
Kedua orang tua sudah duduk menunggu, karena mendapat kabar Tisha sudah di temukan. Terutama ibunya, wajahnya sudah tak semurung tadi, tapi tetap saja khawatir masih tersirat disana.
Hingga terdengar suara deru mesin mobil, ibu akan bangkit dari duduknya, tapi tangannya di cekal suaminya. Dan menggelengkan kepala, bahwasanya jangan, biar mereka saja yang masuk.
Dan suasana malam ini kembali hening, suara derap langkah jelas terdengar di telinga kedua orang tuanya. Ayah mengatur nafas agar tidak kembali emosi, sementara ibu sudah celingak-celinguk melihat ke arah pintu. Detik berikutnya, menampakkan sosok Tisha yang masuk dengan menundukkan kepalanya.
"Duduk disini." Kiki menuntun Tisha untuk duduk di sofa bersama orang tuanya. Dia benar-benar masih menundukkan kepalanya. Maudy di gandeng oleh Bima, ikut duduk juga disana.
Lelah tak bisa Maudy tutupi, bahkan ia sudah ingin langsung masuk ke kamar, tidur tanpa membersihkan diri lagi.
Penjelasan demi penjelasan di katakan oleh Bima, ayahnya sesekali menggeleng, belum percaya dengan apa yang di katakan Bima.
"Apa itu benar Tisha?" Dia diam.
"Tisha jawab?" Ibunya sudah menangis sekarang, membayangkan hal apa yang di lakukan anaknya dengan anak lelaki seusianya? Ah ya ampun, hati orang tua sangat teriris rasanya.
"Aku berani sumpah bu, aku nggak melakukan apapun, hal di luar batas. Dia cuma temanku, aku yang memaksanya untuk ikut." Jawaban yang sama seperti saat Maudy menanyakan.
"Ibu dan ayah silahkan bawa aku ke dokter, periksa semuanya. Aku masih suci bu." Tisha mencoba meyakinkan, walaupun dengan suara parau karena dia juga menangis terisak.
"Tisha, ibu mohon jangan lakukan itu lagi. Ibu tidak pernah memberi larangan kamu untuk keluar kan?"
"Ini semua juga karena ayah bu, ayah selalu bandingkan aku sama mbak. Ayah selalu nggak adil, dalam hal apapun."
"Tisha!!" Maudy membentaknya dengan keras. Emosinya memuncak, tidak begitu kenyataannya.
"Sayang?" Bima mengingatkan.
"Emang benar kan mbak? Memang gitu kan? Apalagi sekarang mbak dapat suami tajir, ayah makin bangga sama mbak! Kalau aku apa mbak? Juara kelas juga tidak pernah." Maudy menggelengkan kepalanya, sungguh emosinya tidak dapat turun begitu saja.
Walau ruang tamu lebar, tapi baginya terasa sempit. Nafas yang naik turun karena emosi. Untuk menyuplai oksigen juga terasa susah.
"Tisha, jaga ucapan kamu? Disini ada kak Bima!" Membentak lagi. "Kamu tau kan? Bahkan ayah merelakan mbak kuliah di luar negeri, di biayakan orang lain. Karena apa? Karena ayah tau uang tabungan yang dia miliki hanya untuk biaya kuliah kamu Tisha. Tapi rezeki datang sama aku, aku menikah dengan Bima dan bisa membangun usaha. Dan apa? Kak Bima juga berjanji untuk menanggung semua seluruh biaya kuliah kamu nanti? Apa kamu nggak sadar kalau sebenarnya kamu itu istimewa??" Maudy langsung berdiri, meninggalkan semuanya yang masih duduk disana. Termasuk Kiki, ia ikut merasa sakit dengan ucapan Tisha.
Maudy berlari ke arah kamar, nafasnya masih naik turun. Air mata terus mengalir, ia langsung menjatuhkan dirinya di kasur. Memeluk bantal layaknya anak-anak yang tengah sedih. Memang, tak pantas rasanya bertengkar di hadapan suami. Ya ampun, kenapa adikku jadi begini? Pergaulan apa yang mempengaruhinya?
