Dia Bimaku

Dia Bimaku
Perasaan mama


__ADS_3

"Dy, aku mau bicara!" Menarik lengan maudy secara paksa. Aldy terbungkam. Bahkan ia menatap langkah kepergian Maudy bersama Bima.


Siapa wanita yang ada di belakang mereka? Apa itu tunangannya.


"Bim, kamu mau kemana?" Luna terus mengejar langkah Bima.


"Eh mau kemana cantik?" Menahan tangan Luna. Tak membiarkan wanita ini menganggu obrolan sepasang kekasih itu.


"Apasih, nggak kenal. Lepas nggak!" Berontak, tetapi Aldy menahan tangannya begitu kuat.


Cantik, imut-imut. Kenapa pacar Maudy bisa menolak? Ah nggak, tapi Maudy juga cantik. Cocok di pertahankan.


"Kamu jangan ganggu mereka!" Ucap Aldy penuh penekanan.


"Nggak usah ikut campur, kamu siapa?"


"Aku temannya Maudy." Ah Luna menatap lekat wajah Aldy.


Tampan.


Hanya itu yang mampu dia ucapkan dalam hatinya. Perlahan tapi pasti, Aldy mampu mengalihkan perhatiannya.


***


"Jadi itu wanitanya ya Bim? Ah masih cantik aku lah." Jangan sedih, kuat, kuat. Terus di tanamkan dalam pikirannya.


Bima malah tidak menjawabnya, ia selipkan kedua tangannya di saku celana dan menatap tajam ke arah Maudy.


"Iya kan Bim? Lebih cantik aku kan?" Memainkan alisnya, menggoda Bima.


"Jangan sembunyi kan kesedihan kamu, nangis aja mumpung aku ada disini." Maudy langsung menunduk. Iya Bima memang benar.


"Tapi jangan sekarang." Maudy kembali mendongak. "Nanti setelah kita bahas siapa lelaki yang pergi sama kamu? Sepertinya kamu sangat senang ya hari ini?"


"Kamu juga pergi bersama wanita itu, menginap lagi. Atau jangan-jangan kalian satu kamar?" Sudah tak tahan rasanya menahan rasa cemburu.


"Aku pergi bersamanya, tapi aku tersiksa. Sementara kamu pergi bersama lelaki lain, kamu bisa tertawa lepas." Bima membuang nafas kasar. "Bukankah itu nggak adil?" Maudy terdiam. Jujur atau tidaknya Bima terserah. Tapi dia senang Bima tak merespon wanita itu. Rasanya tidak sudi menyebutkan namanya.


"Maaf Bim, dia hanya teman."


"Kalau gitu kamu harus terima hukuman dari aku?"


"Apa?" Maudy langsung cepat menjawab.


Pasti minta di cium. Baiklah Bim.


Maudy mendekat, ia sudah memanyunkan bibirnya ke arah Bima. Sambil menutup mata, terserah jika ada yang melihat. Terserah, yang penting sudah menjalani hukuman.


"Kamu ngapain?" Maudy membuka mata saat Bima menutup mulutnya menahan tawa. "Oh jadi semenjak itu kamu sudah kecanduan sama belaian ku ya?" Maudy langsung membulatkan matanya. Kenapa selalu menyebalkan, batinnya menggerutu.


"Aku akan hukum kamu, dengan membawa kamu ke hadapan papa. Menggenggam tanganmu dan mengatakan kalau aku cintanya sama kamu!" Wajahnya berubah serius. Mendengarnya saja membuat Maudy merinding, ah tidak. Tidak, jangan sekarang. Belum juga sempat berkhayal. Sambil menggelengkan kepalanya, sepertinya berbicara dengan hatinya sendiri.


"Kenapa, kamu takut?" Jelas Maudy langsung mengangguk.


"Sama kalau gitu."


"Bima!!!" Memukul dada Bima berkali-kali. Bima langsung memegang tangannya, menariknya ke dalam pelukannya.


Saat ini mereka berdiri dekat taman rumah omnya. Taman yang menjadi saksi mereka bertemu kembali malam itu.


"Bim, ada ibu di dalam." Maudy melirik ke arah rumah.


"Kamu masuk ya? Mau kan Bim?" Bima terlihat cemas, tetapi ia mengangguk yang berarti setuju. Maudy masuk dan di ikutin Bima di belakangnya.


"Bim?" Maudy langsung berbalik menghentikan langkahnya setelah sudah berada di ambang pintu.


"Apa kamu kesini bersama wanita itu?" Bima mengangguk lagi. "Lalu, dia kemana sekarang?"


"Kenapa kamu peduli sayang? Aku saja tidak. Dia sudah cukup umur untuk tau jalan pulang." Sepertinya Bima sungguh-sungguh dengan ucapannya, ia benar-benar tidak peduli.

__ADS_1


Maudy terdiam, setuju dengan ucapan Bima. Dan kembali melangkah menuju ruang tamu. Meninggalkan Bima duduk di sofa dan berkeliling rumah mencari keberadaan ibu dan ayahnya.


