
Semua yang mendengar masih tercengang, bagaimana Bima bisa tau kalau Tisha meminta sepeda motor, pikir ayahnya.
"Iya yah, kemarin aku sempat cerita ke Bima. Dan baru aja Bima nanya motornya udah sampai atau belum." Saling pandang, belum menjawab.
"Apa Bima bisa kesini?" Tanya ayahnya.
"Nggak bisa yah, Bima lembur. Karena dia kan mau ngajukan cuti pernikahan."
"Telepon aja kalau nggak?" Ibu Irma ikut memberikan saran.
"Nggak bisa juga bu, Bima masih sibuk." Ayahnya menghela nafas berat.
"Mau bilang terima kasih susah amat." Ayahnya menggerutu, dan mendekat ke arah motornya. Sesekali mengelus, aneh ayah sih.
"Kamu kirim pesan aja Dy, bilang terima kasih." Maudy mengangguk.
"Mbak, makasih ya mbak." Tisha mendekat, matanya berbinar. Tak sia-sia nurut sama ibu, mengepel lantai dari ujung ke ujung buat nyambut tamu agung, eh taunya dapat hadiah motor.
"Kamu juga harus bilang makasih nanti kalau kak Bima kesini Tisha." Ibunya memperingatkan.
"Iya bu iya."
"Jangan di bawa dulu motornya ya, tunggu sampai surat-suratnya selesai."
"Ya ampun kelamaan lah yah." Tisha tak terima.
"Mau atau tidak, kunci ayah yang pegang." Maudy tak ingin lagi ikut berdebat dan memilih masuk ke kamar. Tak lupa ia juga mengucapkan terima kasih yang sudah di pesankan ibu dan ayahnya.
***
Tengah malam, Maudy terbangun karena mendengar dering teleponnya berbunyi. Dengan menggerutu ia mengangkat telepon.
"Hallo?" Sambil mata terpejam.
"Udah tidur ya?" Langsung melek ketika mendengar suara yang tak asing.
"Siapa?" Memastikan sekali lagi, melihat tidak ada nama, hanya nomor tak di kenal.
"Ini aku Ilham."
Deg. Mau apa dia nelepon malam-malam.
"Oh iya, ada apa telepon tengah malam begini Ham? Ada urusan pekerjaan ya?" Mengucek matanya menghilangkan sedikit rasa kantuknya.
"Eh nggak juga, aku telepon kamu nggak bisa, terus aku coba pakai nomor aku satu lagi. Nomor aku kamu blok ya?"
Diam tak menjawab.
"Dy?"
"Eh iya Ham. Kamu ngomong apa tadi? Aku nggak dengar, sinyalnya mungkin." Beralasan, karena segan jika menjawab jujur.
"Oh gitu. Hem besok kamu datang nggak ke proyek?"
"Enggak deh Ham, soalnya kan dua hari lalu juga udah kesana. Kenapa?"
"Nggak aku kangen aja."
Sebenarnya mau apa sih dia?
"Kalau nggak ada yang di bicarakan lagi aku mau lanjut tidur Ham?" Melihat ke jam dinding, sudah pukul 12 malam.
"Oh iya. Nggak aku cuma mau bilang, aku suka sama kamu Dy."
Maudy sudah ingin mematikan sambungan telepon.
"Maaf ya, aku cuma mau jujur. Aku juga tau kamu sudah tunangan sekarang, cuma aku nggak bisa tidur kalau belum bilang ini ke kamu. Ya udah kamu tidur, makasih ya udah kasih aku waktu buat ngomong."
Tanpa menjawab lagi, Maudy langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ada saja cobaan, padahal tinggal satu hari lagi aku berubah status jadi istri orang.
Baru saja ingin terpejam, telepon berdering lagi. Maudy sebal dan sudah ancang-ancang untuk langsung menolak perasaan Ilham.
"Apa lagi Ham? Maaf ya aku nggak bisa terima perasaan kamu. Aku sudah milik orang lain." Hanya suara berdehem yang Maudy dengar.
"Sayang, maksud kamu apa?" Berbicara selembut mungkin. Maudy langsung melihat layar ponselnya. Benar, ini juga nomor tak di kenal, tapi sepertinya nomornya berbeda dari yang tadi.
"Ini kamu ya Bim?"
"Hem."
"Oh kirain."
"Kirain siapa?"
Aduh, jujur aja kali ya.
"Iya tadi...." Dan Maudy pun menjelaskan semuanya, pembicaraan tadi sampai Ilham menyatakan perasaannya.
"Ya sudah, aku juga maklum karena calon istri aku ini cantik jadi wajar kalau banyak yang suka."
Maudy langsung menghela nafas lega, yang dia kira Bima akan marah.
