
Kiki mencoba tenang dalam kepanikannya, memakai otaknya untuk berpikir. Karena jika terus bergerak tidak akan membantunya terlepas malah membuang-buang tenaganya, Kiki mencoba santai dan membiarkan Agam terlebih dahulu merasa kalau dirinya sudah boleh melakukan ini. Kiki terus terpejam, Agam mulai lengah dengan pelukannya, sedikit lagi batin Kiki.
Dan, ketika Agam berpikir bahwa Kiki sudah pasrah dengan membalas pelukannya, disitulah Kiki beraksi. Ketika Agam melepaskan tangannya, dengan sekuat tenaga Kiki menyikut rahang Agam, bukan hanya sekali tapi berkali-kali. Hingga Agam mengaduh sakit, Kiki langsung mengambil kesempatan untuk berlari ketika tangan Agam benar-benar terlepas dan mengelus wajahnya yang terkena sikutan Kiki.
"Ki? Tunggu Ki!" Masih sempatnya dia berteriak dan berlari mengejar Kiki. Suasana benar-benar sepi, jika Kiki menjerit sekalipun pasti para pengendara di jalan raya belum tentu mendengarnya. High heels yang di pakai Kiki membuatnya tak bisa berlari secepat mungkin.
"Ki? Tunggu?" Hap, Agam berhasil menarik baju Kiki, terdengar sobekan disana. "Ki, kamu mau kemana?"
"Gam! Kamu gila ya! Sinting kamu tau nggak?" Kiki membentak dengan wajah yang memerah.
"Nggak Ki. Aku mau kamu?" Dia menarik Kiki dalam pelukannya. Kiki berpikir lagi, Agam sudah membelai lekuk lehernya, Kiki meraba tasnya dan mengeluarkan ponselnya, langsung mencari nomor Revan, berpura-pura diam saat Agam mulai melancarkan aksinya, ini sudah termasuk pelecehan dan tindak pemerkos**n.
"Gam lepas!" Kiki mulai berontak, ketika Agam berusaha merobek pakaiannya.
Kiki mencoba melihat layar ponselnya, dan Revan sepertinya sudah mengangkat.
"Tolong aku, tolong aku sekarang, aku ada di taman X di dekat jalan raya." Kiki berteriak melalui telepon, berulang kali mengatakan itu, tidak tau Revan menjawab apa dan mendengar atau tidak dia berbicara.
"Kamu telepon siapa?" Bentak Agam, lalu mencoba merampas ponsel Kiki. Kiki berusaha lagi untuk lari, saat ini suasana taman selain sepi juga lampu taman tidak terlalu terang, sehingga siapa saja yang melihatnya hanya berpikir mereka dua anak muda yang berpacaran.
"Gam! Aku mohon lepas, atau tidak aku akan tuntut kamu!" Kiki mengancam, Agam tak peduli dan terus saja memeluk tubuh Kiki, dengan rakusnya menikmati bagian mana yang dia mau, air mata yang lolos tidak bisa membuat Agam berpikir tentang rasa kasihan. Sekalipun Kiki menangis meraung-raung sekarang, Agam sudah mantap dengan rencananya.
"Aku akan membuatmu hamil dan kita menikah! Itu yang aku mau dari dulu kan? Tapi kamu nggak ngerti, sehingga aku cari kepuasan dengan wanita lain!" Ucapnya dengan nafas yang menggebu seperti sudah tak tahan menahan hasratnya.
"Dasar breng sek! Baji ngan!"
"Tolong!!!" Kiki berteriak, suara yang menurutnya sudah keras, tapi belum ada respon dari siapapun.
Kiki melihat sekelebat bayangan orang yang berlari, matanya mengerjab, berharap itu adalah orang baik yang mau menolongnya.
"To-" Agam langsung ******* bibirnya dengan rakusnya, menahan kepala Kiki agar tak lepas.
Bruk. Mereka berdua sama-sama ambruk jatuh ke tanah, dan sialnya Agam sudah berhasil menindih tubuh Kiki, Agam mengungkungnya sekarang. Dengan sekuat tenaga merobek baju bagian atas, menampakan kedua gunung kembar yang mulus. Kiki menjerit lagi, tapi belum juga ada yang datang.
