Dia Bimaku

Dia Bimaku
Bimbang


__ADS_3

Pagi kembali datang, dan seorang Kiki yang sekarang bukanlah lagi Kiki yang berdiam diri dirumah. Menjadi pekerja kantoran sekaligus sekretaris sahabatnya sendiri. Keren, padahal dia juga tidak kekurangan uang. Yang awalnya menjalani ini dengan sebuah keterpaksaan, tapi melihat situasi yang jauh lebih nyaman di dalam kantor. Menemukan hal baru, teman baru, pengetahuan baru, atau cinta baru? Eh entah lah. Kiki masih bimbang untuk memulai cinta.


Kegagalan yang pernah ia alami membuatnya sedikit meragu untuk percaya lagi dengan laki-laki. Cinta, dia pernah merasakan itu. Sampai saat dimana laki-laki yang menjadi cinta pertamanya harus meninggalkannya dengan alasan menikah pada wanita lain, hamil pula.


Kiki sengaja berangkat lebih pagi dari biasanya, dan hari ini dia juga membawa mobil. Karena papanya sudah pergi lagi ke luar kota. Kantor masih sepi, hanya ada beberapa OB yang memang bertugas pagi membersihkan kantor sebelum para karyawan masuk.


"Mas, tolong antarkan kopi keruangan saya nanti ya."


"Iya mbak." Seorang OB berjalan menuju pantry dan meninggalkan pekerjaannya sebentar.


Entah sejak kapan Kiki mulai menyukai kopi.


"Hallo Dy?"


"Iya kenapa Ki?"


"Bima masuk kantor nggak hari ini?"


"Iya masuk lah Ki, cuma agak siangan perginya. Soalnya dia juga lelah sehabis acara semalam. Kenapa?"


"Ah nggak. Kirain dia nggak masuk." Memainkan jarinya di atas meja. Bingung harus mulai dari mana mengatakannya.


"Kamu udah di kantor?"


"Iya?"


"Sepagi ini?"


"Sayang siapa?"


Suara Bima yang menegur Maudy terdengar melalui sambungan telepon.


"Kiki Bim. Kamu mandi sana, aku masih mau ngomong sama Kiki."


Terdengar suara Maudy yang melangkah, sepertinya dia menjauh dari Bima.


"Pasti kamu mau cerita kan?"


"Iya, kamu tau aja."


"Kalau kamu aku paham Ki. Bicaralah."


Kiki menghela nafas. Memejamkan matanya sebentar.


"Dy, semalam aku jumpa Agam. Dan katanya dia sudah berpisah dengan istrinya."


"Lalu?"


"Ya aku, aku nggak tau. Cuma, pantas saja dua hari lalu dia kirim pesan aku lewat sosmed." Maudy diam. "Aku masih bingung dengan perasaan aku sekarang."


"Kalau kamu balik sama Agam. Ingat, jangan pernah temuin aku lagi. Ki, apa kamu mau sama seorang duda?"


"Dy. Jujur, aku masih sayang Agam."


"Terserah kamu!"


Tut. Panggilan langsung dimatikan secara sepihak. Kiki meletakkan ponselnya dengan keras ke atas meja. Menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Aku nggak boleh sampai ketemu sama Agam! Nggak, nggak boleh!


"Mbak, ini kopinya." Kiki langsung membuka wajahnya yang di katup oleh kedua tangannya.


"Eh iya, makasih ya."


"Mbak, pagi-pagi jangan ngelamun, atau pikiran kosong, bahaya mbak." Kiki tersenyum lalu mengangguk. "Soalnya dari tadi saya ketuk pintu mbak nggak denger."


"Iya mas, makasih udah di ingetin."


Kiki menarik nafas lagi, mengontrol emosi yang ditunjukkan untuk dirinya sendiri. Soal perasaan yang benar-benar masih bimbang. Melihat jam dinding, masih setengah jam lagi untuk mulai bekerja. Kiki iseng membuka sosmed nya, membuka lagi pesan dari Agam yang memang belum ia buka dan baca.


