
Panik, itu juga yang di rasakan mamanya Kiki setelah menerima telepon. Bahkan langsung berlari ke kamar anaknya untuk memberi kabar.
"Ki, buka pintunya Ki. Kita kerumah sakit sekarang!" Menggedor-gedor pintu dengan keras.
"Ki?" Lagi, sampai terdengar suara Kiki menyahut dari dalam.
"Kenapa ma?" Penampilan Kiki yang masih acak-acakan, dengan rambut yang berantakan.
"Maudy Ki, Maudy masuk rumah sakit. Tadi Tisha telepon mama, bahkan sudah ada beberapa panggilan tak terjawab karena mama juga baru sampai."
"Kenapa dengan Maudy ma?"
"Udah kamu cepetan siap-siap, kita kerumah sakit sekarang." Kiki mengangguk lalu kembali menutup pintu, tidak ada poles memoles wajah, keadaan masih genting. Mamanya juga enggan untuk beristirahat dirumah walaupun hanya sebentar, padahal ia juga baru saja sampai dari luar kota untuk mengurus usahanya disana.
"Sudah ayo berangkat?" Mereka melangkah keluar rumah, pergi menuju rumah sakit dengan di antar supir, karena saat ini papanya masih berada di luar kota.
"Ma, apa Tisha nggak bilang karena apa? Kenapa Maudy bisa masuk rumah sakit ma?" Kiki yang masih penasaran akan penyebabnya jelas bertanya.
"Apa kamu nggak lihat berita?" Menoleh ke arah Kiki, dan Kiki langsung menggeleng.
Berita dimana? Televisi? Aku malah melihat siaran langsung yang ada di sosial medianya Agam, yang memperlihatkan pernikahannya
"Bima, dia ada di dalam pesawat yang kecelakaan, lalu Maudy syok dan mengalami kontraksi." Hah?
"Ma? Aku nggak salah dengarkan?" Mamanya menggeleng.
Ya Tuhan, Maudy, Bima!
"Pak cepetan dikit." Setelah tau Kiki makin gelisah di dalam mobil. Melihat ke arah depan, berharap tidak ada kemacetan walau sebentar.
***
"Dy?" Kiki langsung masuk kedalam ruangan bersama mamanya. Raut wajah sedih jelas terlihat.
"Dy, kuat ya?" Memeluk tubuh Maudy yang terbaring lemah. Maudy hanya bisa menjawab dengan anggukan.
"Mbak, yang sabar ya?" Mengusap bahu ibu Irma dengan lembut.
"Makasih ya mbak." Setiap kali ada yang mengucapkan sabar ya, selalu saja air mata yang tak bisa di bendung.
"Tinggal menunggu kabar Bima, katanya sudah ditemukan." Dengan suara parau ibu Irma berbicara.
"Selamat kan mbak?" Ibu Irma menggeleng pelan.
"Belum tau, papanya sedang di perjalanan menuju kesana." Menoleh ke arah Maudy yang masih bersama Kiki.
"Kita keluar aja ya mbak duduk di luar, biar Kiki yang jaga Maudy. Mungkin dia akan merasa lega ketika berbicara dengan temannya." Ibu Irma mengangguk, dan tante Ratih menuntunnya keluar, ikut duduk bergabung dengan yang lainnya.
Terlihat wajah pucat dari mama Lisa, keadaannya sangat lemah. Siska yang terus menguatkan berada di sampingnya, dan ayah dia tidak ada disini. Mungkin dia berada di halaman rumah sakit untuk sekedar menenangkan pikiran dari masalah ini.
"Siska, coba kamu telepon Rio, gimana Bima?" Siska mengangguk lalu berjalan sedikit menjauh.
"Mbak, belum makan kan? Kita makan dulu ya, biar aku beli makanan di luar?" Mama Lisa menggeleng. "Mbak, kita sama, tapi kita jangan sampai sakit."
"Iya mbak." Ibu Irma berjalan menjauhi ruangan, dia tau betul, sedari pagi mertua dari anaknya belum ada makan apapun, kalau dibiarkan semuanya seperti ini tanpa ada yang memperingatkan malah semuanya akan sakit. Dengan langkah yang lemah ibu Irma mencari makanan di luar rumah sakit.
