Dia Bimaku

Dia Bimaku
Hari pertama di kantor


__ADS_3

Kecupan di kening dan pipi juga bibir, selalu mendarat di wajah Maudy. Itu yang selalu di lakukan Bima sebelum berangkat ke kantor. Hal yang memang wajar dilakukan setiap suami kepada istrinya.


"Sayang, jangan lupa makan." Peringatan pertama.


"Jangan lupa menjawab teleponku nanti di jam makan siang." Kedua.


"Dan jangan melakukan apapun kalau sudah ke resto." Nah kan, Maudy juga tau itu sebenarnya. Mengangguk dan menjawab iya agar Bima segera pergi, tidak dia bukan mengusir. Tapi jika menjawab lain akan ada drama lagi di pagi ini.


Berdiri memandang mobil suami yang mulai menjauh, melambaikan tangan dan memberi kiss melalui tangan. Senyum terus mengembang mengiringi kepergian suaminya, setelah lama tidak melakukan aktivitas akibat kecelakaan itu.


"Heh." Maudy menghela nafas, bukan karena lelah. Tapi dia tau, dimulai dari hari ini, semua perkataan Bima akan dia ingat "mulai di sibukkan di kantor".


"Nyonya, saya mau ijin keluar, stok belanjaan dirumah sudah menipis."


"Oh iya bi, minta di antar supir aja ya."


***


Langkah para karyawan kantor terhenti, baik itu yang akan memasuki gedung kantor dan juga yang baru saja melangkah masuk dekat gerbang. Mereka diam memandang mobil yang sangat mereka kenali.


"Pak Bima kan?"


"Eh, pak Bima masuk kantor."


"Si ganteng udah sembuh, dia udah masuk."


Hah, mereka semua tersenyum senang. Ada beberapa staf yang tampak bergerak lebih cepat untuk masuk ke dalam.


Bima turun dari mobilnya, tersenyum ramah kepada mereka yang saat ini menyapanya.


"Pak? Sudah sembuh ya pak?"


Bima hanya mengangguk dan berjalan masuk.


Resepsionis yang baru saja datang, dan duduk di tempatnya langsung berdiri ketika melihat Bima yang berjalan melewatinya. Tersenyum lagi dan lanjut terus berjalan.


Melihat jam di tangannya, sudah pukul 07:30.


Bima mulai memasuki lift dan menekan tombol sesuai lantai dimana ruangannya berada.


"Revan, apakah kamu sudah berada di kantor?" Bima menempel ponsel di telinganya, lalu berjalan keluar ketika lift sudah mulai terbuka.


"Sudah pak."


Langkah Bima terhenti, tatkala terlihat beberapa karyawan tampak berdiri di depan pintu ruangannya. Sepertinya ingin tau apa yang ada di dalam. Bima mengentikan langkahnya, melihat apa yang mereka lakukan. Tak satupun dari mereka menyadari kehadiran Bima.


"Hem." Semua menoleh mendengar suara itu.


"Eh." Saling tepuk bahu agar melihat siapa yang datang.


"Pak Bima?" Tersenyum kikuk.


"Apa yang kalian lakukan?? Apa ini setiap hari yang kalian lakukan ketika saya tidak ada di kantor?" Deg. Mereka menunduk tau kalau ini salah.


"Maaf pak, kami kira bapak sudah ada di dalam. Kami hanya ingin tau keadaan bapak sekarang." Salah satu dari mereka menjelaskan.


"Kembali lah ke ruangan kalian." Nah kan, bagaimana tidak di bilang baik, bagaimana para karyawan tak merindukannya? Jika Bima sebagai pemimpin sekaligus pemilik perusahaan saja tidak pernah marah. Marah tapi tidak berlebihan.


Mereka pada bubar berhamburan kembali masuk ke ruangan masing-masing. Tapi, bukan langsung duduk di meja mereka masing-masing, melainkan berdiri saling berjejer di balik kaca ruangan. Melihat Bima sudah mulai masuk keruangan.


Apa sebenarnya yang ingin mereka lihat?


Bima membuka pintu ruangannya, semua masih normal.


Sampai detik berikutnya, dia mendongak melihat isi ruangannya.


"Selamat kembali ke kantor pak Bima." Suara yang berdenging di telinganya, matanya membulat. Menatap ruangan yang di sulap dengan berbagai macam hiasan, hei ini bukan hari ulang tahunnya, tapi kenapa ada balon dan bunga disana.


Bima masih diam berdiri tak bergerak. Para staf penting dan petinggi kantor berada disana, memegang sebuah bouqet bunga besar, dan beberapa tulisan menarik berbentuk kaligrafi bertuliskan "selamat datang kembali di kantor pak Bima tampan" Bima sampai menggeleng. Bahkan ia jadi gugup? Harus mengucapkan apa sekarang?


