Dia Bimaku

Dia Bimaku
Harus patuh


__ADS_3

Mobil berbelok ke salah satu klinik kecil, dan hanya ada satu disini. Tak peduli lagi dengan rumah sakit ataupun klinik, yang terpenting baginya istrinya bisa di tangani seorang dokter. Dengan penuh kasih sayang Bima menggendong Maudy ke dalam, supir mencoba membantu tetapi Bima langsung menolak, tak mau istrinya di sentuh orang lain.


Maudy di baringkan, lalu di periksa oleh dokter tampan yang menjaga klinik. Bima terus berdiri di sampingnya ketika dokter memeriksa. Bahkan setiap tangan itu menyentuh perut, Bima tak sekalipun berkedip, kalau saja bukan dokter sudah aku hajar, batinnya.


"Apa yang terjadi sebelum pasien pingsan?" Tanya dokter.


"Dia seperti ingin muntah, setelah itu pingsan."


"Hanya masuk angin biasa. Akan saya beri resep obat setelah ini." Bima mendengus, hanya begitu saja? Tak ada tindakan lain? Dengan rasa berkecamuk Bima segera membawa pergi istrinya dari sana. Bahkan Maudy belum juga sadar.


Susah memang kalau membawa hanya ke klinik kecil.


"Pak kita kembali ke kota, cari rumah sakit terbagus." Ucapnya, lalu mobil segera melaju.


"Cepat pak." Ah rasanya sudah tak sabar ingin cepat sampai. Jantungnya berdegup kencang, khawatir tak bisa ia tutupi. Dan rasa menyesal yang membiarkan istrinya duduk sendirian.


Apa kamu hamil sayang?


"Pak, ciri-ciri orang hamil gimana ya?" Bertanya kepada supir.


"Kalau istri saya dulu ya mual, pusing, tidak na*su makan. Bahkan sampai masuk rumah sakit dua kali karena ngidamnya parah, tapi beda-beda tuan. Setiap orang hamil itu berbeda ngidamnya."


Berbeda gimana? Kan sama-sama hamil.


"Ada yang makannya malah banyak dan mau makan terus. Ada juga yang hanya mau makan itu-itu saja." Mencoba menjelaskan sekali lagi karena melihat Bima sepertinya tidak terima dengan jawabannya.


"Apa itu berlaku sampai dia akan melahirkan?" Lama pak supir menjawab.


"Atau hanya beberapa bulan saja?"


"Iya biasanya hanya sampai usia kehamilan 3-4 bulan tuan." Diam lagi, berpikir apa yang akan dia tanya selanjutnya.


Saya bukan dokter tuan! Kenapa tadi tidak bertanya saja pada dokternya! Melirik mimik wajah Bima melalui kaca.


"Hem." Maudy menggeliat, Bima langsung memanggilnya, menepuk pipinya dengan lembut.


"Sayang?" Mengulangi lagi.


"Bim?" Lirih terdengar, mengerjakan matanya berulangkali. Memegang kepalanya yang terasa berat.


"Sayang, apa kamu hamil?" Langsung to the point.


Maudy langsung menggeleng, dia meminta mengubah posisinya menjadi duduk. Tapi Bima tidak mau, bahkan tetap menahan kepala Maudy untuk tidak bangun.


"Nggak Bim, aku cuma masuk angin. Mungkin karena tadi kelamaan renangnya." Ah ya ampun, wajah Bima langsung berubah. Teringat lagi kejadian beberapa jam lalu, semuanya berputar di otaknya. Istri tercinta yang renang dengan laki-laki lain, satu kolam dan hanya berdua. Dia langsung terdiam, enggan bertanya lagi dan menjawab, sudah memastikan bahwa istrinya tidak hamil dan hanya masuk angin biasa.


Maudy perlahan mengumpulkan tenaganya, mencoba untuk duduk. Dan benar, Bima diam tak lagi melarangnya. Bahkan pandangannya saat ini sudah lurus ke depan.


"Maaf tuan, apa kita jadi kerumah sakit?" Bertanya, karena mendengar pembicaraan mereka.


"Ke rumah sakit?" Mengulangi pertanyaan, dan menoleh ke arah Bima.


"Nggak pak, kita pulang aja." Maudy yang menjawab dengan cepat. Baginya hanya masuk angin biasa, tak perlu harus ke rumah sakit. Sungguh itu terlalu lebay menurutnya.


Supir masih diam, karena bukan Bima yang mengatakan hal itu.