"Sayang? Hei?" Menutup pintu dan berjalan mendekat ke istrinya.
"Sayang?" Mencampakkan bantal secara asal, menyibakkan rambut yang menutupi wajah Maudy.
"Aku malu Bim hiks, aku malu dengan kelakuan Tisha di hadapan kamu." Bima menarik tubuh Maudy untuk duduk, dan memeluknya.
"Dia masih remaja, dia tidak bisa mengontrol emosinya? Sayang sudah ya? Sebentar lagi rumah kita sudah jadi, kita langsung pindah nanti." Memeluk dan memeluk, menciumi puncak kepala Maudy berulang-ulang.
"Hiks.." Masih terus menangis.
"Sudah, kamu tidur ya? Mau apa? Mau makan dulu? Atau mandi dulu?" Maudy menggeleng dalam pelukan Bima.
"Sayang, sudah diam ya?" Bingung sendiri karena melihat Maudy tak mau mengentikan tangisnya.
Di sela-sela tangisan Maudy, Bima menghiburnya dengan menceritakan kenangannya sewaktu kecil, harus jatuh dari sepeda karena tidak tau yang namanya rem. Dan menangis waktu telat di jemput oleh mamanya di sekolah. Padahal, tidak sama sekali terdengar lucu. Tapi Maudy langsung menghapus air matanya, mengentikan tangisnya. Dan mendongak mendengarkan cerita Bima.
"Kamu tau sayang, bahkan aku pernah kehilangan mama sewaktu belanja di mall, kalau nggak salah sewaktu umur aku masih 6 tahun gitu, tapi aku masih ingat sayang." Bima tertawa sendiri membayangkan hal itu, dan Maudy dia ikut tersenyum. Bima menatap lekat dan langsung mencium setiap bagian wajah Maudy. Memainkan hidung dan lanjut cerita lagi.
"Terus, gimana kamu ketemu mama?" Berbicara dengan suara parau. Bima tau, dia langsung mengambil tissue dan menyuruh Maudy membersihkan cairan bening yang menyumbat hidungnya.
"Makasih sayang." Sroott suara yang di keluarkan Maudy, Bima masih santai dan tak terlihat merasa jijik.
"Ya aku cari mama, aku nangis lah sayang. Terus ada securitty datang. Dia bantu aku nyari mama pakai Mikrofon. Akhirnya mama datang."
"Gitu aja ceritanya Bim? Pendek sekali?" Bima tertawa. Dia berdiri dan membuka pakaiannya, menyisahkan boxer ketat yang selalu ia pakai.
"Sayang, ini sudah malam sekali. Kita tidur ya?" Memegang puncak kepala Maudy. Maudy juga langsung mengangguk, tanpa berganti pakaian lebih dulu, sekedar mencuci muka juga tidak dia lakukan. Rasanya ingin melangkah keluar kamar lagi sungguh merepotkan.
Bima sudah memeluknya sekarang. Dan besok, Bima juga sudah harus kembali ke kantor.
"Bim?" Mendongak.
"Hem." Sepertinya dia benar-benar lelah sekali, baru beberapa menit saja sudah terpejam.
"Kiki gimana Bim? Dia pulang naik apa? Bim, besok aku kerumah Kiki ya setelah kamu berangkat ke kantor, aku mau minta maaf dan mengucapkan terima kasih."
"Iya sayang." Bergumam, untuk membuka mata sudah tak mampu lagi. Kenyamanan dengan tidur memeluk istri jauh lebih indah dari pada memeluk guling yang tak berbentuk, ah ya itu memang jelas.
Keduanya sudah tertidur sekarang, dengan posisi yang masih sama. Dengkuran halus juga terdengar dari mulut mereka.
***
Ramainya suasana kantor saat ini, berdiri di depan pintu masuk, banyak yang tak mengenali. Tau kalau atasan mereka sudah menikah, tapi tidak tau seperti apa istrinya.
