
Dua bulan telah berlalu, Revan yang sudah kembali aktif di kantor dan sedikit melupakan kesedihannya yang sudah dua bulan ini kehilangan seorang mama. Adik-adiknya juga sudah pulang ke kampung. Dan hanya Revan yang berada di kota ini. Selama Revan merasa terpuruk dan bersedih, Kiki selalu menemaninya. Tapi Kiki selalu mengatasnamakan pertemanan, Revan pun begitu. Karena tak ingin Kiki menjauh karena adanya perasaan.
Dan juga, persoalan di antara Maudy dan Bima juga sudah membaik. Kini Maudy juga fokus menunggu kelahiran anaknya yang sudah memasuki bulan kelahiran. Dan begitu juga dengan Bima, sekarang ini Bima lebih sering meninggalkan kantornya karena selalu datang untuk melihat pembangunan sekolah.
"Pak, maaf." Bima mendongak.
"Kenapa Van?"
"Tadi resepsionis menelpon saya pak, katanya ada Celine yang ingin bertemu anda!" Bima langsung berdiri dari duduknya dan spontan menggebrak meja. Revan juga sampai terlonjak kaget.
"Katakan kepada mereka untuk memanggil securitty dan mengusirnya dari perusahaan." Revan mengangguk dan kembali ke ruangannya.
"Mau apa lagi dia?"
"Pak, maaf. Dia tidak mau dan terus ngotot." Revan kembali dengan wajah paniknya.
"Kalau begitu kamu saja yang kesana, dan tanya maunya apa. Bilang saja saya sedang rapat." Revan mengangguk dan langsung pergi keluar.
Bima menghela nafas dan kembali melanjutkan kerjanya. Hingga ponselnya berdering, Bima menoleh dulu ke arah jam dinding. Sudah jam istirahat kantor, Bima tau siapa yang biasa selalu menelpon di jam segini. Pasti istrinya yang sudah menunggu Bima dirumah untuk makan siang. Ha sekarang juga Bima setiap jam makan siang harus makan di rumah. Itu bukan kemauannya ataupun kemauan istrinya, tapi itu adalah kemauan papanya sendiri, yang mengatakan kalau itu harus mulai dari sekarang. Untuk selalu melihat kondisi istrinya, karena takut menantunya tiba-tiba merasakan kontraksi melahirkan.
"Hallo sayang." Bima melambaikan tangannya.
"Bim? Aku udah siapin makan siang buat kamu."
Duduk di meja makan dan memarkan makanan yang terhidang kepada Bima.
"Wah, banyak sekali. Sepertinya semuanya enak sayang." Maudy tersenyum senang di seberang telepon.
"Iyalah pasti, apa lagi aku yang masak."
"Kamu yang masak? Really?" Maudy mengangguk antusias.
"Kamu mau pulang sekarang atau sebentar lagi?"
"Sayang, tunggu sebentar lagi ya. Di depan kantor ada Celine. Dia terus ngotot buat jumpa sama aku."
"Dia mau ngapain?"
Cara bicaranya sudah tak selembut pertama kali.
"Aku juga nggak tau sayang. Aku sudah suruh securitty mengusirnya, tapi dia ngotot. Jadi aku suruh saja Revan yang turun ke bawah."
"Awas aja kalau kamu nggak pulang dan akhirnya malah pergi sama dia Bim!"
"Enggaklah sayang." Mengusap layar ponselnya sendiri. Ibarat mengusap wajah istrinya dengan lembut.
"Ya sudah, aku tunggu di rumah ya Bim."
Bima mengangguk dan berkali-kali mengecup layar ponselnya sendiri, Maudy memang selalu tau hal itu akan di lakukan Bima ketika akan mengakhiri panggilan.
Tok.. Tok.. Pintu ruangannya kembali di ketuk. Bima meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah pintu.
"Masuk?" Pintu terbuka, dan menampakkan sosok Kiki disana.
"Ki? Nggak salah kamu mimpi apa? Masuk ruangan aku ketuk pintu dulu." Kiki tak menjawab dan langsung duduk di sofa.
"Kenapa?" Bima menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Bim, aku mau ijin pulang lebih awal nanti ya? Aku nggak bisa lembur Bim." Wajahnya sayu.
"Kamu sakit Ki?" Kiki mengangguk lagi.
"Ya sudah, kamu pulang sekarang juga nggak apa-apa kok." Bima berdiri dan membereskan mejanya, sambil menunggu Revan kembali dengan membawa segala informasi tentang kedatangan Celine kesini.
"Kamu mau pulang kan Bim?"
