
Kiki, hari ini dia mengawali semuanya dengan yang baru. Menarik nafasnya lalu membuangnya secara Perlahan, merentangkan kedua tangannya di depan pintu dengan pakaian rapi siap untuk berangkat ke kantornya.
Kiki mulai melangkah keluar dan menuju mobil, tidak hari ini Kiki tidak diperbolehkan untuk membawa mobil. Karena mamanya sudah berjanji untuk menjemputnya hari ini. Dan sudah ijin ke Bima langsung agar Kiki tidak lembur hari ini karena ada urusan keluarga.
"Ki, jangan lupa. Kamu tunggu mama ya, nanti kita langsung ke salon." Berteriak di depan pintu.
"Siap ma. Aku pergi dulu." Melambaikan tangan lalu masuk ke dalam mobilnya.
Merelakan atau direlakan.
Ketika sampai di kantornya, Kiki menebar senyum mulai dari berjumpa securitty kantornya.
"Pagi pak."
"Pagi mbak Kiki." Tersenyum ramah dan membungkuk.
"Pasti mau dinner nanti malam sama mas Revan, makannya mbak Kiki tampak bersemangat." Securitty itu berbicara dengan temannya.
Sampai masuk ke kantor, Kiki yang lebih dulu menyapa pihak resepsionis yang baru saja datang dan meletakkan tasnya.
"Pagi mbak Ica." Tersenyum lagi.
"Hei Ki, pagi." Tersenyum tapi bingung, tak biasanya Kiki menegurnya duluan.
Kiki berjalan menuju lift kantor. Berdiri menunggu sampai pintu lift terbuka. Ada seseorang yang berdiri di sampingnya saat ini, Kiki tak peduli dia siapa. Yang terpenting bisa cepat masuk ke ruangan.
Tiba masuk di dalam lift, barulah Kiki menyadari kalau hanya ada dia dan Revan saja di dalam.
"Kok dari tadi aku perhatikan kamu senyum terus Ki? Lagi senang ya?"
Kiki mengangguk dan tersenyum lagi.
"Pasti lagi dapet bonus ya?" Menebak.
"Nggak tuh."
Ting, pintu lift terbuka. Kiki melangkahkan kakinya lebih dulu. Berjalan dengan cepat masuk ke ruangannya.
Kenapa kalau sudah berjumpa dengan Revan aku malah tak bersemangat untuk berjumpa anak teman papa nanti malam?
Kiki menggelengkan kepalanya pelan, ah rasanya Revan lebih menarik saat ini. Sabar, sabar begitu batinnya berbicara. Hati memang tidak bisa di bohongi.
Sialan, sepertinya aku memang menyukai pacar orang!
"Iya Dy?" Mengangkat telepon dari Maudy, padahal baru saja Kiki duduk. Kiki melirik ke arah Revan juga baru sampai dan mulai membuka laptop ketika sampai di mejanya.
"Kamu serius sama omongan kamu tadi malam? Aku udah tidur, jadi aku juga baru buka pesan dari kamu."
"Hehe, iya Dy. Doain ya semoga lancar, cocok dan berjodoh!" Sengaja menekankan kalimatnya dan berkata dengan lantang. Dan benar saja, Revan langsung menoleh sekilas lalu berpura-pura fokus lagi memulai kerjanya.
"Lalu Revan?"
"Dia sudah punya pacar!" Revan menoleh sekilas lagi. Bahkan berpura-pura menjatuhkan sesuatu agar Kiki juga melihat ke arahnya.
Kiki langsung bangkit dari duduknya dan berjalan menjauh, berdiri di samping pintu ruangan. Agar Revan tak bisa lagi mendengar perbincangannya dengan Maudy melalui telepon.
"Ah ya sudah. Semangat ya, jangan lupa tampil cantik malam ini."
"Pasti dong. Nanti juga mama aku jemput mau antar aku ke salon. Udah lama juga sih Dy aku nggak ke salon, sibuk kerja terus." Memainkan kuku jarinya.
"Iya-iya. Nanti jangan lupa kabari aku ya kalau udah berjumpa."
"Siap ibu bos." Maudy tertawa di seberang telepon.