__ADS_1
"Maaf mbak, saya mau masuk keruangan pak Bima." Berbicara lembut kepada resepsionis kantor. Ibunya bilang, tidak salah jika mengantar makanan ke kantor. Dan hari ini, Maudy berniat mengantarkan tanpa memberi tau Bima terlebih dahulu.
Dan soal Tisha, dia meminta maaf ketika melihat Maudy keluar kamar tadi pagi, memeluknya sambil menangis. Ah seorang kakak juga tidak mungkin bermusuhan dengan adiknya kan.
"Tunggu sebentar ya, apa sudah buat janji sebelumnya mbak?" Maudy menggeleng pelan, memang dia tidak membuat janji.
"Beliau akan ada rapat dua jam lagi, mungkin tidak bisa di ganggu." Heh Maudy menghela nafas. Lalu berbalik badan dan berjalan lesu dengan membawa kotak bekal di tangannya. Mau bilang aku istrinya dikira sombong, dikira mereka aku menganggarkan suamiku! Batinnya menggerutu. Sampai di depan pintu kantor, satu tangan sudah memegang handle pintu, tapi satu tangannya di tarik, secepat kilat Maudy menoleh dan menampakkan wajah murungnya.
"Ibu, eh iyakan? Ibu disini?" Mata Maudy langsung berbinar.
"Kak Sun?" Sundari langsung memasang telunjuk di bibirnya.
"Jangan memanggilku kakak disini." Berbisik pelan, melirik ke arah sekitar. Resepsionis yang berdiri menatap mereka dengan penuh selidik, dahinya sampai berkerut, kenapa Sundari memanggilnya ibu? Apa ibunya semuda itu? Batinnya terus bertanya dan menatap lekat ke arah mereka.
"Mari ikut saya, ibu mau kasih bekal ke pak Bima kan?" Maudy mengangguk. Sundari berjalan di samping Maudy, dan resepsionis bertanya melalui tatapan matanya.
"Dia istri bos kita, pemilik perusahaan." Langsung terdiam, mulutnya masih terbuka.
Kalau dia mengaduh gimana? Cantik istri pak Bima, natural.
Lorong sudah terlewati, kini tiba mereka masuk ke dalam lift berbarengan dengan karyawan lain. Mata penuh tanda tanya jelas terlihat jika ada orang asing yang masuk kantor. Berpikiran bakal ada karyawan baru.
"Mbak Sun, bakal ada gebetan baru kita nih di kantor. Cantik lagi?" Maudy tersenyum ramah, sementara Sundari malah menunduk. Maudy menggeleng ketika dia akan menjelaskan siapa dirinya. Baginya tak perlu begitu, itu sama saja pamer.
Wajar jika mereka tidak tau karena pernikahan Bima masih sebatas mengesahkan saja. Nanti kalau sudah di lakukan resepsi juga bakal tau semuanya.
"Mbak, boleh minta nomor ponselnya?" Mendekat setelah keluar dari lift. Maudy tersenyum lagi dan Sundari langsung menariknya tangannya menuju ruangan Bima.
"Seharusnya ibu jawab saja kalau ibu suami pemilik perusahaan, nggak sopan!" Menggerutu dan lalu mengetuk pintu.
"Kamu masuk duluan aku disini." Berbisik, sepertinya benar-benar akan menjadi kejutan untuk Bima.
"Pak, ada yang mencari bapak?" Maudy mendengarkan di balik pintu.
"Siapa?" Tak mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Wanita pak. Dia sudah berdiri di luar." Kali ini Bima menoleh ke arah pintu yang tertutup.
"Suru dia masuk." Lanjut lagi, memeriksa setiap laporan yang akan di bahas ketika rapat nanti.
Maudy masuk dan mengucap "selamat siang pak"
"Apa bapak sibuk sekarang?" Sundari mengalihkan pandangannya, bahunya naik turun menahan tawa.
"Iya." Menjawab dengan singkat. Maudy sengaja melembutkan suaranya, agar tak bisa di kenali. Ia berjalan mendekat ke arah meja, menenteng bekal dan meletakkan di meja Bima.
