suaranya berubah dingin.
Sebenarnya apa sih salah ku? Jawab salah, diam salah. Oh ya ampun.
"Kenapa kamu masih disini?" Melihat anaknya belum juga beranjak setelah di usir. Lah tadi saja belum apa-apa udah mau keluar.
"Hem pa." Tarik nafas dulu sebelum bicara. "Nanti aku ikut pergi sama mas Rio waktu mereka bulan madu, boleh kan pa?"
"Hem."
Hem? Apa? Boleh gitu?
"Boleh pa?" Mengulang pertanyaannya.
"Apa kamu sangat terobsesi untuk selalu keluar rumah ya Bim?" Kini sorot matanya sudah tidak bersahabat. Ini yang buat Bima selalu malas untuk bicara. Mau bicara baik-baik sekalipun tanggapan papanya tidak pernah baik. Dan itu hanya berlaku pada Bima di rumah ini.
"Bukan pa. Tapi." Pasrah. "Ya sudah pa aku nggak jadi ikut." Langsung beranjak dari duduknya. Percuma juga ngomong sama papanya.
"Gimana bisa kamu nggak jadi ikut? Kalau tiket dan hotel disana sudah di pesan semua untuk kamu dan mas kamu." Bima mengentikan langkahnya.
Ini aku yang salah dengar atau papa yang salah bicara?
"Ma maksud papa?" Berbalik dan bertanya.
Papanya juga bangkit dari duduknya, berjalan mendekat ke arah Bima.
"Iya, semua udah di pesan. Kamu tinggal berangkat nanti. Soalnya disana juga papa ada tanam saham. Jadi sekarang papa anggap kamu belajar lah dulu, nanti kalau sudah tiba waktunya, kamu bakal sering kesana. Melihat langsung perkembangan bisnis kita." Bima tersenyum dan memeluk papanya.
Hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Ini juga pertanda bahwa peluang untuk berjumpa Maudy semakin banyak. Akhirnya, hari ini Bima bisa menepati janjinya untuk memeluk papanya dan mengucapkan.
"Terima kasih pa."
Dan papanya menepuk pundaknya. Mengelus puncak kepalanya. Ada rasa nyaman selama bertahun-tahun tidak pernah ia rasakan meskipun satu rumah, setiap hari jumpa. Tapi memang Bima tidak pernah merasakan ini.
***
Dering pertama tidak ada jawaban. Bima mengulang panggilannya. Tapi tetap tidak mendapat jawaban.
Dengan kesal Bima membanting ponselnya sendiri. Ia Kembali berdiri di balkon, memandang langit sore. Menampakan cahaya matahari yang sebentar lagi akan tenggelam. Menatap ke bawah. Hanya ada penghuni kompleks yang melakukan aktivitas di sore hari. Ada juga anak-anak sebayanya nongkrong bersama, ada lelaki juga perempuan. Ia tersenyum membayangkannya, berkhayal andai itu dirinya. Pasti hidupnya tidak akan jenuh seperti ini. Setidaknya jika ada masalah bisa sedikit melupakan karena bisa tertawa bersama teman yang lain.
Pasti asik deh.
"Bim, Bima?" Mendengar suara itu Bima langsung mendengus.
Bima diam tidak menyahut sementara orang yang memanggilnya masih terus berteriak di dalam kamarnya.
"Apa sih mas!" Bentaknya.
"Ih ngebentak lagi. Udah ah nggak jadi." Berbalik badan.
"Nggak jelas!" Masih sewot melihat pengantin baru.
"Padahal tadi aku kesini karena kakak iparnya tuh yang nyuruh ngajak buat ikut jalan-jalan entar malam. Tapi ya udah deh." Rio sudah memegang handle pintu. Sudah siap untuk kembali keluar. Tetapi Bima yang mendengar gerutuan masnya, secepat kilat berlari dan menarik lengan masnya.
"Mas bilang apa tadi?" Cengengesan seperti anak kecil.
"Kamu udah dengar kali, ngapain tanya lagi?" Menjewer telinga adiknya.
"Sakit mas ih!" Memukul tangan masnya.
"Udah cepetan kamu bersiap, satu jam lagi kita pergi. Kita makan malam di luar. Ingat ya Bim. Ini semua permintaan kakak iparmu, banyakin bilang makasih sama dia. Karena dia ngerti posisi kamu yang seperti tahanan."
"Iya mas iya." Manggut-manggut.
"Eh mas tunggu." Manarik lagi lengan Rio. Walaupun jarak usia mereka cukup jauh, tetapi soal postur tubuh mereka seimbang, soal tampan ya biar orang-orang lah yang menilai.
"Apa sih Bim?" Sudah jengkel melihat ulah Bima.
"Itu mas, leher kamu merah-merah? Gatal apa gimana? Itu aku ada salep, tunggu sebentar." Ini memang Bima sepolos ini kah? Belum sempat Rio menjawabnya, Bima sudah membuka salah satu laci lemari, tempat ia menyimpan salep gatal. Itu juga pemberian pembantu di rumahnya.
__ADS_1
"Ini mas. Cara pakainya di olesi aja." Menyerahkan salep berukuran mini. Rio hanya mengangguk dan mengambilnya dari tangan Bima.
