
Acara barbeque malam sungguh tidak ada rencana, ini hanya kemauan papa Adi yang tiba-tiba sore tadi meminta. Hingga seluruh ART di buat sibuk untuk menyiapkan mulai dari bahan dan alat panggang. Tidak ada acara apapun. Hanya keluarga inti saja. Jelas istrinya senang walau awalnya sempat protes dan mengatakan, kenapa mendadak. Dengan enteng papa Adi menjawab "tadi liat iklan ma, kok papa jadi pengen." Siska ataupun Rio juga tidak keberatan, walaupun juga sama dengan mamanya yang awalnya kaget. Tapi sebenarnya mereka juga senang, sudah lama sekali juga tidak melakukan ini dirumah. Semua pada di sibukkan dengan urusan masing-masing, paling hanya makan yang selalu bersama. Itu juga hanya berlangsung beberapa menit saja kan. Apa lagi ketika makan tidak ada yang berbicara, jadi banyak kehilangan momen indah sebuah keluarga.
Mama Lisa mengoles bumbu, papa Adi mengipas bersama anak lelakinya. ART hanya menyiapkan saja, tapi untuk memanggang mereka memilih sendiri. Acara barbeque mereka lakukan di halaman depan rumah. Dan mengeluarkan beberapa kursi mewah mereka. Dafa dan Rafa asik bermain berdua, tapi tetap dalam pengawasan Siska.
"Ma, Bima nggak mama kasih tau?" Rio bertanya. Papanya juga menoleh, dan langsung meminta istrinya untuk menyuruh Bima kesini.
"Bagaimana bisa di lupakan sih ma." Nah sekarang malah dia sendiri yang protes. Mama Lisa segera berjalan masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya.
"Ini udah Io." Rio mengangguk. Lalu siap untuk mengangkat panggangan pertamanya. Daging yang sudah di lumuri bumbu ala mama Lisa sangat menggoda di pandang oleh mata. Siapapun yang melihat pasti akan menekan salivanya, tak sabar ingin mencicipi.
"Nggak di angkat pa." Berjalan keluar lagi, mulai sibuk dengan ponselnya dan melupakan tugasnya. Lagi, mama Lisa mencoba menelepon lagi.
"Coba Maudy ma." Siska memberi saran.
"Iya coba mama telepon sebentar." Sudah menempelkan ponsel di telinganya, detik berikutnya terlihat wajah mama Lisa sumringah.
"Hallo Dy." Baik Rio dan papa Adi menoleh ke arah mama Lisa.
"Ya ma?"
"Dy, kalian bisa kesini nggak? Ke rumah mama? Soalnya mama sama yang lain lagi buat acara barbeque ini. Itu juga mendadak karena papa yang minta jadi baru kasih kabar kalian sekarang."
"Duh, gimana ya ma."
"Kenapa sayang? Nggak bisa ya?"
"Aku lagi di rumah ibu ma, Bima Hem. Bima di rumah mungkin."
"Bima nggak disana juga?" Maudy diam di seberang telepon. Mungkin dia bingung ingin menjawab apa. Tapi Maudy paling tidak bisa berbohong.
"Nggak ma."
"Kalian ada masalah?" Tebakan mama Lisa memang benar.
"Iya ma."
"Cerita ke mama." Wajah yang senyum hilang sudah. Sekarang rasa khawatir melingkupinya, semula duduk jadi berdiri. Melihat kegelisahan istrinya papa Adi langsung bertanya.
"Kenapa ma?" Mama Lisa hanya menjawab dengan bahasa tangan, mungkin maksudnya tunggu nanti akan di jelaskan.
"Tadi siang jadwal aku periksa kandungan ke dokter ma. Sejak pagi udah aku ingetin Bima berkali-kali. Tapi dia lupa, jadi aku periksa kerumah sakit sendiri ma. Setelah periksa aku pulang kerumah ibu. Aku malu ma, yang lain pada di antar suaminya. Sementara aku, sendirian. Apa Bima nggak bisa satu hari aja, dan hanya beberapa jam kasih waktu buat temeni aku periksa kandungan? Inikan juga anaknya Bima ma."
"Ya Tuhan Bima. Ya sudah, mama suruh supir jemput kamu kesini ya? Mau kan?"
"Ma, nggak usah ya ma. Mama happy aja malam ini. Maaf ya ma, aku benar-benar nggak mood buat ngapa-ngapain."
"Iya ya sudah. Nanti mama telepon Bima buat nasehati dia ya. Kamu istirahat. Eh tapi bayi kalian sehat kan?"
"Alhamdulillah sehat ma."
"Ya sudah, mama tutup teleponnya ya."