Kemana tadi orang yang aku lihat!
"Eum!!"
"Dasar breng sek!!" Bruk!! Revan datang terlambat, hampir saja seluruh tubuh Kiki terlucuti.
"Revan?" Agam kaget. Sekali lagi, Revan memberi tinjuan ke wajah Agam. Revan langsung meminta Kiki untuk berdiri, menarik tangannya dan membawa Kiki pergi dari sana.
Kiki menangis sesegukan ketika sudah berada di dalam mobil, kedua tangan ia silangkan ke dada. Untuk menutupi apa yang sudah di perbuat Agam. Bajunya yang robek, sungguh ini di luar nalarnya. Bisa-bisanya Agam berbuat hal nekat seperti ini. Lelaki yang menurutnya baik.
"Are you oke?" Revan mendekat.
"Jangan dekat-dekat!" Kiki langsung beringsut, dia menggelengkan kepalanya. Takut kalau Revan juga memanfaatkan situasi ini.
"Oke, mobil kamu gimana?" Kiki masih menangis sesegukan.
"Baik lah, kalau kamu mau menangis silahkan." Revan kembali duduk ke posisi semula, memegang kemudi dengan kedua tangannya. Matanya menatap tajam ke arah depan, berkali-kali memukul kemudi.
Kenapa kamu nggak ajak aku? Perasaan aku udah nggak enak dari awal!!
"Udah tenang?" Melihat Kiki yang menoleh ke arahnya.
"Kamu pakai ini." Revan memalingkan wajahnya dan menyerahkan switernya kepada Kiki. Kiki mengambilnya, memunggungi Revan barulah Kiki memakai itu.
"Bawa aku pergi dari sini, mobil aku biar nanti supir aku yang ngambil."
"Kalau mama kamu tanya?"
"Nanti aku bilang aja kalau rusak, terus aku pulang di antar kamu." Revan mengangguk dan menjalankan mobilnya. Tak tau dimana keberadaan Agam setelah mendapat tinju darinya tadi.
***
Revan membawa Kiki ke tempat keramaian, dimana disini juga banyaknya anak muda, berpasangan dengan tertawa bersama. Gelembung yang sengaja di tiup menjadikan kesan romantis di tempat ini. Banyaknya wahana permainan, dan berbagai aneka lampu kelap-kelip yang sengaja di pasang untuk menjadi penghias setiap tempat.
Para pedagang kaki lima juga banyak yang stay dengan gerobak mereka, menyiapkan kursi dari plastik khusus untuk pembeli yang ingin makan disana. Kiki masih menunduk, dengan wajah yang memang sudah tanpa make up sekarang. Lipstik juga sudah luntur, dan sebelum kesini Revan menyempatkan untuk mencari toilet umum, supaya Kiki bisa merapikan penampilannya kembali.
Kiki diam, berjalan dengan memeluk tubuhnya sendiri. Menunduk dan menatap rerumputan hijau yang sedikit basah, mereka juga layu karena sudah berkali-kali di injak para pengunjung.
"Apa kamu pernah ke tempat ini?" Kiki menggeleng.
"Ini namanya pasar malam, kalau anak-anak ABG biasanya senang ke tempat ini. Tuh kamu lihat yang disana, itu namanya rumah hantu." Kiki hanya melihat kemana arah telunjuk Revan. Lalu menunduk lagi.
"Kita balik ke mobil aja ya?" Kiki menghentikan langkahnya.
"Kamu yakin nggak mau coba hiburan disini?" Kiki menggeleng lemah. Berpikir jika Revan terlambat datang, pasti saat ini kesuciannya sudah di renggut oleh Agam. Lelaki yang di cintai.
Sampai di dalam mobil, Kiki kembali menjatuhkan air matanya, kembali menangis tanpa suara. Memegang kepalanya dengan kedua tangan, menyalahkan dirinya sendiri, yang tak mau menyetujui tawaran Revan tadi siang.
"Kamu mau apa?" Melihat Kiki yang mencari sesuatu di sampingnya.
"Tas aku, ponsel aku mana?" Bingung.
"Itu di kursi belakang, tadi aku yang letak disana." Revan memutar tubuhnya dan menyambar tas kecil berwarna merah muda, senada dengan warna baju Kiki malam ini.