Kiki kembali duduk di mejanya. Keadaan sekarang Hening, Kiki juga tidak mengharapkan Revan bertanya dan mengajaknya berbicara. Karena Kiki yakin, hal itu malah membuatnya goyah. Entah perasaan apa yang dia punya, tapi mendengar Revan memang sudah memiliki pacar membuatnya sedikit kecewa.
Kiki fokus, dengan membuat diagram akhir bulan perusahaan. Tak sedikitpun juga melirik ke arah Revan. Hingga jam istirahat, Revan yang keluar ruangan lebih dulu dengan wajahnya yang tak bersemangat. Berbeda dengan hati biasanya. Kiki membuka pintu ruangan, dan kaget ketika melihat Revan berdiri di samping pintu. Dengan menempelkan ponselnya di telinga kanan.
"Iya, sekarang aku sibuk. Nanti juga aku bakal temuin kamu." Kiki mendengar itu dengan jelas, lalu cepat-cepat pergi dari sana. Menuju pantry kantor.
Dan sekarang, Kiki selalu makan siang dengan bersama Amel dan Lusi. Bagi Kiki, kedua ibu muda itu sangat asik. Nyambung di ajak ngobrol, meski bicaranya sering ngawur. Tapi pengalaman mereka yang selalu di berikan oleh Kiki malah membuatnya nyaman. Seperti sekarang ini, terkadang Kiki juga berani menyuarakan isi hatinya, bagaimana suasana hati yang panas ketika melihat orang yang di sukai sudah mempunyai pacar.
"Kamu cari yang lain aja lagi Ki."
Amel mulai berbicara.
"Aman mbak. Nanti malam bakal ketemu, doain ya?"
"Eh sebentar. Sebenarnya siapa sih orang yang kamu sukai? Bukannya kamu hanya dekat dengan Revan ya selama ini?" Kiki langsung menggeleng.
"Bukan mbak. Ada deh. Intinya aku juga nggak tau suka atau tidak, cuma mungkin karena sudah dekat aja. Jadi sempat kecewa kalau ternyata dia udah punya pacar tanpa bilang ke aku gitu. Ya kan aku temannya, masak iya sih dia sendiri nggak kasih tau."
"Fix! Ini pasti Revan." Lusi seperti mengerti. Kiki diam dan tetap menjawab dengan menggeleng saja.
Sekarang mereka fokus makan, bergosip akan di mulai setelah makanan di piring sudah tandas. Sementara Kiki diam tetapi memikirkan sesuatu. Teringat kata-kata mamanya lagi yang melanjutkan cerita tentang anak dari rekan papanya.
"Tapi kan Ki, kalau seandainya kalian jodoh. Kamu juga bakal di bawa keluar kota."
"Kata papa sih, anaknya baik. Cuma sedikit cuek, makannya dia susah buat cari pacar. Tapi entah kenapa sewaktu papanya menawarkan untuk di kenalkan sama kamu dia nggak menolak."
Seperti apa ya wajahnya?
Kiki mulai memikirkan hal itu.
"Ki? Kok malah melamun sih?" Lusi mengebrak meja agar Kiki kembali sadar. Tak heran, memang begitu kelakuan Lusi, semua karyawan saja sampai menoleh ke arah mereka.
"Mbak, apaan sih. Mereka semua jadi lihatin kita?" Berbicara pelan.
"Kenapa? Mau apa mereka?" Kiki hanya bisa menundukkan kepalanya, begini nih memang Lusi. Tapi memang benar, tak ada yang berani menegurnya disini. Dia tak punya jabatan yang tinggi di kantor, tapi keberaniannya bisa diacungi jempol. Kalau Amel sih masih lewat.
"Ki, Minggu depan anak mbak ulang tahun. Kamu datang ya?" Amel berbicara setelah makanan di piringnya sudah tandas.
"Iya Ki, ajak aja tuh calon kamu." Kiki mengerutkan keningnya.
"Nggak bisa lah mbak. Paling juga bisa aku datang sendiri." Kiki mengambil air mineral kemasan, dan membukanya meneguk lalu menunggu hal apa lagi yang akan mereka bicarakan dengan memaksa mengajak seseorang yang spesial.