Mama Lisa kembali berjalan mendekat ke arah tugasnya tadi, mengoles daging dengan bumbu buatannya. Tidak berkata apapun, apa lagi mejelaskan apapun. Padahal sedari tadi papa Adi mengipas tapi matanya tertuju ke arah istrinya, malah sekarang dia diam dan berpura-pura tidak tau. Rasa kecewa terhadap kelakuan anaknya jelas ada. Seorang mama yang berhati lembut juga bisa marah kan?
"Ma, mereka nggak bisa kesini?" Mama Lisa hanya menggeleng mendengar Rio bertanya.
"Kenapa ma?" Bertanya lagi, karena baginya tidak bisa datang mana mungkin tidak mempunyai alasan.
"Pa, Bima gimana sih pa." Sekarang, bukan saatnya menutupi kesalahan Bima, bukan seperti beberapa tahun lalu yang selalu dan harus menutupi kesalahan Bima di depan suaminya. Kali ini juga berbeda, mendengar keluhan menantunya, mama Lisa juga akan melakukan hal yang sama pastinya. Apa lagi jika orang-orang tau kalau Maudy adalah menantu dari keluarga bapak Adi. Pasti akan beredar gosip yang tidak-tidak.
"Kenapa Bima ma?" Masih santai dengan terus mengipas.
"Tadi Maudy cerita." Dan, mama Lisa pun menceritakan sesuai dengan cerita menantunya. Papa Adi langsung berhenti mengipas. Mendengar istrinya berbicara dengan seksama. Wajahnya lama-lama terlihat memerah, jelas pasti dia emosi sekarang. Rio jelas menangkap nafas papanya yang mulai naik turun.
Papa macam apa kamu Bim!
Benar, papa Adi juga menyayangi Maudy selayaknya menantu, hanya saja kasih sayangnya tidak terlihat seperti papa mertua pada umumnya. Jangankan dengan Maudy, dengan anaknya sendiri juga papa Adi tidak terlalu menunjukkan kasih sayangnya.
__ADS_1
"Jadi sekarang Maudy masih dirumah ibunya? Lalu Bima?" Mama Lisa menggeleng pelan.
"Telepon lagi ma. Sini biar papa yang telepon pakai ponsel mama." Rio menghela nafas. Pasti bakal ada keributan, batinnya. Mengipas sendiri, dan tersenyum melihat anaknya yang melambaikan tangan ke arahnya. Oh sungguh hatinya menghangat.
Papa Adi berjalan sedikit menjauh dari mereka. Satu tangan ia letakkan di samping pinggang, berjalan satu langkah, dua langkah lalu berbalik lagi. Begitu memang jika respon dari orang yang sedang khawatir ataupun emosi.
"Hallo?" Semua serempak menoleh. Kenapa giliran papanya yang menelpon langsung di angkat, padahal itu juga nomor mamanya.
"Hallo, papa? Kenapa telepon pakai nomor mama?"
"Kamu dimana?"
"Di jalan pa."
"Kerumah papa sekarang."
"Tapi aku mau jemput Maudy di rumah ibunya pa."
"Maudy disini." Melirik ke arah istrinya. "Kamu kesini aja."
"Oh iya pa." Dengan nada bingung dan banyak pertanyaan pastinya saat ini di benak Bima.
30 menit, mobil Bima sudah sampai di depan gerbang dan membunyikan klakson. Securitty rumah papanya langsung bergegas membuka. Semua mata menyorot ke arah mobil Bima, bahkan sampai mobil masuk. Mereka tetap melihatnya.
"Pa, jangan emosi. Bicaranya baik-baik." Bisik istrinya ketika melihat anaknya sudah turun.
"Mana Maudy ma?" Mama Lisa malah menoleh ke arah suaminya. "Pa, mana Maudy? Kata papa Maudy disini?" Berjalan mendekat.
"Tapi tadi kamu bilang Maudy di rumah ibunya." Deg. Bima menatap mas Rio dan mamanya. Mereka diam. Persidangan di mulai, papanya masih santai dengan terus mengipas, menunggu reaksi Bima selanjutnya. Wajah yang mulai panik langsung terlihat.
Apa papa tau?
"Papa sudah bilang, kalau belum siap menikah dan bertanggungjawab jangan menikah." Deg, sekarang jantung sudah berpacu tak beraturan. Dan Bima sendiri yakin, baik mama atau papanya sudah tau. Bima berasumsi bahwa ibu mertuanya pasti yang memberi tau, tidak mungkin Maudy mengaduh.
"Bim, kamu ini gimana sih. Papa dulu juga pernah ngalamin seperti kamu kok. Mas kamu juga. Tapi selalu mengutamakan mama. Meskipun papa ada rapat penting sekalipun, papa tetap akan meninggalkan dan memilih menemani mama untuk periksa ke dokter." Mama Lisa sekarang juga ikut emosi. Berucap dengan nafas yang naik turun.