"Apa kabar Ki?"


Kiki tersenyum samar, lalu detik berikutnya meneteskan air mata.


Lagi, dia scroll ke bawah. Lanjut membaca beberapa pesan yang setelah kejadian pahit itu, Kiki nggak baca sama sekali.


"Maaf ya. Aku memang breng sek."


"Ki, kamu jangan lupa makan ya."


"Ki, aku balik ke tanah air. Aku pisah sama istriku."


"Ki, bisakah kita ketemu? Aku mau ngomong."


"Ki, apa kabar? Kamu baik kan?"


"Ki, gimana tawaran aku kemarin? Bisakah kita ketemu?"


Kiki perlahan mengetik pada keyboard layar ponselnya, antara sadar atau tidak sekarang. Intinya dia berniat membalas pesan Agam.


"Mau ketemu dimana?" Lima menit kemudian, notif masuk. Agam langsung membalas pesannya.


"Serius, kamu mau?"


Bingung, menggigit jari. Mau membalas apa? Apa kalau begini aku memberi harapan untuknya? Batinnya bingung.


"Dengan satu syarat."


"Katakan."


"Jangan sampai ada yang tau. Kamu tinggal bilang mau ketemu dimana. Nanti aku kesana, tapi setelah aku pulang kerja."


"Makasih ya. Aku tunggu di cafe X, yang ada di sebelah danau."


"Ki? Kamu kerja sekarang ya?"


Kiki langsung menonaktifkan ponselnya, meletakkan di samping laptop. Dan sekarang saatnya dia bekerja. Walau Revan belum juga datang dan masuk keruangan, tapi sudah ada beberapa tugas yang harus dia kerjakan.


Sebelum itu, Kiki menyeruput kopi yang sudah di antarkan OB tadi. Matanya tetap fokus menatap layar laptop.


Dan sekarang, Kiki harus memeriksa email yang masuk tadi malam. Awalnya juga ingin bertanya, kenapa setiap saat selalu ada email yang masuk? Tapi dia juga enggan bertanya, yang selalu di katakan Revan adalah, catat tanggal dan waktu saat mereka mengirim. Catat di berkas penting perusahaan. Karena itu akan di butuhkan nantinya.


"Ini gimana ya buat diagram nya? Aku lupa." Garuk-garuk kepala. Menyandarkan tubuhnya sebentar, melihat lagi ke arah jam dinding. Heh, kenapa Revan belum juga datang.


Tok. tok.


Suara pintu di ketuk, Kiki menoleh dan tidak menjawab. Karena yang dia tau pasti itu Revan.


"Ki?"


"Loh mbak Rina, ada apa datang keruangan aku pagi-pagi?" Bingung, karena memang tak biasanya, apa lagi melihat dia datang hanya dengan tangan kosong.


"Ki? Aku dengar kamu selama bekerja selalu di antar pulang sama Revan ya?"


"Iya mbak, kenapa ya?" Lebih bingung sekarang. Apa mau di labrak dan di cap sebagai pelakor?


"Ki, kamu kan tau hubungan aku sama Revan gimana?"


"Iya tau, terus kenapa mbak Rina??" Mulai bosan meladeni Rina yang mengakui Revan sebagai kekasihnya.


"Semenjak kamu kerja disini Revan tuh jadi berubah, makan siang juga nggak pernah bareng aku. Dan jarang komunikasi. Apa kamu sengaja deketin Revan?"


Ini orang sepertinya harus di kasih paham sedikit deh ya.

__ADS_1


Kiki mengubah posisi duduknya, memutar kursinya dan duduk tepat di hadapan Rina yang berdiri sambil melipat kedua tangannya.


"Lalu salah aku dimana?" Berpura-pura tidak tau.


"Ya kamu harus jauhi Revan lah. Kamu juga nggak perlu minta antar pulang sama dia, kamu punya mobil kan? Bahkan aku dengar kamu juga punya supir. Heran, orang kaya juga masih mau kerja kantoran."


