
Maudy
Rasanya tuh ngelihat lagi tanah air ini jadi banyak yang beda. Padahal nggak terlalu lama. Aku rasanya tak sabar ingin cepat sampai di rumah. Melihat reaksi ibu yang melihat anaknya pulang ke rumah dengan selamat. Maaf ya bu, aku harus merahasiakan kepulangan ku. Sama seperti ibu, kalau datang buat lihat keadaan aku di luar negeri, ibu selalu diam tak memberi kabar.
Setelah ibu, lalu Bima. haha bagaimana ya reaksinya kalau tiba-tiba aku datang kerumahnya? Wah bakal di sambut pakai apa nih sama papanya.
Aku sampai di bandara sudah pukul 9 malam. Terpaksa harus memesan taxi online, karena ini kan kemauan aku, tidak ada yang di beri tau. Dalam perjalanan ku, selama berada di taxi, tak henti-hentinya aku memandang kagum sekeliling kota ini, kota dimana tempat aku dibesarkan, mengenal cinta, dan menjalani hubungan rumit tanpa restu orang tua. Rasanya belum lama aku pergi kan? Tapi perubahan disana-sini sudah jelas terlihat. Lapangan yang awalnya kosong saja kini sudah berdiri sebuah bangunan yang biasa di sebut dengan stadion. Wow, amazing.
Dan apa? Belum lagi melihat cafe milik Agam. Wah, kini sudah tingkat dan jauh lebih mewah. Pandanganku juga fokus kepada bangunan baru di sebelahnya. Toko yang menjual make up, aksesoris, dan sepatu beserta baju fashion terkini. Ternyata impian Kiki benar-benar terwujud. Ah bagiamana kabar hubungan mereka ya? Pasti lancar-lancar aja, tidak seperti ku yang terlalu banyak kerikil, sehingga kapan saja bisa jatuh terpeleset.
Dari kejauhan aku sudah bisa melihat, bukan melihat rumahku. Tapi melihat tiang lampu jalan rumahku, yang berdiri tegak tepat di sebelah titi. Aku sudah tersenyum, aku sudah memegang gagang pintu mobil. Padahal masih beberapa meter lagi, rasanya tak sabar ingin turun. Bagaimana keadaan gitar dan motor kesayangan ku?
Bukan aku tak mengkhawatirkan keadaan ayah dan ibu, aku yakin mereka sehat. Karena dua hari lalu juga sudah melakukan video call. Aku jelas tau kalau mereka sehat.
Aku langsung turun, bahkan membayar pun aku tak menunggu taxi sampai berhenti, kelamaan nanti.
Perlahan, aku menyeret koper milikku, dan tas selempang yang selalu aku bawa. Berat loh ini, sebenarnya apa saja yang di bawakan Tante ku? Kenapa terasa berat sekali? Apa karena aku membawanya lewat jalur tanah, mungkin iya sih berpengaruh.
Tok.. Tok..
Aku hanya mengetuk pintu, tak mengeluarkan suara sama sekali. Tapi, kenapa belum ada yang menyahut.
Ku ulangi sekali lagi, dan dua kali, ketiga kali.
"Cari siapa neng?" Suara yang ku kenal, iya itu tetanggaku. Aku langsung menoleh.
"Ayah sama ibu kemana ya mang?" Ternyata mang Baim. Tetangga sebelah rumah, yang sudah di anggap seperti keluarga sendiri. Oleh ibu ya, bukan olehku, kalau aku sih netral.
"Oh tadi pergi keluar, nggak tau mau kemana. Soalnya nggak ada pesan. Neng ini siapanya ya?"
Lah, aku kaget bukan main. Aku merasa tidak pernah operasi wajah, jadi kenapa mang Baim tak mengenali ku? Aneh-aneh saja. Aku diam tak menjawabnya, sebal rasanya tak di kenali oleh orang terdekat yang dulu setiap harinya selalu melihat wajahku. Mang Baim langsung pergi begitu aku diam dan membuang pandangan.
Aku bingung sendiri, ketika kulihat garasi, ternyata benar. Mobil ayah tidak ada. Aku duduk, dan kembali berdiri. Ih bosan, mau kasih kejutan malah begini. Nyesel tau nggak!!
Kalau aku telepon sekarang, gimana? Bahkan aku belum membeli kartu perdana. Aku masih memakai kartu yang dari luar negeri. Memesan taxi online saja aku lakukan sebelum penerbangan. Hah, rasanya gimana gitu ya?
Ya sudah. Aku memejamkan mataku sebentar, lelah rasanya selama perjalanan berjam-jam aku nggak tidur. Awalnya aku hanya coba terpejam saja, tak ada niatan untuk tidur dengan pulasnya di kursi teras. Tapi ada yang mengguncang tubuhku, menepuk pipiku dengan lembut. Tangannya dingin, apa hantu? Perlahan ku buka mataku. Mengembalikan kesadaran ku sepenuhnya.