"Pulang kerumah pak." Barulah supir mengangguk. Maudy mendengus, kenapa tadi dia yang jawab supir diam saja. Maudy duduk dan menjauhkan tubuhnya, bersandar pada kursi, menatap jalanan yang kini sudah tak lagi berkelok. Sesekali melirik ke arah Bima, ternyata dia diam dan memejamkan matanya.


Aku harus minta maaf!


Detik kemudian, niatnya di urungkan. Malu masih ada orang lain disini.


Nanti aja kalau udah sampai di rumah.


***


Sudah tiba di halaman rumahnya, Maudy semakin heran ketika adanya renovasi rumah. Bima turun dengan tersenyum, menatap ke arah depan, dimana kamar Maudy mulai di lakukan pembongkaran.


Ini kenapa ayah nggak bilang kalau mau renovasi?


"Bim?" Menggandeng lengannya. "Maaf ya, maaf. Dan makasih buat mobilnya." Hem, begitu Bima menjawab dan lalu berjalan ke dalam.


"Loh, kalian kok bisa pulang bareng? Tapi bukannya Bima masih di luar negeri?" Dengan membawa nampan berisi kopi untuk para pekerja. Sekarang ini dia yang lebih di buat bingung.


Benar kata ayah, aku harus menjauhi makanan yang berkarbohidrat.


"Iya bu." Hanya itu Bima menjawab lalu masuk ke dalam rumah, Maudy juga belum menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang ada di kepalanya.


"Bu, kenapa nggak bilang kalau kamarnya mau direnovasi?" Melihat Bima benar-benar sudah menghilang dari pandangan mata barulah dia bertanya.


"Kenapa nggak tanya sama suami kamu? Kamu kira ibu tau?"


Gimana mau tanya, minta maaf juga nggak di jawab.

__ADS_1


"Ya udah, aku masuk ke dalam ya bu." Baru beberapa langkah sudah terhenti. "Bu jadi ini aku mau istirahat dimana? Lalu nanti malam?" Tidak mungkin kan satu hari bisa siap? Di kira bedah rumah apa, pikirnya.


"Tanya sama suami kamu Dy?" Lagi-lagi jawaban ibu tak menemukan titik terang. Baik lah, Maudy akan segera bertanya lalu meminta maaf lagi, mencium seluruh wajah Bima seperti yang di lakukan Bima padanya.


Maudy mengentikan langkahnya sebelum menuju pintu kamar yang kini tak memiliki dinding. Dia jelas mendengar ucapan Bima dengan seorang kuli bangunan.


"Semua ya pak, jika ada bahan bangunan yang kurang langsung bilang aja. Kamar mandi juga harus ada bath up."


"Baik mas."


"Dan kalau bisa cepat selesai ya pak, nanti saya kasih bonus." Wah mata pekerja bangunan langsung berbinar mendengarnya, ah siapa coba yang tidak suka uang!


Maudy segera berbalik ketika melihat ada suara langkah yang semakin dekat.


"Kamu nguping?" Hah, ketahuan kah?


"Nggak kok." Diam sebentar, memberanikan diri menatap wajah Bima yang seperti tak memiliki ekspresi. "Hem Bim?"


"Kita tidur di rumah mama dulu sementara, siapkan aja pakaian kamu. Sebentar lagi kita kesana." Diam, Bima berjalan lagi ke depan, ia ingin berbicara banyak dengan ibu mertua. Maudy mematung, dengan menghela nafas berat.


***


Tiga hari berlalu, dan selama tiga hari itu pula Bima masih bersikap dingin. Belum lagi pulang yang selalu larut karena resiko yang pulang ke tanah air sebelum pekerjaannya selesai. Setiap pagi Bima selalu bangun lebih awal, dan ketika Maudy bangun Bima sudah siap pergi, hanya bisa menatap dalam diam ketika sarapan bersama keluarganya.


Hal ini sangat menyulitkan Maudy untuk berbicara, dan malam ini dia bertekad untuk tidak tidur lebih dulu sebelum Bima pulang.


"Ma, aku ke kamar ya?" Setelah kepergian Bima, Maudy lebih memilih untuk masuk kamar. Dan parahnya, selama menginap di rumah Bima tak sekalipun papanya mengajak bicara. Jelas itu membuat hatinya meronta ingin cepat pulang.


Tiba di dalam kamar yang bernuansa putih ini, Maudy mengambil ponselnya. Rindu dengan ibunya walaupun baru tiga hari tak berjumpa.


"Hallo?" Ah ternyata dia langsung menelpon. Dan yang terutama sekarang Maudy ingin menanyakan mengenai renovasi kamarnya.