"Mbak, hati-hati loh kalau ngomong." Masih dengan senyuman.


"Memangnya mbak itu siapa Revan? Pacar bukan, saudara juga bukan, apa lagi atasannya. Mbak, ingat loh jabatan aku disini jauh lebih tinggi dari mbak. Jangan sok mau ngatur aku. Dengar ya mbak, soal di antar pulang bukan aku yang minta, tapi memang Revan sendiri yang mau antar." Wajah Rina memerah.


"Kamu mau bawa-bawa jabatan?" Kiki mengangguk.


"Aku bisa aja laporkan mbak sama pak Bima, karena mbak nggak punya sopan santun, bisa-bisanya pagi-pagi udah cari ribut, pakai datang ke ruangan aku lagi. Memangnya mbak siapa ha?"


Maaf ya Bim, aku jadi bawa-bawa nama kamu buat ngelawan perawan tua ini.


"Awas aja kamu ya! Pokoknya kamu harus ingat, jauhi Revan!!" Berbalik badan dengan sombongnya.


"Cih, memangnya kamu siapa mbak?? Mau aku tidur sama Revan juga kamu nggak berhak larang? Dasar sinting." Menggerutu tak karuan. Hati yang panas malah semakin panas.


Kiki seketika menoleh lagi ketika mendengar suara tepuk tangan.


"Hebat kamu hebat! Cie yang mau tidur sama aku!" Hah? Kiki langsung membulatkan matanya, sejak kapan dia datang? Apa dia nguping di balik pintu? Beberapa pertanyaan muncul di kepalanya.


"Aku ngomong gitu supaya pacar kamu itu sadar. Dih lagian aku nggak hobi ngerebut yang bukan milik aku." Kiki berpura-pura menggeser mouse di tangannya, padahal belum ada yang dia ketik.


"Tapi memang benar sih, aku bukan milik siapa-siapa." Kiki diam.


***


Jam istirahat kantor sudah berlangsung, Kiki memilih makan di pantry, ingin melihat dunia yang banyak manusianya. Meski harus duduk sendiri baginya tidak masalah dulu sekarang. Karena berada di dalam ruangan sepertinya membosankan. Selama bekerja di perusahaan Bima, baru kali ini Kiki makan di pantry kantor yang memang di sediakan makan siang untuk para karyawan secara gratis. Mereka hanya tinggal memilih menu dan mengambil nasi seusia selera mereka sendiri.


Kiki sudah duduk, dan sudah selesai mengambil nasi beserta lauk pauk yang dia mau. Dan di temani dengan satu cangkir es teh. Bahkan Kiki juga sengaja keluar lebih awal sebelum keadaan ramai seperti biasanya.


"Eh ini sekretaris pak Bima yang baru?" Kiki mengangguk dan tersenyum.


"Boleh kan duduk disini?" Dua wanita itu duduk saja tanpa menunggu Kiki menjawab. Padahal memang Kiki senang, kan malah ada temannya.


Dan, ketika hendak menyuap nasi ke dalam mulutnya. Tampaklah sekelebat manusia yang membuatnya emosi tadi pagi.


Heh, Kiki menghela nafas.


"Nama kamu siapa?"


"Kiki mbak." Kiki menjawab ramah.


"Sepertinya umur kamu masih muda ya?" Kiki mengangguk lagi.


"Oh, saya Amel, dan ini Lusi."


Mengangguk lagi. Tapi matanya liar sekarang, melihat Rina duduk tak jauh dari tempatnya makan sekarang.


"Sudah menikah?" Kiki menggeleng.


"Belum mbak." Mereka manggut-manggut.


"Kalau boleh tau, mbak Amel sama mbak Lusi bagian apa ya?"


"Oh, kami bagian ke uangan." Lusi yang menjawab, karena Amel tengah makan dan mengunyah.


Kiki langsung diam.


Berarti mereka temannya nenek lampir.


"Kamu satu ruangan dengan Revan ya?" Kiki mengangguk lagi.