"Kenapa nggak bisa? Atau nggak kamu bareng sama Revan. Dia juga mbak undang kok. Soalnya kan dia dulu juga di bagian keuangan."
__ADS_1
"Oh gitu ya. Ya nanti aku tanya deh sama Revan ya mbak." Amel mengangguk.
"Pokoknya kamu harus datang ya!"
"Mau di kado apa nih mbak?" Amel tertawa kecil.
"Nggak usah deh, udah kamu datang aja."
"Ki, mbak mau tanya?" Kiki menoleh ke samping dimana Lusi duduk. Kiki mengangguk mempersilahkan Lusi untuk bertanya.
"Mbak dengar, kalau istri pak Bima itu sahabat dekat kamu ya?" Kiki ragu menjawab, dan akhirnya mengangguk. "Sedekat apa sih?" Kiki memainkan botol yang ada di tangannya. Memutar di atas meja. Sungguh dia bingung, karena kalau begini pasti semua akan tau dan berpikir tidak-tidak tentangnya.
"Mbak tau dari mana?" Amel dan Lusi saling pandang.
"Rina yang cerita. Dia bilang katanya kalau kamu itu sahabat istrinya Bima. Makannya kamu bisa langsung masuk dengan jabatan yang lumayan tinggi, jadi sekretaris Bima." Kiki tersenyum, sudah di duga. "Karena Rina sempat lihat kamu waktu itu dirumah sakit." Ucapnya lagi.
Kiki tersenyum lagi sebelum menjawab.
"Iya mbak. Bukan hanya istrinya, tapi juga Bima mbak."
Bima? Amel dan Lusi saling pandang lagi. Bahkan Kiki berani menyebutnya dengan sebutan nama saja.
"Kenapa mbak?"
"Enak dong kamu Ki kalau gitu." Ini yang membuat Kiki malas untuk menjawab. Pikiran mereka pasti tetap mengarah kesana.
"Enak gimana mbak?" Lagi, dia memancing. Ini semua karena Rina!!
"Ya kalau ada apa-apa kamu nggak pernah di tegur."
"Mbak." Tersenyum dulu. "Itu semua sudah takdirnya. Kami sudah berteman sejak SMA. Dan sampai sekarang." Sebenarnya tidak mau pamer. "Rina pasti sudah mengatakan banyak hal kan?" Amel dan Lusi mengangguk.
"Katanya juga kamu sebenarnya anak pengusaha. Orang tua kamu juga sama seperti keluarga Bima." Kiki sampai geleng-geleng kepala. Ternyata segitu bencinya Rina terhadapnya, sampai berani membongkar hal ini dengan karyawan kantor.
"Dan kalau itu benar, memangnya kenapa mbak?" Lusi langsung terdiam.
"Iya sih, nggak masalah. Berarti Kiki juga nggak sombong." Amel menyuarakan isi hatinya.
"Nanti aku bakal ajak mbak main kerumah aku ya?" Wajah mereka langsung berbinar.
"Beneran?" Kiki mengangguk, lalu melihat jam di tangannya dan berdiri.
"Iya nanti atur aja jadwalnya. Kita balik yuk mbak, waktu istirahat tinggal 10 menit lagi nih." Lusi dan Amel mengangguk, dan mereka berjalan bersamaan. Berbincang dan tertawa.
"Eh itu Revan Mel, kamu kasih tau aja sekarang sana?" Kiki menoleh, benar Revan ada di depan pintu ruangan mereka.
"Aku duluan ya mbak." Kiki langsung berjalan melewati Revan yang kini sudah di kepung oleh dua ibu muda.
***
Kiki harus sibuk di hari ini, berjalan bolak-balik dari ruangan keluar ruangan. Hanya untuk menyelesaikan diagram yang dia buat. Mengcopy beberapa berkas, dan sudah dua tiga kali Kiki kembali ke ruangan Rina, yaitu bagian ke ruangan. Karena laporan yang di buat salah. Dan itu membuat Kiki harus mengulangi pekerjannya dari awal.
Marah, jengkel jelas Kiki rasakan sekarang. Sampai mengebrak mejanya sendiri, begini kalau punya atasan yang terlalu lembut seperti Bima. Seharusnya dia menegur siapa yang membuat laporan ini.
