Dia Bimaku

Dia Bimaku
Pulang kerumah ibu


__ADS_3

Maudy berjalan santai di pagi hari, dengan di temani Bima tentunya. Itu juga saran dari dokter, dengan alasan bagus untuk ibu hamil. Karena jika sudah memasuki hamil tua, harus melakukan banyak pergerakan.


Bima sudah pernah menawarkan untuk Maudy mengikuti senam hamil, tapi Maudy menolak. Dan Bima juga pernah meminta guru senam yang langsung datang kerumah, Maudy juga tetap menolak. Yang katanya, tanpa itu juga anaknya tetap lahir, dan juga dulu ibu melahirkannya tidak pernah mengikuti senam semacam itu. Baiklah, Bima selalu mengalah, karena memang susah berdebat dengan wanita.


"Sudah lelah sayang?" Maudy mengangguk. Wajahnya sudah meneteskan banyak keringat.


Bima menuntun Maudy dengan telaten. Hingga masuk ke dalam rumah.


"Bi, siapkan sarapan ya."


"Kita nggak mandi dulu Bim?"


"Nggak usah sayang, aku juga sudah lapar." Maudy menurut saja dan duduk dekat meja makan.


ART sudah menyusun semua makanan untuk sarapan mereka.


"Sayang, aku mau ini terakhir kalinya kamu masak ya? Jangan di paksakan sayang. Biarkan bi Marni saja yang memasak."


Memang makanan yang terhidang di atas meja sekarang, semuanya Maudy yang memasak sendiri. Bangun pagi memasak, setelahnya membangunkan Bima untuk menemaninya jalan pagi. ART hanya membantu apa yang sudah di tugaskan pada mereka, seperti memotong sayuran, mengupas bawang, dan yang lain jika Maudy sendiri sudah merasa repot.


"Bim, kamu lupa apa kata dokter? Aku itu harus banyak gerak. Lagian kan cuma masak Bim. Aku di resto nggak boleh ngapa-ngapain, dirumah juga nggak boleh ngapa-ngapain. Duh Bim, jangan buat anak kita manja deh." Bima terdiam.


"Segini cukup?" Maudy menuangkan nasi ke piring Bima.


"Cukup sayang."


"Bim, nanti jangan lupa ya." Sambil menuangkan nasi ke piringnya.


"Apa sayang?" Maudy menghela nafas. Sudah yakin pasti Bima akan lupa jika tidak di ingatkan.


"Ya ampun Bim, masak setiap bulan harus di ingatkan sih? Harusnya kan kamu sudah hafal tanggal setiap bulannya aku periksa ke dokter." Ngedumel, sensi sekali sepertinya ibu hamil ini.


"Iya sayang maaf ya. Nanti siang aku pulang. Biar Revan yang ngehandle di perusahaan." Maudy mengangguk. Walaupun Bima berkata begitu saja, baginya itu adalah sebuah janji, janji yang harus di tepati.


Selesai sarapan, Bima langsung mandi dan bersiap akan ke kantor. Ada hal yang sangat ingin dia bicarakan dengan istrinya. Tapi kalau di bicarakan bisa-bisa emosinya tak terkontrol dan berdampak pada calon anaknya.


"Sayang, aku pergi ya?"


"Tunggu sebentar." Maudy berjalan mendekat, membenarkan dasi Bima yang agak miring dan kurang rapi.


"Duh istriku." Malah memeluk, mencium sesukanya, di seluruh inci wajah istrinya.


"Jangan lupa nanti siang ya Bim?"


"Iya sayang. Kalau telat sedikit nanti kamu minta antar supir aja kerumah sakit. Aku nyusul kesana, mau ya?" Berpikir sebentar.


"Iya deh nggak apa-apa." Mereka berjalan menuruni anak tangga. Maudy mengantar Bima seperti biasanya, hingga di halaman rumah. Bahkan sampai di depan pintu mobil Bima.


Tidak ada kegiatan setelah ini, ah bosan. Biasanya juga kalau bosan Maudy selalu menghubungi Kiki dan menyuruhnya untuk datang kesini. Ingin sekali main kerumah ibunya, tapi hari ini jadwalnya untuk periksa kandungan ke dokter. Jadi serba salah. Tak ada pilihan lain, selain ke resto dan melihat kerja karyawannya.


Itu juga nanti, menunggu resto buka.


***


Jam yang di tunggu tiba, Maudy segera keluar dari kamarnya untuk menuju ke resto. Sambil menuruni anak tangga Maudy menempelkan ponsel di telinganya. Bukan mengubungi Bima, melainkan ibunya.


"Hallo Dy? Ada apa?"


"Ibu? Nggak ada, aku rindu."


"Main kesini, sekalian kamu lihat nih rumah om kamu hampir selesai."