"Iya Dy?"


"Bu, gimana? Apa renovasi belum selesai?"


"Sudah, sudah dari semalam. Mereka kerja lembur makannya sudah selesai dalam waktu singkat. Kamu kenapa nggak ikut? Bima semalam kesini, ibu tanya katanya kamu tidur."


Apa?? Keterlaluan banget sih.


"Iya bu." Berbohong saja dan membenarkan apa yang di katakan Bima.


Aku benar-benar harus bergadang nanti malam.


"Nanti aku tanya Bima, aku tutup ya bu teleponnya. Ibu jangan telat makan, jaga kesehatan." Iya begitu jawab ibunya.


Heh, Maudy melempar asal ponselnya. Berniat akan menghubungi Bima nanti di jam istirahat kantor. Sekarang waktunya rebahan, kalau bisa tidur sampai sore. Cuaca juga enak di buat tidur, ah biar menambah energi nanti malam.


Baru saja berada di posisi rebahan yang nyaman, Maudy merasa ada cairan yang keluar dari area intimnya. Ia segera berjalan masuk ke kamar mandi. Dan melihat.


Ah ternyata benar aku nggak hamil.


Melihat ada darah yang keluar, sudah pasti dan memastikan kalau dia nggak hamil.


Maudy keluar kamar bermaksud untuk membeli pembalut. Menuruni anak tangga dengan menatap arah sekeliling.


"Dy?" Mama Lisa sudah menyapa dengan senyum ketika melihat menantunya turun tergesa-gesa.


"Ma, aku mau keluar sebentar ya beli pembalut?"


"Kamu mau naik mobil? Minta kuncinya sama securitty ya?"


"Iya ma." Dan berjalan ke depan.


"Hati-hati ya nak." Berteriak sebelum Maudy menghilang di balik pintu. Iya ma, begitu juga ia menjawab dengan teriak.


***


Saat sudah membeli apa yang di butuhkan, rasanya enggan untuk langsung kembali kerumah. Tapi mau kemana?


Apa aku kerumah Kiki aja ya? Ah iya, soalnya dari kejadian itu aku nggak ada komunikasi.


Dan tujuannya adalah rumah Kiki, mobil sudah melaju cepat kesana. Tapi saat fokus menatap jalanan, Maudy jelas melihat mobil di depannya ini, ini milik Bima. Ya ampun, benar tidak? Batinnya bertanya, mau kemana dia? Bukannya dia harus ada di kantor sekarang??


Rasa penasaran malah melupakan jalan yang harusnya berbelok untuk menuju kerumah Kiki, Maudy malah fokus dengan mobil di depannya ini. Sampai mobil benar-benar berhenti di depan sebuah cafe, ah Maudy menghela nafas. Mungkin Bima akan berjumpa klien disini. Dan sekali lagi, untuk memastikan Maudy menunggu pemilik mobil turun dari dalam. Ia menunduk, takut kalau Bima tau dia mengikuti.


Terlihat Sundari yang lebih dulu turun dari kursi belakang mobil, dengan membawa tas samping yang tampaknya seluruh isinya adalah berkas penting. Detik kemudian Bima turun, Maudy semakin menunduk ketika Bima melihat ke arah belakang.


Hingga Bima berjalan beberapa langkah dan di belakangnya di ikuti oleh Sundari. Jadi sudah di pastikan kalau Bima memang datang kesini ada urusan pekerjaan.


Huh, menghela nafas lagi ketika langkah Bima semakin menjauh, dan Maudy pun mengembalikan posisi duduknya ke semula.


Eh tunggu, Bima seperti berbicara serius dengan Sundari lalu berbalik badan dan melangkah. Maudy lagi-lagi menunduk, terlihat Mungkin ada sesuatu yang tertinggal di mobil sehingga Bima harus balik lagi, pikirnya.

__ADS_1


Sudah pergi belum sih?


Beberapa menit menunduk rasanya leher terasa pegal. Perlahan Maudy menaikan lagi kepalanya, melihat ke depan tidak lagi terlihat Bima disana, berjalan ataupun berdiri di dekat mobil.


Tok tok..


Suara kaca mobil di ketuk, Maudy langsung menoleh dan detik berikutnya.


"Ahhhhhhhhh.." Menjerit sekeras mungkin, kalau saja kaca terbuka pasti semua orang akan mendengarnya.


"Bim, Bima?" Bingung, sejak kapan dia berdiri tepat di samping pintu mobilnya??