"Apa kamu nggak mikirin perasaan Maudy?" Bima tetap diam. Papa sampai geleng kepala melihat anaknya. "Lalu, bagaimana perkembangan anak yang di kandung istri mu? Apa kamu tau?" Bima menggeleng pelan.
"Kenapa kamu bisa sampai lupa?"
"Rapat mendadak pa." Menjawab, sekarang barulah Bima berani menjawab.
"Kalau seandainya Maudy tidak mau lagi pulang kerumah, bagaimana?" Deg. Bima langsung mendongakkan wajahnya, jelas dia tidak rela dan takut.
"Pa, aku tau aku yang salah. Tapi kan nggak mungkin kalau Maudy sampai meminta pisah."
"Kamu tau dari mana Bim, kalau Maudy nggak akan minta pisah? Lagian kan, Maudy bisa aja berpikir kalau kamu laki-laki nggak ada tanggungjawab nya." Sambil mengangkat daging dan berjalan ke arah istrinya. Rio yang saat ini tidak ikut emosi, tapi malah terlihat mengompori.
"Sayang, kamu ngapain sih ngomong gitu." Siska berbicara pelan.
Dan Rio, ikut duduk di samping istri dan anaknya. Duduk dengan santainya melihat Bima yang seperti terkena sidang. Soal panggangan nanti saja, capek juga ngipas sendirian, pikirnya.
"Lucu liat reaksi Bima, ketakutan." Tertawa kecil.
"Papa, opah kenapa marah-marah?" Rafa bertanya, dan menunjuk ke arah papa Adi.
"Nggak sayang, itu namanya opah lagi nasehati om kamu."
"Om bandel ya pa?" Rio mengangguk lagi sambil menahan tawa.
Persidangan yang di lakukan Bima, papa dan mamanya tidak duduk seperti persidangan lainnya. Melainkan berdiri dan mengeluarkan asap dari panggangan. Bima langsung terdiam ketika mendengar mas nya yang ikut berkomentar.
"Ya sudah, sana kamu jemput Maudy Bim." Mama Lisa menyuruhnya, mengelus bahu anaknya dengan lembut. "Atau kamu mau makan daging barbeque nya dulu?" Eh dia malah sempat-sempatnya menawarkan ke anaknya.
Papa Adi langsung menggeleng.
"Nggak, jangan papa nggak ijinkan. Kalau kamu bawa Maudy kesini baru kamu boleh makan hasil panggangan papa." Dengan sombongnya papa Adi mengatakannya, padahal Rio yang mendengar sudah mendengus.
__ADS_1
"Enak aja hasil panggangan papa, lalu aku apa!" Gerutunya pelan.
"Ya sudah sana, kenapa masih berdiri disini? Berharap mama kamu bungkusan buat di bawa pulang?" Ya ampun, Bima langsung berbalik mendengar papanya berucap begitu. "Sudah ma, jangan selalu di bela jika salah." Melihat istrinya sudah tarik nafas seperti ingin mengatakan sesuatu.
"Loh, ini mana tukang kipasnya ma?" Menyindir Rio secara halus yang sudah duduk tenang di dekat istrinya.
"Loh, sudah selesai filmnya pa? Kirain lanjut." Rio bangun dari duduknya dan kembali menyelesaikan tugasnya, berdua dengan papanya dan mengipas hingga panggangan terkahir.
***
Bima sudah ketar-ketir tak karuan akibat omongan mas nya yang sembarangan, beberapa kali memukul kemudi melampiaskan kebodohannya sendiri. Memang benar, sepertinya sepele, tapi tidak untuk sekarang. Mobil berhenti tepat di persimpangan lampu merah, berkali-kali memencat klakson agar mobil lainnya segera bergerak. Tak sabar, Bima menyalip, dan menerobos lampu merah. Tak peduli dengan makian orang-orang, dan untungnya tidak ada polisi saat ini.
Setelah berhasil melewati Bima langsung tancap gas dan berbelok di daerah Cemara, tempat dimana Maudy saat ini. Berada di rumah ibunya, yang tak sama sekali mau menjawab telepon dari Bima, pesan juga tak di balas hanya di baca. Beribu maaf pun sepertinya tak di hiraukan oleh Maudy untuk saat ini.
Mobil sampai di halaman rumah ibu mertuanya, Bima yang langsung turun. Di lihat jam di tangannya sebelum masuk. Sudah pukul 21:20, semoga Maudy belum tidur. Itu doanya sekarang.
"Bu?" Bima mengetuk pintu yang saat ini sudah tertutup rapat. Semakin gelisah sekarang, sepertinya bukan hanya Maudy yang tidur, tapi seluruh manusia yang ada di dalam rumah.
"Bu?" Mengetuk lagi, masih berusaha.
Cklek, suara kunci pintu di buka. Hatinya berdebar, berharap ini istrinya yang buka.