"Makan siangnya pak, dari istri tercinta." Berdiri tepat di hadapan Bima.
"Sayang??" Langsung berdiri, berjalan ke arah Maudy. Mengusir Sundari keluar dengan tangannya.
"Kenapa nggak bilang kalau mau kesini?" Cium pipi, kening, bibir ah semuanya.
"Bima, nanti ada yang lihat." Mendorong tubuh Bima. "Kamu sibuk kan? Tadi katanya sibuk." Berjalan menuju sofa ruangan.
"Sayang, kalau denganmu mana mungkin aku bicara begitu?" Ikut duduk, mencubit pelan pipi Maudy dan menggoyangkan ke kanan dan ke kiri.
"Bim, aku udah bilang tadi malam kan? Aku mau kerumah Kiki." Iya-iya, Bima mengangguk. "Kamu sebentar lagi rapat kan?" Mengangguk lagi, dan tetap mencium sana-sini.
"Kalau begitu aku pulang sekarang ya?" Tidak, kali ini dia menggeleng. Rasanya dengan datangnya Maudy kesini, itu sudah membuatnya melupakan sedikit pekerjaan yang membuat otaknya berkeringat.
"Sebentar lagi sayang?" Malah merebahkan tubuhnya, meletakkan kepalanya di pangkuan Maudy.
"Kalau karyawan kamu masuk gimana?" Melihat ke arah pintu. Hei, aku yang punya perusahaan, begitu jawabannya.
Setelah membiarkan Bima dengan tingkahnya, sudah lebih dari 30 menit.
"Sudah ya?"
Bima merubah posisinya menjadi duduk. "Cium." Menunjuk pipi sebelah kiri. Iya, menurut dulu. "Ini." Lagi yang kanan. Lanjut ke bibir, dan Maudy segera mendorong tubuh Bima menjauh. Sudah cukup dramanya.
"Sayang, ayo aku antar sampai ke depan?" Mengulurkan tangannya. Bagiamana nanti reaksi satu kantor ketika melihatnya?
"Bim, bukankah kamu sedang sibuk? Nggak apa nanti aku minta antar Sundari aja ya?" Tidak, jelas dia menolak.
"Ayo?" Menggandeng lengan istrinya. Keluar dari ruangan lalu berjalan menuju lift. Seseorang yang meminta nomor ponselnya sampai tak berkedip dan menjatuhkan beberapa tumpukan kertas berupa laporan dari tangannya. Maudy menahan tawanya, tau pasti mereka juga kaget. Dengan Bima menggandeng lengannya saja itu sudah membuktikan siapa dirinya tanpa lagi menjelaskan.
"Kenapa?" Bima juga menatap ke arah pandangan Maudy. Menangkap sesosok lelaki yang sedang mengutip beberapa kertas yang terjatuh.
"Lain kali hati-hati." Ucapnya.
__ADS_1
"Iya pak." Kembali menunduk. Rasa takut langsung muncul, ya ampun bahkan aku sempat meminta nomor ponselnya tadi? Kalau dia mengaduh bagaimana? Matilah aku. Merutuki kebodohannya beberapa menit yang lalu.
Berjalan di lorong kantor, hingga sampailah di depan pintu. Jangan di tanya berapa banyak pasang mata yang mengintip di balik kaca ruangan masing-masing. Bahkan kepala bagian juga sempatnya berdiri untuk melihat lebih jelas lagi.
*Cantik ya, natural.
Gila, pak Bima cocok memang dengan istrinya.
Wah dia senyum ke arah kita, tidak sombong seperti istri bos yang lain! Pasti orang tuanya baik juga.
Eh dia melihat kemari, itu pak Bima?
Sudah fokus ke pekerjaan kalian*!
"Sayang, kamu hati-hati di jalan ya?" Mengelus puncak kepala istrinya, ingin sekali menciumnya lagi kalau tak mengingat saat ini mereka masih menjadi pusat perhatian.