"Iya dulu dia juga satu bagian dengan kami, tapi karena kinerja dia bagus dia bahkan bisa naik jabatan jadi asisten pribadinya pak Bima. Hebat ya si Revan, udah baik, ramah."


"Aku mau tanya mbak." Mereka langsung mendongak dan melihat ke arah Kiki. "Rina itu pacarnya Revan ya?" Kiki berbicara dengan pelan.


Saling pandang dan "Hahaha". Kiki bingung sekarang.


"Pasti Rina yang bilang ya?"


"Iya mbak." Amel menyeruput minumannya, mungkin akan menjelaskan sesuatu yang harus Kiki tau.


"Dia memang begitu." Ah kirain akan bicara panjang lebar.


"Memang begitu? Maksudnya mbak?"


"Iya selalu ngakuin Revan itu pacarnya." Kiki tau sekarang maksudnya, jadi wanita itu baper gitu.


"Eh itu Revan?" Lusi menunjuk ke arah dimana Revan berdiri sambil memegang piring.


Kiki diam dan melanjutkan makannya hingga habis.


***


Revan duduk sendirian, bukan karena tak punya teman tapi karena semua meja sudah penuh, dan hanya ada satu yang kosong, itu juga karena ada yang sudah selesai makan langsung pergi. Rina langsung mendekat dan duduk di hadapan Revan.


"Revan? Kenapa jarang makan disini?" Tanpa aba-aba dia bertanya, baru saja satu suapan masuk ke dalam mulut.


"Iya, aku makan di ruangan. Soalnya banyak yang harus di kerjakan. Jadi nggak nunggu jam istirahat selesai sudah mulai bekerja lagi." Jelasnya.


"Kamu harus jaga kesehatan Revan." Kiki, Amel dan juga Lusi langsung Melirik ke arah mereka.


"Iya kak, pasti itu." Revan masih bersikap santai.


"Revan, nanti pulang aku nebeng kamu ya?" Dia selalu menggunakan bahasa Aku dan Kamu. Tapi Revan selalu memanggilnya dengan sebutan kakak, karena perbedaan usia mereka.


"Aku nggak bisa deh kayaknya kak."


"Kenapa? Karena kamu mau anter Kiki ya? Atau memang dia udah minta nebeng duluan?" Dengan nada sewotnya Rina berbicara.


"Nggak, Kiki nggak pernah minta nebeng sama aku. Aku nanti soalnya akan pergi sama pak Bima? Jadi belum tau akan balik ke kantor lagi atau nggak."


Rina terdiam, ia melirik ke arah Kiki yang tengah tertawa bersama Amel dan Lusi. Pandangannya seperti ingin membunuh, Kiki juga melirik ke arahnya, dengan tak kalah tajam. Dan hanya sekilas Kiki membuang muka lalu tertawa lagi.


"Kak Rina, kakak jangan buat gosip di kantor."


"Mak, maksudnya?" Dia sudah gelagapan.


"Kakak kan yang bilang ke orang-orang kalau kita pacaran?" Rina langsung terdiam.


"Kakak juga datangin Kiki terus marah-marah."


Dari mana Revan tau?


"Dia mengaduh sama kamu?" Revan menggeleng.


"Kak, aku hanya anggap kakak sebagai seorang kakak, dan juga teman di kantor." Menghela nafas. "Jadi tolong jangan buat keributan di kantor." Revan menyambar minumnya dan berdiri meninggalkan Rina yang diam dan menunduk.


***


Kiki sudah berada di ruangan lebih dulu sebelum Revan masuk. Jam istirahat juga masih tersisa 15 menit lagi. Awalnya Kiki sudah menyentuh ponselnya, tapi mendengar suara langkah kaki ia langsung enggan.


Terlihat Revan masuk dengan senyum ke arahnya, lalu membereskan mejanya, memasukkan beberapa bekas kedalam laci. Lalu menguncinya, hal sekecil itupun masih di perhatikan oleh Kiki.


"Hari ini kamu nggak usah lembur. Soalnya nggak ada yang harus di kejar juga." Hanya mengucapkan itu lalu duduk sebentar untuk memeriksa tugasnya kembali.


