Dia Bimaku

Dia Bimaku
Gara-gara mimpi


__ADS_3

Duduk di sekitar taman sendirian, melihat pasangan lain duduk dengan menyandarkan kepalanya di bahu. Menggenggam tangan, tapi hanya mampu melihatnya tidak bisa merasakannya. Kembali berjalan dengan lesunya, sepi mulai mendera. Ada hal yang ia temui saat ini, melihat kekasihnya.


Tapi kenapa bersama lelaki lain? Tak bisa dipercaya, Bima berjalan mendekat ingin memastikan kalau yang ia lihat ini salah. Benar, orang yang di cintainya adalah salah satu pasangan yang menyandarkan kepalanya di bahu.


"Maudy!!" Membentak dengan suara lantang.


Maudy tetap saja cuek, bahkan ia terkesan tidak mengenali Bima. Sekali lagi Bima teriak, tapi Maudy masih diam dan malah bermanja dengan lelaki lain. Bima memang tidak mengenali lelaki itu.


Bima menarik tangan Maudy, tapi langsung di cegah oleh pasangannya.


"Dia pacar ku." Memperjelas keadaan.


"Apa maksudmu, menggangu saja! Pergilah cari pasanganmu sendiri, dasar gila!" Menggerutu lalu menarik Maudy pergi menjauh dari Bima.


"Maudy, enggak! Maudy!!" Masih teriak dan mulai terisak.


Tubuhnya terasa terguncang, seperti ada gempa yang datang.


"Bima bangun!" Suara terdengar dari dunia nyata.


Bima membuka matanya dan melihat mamanya yang sudah duduk di kasurnya.


"Mama?" Heran, apa maksudnya? Jadi tadi mimpi? Batinnya.


"Kamu kenapa teriak-teriak manggil nama Maudy?"


Jadi beneran aku mimpi?


"Bima, kamu dengar kan mama ngomong?"


"Eh iya ma."


"Kamu kenapa?" Masih ingin mendapat jawaban dari Bima.


"Cuma mimpi ma. Mimpi di tinggal sama Maudy."


"Di tinggal? Apa kalian pacaran? Ya ampun, Bima. Kamu masih sekolah loh, nanti kalau ada apa-apa sama kalian gimana?" Ternyata mamanya juga melarang.


"Maaf ma." Menunduk.


"Mama memang suka sama Maudy, dari awal juga mama tertarik. Tapi Bim, kamu masih sekolah."


"Ma, Bima janji nggak akan kelewat batas kok. Lagian jumpa juga cuma di sekolah ma. Ma, plis ya jangan bilang papa." Mengatupkan kedua tangannya.


"Kamu mandi sekarang, udah jam berapa ini Bim. Kamu tidur terlalu malam ya. Cepetan papa udah nunggu di bawah buat sarapan." Pergi meninggalkan kamar Bima. Dan tidak menjawab permohonan Bima.


Huh, jelas lah kesiangan. Gara-gara nunggu Maudy telepon. Malah mimpinya buruk lagi.


Padahal ya, itu bukan mimpi buruk. Kalau mimpi buruk kan bertemu hantu, atau di kejar jin. Dasar Bima.


Pukul 06:30 Bima berangkat ke sekolah. Dengan kembali di antar supir. Papanya juga tidak bertanya tentang acara semalam yang ia jadikan alasan untuk keluar rumah.


Tapi bukan itu masalahnya sekarang yang Bima pikirkan, ia hanya memikirkan soal mimpi yang ia katakan sebagai mimpi buruk.


"Sudah sampai den." Membuyarkan lamunan Bima.


Turun dan langsung ke kelas. Berjalan tanpa sedikitpun menoleh. Bahkan Maudy dan Kiki juga heran, biasanya selalu menghampiri mereka yang duduk di bangku taman sekolah.


"Kok Bima lurus aja ya Dy?"


Apa Bima bertengkar lagi ya sama papanya?


"Entah aku juga nggak tau Ki. Kita ke kelas aja ya?" Ternyata Maudy juga khawatir, dan sebenarnya terasa hampa tanpa Bima.


Sampai di kelas masih saja Bima diam. Wajahnya dingin, hanya sekilas melirik lalu kembali memainkan game di ponselnya.


"Bim?" Panggil Maudy dengan lembut.


"Kenapa?" Bertanya lagi sebelum Bima menjawab.