"Iya Ki, kenapa?"
"Aku ikut, aku rindu Maudy. Aku juga rindu masakannya." Bima diam sebentar, lalu mengangguk.
"Beneran?" Wajahnya langsung berubah. Tersenyum dan langsung berdiri.
"Iya, kamu bawa mobil kan?" Kiki mengangguk.
"Nanti aku akan bilang kalau kamu sudah ijin pulang." Kiki mengangguk lagi dan kembali ke ruangannya untuk membereskan meja kerjanya.
Bima tak sabar menunggu Revan yang lama sekali kembali ke ruangannya. Dan terpaksa menelponnya.
"Dia sudah pergi pak, ini saya masih di dalam lift buat kembali keruangan."
Bima langsung mematikan sambungan telepon dan berjalan keluar ruangan. Dan sudah ada Kiki juga disana, berdiri di depan lift.
"Cepat sekali kamu Ki." Kiki hanya tersenyum tipis.
Pintu lift terbuka, dan ada Revan yang akan melangkah keluar dari dalam lift. Sementara Kiki dan Bima akan segera masuk.
"Revan, saya pulang dulu mau makan siang." Menepuk bahu Revan.
"Iya pak, hati-hati." Lalu menoleh ke arah Kiki yang hanya diam. Tak tersenyum sedikitpun ke arahnya.
"Kiki ijin pulang, dia sakit." Sebelum pintu lift kembali menutup Bima memberi tau. Kiki acuh dan tak sedikitpun menatap ke arah Revan.
Sakit? Pantas saja Kiki sedari tadi hanya diam. Tapi kenapa nggak ada bilang ke aku?
***
Kiki makan dengan diam, Maudy yang sedari tadi hanya memperhatikannya. Wajahnya terlihat lesu bukan seperti orang sakit, tapi sepertinya mempunyai masalah. Maudy sengaja membiarkan Kiki makan dulu setelah itu barulah akan bertanya.
"Sayang?" Maudy menoleh arahnya. "Nanti aku pulang malam. Soalnya harus pergi ke proyek pembangunan sekolah sayang."
__ADS_1
"Iya. Gimana Bim? Apa sudah mulai berdiri bangunannya?"
Bima mengangguk dan menelan dulu makanan yang ada di mulutnya.
"Sudah sayang, tapi belum semua. Kan kamu tau sendiri, bangunan sampai lantai tiga. Bawah untuk SD, lalu SMP, dan yang paling atas SMA."
"What?" Kiki kaget dan langsung meletakkan sendoknya. Mengambil air dan meneguknya, hampir saja dia tersedak.
"Kenapa Ki?" Maudy dan Bima sama-sama menoleh.
"Aku kira itu hanya khusus untuk sekolah dasar aja, ternyata lengkap?" Bima mengangguk sambil mengunyah.
"Kalau gitu nanti anakku sekolah disana aja deh." Maudy tertawa kecil.
"Anak kamu? Makannya nikah dong ah, percuma dong kalau Revan udah lamar kamu tapi nggak di terima." Usilnya berbicara sembarang, membuat Kiki langsung terdiam.
"Kalau anak kamu dan Revan akan aku gratiskan!" Kiki langsung membulatkan matanya. "Iya Ki, aku serius. Tapi kalau kamu nikahnya sama orang lain ya bayar dong."
"Kok gitu sih? Itu namanya maksa Bim! Iya kali harus nikahnya sama Revan! Dia juga udah punya pacar." Ucapnya dengan menggerutu.
"Serius?" Maudy mendengarnya. Kiki hanya mengangguk lemah.
Bima melihat jam di tangannya, piring sudah tandas habis tak bersisa.
"Sayang, aku balik ke kantor sekarang ya?" Maudy mengangguk.
"Iya, kamu hati-hati ya Bim." Bima menyempatkan untuk mengecup kening istrinya sebelum pergi.
"Stop? Cukup itu saja jangan yang lain. Aku bisa iri." Bima dan Maudy langsung tertawa dan geleng kepala. Iya memang benar juga, pikir mereka.
Kiki hanya duduk di meja makan, sementara Maudy berjalan keluar mengantar Bima hingga ke depan.
"Kamu bilang sama supir pelan-pelan aja ya bawa mobilnya, kamu juga baru siap makan. Harusnya kan duduk dulu."
"Iya sayang. Maaf ya, tapi waktunya nggak sempat." Mengelus puncak kepala istrinya. Lagi, dia belum puas sepertinya hanya mencium kening di hadapan Kiki. Melihat ke kanan dan kiri, aman sepertinya. Dengan singkat bibir Maudy Bima sambar, tersenyum melambaikan tangan barulah Bima pergi.