"Hahaha." Suara tertawa terdengar dari kamar sebelah. Dan itu juga ada suara tawa Siska yang sangat kencang.
"Kamu serius? Ya ampun sayang aku malu? Itu beneran Bima nggak ngerti kan?" Kakak iparnya tertawa dan juga malu, pasalnya dia lah tersangka utama yang membuat leher Rio merah seperti mendapat gigitan. Dan itu yang di sebut Bima gatal-gatal.
"Udah ah. Aku yakin dia nggak pura-pura sayang. Nanti lama kelamaan dia juga bakal tau?" Rio kembali merapikan rambutnya.
"Tapi aku yang malu tau nggak." Siska menutup wajahnya.
"Tenang aja, ini udah aku tutup pakai salep yang di kasih Bima." Ucapnya menunjukkan kepada istrinya. Memang sedikit tidak terlihat sekarang. Sedikit ya, belum hilang total. Terima kasih Bima, sudah sedikit menutupi kebuasan iparmu, haha.
***
"Sudah?" Bertanya pada Bima yang berdiri di depan pintu kamarnya sendiri.
"Papa tau kan mas?" Hal yang bisa di katakan muak, hal yang menjadi ketakutannya.
"Nanti mas yang bilang, tenang kenapa sih Bim. Kalau pergi sama mas pasti di kasih."
Mereka bersamaan menuruni anak tangga, Siska bergandengan tangan dengan Rio. Sementara Bima berjalan di belakangnya, menjadi pengawal pengantin baru.
"Kalian mau kemana?" Tanya mamanya yang tengah duduk berdua dengan papanya.
"Pa, ma, aku mau makan malam di luar ya sama Siska?"
"Ya sudah." Papanya kini beralih menatap Bima.
"Lah kamu mau kemana Bim?" Sekarang pertanyaan untuk Bima.
"Aku ikut mas Rio pa."
"Kamu yang minta ikut?" Bertanya lagi.
"Aku yang suruh Rio ngajak Bima kok pa." Siska bersuara.
Ini nih kenapa mas Rio diam aja sih!
"Oh ya sudah. Asal kalian tidak terganggu." Menoleh ke istrinya. Dan mamanya hanya bisa tersenyum.
Apa terganggu? Memangnya aku mau ngapain?
"Nggak kok pa. Ya udah kami berangkat ya pa ma?" Ucap Siska lembut.
"Hati-hati kalian ya." Mamanya menjawab.
"Biar Bima ikut mereka ma, sekali-sekali nggak ganggu mama, nggak ganggu kita." Tersenyum ke istrinya. "Kita makan habis itu ke kamar ya ma?" Ih ternyata seorang Adi Nugroho genit. Wah beneran copy paste Bima nih kalau lagi berdua sama Maudy.
"Kamu ngasih tau ke Maudy Bim kalau mau kesana?" Maksudnya tuh ke negara dimana Maudy berada sekarang. Dan Bima untungnya mengerti.
"Iya harusnya cuma belum ada balasan." Ucapnya lemah, ya memang seperti itu jika sudah menyangkut perasaannya.
"Jangan Bim, biar jadi kejutan nantinya. Lebih baik kamu kabarin aja pas udah disana." Siska memberi saran.
"Itu juga maksud aku tadi sayang." Ucap Rio.
Bener juga ya, iya ah aku nggak usah kasih kabar.
Dan secepat itu mood nya berubah, sehingga bisa tersenyum sendiri.
Tak lama mereka memasuki restoran bintang lima. Bima jelas biasa aja, walaupun ia terkesan jarang keluar rumah bahkan hampir tidak pernah. Tapi kalau hanya melihat dan makan disini juga sudah biasa. Toh sebelum Bima beranjak dewasa juga selalu ikut kemana pun orang tuanya pergi. Termasuk untuk makan di berbagai macam tempat yang kelas atas.
Dan malam ini, ada hal yang sangat di sesali Bima. Ikut makan bersama pengantin baru, yang asik makan suap-suapan. Kalau bibirnya kotor si lelaki siap buat ambil tissue lalu mengelapnya. Iri? Bukan, cuma jengkel aja Bimanya.
Sementara Bima hanya membolak-balik ponsel miliknya, berharap Maudy membalas satu saja pesan yang ia kirim. Tapi nihil, jangankan di balas, di baca juga tidak. Bima bukan tidak mau menelpon cuma takutnya Maudy sudah tidur. Karena perbedaan jam yang belum bisa Bima pahami.
"Bim?" Tegur kakak ipar.
"Iya kak?"
"Kenapa kamu?" Melihat Bima yang melamun menatap ke arah luar.
"Sayang, biarin dia galau." Rio berbisik.
"Mas aku ke toilet sebentar ya." Berdiri dan keluar dari ruangan VVIP tempat dimana mereka makan. Itu semua ternyata sudah di persiapkan oleh Rio.
Kenapa ngajak kesini! Cuma mau pamer kemesraan aja rupanya. Ah jadi nyesel, tau gini tadi rebahan sambil baca buku yang di kasih papa. Eh kenapa aku jadi minat akan hal itu ya?
__ADS_1
Bima tidak melakukan apa-apa selama di kamar mandi, hanya berdiri dan menyandarkan tubuhnya ke tembok. Biar saja, biar pengantin baru melakukan hal aneh di ruangan itu.
--__