Dan Bima pun menyuruh Maudy untuk tidur, sementara dia beralasan menelepon Maudy tengah malam karena rindu, baru saja ia selesai mengerjakan tugas kantor. Maudy terpejam, dengan sambungan telepon yang tidak boleh di matikan oleh Bima. Hingga benar-benar terlelap, Maudy sendiri tidak tau sampai kapan panggilan itu akan berakhir.
***
__ADS_1
Hari yang di tunggu sudah tiba, pernikahan yang di gelar sederhana di dalam rumah. Hanya di hadiri keluarga inti saja. Rumah Maudy juga sudah ramai, bude dan omnya benar-benar datang. Termasuk mamanya Kiki.
Dan disini Maudy duduk, di hadapan kaca rias. Dengan MUA yang di kirim oleh mama Lisa, beserta baju kebaya yang akan ia kenakan.
"Mbak, nanti kalau bisa jangan terlalu tebal ya make up nya, soalnya pengantin natural juga sudah cantik, takutnya kalau tebal malah menutupi kecantikannya." Mona yang mengatur, dan Maudy tidak keberatan ternyata dia orangnya baik dan ramah, berbeda dengan pikiran sebelumnya. Mona sengaja di kirim kesini oleh mama Lisa karena untuk membantu Maudy.
"Sudah jam 5 sore, ini bisa selesai tepat waktu kan mbak?" Seorang MUA mengangguk lagi, sepertinya memang Mona tipe perempuan yang cerewet, tapi itu semua dia lakukan untuk membentuk hasil yang elegan, pantas saja dia bisa punya usaha WO.
"Kamu duduk aja disini Mona, ngapain sih ngurusin calon pengantinnya? Kan sudah ada MUA." Kiki yang tengah santai di atas tempat tidur, yang sudah di hias sedemikian oleh Mona. Bahkan mereka juga sudah mengenal dalam waktu setengah jam.
"Iya-iya." Mona menuruti kemauan Kiki dan duduk di tepi ranjang. Bukan hanya duduk saja, Kiki langsung mengeluarkan ponsel miliknya dan mengajak Mona untuk ber selfie. Ah seribet itu wanita ya.
Maudy memandang wajahnya di depan kaca, MUA mulai memasangkan sanggul untuknya, bahkan dia sendiri sudah tak mengenali wajahnya, padahal make up juga belum selesai.
"Lagi-lagi." Suara dua wanita yang mulai ribut. Maudy melirik dari arah kaca, ia tersenyum melihat keakraban Kiki dan Mona.
"Eh ponakan bude cantik sekali." Tanpa mengetuk terlebih dahulu kakak dari ibunya masuk begitu saja, Maudy tersenyum tanpa bisa menoleh karena sudah merasakan kepalanya berat dengan sanggul yang sudah menempel sempurna.
"Kalau sudah nikah harus nurut kata suami ya ndok, biar rumah tangganya langgeng." Deg. Wajah Maudy berubah lesu.
Ya ampun, aku bahkan tak memikirkan hal itu. Aku selalu melawan apa yang Bima katakan.
"Ya sudah lanjutkan, bude mau ke dapur lagi. Itu om kamu juga sudah sampai."
"Tante ikutkan bude?"
"Nggak, tante kamu lagi ngidam, cuma Bian yang ikut." Huh Maudy kembali lesu, padahal dia sudah merindukan tantenya.
Berjam-jam lamanya berada di hadapan kaca. Padahal mata sudah ingin sekali terpejam, tapi rasanya tak mungkin. Dan berjam-jam itu pula dadanya terasa sesekali berdebar, mengembuskan nafas perlahan agar netral kembali. Seperti apa Bima nanti ketika mengucap sebuah janji untuk kehidupan mereka kelak di hadapan keluarga.
"Oke selesai, coba buka matanya mbak." Yang membuka mata terlebih dahulu bukan Maudy, tetapi Mona dan Kiki. Mereka langsung sibuk beringsut turun dari tempat tidur. Meneliti wajah Maudy dari dekat.
"Gila, cantik sekali." Bahkan sesama wanita saja bisa mengakui hal itu, aduh bagaimana dengan para lelaki yang akan menatapnya nanti. Ah tapi tidak, yang hadir hanya keluarga saja.
"Kita photo dulu ya? Mumpung nih." MUA nampak tersenyum puas, melihat hasil polesan tangannya.
"Sini saya photokan?" Kurang apa lagi coba, aduh. Mereka bergaya dengan sesukanya. Tertawa, tersenyum, menutup mulut dengan tangan. Ah tak terasa bahkan jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Ini saatnya menunggu.
"Dy, sudah selesai kan? Soalnya keluarga Bima sudah menunggu dari tadi."
"Dari tadi?" Mereka serempak saling pandang.