Maudy kembali duduk di meja makan. Kiki juga sudah selesai makan.
"Dy, gimana resto kamu?"
"Iya Alhamdulillah lancar, pelanggan juga semakin ramai Ki."
"Edi gimana? Dia masih kerja Dy?" Maudy mengangguk.
"Maaf nyonya, piringnya saya bereskan ya?"
"Iya bi silahkan." Maudy mengangguk. "Masih, dia juga bilang kalau istrinya sudah hamil."
"Wah? Benarkah Dy?"
"Iya Ki, kamu kalah tuh sama Edi." Tertawa kecil. "Aku juga naikkan gajinya dia sih, karena Edi nggak pernah libur dan juga dia bagus kerjanya." Kiki manggut-manggut.
Kiki langsung terdiam. "Kita ngobrol disana aja ya?" Menunjuk sofa ruang tamu. Maudy mengangguk setuju dan mereka berjalan ke arah sofa, mungkin Kiki akan menceritakan sesuatu, tetapi segan karena ada ART yang tengah membereskan meja makan.
"Kamu serius soal Revan yang udah punya pacar?" Kiki mengangguk, bahkan sebelum Kiki menjelaskan Maudy sudah tau kalau sebenarnya ini masalah Kiki.
"Lalu, kenapa kamu jadi nggak semangat dan mengatakan kalau kamu sakit? Apa kamu cemburu?" Kiki hanya angkat bahu.
"Aku juga nggak tau Dy, setelah beberapa bulan kami lewati dan sering jalan bareng, makan bareng, kok sepertinya aku mulai ada rasa. Tapi aku sendiri juga nggak tau Dy." Kiki menghela nafas. "Tadi pagi tuh ponsel Revan berdering terus sewaktu Revan lagi ke kamar mandi, berkali-kali berbunyi. Terus aku penasaran, siapa tau penting. Aku lihat ternyata namanya tidak ada hanya ada tanda hati." Bahkan Kiki memperagakan dengan kedua tangannya membentuk love. "Nah terus aku nggak berani angkat kan sampai panggilan itu mati, terus dia kirim pesan, menanyakan keberadaan Revan dan bertanya kenapa nggak angkat teleponnya." Kiki diam sebentar.
"Saat aku melangkah berbalik, ternyata Revan juga keluar dan kamar mandi. Aku hanya bilang ada yang telepon. Aku tau, kalau saat itu Revan terus melihatku Dy, tapi aku pura-pura tidak tau. Dan Revan pergi keluar ruangan untuk kembali menelpon orang itu mungkin."
"Fix, kamu cemburu." Maudy malah bersorak senang, sementara Kiki hanya diam dan menekuk wajahnya. Bingung dengan perasaannya sendiri, masak iya harus nyatakan cinta duluan sih! Batinnya.
"Jadi kamu maunya gimana sekarang? Apa harus aku yang tanya sama Revan?"
Kiki langsung menggeleng.
"Jangan Dy! Apaan sih, nggak usah lah. Ya udah, mungkin memang Revan udah nemuin jodohnya Dy. Tinggal aku sekarang."
"Ya harusnya kamu tanya langsung aja sama Revan kalau kamu penasaran. Dia juga pastinya akan jawab kan?"
"Enggaklah Dy, aku rasa udah cukup. Itu juga sudah jelas dan nggak perlu di tanyakan. Intinya aku akan menjauh dari Revan." Tukasnya mantap.
"Itu terserah kamu Ki, kamu juga udah dewasa dan kamu juga udah bisa nentuin pilihan kamu. Kamu tau mana yang baik dan mana yang buruk."
Kiki mengangguk lagi.
***
Di kantor Bima, Bima di bingungkan dengan Banyaknya perlengkapan bayi di dalam ruangannya setelah dia kembali. Ada beberapa mainan dan juga juga yang lainya, memiliki warna-warna unik di setiap benda yang ada. Bima masih berdiri memandangnya, siapa yang memberi ini semua? Apa karyawan kantornya? Kenapa tidak ada yang memberi tau dan sembarangan meletakkan barang-barang ini di ruangannya? Meskipun Bima sempat tersenyum melihatnya, membayangkan kalau anaknya bisa bermain dengan ini ataupun memakai baju baby juga ada disini. Tapi sekali lagi pertanyaan Bima muncul, siapa yang memberi ini semua? Kenapa pihak resepsionis tidak ada memberi taunya tadi sewaktu masuk ke dalam kantor.