"Kenapa kalian repot-repot seperti ini?" Dia masih belum bergerak, sampai salah satu dari mereka menggiring Bima untuk duduk.


"Kami sangat berharap bapak kembali masuk ke kantor dengan keadaan sehat. Jadi kami berinisiatif untuk melakukan ini pak, menyambut bapak. Ini juga bantuan Revan?"


"Revan?" Revan keluar dari barisan yang menutupi tubuhnya, tersenyum lalu membungkuk.


"Saya tidak tau harus bilang apa, tapi ini memang sungguh luar biasa. Terima kasih banyak." Bima sudah duduk sekarang. Bima kembali menatap satu persatu di antara mereka.


"Sundari?" Gumamnya. Ternyata juga ada Sundari disana, yang berdiri di pojok ruangan dengan memegang balon, pantas saja tadi tak terlihat.


"Pak, ternyata doa bersama yang kami lakukan waktu itu tidak sia-sia. Tuhan mengabulkan doa kami." Ucap salah satu dari mereka lagi.


"Dia bersama?" Bima jelas tidak tau soal itu.


"Iya pak, tepat setelah bapak di temukan, dan di rawat. Kami melakukan doa bersama di halaman kantor. Itu juga pak Rio yang meminta kami semua untuk datang malam itu." Bima masih menggeleng tidak percaya.


Jadi mas Rio melakukan ini?


"Kalau begitu saya harus banyak-banyak mengucapakan terima kasih."


Mereka semua mengangguk.


"Kembali lah keruangan kalian jika tidak ingin hari ini lembur." Mereka semua menghela nafas. "Terkecuali Revan dan Sundari, kalian tetap disini."


Mereka tidak langsung keluar, ada saja tingkah dari karyawan Bima. Mereka berbaris dan menyalami Bima, Bima yang masih bingung hanya bisa mengulurkan tangannya. Dengan wajah kikuk bercampur malu, salah tingkah, ah semua.


Dan hanya bisa menjawab.

__ADS_1


"Iya, terima kasih." Karena mereka bersalaman dan mengucapkan doa baik untuknya.


Hingga benar-benar sudah sepi, semua sudah pada keluar. Hanya ada Sundari dan Revan yang berdiri di hadapan Bima.


"Sundari, sampai kapan kamu akan memegang balon itu?" Eh dia kaget, tersenyum dan langsung meletakkan balon di sudut ruangan, dan kembali ke posisi semula.


"Katakan, kenapa kamu hari ini masih berada di kantor?" Pertanyaan yang di ajukan untuk Sundari.


"Saya hanya ingin membantu mereka menyiapkan kejutan untuk bapak, setelah itu saya akan langsung meminta tanda tangan bapak mengenai surat pengunduran diri saya." Bima mengangguk.


"Maaf ya pak, saya juga harus melakukan ini karena fisik saya tidak kuat lagi."


"Kamu hamil?" Sundari tersenyum lalu mengangguk.


"Selamat kalau gitu, saya mengerti. Kalau istri saya ada di posisi kamu saya juga akan melakukan hal yang sama untuk menyuruhnya berhenti bekerja." Sundari mengangguk lagi.


"Bagaimana kabar istri bapak?" Lama Bima menjawab, sehingga Sundari semakin menundukkan wajahnya.


Ya ampun, apa aku salah bertanya.


"Dia baik, Minggu depan ada acara syukuran tujuh bulan kandungannya. Kamu boleh datang bersama suamimu."


"Benarkah pak? Terima kasih, saya akan datang." Bima mengangguk.


"Ini pak, surat pengunduran diri saya." Sundari berjalan mendekat dan menyerahkan kepada Bima.


Bima meminta pena dengan Revan hanya mengunakan bahasa tangan, lalu dengan sopan Revan memberikannya.


"Sudah." Sundari mengangguk.


"Kalau begitu saya permisi pak." Ada nada sedih sebenarnya, meski hatinya masih tetap ingin berada di kantor dan tetap bekerja, tapi Ilham selaku suaminya memang tidak memperbolehkan lagi Sundari untuk bekerja, apa lagi saat ini dia tengah mengandung, dan ngidamnya juga berlebihan.


Satu bulan Sundari tahankan, selama Bima belum masuk bekerja, dan kini ketika hari itu tiba malah ada rasa tidak rela.


"Sun, tunggu sebentar." Sundari mengentikan langkahnya sebelum keluar dari pintu ruangan.