"Kak Bima?"
"Ibu mana Tisha?"
"Ada di dalam, masuk kak." Bima melangkah masuk.
"Ibu sama ayah lagi di belakang, sebentar ya kak." Bima mengangguk dan duduk di sofa, menundukkan kepalanya. Kedua tangan ia tautkan dan meremasnya dengan kuat. Ini bukan seperti menjemput istrinya, seharunya langsung saja masuk ke kamar, tapi mana mungkin Bima bisa melakukan hal itu.
"Bim?" Ibu datang lebih dulu dan di susul suaminya yang berjalan di belakangnya, Tisha yang menoleh sekilas lalu masuk ke dalam kamarnya. Suara pintu terkunci juga terdengar, Tisha memang bukan tipe anak yang ingin tau. Apa lagi ini urusan orang dewasa, keluarga, yang dia sendiri tidak mengerti. Bibit permasalahannya juga dia tidak tau.
Ayah dan ibu mertuanya sudah duduk di hadapan Bima. Menunggu Bima yang mengatakan sesuatu.
"Aku mau jemput Maudy bu."
Ayah, dia tidak tau kalau Maudy yang saat ini berada disini karena menghindari Bima. Yang ayah tau anaknya hanya sekedar mengunjungi orang tuanya sesuai janjinya tadi siang. Ayah menoleh ke arah ibu dan mengunakan bahasa mata, untuk menyuruh ibu Irma memanggil Maudy.
"Bim, tapi Maudy sudah tidur. Tadi ibu panggil juga nggak nyahut sebelum kamu kesini. Pintu kamarnya di kunci Bim." Hati Bima mencelos, bagaimana bisa malam ini tidak tidur dengan istrinya?
"Apa kamu nggak bilang kalau mau jemput Bim?" Ayah bertanya.
"Telepon nggak di angkat yah. Aku tau yah aku yang salah, aku mau minta maaf." Lah, ayah lebih bingung sekarang. Menatap mata istrinya mencari jawaban disana.
"Sebenarnya ada apa ini?" Dan cerita tadi siang kembali di ulang, Bima menjelaskan dan juga memberi alasan kenapa sampai dia melupakan hal penting hari ini. Ayah diam, mau bagaimana anaknya juga masih ingin sendiri.
"Coba ibu panggil lagi bu." Ayah bersikap selayaknya seorang ayah, tak ingin menyalahkan anak dan menantunya. Posisi Bima dia juga melakukan pekerjaannya. Dan yang satu, anaknya merasa marah karena periksa tak ditemani suaminya, itu juga hal wajar. Sebenarnya ada alasan untuk memarahi Bima sekarang, tapi ayah tak mau melakukan itu, karena apa? Bima menantu kesayangan. Dan ayah juga tidak mau menegur Maudy. Biarkan urusan rumah tangga anaknya mereka sendiri yang menyelesaikan.
"Gimana bu?" Istrinya menggeleng.
"Maudy beneran udah tidur yah." Heh Bima menghela nafas berat.
"Apa mau di dobrak aja?" Ide ayah sungguh gila kan?
"Eh nggak usah yah. Malah nanti dikira Maudy ada maling." Ibu juga setuju dengan Bima, dia mengangguk.
"Bim, gini aja. Kamu pulang aja dulu kerumah. Besok kamu jemput. Biarkan dulu Maudy meredam emosinya. Percayalah, Maudy juga tidak tahan jika harus jauh dari kamu." Ucapan ayah sedikit menenangkan hati Bima.
"Wajar Bim, kalau Maudy marah dia bakal pulang kesini. Karena orang tuanya masih ada. Udah nggak apa-apa. Atau kamu juga mau nginep disini? Tapi kamu mau tidur dimana? Kan nggak mungkin di sofa."
"Aku pulang aja yah." Mantap dengan keputusannya. Kembali besok, bahkan kalau bisa tidak masuk kantor dulu dan menyerahkan semuanya kepada Revan.
Bima kembali memutari jalanan kota, dengan menyesali kenapa malah kerumah papanya tadi, kalau tidak pasti dia akan bertemu Maudy. Bima tidak menuju jalan pulang kerumahnya, entah jalan mana yang dia tuju saat ini. Hingga rintik hujan turun yang membahasi kaca mobil. Menghalangi sedikit pandangannya.
Bima menemukan tempat untuknya tidur malam ini. Bima membelokan mobilnya ke sebuah hotel. Sebelum turun menyempatkan untuk menghubungi securitty rumahnya, mengatakan kalau malam ini dia tidak pulang kerumah. Itu Bima lakukan untuk menghindari seluruh ART yang ada di rumahnya, pasti mereka akan bertanya kemana Maudy, meski tidak berani untuk berbicara langsung, tetap saja Bima tau tatapan dari mereka nantinya.
--__
__ADS_1