"Iya kenapa?" Jawab ibunya.
"Udah tenang aja, dia tadi lagi latihan supaya tidak mengucapkan pengikat janji kalian berulang-ulang nantinya. Ayo?"
Maudy mengangguk, lalu di tuntun berjalan oleh Mona dan Kiki.
"Susah banget jalannya." Menatap kebaya yang memang pas di tubuhnya.
"Udah ayo?" Maudy keluar pintu kamarnya, masih menundukkan wajahnya. Semua ia rasakan saat ini, malu atau apa ya namanya.
Setelah Maudy duduk, mereka berdua sama-sama di beri nasehat untuk membangun rumah tangga, dan doa juga tak lupa di panjatkan untuk kelancaran dalam hubungan mereka.
Hingga sampai detik itu tiba, Maudy memejamkan mata menunggu semua mengucapkan kata sakral yang mampu mengubah statusnya detik ini juga.
Terdengar semua mengucapkan syukur, yang berarti Bima telah berhasil mempersunting dirinya. Maudy perlahan membuka mata, melihat ke arah ibunya yang sudah berlinang air mata, tanda ia juga bahagia saat ini. Dan cup, satu kecupan mendarat di kening Maudy. Hangat, ya itu yang ia rasakan.
"Selamat ya Dy." Kiki memeluknya. "Doain semoga aku juga bisa susul kamu ya?"
"Iya pasti Ki." Maudy belum berani sepenuhnya menatap mata Bima, entah kenapa setelah sah menjadi pasangan suami istri, Maudy menjadi sedikit malu. Membayangkan hal yang akan terjadi di beberapa jam ke depan.
"Kamu mikirin apa sayang? Nggak sabar ya buat nanti malam?" Menaikan sudut bibirnya, bulu kuduk Maudy langsung meremang.
"Jadi karena kalian sekarang sudah sah. Kalian juga harus memutuskan untuk tinggal dimana?" Papa Adi mulai bertanya. Maudy pasrah akan jawaban Bima, dan sengaja diam supaya Bima yang bersuara.
"Pa, kami tinggal disini. Kalau dirumah papa juga kan sudah ada mas Rio." Papa Adi langsung menoleh ke arah istrinya.
"Iya pa, nggak apa mama setuju kok." Sambil mengangguk dan tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu."
Kenapa papanya Bima mendadak baik begini sih? Aku jadi takut malah.
Dan semua pun tidak melewatkan malam dengan makan bersama.
***
Maudy sudah kembali ke dalam kamarnya, tentu kali ini tidak lagi ditemani Kiki ataupun Mona. Sekarang hanya berdua bersama Bima.
"Bim, kamu bisa keluar dulu nggak?" Bima langsung mendekat. Dari tatapan matanya Maudy tau kalau Bima pasti akan bertanya, kenapa?
"Aku mau buka kebaya ini dulu, sekalian bersihkan make up." Bima langsung menautkan alisnya.
"Sayang, kenapa aku harus keluar? Bukankah kita udah sah jadi Suami istri?"
"Iya masih malu Bim."
"Mo?? Mo??!" Suara ketukan pintu terdengar, sepertinya itu adalah suara omnya.
Bima langsung mengurungkan niatnya untuk protes. Berdiri melihat Maudy yang berjalan membukakan pintu.
"Om, kenapa?" Kembali menutup pintu dan meninggalkan Bima sendirian di dalam kamar.
"Tante kamu telepon, dia nggak bisa lama-lama di tinggal sendiri. Om harus berangkat sekarang ke bandara. Apa Bima bisa tolong antarkan om?" Maudy menoleh ke arah pintu, padahal jelas-jelas tertutup.
"Iya bisa om, biar aku yang bilang. Bian kemana?"
__ADS_1
"Bian masih asik main game sama Tisha." Maudy langsung berbalik dan melangkah Perlahan, karena kebaya masih menempel sempurna di tubuhnya.
"Sayang?" Memanggil dengan selembut mungkin. "Suamiku?" Ah ya ampun kenapa aku merasa geli sendiri.
"Kenapa?" Meletakkan ponselnya.
"Gini, om Wisnu harus pulang malam ini sayang, apa kamu bisa antar dia ke bandara sekarang?"
"Sama kamu ya?" Maudy langsung mengangguk saja, biarlah ini demi omnya.
"Bima, em sayang. Aku belum ganti baju?" Memperlihatkan penampilannya.
"Sayang, coba kamu lihat aku juga kan?"
***
"Wisnu, kamu kan bisa minta antar ipar mu toh. Kenapa malah kamu suruh pengantin baru yang antar kamu?" Kakak tertua yang mereka panggil bude langsung protes.