Bima langsung menelpon Revan untuk datang ke ruangannya.
"Iya pak?" Revan sudah datang, melihat Bima yang duduk diam sambil melihat begitu banyaknya barang di dalam ruangannya.
"Ini ulah siapa?" Langsung bertanya.
"Begini pak, ternyata tadi Celine datang untuk memberikan ini semua pak. Dan dia juga menitip pesan kepada saya, berterima kasih kepada bapak. Saya juga tidak tau, saat saya tanya katanya sudah yang penting harus di sampaikan." Bima masih diam.
"Saya bingung pak mau di letakkan dimana. Jadi saya minta OB buat letakkan diruangan bapak saja. Maaf pak saya lancang, tapi tadi saya lihat bapak sudah buru-buru untuk pulang jadi tidak sempat menjelaskan." Bima mengangguk sekarang.
"Sekarang tolong kamu panggil OB untuk membawa semua barang ini ke mobil saya." Revan langsung mengangguk dan berjalan keluar ruangan.
Meski tugasnya menumpuk saat ini, double karena Kiki juga pulang. Belum lagi tugas seperti ini, lain dari pekerjannya. Tapi tak pernah sedikitpun Revan mengeluh. Karena baginya, bisa berada di posisinya saat ini itu juga karena kinerjanya yang memang selalu sukses.
Tapi satu yang masih mengganjal di hatinya, kenapa Kiki tidak ada berkata apapun padanya kalau dia sakit dan minta ijin untuk pulang? Walau Revan juga bukan pemilik perusahaan, tapi setidaknya Kiki berbicara kepadanya.
Aku mau telepon Kiki sekarang, tapi gimana aku takut dia lagi istirahat.
__ADS_1
***
Sudah waktunya untuk para karyawan kantor pulang kerumah, dan meninggalkan perusahaan dengan setumpuk pekerjaan mereka. Yang akan kembali di kerjakan esok hari. Tapi tidak dengan Revan, dia harus lembur hari ini bahkan sampai malam. Dan belum bisa di pastikan sampai jam berapa.
Revan meminta di antarkan satu gelas kopi keruangan. Agar matanya dapat melek terus, memang itu sudah menjadi kebiasaannya jika harus lembur di kantor. Tugas Kiki juga Revan yang harus mengerjakan. Heh, helaan nafas terdengar. Revan memijat sendiri keningnya, kepala mulai terasa pusing. Mata menatap layar laptop juga sudah mulai kabur.
Tak terasa, sudah dua jam lamanya Revan berada di ruangannya. Mengambil ponselnya dari laci meja, menekan layar dan mencari nomor Kiki. Ragu, dan meletakkan kembali ponselnya. Sudah berulangkali Revan melakukan hal itu. Dan yang terakhir, karena memang rasa khawatir itu jelas ada. Revan langsung menghubungi Kiki.
Panggilan pertama, Kiki tidak menjawab. Kedua, juga begitu.
Revan hanya bisa mengirim pesan, dan sangat berharap jika Kiki akan membalasnya nanti.
"Ki, apa kamu udah enakan?"
Dan tak di sangka, ternyata Kiki langsung membacanya bahkan langsung membalas pesan singkat dari Revan.
"Sudah."
Hanya itu, Revan kembali memikirkan akan bertanya apa lagi sekarang. Mengusap-usap layar ponselnya sendiri. Menopang dagu dengan satu tangannya. Lalu dengan pelan mengetik sebuah pesan lagi.
"Kamu sudah berobat?"
Terkirim.
"Belum."
Kiki membalas lagi.
"Kenapa? Apa mau kau antar kamu berobat?"
Lama Kiki membalas, meski pesan juga sudah di baca. Revan meletakan ponselnya terlebih dahulu, dan kembali melanjutkan kerjanya sambil menunggu balasan pesan dari Kiki.
10 menit kemudian, notif di ponsel Revan berbunyi, dengan cepat Revan menyambar ponselnya. Dan menyandarkan tubuhnya sambil membaca pesan dari Kiki.
"Nggak usah, nggak perlu. Nanti pacar kamu marah."
Revan langsung mengerutkan keningnya, dia tak membalas lagi langsung meletakkan ponselnya. Dan, Revan segera mempercepat kerjanya agar cepat selesai.
***
Kiki masuk ke dalam kamar setelah mendengar mamanya berbicara kalau besok malam akan pulang sekaligus membawa rekannya untuk berjumpa dengan Kiki, lebih tepatnya Kiki akan di kenalkan dengan anak dari rekan papanya.