"Ini." Kiki langsung mengambilnya, mencari ponselnya. Air mata yang menetes saat ini, berjatuhan di layar ponsel, tangan yang bergetar jelas terlihat oleh Revan.
__ADS_1
"Ha, Hallo Dy?" Tangisnya pecah, dia terisak. Revan hanya diam mendengarkan.
"Ki? Kamu kenapa??"
Suara yang juga tak kalah paniknya.
"Kamu dimana?"
"Aku dirumah ibu. Kenapa? Kamu kenapa?"
"Aku kesana ya? Aku mau cerita."
"Ya udah, aku tunggu. Nanti kamu langsung masuk kamar aja ya."
Kiki mematikan sambungan teleponnya dan menatap ke arah Revan.
"Mau kerumah mbak Maudy?" Kiki mengangguk.
"Kamu bisa antar aku kesana kan?"
"Dengan senang hati." Revan langsung melajukan mobilnya.
"Kerumah ibunya, Maudy disana." Revan menoleh lalu mengangguk.
***
Mobil sudah sampai, terlihat sepi. Sepertinya ibu Irma juga sudah tidur. Kiki turun dari mobil dan diikuti oleh Revan.
"Aku tunggu kamu di luar, masuklah." Tau Kiki pasti akan bertanya kenapa dia ikut turun, karena Revan juga berpikir tak mungkin meninggalkan Kiki sendiri, lagian dia mau pulang naik apa, begitu yang dia pikiran.
"Dy? Aku udah diluar?" Kiki Kembali menelpon Maudy.
Berdiri di depan pintu rumah yang sudah tertutup, tidak lagi ingin bertanya kenapa Maudy berada disini dan tidak pulang kerumah, semua hal itu masih di kesampingkan oleh Kiki.
"Ki?" Membuka pintu.
"Ayo masuk, kita bicara di dalam. Ibu sama ayah lagi pergi keluar." Kiki mengangguk dan mengikuti langkah Maudy. Ternyata Maudy mengajaknya masuk ke kamar.
"Dy?" Kiki langsung memeluknya, menangis sejadi-jadinya. Sesegukan, dia belum bisa berbicara sekarang. Maudy hanya bisa mengusap punggung sahabatnya, tanpa tau apa yang terjadi saat ini.
"Duduk dulu, aku ambil air minum." Kiki mengangguk.
"Nih, kamu minum dulu." Kiki meneguknya hingga habis tak bersisa.
"Sekarang kamu cerita, apa kamu betengkar sama mama kamu? Soalnya tadi mama kamu sempat telepon aku, katanya kamu ijin dari rumah mau jumpa aku."
"Maaf Dy, aku bohong sama mama, aku bohong juga sama kamu. Maaf." Terisak lagi.
"Aku, aku jumpa sama Agam, karena dia bilang mau ngomong sesuatu. Aku nggak tau kalau ujungnya begini." Maudy diam, wajahnya sudah tak bersahabat mendengar perkataan Kiki. "Dia ajak aku ketemuan di taman X dekat jalan raya, disana sepi Dy, awalnya aku nggak ada pikiran macam-macam, sampai Agam berbuat nekat, dia mau menodai aku Dy supaya aku bisa nikah sama dia." Maudy menggeleng pelan.
"Dasar breng sek!!"
"Maaf Dy, aku nggak mau dengerin omongan kamu waktu itu." Maudy hanya bisa mengusap bahunya hingga Kiki merasa lebih tenang.
"Tapi dia nggak sempat ngapa-ngapain kamu kan?" Kiki diam, dan memperlihatkan Maudy apa saja yang sudah di lakukan Agam, termasuk soal pakaiannya yang sudah robek di bagian dada.
"Kamu bisa tuntut dia!"
"Nggak Dy, aku nggak mau. Udah cukup kali ini aja, terkahir aku jumpa dia. Aku nggak mau berurusan lagi." Maudy diam.
"Dy, kenapa kamu disini? Bima mana?" Akhirnya Kiki bisa bertanya sekarang setelah merasa lebih tenang.
Maudy hanya tersenyum dan menggeleng.
