
Walau sudah lewat dalam satu hari semenjak Maudy berstatus menjadi tunangan Bima, dan akan menjadi menantu di keluarga bapak Adi Nugroho. Ya walau beliau sendiri belum menganggapnya.
"Jam berapa kamu berangkat Dy?" Suara ibunya terdengar. Maudy sedang duduk santai di teras rumah.
"Nunggu ayah bu, mungkin sebentar lagi." Ya hari ini Maudy akan pergi ke tempat dimana ia akan membangun sebuah resto besar. Setelah melihat jumlah uang yang omnya kirimkan, itu sudah cukup. Dan ayahnya, berjanji akan memberikan tabungannya untuk Maudy, walau itu juga sebenarnya untuk Tisha. Tapi ayahnya sendiri yakin, kalau rezeki tidak kemana.
"Nanti malam aku mau di jemput Bima bu." Balik badan lagi. Mendekat ke arah Maudy lagi.
"Kemana?" Tanyanya.
"Nggak tau, katanya mau di ajak ke rumah." Asli, Maudy sendiri bahkan meremang sekujur tubuh mengucapkan hal itu, meskipun sudah bertunangan. Tapi, bukankah restu dari papanya belum di dapat?
"Ibu mau tanya, tapi selalu lupa." Memperhatikan cincin berlian yang di pakai Maudy.
"Itu, cincin kamu berapaa harganya? Sepertinya kamu nggak ada cerita ke ibu, atau sekedar tunjukan suratnya juga nggak?" Ah, Maudy tersenyum kecut. Memang itu kebenarannya. Kemarin mau memberi tau tapi ibunya sibuk. Bahkan ia pulang pun ibunya tak bertanya soal cincin. Ya sudah, tak salahkan?
"Hem, ini. Udah bu, intinya cukuplah buat bangun satu rumah." Ibunya memukul lengan Maudy.
"Iya bu. 158 juta." Memegang dada, mengelus dada, tarik nafas setelah mendengar Maudy mengatakan itu. Lalu, soal catering, photo, dan dekor? Apa bertunangan saja bisa habis 2ratus juta? Batin ibunya seperti tak terima. Eh aneh ibu.
"Kok ah, kamu becanda Dy! Nggak mungkin lah. Kalau uang segitu hanya buat beli cincin!" Maudy tersenyum dan geleng-geleng. Tadi bertanya, eh sekarang malah nggak percaya.
"Dy, ayo?" Ah ayah sudah keluar, rasanya pengen Maudy peluk karena jadi penyelamat dari interogasi ibu.
"Iya ayah." Bangkit dari duduknya. "Bu, ingat loh anak ibu ini calon menantunya siapa?" Memainkan kedua alisnya, dan tertawa meninggalkan ibunya yang masih tak habis pikir uang segitu hanya untuk membeli cincin.
***
Maudy sudah tiba di proyek, sudah ada bahan bangunan yang sebagian datang. Ini semua jelas bantuan dari ayahnya, teman satu kantor ayahnya lah yang mempunyai keponakan arsitek, dan semua di serahkan olehnya. Maudy hanya menyebut sketsa dari bentuk resto yang akan di bangun.
"Hem, aku juga mau. Di tengah resto ada kolam renang yang ukurannya cukup untuk 20 orang jika berenang ya."
"Apa lagi?" Mendongak menatap wajah Maudy, dan sedikit meringis karena silaunya matahari.
Cantik sekali.
"Soal design aku mau mas aja yang atur ya? Yang terpenting berbau modern dan di sukai orang-orang. Soalnya itu juga berpengaruh untuk menjadi daya tarik pembeli." Maudy tersenyum, dan melihat sekeliling tanah yang masih kosong. Dua bulan lagi, batinnya.
"Ini beneran bisa selesai dalam kurun waktu dua bulan kan mas?" Maudy masih memandang ke arah lain. Merasa tidak mendapat jawaban, Maudy menoleh ke arahnya.
"Mas?" Panggilnya ulang. Maudy juga merasa malu sendiri, ternyata orang ini memandangnya sedari tadi.
"Eh iya, maaf mbak?" Kikuk, menggaruk kepalanya sendiri.
"Mbak bisa di ulangi tanya ngomong apa? Maaf mbak aku ngelamun." Menunduk, malu lah rasanya. Mengangumi seseorang, eh ketauan lagi.
Maudy menghela nafas dan mengulang perkataannya.