"Maunya sih gitu. Tapi siang ini aku harus periksa ke dokter bu. Sudah jadwalnya."


"Kalau kamu sempat, nanti pulang kamu mampir kesini ya?"


"Iya bu. Nanti aku bilang ke Bima. Ibu pengen makan apa?"


"Nggak ada sayang. Ibu cuma pengen jumpa kamu aja."


Maudy tertawa kecil.


Heh, dia menghela nafas dan duduk dulu di sofa. Ternyata di usia kehamilan yang bertambah jika melakukan aktivitas sedikit saja, seperti menuruni anak tangga sudah membuatnya lelah. Nafas juga sudah terasa sesak.


"Siapa Bu?"


"Maudy yah."


Maudy tersenyum mendengar suara ayahnya.


"Hallo Dy?"


"Ayah?"


"Kamu nggak kesini?"


"Ini juga baru di bahas sama ibu."


"Ayah tunggu loh."


Maudy tertawa lagi, mendengar ayahnya yang berbicara dengan nada lembut tapi kalimatnya seperti ancaman.


"Iya yah. Ya udah aku tutup dulu ya teleponnya."


Berdiri dari duduknya dan berjalan ke samping rumah, sudah bisa di tebak Maudy akan kemana saat ini.


"Ah ini kebetulan ada kamu datang Dy, jadi aku nggak perlu repot-repot gedor rumah kamu hehe."


"Nggak sopan." Edi tertawa.


"Kamu mau ngapain?" Maudy duduk, dan Edi juga mengikuti, resto baru saja di buka jadi belum ada pembeli yang datang.


"Dy, aku mau minta cuti. Dua hari lagi aku nikah Dy."

__ADS_1


"Serius? Beneran jadi nikahnya?" Edi tertawa.


"Aku normal kok Dy." Memang begitu nada bicaranya seperti mengayun, lembut.


"Ya udah, kamu udah kasih tau teman yang lain kan? Bilang mereka jangan ada yang libur." Edi mengangguk.


"Aku udah bilang kok Dy."


"Kamu mau cuti berapa hari?" Edi masih berpikir.


"Dua hari aja Dy, cukup." Kan baik sekali pemilik restonya, mau cuti juga di tanya, gimana kalau Edi minta cutinya satu bulan.


"Yakin, cukup dua hari?" Edi mengangguk lagi.


"Iya cuma nikah aja. Soalnya pihak keluarga calon istri aku memang mereka nggak mau di adakan resepsi gitu. Ya kamu tau lah gimana kalau orang yang taat Agama kan?" Maudy manggut-manggut.


"Oh, jadi ceritanya kamu ini nikahi anak yang bisa dibilang ahli Agama?"


"Iya gitu."


"Ya udah sana, kamu lanjut kerja."


Heh, nggak terasa memang ya, satu persatu teman-teman aku juga menikah. Tinggal Kiki yang belum, eh apa dia beneran balik lagi sama Agam?


***


Siang yang di tunggu tiba, Maudy sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit. Menunggu Bima terlebih dahulu, duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Nyonya muda, itu supir tanya jadi atau tidak perginya." Maudy menghela nafas, melihat lagi jam di tangannya.


"Sebentar lagi bilang ya bi."


Maudy kembali menghubungi Bima, tapi lagi-lagi nomor ponselnya tidak aktif.


Takut kalau malah nantinya menunggu giliran di periksa akan lama, mendapat nomor antrian yang terakhir dan Maudy memutuskan untuk langsung pergi sekarang juga. Dan berpikir mungkin Bima akan menepati janjinya dengan menyusul ke rumah sakit.


"Pak, kita pergi sekarang ya?"


"Bi, nanti kalau Bima pulang suruh langsung aja kerumah sakti ya."


"Iya Nya. Nyonya hati-hati ya."


"Iya bi. Titip rumah ya, soalnya nanti selesai periksa aku mau kerumah ibu."


"Titip salam sama ibu Irma ya Nya." Maudy tersenyum lalu mengangguk.


Menatap ke arah jalanan saat mobil sudah melaju. Berkali-kali terus mencoba menghubungi Bima sewaktu dalam perjalanan, mau menelepon Revan tapi tidak mempunyai nomor ponselnya. Menelpon Kiki masih ragu, lagian juga Maudy masih marah dengan sahabatnya itu.


Heh, apa Bima sudah sampai di rumah sakit duluan ya?


Hanya butuh waktu sekitar 20 menit Maudy sudah sampai dirumah sakit. Mungkin karena ini juga masih siang, jadi jalanan kota tidak terlalu ramai, sehingga bebas dari kemacetan.


"Pak kalau lihat mobil Bima, tolong bapak bilang kalau saya sudah di dalam ya."