"Kalian bertengkar ya gara-gara Bima bertemu wanita yang dari luar negeri itu?" Maudy langsung mengerutkan keningnya.
"Wanita luar negeri? Kamu tau dari mana?" Maudy sepertinya tertarik sekarang.
"Aku tanya Revan, kenapa Bima telat masuk hari ini, katanya karena mau jemput kamu."
"Bima nggak ada datang kesini dari tadi pagi sampai sekarang ini." Jawabnya lagi dengan heran, karena memang begitu kenyataannya.
"Wanita luar negeri itu, kamu tau nggak siapa namanya? Dan kenapa bisa Bima kenal dia?"
"Kalau nggak salah, Celine ya? Iya itu sih, dan karena kedatangannya jadi Bima sampai lupa karena ada janji sama kamu."
"Kamu tau ini semua dari Revan?" Kiki mengangguk.
Oh jadi ini alasannya, kamu bilang rapat penting, mendadak! Dasar breng sek!
"Dy, aku lupa." Kaget, Kiki langsung berdiri. "Revan ada di luar. Dia yang ngantar aku Dy." Kiki langsung berjalan ke luar kamar dan di ikuti oleh Maudy.
Maudy mengikuti langkah Kiki keluar kamar, sudah ada banyak pertanyaan juga yang akan Maudy ajukan kepada Revan.
"Revan?" Revan duduk termenung di depan teras Maudy sendirian. Dia langsung berdiri ketika melihat Kiki dan Maudy yang keluar secara bersamaan.
"Mbak? Apa kabar?" Maudy tersenyum.
"Baik Revan." Mereka duduk di teras rumah sekarang. Maudy menarik nafasnya perlahan, yang kini sudah mulai terasa sesak. Hari ini, Bima tidak datang menjemputnya, bahkan juga tidak ada mengabarinya seperti kemarin-kemarin.
__ADS_1
Jika benar yang di katakan Kiki, berarti saat ini Bima tengah bersama wanita itu.
Maudy jelas masih ingat dengan apa yang di ceritakan Bima waktu itu, tentang siapa Celine dan apa yang di lakukannya, sehingga Bima melakukan penerbangan mendadak yang mengakibatkan kecelakaan pesawat.
"Revan, aku mau tanya?" Dengan nada serius.
"Iya mbak."
"Apa benar, dua hari lalu wanita yang bernama Celine datang ke kantor Bima?" Revan langsung menatap ke arah Kiki.
"Iya mbak." Dengan nada lirih.
"Apa yang di lakukannya?" Revan diam. "Jawab saja, aku ingin kejujuran."
"Aku nggak tau mbak, karena saat itu aku sama Kiki sedang ada di ruangan, cuma pak Bima pergi keluar kantor, yang aku pikir dia pulang karena sudah bilang kalau akan mengantar mbak pergi periksa ke dokter."
"Nyatanya?" Revan diam lagi, Menunduk. "Bima pergi bersama wanita itu kan?"
Maaf mbak, maaf, duh pak Bima maaf.
"Jawab saja Revan?" Revan mengangguk lemah.
"Huh." Maudy menghembuskan nafas, sungguh dadanya benar-benar terasa sesak saat ini. Mengelus perutnya dan tidak bicara lagi.
"Tapi mbak, aku yakin pak Bima tidak akan berbuat macam-macam. Aku bisa jamin itu."
"Hah, bahkan dia lebih memilih pergi dengan wanita yang katanya sudah dia tolak, dari pada menemani aku pergi ke dokter untuk memeriksa kandungan yang jelas-jelas ada calon anaknya di rahimku." Kalimatnya sudah tampak bergetar.
"Dy?" Kiki memeluknya. "Maaf Dy, ini gara-gara aku. Tapi aku bersumpah, aku belum tau ini maksudnya, aku nggak tau siapa Celine?" Bingung, menatap lagi ke arah Revan.
"Mbak, buktinya waktu di luar negeri aku lihat sendiri pak Bima menolak wanita itu dengan kasarnya, dia bahkan tidak suka di sentuh karena mengingat istrinya, percayalah mbak."