"Kenapa Ki?" Revan yang kaget karena Kiki tiba-tiba saja menggebrak meja.
"Iya ini salah memang." Revan mengecek ulang semuanya.
"Kamu ambil laporan berkasnya dari mana?"
"Tadi aku ambil di meja kepala bagian. Aku nggak tau siapa yang buat. Ngaco tau nggak kerjanya." Memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Kamu sekarang jumpai pak Bima. Dan katakan padanya. Karena cuma pak Bima yang berhak menegur." Kiki mengangguk dan harus meninggalkan meja kerjanya lagi. Berjalan mondar-mandir keluar ruangan saja sudah banyak memakan waktu, jadi kapan lagi bisa memulainya, gerutunya dalam hati.
"Bim?" Bima mendongak. Tau, kalau yang memanggilnya dengan sebutan itu ya hanya Kiki.
"Kenapa Ki?"
"Bim, ini bagian keuangan yang kasih berkas ke aku salah Bim. Mana semuanya udah aku copy, belum lagi diagram yang aku buat. Masak iya aku harus ngulang ini dari awal lagi Bim?" Bima mengerutkan keningnya. Lalu membuka email yang sudah di kirim oleh Kiki, dan memegang berkas copyan laporan perusahaan.
"Panggil Revan kesini." Heh, Kiki menghentakkan kakinya dan membuang nafas kasar.
Revan datang setelah Kiki memanggilnya, mereka berdua berdiri di depan meja Bima. Wajah Bima sudah berubah, entah karena kasihan pada Kiki yang harus mulai semua pekerjaannya dari awal, atau memang karena marah dengan siapa saja yang membuat laporan semacam ini.
"Ini sudah termasuk penipu, penggelapan dana. Untungnya Kiki teliti memeriksa hasil akhir." Revan menarik nafas.
"Revan, kamu sekarang juga hubungi kepala bagian keuangan. Dan suruh orang yang sudah membuat laporan ini ke ruangan saya, sekarang!" Bima berteriak dengan lantang, Kiki juga sampai kaget.
"Ki, kamu balik aja keruangan kamu." Kiki mengangguk.
Ya ampun, batal deh nih malam ini, gimana mama??
Kiki dengan lesu berjalan keruangan, duduk dan kembali menatap layar laptop nya dengan tak bersemangat sama sekali. Sekarang, tugasnya apa juga Kiki tidak tau.
Lebih baik aku telepon mama sekarang.
"Hallo ma?"
"Ma, kayaknya aku lembur deh. Soalnya ada yang harus aku kerjakan, ada kendala tadi." Lesu.
"Ya udah nggak apa-apa, berarti kita nggak usah ke salon, nanti langsung aja pergi."
"Yah ma, harusnya aku kan tampil cantik."
"Hei, anak Mama memang sudah cantik. Sudah ya, kalau memang kamu beneran jadi lembur, kamu bisa telepon mama."
"Iya ma." Kiki kembali meletakkan ponselnya. Revan yang sedari tadi mendengar langsung berjalan ke mejanya.
"Kenapa Ki?" Kiki langsung menoleh dengan wajah lesunya.
"Ini nih harus siap hari ini juga ya? Padahal aku udah bilang ke Bima kalau nggak bisa lembur hari ini."
"Coba aku lihat." Kiki menatap serius layar laptopnya. Wajah mereka sudah terlalu dekat meski tak berhadapan, tapi Kiki jelas bisa menghirup aroma nafas Revan. Wangi rambut Revan juga bisa tercium, Kiki langsung menyadarkan diri sebelum terlalu jauh mengagumi.
"Ini bisa deh di lanjutkan besok sepertinya." Kiki menoleh, begitu juga dengan Revan. Pandangan mereka bertemu dengan jarak yang sangat dekat.
Deg.
__ADS_1
Deg.
Kiki langsung menjauhkan kepalanya, berpura-pura menatap ke layar laptop lagi.
"Iya? Bukannya besok sudah harus di prestasi kan ya?" Revan menggeleng.
"Kalau itu biasanya, pak Bima bisa maklum karena ini bukan kesalahan dari kamu. Lagian kalau kamu lembur buat ngerjain ini, sampai tengah malam pun belum tentu kelar." Ucapnya dan kembali ke mejanya.