Maudy berjalan sendirian, dengan perutnya yang sudah semakin membesar setiap harinya. Matanya menangkap sosok ibu hamil yang ditemani suaminya untuk periksa. Dan ada juga yang sedang berjalan mondar-mandir sambil memegang perut, menunggu kelahirannya.


Dan sampailah Maudy di ruangan dimana setiap bulannya dia akan melakukan pemeriksaan kandungan. Maudy masuk dan mendaftar, sudah ada beberapa ibu hamil yang duduk mengantri menunggu namanya di panggil.


"Silahkan tunggu di luar ya ibu." Maudy mengangguk.


Dengan malas berjalan keluar, melihat semuanya di dampingi oleh suaminya. Hatinya langsung mencelos, ada kekecewaan, padahal seharusnya Bima sudah disini sekarang.


Maudy sedikit menurunkan emosinya, dan tidak ingin berpikir negatif dulu. Mungkin Bima sudah di perjalanan menuju kesini, mana mungkin dia lupa. Batinnya.


Hampir satu jam lamanya Maudy menunggu, tapi Bima tak kunjung datang. Berkali-kali memanjangkan lehernya untuk sekedar melihat siapa yang datang ketika mendengar suara langkah kaki.


"Ibu Maudy Ambar Sari." Namanya sudah di panggil. Dengan malas dia berdiri, belum lagi tatapan orang-orang seperti prihatin melihatnya, mungkin berpikir kalau Maudy juga seorang single mother.


Gerakan yang penuh keterbatasan sudah Maudy rasakan sekarang, berjalan juga sudah tidak bisa cepat seperti biasanya.


"Ibu Maudy, silahkan berbaring." Maudy menurut.


"Ibu sendiri?"


"Tidak dok, saya di antar supir." Dokter tersenyum.


"Iya maksud saya suaminya tidak menemani? Pak Bima ibu." Maudy menggeleng pelan.


"Ya sudah. Ini usia kandungan sudah memasuki bulan ke delapan ya, tapi belum genap." Maudy mengangguk.


"Kita melakukan USG ya ibu?"


"Iya dokter." Sebelum itu, dokter memeriksa detak jantung dua janin yang saat ini hidup di rahim Maudy. Dokter tersenyum.


"Semuanya normal, bagus."


Kemudian, dokter mengoleskan gel yang selalu di gunakan sebelum melakukan USG. Maudy menatap layar yang menampakkan kedua calon anaknya disana. Walau saat ini kecewa karena Bima tak bisa menemani, tapi dia masih bisa tersenyum, melihat dua janin yang di kandung sehat.


"Beratnya juga sudah normal. Bagus, sepertinya ibu selalu melaksanakan apa yang sudah saya sarankan ya?"


Maudy mengangguk lagi. Ada sedikit kelegaan di hatinya.


"Saya bisa melahirkan dengan normal kan dok?"


"Sejauh ini tidak ada masalah, posisi bayi juga sudah mulai memutar. Jadi bisa di pastikan kalau lahiran nanti bisa normal." Maudy mengusap dadanya. Bernafas lega, memang Maudy sendiri sangat menginginkan itu, melahirkan dengan normal tanpa adanya operasi.


"Tapi, karena ibu mengandung dua janin sekaligus, yang berarti ibu akan melahirkan dua bayi nantinya. Semoga saja ibu kuat, jika ada keraguan atau pihak keluarga menyarankan untuk melakukan operasi saja segera beritahu kami satu bulan sebelum memasuki usia kandungan akhir. Agar kami juga bisa menentukan kapan akan di lakukan operasinya."


"Kenapa gitu dok?"


"Iya, soalnya jika memang berniat akan melakukan operasi saja, kita tidak perlu menunggu ibu merasakan kontraksi." Maudy paham dan mengangguk. Tapi tetap saja dia maunya melahirkan secara normal.


Aku nggak akan bilang hal ini ke Bima, biar saja dia cari tau sendiri dan tanya sama dokternya.

__ADS_1


"Vitamin selalu di minum kan?"


"Di minum kok dok."


"Saya akan menyuntikkan vitamin, tahan ya."


Setelah selesai, Maudy keluar ruangan. Dan langsung saja berjalan keluar rumah sakit. Perasaan kecewa kembali datang. Sungguh dia sangat marah kepada Bima saat ini. Memang pekerjaan penting, tapi bukankah hanya menemaninya sebentar juga penting? Saat ini kan ingin tau kondisi bayinya.


Aku matikan saja ponselku gantian.


Sekarang, Maudy menganggap bahwa Bima memang sengaja mematikan ponselnya, agar Maudy tidak bisa menghubunginya.


"Pak, antarkan saya kerumah ibu ya. Di jalan Cemara. Bapak tau kan alamatnya?"


"Iya tau Nya."


