
Hari ini Maudy di sibukkan untuk mendaftar kuliahnya. Begitu banyaknya orang asing menurutnya, yang mulai dari bola mata, rambut, bahkan kulit juga berbeda. Pantas saja om nya juga mewarnai rambut, ternyata untuk menyesuaikan diri dengan linkungan mungkin ya. Ada untungnya juga bagi Maudy membawa Bian saat ini. Tidak seperti di asing kan jadinya.
Maudy mulai memasuki ruang demi ruang. Ia juga mengeluarkan bahasa yang sudah di pelajari. Walau belum lancar, tapi setidaknya mengerti jika mendengar orang di sekitarnya berbicara.
"Terima kasih." Maudy menundukkan tubuhnya lalu pergi dengan menggandeng lengan Bian.
"Sudah semua kak mo?" Tanya Bian yang wajahnya mulai terlihat bosan.
"Kamu lelah ya?" Bian mengangguk.
"Kita makan siang di luar aja ya? Mami kamu nggak marah kan?"
"Biar aku telepon mami. Kalau sama kakak pasti mami nggak akan keberatan." Senyumnya mengembang.
***
Sudah terhidang semua makan jenis seafood di meja. Tapi ada sedikit yang menggelitik Maudy disini.
"Bian, kenapa kamu pesan yang itu sih?" Menunjuk gurita yang menjulur kakinya.
"Kak, disini tuh kalau pesan seafood ya mereka akan mengeluarkan semua jenisnya. Tapi kita kalau nggak suka juga nggak apa, jangan dimakan." Ucapnya dan sudah mulai mengambil satu persatu makanan.
"Tapi tetap harus bayar kan?" Bian tersenyum dan mengangguk.
"Iya lah kak. Udah makan aja, nanti aku yang bayar." Tak peduli dengan Maudy yang masih merasa aneh untuk memakan jenis ini. Sementara Bian sudah mulai menyuapkan ke dalam mulutnya.
Maudy hanya memakan sedikit, dan Bian makan dengan lahapnya.
Panas mulai terik, selesai makan Maudy langsung mengajak Bian untuk pulang. Dan disini sekarang mereka berdiri, di pinggir jalan menunggu taxi. Karena Maudy belum lancar membawa mobil, om nya juga tidak berani untuk menyerahkan Maudy pergi dengan membawa mobil sendiri. Les mengemudi juga masih ia jalani setiap pagi. Duh, sungguh benar-benar disiplin kehidupan Maudy disini.
30 menit perjalanan mereka telah sampai di rumah. Bian lebih memilih ke resto, dengan alasan ia bosan karena libur sekolah tak kunjung usai. Sementara Maudy ya jelas ia lebih memilih masuk ke kamar mewah, rebahan dan menunggu malam tiba untuk membantu om nya di resto. Ia sangat menikmati setiap detiknya berada disini.
Resto milik om nya ini adalah yang nomor satu di kota ini. Karena mereka menyediakan masakan Indonesia. Ini yang menjadi daya tarik pengunjung, apa lagi bagi para pelancong dari tanah air, yang hanya ingin mengisi perutnya dengan masakan di negara mereka.
***
Lampu sudah tampak di hidupkan ke seluruh bagian resto. Dan malam ini Maudy akan di ajari tentang melayani pelanggan, alias menjadi pelayan. Saat malam pertama dan kedua ia di ajari untuk menjadi kasir. Pokoknya setiap malam akan bergilir, hingga Maudy benar-benar memahami setiap bagian yang di kerjakan karyawan om nya.
"Kamu sudah siap?" Tanya om Wisnu yang menatap penampilan Maudy.
"Siap om." Ucapnya semangat.
"Uh, ponakan om cantik ternyata ya?" Mengacak gemas rambut Maudy. "Ya udah, nanti kalau ada yang komplain atau kamu nggak ngerti, kamu bisa langsung tanya sama om ya, nggak perlu tanya sama pekerja yang lain. Om ada di ruangan belakang." Memberi penjelasan kepada Maudy.
"Iya om siap."
Maudy, memakai celana pendek di atas lutut, dan memakai kaus yang sedikit longgar. Menggulung kausnya dengan dua lipatan. Rambut ia kuncir tinggi. Memang itu sih kebiasaannya. Baginya itu simpel. Tapi tidak akan mengurangi wajahnya yang memang sudah cantik, tanpa harus memakai make up.