"Jika kamu bertemu Kiki di luar, tolong beri tau dia dimana ruangan saya?"


Kiki?


"Dia pengantin kamu disini." Tau kalau Sundari masih bingung.


"Baik pak."


***


"Oh itu yang bakal gantikan Sundari? Kenapa nggak pernah ngelihat dia interview disini ya? Apa dia masuk melalui jalur saudara di sini?"


"Kamu ngomong apa sih?"


"Iya itu, kalau ada saudaranya disini kan bisa langsung bekerja, apa lagi ini jabatan yang lumayan. Jadi sekretaris pak Bima loh."


Kiki juga tipe orang yang tak memperdulikan tatapan orang lain terhadapnya. Mau bagaimana pun mereka, ya terserah, begitu pendapatnya saat ini.


"Ki? Kamu udah di tunggu di ruangan. Nanti kamu masuk naik lift dan langsung tekan aja lantai ruangannya pak Bima. Dia sudah beri tau kan?"


"Iya kak Sun."


"Jadi kenapa kamu nggak langsung masuk aja?" Sundari tertawa kecil.


"Iya Bima bilang katanya nanti bakal ada Sundari yang nunjukin, padahal aku sengaja nunggu kakak disini, supaya bisa ketemu, hehe."


"Kamu ini, sudah sana masuk. Kakak duluan ya?"


"Kakak di pulang sendiri?" Sundari menggeleng.


"Nggak, kakak di jemput. Duluan ya Ki?" Melihat memang sudah ada mobil terparkir di depan gerbang.


Enak sekali memang kalau punya pasangan, apa lagi sudah menikah.


Kiki menggelengkan kepalanya.


"Ah aku mikir apa sih."


Kiki melangkah masuk, tidak lagi ada yang bertanya termasuk pihak resepsionis kantor. Karena Revan baru saja mengubungi mereka mengatakan kalau bakal ada seorang wanita berkulit putih, tinggi cantik akan masuk menggantikan Sundari mulai hari ini.


Kiki menekan tombol lift sesuai lantai ruangan Bima. Dan beberapa menit dia sampai, matanya masih liar, melihat yang mana ruangan Bima. Hingga ada salah satu OB yang tengah melintas, membawa dua cangkir kopi.


"Maaf mas, ruangan pak Bima yang mana ya?"


"Itu mbak." Menunjuk ruangan yang ada di hadapannya.


"Oh makasih." Kiki melangkah.


Dan hari ini, Kiki mengunakan rok di atas lutut dan juga kemeja berwarna putih, membawa tas selempang berwarna hitam. Rambut sengaja ia kuncir tinggi, menampakkan leher jenjangnya. Wajah ia poles seperti biasa, soal itu memang Kiki ahlinya.


"Permisi." Kiki mengetuk sebelum masuk, walau Bima juga sahabatnya, tapi disini Bima adalah atasannya.


"Masuk." Terdengar suara sahutan dari dalam, tapi Kiki tau itu bukan suara Bima.


Cklek. Kiki memutar handle pintu.


"Bim?" Mengedarkan pandangannya, tidak ada Bima di dalam. Hanya ada Revan yang duduk di sofa ruangan yang tengah memeriksa tumpukan berkas.


"Duduklah dulu, pak Bima masih di kamar mandi." Suara yang sangat lembut menurut Kiki.


Pandangannya kembali mengedar ke seluruh ruangan, dimana banyaknya bouqet bunga di sudut ruangan, dan beberapa balon yang menghiasi.

__ADS_1


"Kamu sudah datang Ki?" Kiki menoleh.


"Bim, apa kamu ulang tahun?" Kiki tertawa.


"Hei, itu usaha karyawan aku yang memberi kejutan." Membenarkan jasnya dan duduk di kursi kebesarannya.


"Revan, kamu bisa beri tahu apa saja tugas Kiki." Revan mengangguk.


"Kamu mulai bekerja hari ini ya." Kiki mengangguk saja.


"Ini nanti tugas kamu, periksa setiap berkas yang sudah di kirim, mau melalui cetak seperti ini ataupun email. Nah nanti, kalau sudah-"


"Revan, sebaiknya kamu menjelaskan di ruangan kalian sendiri." Bima menyelah. Mereka sama-sama mendongak.


"Baik pak."


"Ki, sebelah ruangan kalian. Ini adalah pintu penghubung. Jadi kalau ada keperluan sama aku, tinggal melalui pintu ini." Kiki mengangguk lagi sebelum mengikuti langkah Revan.


Dan sampainya di ruangan, Kiki masih menatap bingung ruangan ini.


Beneran aku satu ruangan sama Revan? Hanya berdua.