"Bu, ibu mau kemana?" Suara yang familiar membuatnya menoleh ke samping.
"Ayah, ayah ngapain disitu? Ibu mau cari makanan, dari pagi mamanya Bima belum makan yah." Berjalan mendekat.
"Ibu balik aja sana, biar ayah yang beli." Ibu Irma mengangguk, melihat wajah suaminya, sepertinya lebih menyedihkan dari dirinya sendiri.
***
"Saya keluarga Bima Adi Nugroho, salah satu penumpang pesawat, tadi sudah di beri kabar oleh pihak berwajib kalau Bima sudah di temukan, mana dia sekarang?" Rio berdiri tepat di sampingnya, biar saja papanya yang bertindak duluan.
"Sebentar pak, akan saya check namanya." Papa Adi sudah berdiri dengan gelisah.
"Pa, sabar."
"Pak, atas nama Bima Adi Nugroho, dia sudah di bawa kerumah sakit, karena ditemukan masih dalam keadaan bernyawa."
__ADS_1
"Katakan rumah sakit mana."
"Rumah sakit PERMANA. Silahkan bapak pergi kesana." Dengan cepat berbalik menuju mobilnya, Rio sampai kuwalahan mengikuti langkah papanya.
Jadi ini alasan Bima kenapa terasa berat sekali untuk pergi kesana.
"Rio, kalau bisa lebih cepat."
"Pa, papa tenang. Kalau kita ngebut malah terjadi sesuatu kepada kita, itu akan menambah masalah. Yang terpenting sekarang Bima masih selamat pa." Papa Adi diam, karena yang di katakan Rio benar adanya.
"Adik kamu Rio, ya ampun papa nggak sanggup." Mengusap wajahnya dengan kasar, membuang pandangannya dan mengetuk jarinya di jendela mobil. Seperti sudah tak sabar ingin cepat bertemu anaknya.
"Pa, Bima kan nggak berangkat sendiri. Bagaimana keadaannya anak itu pa, apa dia selamat juga?" Papa Adi langsung menoleh.
"Dengan siapa? Apa sekretarisnya?"
"Bukan pa, tapi dengan Revan. Revan yang papa ceritakan kepada Bima dan aku, kalau kinerjanya bisa di akui sangat bagus." Papa Adi langsung membulatkan matanya.
"Bima nggak bilang ke papa."
Ya ampun, kenapa harus ada masalah seperti ini.
"Lagian yang buat papa bingung, kenapa Bima pulang nggak beri kabar apapun, bagaimana dia disana juga tak memberi kabar."
"Pa, inikan rumah sakitnya?" Rio menunjuk di depan sudah ada rumah sakit sesuai yang di beritahukan. Dan papa Adi mengangguk.
"Papa turun aja duluan, nanti aku nyusul. Ini Siska telepon soalnya." Papa Adi mengangguk, beliau jalan dengan tergesa-gesa. Menuju meja resepsionis rumah sakit, menanyakan pasien yang bernama Bima.
"Di ruangan ICU pak, keadaan lagi kritis." Deg, doa yang terucap pertama kali, semoga Bima bisa melewati itu semua.
"Baik, terima kasih."
Sepanjang lorong rumah sakit, banyak keluarga yang sudah menangis di depan ruangan, memeluk satu sama lain. Melihat ada beberapa korban yang mungkin tidak lagi bisa di selamatkan ketika sampai dirumah sakit, ruangan yang terbuka menampakkan sosok tubuh yang sudah di tutupi mulai dari atas kepala. Dan siap untuk di bawa pulang kerumah duka. Beliau terus berjalan, hingga sampai dimana ruangan anaknya di rawat.
"Dokter, saya mau masuk, saya orang tuanya." Dokter langsung mengenali siapa yang sedang bertanya dengannya.
"Bapak Adi Nugroho?" Beliau mengangguk. "Apa pasien yang bernama Bima ini anak anda? Korban kecelakaan pesawat?" Mengangguk lagi, ah rasanya tak sabar untuk mengetahui keadaan Bima sekarang, malah seperti di interogasi, menjawab dengan pertanyaan juga.