Kiki tak menolak, dia mau dan entah kenapa malah senang mendengar hal itu. Berbaring di tempat, Revan juga sudah tidak lagi membalas pesannya yang berarti itu memang benar menurut Kiki.
"Dasar!" Melihat photo di galery ponselnya yang sedang duduk berdua dengan Revan.
Eh kenapa aku marah sih? Seharusnya kan aku juga senang kalau Revan sudah punya pacar.
Kiki meletakkan ponselnya dan tak lupa memasang alarm di ponselnya. Lalu memejamkan mata karena besok harus bangun pagi dan memulai aktivitas seperti biasanya di kantor.
Samar-samar mendengar mamanya mengetuk pintu kamar, Kiki menggeliat.
"Ki, bangun." Kiki melihat ke arah jam dinding, masih pukul 10 malam. Kenapa sudah di bangunkan? Apa aku salah, ini sudah jam 10 pagi? Batinnya.
Reflek Kiki langsung bangun, dan berlari kecil untuk membuka pintu kamarnya.
"Ma, aku kesiangan ya?" Mamanya tersenyum dan menggeleng.
"Jadi kenapa mama bangunkan aku? Ini beneran masih malam kan ma?" Kiki menguap dan menutup mulutnya dengan satu tangan.
"Ki, di luar ada Revan." Deg. Langsung membuka sempurna kedua matanya. "Mama udah suruh dia masuk, tapi katanya mau duduk di luar aja. Ada urusan penting sama kamu. Coba kamu keluar, siapa tau itu urusan pekerjaan. Kalau nggak mana mungkin dia datang kerumah di jam segini, dan memakai pakaian kantornya lagi."
Ha? Apa Revan lembur?
"Sebentar ma." Kiki kembali masuk ke dalam untuk mengambil karet untuk mengikat rambutnya ubah sudah berantakan.
Kiki berjalan keluar, rambut hanya ia ikat asal. Wajah yang juga tanpa make up dan piyama tidur berwarna pink yang di gunakan saat ini, sudah seperti anak rumahan lah.
"Revan? Kamu ngapain?" Revan berdiri di samping mobil menyadarkan tubuhnya sambil memejamkan mata. Kiki langsung berjalan mendekat.
"Kamu lembur ya?" Revan mengangguk dan tersenyum, senyum manis yang selalu Kiki lihat setiap harinya. Meski wajah yang lelah karena harus lembur tapi tak sedikitpun mengurangi ketampanan Revan di malam ini. Belum lagi aroma tubuhnya, yang sama sekali belum tersentuh air. Heh, baju juga sudah ia kenakan sedari pagi.
"Sampai jam segini?" Revan mengangguk lagi. "Pasti gara-gara aku pulang tadi ya? Duh maaf ya?" Kiki jadi merasa bersalah, tapi Revan tetap tersenyum menatapnya.
"Cantik." Sambil tersenyum menatap ke Kiki.
"Maksudnya?"
"Kamu cantik." Kiki langsung terdiam. "Kamu sakit apa?" Bertanya dengan lembut.
"Aku, aku cuma Hem cuma nggak enak badan aja. Mungkin karena kecapekan." Dia sendiri jadi salah tingkah hanya karena di bilang cantik. "Kita duduk disana ya? Kamu apa nggak capek berdiri terus?"
Revan langsung menggeleng.
"Justru aku capek duduk terus." Kiki tertawa kecil.
"Ya udah terserah kamu. Kamu kenapa malam-malam kesini? Kata mama ada urusan penting, memangnya ada apa?"
"Kamu udah tidur tadi ya?" Kiki mengangguk. "Maaf udah ganggu ya, Hem tapi aku sempat lihat sih tadi kalau kamu sempat mengintip aku dari jendela kamar kamu." Kiki langsung menoleh ke belakang lalu mendongak ke atas untuk melihat posisi jendela kamarnya yang menang terlihat dari bawah sini.
"Iya hehe. Aku tanya belum kamu jawab Van." Revan berdehem sebelum berbicara.
"Kamu tau darimana kalau aku punya pacar?" Kiki langsung menoleh ke arahnya, menatap kedua matanya.
Jadi beneran????
Kiki langsung memberi alasan hanya menebak saja, dan ini semua memang sudah menjelaskan bahwa Revan memang benar sudah memiliki pacar. Kiki langsung minta ijin untuk masuk ke dalam rumah, dengan alasan tubuhnya terasa menggigil terkena angin malam.
"Ya sudah, semoga kamu cepat sembuh ya?" Kiki mengangguk dan langsung menutup pintu.
__ADS_1
---_