"Haha, Revan. Itu kan karena statusnya ada kamu disana kan? Lalu, apa kamu tau bagaimana perlakuan Bima kepada wanita itu jika tidak ada kamu?" Revan langsung terdiam.
Jika benar, maka pak Bima tidak ada bedanya dengan Agam! Dan jika itu benar, aku mencabut sumpah ku yang akan mengikuti caranya mencintai seorang wanita.
"Mbak, maaf." Revan menunduk lagi, dia takut kalau namanya terseret sebagai pelapor nantinya.
"Nggak tenang aja. Aku nggak akan bawa nama kamu nantinya." Maudy juga tau posisi Revan saat ini yang memang serba salah.
"Dy aku yang salah, seharusnya aku nggak bilang ke kamu." Kiki memeluk lengan Maudy dengan eratnya.
"Ki, kamu akan lebih bersalah jika menyembunyikan hal ini dari aku. Sahabat macam apa yang akan membiarkan sahabatnya sakit hati." Hening, semua yang di katakan Maudy benar, baik Revan ataupun Kiki mereka sama-sama menyetujui apa yang di ucapkan oleh Maudy.
"Kalian pulang lah sudah malam. Revan, tolong ya antarkan Kiki sampai kerumah dengan selamat, dan pastikan dia nggak akan bertemu lagi dengan lelaki itu." Kiki masih bergelayut di lengan Maudy. Menyadarkan kepalanya di bahu sahabatnya kesayangannya ini.
"Dy?"
"Aku nggak apa-apa sekarang, tapi kamu yang mengalami luka saat ini." Maudy mencoba tersenyum.
"Aku pulang ya?" Maudy mengangguk, Kiki memeluknya lagi. "Mami pulang ya sayang." Mengelus perut Maudy. Maudy tersenyum mendengarnya.
"Kalian hati-hati ya?" Maudy melambaikan tangannya ketika mobil sudah berputar dan siap memasuki jalanan raya.
"Kenapa mami? Apa sudah tidak sabar mau punya anak?" Kiki menoleh, takut kembali datang.
"Nggak, aku cuma tanya. Jangan pernah berpikir aku sama breng sek nya sama mantan kamu itu." Kiki terdiam dan menoleh ke arah jendela mobil, menatap jalanan luar yang menampakkan kelip lampu sepanjang jalan, semakin menjauh dengan bergeraknya mobil saat ini.
***
Maudy mengambil ponselnya, segera mencari nama Bima disana mengetik sebuah pesan dengan hati yang patah, rasa kecewa, merasa di bohongi, semuanya. Orang yang diam tidak menjamin kalau dia baik, itu yang Maudy tanamkan mulai saat ini.
"Jangan pernah datang lagi untuk menjemput ku, apa lagi berharap bisa melihatku. Lanjutkan lah hubungan mu dengan Celine! Makasih buat semuanya!"
Langsung terkirim dan tinggal menunggu jawaban bohong apalagi yang akan di katakan Bima.
Maudy meletakkan ponselnya ketika mendengar suara ibunya yang masuk ke dalam rumah. Membuka pintu kamarnya.
"Loh mbak, belum tidur?" Maudy menggeleng.
"Ibu mana dek?"
"Itu masih di luar tadi." Tisha langsung masuk ke kamar, dan Maudy segera berjalan mencari ibunya.
"Ayah, ayah bawa yang ini. Ini Tisha juga kurang ajar bukannya bantuin."
"Sebentar dong bu." Maudy jelas mendengar perdebatan ayah dan ibunya yang berada di luar rumah.
"Ayah, ibu?" Maudy berdiri tepat di depan pintu.
"Kamu belum tidur? Ini ayah sama ibu bawa jengkol sama durian, tadi di bawakan sama temannya ayah. Banyak malah." Maudy hanya tersenyum.
"Ibu, ayah. Sepertinya aku mau pisah sama Bima. Jika dia datang kesini tolong usir saja." Deg. Kedua orang tua ini saling pandang, bahkan karung yang tengah di pegang jatuh begitu saja.
Maudy langsung berbalik dan tak menjelaskan apapun lagi. Masuk ke dalam kamar dan mematikan ponselnya.
"Yah?"
"Kenapa anak kita Bu?" Mereka masih saling pandang.
__ADS_1
--__