"Oh iya. Gini aja, bisa minta nomor telepon mbak? Biar gampang di hubungi selama proyek di bangun." Itu alasan yang tepat menang. Maudy langsung mengeluarkan ponselnya dan memberikan kepada orang di hadapannya ini, yang katanya arsitek sih.
"Nama mbak siapa?"
"Oh aku Maudy mas. Masnya siapa?"
"Bagus namanya." Tersenyum. "Aku Ilham. Jangan panggil mas, panggil nama aku aja, sepertinya kita sebaya? Aku juga baru selesai kuliah kok."
Baru selesai kuliah? Udah langsung bisa nangani beberapa proyek besar??
"Hebat ya?" Ilham menoleh. "Iya kamu hebat, baru juga selesai kuliah, udah bisa menangani beberapa proyek besar. Aku udah liat riwayat kerja kamu kok." Memuji dengan tulus. Ilham berjalan gontai ke arah yang tidak terkena matahari, di sebelah tembok tinggi yang jadi pembatas tanah dalam kepemilikan, Maudy juga mengikutinya.
Ilham membuka helm proyeknya, dan menyisir rambutnya dengan jari. Tak lupa mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia bawa.
Maudy terpaku sesaat, menatap wajah yang sebenarnya tampan ini.
Ya ampun aku mikir apasih, ingat lah Dy, ada Bima!
__ADS_1
"Aku dengar dari paman, katanya kamu baru menyelesaikan kuliah di luar negeri ya? IP kamu tinggi lagi?"
"Haha, biasa aja sih. Pasti ayahku yang cerita ke paman kamu ya?" Maudy menoleh menatap wajah Ilham sebentar, lalu berpaling lagi.
"Kamu tinggal di kota ini juga kan?" Maudy yang mulai bertanya.
"Iya. Dari kecil, dari lahir malah." Maudy menanggapi dengan tertawa kecil.
"Oh iya iya."
"Kamu tinggal di daerah mana?" Tanya Ilham.
"Aku di daerah Cemara, nggak jauh dari sini kok." Mengeluarkan ponselnya, sepertinya ada notif pesan. Maudy membuka, ternyata Bima. Maudy kembali memasukan ke dalam tas selempang miliknya, nanti saja balasnya, pikirnya.
"Aku di perumahan niaga 1. Pernah nggak main kesana?"
"Eh sering malah, teman aku disana, Kiki. Kamu kenal nggak?" Pembicaraan sudah melenceng jauh dari kerjaan atau soal proyek design. Sementara ayahnya juga masih sibuk berbincang dengan orang yang mengantar bahan bangunan.
"Kiki? Anaknya om Septian ya?" Maudy mengangguk. "Aku kenal lah, palingan hanya beda tiga rumah aja dari mereka."
"Beneran?" Eh kenapa Maudy bertanya begitu.
"Iya, kapan-kapan main kesana ya? Kalau kamu ke rumah Kiki." Ini maksudnya apa lagi?
"Eh sebentar ya aku angkat telepon dulu." Maudy sedikit menjauh untuk mengangkat telepon dari Bima.
"Hallo, iya sayang?" Wah, sekarang manggil sayang nih.
"Kamu dimana? Kenapa nggak balas pesan?" Nah kan, langsung nelepon aja.
"Maaf ya Bim, tadi aku lagi Hem. Pokoknya nggak sempat megang ponsel, lagi ninjau proyek pembangunan." Ilham sedikit menajamkan telinganya, ingin mendengar dengan siapa Maudy berbicara.
"Ya udah, aku jemput kamu sore ini ya?" Sepertinya ada yang merubah jadwal seenaknya.
"Katanya malam"
"Ya udah, aku tutup teleponnya ya?" Tut, tak menunggu Bima menjawab. Maudy melihat jam di tangannya sudah pukul 2 siang. Maudy berjalan kembali mendekat ke arah dimana Ilham berdiri.
"Maaf ya Ham, lama." Tersenyum.
"Iya nggak apa, sepertinya teleponnya penting." Ucapnya lagi.
"Heh iya, tunangan aku tadi yang telepon." Kembali memasukan ponselnya ke dalam tas.
Maudy bisa menangkap raut wajah Ilham yang berubah, entah karena hal apa. Sungguh enggan untuk bertanya.
"Dy, ayo udah selesai kan?" Suara ayahnya terdengar.