"Ada apa Dy?" Ternyata semua tengah berkumpul. Hanya omnya saja yang tidak disini, ia juga sibuk dengan resto.


"Bu, Hem." Melirik ke tantenya. "Ada Bima bu." Tapi wajah ibunya bukan terlihat senang. Ia malah seperti orang yang baru saja melihat setan. Kaget bukan main.


"Dimana dia sekarang Dy?" Tantenya membuka suara.


"Di ruang tamu tante, tadi aku ajak masuk. Nggak apa kan tante?" Maudy juga sadar diri kalau disini ia hanya menumpang.


"Kak, udah sana di temuin calon menantunya." Ternyata dia juga tidak keberatan.


Ibunya melirik ke suaminya terlebih dahulu, setelah mengangguk barulah ia bangkit dan berjalan bersama Maudy ke ruang tamu.


"Bim, kamu disini? Sama siapa?" Langsung duduk di sofa yang lain. Dan Maudy duduk di samping ibunya.


"Sendiri bu." Jawabnya. "Ibu sehat?"


"Alhamdulillah sehat." Wajah ibu Irma tampak cemas. "Bim, bukankah katanya kamu, kamu sudah tunangan? Kenapa sekarang kamu." Mengentikan ucapannya dan menoleh ke arah Maudy. Mereka juga tau apa maksud perkataan ibunya.


Baik Maudy dan Bima, mereka sama-sama menunduk.


"Maaf bu, tapi aku cintanya tetap sama Maudy. Walau aku tunangan dengan orang lain, aku tetap maunya nikah sama Maudy." Kerongkongannya terasa tercekat. Rasanya tidak bisa membohongi perasaannya, baik Maudy dan ibunya, apakah harus senang mendengar hal ini?


"Maaf ya bu. Kalau aku egois. Tapi aku mau ajak Maudy ke hadapan papa. Cuma Maudy belum siap."


Kamu ngomong apasih Bim? Kok aku, tadi kamu bilang juga kalau kamu belum siap!!


"Ah jangan Bim. Ibu nggak mau, tunggu aja sampai papa kamu setuju. Ibu takut kalau nanti papa kamu malah menyakiti Maudy dengan perkataannya." Maudy menunduk, ibunya benar. Itu pasti akan tetap terjadi, bahkan sebelum Bima membawanya ke hadapan papanya.


"Sudah. Yakin, kalau kalian jodoh ya nggak akan kemana. Cuma ibu mau, kamu jangan terlalu sering berjumpa dengan Maudy ya? Ibu takut, takut kalau Maudy nanti di tuduh yang tidak-tidak. Kamu tau kan Bim papa kamu gimana? Maaf Bim, kamu jangan tersinggung." Memandang wajah Bima yang sepertinya terdiam memikirkan sesuatu.


"Iya bu. Nggak apa, itu semua memang benar kok." Terdiam sebentar. "Bu, kalau boleh tau, siapa memberi tau ke ibu kalau aku sudah tunangan?" Deg. Pasti Bima akan menanyakan hal ini.


Tidak mungkin Maudy kan? Bima.


Ah iya, kenapa aku nggak kepikiran hal ini? Apa tante yang bilang? Maudy.


Lama mereka terdiam, baik yang akan mendengarkan dan yang akan memberi jawaban.


Sebenarnya.


Flashback.


Beberapa hari lalu tepatnya di malam pertunangan Bima yang di lakukan secara mendadak.


"Iya mbak? Ada apa? Kenapa nangis?" Ibu Irma sudah panik ketika menerima telepon dari calon besannya. Itu yang biasa ia sebut.


"Aku kecewa, anakku, anakku Bima di jodohkan mbak. Aku nggak mau, aku maunya Bima tetap sama Maudy."


"Ha? Ini beneran? Lalu anakku gimana mbak nasibnya? Ya Allah Maudy." Ia juga sangat kecewa mendengar berita ini.


"Aku nggak tau mbak, cuma memang beberapa tahun ini Bima sudah nggak pernah lagi cerita tentang Maudy. Bahkan dia nggak nolak waktu papanya ngomong kalau akan di jodohkan. Aku nggak habis pikir dengan jalan pikiran suamiku." Saat ini suara Isak sudah terdengar. Sepertinya tangisan seorang ibu sangat pilu jika di dengar.


"Jadi sekarang mbak dimana?" Ibu Irma juga sangat khawatir. Pasalnya ia juga merasakan kesedihan yang sama. Bagaimana perasaan nya Maudy nantinya? Dan sampai saat ini juga anaknya tidak lagi pernah menyinggung soal hubungannya.


"Aku beralasan ke kamar mandi. Padahal ke belakang rumah. Rasanya sesak berada di meja makan."


"Mbak. Mbak yang sabar ya?" Mondar-mandir nggak jelas di dalam kamar. "Udah sekarang mbak balik kesana, nggak enak Mbak ada tamu di tinggal gitu aja. Positif aja dulu, tapi biarlah mereka yang menjalani. Kalau merasa bosan pasti Bima bakal berontak suatu saat, percaya lah mbak."