Pasti marah ni gara-gara aku langsung tidur!


"Kamu selingkuh!" Tanpa basa-basi langsung to the point.


"Ha?" Kaget.


"Iya kamu selingkuh kan?" Masih setia menatap layar ponselnya.


"Apa sih Bim? Ngomong yang jelas!" Mengambil paksa ponsel Bima.


"Kamu selingkuh! Pokoknya kamu selingkuh, titik!" Lah, apa sih Bima ini ya.


"Maksudnya kamu maksa aku gitu? Maksudnya aku harus selingkuh gitu?" Apa sih aku nggak ngerti, batin Maudy.


"Kan bener kan, kamu selingkuh kan?" Muter-muter nggak jelas.


Maudy langsung diam tidak menjawab, ini hal yang ia benci dengan salah satu sifat Bima. Kalau bicara selalu setengah-setengah. Muter-muter nggak jelas. Maudy lebih memilih diam dan memulai pelajaran dengan fokusnya. Sementara Bima masih dengan tingkah anehnya, yang tiba-tiba berkata "is." Lalu membanting pulpen yang ia pegang. Jatuh, mengambilnya lagi. Dan begitu secara berulang-ulang. Seperti mencari perhatian.


"Bima!" Teriak guru yang terkenal killer. Ya, guru itu bernama bu Narsih.

__ADS_1


"Coba kamu ke depan sekarang. Kamu tulis apa yang udah saya jelaskan sedari tadi." Berdiri dengan kedua tangannya di pinggang.


"Bima!" Mengulangi panggilannya.


Bima sudah bergetar, wajahnya memucat. Melirik Maudy, tapi Maudy malah tersenyum.


Rasain! Batinnya.


Dengan menunduk Bima berjalan ke depan. Di iringi tatapan iba dari temannya yang lain. Bima itu nggak culun, nggak. Banci juga nggak, buktinya dia juga suka sama lawan jenis. Tapi hanya sifat pemalu nya itu yang tidak bisa di hilangkan.


"Sekarang tulis." Menyerahkan spidol.


"Saya nggak tau bu." Sangat lembut ia berbicara.


"Jadi dari tadi kamu ngapain? Kamu nggak suka sama pelajaran saya? Silahkan keluar!" Kembali membentak.


"Suka bu, saya suka kok sama ibu." Masih tetap menunduk dengan meremas tangannya sendiri.


Aku ngomong apa barusan?


"Saya udah punya suami, ngapain kamu suka sama saya?" Sontak satu kelas menyoraki Bima dan ada yang tertawa sampai memukul-mukul meja. Mungkin ini terlalu lucu bagi mereka.


"Kalau gitu, kamu saya hukum bersihkan toilet sampai jam pulang."


"Bu?" Maudy mengangkat tangannya.


"Tadi Bima bicara sama saya, jadi hukum saja saya juga bu?" Apa, apa yang di lakukan Maudy? Kiki yang berada di belakangnya menggerutu.


"Oh. Ya udah kamu juga keluar?" Bima langsung mendongak. Tersenyum, iya Bima tersenyum.


Seminggu di hukum juga nggak apa kalau sama kamu.


"Bu, maaf tapi saya juga ikut bicara tadi." Lah ini satu lagi juga ikut-ikutan. Demi Bima loh! Padahal Maudy belum pernah mendapat hukuman apapun, yang ada selalu pujian dari para guru karena prestasinya. Tapi hari ini, demi Bima. Maudy atau pun Kiki sama saja. Rela di hukum demi teman dan pacar.


"Nih kamu yang ngepel, kamu gosok klosetnya ya Bim." Maudy yang memberi perintah.


"Ih, jadi kamu ngapain?" Protes Kiki.


"Aku yang periksa udah bersih belum. Udah cepetan kerjain aja, lagian kita disini sampai jam pulang sekolah kok. Selesai ini kita bisa ke kantin, guru nggak ada yang liat kok." Memberi ide yang brilian.


"Sejak kapan kamu jadi bandel begini?" Bima berdiri dengan satu tangan memeluk gagang pel. Lucu sih kalau di lihat-lihat. Seorang Bima Adi Nugroho gitu, harus ngepel kamar mandi sekolah.


"Semenjak ada kamu, semenjak lihat tingkah aneh kamu, semenjak 15 menit yang lalu, puas!" Mencondongkan tubuhnya ke arah Bima.