"Iya yah." Bergegas pergi. "Eh Ham, aku duluan ya? Jangan lupa kabarin ya gimana perkembangannya?" Sambil berjalan Maudy berbicara.
Ilham hanya menjawab dengan anggukan.
***
Maudy
Padahal ini bukan yang pertama untukku. Datang ke rumah Bima, aku juga sudah mengenal mama Lisa, mas Rio dan kakak ipar. ART dirumahnya juga aku sudah ada yang kenal. Tapi kenapa, aku seperti ogah-ogahan sekarang untuk datang kesana, menginjakkan kembali kakiku setelah beberapa tahun lalu, dengan status yang lebih malah.
Aku masih mematung di depan kaca usai sedikit memberi sentuhan di wajahku, sampai panggilan ibu membuyarkan lamunanku di depan kaca, yang sudah entah berapa lama aku duduk disini. Aku tau, kalau ibu sudah teriak pasti Bima datang.
"Iya bu sebentar." Aku memastikan sekali lagi penampilan ku di depan kaca. Memakai dress berwarna coklat pemberian dari tante, dan membawa dompet berukuran 15inci. Kali ini aku meninggalkan tas selempang kesayangan. Maaf ya, aku harus tampil elegan di depan keluarga mertua. Sekali lagi ku elus tas yang menggantung di dinding kamar. Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, aku langsung melangkah keluar.
Berpamitan dengan ibu dan ayah, mereka tak lupa mendoakan aku agar papanya bisa menerima kehadiran ku disana. Dalam perjalanan aku hanya diam, sesekali menjawab pertanyaan Bima, ah aku marah pada diriku sendiri, kenapa malah tak bersemangat. Dan apa? Jantungku tidak bisa di ajak kompromi ketika sudah memasuki perumahan mewah.
Aku melihat mang Sugi yang langsung membuka pintu gerbang setelah melihat mobil Bima dari kejauhan. Seistimewa itu kah orang kaya? Aku jadi ingin membangun rumah mewah untuk ibu dan ayah rasanya. Tentu setelah aku sukses menjalankan bisnis.
__ADS_1
"Ayo turun, kamu mau disini aja?"
"Papa kamu dirumah?" Aku memastikan sekali lagi, padahal aku tau kalau jam segini beliau jelas sudah ada di rumah.
Aku melangkah masuk dengan digandeng oleh Bima, eh aku lihat penjaga menundukkan kepala setelah melihat ku tersenyum, padahal aku juga belum resmi jadi nyonya mereka, hanya calon.
"Eh menantu mama udah datang." Ini yang membuat kelegaan hatiku, di sambut oleh mama Lisa. Iya aku sendiri sudah memutuskan untuk memanggilnya mama setelah sudah ada cincin yang melingkar di jari manis ku.
Aku langsung memeluknya, tak lupa dengan cipika-cipiki.
"Siapa ma?" Suaranya aku kenal, kenapa dia tanya? Apa sebelumnya tidak tau kalau aku akan datang? Ah aku makin ragu saja untuk duduk.
"Menantu pa." Ku dengar suara langkah kakinya mendekat, sumpah aku menunduk. Dia kira siapa yang datang? Wanita itu gitu? Karena mama Lisa menyebut menantu.
"Oh." Aku mendongak dan tersenyum ke arahnya. Beliau terlihat biasa saja, tidak berekspresi, bahkan tak membalas senyuman ku. Rasanya gimana ya, jangankan mendapat restu, mendapat senyumannya saja susah. Mama Lisa mengelus tanganku, sepertinya dia tau suasana hatiku saat ini.
Aku mulai mengedarkan pandangan, kemana Bima tadi? Bukannya ikut duduk temani aku disini, malah entah kemana setelah turun dari mobil.
"Nanti kita makan malam bersama ya Dy?" Aku mengangguk dan tersenyum.
"Rafa mana ma?" Ah ini yang aku cari sejak tadi, kemarin sewaktu acara pertunangan aku tak bisa mengajaknya bermain.
"Ada di atas, kamu naik aja sana? Mereka juga belum tau kamu datang?" Aku? Di persilahkan untuk naik dan mengetuk kamar mas Rio langsung? Serius? Aku menatap mama Lisa dan dia mengangguk.