"Begini pak, Bima mengalami cedera parah di kepala, kami sudah melakukan tindak operasi, maaf untuk itu kami tidak menunggu persetujuan dari pihak keluarga, karena ini menyangkut nyawa pasien. Kita tinggal menunggu hasil, dan ada patah tulang di bagian lengan kirinya."
"Apa efek dari ini nantinya?"
"Kesembuhan akan tetap terjadi jika Tuhan berkehendak, tetapi itu memakan waktu satu tahun." Papa Adi menunduk, menyesali semuanya, andai dia yang pergi pasti tidak akan terjadi hal seperti ini.
"Saya mau anak saya di pindahkan rumah sakit, sekarang." Ha?
"Tapi pak?"
"Biarkan semua alat terpasang di tubuhnya, saya yakin anak saya selamat. Biar dia di rawat di rumah sakit yang jauh lebih bagus." Dokter tidak mampu berkata, tau bagaimana seorang Adi yang ada di hadapannya ini.
"Saya tunggu 30 menit dari sekarang." Lalu pergi keluar ruangan. Ini juga pernah terjadi beberapa tahun lalu, dimana Bima kritis akibat pengeroyokan diluar negeri, itu saja yang berbeda negara beliau tetap ngotot untuk membawa anaknya pulang.
"Pa? Bagaimana?"
"Ambulance akan segera membawa Bima."
"Hah? Maksudnya papa? Bima? Bima sudah meninggal pa? Ya Tuhan Bima!!" Rio melemas, dan terduduk di lantai, air mata mengalir deras. Tatapan para penghuni rumah sakit saat ini tertuju padanya, sesayang itulah Rio dengan adiknya, meski terkadang Bima selalu menyusahkannya, tetapi itu hal biasa dalam ikatan persaudaraan.
"Bangunlah, Bima akan pindah rumah sakit." Rio mendongakkan wajahnya, menghapus air mata dan mengentikan isaknya.
"Pa? Serius? Bima baik-baik aja kan pa?" Papa Adi tidak menjawab lalu pergi dan menunggu di dalam mobil.
"Kita menunggu disini pa? Apa kita kabarin mama sekarang?"
"Tidak usah, nanti saja kalau sudah tiba. Bima akan di rawat di rumah sakit yang sama dengan Maudy." Rio mengangguk saja.
Melihat jam di tangannya, sudah 20 menit berlalu, pandangan masih tetap mengarah ke rumah sakit. Terlihat ambulance siaga berada di depan, dan tak lama keluar pasien yang sedang berada di ranjang, dengan di kawal beberapa perawat dan dokter.
Dia Bima, dia Bima anakku.
Matanya memanas melihat pemandangan yang tak pernah ia inginkan saat ini, bahkan Bima sudah tak di kenali jika di lihat dari manik matanya. Bima yang tubuhnya terpasang dengan seluruh alat, dan kepala yang seluruhnya di perban. Perlahan air mata itu menetes, mengiringi suara sirine ambulance yang mulai pergi menjauhi halaman rumah sakit.
__ADS_1
Malam ini, rintik gerimis datang. Matanya tetap menatap lekat ambulance yang berada tepat di depan mereka, seluruh pengendara lain tampak minggir ketika sudah mengetahui bahwa ada ambulance, memang sengaja sirine di hidupkan, guna membantu kecepatan agar cepat sampai. Kalau tidak, para pengendara yang berada di jalan raya tidak akan mau memberi jalan.
Hingga tiba di rumah sakit, tampak dokter dan perawat sudah stay menunggu disana, Bima segera di turunkan, dan mereka membawanya dengan berlari kecil melewati setiap lorong rumah sakit. Hingga memasuki ruang ICU, Adi Nugroho di larang untuk masuk. Semua akan di tangani oleh dokter.
"Tunggu saja pak, soal perkembangan akan kami beri tahu nanti. Biarkan kami memeriksanya dulu."
"Pa, ayo kita kesana, sebaiknya kita memberi tau mama dan yang lain kalau Bima juga ada disini." Dengan berat hati papa Adi meninggalkan ruangan dimana anaknya di rawat saat ini.
Langkah demi langkah untuk menuju keruangan Maudy, ia menundukkan kepalanya. Lelah jangan di tanya, satu hari ini papa Adi mondar-mandir mencari kabar anaknya, hingga sore dan bahkan malam ini tidak ada kata istirahat untuknya. Tapi melihat hasil bahwa anaknya masih selamat, ada kelegaan sedikit di hatinya. Meski belum mendapat hasil akhir, yaitu Bima bisa sadar kembali.