"Makasih ya mbak Irma." Terdengar helaan nafas lega. Ibu Irma mengucap syukur saat ini bisa menenangkan hati calon besan, mantan besan, ah entahlah tepatnya di sebut apa. Sekarang yang ibu Irma khawatir kan hanya satu, bagaimana perasaan anaknya?


Flashback end.


***


"Itu sebabnya, ibu bingung. Sebenarnya bagaimana hubungan kalian? Apa kalian cuma berteman sekarang, atau?" Menggantung kalimatnya. Lagi-lagi mereka mengerti.


"Bu, maaf. Tapi aku memang cinta sama Bima bu." Dag Dig Dug. Suara detak jantung Bima. Ia bahkan lebih semangat sekarang untuk menggandeng lengan Maudy dan menunjukkan ke papanya. Kalau bisa malam ini. Tapi, mana mungkin Maudy mau.

__ADS_1


"Bim, kamu gimana? Gimana wanita itu? Dan, dia dimana sekarang?" Bima menggeleng.


"Ya sudah. Kalian bicara aja berdua. Ibu mau ke belakang ya, gabung sama yang lain." Tau saja kalau memang mereka ingin bicara berdua.


"Sayang cium dong." Suara manja yang sudah lama tak Maudy dengar. "Tadi katanya cinta, cie."


"Jangan sembarangan deh Bim. Ini tuh dirumah om."


"Tadi katanya cinta." Maudy langsung mengambil salah satu bantal sofa, dan cup. Maudy menciumnya, di salah satu bagian bantal. Lalu melemparkannya ke Bima.


"Hap." Bima menangkap dan mengikuti cara Maudy. Tepat dimana Maudy menempelkan bibirnya beberapa detik lalu.


Mereka sama-sama tergelak. Walau tidak bisa duduk bersebelahan, tetap saja keromantisan bisa terjalin.


Eh, aku lupa. Gimana Aldy sekarang?


***


"Jadi sebenarnya kamu keberatan atau nggak melakukan pertunangan ini?" Ah ternyata mereka duduk di salah satu halte di pinggir jalan. Entah apa tujuannya mereka juga belum mengerti.


"Nggak!" Jawab Luna.


"Kamu merasa bersalah nggak?"


"Nggak!"


Ini cewek ngeselin sumpah! Kalau nggak jawabnya iya. Ah demi teman, teman yang aku suka. Aku rela deh ngulur waktu.


"Kamu cinta sama Bima?" Bertanya lagi. Kali ini Aldy tau jawabannya.


"Iya."


"Tapi Bima nggak cinta sama kamu, peduli juga nggak?"


Luna langsung terdiam. Memang itu kenyataannya.


"Berhenti bertanya masalah pribadiku. Aku nggak kenal kamu."


"Aku Aldy." Langsung memotong ucapan Luna.


"Aku Luna." Eh, Luna langsung menutup mulutnya sendiri. Melirik ke arah Aldy, begitu juga dengannya. Keadaan kembali hening. Hingga Luna menguap, rasanya memang mengantuk.


"Kamu aku antar, mau?" Luna diam.


"Kamu mau naik taxi?" Diam lagi.


"Ya sudah. Kalau begitu, aku duluan." Aldy bangkit dari duduknya. Rasanya percuma bertanya dengan gadis mungil, tapi terlalu pedas mulutnya.


"Eh tunggu." Tak sengaja menarik lengan Aldy. "Aku nebeng ya?" Aldy gantian diam tidak menjawab. Terserah, batinnya.


Luna terus mengikuti langkahnya, hingga sudah sampai di depan mobilnya. Aldy masuk, dan Luna ia mematung. Rasanya tidak tau malu sekali.


"Naik." Ucap Adly setelah menyalakan mobil.


"Makasih ya." Setelah duduk dan memasang Stelbelt nya sendiri.


Keadaan kembali hening setelah mobil berhenti tepat di pinggir jalan, dimana sudah terlihat hotel mewah tempatnya menginap bersama Bima. Bukan satu kamar, tentu Bima tidak ada akan mau.


"Nama kamu siapa tadi?" Luna menunduk setelah turun dari mobil.


"Aldy."


"Oh, makasih ya." Lalu berbalik meninggalkan Aldy. Ia hanya melihat kepergian Luna sampai menghilang dalam lalu lalang pengunjung hotel lainnya.


Gadis aneh.


Sampai di depan pintu kamar hotelnya, Luna tidak langsung masuk. Ia sendiri tidak tau Bima sudah ada di kamarnya atau belum. Ia masih berdiri mematung, mencoba menelpon ponsel milik Bima. Tapi mustahil jika di angkat, apa lagi saat ini dia sedang bersama Maudy.


Dengan menghentakkan kakinya ke lantai, merasa Bima memang tidak ada respect sedikit pun padanya. Luna masuk ke dalam, tidur. Itu pilihannya saat ini. Menutup mata dan berharap besok mentari menyambutnya dengan senyuman. Meski hanya mentari yang tersenyum tak apalah. Setidaknya ada yang memberinya kehangatan di negara orang.

__ADS_1


--__


__ADS_2