"Iya bude, aku sengaja. Haha." Tertawa, ya ampun.
"Biar mereka cari angin dulu bude sebelum mulai."
"Wisnu." Ibu Irma yang statusnya kakak kedua memperingatkan.
"Iya kak, biar lah aku juga masih rindu sama keponakan aku. Jadi ya nggak apa, biar mereka yang antar. Lagian mas Sugi juga lelah." Kembali membawa kopernya ke depan. Sementara Bian masih kekeuh tidak ingin pulang, tapi jika papinya berkata tidak, mau tak mau ia pun menurut.
"Hati-hati ya Bim, jangan ngebut." Mereka mengantar hingga ke depan halaman rumah, semua sudah tampak sepi. Mungkin para tetangga juga pada sudah tidur.
Dan malam ini hanya bude yang menginap, tidur bersama Tisha di kamarnya.
***
"Om, hati-hati ya? Berapa lama lagi pesawat take off?" Tanya Bima.
"Sekitar setengah jam lagi lah. Ya udah kalian pulang aja, udah larut malam. Hati-hati ya Bim bawa mobilnya. Kalau udah nggak sabar, belok aja ke hotel. Nggak apa-apa udah halal, kalau kemarin-kemarin kan belum jadi ya tidak boleh."
Apa ibu cerita tentang itu???
Bima hanya bisa tersenyum kikuk, begitu juga dengan Maudy.
"Bian, hati-hati ya adek kakak yang tampan. Jangan bandel, pokoknya nanti kalau resepsi aku om harus bawa Tante ya?" Memeluk sebelum pulang. Om Wisnu mengelus puncak kepalanya dengan kasih sayang. Saat Bian juga akan memeluknya, Bima langsung menarik Maudy dan menggantikan pelukannya.
Apa sih Bima!
"Kamu istriku." Bisiknya dan tersenyum ke arah Bian.
Mereka kembali pulang, dan kali ini jalanan sudah benar-benar sepi. Hanya satu dua kendaraan yang lewat. Sesekali Bima menguap, tanda bahwa matanya sudah ingin terpejam. Setelah melewati hari yang merubah statusnya menjadi seorang suami, sepertinya sangat melelahkan.
"Apa kita ikutin saran om Wisnu aja ya?"
"Nggak!" Dengan cepat Maudy menjawabnya.
"Nggak Bim." Mengulang lagi, setelah melihat Bima sudah mengeluarkan senyum nakal.
"Iya-iya." Mempercepat laju mobilnya. Lebih cepat lebih baik, batinnya.
***
Mereka sudah kembali ke dalam kamar, terlihat sudah pukul setengah satu malam. Semua juga sudah tidur. Mereka berdiri saling pandang, dan detik berikutnya ada senyum yang sama-sama terukir di bibir mereka. Tampaknya sudah waktunya. Bukan, bukan Unboxing tapi sudah waktunya untuk tidur.
"Bim, kamu tutup mata dulu ya?" Menurut dulu, Bima menutup matanya. Maudy tampak kesusahan membuka baju kebaya miliknya, untungnya sanggul sudah ia lepas sebelum pergi mengantar om nya ke bandara.
"Sudah?" Mulai sedikit mengintip.
"Belum, sebentar lagi."
Ya ampun susahnya.
Bima membuka mata dan langsung berjalan mendekat.
"Aku bantu."
"Bim." Cup. Langsung terdiam ketika Bima mengecup singkat bibirnya.
"Pelan-pelan Bim."
"Aw, sakit Bim, nyangkut."
"Sayang, sttt. Cuma buka kebaya sayang, kalau ada yang dengar gimana? Kirain kita ngapa-ngapain lagi." Maudy menahan tawanya.
Ya ampun, emangnya bakal di grebek apa!
"Sudah." Bima menatap tubuh yang masih setengah polos, dia juga lelaki normal. Matanya mulai menjelajah, tapi tidak dengan tangannya. Masih bisa ia tahan.
"Jangan begitu lihatnya, sana. Kamu lihat dinding dulu." Menurut lagi.
"Sudah?"
"Sayang, sudah belum?"
"Iya, sudah." Bima berbalik dan menatap Maudy yang hanya menggunakan hot pant dan tang top.
"Maaf ya Bim, disini AC nya nggak terlalu dingin." Naik ke atas ranjang.
"Kita langsung tidur ya?" Bima mengangguk, dan membuka seluruh pakaiannya, hanya menyisahkan celana boxer ketat miliknya. Membiarkan dada putih mulus terbuka begitu saja, menampakkan otot-otot tubuhnya.
"Sini?" Meminta Maudy mendekat. Maudy masih diam, ada beberapa ketakutan yang ia rasakan saat ini.
__ADS_1
Sakit nggak ya kira-kira?
--__