Maudy cekatan melayani pelanggan yang datang, nah ini keuntungannya jika melayani disini, kebanyakan yang datang memang dari negaranya sendiri, jadi tidak terlalu sulit untuknya. Bagaimana Maudy bisa tau ya? Iya lah, wajah orang Indonesia gampang dikenali. Mulai dari kulit dan juga bola matanya.
"Silahkan." Pelanggan pertama yang di layani Maudy.
"Kamu dari Indonesia juga? Kerja disini ya?" Tanya salah seorang pelanggan. Sepertinya juga belum menikah. Atau juga seumuran dengannya.
"Ah iya. Tapi aku nggak kerja disini, ini milik om ku. Dan aku hanya bantu-bantu aja sih." Maudy tersenyum ramah.
"Oh gitu. Kenal kan, aku Wira." Mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan Maudy.
"Oh. Aku Maudy." Ternyata Maudy membalas uluran tangannya.
"Kamu duduk disini aja, kita ngobrol. Sepertinya kamu orangnya asik. Lagian aku disini juga sendiri, belum ada teman." Tidak masalah bagi Maudy. Sepertinya orang yang bernama Wira ini tidak ada tampang penjahat.
Maudy melihat ke sekeliling, ternyata belum ramai. Cuma sudah ada yang keluar masuk untuk membeli hanya take away tidak makan disini.
"Baik lah." Dengan senyum Maudy duduk di hadapan Wira.
Obrolan demi obrolan mereka bicarakan. Dan ternyata Wira juga sama sepertinya, datang juga baru seminggu. Dan dia disini juga untuk kuliah. Bedanya, jika Maudy menumpang dengan om nya, sementara Wira disini tinggal sendiri di apartemen milik orang tuanya. Orang tuanya juga sama tinggal disini, hanya saja tempatnya jauh dari kampus yang akan menjadi pilihannya sebagai menimba ilmu.
"Jadi, sewaktu kamu sekolah, kamu di Indonesia tinggal sama siapa?" Maudy menanggapi obrolan ini dengan ramah, karena menurutnya Wira nyambung jika di ajak bicara.
Wira belum menjawabnya. Setelah menelan makanan terakhir yang ada di mulutnya mengelap bibirnya dengan tissue baru lah ia siap untuk berbicara.
"Minum aja dulu." Ucapnya ketika Wira akan menjawab pertanyaannya.
"Jadi gini, aku tuh dari kecil ikut sama paman di tanah air. Setiap satu tahun orang tuaku akan pulang hanya 2 atau 3 kali. Nah, aku mau ikut mereka nanti, saat aku kuliah. Dan kini sudah tiba waktunya, aku juga nggak bisa nolak." Jelasnya.
__ADS_1
Terbalik sama aku ya, kalau aku sih malah saat kuliah harus ikut om ku.
"Oh gitu. Eh iya, kamu daftar kuliah dimana?" Maudy bertanya.
"Di universitas gold." Jawabnya dan kembali meneguk minumannya hingga habis.
"Wah kok sama ya? Jangan-jangan jurusan kita juga sama lagi." Ucapnya.
"Serius? Haha bisa jadi, tapi bakal asik kalau berteman sama kamu nantinya, kamu nggak sombong sih orangnya. Lagian juga bakal beruntung bisa punya teman yang sama-sama dari Indonesia. Memangnya kamu ambil jurusan apa?" Wira menatap Maudy menunggu jawaban dengan harapan semoga aja beneran sama.
"Aku jurusan manajemen bisnis."
"Ih beneran sama kita! Atau jangan-jangan kita jodoh kali?" Maudy langsung merubah raut wajahnya. Dan Wira tau kalau Maudy tidak suka atas ucapannya barusan.
"Maaf, aku hanya bercanda kali Dy. Jangan di anggap serius." Maudy mengangguk dan tersenyum kecut.
Ternyata yang model seperti Kiki juga ada disini ya.
"Kamu masih mau disini? Aku kesana dulu ya, ada pelanggan lain tuh yang datang." Pamit pada Wira.
"Aku tunggu kamu disini aja, nanti kalau kamu senggang kesini lagi ya." Maudy membalas dengan jari di bentuk OK lalu dengan cepat datang ke meja dimana pelanggan yang baru datang.
"Silahkan mau pesan apa?" Menawarkan dalam bahasa di negara ini.