"Kenapa kamu beres-beres seperti mau pulang?" Revan diam tidak menjawab.


"Van?"

__ADS_1


"Ah iya? Kamu ngomong apa tadi?"


Heh.


"Kamu mau kemana? Kok beres-beres, apa mau pulang?" Mengulang lagi pertanyaannya.


"Enggak sih, cuma aku mau pergi keluar dengan pak Bima. Ada urusan, pertemuan dengan klien." Kiki hanya ber Oh sambil manggut-manggut.


"Cuma kan, kalau sampai sore nggak mungkin juga balik ke kantor, jadi kemungkinan langsung pulang nanti." Kiki sudah mulai dengan pekerjaannya.


"Kamu bawa mobil kan?"


"Iya."


"Oh ya sudah. Hati-hati nanti kamu pulang nya ya, aku duluan."


Memang dia baik ke semua orang.


Kesunyian jelas terasa, tidak ada teman ngobrol ataupun sekedar untuk di ajak tanya jawab. Kiki menguap, melihat masih tersisa dua jam lagi untuknya pulang. Walau pekerjaan sudah selesai, tapi tidak mungkin bisa pulang begitu saja.


Kiki menyambar lagi ponselnya, mengaktifkannya kembali. Beralih lagi ke layar laptop, memeriksa ulang pekerjannya.


Dan setelah mendengar bunyi notif di ponsel barulah ia mengambilnya kembali.


"Kamu pulang jam berapa?"


"Ki?"


"Kabari aku satu jam sebelum kamu pulang."


"Hei? Lembur ya?"


Heh, Kiki menghela nafas lagi. Padahal tadi pagi juga sudah berniat, kenapa sekarang jadi kendur.


"Aku pulang jam 4 sore."


Klik, Kiki membalasnya. Terlihat Agam juga sedang online.


"Mau aku jemput?"


"Nggak usah, aku bawa mobil."


Dan terkahir, Kiki meletakkan kepalanya di atas meja. Makin kesini makin tidak tau dengan perasannya sendiri.


Gundah gulana jelas ia rasakan, satu sisi masih menyisakan rasa untuk Agam. Tapi tidak mungkin bersatu karena status Agam juga sudah berbeda, dan belum lagi tentangan dari keluarganya. Mana mungkin mama dan papanya akan setuju. Belum lagi ancaman dari Maudy.


"Arrggh.." Frustasi.


"Aku harus apa sekarang." Mengigit pena yang dia genggam.


***


Kiki sudah berjalan melewati loby kantor, sebelum pulang ia juga merapikan penampilannya kembali. Sudah mantap akan menemui Agam. Dan, ingin mendengar penjelasan apa yang akan dia katakan nanti, setelah melakukan kesalahan di hubungan mereka. Dan semenjak itu, Kiki sudah tak pernah lagi bertemu dengannya, satu alasan yang kuat, saat ini memang dia rindu.


"Heh Kiki." Kiki menoleh saat akan membuka pintu mobilnya.


Mau apa lagi ini dia sekarang, oh Tuhan!!


Kiki diam dan menunggu Rina berjalan mendekat.


"Kamu ngaduh ya sama Revan? Kamu ngaduh ke dia kalau tadi pagi aku menegur kamu?" Kiki diam dan menatap Rina dari atas ke bawah.


"Nggak."


"Ki, kita sama-sama perempuan kan? Kamu juga punya perasaan kan?" Beberapa karyawan yang melihat langsung berbisik. Ada juga yang segera mencari tau.


"Eh, kenapa ini?" Amel dan Lusi mendekat, Kiki tersenyum melihat mereka datang.


"Aku nggak tau mbak. Tapi ini dia selalu nuduh aku yang nggak jelas."


"Bukan nuduh, tapi kamu memang merebut."