"Suru siapa selingkuh." Nah loh, masih di bahas ternyata.


"Udah, kalian masih mau bertengkar?"


Ya aku nggak mau lah, nggak ada teman di kelas.


Ini sudah jam pelajaran terakhir. Hanya menunggu bel berbunyi maka akan berakhir juga hukuman mereka. Toilet sudah bersih dan wangi, karena sudah di bersihkan oleh Bima, sendirian. Kiki kebagian nyiram toilet sementara Maudy yang mengatur.


Enak ya ngerjain dua anak orang kaya, haha. Pasti di rumah nggak pernah begini. Tertawa cekikikan agar tak terdengar oleh Bima.


Tas mereka juga sudah di antar salah satu teman sekelasnya, yaitu Edi. Si culun kelas yang berambut klimis.


"Makasih ya Edi, Edi baik banget deh." Maudy mencubit pipi Edi dengan gemasnya.


Edi sudah bergetar, tanpa menjawab ia langsung berbalik dan berlari secepat mungkin. Untungnya ia tidak sampai pipis di celana.


"Nah kan, beneran!" Bima menatap Maudy tajam.


"Beneran apa? Selingkuh lagi? Maksud kamu aku selingkuh sama Edi gitu? Iya?" Lebih galak Maudy nih.


Kiki yang sudah malas mendengar ocehan dari dua sahabatnya itu lebih memilih masuk ke dalam toilet. Dan mengambil earphone yang ada di dalam tasnya.


Untung udah di antar Edi kesini.


Duduk di closet dan memasang earphone di telinga. Memutar lagu kesukaannya. Iya itu yang di lakukan Kiki sekarang.


Nah gini kan enak.


"Apa?" Membulatkan matanya ketika Bima tarik nafas ingin bicara lagi.


"Kamu di taman sama laki-laki kan?" Maudy langsung mengerutkan keningnya, apa lagi sekarang Bima, batinnya.


"Aku melihat kamu di taman sambil bersandar di bahu laki-laki. Terus aku tegur kamu, aku tarik kamu. Kamu nggak mau malah kamu pergi ninggalin aku?" Berkata dengan nada yang melow.


"Terus?"


"Ya aku sakit hati lah, masak kamu lebih memilih laki-laki lain dari pada aku!" Menghentakkan kakinya.


"Bima, sekarang aku nanya. Kapan aku melakukan itu?" Dengan menggunakan nada yang masih lembut.


"Tadi malam."


Lagi Bim. Lagi, tadi malam kamu ke rumah aku Bima! Bahkan kamu juga udah liat aku pakai hot pant. Bagaimana bisa kamu lihat aku sama laki-laki lain dan menuduhku selingkuh.


"Iyakan?" Masih terus bertanya.

__ADS_1


"Sekarang aku tanya lagi ya Bima. Tadi malam kamu kemana?"


"Ke rumah kamu!"


"Terus, setelah itu kamu kemana?"


"Pulang?" Menjawab tanpa merasa tidak bersalah sama sekali. Maudy menarik nafasnya dalam-dalam. Mencoba menetralkan emosinya yang sebentar lagi akan meledak.


"Terus, kamu pulang ngapain?" Sudah mulai menekan kalimatnya.


"Aku nunggu kamu telepon, terus sampai aku ketiduran. Terus-"


"Stop!"


Aku cekik aja kali ya anak pak Adi ini.


"Berarti kamu mimpi? Mimpi kalau aku selingkuh?" Sudah mendekat ke arah Bima. Mungkin benar akan mencekik Bima.


"Iya memang aku mimpi." Tanpa sama sekali merasa bersalah Bima mengatakannya.


"Bima!" Bentak Maudy sekeras mungkin.


"Suara apa tuh?" Kiki bahkan mendengar. Tapi kembali mendengarkan musik.


"Sayang?" Bima sudah ketakutan melihat Maudy yang mendekat dengan tatapan dingin dan tajam. Bahkan seperti ingin menelan Bima hidup-hidup.


"Ampun sayang. Tapi walau itu mimpi aku tetap sakit hati, aku cemburu. Maaf sayang, ampun. Ampuni aku, aku belum sempat belajar bagaimana cara berciuman dengan benar. Aku belum mencobanya dengan mu. Ampun, jangan bunuh aku sekarang. Sudah cukup hukuman dari bu Narsih hari ini." Membungkuk kan tubuhnya dan mengatupkan kedua tangannya dengan memohon.