"Saya mau lihat menu." Mendongakkan wajahnya. Dan mereka sama-sama tercengang juga kaget. Maudy sampai menggeleng kan kepalanya sendiri, berharap ini bukan mimpi dan khayalan atau juga hanya sebatas halusi nasinya saja.
"Mas Rio?" Menoleh ke arah lain.
Bima???
Bima langsung mendongakkan wajahnya begitu mendengar suara yang tak asing. Suara yang sangat ia rindukan.
Maudy ku? Sayang ku? Cinta ku? Pujaan hatiku? Ini beneran nggak mimpi??
Lama mereka saling tatap hingga Rio berdehem agar mereka sadar bahwa kedatangan kesini untuk mengisi perut.
"Kamu kerja disini atau gimana Dy?"
"Nggak mas. Aku disini bantu-bantu om ku, ini resto punya dia soalnya." Tersenyum ke arah Rio dan Siska. "Mas Rio, kak Siska maaf ya aku nggak bisa datang ke acara pernikahannya. Soalnya-"
Dy, lihat aku dong!
Bima, aku rindu!!!
Setelah melakukan pemesanan Maudy langsung berbalik siap untuk mengambilkan pesanan pacarnya, maksudnya pembelinya. Atau apalah, baginya itu sama saja.
"Aduh." Saat berbalik menabrak seseorang.
"Eh sorry. Dy maaf-maaf ya. Eh Dy, aku mau balik ya soalnya orang tuaku datang ke apartemen. Oh iya aku minta nomor ponsel kamu dong, biar lebih akrab." Maudy bingung.
"Dy?" Panggilnya ulang.
"Ah iya iya, ini." Menyerahkan ponselnya. Sesekali Maudy menoleh ke belakang dengan posisi berdiri yang tak tenang. Wajah Bima sudah memerah, bahkan ia tak berkedip menatap suasana di hadapannya ini. Sementara Rio dan Siska malah tersenyum dan saling pandang.
"Nih, makasih ya. Oh iya, besok malam aku kesini lagi." Pamit dan langsung berlalu pergi setelah mendapatkan nomor Maudy. Dan begitu juga Maudy, ia langsung berjalan cepat.
"Bim, biasa aja kali mukanya." Rio tergelak. Tapi Siska mencubit lengannya untuk tidak seperti itu kepada adiknya.
"Bim, ye haha dia cemburu." Masih tetap menggoda Bima.
"Nggak apa Bim. Mungkin itu temannya Maudy disini, tuh buktinya dia pakai bahasa kita, berarti kan dari negara kita juga kan?" Siska mencoba menenangkan hati Bima.
Mau teman, mau asalnya dari lubang semut sekalipun aku tetap tidak suka. Intinya itu laki-laki, aku tidak suka! Bukan, bukan tidak suka, aku cemburu!!
"Aku ke toilet dulu mas." Berdiri dari duduknya.
"Jangan nangis ya Bim!" Teriak Rio. Terserah lah, toh disini jarang ada yang tau apa yang sedang mereka bicarakan.
Beberapa menit kemudian Maudy datang membawa pesanan mereka. Sementara ia tidak melihat Bima duduk disana.
Kemana Bima?
Pertanyaan itu yang terus muncul di pikirannya, sambil memindahkan makanan dari nampan ke meja.
"Duduk aja disini Dy kalau kamu nggak sibuk." Siska memberi penawaran.
__ADS_1
"Iya kak." Lagian itu juga yang Maudy mau sebenarnya.
"Kamu pasti cari Bima kan?" Tanya Rio.
"Iya mas, dia kemana?" Bertanya balik.
"Dia tadi ijin ke toilet. Coba kamu susulin, siapa tau dia nyasar tuh."
Ya ampun Bima.
"Iya aku kesana dulu ya mas, kak." Langsung pergi menuju toilet.
Kemana sih Bima?
"Bima, Bim?" Mengetuk setiap pintu toilet.
"Eh maaf-maaf." Setelah melihat yang keluar ternyata bukan Bima.
"Kamu ngapain? Mau ngintip laki-laki ya?" Maudy langsung menoleh asal suara.
"Bima, kamu dari mana aja? Makanan udah terhidang di meja, mas Rio juga udah nunggu Bim. Ayo?" Langsung menarik tangan Bima.
"Mau cari turis disini, kenapa?" Maudy langsung menghentikan langkahnya dan melepas tangan Bima.
"Oh ya udah nggak apa. Kali aja cocok sama kamu Bim?" Berjalan meninggalkan Bima.