***


Perjalanan dari rumah sakit kerumah ibunya memakan waktu hampir satu jam. Karena memang berputar arah, sehingga lebih jauh.


"Pak, bapak langsung pulang aja. Nanti saya pulang bisa di antar ayah."


"Kalau pak Bima tanya gimana Nya?"


"Bilang aja saya di rumah ibu." Supri mengangguk, Maudy turun dan langsung masuk kerumah ibunya. Hatinya sedang kesal saat ini, jadi tak terpikirkan untuk sekedar melirik ke arah pembangunan rumah omnya.


"Bu?" Maudy masuk dan melihat semuanya sepi.


"Ibu?"


"Eh, kamu sudah sampai?" Ibu berjalan dari arah dapur. Maudy menebak pasti ibunya tengah memasak.


"Iya. Ibu ngapain di dapur. Ayah mana?"


"Ayah di depan, dia lagi lihat pembangunan rumah om kamu. Apa kamu nggak lihat?" Maudy menggelengkan kepalanya.


"Kamu kenapa?" Melihat wajah anaknya yang di tekuk. Seorang ibu pasti tau jika anaknya sedang tidak enak hati.


"Nggak apa-apa bu."


"Bima mana? Kenapa nggak di ajak masuk Dy?" Clingak-clinguk. "Apa Bima di luar sama ayah?"


"Bima nggak ada. Aku di antar supir kesini bu." Deg. Ibunya tau sekarang kenapa wajah anaknya lesu.


"Tisha mana bu? Aku mau tidur, ngantuk."


"Tisha belum pulang, ya udah sana kamu masuk kamar. Nanti kalau ibu bangunkan kamu makan ya, soalnya ibu lagi masak sayur asem kesukaan kamu."


"Iya bu." Benar-benar tidak ada gairahnya saat ini. Sudah tidak sabar akan memarahi Bima, eh tidak Maudy menggeleng pelan. Aku akan mendiamkannya dan tidur dirumah ibu malam ini.


Maudy merasa sangat nyaman tidur disini. Kamar tidur yang menjadi tempatnya selama bertahun-tahun. Walau saat ini sudah Tisha yang menempati. Tapi itu juga jarang kata ibu, terkadang Tisha lebih memilih tidur di kamarnya sendiri, palingan hanya memakai kamar mandi saja disini.


Perasaan baru saja dia tertidur, sudah ada yang menganggu sekarang.


"Mbak, bangun mbak. Ada kak Bima di luar." Maudy malah mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Tisha yang duduk di tepi ranjangnya.


"Mbak."


"Hem."


"Ada kak Bima."


"Suruh aja dia pulang, aku mau nginep disini." Entengnya dia berbicara.


Tisha keluar kamar lagi dan membisikkan sesuatu kepada ibunya.


"Beneran?" Tisha mengangguk dan berjalan pergi masuk ke kamarnya sendiri.


"Bim, coba kamu masuk aja ke dalam. Kata Tisha Maudy masih tidur." Bima mengangguk dan masuk ke dalam kamar.


Berjalan tanpa memanggil, terus mendekat dan naik ke atas tempat tidur, berbaring di samping istrinya. Lama Bian menatap wajah istrinya yang terlelap.


Mengelus puncak kepalanya, tapi Maudy langsung mengibaskan tangan Bima menjauh, tidak ingin di sentuh.


"Sayang, maaf." Berucap dengan lirih.


"Sayang?" Maudy langsung bangun, dia duduk.


"Keluar!"


"Sayang?"


"Aku bilang keluar!"


"Sayang aku tadi benar-benar-"


"Lupa? Iyakan? Lupa! Haha." Bima terdiam dan menunduk.


"Aku nggak mau pulang, aku mau dirumah ibu."


"Hei, sayang jangan begitu." Masih berusaha ingin memeluk tubuh Maudy. Tapi Maudy selalu menghindar.


"Kamu bisa lupa? Aku nggak habis pikir soal itu." Tertawa sinis. "Jangan mendekat atau aku akan jatuh." Bima langsung berhenti bergerak.


"Aku bilang keluar! Aku nggak akan mau pulang."


Bima pasrah dan turun, dia yakin kemarahan istrinya hanya sebentar. Ini memang salahnya. Dan melangkah keluar kamar.


Ternyata ibu Irma juga sudah berdiri menunggu tak jauh dari pintu. Melihat wajah Bima yang menyedihkan, dia tau kalau Maudy pasti tidak mengubah keputusannya.


"Bim? Kamu pulang lah dulu. Nanti ibu yang bicara sama Maudy. Kalau dia sudah menurunkan emosinya kamu jemput aja nanti malam." Bima hanya bisa mengangguk lesu dan pamit pulang.


--__

__ADS_1


__ADS_2