Maudy tidak menjawab dan terus berjalan mendekat.


Tap, sentuhan halus di kepala Bima.


Apa ini?


"Sayang?" Belum berani membuka matanya.


"Bima, lain kali kalau mau tidur baca doa ya?" Mengelus puncak kepala Bima dengan lembut.


"Ah sayang." Mulai dengan suara manjanya. "Aku kira kamu mau cekik aku tadi?" Menghela nafas lega setelah membuka matanya dan menatap kekasih di hadapannya ini.


Hampir sih!


"Nggak, mana mungkin aku berani menyakiti anak sultan."


"Aku anak bapak Adi Nugroho sayang, bukan sultan. Memangnya siapa sultan aku nggak kenal! Kenalan kamu ya?"


Bima, aku mohon waras lah sedikit.


"Iya Bim terserah kamu." Berdiri berhadapan hanya berjarak beberapa centimeter.


Bima sudah mendekat kan wajahnya, bahkan deru nafas juga saling bersahutan dan berhembus secara bergantian.


"Heh, kalian ngapain?" Wah, untung ada Kiki. Bima langsung membatalkan niatnya untuk kembali mengecup secara singkat.


"Kamar mandi ini ya, kalau ada siswa lain yang melihat gimana? Kalau mau di hotel sana, jadi nggak kelihatan orang lain. Hampir saja mataku kotor, bisa bintitan aku." Cerocosnya panjang lebar.


"Wah, bisa di terima tuh masukan kamu Ki." Malah Bima senang di beri ide.


Tring..


Bel sudah berbunyi, dengan cepat mereka meninggalkan kamar mandi. Hari ini, Kiki meninggalkan mobilnya di rumah Maudy. Dan mereka berangkat ke sekolah menggunakan motor trail milik Maudy. Itu semua juga Kiki yang meminta, dengan alasan ingin sekali merasakan naik motor dengan kebut-kebutan.


Sebelum Maudy menyalakan motornya Bima mendekat.


"Sayang, coba di hotel yang di bilang Kiki tadi yuk?" Berbisik agar tidak ada yang mendengar.


"Ayo? Nanti malam ya?" Langsung menantang.


"Bercanda. Hehe, kamu hati-hati ya. Nanti jangan lupa kabarin kalau udah sampe rumah. Terus, makan. Jangan lihat laki-laki lain di sepanjang jalan ya?" Banyak pesan yang harus Maudy ingat. Setelah itu Bima pergi ke depan dekat gerbang. Karena supirnya juga sudah menunggu. Dengan jalan menunduk ke arah mobilnya.


"Dah.." Teriak Kiki yang sudah duduk di atas motor Maudy. Menjulurkan lidahnya mengejek Bima, ia tau kalau saat ini Bima pasti sudah kesal. Pasalnya Bima kan tidak bisa seperti mereka yang bebas.


Tapi Bima tidak menanggapi, hanya melihat lalu menunduk kembali, karena banyaknya siswa saat ini menatapnya. Setelah masuk ke mobil, Bima menghela nafas lega. Padahal hanya di lihat, bukan di ajak ngobrol, tapi gitu juga Bima sudah merasa risih.


***


Sampai di rumah, Maudy langsung masuk ke kamar mengganti pakaiannya dan rebahan. Dering ponselnya berbunyi, ia tau pasti Bima yang menelepon, kalau bukan dia siapa lagi, batinnya.


"Ya Hallo?"


"Oh iya Tante baik."


Langsung berjalan keluar kamar.


"Ki, Kiki? Mama kamu menelepon, katanya kita sekarang harus kesana?" Ternyata mamanya Kiki toh yang nelepon bukan Bima.


"Kenapa?" Baru saja selesai melepas sepatunya.


"Katanya mama kamu masak enak, kita disuruh kesana sekarang, makan disana."

__ADS_1


Dengan cepat Maudy menutup pintu rumahnya, setiap keluar juga ia tidak terlalu memperhatikan penampilannya. Yang terpenting masih memakai pakaian yang lengkap, tidak seperti kemarin sewaktu Bima datang. Kalau keluar hanya menggunakan hot pant. Bisa-bisa satu kampung mencetak koran dan bakal terbit ketika orang tuanya pulang dari kampung.


--__


__ADS_2