Dan tidak mungkin pisah begitu saja tanpa drama, bukan Bima namanya.
"Sayang, ingat ya? Jangan menatap ke arah lelaki lain ketika di jalan?"
Apa? Bagaimana caranya, bahkan aku fokus menyetir.
"Jangan memberi nomor ponselmu ke sembarang orang." Mengangguk patuh.
"Dan ingat, jangan terlalu lelah. Cukup semalam saja, karena aku yakin sudah ada benih di dalam sini." Mengelus perut rata milik istrinya. Ah ya ampun, semakin iri saja yang melihatnya.
"Sudah ya?" Malu, iya Maudy melirik ke arah sekeliling, semua pada melihat ke arahnya sambil tersenyum.
Bima tertawa kecil.
"Baiklah, kamu hati-hati ya?" Maudy mengangguk. "Atau kalau tidak pergi kerumah Kiki sama aku aja? Menunggu aku selesai rapat?" Hah Maudy menghela nafas, apalagi sekarang? Batinnya.
Dia langsung menggeleng, lalu melangkah dan melambaikan tangan ke arah Bima. Menuju halaman kantor, siap untuk melaju ke rumah Kiki. Dan mengingat seluruh pesan Bima.
Bima sudah berada di depan pintu ruangannya. Langkahnya terhenti ketika ingin masuk karena salah satu karyawan mendatanginya.
"Pak? Apa tadi istri bapak?" Tentu tidak segan bertanya, karena Bima tidak seangkuh bos lainnya. Hanya saja pandangan mereka Bima itu dingin, padahal bukan itu memang sifatnya.
"Iya. Kenapa? Apa kamu sempat meminta nomor ponselnya tadi?" Deg. Mengalihkan pandangannya.
Benarkan! Istrinya mengaduh.
"Tidak pak, mari pak." Langsung pergi menuju ruangannya. Bima menggeleng tidak tau apa maksud seseorang tadi bertanya. Ah biarlah, mungkin dia mewakili seluruh pertanyaan karyawan yang ada di kantor.
Duduk lagi di depan laptop, Sundari kembali masuk dan membawa setumpuk laporan yang sudah ia periksa, tinggal menunggu Bima yang menandatangani.
"Apa sudah dipastikan kamu memeriksa semuanya?"
"Sudah pak." Bima langsung mengambil pena dan siap untuk menandatangani. Setelah itu membuka halaman depan, melihat siapa yang mengajukan kerja sama.
"Mereka juga sudah mengirim melalui email pak, silahkan periksa email bapak." Baik, begitu jawaban Bima.
Membuka laptop lagi, melihat dan mencari.
"Ini nggak salah? Minggu depan?" Sundari mengangguk.
"Tidak bisa di wakilkan pak, karena mereka juga perusahaan ternama disana. Mereka juga langsung mendatangkan CEO perusahaan, maka dari itu mereka juga meminta bapak untuk hadir, tidak ingin di wakilkan."
Menyandarkan tubuhnya, menghela nafas berat. Pantas saja papa bilang sudah saatnya dia beristirahat. Ternyata begini susahnya jadi pimpinan. Oh sayang, tiga hari terasa satu tahun tanpa kamu nanti.
"Sun?"
"Iya pak?"
"Istriku cantik kan?" Sundari semula menunduk langsing mendongak.
"Cantik sekali pak."
"Kamu berlebihan memujinya, cantik saja sudah cukup."
Terserah bapak.
"Baiklah, kamu keluar sudah jam makan siang ini, saya juga mau makan bekal dari istri saya. Suruh OB mengantarkan minuman ke ruangan." Mengangguk lalu pergi.
***
Di dalam mobil, Maudy tersenyum sepanjang perjalanan. Membayangkan Bima yang sudah kembali ke sifat manjanya. Terkadang menyesal melihat Bima berubah dingin, tapi sekarang juga sedikit menyesal karena melihat tingkah aneh Bima kembali setelah mereka menikah.
"Aku cinta kamu Bima!" Teriak sendiri di dalam mobil.
__ADS_1
--__