"Memangnya kamu ada urusan yang penting sekali ya? Sampai kamu terlihat kecewa sekali jika harus disuruh lembur." Kiki mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu kamu pulang saja nanti. Itu biar aku yang kerjakan. Aku juga lagi santai, dan pak Bima hari ini nggak ada kunjungan keluar kantor."
"Beneran?" Revan mengangguk.
Kiki hanya menunggu laporan di perbaiki, dan di copy ulang. Dan itu dia sendiri yang harus mengambilnya. Lalu menyerahkan semua berkas kepada Revan.
"Sudah kan, itu sudah jam nya kamu pulang. Tapi sebaiknya kamu bilang dulu ke pak Bima."
"Iya itu pasti." Kiki membereskan mejanya terlebih dahulu.
"Ki?" Mereka sama-sama melihat ke arah pintu penghubung. "Kamu pulang aja sekarang. Mama kamu tadi barusan telepon aku." Kiki masih tercengang. "Iya aku kasih ijin kok. Itu bisa di lanjutkan besok kerjanya." Kiki langsung mengangguk.
"Revan, setengah jam lagi kita akan bertemu klien di luar. Kamu sebaiknya bersiap-siap. Kita nggak lembur di kantor." Revan mengangguk dan juga langsung membereskan mejanya. Berkas yang semula sudah ada padanya di kembalikan lagi kepada Kiki.
"Kamu simpan aja di laci meja kamu. Jadi besok pagi sudah bisa langsung kamu kerjakan."
"Eh iya, makasih."
"Hem, memangnya kamu ada keperluan apa? Apa papamu sakit?" Kiki menggeleng. Selesai dengan urusan meja Kiki langsung menyambar tas nya.
"Nggak, ada pertemuan malam ini dengan anaknya rekan papa. Dan aku kan juga harus ke salon dulu buat persiapan."
"Kamu di jodohkan?" Kaget dengan kalimat reflek yang begitu saja keluar dari mulut Revan. Kiki menjawab dengan anggukan.
"Kamu senang?" Kiki mengehentikan langkahnya.
"Iya." Jawabnya.
"Kenapa?" Lirih, wajahnya langsung berubah sendu.
"Mungkin karena aku tak kunjung menemukan jodohku." Deg. Revan terdiam, berdiri mematung di tempatnya dan hanya bisa melihat kepergian Kiki dari ruangan.
***
Kiki sudah duduk di dalam mobilnya, duduk di bagian belakang. Dan papa nya yang memegang kemudi dengan mamanya yang setia duduk di samping papanya. Penampilan Kiki malam ini sudah totalitas, seperti memang sudah siap menerima perjodohan ini dan segala konsekuensinya. Sebegitu kecewa dan putus asanya Kiki yang melihat semua temannya sudah menikah bahkan sudah memiliki anak.
Kiki memakai gaun berwarna merah selutut. Rambut yang biasa selalu dia gerai kali ini mamanya menyarankan untuk menguncirnya tinggi. Polesan make up yang selalu Kiki gunakan juga sudah cocok menempel di wajahnya yang agak lonjong.
Heels yang dia pakai juga tidak terlalu tinggi, berwarna hitam senada dengan jam tangan mungil yang dia pakai. Sebenarnya ada rasa ragu dan khawatir, takut kalau anak rekan papanya ini sombong dan memandang rendah penampilannya malam ini. Jantungnya juga mulai berdegup.
"Ki?" Mamanya menoleh ke belakang, melihat anaknya yang duduk gelisah di dalam mobil. Berkali-kali memanjangkan lehernya untuk melihat sudah sampai dimana. Dan berkali-kali melihat wajahnya melalui kamera ponselnya.
"Kamu pasti deg-degan ya?" Kiki langsung mengangguk dan nyengir. Jelas, ini adalah yang pertama kalinya seumur hidup harus merasakan yang namanya perjodohan. Memulai sebuah hubungan serius dengan orang yang sama sekali tak di kenal dan belum pernah bertemu.
"Tenang, kan sudah papa bilang dia anaknya baik, sopan. Hanya saja, memang terkesan cuek." Kiki mengangguk saja.