Detik berikutnya aku menjerit. Wajah Bima tepat ada di hadapanku sekarang, paling juga hanya sekitar 5 cm. Bisa di bayangkan kan sedekat apa kami sekarang? Hembusan nafasnya saja aku bisa menghirupnya.
Lama kami saling tatap, hingga aku memukul lengannya. "Kamu ngapain disini Bim?" Sambil melihat situasi, kali aja ayah udah pulang.
"Kamu yang ngapain tidur disini?" Ah iya ya. Aku melihat jam di tanganku, ternyata sudah satu jam aku tertidur di kursi. Sebenarnya kemana ayah sama ibu? Tak biasanya kalau pergi sampai selarut ini. Niat mau buat kejutan malah aku yang di beri kejutan.
"Sayang?" Suara Bima membuyarkan lamunan gerutuan ku. Aku sampai melupakan kehadirannya.
"Kamu kenapa tidur disini?" Dia bahkan mengulang pertanyaannya.
Aku langsung saja menceritakan semuanya. Dan kenapa aku bisa sampai tertidur disini.
__ADS_1
"Jadi, kamu kenapa bisa tau kalau aku udah pulang? Bukankah tak ada yang tau, bahkan Kiki juga aku nggak kasih tau." Kali ini aku yang menatapnya, menunggu jawaban. Aneh-aneh aja, mentang-mentang sekarang sudah bisa pergi kemana pun, kok selalu muncul tiba-tiba.
"Ada deh." Eh dia malah tersenyum, dan anehnya aku suka melihatnya.
"Jadi, gimana caranya kamu masuk ke dalam?" Iya, harusnya ini yang aku pikirkan.
"Nunggu ayah sama ibu lah Bim." Bima kenapa tersenyum sih. Aku merinding melihatnya, karena senyumnya tuh beda. Nggak seperti beberapa detik lalu.
"Kalau ayah kamu nggak pulang gimana?" Mana mungkin, aku langsung berontak dalam hati. Emang mereka kemana, nginep di hotel kan nggak lucu!
"Sebentar, aku lihat dulu. Biasa ayah sama ibu ninggalin kunci disini." Aku langsung berdiri saja melihatnya, aku hafal kok tempat-tempatnya. Yang bodohnya aku kenapa nggak dari tadi coba? Kenapa setelah Bima datang malah aku punya ide begini.
"Ada nggak?" Bima langsung bertanya melihat wajahku yang masih serius mencari benda kecil itu.
"Kok nggak ada ya Bim?" Ah aku pasrah sekarang, memang nihil nggak ada. Apa ayah tidak pernah lagi meninggalkan kunci di rumah? Iya juga ya, karena aku kan nggak disini.
Aku melihat lagi jam di tanganku. Ih udah hampir pukul 11 malam. Makin jengkel aja aku rasanya, tapi mana mungkin aku marah sama ayah ataupun ibu, inikan salahku! Ah nyebelin, keberuntungan nggak berpihak ke aku malam ini.
"Kamu nginep aja dulu di hotel. Biar aku antar? Besok kan kamu bisa pulang, dan itu tetap akan menjadi kejutan orang tua kamu kan sayang?" Ah Bima, aku peluk kamu sekarang deh. Bima yang sekarang selalu ngasih solusi ya.
"Eh tunggu." Aku sudah ingin protes. "Kamu cuma nganter aku aja kan Bim?" Wajahnya seperti tak berekspresi.
"Udah ayo? Ini udah malam?" Ucapnya lagi. Memang benar sih, aku belum lagi menjawab tapi Bima sudah membawa koperku ke mobilnya. Jujur, aku masih penasaran kenapa Bima bisa tau gitu? Jangan dengan alasan menggunakan hati lah, nggak masuk akal kali.
Bima bersenandung di dalam mobil, aku meliriknya. Entah lagu apa juga aku tidak tau, dia masih bergumam sendiri. Suasana hatinya masih baik mungkin, tapi kenapa aku nggak di ajak ngobrol sih.
"Kenapa sayang?" Tersenyum ke arahku. Uwih jantungku berdebar, tampan sekali pacarku ini. Udah seperti Oppa Korea ya?
"Aku ma-"
"Dah sampai." Ah perkataan ku langsung terpotong dengan sampainya kami di hotel.
Aku melihatnya sepanjang perjalanan selalu tersenyum, sebenarnya dia kenapa sih? Aku menunggu Bima, dia yang memesankan kamar untukku, dan dia juga yang membayar. Biar saja, uangnya kan banyak. Nggak akan bangkrut lah kalau hanya bayar sewa hotel dalam satu malam.
"Udah Bim?" Dia mengangguk dan mengulurkan tangannya untuk membantuku bangkit dari duduk.