Berpikir, berpikir lagi, alasan apa yang dia berikan kalau di tanya. Heh, masalah satu belum kelar malah dapat masalah baru.


Ayo Dy, kamu harus berpikir untuk memberi alasan.


Sampai suara ketukan lagi berbunyi, Maudy terperanjat kaget. Ya ampun, bahkan ia tak membuka sedari tadi. Perlahan menurunkan kaca mobil, tersenyum dulu walupun kikuk.


"Bim?" Tersenyum sampai memperlihatkan deretan gigi putih nya.


"Sejak kapan kamu belajar untuk membututi suami?"


"Hah?" Berpikir lagi.


"Ini mobilku, mobil sebelum papa belikan yang baru." Sudah telak, iya mengaku saja batinnya berbicara, tapi mulut masih bungkam. Bima menghela nafas berat, lalu berjalan memutari mobil.


"Buka!" Ucapnya dan Maudy lagi-lagi terperanjat. Dengan cepat Maudy membukanya.


"Jalan!" Ketika sudah duduk di dalam mobil.


Ha emangnya aku supir apa?


"Jalan, kamu nggak dengar?"


"Tapi Bim? Kamu kan harus-"


Bima langsung menutup mulut Maudy dengan satu jarinya. Diam dan laksanakan, begitu perintah yang dia buat.


"Bukan kah ini maunya kamu kan? Sampai-sampai ngikuti mobil suami, segitu pengennya ya berjumpa? Apa tadi pagi tidak puas?"


Ini Bima kenapa sih! Yang pengen siapa, kan aku hanya ngikuti saja.


"Jangan di biasakan bicara dalam hati!" Maudy langsung menepikan mobilnya yang baru saja melaju.


"Katakan, apa yang mau katakan?" Menoleh ke arah Maudy.


"Bim, aku ini istrimu. Jangan buat aku seperti orang asing. Tiga hari Bim kamu cuekin aku, aku udah minta maaf ke kamu kan? Tapi kamu segini marahnya sama aku!" Menangis, ah kenapa jadi cengeng sih Dy. Menghapus air mata, lalu tumpah lagi, hapus lagi.


Bima menariknya, memeluknya erat.


"Sayang dengar, yang marah sama kamu siapa?"


"Kamu nggak marah?" Mendongak dalam pelukan.


"Aku tidak marah, tapi aku kecewa." Aahh tangisan semakin kencang.


"Maaf Bim maaf, aku nggak tau kalau dia ikut. Aku benar-benar udah menghindar dari dia. Cuma kemarin aku memang butuh bantuan, hanya itu Bim. Aku bersumpah!" Lagi, menangis lagi.


"Iya aku tau?"


Apa??


Perlahan mendongakkan wajahnya.


"Aku hanya tidak suka ada orang lain yang menyentuhmu. Dan soal aku mendiamkan kamu, siapa yang bilang? Setiap pulang kerja aku juga selalu mencium setiap inci wajahmu. Sayang, kamu tau aku kan?"


"Iya tapi kenapa kamu nggak bilang soal kerumah ibu, dan kamu juga nggak bilang kalau renovasi kamar sudah selesai?" Bima menghela nafas lagi. Lalu melepas pelukannya, memegang wajah Maudy dengan kedua tangannya.


"Sayang, jam delapan malam aku pulang kerumah. Kata mama kamu tidur setelah makan malam. Aku masuk ke kamar, dan benar kamu tidur. Aku nggak tega buat bangunkan kamu." Maudy masih diam. "Kamu selalu tidur lebih awal sekarang, kenapa? Apa kamu lelah? Apa mama menyuruhmu untuk berkebun?" Maudy menggelengkan kepalanya, mengingat memang dia selalu tidur lebih awal dan menganggap Bima selalu pulang larut.


"Kalau kamu mau pulang kerumah ibu, kita pulang sekarang."


"Lalu pekerjaan kamu Bim? Bukankah harusnya kamu ada urusan pekerjaan dan bertemu klien di cafe?"


Bima menggeleng.


"Biar Sundari yang urus, aku lelah. Aku mau tidur siang ini sambil meluk kamu di kamar baru." Senyum nakal terukir di bibir Bima.


"Aku lagi menstruasi Bim." Huh membuang nafas kasar.


"Kalau begitu aku kembali ke cafe saja, kamu pulang. Dan tunggu aku di rumah, jangan kemana-mana. Kali ini tidak ada alasan lagi. Mau kerumah Kiki, Kiko, tidak! Sekarang pulanglah!"


Ya ampun, ambyar...

__ADS_1


--__


__ADS_2