45 menit perjalanan, mereka sampai di restoran bintang lima. Tempat dimana waktu itu Kiki makan dengan Revan. Ah Revan lagi, pikirnya.
"Ayo Ki kita turun." Kiki langsung menyambar dompet miliknya, saat baru menurunkan satu kakinya terdengar bunyi notif pesan di ponselnya.
"Ki, kenapa kamu mau di jodohkan? Kan aku sudah bilang masih banyak yang mau sama kamu."
Heh, kenapa Revan selalu bilang begini sih? Gerutunya setelah membaca pesan. Lalu mengabaikan dan hanya membacanya saja.
Kiki berjalan dengan di gandeng oleh mamanya. Papaya yang sudah tau dimana mereka akan bertemu malam ini berjalan lebih dulu. Matanya mulai liar saat menginjakkan kakinya masuk ke dalam, melihat mana orangnya, yang duduk hanya dengan seorang laki-laki paruh baya.
"Ma disana." Papanya menunjuk ke arah kiri. Ada yang duduk di sana, di sudut bangunan. Kiki tak bisa melihat seperti apa wajahnya, karena duduknya mereka saat ini membelakangi.
Kiki terus saja berjalan mengikuti, mamanya langsung mengelus lengannya ketika mereka sudah sampai.
"Willi?" Papanya menegur, seorang laki-laki paruh baya itu langsung menoleh ke belakang. Dia tersenyum, begitu juga dengan anaknya. Menoleh ke belakang, tersenyum ramah kepada papanya dan juga Kiki.
Deg.
Tampan sekali!!!
"Mari duduk. Ini buku menunya, silahkan langsung pesan. Aku juga baru sampai." Ucapnya, dan mengalihkan pandangannya ke arah Kiki. "Ini anakmu Tian?" Papanya Kiki mengangguk dan tersenyum, begitu juga dengan Kiki. Dia langsung mengulurkan tangannya ke arah om Wili. Memperkenalkan dirinya, dan lanjut perkenalan dengan anaknya om Willi.
"Niko." Ucapnya ramah dan tersenyum.
"Kiki." Lagi, saat ini jantungnya benar-benar sudah tak bisa di kendalikan.
Setampan ini? Mana mungkin tidak punya pasangan.
Lanjut dengan makan malam, sebelum membahas soal perjodohan yang akan di lakukan mereka. Kedua insan ini tidak saling menolak saat sebelum melakukan perjumpaan sudah di katakan oleh orang tua kalau akan di kenalkan dengan anak rekannya. Baik itu Niko ataupun Kiki.
"Cocok nih, kalau punya anak nantinya bisa diberi nama 'Niki' Niko dan Kiki." Om Willi selaku papa dari Niko menyeletuk begitu saja, Kiki hampir saja tersedak mendengar nya.
"Papa." Suara lembut dari Niko yang memperingatkan papanya.
"Jadi, gimana Tian? Apa anak mu mau jika di jodohkan dengan anakku?" Deg. Kiki yang semula menunduk langsung mendongakkan wajahnya, dan saat itu juga Pandangannya bertemu dengan Niko. Niko tak memperlihatkan ekspresi apapun. Baik itu senang atau tidak. Kiki tak tau.
Padahal baru saja selesai makan, om Willi sudah langsung to the point.
"Begini saja, kita serahkan kepada Niko dan Revan." Papa Tian menjawab dengan bijak.
Papa memang yang terbaik.
"Aku mau om. Tapi bisakah malam ini aku mengajak Kiki keluar berdua? Untuk mengenalnya lebih dekat." Deg. Lagi-lagi, Kiki harus dibuat jantungan dengan lelaki tampan di hadapannya ini.
"Silahkan, memang seharusnya begitu nak Niko. Kami selaku orang tua hanya bisa mendukung kalian. Pergilah, hati-hati. Pastikan kamu mengantar Kiki pulang nanti dengan selamat."
Ah papaaaaa...
Antara senang atau tidak, yang pasti saat ini Kiki masih bisa tersenyum sebelum Revan terus menghubunginya ketika sedang berada berdua dengan Niko di dalam mobil.
--__
__ADS_1
Hayo? Kiki sama siapa nih ya? Soalnya sebelum tamat semuanya harus happy ending loh ya