Kenapa nggak cemburu sih!!
Maudy lebih dulu duduk bersama iparnya Bima dan masnya. Sementara Bima menyusul dengan wajah dingin dan menatap Maudy dengan tajam, tapi sayangnya Maudy tidak sama sekali meliriknya, bahkan terkesan cuek dengan kehadiran Bima.
"Ayo makan Bim." Siska langsung mendekatkan makanan ke Bima.
Semua makan dalam keadaan hening. Sementara Maudy sibuk membalas pesan dari Wira dan senyum nggak jelas. Itu mengundang naf** makan Bima menjadi hilang.
Bima sengaja menjatuhkan sendok nya, supaya dentingan mengalihkan pandangan Maudy. Seperti mencari perhatian, tapi sayangnya Maudy melirik hanya sekilas.
"Makan jangan kayak anak kecil lah Bim, megang sendok aja jatuh, eh sengaja di jatuhin maksudnya." Sebenarnya Siska juga ingin tertawa melihat tingkah Bima, tapi sengaja ia tahan takut kalau Bima tersinggung.
"Udah Bim, kita mau balik lah. Hotel juga kamu tau kan?" Rio berkata tanpa memberi penjelasan. Maudy tau maksudnya apa, iya dia tau kalau masnya ingin meninggalkan Bima disini, bersamanya.
"Nggak, aku ikut aja mas, capek." Ucapnya.
Bisa-bisanya ya Bima, memang beneran nggak mau ngomong sama aku, oke Bim.
"Beneran? Kamu nggak mau disini dulu? Kangen-kangenan sama Maudy gitu?" Rio mulai menggoda.
"Eh maaf mas, aku juga masih sibuk disini. Nggak bisa kalau temani Bima. Maaf ya mas, aku duluan ada pelanggan lain yang datang." Maudy kembali tersenyum ke arah Siska. "Hati-hati ya kak." Lalu pergi meninggalkan mereka.
Kenak kamu Bim, sok jual mahal!
"Sebentar ya sayang, aku bayar dulu." Mencium pipi kanan istrinya, sengaja di lakukan di hadapan Bima.
Seindah itu dan sebebas itu ya kalau udah nikah? Apa nggak malu mas Rio ih. Banyak orang lagi.
"Kamu yakin Bim nggak mau nunggu Maudy dulu?" Siska memastikan sekali lagi.
"Nggak kak. Capek, besok juga bisa kan." Ucapnya lemah. Jangan di tanya suasana hatinya saat ini. Menyesal mengatakan kalau akan ikut pulang ke hotel, menyesal mengatakan itu di hadapan Maudy. Padahal, Bima berharap kalau Maudy itu melarangnya dan berkata "Nanti saja lah Bim." Ternyata Bima hanya berkhayal, semua tidak nyata.
Bima sesekali menoleh ke belakang saat berjalan akan memasuki taxi. Berharap yang kedua kalinya, Maudy mengejarnya, tapi nihil. Bahkan Maudy tidak sama sekali nampak di pandangan mata Bima.
Di tempat lain.
"Ih beneran pulang ya Bim? Mohon sedikit kek, gitu amat." Gerutunya yang melihat Bima memasuki taxi. Maudy melihatnya dari atas gedung. Memandang kepergian Bima di malam ini.
Malam yang harusnya bisa mereka manfaatkan untuk kembali berpacaran seperti terakhir kali di dalam mobil yang mogok. Besok, itu harapan Maudy. Percuma juga kalau munafik, kesempatan untuk bertemu Bima di negara ini tidak akan terjadi berulang-ulang.
Aku tunggu kamu minta jumpa aku besok Bim! Aku tunggu!!
Dan Maudy kembali turun ke bawah. Siap untuk melayani pelanggan yang datang. Dengan wajah yang tak semangat seperti beberapa jam yang lalu.
Helaan nafas lega terdengar ketika omnya sudah menyuruhnya untuk kembali ke rumah utama. Masuk kamar, lalu istirahat dan tidur. Walau pun belum waktunya restoran tutup, tapi omnya memberi batasan jam untuk Maudy membantunya disini. Karena ini hanya sebatas untuk Maudy belajar saja, dan omnya juga tidak kekurangan karyawan.
*Selamat malam hotel ~ Bima.
Selamat malam dan selamat tidur ranjang yang empuk ~ Maudy*.
__ADS_1
--__