"Mbak Rina, dengar ya sekali lagi. Pastikan dulu mbak sama Revan pacaran atau nggak, dari pada nanti mbak sendiri yang malu. Lagian ya, kalau Revan itu bukan tipe aku. Maaf ya, kalau mau saingan mbak salah orang. Ambil tuh Revan, memangnya siapa dia harus jadi rebutan?" Rina mengepalkan tangannya.


"Mbak Lusi, mbak Amel. Aku duluan ya?" Mereka tersenyum dan melambaikan tangan. Kiki langsung menutup mobilnya.


"Rin, kamu ingat umur lah. Kamu nggak malu apa?" Samar-samar Kiki mendengar kedua ibu muda itu menghakimi Rina. Kiki tertawa kecil dan geleng-geleng kepala.


Mobil langsung melaju ke jalanan raya, sore ini dimana semua para pekerja juga waktunya pulang. Jadi tidak heran kalau terjadi kemacetan di beberapa titik.


Dan alhasil, satu jam barulah Kiki sampai di tempat dimana dia janjian ketemu Agam. Cafe di samping danau. Kiki langsung aja memarkirkan mobilnya, turun dan mencari dimana keberadaan Agam.


"Ki? Kamu sudah sampai? Kenapa lama?" Kiki langsung berbalik, kaget.


"Loh, kamu masih di luar?" Agam mengangguk. Agam memakai jaket Hoodie dan masker. Pantas saja Kiki tak melihatnya meskipun Agam sedari tadi berdiri tak jauh dari mobilnya.


"Kamu duluan masuknya, cari tempat. Nanti aku nyusul, aku mau ke toilet sebentar." Kiki mengangguk dan berjalan masuk. Mencari tempat yang sulit di lihat orang lain.


Beberapa menit, Agam datang. Dia duduk dan membuka maskernya. Menampakkan wajah yang sangat di rindukan Kiki. Kiki membuang pandangannya, entah kenapa sekarang ini seperti berjumpa dengan orang asing.


"Kamu Uda pesan makanan?" Kiki menggelengkan kepalanya.


"Aku nggak makan. Aku cuma pesan minum aja. Kamu juga udah aku pesankan, jus mangga kan?" Agam mengangguk dan tersenyum.


"Kamu masih ingat rupanya."


Ingat lah, dasar bo doh.


"Kamu mau ngomong? Mau ngomong apa?" Langsung to the point.


"Hem, kamu buru-buru ya?" Kiki mengangguk saja.


"Oke, jadi yang pertama aku mau minta maaf. Secara langsung! Dan yang kedua, aku mau kasih tau kalau sebenarnya aku udah pisah."


"Lalu?" Kiki sengaja memancing Agam.


"Apa kamu mau mulai hubungan sama aku lagi?" Kiki terdiam. Nah kan, tadi memancing sekarang dia bingung.


"Aku nggak bisa."


"Kenapa? Apa kamu sudah ada yang lain?" Kiki diam.


"Ki? Ini Kiki kan?" Kedua laki-laki yang sangat di kenali tiba-tiba menegurnya.


Dari mana datangnya mereka?


"Ki? Kamu ngapain?" Agam menundukkan wajahnya. Bima sudah menatap ke arahnya, dengan tajam tanpa berkedip, lalu beralih lagi ke arah Kiki.


"Nggak ada Bim, cuma minum doang."


"Sama dia?" Kiki menatap Agam. Lalu mengangguk.


"Revan, ayo kita pulang."


"Baik pak." Revan melirik ke arah Kiki, Kiki tersenyum tapi Revan tak membalasnya.


"Duluan ya Gam?" Masih sempatnya Revan menegur Agam.


Kiki melemas, tulangnya terasa tidak berfungsi sekarang. Sungguh, jantungnya berdegup tidak karuan. Ketakutan melingkupi pikirannya saat ini.


"Gam, mulai sekarang jangan pernah temui atau hubungi aku lagi. Aku rasa aku sudah cukup mendengar apa yang ingin kamu katakan. Permisi." Kiki langsung pergi meninggalkan Agam. Bahkan minuman juga belum dia sentuh.


--_

__ADS_1


__ADS_2