"Tenang, aku nggak akan berbuat macam-macam disini." Ha dia bahkan mengerti apa yang di pikirkan Kiki.


"Ini meja kamu." Kiki mengangguk lagi.


"Sekarang buka laptop nya." Dia mengerjakan apa yang di katakan Revan. Revan membungkukkan tubuhnya, di samping Kiki yang duduk. Mengajarinya apa saja yang akan di kerjakan, dan apa saja tugasnya selama menjadi sekretaris Bima.


"Kalau soal jadwal meeting itu biar aku yang urus. Kalau dulu memang selalu Sundari, tapi karena pak Bima sudah membagi tugas ini agar tidak terlalu berat." Kiki masih menatap fokus layar laptop di hadapannya. Tapi dia tetap mendengarkan apa yang di katakan Revan.


"Nah, itu kamu lihat ada email yang masuk." Menunjuk layar laptop. "Kamu buka, lalu periksa. Dari siapa, perusahaan mana, dan apa isinya, bermaksud ingin mengajak kerja sama atau membeli dari perusahaan kita." Kiki mulai membuka email.


"Kalau sudah di periksa, nanti kamu klik dan kirim ke email pribadi pak Bima. Jika di ACC maka kamu bisa langsung mencetakkan menjadi berkas dan di serahkan kebagian lagi, pokoknya seusia dengan tujuan mereka mengirim email ya."


"Ini klik yang mana?" Kiki masih bingung. "Maksudnya mau tau email pak Bima tuh klik yang mana? Apa udah ada disini?"


"Sebentar." Revan mengambil alih, mendekat dan mendekat bahkan suara hembusan nafas Revan jelas terdengar.


Kenapa jantungku berdegup?


Revan menoleh ke samping melihat Kiki yang diam, pandangan mereka bertemu. Dan detik berikutnya Kiki merasa kikuk dan malu, karena dia juga tak melihat ke arah layar melainkan wajah Revan yang tenang ketika menjelaskan. Lama mereka saling pandang hingga Kiki membuang muka, Revan melanjutkan lagi dan kali ini Kiki fokus melihat ke layar laptop.


"Eh maaf." Tak sengaja Revan menyentuh tangan Kiki yang sama-sama ingin memegang mouse.


"Sudah mengerti?" Kiki mengangguk.


"Baik, kalau begitu aku kembali ke meja ku. Jika ada yang tidak di mengerti kamu langsung tanya aja."


"Iya." Menghilangkan rasa canggung. Kiki menarik nafas dan memulainya.


"Email akan terus masuk. Jadi tidak bisa bersantai." Kiki menoleh.


"Iya." Dia menjawab lagi.


"Nanti siang jangan lupa makan, jangan sampai telat pokoknya aku mau mama sembuh." Kiki menoleh.


Ah ternyata dia menelpon mamanya.


Kiki diam, walau tak ingin mendengar Revan yang tengah berbicara kepada orang tuanya di seberang telepon, tapi tetap saja mendengarnya. Suara manjanya kepada seorang mama, perhatiannya.


Kenapa aku jadi mengaguminya?


"Kamu juga nanti jangan lupa makan." Kiki diam.


"Ki, kamu nggak dengar?"


"Hah apa?"


"Kamu juga nanti jangan lupa makan, jangan terlalu fokus sehingga melupakan jam makan siang."


Ya ampun, ku kira dia nggak ngomong sama aku.


"Ya udah lanjut kerjanya. Aku mau keruangan pak Bima sebentar, kamu nggak apa-apa kan di tinggal sendiri?"


"Iya nggak apa-apa lah."


Memangnya aku takut apa?


"Oh kirain."


"Kirain apa?"


Kiki bertanya sebelum Revan membuka pintu penghubung.


"Enggak." Lalu melangkah keluar.


Ruangan ini sebelumnya menjadi ruangan Sundari yang tidak memiliki pintu penghubung, tapi semenjak Bima memutuskan untuk mengangkat Revan menjadi asisten pribadinya. Maka terciptalah ruangan ini, yang akan di huni untuk Kiki dan Revan, dan mempermudah kerja mereka, tanpa harus bolak-balik keluar pintu dan berputar untuk masuk keruangan nya.


Kecanggungan kembali terjadi ketika Revan kembali dengan membawa dua cangkir kopi.


"Minum ini supaya kamu nggak ngantuk." Heran, bukankah dia hanya bilang akan keruangan Bima?


"Makasih."


"Makasih aja nggak cukup?" Ha? Kiki menoleh.


"Maksudnya."

__ADS_1


"Nggak, lupakan."


--__


__ADS_2