"Papa, pa? Gimana Bima pa?" Mama Lisa langsung berdiri dan menghampiri suaminya.
"Ma, tenanglah."
"Bima masih kritis." Wajah tegang sudah terlihat dari semua yang mendengarnya.
"Dia sedang berada diruang ICU sekarang. Di rumah sakit ini juga, baru saja di pindahkan."
"Alhamdulillah." Mereka serentak mengucapkan syukur. Tapi tunggu, ini kan berita duka, kenapa mereka malah mengucap syukur? Batin papa Adi.
***
"Gimana keadaan anak saya dok?" Ayah Subi kembali bertanya dengan dokter setelah Maudy kembali di periksa.
"Semua sudah terlihat baik, tinggal pemulihan. Pikiran yang tidak tenang itu mempengaruhi kelemahan fisiknya. Tapi sekarang semua sudah normal, baik tensi ataupun kandungannya semua baik."
Berkali-kali ayah Subi mengucap syukur. Dan, mungkin ini juga di karenakan Maudy sudah mendengar kalau Bima selamat atas tragedi kecelakaan pesawat. Janin di dalam perutnya juga sudah kembali aktif, sepertinya merekalah penyemangat nya saat ini.
Ayah masuk ke dalam ruangan, melihat Maudy yang sudah bisa tersenyum menatapnya.
"Ayah." Suara lemah yang terdengar nyaris mengiris hati.
"Yah, bisakah aku bertemu Bima sekarang?" Ayah dan ibunya saling pandang. Sekarang tinggal mereka berdua yang menunggu Maudy di ruangannya. Sementara mama Lisa dan papa Adi, mereka menunggu Bima di luar ruangannya.
"Yah?" Maudy mengulang panggilannya.
"Begini nak, kamu sabar ya, Bima belum bisa di jenguk, dia sedang berada diruang ICU. Besok saja ya? Ini juga sudah larut malam." Mata Maudy kembali sayu, seperti ada kekecewaan disana.
"Bu?"
"Dy, sebaiknya kamu mendengar apa yang di katakan ayahmu."
"Tolong bu, lima menit juga nggak apa-apa, aku hanya ingin melihatnya."
Ayah berjalan keluar, tanpa mengatakan apapun. Entah apa yang akan dia lakukan, ibu dan Maudy juga tidak tau.
"Bu, apa ayah marah sama aku?" Ibu hanya bisa menggeleng pelan.
Beberapa menit, ayah kembali dengan seorang dokter dan suster yang sudah menyiapkan kursi roda.
"Ayo saudara Maudy, saya antar keruangan Bima." Maudy langsung menoleh ke arah ibunya, dan berpaling ke ayahnya. Ayahnya tersenyum dan mengangguk.
"Makasih yah."
***
Maudy menatap lekat sosok lelaki yang terbaring lemah di hadapannya, air mata jelas menetes. Bunyi alat yang mendeteksi detak jantung Bima jelas terdengar di telinga Maudy, entah apa yang akan terjadi di kehidupannya kalau bunyi itu berhenti.
"Bima, aku disini Bim. Kamu bisa dengar aku Bim?" Maudy bahkan sampai menggeleng tidak percaya, apa benar ini Bima? Apa benar dia Bimaku? Batinnya terus berperang.
"Bim, kamu tau nggak, aku nggak bayangin kalau kamu sampai nggak di temukan, aku nggak mau mengurus anak kita sendiri, kamu tau kan Bim? Kamu punya janji sama aku untuk membangun sekolah. Kamu ingat kan?" Maudy tertawa kecil, mengingat itu semua. Harapan saat ini, Maudy ingin melihat Bima sadar dan bisa mengerti kalau dia ada di sampingnya.
"Saudara Maudy, sebaiknya anda kembali ke ruangan ya? Ini sudah 10 menit."
"Bima..." Lirihnya.
Tuhan, tolong suamiku, tolong berikan dia kekuatan untuk bertahan.
--__
Eh author nulisnya nangis huhu, sedih sekali rasanya
__ADS_1