"Ayo Mama temani." Tau saja kalau aku ragu naik ke atas. Ini sumpah jauh banget dari sifat aku, aku yang biasanya selalu pede dan nggak pernah malu, ini beda loh. Lebih ke arah canggung gitu. Tapi aku menetralkan nafasku secara perlahan. Menaiki anak tangga bersama mama Lisa, ku gandeng lengannya, bukan karena takut jatuh, tapi takut kalau tiba-tiba muncul papanya Bima. Eh, kemana juga dia setelah tau aku datang tadi.
Tok.. Tok.. Mama Lisa mulai mengetuk, aku diam saja berdiri di sampingnya.
"Rio, ada Maudy nih. Dia mau ketemu Rafa." Dan secepat itu pintu terbuka, mas Rio bahkan masih bertelanjang dada, aku langsung membuang padangan. Ini lagi, mas sama adiknya sama aja, nggak ada segan-segannya.
"Sayang, ada menantu mama ini datang, mau ketemu Rafa." Berteriak, mungkin kakak ipar lagi sibuk di dalam.
Kak Siska keluar dengan menggandeng Rafa yang sudah mandi. Tampaknya memang baru saja selesai mandi sih.
"Ayo, sama Oma sayang?" Langsung mau ikut dia, bahkan ngemplok di gendongan mama. Kami berjalan menuju belakang sekarang, tempat biasa mama Lisa santai dan duduk. Ah rasanya memang segar udara di belakang sini, walau tingginya tembok pembatas tapi suasananya asri, udah yang kedua kalinya sih aku kesini.
"Bi, ambilkan cemilan ya, sama minuman." Mama memberi perintah ke ART.
Aku merayu Rafa agar mau ikut denganku, eh ternyata dia mau.
"Biasanya dia nggak mau loh Dy kalau belum pernah ketemu." Mama Lisa sepertinya senang melihatku cepat akrab dengan Rafa, apa dia juga nggak sabar ya pengen cucu dari aku? Eh, aku berpikiran apa sih.
Pukul sudah menunjukan 06 lewat 15. Tak terasa, hampir satu jam kami duduk disini, dan aku yang sibuk bermain dengan Rafa. Tapi, aku tetap bingung. Kemana Bima? Sebenarnya kemana anak itu, seenaknya saja meninggalkan ku setelah turun dari mobil.
"Ma, Bima kemana?" Tak salahkan jika aku bertanya.
"Paling dia tidur di kamar, biasanya juga gitu. Soalnya pulang dari kantor tadi langsung jemput kamu?" Ya ampun. Ini hari udah mulai gelap, apa itu kebiasaannya sekarang? Kan nggak baik.
"Ma, aku boleh nggak bangunkan Bima? Udah hampir gelap ma?" Mama Lisa mengangguk. Aku langsung membawa Rafa, dia juga tak mau lepas denganku. Oh, berasa punya adik sekarang. Aku berjalan menuju tangga, harap-harap papanya tak keluar dari persembunyiannya yang tak ingin melihatku.
Sampai di depan pintu kamar Bima, aku mengetuknya. Berkali-kali, tapi belum ada jawaban. Ketika aku berbalik, aku mendengar kalau ada suara handle pintu terbuka.
"Apa?" Aku langsung menatapnya. Asli, kayak nggak punya rasa bersalah. Aku sudah mendelik, tapi sepertinya kesadarannya belum kembali sepenuhnya.
"Bima, kamu tidur?" Kulihat dia berkali-kali mengucek matanya. Dan detik berikutnya.
"Sayang?" Ya ampun Bima, apa kamu lupa aku ada disini?
"Om?" Rafa sudah menjulurkan tangannya meminta pindah dari gendongan ku.
"Om mandi dulu, masih bau." Astaga, bahkan jemput aku juga tadi belum mandi, hanya membuka jasnya saja.
"Ya udah, kamu mandi, aku tunggu di bawah." Bima langsung menarik tanganku, dahi ku berkerut.
"Tunggu aja disini, sama Rafa. Biar aku mandi." Aku bimbang, aku sesekali menoleh ke bawah. Apa nanti pikiran orang yang ada di rumah kalau aku masuk ke kamar Bima?
__ADS_1
Bima langsung menarik paksa lenganku, dan aku berhasil masuk ke dalam. Mata ku membulat besar, hampir keluar dari tempatnya. Melihat photo ku yang tengah duduk di batu karang pantai, ini bukan photo, bisa dibilang poster. Tapi, siapa yang mengambilnya? Bahkan aku juga tidak tau kalau saat itu aku di photo. Aku akan menanyakan hal ini, gila secinta itu Bima sama aku??
--_