"Kenapa kamu nggak pulang Bim?" Aku heran, dia masih mengikuti aku masuk ke dalam hotel.
"Memangnya kamu tau nomor kamar kamu? Bukan kah kamu tadi duduk dan tidak mendengarkan?" Aku tertawa dan memukul lengannya. Iya memang benar, aku akui itu. Wajarlah, aku kan sudah ngantuk berat. Rasanya mataku saja sudah pedih sekarang.
Sampai di depan pintu kamar hotel, Bima menyerahkan kuncinya padaku. Aku menatap kunci itu, aku heran, ternyata nggak pakai ID CARD seperti di luar negeri ya? Dasar tidak tau menahu tentang hotel.
"Kenapa?" Tanyanya lagi yang melihatku masih mematung di depan pintu kamar.
"Nggak, disini nggak pakai ID CARD ya?" Ah Bima menertawakan ku sekarang. Sudah lah lupakan jangan di jawab. Aku nggak mau dengar kalau ujung-ujungnya aku terlihat semakin bodoh.
Aku mulai membuka pintunya, huh rasanya tak sabar berbaring di kasur.
"Loh kamu ngapain ikut masuk Bim?" Aku heran. Bima langsung menggoyangkan koper milikku. Oh iya aku sampai lupa, bukannya mengucap terima kasih malah aku menudingnya.
__ADS_1
Bima meminta kuncinya, dan jelas aku memberikannya. Aku langsung ke kamar mandi, ingin sekali mengguyur tubuhku dulu, sudah terasa lengket. Setelah itu baru terpejam. Mungkin Bima mau keluar, terserah lah yang penting aku mandi.
Tidak lama, hanya 15 menit lah aku membersihkan diri. Aku keluar pintu dengan menggunakan handuk yang melilit sampai dada, tak lupa handuk kecil untuk mengeringkan rambut pendekku.
Aku hampir pingsan melihat Bima yang masih ada disini, bahkan ia sudah rebahan di kasur. Aku langsung berjalan dan memukul tubuhnya di bagian dada.
"Aw." Jeritnya, sakit lah. Aku memukulnya dengan keras.
"Kamu ngapain masih disini? Malah tidur lagi." Gerutu ku.
Bima menatapku tak berkedip, aku langsung menatap tubuhku sendiri. "Ahh." Aku menjerit dan menutupi dadaku dengan kedua tanganku. Ya ampun, aku bahkan lupa belum mengenakan pakaian sama sekali. Hanya memakai bra ku yang tadi, karena aku tau, Tante tidak mungkin membawakan itu di koperku.
Aku langsung berbalik, siap melangkah. Tapi terlambat Bima menarikku. Aku langsung jatuh di atas tubuhnya. Untung lilitan handuk tidak terlepas. Aku belum bergerak sama sekali. Tapi ada yang mengganjal disini, keras. Ih aku merinding!!
"Bima!!!" Teriakku sekencang mungkin, jeritan ku menggema di seluruh sudut kamar.
Bima malah tertawa. Sepertinya ia puas melihatku seperti ini. Aku bangkit secara perlahan.
"Bim, kamu tuh ih." Aku langsung masuk kembali ke kamar mandi, tak lupa mengambil salah satu baju yang bisa di kenakan malam ini.
Aku melangkah keluar lagi, dan melihat Bima yang masih duduk di atas kasur dengan senyum manisnya memandang ku. Aku sendiri saja jadi salah tingkah.
"Sumpah, kamu cantik banget." Deg. Jantungku berpacu lebih cepat.
Aku tak menghiraukannya. Aku langsung mengambil tas selempang kesayangan ku. Dan siap untuk memakai cream malam yang mahal. Haha, sombong aku sekarang ya.
Selesai itu aku berjalan menuju kasur, bukan untuk mendekat ke arah Bima. Tapi lebih tepat mengusirnya.
"Bim, sudah larut. Kamu pulang, aku mau istirahat." Tak salah aku kan? Kenapa wajah Bima malah berubah ketat.
"Aku mau tidur disini." Aku langsung membulatkan mata.
"Kenapa? Kan aku yang bayar!" Sumpah Bima tuh nyebelin banget.
"Nanti aku ganti. Udah kamu pulang sekarang!"
"Nggak!"
"Pulang Bim!"
"Nggak!"
Aku mengalah dan langsung naik ke atas kasur, mataku sudah tak sanggup lagi melanjutkan perdebatan ini. Aku membenarkan posisi bantal dan langsung rebahan.
"Aku nggak akan macam-macam kok." Terserah, aku ngantuk dan langsung tidur. Tak memperdulikan Bima yang sudah mapan di sebelahku. Setelahnya aku benar-benar tak sadar dan masuk ke alam mimpi.
Ini malam keduaku tidur bersama Bima.
--__
__ADS_1